Category : Articles

Articles

Seni Debat Socrates: Menang Tanpa Harus Marah…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Seni Debat Socrates: Menang Tanpa Harus Marah…

Di sebuah sore yang agak gerah, aku duduk di sudut kedai kopi kecil sambil menyeruput latte favoritku. Di meja sebelah, dua anak muda sedang berdebat. Topiknya entah apa, tapi volume suara yang meninggi dengan nada ketus, percakapan mereka cukup menyita perhatian.

Sampai akhirnya salah satu dari mereka berdiri dan pergi begitu saja. Sisa percakapan yang tertinggal hanya suara hati yang menggumam lirih, “Kenapa debat harus jadi pertengkaran, ya?”

Di zaman serba cepat ini, diskusi sering jadi ajang unjuk kekuatan, bukan pertukaran pikiran. Kita lebih sibuk menyiapkan bantahan daripada mendengarkan. Padahal, ada cara yang lebih bijak. Cara yang pernah dipraktikkan oleh seorang filsuf Yunani kuno bernama Socrates.

Socrates tidak berteriak. Ia bertanya.
Ia tidak menyerang. Ia menggali.
Ia tidak memaksakan. Ia mengundang orang berpikir.

Dikisahkan bahwa Socrates lebih suka duduk di pasar, berbincang dengan orang asing, menanyakan hal-hal sederhana seperti: Apa itu keadilan? Apa makna keberanian? Apa arti hidup yang baik?

Tapi justru dari pertanyaan-pertanyaan itu, ia menyingkap kebijaksanaan.

Aku teringat suatu nasihat lama yang mengatakan bahwa “kata-kata yang lembut dapat mematahkan tulang”. Bukan karena kerasnya suara, tapi karena tepatnya hati. Ada kekuatan dalam ketenangan, dalam sikap tidak reaktif, dalam mendengar tanpa buru-buru menyela.

Socrates percaya, ketika kita menghadapi pendapat berbeda, kita tidak sedang berhadapan dengan musuh. Kita sedang duduk bersama sesama pencari kebenaran.

Kita bukan hakim. Kita hanya penanya yang tulus.

Dalam salah satu perdebatan, Socrates tidak mengatakan, “Kamu salah!”
Ia malah bertanya, “Apakah menurutmu pandangan itu berlaku dalam semua situasi? Jika tidak, mungkinkah ada hal yang terlewat?”

Pertanyaannya tidak menjatuhkan, tapi menggugah. Dan yang paling penting, ia tetap tenang.

Sikap itu mengajarkan pada kita sesuatu: tidak semua argumen harus dimenangkan hari ini. Kadang, cukup menanam benih dalam pikiran seseorang. Besok, minggu depan, atau bahkan tahun depan, benih itu bisa bertumbuh.

Dan siapa tahu, ketika benih itu tumbuh, ia akan ingat bahwa kita yang menanamnya—bukan dengan marah, tapi dengan hormat.

Serupa dengan saat kita membagikan benih kebenaran, tidak harus tumbuh sekarang. Yang penting, tabur, lalu sirami dengan kasih, pemahaman, serta keteladanan. Biarkan dia melihat demonstrasi kebaikan-kebaikan Tuhan melalui kehidupan kita.

Saya percaya, suara hati yang lembut sering kali lebih dekat pada kebijaksanaan Tuhan daripada teriakan yang dipenuhi ego. Ketika kita mendebat dengan damai, kita sebenarnya sedang menyerahkan ego dan memberi ruang bagi terang Tuhan untuk bekerja—dalam diri kita, maupun dalam lawan diskusi kita.

Sebab yang sejati tidak perlu dipaksakan.
Yang benar akan berdiri sendiri, meski pelan-pelan. Dan kebenaran yang ditemukan dengan sadar jauh lebih kuat daripada yang dipaksakan dengan keras.

Ada waktu untuk berbicara, dan ada waktu untuk diam. Tetapi dalam semua itu, jagalah hati. Jangan sampai perdebatan yang tujuannya mencari terang malah meredupkan cahaya dalam diri kita.

Hari ini, ketika kita tergoda untuk membalas komentar tajam, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas. Tanya dalam hati: Apakah ini tentang mencari kebenaran, atau hanya mempertahankan harga diri?

Jika kita memilih untuk tenang, bukan berarti kita lemah. Kita sedang mempercayai bahwa Tuhan bisa bekerja lebih baik lewat kedewasaan kita, daripada lewat amarah kita.

Dan kalaupun lawan tetap keras kepala, tak mengapa.
Bukan tugas kita untuk mengubah semua orang. Tapi kita bisa menjadi contoh kecil, bahwa perbedaan pendapat tidak harus berarti permusuhan.

Socrates tidak pernah menulis buku. Tapi warisan hidupnya menjadi pengingat: kebenaran sejati tidak perlu berteriak. Ia hanya perlu ruang untuk didengar.

Jadi mari belajar, bukan untuk selalu menang. Tapi untuk tetap waras, tetap lembut, dan tetap jadi terang—bahkan di tengah diskusi paling panas sekalipun.

Raise your words, not your voice. It is rain that grows flowers, not thunder.”- Jalaluddin Rumi.

“Tinggikanlah kata-katamu, bukan suaramu. Hujanlah yang menumbuhkan bunga, bukan guntur.” – Jalaluddin Rumi.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kebenaran Diri – Self Righteousness

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kebenaran Diri – Self Righteousness

Apa itu? Menurut Andrew Wommack, banyak orang Kristen hidup dalam tekanan tanpa sadar karena masih berjuang membuktikan diri di hadapan Tuhan.

Ia menyebutnya “kebenaran diri” (self-righteousness) — yaitu usaha untuk menjadi benar dengan kekuatan sendiri, bukan karena percaya pada apa yang Yesus sudah lakukan di kayu salib. Kebenaran diri terdengar rohani, tapi sebenarnya membuat orang percaya kehilangan damai dan tidak pernah benar-benar menikmati kasih karunia Tuhan.

Orang yang hidup dalam kebenaran diri sering berpikir, “Tuhan memberkatiku karena aku rajin doa, baca Alkitab, dan melayani.”
Mereka berasumsi bahwa kasih Tuhan bergantung pada performa mereka. Padahal, itu artinya mereka sedang percaya pada diri sendiri, bukan pada Kristus.

Roma 10:3 berkata, “Karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”

Selama seseorang masih mencoba menjadi cukup baik supaya diterima Tuhan, ia sebenarnya menolak kebenaran sejati — kebenaran yang diberikan sebagai anugerah, bukan hasil usaha.

Kebenaran sejati, bukanlah pencapaian, tapi pemberian, Anugerah. *Kita dijadikan benar bukan karena sudah sempurna, tapi karena Yesus sudah menukar hidup-Nya dengan kita.*
Ia menegaskan, “Kamu tidak menjadi benar karena melakukan hal yang benar, kamu melakukan hal yang benar karena kamu sudah benar.”
Perbuatan baik bukanlah akar kebenaran, melainkan buah dari kebenaran.
Dan setiap kali kita mengandalkan performa sendiri, kasih karunia berhenti bekerja.

Galatia 5:4 menulis, “Kamu lepas dari Kristus, kamu yang mencari pembenaran oleh hukum Taurat; kamu jatuh dari kasih karunia.” Jadi kuncinya adalah berhenti berusaha menjadi benar dan mulai percaya bahwa kita sudah dibuat benar.

Masalahnya, banyak orang sulit menerima bahwa kebenaran itu gratis. Kita terbiasa berpikir harus “berbuat sesuatu” agar layak. Tapi justru di situlah perang iman terjadi — percaya bahwa kasih dan penerimaan Tuhan tidak pernah diukur dari performa kita, melainkan dari karya Kristus.

Kebenaran sejati adalah identitas, bukan target moral. Ia bukan hasil perubahan perilaku, melainkan perubahan posisi: dari manusia berdosa menjadi anak Allah.

Firman Tuhan berkata dalam Yesaya 54:14, “Engkau akan meneguhkan dirimu di dalam kebenaran.” Artinya, bukan lagi berusaha menjadi benar, tetapi membangun kesadaran bahwa kita sudah benar di dalam Kristus.
Ini bukan pekerjaan Allah untuk kita, tetapi tanggung jawab pribadi — meneguhkan diri dalam kebenaran yang sudah menjadi milik kita.

Meneguhkan diri berarti membangun kesadaran dan pola pikir baru. Kita belajar berkata pada diri sendiri, “Saya benar, bukan karena saya sempurna, tetapi karena Yesus menjadikan saya benar.” Pikiran ini harus diulang sampai tertanam kuat di hati. Kita merenungkannya, mengucapkannya, dan mempraktikkannya dalam cara berpikir, berbicara, dan bereaksi. Kebenaran tidak akan berdampak sampai kita berpikir dan berbicara sesuai dengan kebenaran itu.

Saat seseorang mulai hidup dari kesadaran ini, banyak hal berubah. Ia tidak lagi hidup dalam rasa bersalah, takut, atau tertekan. Ia berhenti menilai diri dari masa lalu, dan mulai melihat dirinya sebagaimana Allah melihatnya. Tidak ada lagi tempat bagi rasa malu, kegagalan, atau penghukuman. Firman Tuhan menjanjikan, ketika kita meneguhkan diri di dalam kebenaran, kita akan jauh dari ketakutan, jauh dari penindasan, dan bebas dari tekanan.

Meneguhkan diri di dalam kebenaran bukan berarti menjadi sombong, melainkan hidup dengan identitas yang benar. Kita tidak sedang berusaha menjadi siapa pun — kita hanya hidup sebagai siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.
Saat kita berkata, “Saya di dalam Dia, dan Dia di dalam saya,” kita sedang melatih diri untuk berpikir seperti orang benar, berbicara seperti orang benar, dan bereaksi seperti orang benar.

Kebenaran membuat kita berhenti hidup dalam ketakutan dan mulai berjalan dalam damai. Ia memindahkan kita dari hidup yang digerakkan rasa bersalah ke hidup yang digerakkan kasih karunia. Kita tidak lagi hidup berdasarkan perasaan, tetapi berdasarkan identitas baru.

Tugas kita bukan mencoba menjadi benar, melainkan meneguhkan bahwa kita sudah dibuat benar. Ketika kesadaran itu tumbuh, hidup menjadi ringan. Kita berhenti berjuang untuk diterima dan mulai menikmati hubungan yang manis dengan Bapa. Karena kebenaran sejati bukan hasil kerja kita, melainkan hadiah dari kasih Tuhan yang sempurna.

Siap praktik? Yuuuk……


*”It is not what you do that makes you righteous, but what you believe about what Jesus has done.” – Andrew Wommack*

*”Bukan apa yang kita lakukan yang membuat kita benar, tetapi apa yang kita percayai tentang apa yang telah Yesus lakukan. – Andrew Wommack*

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Carilah Dahulu Kerajaan Allah — Hikmat yang Tersembunyi.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Carilah Dahulu Kerajaan Allah — Hikmat yang Tersembunyi.

Ketika mendengar bagaimana B. Silvy memberikan rumah seharga ratusan juta secara cuma-cuma kepada Daniel dan Kristin, reaksi orang tentu beragam.
Ada yang bersukacita dan ikut bersyukur, tapi ada juga yang kecewa, “Kok bukan saya yang dibelikan rumah?”
Wajar, tetapi di situlah kita perlu belajar berpikir dengan cara yang benar.

Berkat Tuhan bukan untuk ditanya “mengapa bukan aku”, tetapi untuk diteladani agar kita pun siap menerima bagian kita. — yennyindra

Setiap kali melihat seseorang diberkati—sukses dalam bisnis, mendapat terobosan, atau menerima jawaban doa yang luar biasa—seharusnya fokus kita bukan pada hasilnya, melainkan pada proses iman yang mereka jalani.
Sebab sumber berkat yang sejati bukanlah manusia, melainkan Tuhan sendiri.

Jangan berharap pada orang yang kita pikir akan dipakai Tuhan menolong kita—itu justru membebani.
Nancy Dufresne bahkan mengingatkan: jangan menempatkan suami sebagai penyedia utama kebutuhan kita, karena itu pun bisa menjadi beban.
Harapkanlah dari Tuhan.
Jika seseorang yang hendak Tuhan pakai tidak taat, Tuhan dengan mudah dapat memakai orang lain. Ia Allah yang Mahakuasa; tak ada yang mustahil bagi-Nya.

Janji-janji Tuhan berlaku bagi semua anak-Nya. Ia tidak pilih kasih.
Kalau Daniel dan Kristin diberkati, kita pun bisa.
Namun setiap janji Tuhan selalu melibatkan bagian kita—respon iman yang harus dilakukan.
Tuhan menyediakan, tapi kita yang menanggapi.

Ingat kisah perempuan yang pendarahan dua belas tahun itu.
Ia tidak berdoa panjang, tidak meratap, tidak menunggu dikasihani.
Ia berkata dalam hatinya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Lalu ia bertindak dengan iman—dan mujizat pun terjadi.

Firman berkata,
“Apabila engkau memutuskan berbuat sesuatu, maka akan tercapai maksudmu, dan cahaya terang menyinari jalan-jalanmu.” (Ayub 22:28)

*Pelajarannya jelas: iman bukan sekadar berharap, tetapi bertindak dengan keyakinan bahwa Tuhan setia menepati janji-Nya.*

Kembali ke kisah Daniel dan Kristin—jangan lalu berpikir, “Mudah-mudahan B. Silvy juga menolong saya.”
Bukan begitu caranya.
Harapan kita bukan pada bendahara Kerajaan Allah, tetapi pada Raja-Nya sendiri.
Tuhan punya banyak bendahara lain, dan Dia bebas memilih siapa yang akan dipakai-Nya.

Tugas kita sederhana: carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.
Artinya, tempatkan Tuhan di pusat kehidupan, hidupi firman, dan pancarkan karakter Kristus dalam setiap hal: pekerjaan, bisnis, tutur kata, maupun integritas pribadi.
Lakukan yang terbaik — do your best and become the best version of yourself.

Sambil kita menunggu Tuhan mengubah keadaan, Dia sedang mengubah kita.
Membentuk karakter, menajamkan hikmat, melatih tanggung jawab, dan menumbuhkan kedewasaan.
Tuhan ingin kita bukan hanya diberkati, tetapi siap mengelola berkat itu dengan benar.

Ability may get you to the top, but it takes character to keep you there.” — John Wooden.

Kemampuan bisa membawamu ke puncak, tetapi karakterlah yang menjagamu tetap di sana.- John Wooden.

Suatu kali, drg. Iwan pernah berkata dengan bijak,
“Kalau ada kura-kura bisa duduk di atas pagar, pasti ada yang mengangkatnya ke sana.”

Kura-kura, dengan tubuhnya yang berat dan kaki yang pendek, mustahil bisa memanjat sendiri.
Begitu juga kita.
Tak ada seorang pun yang bisa berhasil naik ke atas sendirian. Selalu ada tangan-tangan yang membantu: doa orang tua, dukungan sahabat, bimbingan mentor, atau kemurahan orang lain, seperti B. Silvy, yang Tuhan gerakkan.

Karena itu, ingatlah dan hargailah mereka yang pernah mengangkat kita naik.
Jangan lupakan jasa mereka ketika kita sudah di atas.
Sering kali, yang membuat seseorang bertahan di puncak bukan hanya kepintaran, tapi kerendahan hati untuk tetap menghormati mereka yang dulu menopang langkahnya.

Itulah sebabnya Tuhan lebih dulu membangun karakter kita sebelum mengangkat kita tinggi, supaya saat keberhasilan datang, kita sadar: ini semua tentang Tuhan, bukan tentang kita.
*It’s all about God, not us.*

Dan ketika waktu-Nya tiba, seperti pepatah berkata,
*“Ketika murid siap, gurunya pun akan muncul.”*

Dalam sekejap—in a split second, meminjam istilah Joel Osteen—Tuhan bisa membalikkan keadaan dan menghadirkan jawaban doa yang jauh melampaui yang bisa kita pikirkan.

Sudah siap diproses Tuhan dan naik ke level berikutnya? Yuk, kita praktikkan!

“Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.”— Abraham Lincoln.

Hampir semua orang bisa bertahan dalam kesulitan, tetapi jika ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan.— Abraham Lincoln.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Carilah Dahulu Kerajaan Allah – Jejak Tangan Tuhan di Balik Pintu yang Tak Terduga”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Carilah Dahulu Kerajaan Allah – Jejak Tangan Tuhan di Balik Pintu yang Tak Terduga”

Cerita Daniel dan Kristin ternyata belum selesai.
Ada sahabat saya, B. Silvy, seorang wanita berhati lembut yang gemar mengajak teman-teman gereja berlibur atau “healing” ke rumah sahabatnya di Solo — bergantian, dua atau tiga orang setiap kali.

Suatu hari, ia terpikir untuk mengundang Daniel dan Kristin.
Namun, mereka tidak langsung mengiyakan.
Mereka mempertimbangkan jadwal, harus izin kerja lebih dulu, memastikan tanggung jawab di tempat tugas beres.
Itu hal kecil, tapi mencerminkan karakter — orang yang tahu menempatkan diri dan menjaga kepercayaan.

Setibanya di Solo, mereka diajak menikmati keindahan Perbukitan Menoreh. Dalam obrolan santai, B. Silvy terenyuh mendengar bahwa pasangan ini belum pernah berbulan madu selama 15 tahun menikah.
Ketika melihat foto rumah kontrakan mereka yang sederhana dan sering kebanjiran saat hujan, hatinya pun tersentuh.

Ia lalu bertanya tentang harga rumah di daerah itu.
Setelah tahu angkanya, ia berkata dalam hati, “Aku ingin membelikan rumah untuk mereka.”
Ketika ia menceritakan niat itu kepada anak-anaknya, mereka menjawab ringan,
“Toh, Mami tidak akan tambah kaya atau miskin kalau membeli rumah itu.”

Luar biasa. Like mother, like son.

Yang menarik, sebenarnya B. Silvy tidak mengenal dekat Daniel dan Kristin. Tapi ia peka terhadap suara Tuhan.
Ketika saya bertanya,
“Kenapa mereka yang dibelikan rumah, bukan yang lain?”
Ia hanya tersenyum dan berkata,
“Entahlah, aku merasa Tuhan mendorong… jadi aku nurut saja.”

Menakjubkan.
Dan di situlah letak keindahan ketaatan — ia tidak menghitung untung-rugi, hanya mengikuti tuntunan Roh Kudus.

B. Silvy bukan tipe yang hanya pandai berkata-kata tentang firman, tapi kehidupannya sendiri menjadi khotbah yang hidup.
Ia pelaku firman sejati.
Tak heran, berkat seperti mengejar hidupnya.
Ia adalah bendahara Kerajaan Allah yang setia.
Tuhan tahu setiap berkat yang dipercayakan kepadanya tidak akan berhenti di tangannya, melainkan mengalir untuk memberkati banyak orang.

Hidupnya membuktikan prinsip sederhana namun pasti:
*Apa yang ditabur, itu pula yang dituai.*
Kalau tidak menabur benih, rasanya tidak adil kalau berharap panen, bukan?

B. Silvy menabur dalam ketaatan, kasih, dan kemurahan hati — dan menuainya dalam sukacita saat melihat kehidupan orang lain dipulihkan.

Lebih indah lagi, Daniel dan Kristin tidak bersikap aji mumpung.
Mereka mencari rumah yang sederhana, menawar dengan hati-hati agar tidak membebani.
Mereka bahkan memberikan perincian setiap rupiah yang digunakan.
Setelah transaksi selesai, ayah Kristin menelpon mengucapkan terima kasih sambil bercerita tentang rencana merenovasi rumah itu — pekerjaannya memang tukang renovasi.
Keluarga yang tahu berterima kasih, dan itu nilai-nilai yang semakin langka hari ini.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali terkejut.
Kristin ingin mengembalikan modal kecil yang dulu pernah dipinjam — tanpa ada yang menagih.
Mereka menabung sedikit demi sedikit sampai bisa melunasinya.
Ketika saya bercerita pada B. Silvy, ia tersenyum dan berkata,

“Pantesan Tuhan bela mereka…”

Benar juga.
Tuhan tidak memberkati dengan menjatuhkan uang dari langit.
Ia memakai manusia — tetapi hanya mereka yang hidupnya pantas dipercaya yang akan Tuhan gerakkan untuk menjadi saluran berkat.

Integritas dan kerendahan hati Daniel serta Kristin memancarkan wibawa Allah.
Mereka tidak berusaha menarik simpati, tapi iman dan harapan mereka terlihat jelas dalam tindakan dan sikap hidup.

Saya sempat berpikir, masuk akal juga…
Kalau seseorang hidupnya menyulitkan, tidak jujur, suka memanfaatkan keadaan, atau bersikap seenaknya, “mbencekno” kata Orang Surabaya — siapa yang akan tergerak untuk menolong?
Manusia mungkin melihat tampilan luar, tapi sikap hati seseorang selalu terpancar lewat perbuatannya.
Dan sering kali, itulah tanda yang Tuhan pakai untuk menggerakkan bendahara-bendahara surgawi-Nya.

Tuhan melihat hati, tapi manusia melihat yang tampak.
Ketika hati kita benar di hadapan Tuhan, sikap dan tindakan kita mencerminkan kasih-Nya — dan itu yang membuka jalan bagi berkat-Nya mengalir.

Seperti Daniel dan Kristin, mereka sungguh-sungguh mencari dahulu Kerajaan Allah, dan Tuhan sendiri yang menambahkan semuanya — bahkan dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.

Tuhan tidak menurunkan uang dari langit.
Ia menggerakkan hati manusia.
Namun, hanya mereka yang hidupnya mencerminkan kasih dan integritas Kristus yang dapat dipercaya, yang menjadi wadah berkat itu.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini?
Tunggu kelanjutannya di artikel berikutnya: “Hikmat yang Tersembunyi…”


“Character is how you treat those who can do nothing for you.”— Malcolm Forbes.

“Karakter sejati tampak dari cara seseorang memperlakukan orang yang tak bisa memberi imbalan apa pun.” — Malcolm Forbes

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Carilah Dahulu Kerajaan Allah…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Carilah Dahulu Kerajaan Allah…

Ayat yang sangat akrab di telinga kita:
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33).

Kita hafal di luar kepala, tapi sering bertanya: bagaimana ayat ini bisa nyata dalam kehidupan sehari-hari?
Saya pun baru benar-benar mengerti setelah menyaksikan kisah nyata ini.

Pasangan muda ini, P. Oktavianus Danniel dan istrinya, B. Kristin Susanti, hidup seperti banyak keluarga masa kini: terjerat utang kartu kredit dan pinjol.
Jumlahnya?
Tidak tanggung-tanggung — lebih dari sepuluh kartu kredit, ditambah pinjaman online.

Gubbrraaaakkk… Alamak!
Dengarnya saja saya nyaris pingsan. Banyak amat!

Danniel bekerja sebagai staf biasa, sementara Kristin guru les, dan mereka memiliki dua anak.
Ketika mereka mulai bergabung di TLW, gereja kami, saya sempat berpikir,
“Secara logika, hutang ratusan juta ini tidak mungkin bisa lunas.”

Syukurlah ada B. Vei, seorang pengacara di jemaat, yang membantu menutup kartu kredit agar bunganya tidak makin menumpuk. Sebagian bunga dihapus, sebagian lagi tetap harus dibayar.
Debt collector masih datang silih berganti — berat, tapi mereka tetap berkomitmen mencicil.

Ketika ramai berita di TikTok bahwa hutang pinjol bisa diabaikan dan dilaporkan ke polisi, B. Kristin justru berkata dengan tenang,

“Saya tetap bayar, Bu. Saya tidak mau orangtua saya terganggu karena debt collector datang.”

Sederhana, tapi menunjukkan integritas yang luar biasa.

Dengan sedikit modal pinjaman, ia mulai berjualan apa saja. Ia berjanji tidak akan menyentuh uang pokok, hanya mengambil keuntungan.
Awalnya rajin melapor hasil jualannya, lama-lama tidak lagi. Saya tidak terlalu mengikuti, tapi bisa melihat, ada sesuatu yang mulai berubah.
Mereka mulai sungguh-sungguh belajar firman dan melakukannya.

Danniel pun semakin aktif melayani. Dalam doa volunteer, ia sering membawakan renungan firman yang penuh wibawa dan kuasa. Itu bukan hasil latihan berbicara, tapi buah dari kehidupan yang sungguh intim dengan Tuhan.
Renungannya menyentuh karena ia sendiri menghidupinya.

Kini Danniel juga melayani di sebuah gereja di Tangerang.
Sementara Kristin, yang dulu bercita-cita menjadi singer tapi gagal audisi, dengan rendah hati menerima arahan untuk melayani di Sekolah Minggu.
Ternyata di sanalah panggilannya. Anak-anak diberkati melalui pelayanannya yang penuh kasih dan kesabaran.

Beberapa waktu kemudian, saya mendengar kabar: Kristin bekerja di sekolah internasional untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Hidup mereka makin stabil, makin baik.

Semuanya dimulai dari satu keputusan sederhana: mencari dahulu Kerajaan Allah.
Bukan dengan doa instan agar hutang dihapus, tapi dengan membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, belajar firman, dan menjadi pelaku firman.
Dan seperti janji Tuhan sendiri, ketika mereka mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya — semuanya ditambahkan kepada mereka.

Ketika kita sibuk membangun Kerajaan Tuhan, Tuhanlah yang membangun hidup kita.
Kadang kita baru sungguh mengenal Tuhan bukan lewat doa yang langsung dijawab, tetapi lewat perjalanan panjang yang tampak mustahil.
Di situlah kita melihat tangan-Nya bekerja dengan cara yang menakjubkan.

Suatu hari, Kristin bercerita tentang percakapan di kantornya.
Temannya, Eka, berkata bahwa ia akan pindah rumah karena selama ini tinggal di rumah inventaris keluarga. Dengan semangat, Eka menambahkan bahwa kakaknya baru saja membeli rumah di Kotabumi, Tangerang, dengan cara kredit.

Tanpa berpikir panjang, Kristin menjawab,
“Saya juga bakal punya rumah, tapi saya nggak mau beli.”

Eka menatap heran dan spontan berkata,
“Hari gini pengen punya rumah tapi nggak mau beli? Mana ada? Siapa yang mau kasih?”

Kristin tersenyum lembut dan menjawab,
“Tuhan saya sanggup, Eka. Mungkin bagi kita mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.”
Eka pun terdiam.

Mendengar kisah ini, saya bertanya dalam hati, Bisakah Daniel dan Kristin benar-benar mendapatkan rumah dari Tuhan?

Kita lihat… apakah janji Tuhan itu hanya teori, atau sungguh nyata bagi mereka yang mencari Dia lebih dulu.

Tunggu kisah selanjutnya di artikel: “Jejak Tangan Tuhan di Balik Pintu yang Tak Terduga”

When we put God first, all other things fall into their proper place.”— Ezra Taft Benson.

“Ketika kita mendahulukan Tuhan, segala sesuatu akan berada pada tempat yang seharusnyanya.”— Ezra Taft Benson”.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 11 12 13 14 15 307