Articles

Mengampuni, Haruskah Tetap Bergaul?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengampuni, Haruskah Tetap Bergaul?

“Bu Yenny, apakah saya harus tetap berhubungan dengan orang yang sudah menghina dan merendahkan saya?,” tanya seorang gadis muda.

“Apakah kamu masih marah dan menyimpan dendam?”

“Tidak Bu, saya sudah mengampuni dan membereskan luka di hati saya. Tetapi saya berrraaaattt sekali kalau harus berhubungan lagi dengan orang itu.”

Yang terpenting, jangan simpan dendam, kemarahan dan kepahitan. Itu yang menyebabkan munculnya berbagai penyakit.
Nach sikap setelahnya, bisa beragam pendapat.

Setiap orang bisa punya pandangan yang berbeda. Bijak menurut ukuran setiap orang bisa beragam. Semua tergantung kasus perkasus. Dan saya hanya bisa menceritakan pandangan saya pribadi.

Saat awal berbisnis, ada seorang saudara yang membantu usaha kami. Dengan berjalannya waktu, ketika dia akan menikah, memakai uang perusahaan bahkan menjual barang yang sama. Yang dipakai duit kami untuk menusuk kami dari belakang. Negara dalam negara.
Wow… Saya sangat marah dan membencinya.

Saya suka membaca buku, terpesona ingin memperoleh Baptisan Roh Kudus.
Saya mencari orang yang bisa memastikan saya bisa memperolehnya
Bertemulah saya dengan Bu Maria Kusumo, dan dimuridkan dengan belajar 24 lesons-24 pelajaran dasar.
Tiba pada pelajaran tentang mengampuni, saya ditanya, ada gak orang yang perlu diampuni?

Dieeenk….
Di satu sisi saya ingin terima Baptisan Roh Kudus, tetapi di sisi lain, saya gak rela mengampuni orang yang sudah mengkhianati saya.
Pergumulan berat.

“Itu yang menghalangi kamu mendapat kepenuhan Roh Kudus,” ujar Bu Maria.

Akhirnya dengan berat hati, saya minta kekuatan Tuhan untuk mengampuni.
Saya mengirimkan kue dengan note:
“Saya mengasihimu karena Tuhan.”

Orang itu kaget luar biasa. Dia juga dihantui perasaan bersalah. Dia sadar sudah mengkhianati kami. Bahkan papa P. Indra sangat baik dan berjasa dalam hidupnya serta keluarganya, koq bisa-bisanya dia menusuk dari belakang.
Dia telpon dan kami berdamai.
Beres.
Saya terima Baptisan Roh Kudus.

Bagi saya pribadi, berdamai satu hal tetapi tetap bergaul adalah hal yang berbeda.
Kami tidak berhubungan lagi.

Joel Osteen berkata, ada orang-orang tertentu, yang lebih baik kita kasihi dari jauh.

Joel bercerita ada teman sekaligus jemaatnya yang sudah dibantu, diperhatikan tetapi tetap saja mengritiknya. Apa pun yang Joel lakukan, tidak pernah cukup dan selalu salah.
Itulah sebabnya, Joel memilih untuk “love from a distance.”
Hidup Joel lebih bahagia dan damai setelah mengambil keputusan itu.

Saya pun meneladaninya.
Ada orang-orang yang sudah terbukti karakternya tidak cocok dan menimbulkan perasaan tidak damai, saya pribadi memilih tidak bergaul dengan dia.

“Say goodbye to a troublemaker and you’ll say goodbye to quarrels, strife, tension, and arguments,” kata Raja Salomo

Ucapkan selamat tinggal kepada pembuat onar dan Anda akan mengucapkan selamat tinggal pada pertengkaran, perselisihan, ketegangan, dan argumen.

Saya tidak ingin membuang waktu, berteman dan bergaul dengan orang yang menimbulkan rasa was-was, dan saya sudah tidak bisa menghargai orang yang pernah menusuk dari belakang.
Orang bilang, bekas luka tak terlupakan tetapi sudah tidak sakit lagi.
Itu cukup bagi saya untuk mengambilnya sebagai pembelajaran agar di masa depan, saya bisa lebih bijak.

Cerdik seperti ular, tetapi tulus seperti merpati, kata orang bijak.

Sekian puluh tahun kemudian, terbukti orang itu berseteru dengan saudara kandungnya, saat mamanya meninggal dunia. Masalah uang juga. Tidak mudah mengubah karakter seseorang.

Bagaimana dengan masalah gadis muda tadi?
Bagi saya pribadi, Respect dalam relationship sangat penting.
Bahkan John Trent, psikolog sekaligus penulis buku terkenal, berujar Respect atau Rasa Hormat / Menghargai adalah komponen yang utama dalam membangun sebuah hubungan.

Tidak peduli datang dari strata mana, Anda boleh kaya atau biasa-biasa saja, saya dengan senang hati berteman dengan Anda.
Tetapi prinsipnya, saya hanya mau berteman, bergaul, bersahabat dengan orang yang bisa saling menghormati dan saling menghargai.
Saya tidak merugikan orang itu, saya tidak pernah memanfaatkan orang lain jadi silakan kalau mau berteman dengan saya, kita saling respect. Jaga perkataan, jaga sikap, jaga privacy masing-masing dan jaga kehormatan masing-masing pula.

Meski orang itu ‘tidak sengaja’ menghina gadis muda tadi dengan istilah yang sangat merendahkan, dengan alasan sedang emosi.

Tidak bisa dengan alasan sedang emosi, istilah itu terlempar keluar tanpa sengaja… Istilah itu bisa terlontar, karena sebelumnya sudah pernah dipikirkan, sudah tersimpan dikepala orang itu. Dan sesungguhnya, itulah ‘kejujurannya yang sejati.’ Pendapat paling jujur orang itu terhadap sang gadis muda tadi.

“Karena apa yang keluar dari mulut, itu meluap dari dalam hati,” ujar sang bijak.

“Nik, kalau saya pribadi, tidak membuang waktu saya yang berharga untuk bergaul dengan orang yang tidak bisa menghargai saya. Hidup ini tidak lama dan sangat berharga. Karena itu, saya memilih hanya bergaul dengan orang-orang yang membawa saya naik, dan bukan turun. Yang membuat saya bahagia, bukan yang membuat resah dengan kebiasaan-kebiasaannya yang merendahkan orang lain. Kebahagiaan dan kesuksesan itu diciptakan, bukan kebetulan. Salah satunya, tergantung dengan siapa kita bergaul.
Memilih pergaulan yang benar, akan menghindarkan kita dari ribuan pertempuran yang tidak perlu.
Jangan sampai waktu kita yang sangat berharga dihabiskan untuk mengurusi masalah remeh-temeh, akibat salah bergaul, dengan orang-orang yang tidak tahu menghargai kita.
Silakan pertimbangkan sendiri dan doakan. Mungkin lebih bijak, minta juga pendapat orang lain. Belum tentu pendapat saya itu yang terbaik.”

We teach people how to treat us: You either teach people to treat you with dignity and respect, or you don’t. This means you are partly responsible for the mistreatment that you get at the hands of someone else. You shape other’s behavior when you teach them what they can get away with and what they cannot. ~Dr. Phil.

Kita mengajari orang cara memperlakukan kita:  Anda mengajari orang lain untuk memperlakukan Anda dengan bermartabat dan hormat, atau tidak.  Ini berarti Anda ikut bertanggung jawab atas penganiayaan yang Anda alami akibat perlakuan orang lain.  Anda membentuk perilaku orang lain saat Anda mengajari dengan cara mengijinkan mereka apa yang bisa mereka bisa dapatkan dan apa yang  Anda larang mereka melakukannya.  ~ Dr.  Phil.

Dari quotes di atas terlihat jelas, sesungguhnya kita sendiri yang mengajar orang lain, bagaimana seharusnya mereka memperlakukan kita.
Dengan apa yang kita ijinkan atau justru kita melarang, ketika seseorang melakukan sesuatu.

Klo penghinaan dan pelecehan dibiarkan atas nama ‘sedang emosi’, lalu ditoleransi, berarti ke depan besar kemungkinannya akan terjadi lagi bukan?

Terbukti saudara yang menusuk saya dari belakang, sekian puluh tahun kemudian juga menusuk saudara kandungnya sendiri.

Nach pilihan ada di tangan kita, mau ga diperlakukan lagi seperti itu?

“Berjalankah dua orang bersama-sama, jika tidak sepakat?”, Kata firman Tuhan.
Mentaati firman Tuhan, berarti jika tidak sepakat, lebih baik saya tidak jalan bersama-sama.

Kambing dan domba sekilas mirip, tetapi berbeda. Demikian pula dengan ayam dan bebek. Serupa tapi tak sama.

“Yang berbeda tidak usah disama-samakan, yang sama tidak usah dibeda-bedakan,” komentar Gus Dur.

Bagaimana pendapat Anda?

Don’t force yourself to fit in where you don’t belong.

Jangan memaksakan diri untuk mencocokkan diri dengan tempat yang tidak sesuai untuk Anda.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Kunci Sukses Menurut Tuhan.
Apakah Tuhan mengijinkannya?
“Kekuatan Injil.”