Category : Articles

Articles

Di Meja Regent: Saat Makan Menjadi Pengalaman, Bukan Sekadar Menu.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Meja Regent: Saat Makan Menjadi Pengalaman, Bukan Sekadar Menu.

Setelah tulisan pertama tentang Regent Seven Seas Explorer beredar, bagian yang paling sering memancing pertanyaan ternyata bukan rute pelayaran atau kemewahannya, melainkan satu hal yang sangat manusiawi: makanan.
“Benarkah boleh pesan apa saja?”
“Benarkah lobsternya setiap hari?”
“Benarkah tidak ada restoran berbayar?”
“Benarkah boleh pilih main course, appetizer dan premium dessert sepuasnya?”

Jawabannya: iya. Dan justru di situlah letak filosofi Regent yang membedakannya dari cruise lain.

Di Regent, makan tidak diatur dengan rasa takut kekurangan. Kita tidak diminta memilih dengan hati-hati seolah sedang menghemat. Tidak ada tekanan untuk “memilih yang paling mahal” karena takut rugi. Semuanya sudah disiapkan sebagai standar. Kebebasan memilih ini menciptakan suasana makan yang santai, penuh rasa aman, dan tanpa beban.
Kami bisa saling berbagi, mencicipi makanan bersama teman-teman.

Yang menarik, meskipun bebas, suasana tidak pernah berubah menjadi rakus atau berlebihan. Justru karena tidak dibatasi, kita makan dengan lebih sadar. Mencicipi. Menikmati. Menghargai.

Soal bahan, Regent jelas tidak bermain aman. Mereka bermain serius.
Daging sapi pilihan dengan grade USDA Prime adalah standar, bukan menu khusus. Steak disajikan dengan potongan yang tepat, dimasak presisi, dan tetap menonjolkan rasa asli daging. Ini jenis daging yang tidak perlu diselamatkan saus.

Untuk pecinta seafood, pengalaman di Regent terasa hampir tidak masuk akal. Lobster hadir hampir setiap saat, bukan sebagai menu gala satu malam. Tiger prawn besar dan manis, disajikan dengan teknik sederhana agar rasa alaminya tidak tertutup. Ikan segar terasa segar. Tidak amis. Tidak lelah.

Saya juga menikmati bagaimana dapur Regent memperlakukan hidangan klasik Eropa. Escargot, foie gras, saus berbasis mentega dan wine, semuanya disajikan dengan elegan, tanpa rasa berat. Ini bukan masakan yang ingin pamer teknik, tetapi ingin menyenangkan tamu.

Btw, Escargot ini menu favorit b. Silvy dan saya…
Hahaha…. kami benar-benar Duo, satu paket, ujar teman-teman, – baik dalam pelayanan jadi PIC BBL, mau pun selera makan.

Kristina pun berkomentar,”Wow luar biasa tulisan Yenny yang nyata tidak ditambah -tambahi, hanya ada sedikit kurang untuk piring Versace yg disajikan di semua meja setiap kita ke Compas Rose he he harga nya 445 USD per satu piring?.”

Wuih…..

O ya, kami dapat Free Wifi. 1 orang 1 nomor. Ini menyenangkan sekali…

Satu hal kecil tapi penting: tidak ada rasa “produksi massal”.
Setiap piring terasa dibuat dengan niat serius. Pelayanannya personal. Sommelier menawarkan wine pairing tanpa menggurui. Chef terbuka pada permintaan khusus, selama bahan tersedia. Bahkan menu di luar daftar pun bisa dibuat.

Dan karena ini Regent, semua itu terjadi tanpa embel-embel biaya tambahan. Tidak ada restoran premium yang disisihkan untuk “yang mau bayar lebih”. Tidak ada perasaan kelas sosial di ruang makan. Semua tamu diperlakukan setara.

Makan di Regent bukan soal kemewahan yang berisik. Ini tentang kelimpahan yang tenang. Tentang rasa cukup. Tentang menikmati tanpa rasa bersalah.

Mungkin itu sebabnya banyak tamu mengatakan bahwa di Regent, mereka bukan hanya pulang dengan foto-foto indah, tetapi juga dengan ingatan tentang rasa. Rasa makanan, rasa damai, dan rasa syukur.

Dan di tengah segala kelimpahan itu, kita diingatkan bahwa segala sesuatu yang baik, termasuk kemampuan menikmati, adalah karunia Tuhan.

Regent mengajak kita mengalami paradoks surgawi: bahwa kelimpahan terasa paling nikmat justru ketika tidak kita kejar. Dengan menghapuskan mekanisme “bayar lebih” dan “pilihan terbatas”, kapal ini menciptakan ruang di mana jiwa bisa beristirahat dari mentalitas kelangkaan. Di sini, kita dilatih untuk percaya bahwa cukup itu ada, dan berkat itu mengalir bagi semua. Ini adalah gambaran kecil dari kerajaan sorga-di mana perjamuan tersedia untuk setiap tamu yang datang, tanpa syarat, tanpa hierarki, hanya dengan tangan terbuka dan senyum penerimaan.

Hhhmmmm…. betapa indahnya!

“Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, in all the places you can, to all the people you can, as long as ever you can.” – John Wesley.

“Lakukan semua kebaikan yang kau bisa, dengan segala cara yang kau bisa, di segala tempat yang kau bisa, kepada semua orang yang kau bisa, selama kau masih bisa.” – John Wesley.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bintang Tujuh di Tengah Samudra: Pengalaman Berlayar Bersama Regent Seven Seas Explorer….


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bintang Tujuh di Tengah Samudra: Pengalaman Berlayar Bersama Regent Seven Seas Explorer….

Liburan senantiasa menyenangkan, terlebih lagi menikmati Regent Cruise – Seven Seas Explorer dari Benoa, Bali mulai tanggal 12 Desember 2025, menuju Sydney, Australia.
Direncanakan kami akan tiba tanggal 28 Desember 2025.

Diprakarsai oleh Kristina Roberts, kami semua berdelapan liburan bersama-sama.
Kristina, P. Indra, saya – YennyIndra, Silvy, dr. Daniel & Tjuarty, Sur & Ayun.

Saya sudah puluhan kali menikmati cruise, dari Asia Tenggara, Alaska, Eropa, Amerika, hingga Oasis of the Seas yang pernah menyandang predikat kapal pesiar terbesar di dunia pada masanya. Artinya, saya bukan baru pertama kali naik kapal pesiar. Standar sudah terbentuk. Tidak mudah terkesan.

Namun Regent Seven Seas Explorer memberi rasa yang berbeda sejak hari pertama.

P. Anton Thedy dari TX Travel berkomentar sambil tertawa, “Ini bintang tujuh.”
Saya menimpali, “Kayak obat sakit kepala saja ya… hahaha.”
Tapi semakin hari di kapal ini, saya paham maksudnya. Ini bukan sekadar mewah. Ini pengalaman yang matang, tenang, dan penuh perhatian pada detail.

Hal pertama yang langsung terasa adalah ruang dan ketenangan. Regent tidak mengejar jumlah penumpang. Semua kabin adalah suite dengan balkon pribadi.
Kamar di Regent luas dan terasa seperti apartemen pribadi.
Ada wardrobe terpisah, ruang tamu yang nyaman, dan balkon pribadi untuk menikmati laut.
Semua tertata rapi dan fungsional.
Bukan sekadar kamar, tapi ruang untuk benar-benar tinggal dan beristirahat.

Tidak ada kamar “hemat” tanpa jendela. Semua lapang. Semua nyaman. Kita tidak merasa berada di kapal besar yang ramai, melainkan seperti tinggal di hotel butik yang kebetulan sedang berlayar.

Konsep truly all-inclusive juga menjadi pembeda besar. Hampir semua sudah termasuk: fine dining, minuman premium, wine berkualitas, minibar, room service 24 jam, hingga shore excursion di setiap pelabuhan. Tidak ada kejutan tagihan. Tidak ada perasaan “ini bayar lagi ya?”. Pikiran benar-benar istirahat.

Soal makanan, Regent bermain di level serius.
Terdapat 7 restoran utama, masing-masing dengan karakter kuat.

Compass Rose, restoran signature Regent, memungkinkan kita merancang menu sendiri. Pilih protein, saus, hingga tingkat kematangan.
Prime 7, steakhouse klasik dengan daging berkualitas tinggi.
Chartreuse, restoran Prancis modern dengan plating cantik.
Plating cantik artinya makanan ditata indah, niat, dan berkelas. Bukan hanya enak dimakan, tapi memanjakan mata.
Pacific Rim, Asian fusion yang elegan dan refined.
La Veranda,buffet yang tidak terasa seperti buffet.
Malam hari berubah menjadi Sette Mari, restoran Italia yang hangat.
Dan Pool Grill, santai tapi tetap premium.

Semua ini tanpa biaya tambahan. Di Regent, specialty dining bukan ekstra. Itu standar.

Satu fasilitas yang sangat saya apresiasi dan jarang disadari orang adalah laundry dan pressing gratis setiap hari, hingga dua hari sebelum kapal bersandar di Sydney. Baju dicuci, disetrika, rapi, dan kembali ke lemari tanpa biaya. Hanya jika kita meminta dry clean, barulah ada charge. Untuk perjalanan panjang, ini bukan detail kecil. Ini kenyamanan nyata.

Fasilitas lain yang membuat pengalaman semakin lengkap:
Serene Spa & Wellness, tenang dan tidak ramai.
Observation Lounge dengan pemandangan laut luas, tempat favorit untuk duduk diam sambil minum kopi.
Perpustakaan, sunyi dan elegan.
Bahkan tersedia self-service laundry, bagi yang suka mandiri.

Yang juga unik di Regent adalah rasio kru dan tamu yang tinggi. Pelayanan terasa personal. Mereka mengingat nama, kebiasaan, bahkan preferensi minum kita. Bukan basa-basi, tapi perhatian yang tulus.

Bagi saya, Regent Seven Seas Explorer bukan soal kemewahan berlebihan. Ini soal pace.
Pace artinya ritme hidup atau perjalanan, cepat atau pelan.
Di sini, pace-nya pelan dan sadar. Tidak dikejar jadwal. Tidak berisik. Tidak melelahkan. Kita menikmati hari apa adanya.

Perjalanan 16 hari dari Benoa ke Sydney ini bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang proses menikmati setiap hari. Membuka balkon pagi hari. Menatap laut. Minum kopi tanpa tergesa. Membaca. Berjalan. Makan enak. Turun di pelabuhan dengan tenang.

Jika ditanya, apa yang benar-benar membedakan Regent dari cruise lain?
Jawabannya sederhana: rasa cukup.
Tidak ada yang terasa kurang. Tidak ada yang perlu ditambah. Semua sudah dipikirkan.

Dan mungkin, itulah definisi kemewahan yang sesungguhnya.
Bukan yang berisik.
Bukan yang pamer.
Tapi yang membuat kita bisa bernapas lega, dan menikmati hidup dengan utuh.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar tentang kapal, makanan, atau destinasi. Di tengah laut yang luas dan ritme hidup yang diperlambat, ada ruang untuk diam, merenung, dan kembali menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah.

Ketika kita berhenti sejenak dan tidak tergesa, hati menjadi lebih peka melihat kebaikan Tuhan dalam hal-hal sederhana. Setiap pagi, setiap pelayanan, setiap momen tenang menjadi pengingat bahwa Tuhan menyertai langkah kita, ke mana pun kita pergi.

Dan tentu saja….. menjadi kesempatan bersyukur dan menikmati karunia-Nya.

Luxury is not about having more. It’s about needing less.” – Coco Chanel.

“Kemewahan bukan soal memiliki lebih banyak, tetapi membutuhkan lebih sedikit.” – Coco Chanel.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Yesus Dijadikan Tuhan? Atau Memang Sudah Tuhan?”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Yesus Dijadikan Tuhan? Atau Memang Sudah Tuhan?”

Kalimat ini sering bikin orang berhenti sejenak saat membaca Kisah Para Rasul 2:36.
“Allah telah menjadikan Yesus … Tuhan dan Kristus.”

Lho?
Bukankah Yesus sudah Tuhan sejak semula?
Kalau Dia “dijadikan” Tuhan, apakah itu berarti sebelumnya Dia bukan Tuhan?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal kata. Ini soal bagaimana kita memahami Yesus dengan benar, bukan hanya dengan logika, tapi dengan pewahyuan.

Saya suka mengingatkan diri sendiri: Allah itu seperti samudra Atlantik, sementara pikiran kita cuma cangkir kopi kecil. Kalau kita paksa samudra masuk ke cangkir, yang rusak bukan samudranya, tapi cara kita memahami.

Mari kita duduk sebentar. Kita seruput pelan-pelan.

Sejak awal Injil, Yesus sudah disebut Tuhan.
Malaikat berkata kepada para gembala, “Telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan” (Lukas 2:11).
Artinya jelas: Yesus bukan baru Tuhan setelah kebangkitan.

Lalu kenapa Petrus berkata Allah “menjadikan” Yesus Tuhan?

Di sinilah banyak orang tersandung karena mencampuradukkan hakikat dengan jabatan.

Hakikat Yesus tidak pernah berubah.
Dia tetap Allah, tetap ilahi, tetap Tuhan, sebelum dan sesudah kebangkitan.
Yang berubah bukan siapa Dia, tapi posisi dan peran yang Ia jalani secara terbuka.

Saya suka analogi sederhana ini.
Seorang anak raja sudah lahir sebagai pewaris tahta. Ia raja secara identitas. Tapi ia belum memerintah. Baru saat dinobatkan, ia mulai menjalankan kuasa kerajaan secara penuh.

Begitu juga Yesus.

*Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus adalah Mesias, Anak Allah, Tuhan.
Namun setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Allah menobatkan Dia di takhta sorga.*
Di situlah Yesus mulai memerintah secara nyata atas segala sesuatu.

Itulah maksud Petrus.
Bukan “Yesus baru jadi Tuhan.”
Tetapi “Yesus sekarang memerintah sebagai Tuhan.”

Pentakosta membuktikannya.

Allah berjanji dalam Yoel bahwa Ia sendiri akan mencurahkan Roh-Nya.
Di Kisah Para Rasul 2, siapa yang mencurahkan Roh Kudus?
Yesus.

Ini bukan detail kecil.
Tidak ada manusia, sebaik apa pun, yang bisa mencurahkan Roh Kudus. Roh Kudus bukan tenaga, bukan energi, bukan pengalaman.
Dia Pribadi ilahi.

Kalau Yesus mencurahkan Roh Kudus, maka kesimpulannya sederhana tapi tegas:
Yesus bukan hanya Mesias. Ia adalah Allah yang menjadi manusia.

Itu sebabnya Petrus berani berkata bahwa keselamatan ada dalam nama Yesus.
Nama Tuhan yang harus diserukan untuk diselamatkan bukan nama lain.
Nama itu adalah Yesus.

Jadi Kisah Para Rasul 2:36 sama sekali tidak meruntuhkan iman Kristen.
Justru sebaliknya.
Ayat ini menunjukkan momen surgawi yang luar biasa:
Yesus, yang sejak kekal adalah Tuhan, kini dimahkotai dan memerintah sebagai Tuhan atas segala sesuatu.

Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar doktrin. Ini undangan untuk tunduk.
Kalau Yesus memerintah, maka hidup kita bukan milik kita lagi.
Kalau Yesus duduk di takhta, maka kita tidak bisa lagi duduk di kursi pengemudi.

Nach dalam terjemahan Godbey New Testament menjelaskan lebih gamblang.

*Act 2: 36 Godbey New Testament*
*Then let all the house of Israel assuredly know that God hath made this same Jesus, whom you crucified, both Lord and Christ*

*Kis 2: 36 Godbey New Testament*
*Kemudian, biarlah seluruh kaum Israel tahu dengan pasti bahwa Allah telah menjadikan Yesus yang sama ini, yang kamu salibkan, baik Tuhan maupun Kristus*

Diteguhkan dengan Filipi 2:9-11 (TB) Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Dan di situlah iman menjadi nyata.
Bukan sekadar tahu Yesus adalah Tuhan, tapi hidup Dia benar-benar memerintah.

Seruput kopi perlahan-lahan……
Kebenarannya dalam…
Betapa nikmatnya…. hhhmmmm….

The resurrection was not the making of Jesus into Lord, but the revealing of who He always was.”- N. T. Wright.

Kebangkitan bukanlah saat Yesus menjadi Tuhan, melainkan penyingkapan siapa Dia sejak semula. – N. T. Wright.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Penuh Kasih Seperti Oseola: Ketika Pemberian Sederhana Mengubah Taksi Banyak Orang

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Penuh Kasih Seperti Oseola: Ketika
Pemberian Sederhana Mengubah Taksi Banyak Orang

Saya terharu membaca kisah nyata Oseola McCarty, seorang wanita sederhana dari Hattiesburg, Mississippi. Tidak ada yang istimewa dalam penampilan atau status sosialnya — hanya seorang tukang cuci tua yang hidup tenang dan bersahaja. Namun di balik tangannya yang keriput dan tubuh mungilnya, bersemayam hati yang luar biasa mulia.

Oseola berhenti sekolah di kelas enam karena harus merawat neneknya yang sakit. Ia berjanji akan kembali, tapi waktu berlalu, dan ketika akhirnya bisa, ia merasa terlalu tua untuk duduk di bangku sekolah bersama anak-anak. Ia pun memilih bekerja. Puluhan tahun ia mencuci pakaian untuk keluarga-keluarga di kotanya — merebus, menggosok, menjemur, dan menyetrika dengan tangan. Tanpa mesin, tanpa keluhan.

Hidupnya sederhana. Ia naik bus ke mana-mana, jarang membeli barang baru, dan tidak pernah berlibur. Tapi dari hasil kerja kerasnya, setiap bulan ia menyisihkan sedikit uang untuk ditabung. Tidak banyak, tapi konsisten. Sedikit demi sedikit, tahun demi tahun, hingga jumlahnya menjadi besar. Pada usia 87 tahun, Oseola terkejut saat melihat tabungannya mencapai lebih dari 250.000 dolar!

Yang membuat dunia terdiam adalah keputusan yang diambilnya: ia menyumbangkan 150.000 dolar — lebih dari separuh tabungannya — kepada Universitas Southern Mississippi, kampus yang dulu hanya bisa ia impikan. “Saya tidak keberatan bekerja keras,” katanya, “tapi saya ingin membantu agar mereka tidak perlu bekerja sekeras saya.”

Ia tidak pernah kembali ke sekolah, tetapi ia membuka pintu pendidikan bagi banyak generasi muda. Melalui kasih dan ketulusannya, ratusan mahasiswa yang dulu tak mampu kini bisa melanjutkan kuliah. Hidup mereka berubah karena seorang tukang cuci yang penuh cinta.

Saya teringat ketika papa dan mama saya meninggal. Ada banyak hal yang belum sempat saya lakukan untuk mereka. Saya tidak bisa membuat mereka hidup kembali, tapi saya bisa melanjutkan impian mereka yang belum tercapai. Dengan cara itulah saya menghormati mereka — menjadikan hidup saya saluran berkat bagi orang lain, agar cita-cita dan nilai-nilai mereka tetap hidup.

Demikian pula dengan Oseola. Ia tidak bisa mengubah masa lalunya. Ia tak kembali duduk di kelas seperti yang ia impikan. Tapi ia mengubah masa depan banyak orang lewat satu keputusan sederhana: memberi.

Dan memberi tidak selalu berarti uang. Kadang yang dibutuhkan hanyalah telinga yang mau mendengar, hati yang peduli, penerimaan tanpa menghakimi, atau hikmat yang kita bagikan kepada generasi yang lebih muda, supaya mereka tidak perlu terjerembab dalam kesalahan yang sama seperti yang pernah kita alami dulu. Begitu banyak hal kecil yang bisa kita lakukan — senyum tulus, dorongan lembut, doa yang setia — semuanya bisa menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain.

Itulah kehidupan yang berdampak. Hidup yang meninggalkan jejak abadi. Dunia menjadi lebih baik karena kehadiran orang seperti Oseola. Ia tidak hidup untuk diri sendiri, tapi menjadi terang dan garam dunia. Hatinya yang penuh kasih adalah cermin dari kasih Tuhan sendiri.

Kisahnya mengingatkan kita: kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa mengubah masa depan. Tuhan tidak meminta kita melakukan hal besar, hanya setia dalam hal kecil — karena kasih yang sederhana, bila dilakukan dengan ketulusan, bisa mengubah hidup seseorang.

Oseola tidak hanya menabung uang, tetapi menabung kebaikan. Dan itulah yang kekal. Hidupnya mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukan tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan berapa banyak kasih yang kita sebarkan.

“It’s not how much we give, but how much love we put into giving.” — Mother Teresa

“Bukan seberapa banyak yang kita beri, tetapi seberapa besar kasih yang kita sertakan di dalam pemberian itu.” — Mother Teresa

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya! Banyak orang menjalani hidup

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya!

Banyak orang menjalani hidup seperti sedang mengikuti arus. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Kadang kita berpikir hidup ini milik kita, jadi kita bebas menentukan apa pun yang kita mau. Tapi pernahkah kita merasa, meski semuanya tampak baik-baik saja, hati tetap terasa kosong?

Kenyataannya, manusia tidak akan pernah benar-benar puas sebelum ia hidup sesuai rancangan Allah.
Mazmur 139:14–17 berkata bahwa bahkan sebelum kita lahir, Allah sudah menulis hari-hari kita. Dia menenun kita dengan tangan-Nya sendiri, menaruh kepribadian, bakat, dan potensi unik di dalam diri kita. Kita tidak hadir di dunia ini karena kebetulan.

Andrew Wommack menulis, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Betapa dalam kalimat itu! Kadang kita iri dengan kemampuan orang lain, ingin seperti mereka, padahal Tuhan tidak memanggil kita untuk itu.
Kalau Allah menciptakan saya sebagai pelari jarak jauh, maka saya tidak akan bisa berlari cepat seperti sprinter. Saya bisa melatih diri, tapi saya tidak bisa melawan desain Ilahi yang sudah ditetapkan.

Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras tapi tetap merasa hampa. Mereka sibuk melakukan banyak hal yang kelihatannya penting, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan rancangan Tuhan atas hidupnya.
Kita bisa punya jabatan tinggi, penghasilan besar, tapi kalau itu bukan tempat yang Allah mau, hati kita tidak akan damai.

Andrew berkata, “Allah bermaksud agar kita mengalami kepuasan kehidupan yang dijalani dengan baik.”
Artinya, hidup yang penuh makna bukan ditentukan oleh seberapa banyak kita punya, tapi seberapa selaras kita dengan kehendak Tuhan.
Kepuasan sejati datang saat kita tahu, “Saya berada di tempat yang seharusnya, melakukan apa yang Tuhan mau saya lakukan.”

Kadang Tuhan menuntun kita bukan lewat suara besar dari langit, tapi lewat damai sejahtera di hati. Kalau kita melangkah dalam kehendak-Nya, ada ketenangan batin yang tidak bisa dijelaskan.
Sebaliknya, ketika kita keluar dari jalur itu, hati menjadi gelisah.
Damai sejahtera adalah kompas batin orang percaya.

Buku ini juga menegaskan bahwa Allah tidak memaksa kehendak-Nya terjadi. Ia memberi kita kebebasan untuk memilih. Itu sebabnya banyak orang tidak menggenapi rencana Allah, bukan karena Allah tidak sanggup, tapi karena mereka tidak mau taat.
Tuhan tidak akan menarik kita seperti boneka tali. Ia ingin kita mencari, mengenal, lalu memilih untuk mengikuti-Nya dengan sukarela.

Saya belajar, hidup yang berhasil bukan berarti bebas dari masalah, tapi punya kepastian arah.
Kita tahu kemana sedang berjalan, dan siapa yang menuntun kita.
Ketika kita hidup dalam kehendak-Nya, meski jalannya kadang tidak mudah, hati kita tetap penuh damai dan sukacita.
Itu tanda kita sedang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Jadi, kalau hari ini hati terasa kosong, mungkin bukan karena ada yang kurang di luar, tapi karena kita belum sepenuhnya berjalan di dalam rancangan Tuhan.
Mulailah dengan doa sederhana, “Tuhan, tunjukkan apa yang Kau taruh dalam diriku, supaya aku bisa hidup sesuai dengan tujuan-Mu.”

Sebab seperti kata Andrew, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Dan saat kita mulai hidup sesuai rancangan-Nya, itulah awal dari hidup yang paling memuaskan.

“The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.” – Mark Twain

“Dua hari terpenting dalam hidupmu adalah hari kamu dilahirkan, dan hari kamu tahu untuk apa kamu dilahirkan.”
– Mark Twain

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 11 12 13 14 15 314