Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Kuatir Itu Melelahkan… Memangnya Itu Tugas Kita?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kuatir Itu Melelahkan… Memangnya Itu Tugas Kita?

Tullisan Fanky dengan gambar secangkir kopi, sungguh menggelitik.

Tuhan berkata: Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

Sekilas muncul pertanyaan ke diri sendiri: siapa yang disuruh jangan kuatir?
(Kamu/Saya/Kita kan?)

Berarti kendali rasa kuatir tersebut ada di tangan Tuhan atau kita?

Berarti kendali rasa kuatir tersebut ada di tangan Tuhan atau kita?

Lanjut muncul dibenak saya Kalau gitu Perasaan saya adalah tanggung jawab Dan Berarti kalau saya serahin balik ke Tuhan “TUHAN tolong kendali kan perasaan saya ataupun tolong singkirkan rasa kuatir ini” Apa itu Saya lempar balik tanggungjawab saya ke Tuhan ya?

Hmm Seruput kopi dulu….

********
Tuhan berkata: “Sebab itu janganlah kamu kuatir…”

Waktu membacanya, saya berhenti sejenak.
Tuhan bilang: “janganlah kamu kuatir.”
Nah… siapa yang disuruh jangan kuatir? Saya, kamu, kita, kan?

Berarti yang bertanggung jawab atas kekuatiran itu bukan Tuhan, tapi kita sendiri.

Itu membuat saya berpikir:
Kalau begitu… perasaan saya adalah tanggung jawab saya.
Kalau saya bilang, “Tuhan tolong dong hilangkan kekuatiran ini,”
apa saya lagi lempar balik tanggung jawab saya ke Tuhan?

Kadang kita ingin Tuhan yang mengangkat kekuatiran itu dari kita secara otomatis. Tapi sayangnya, Tuhan tidak bekerja seperti itu.
Tuhan memberi kita kuasa untuk memilih apa yang kita pikirkan dan rasakan.
Dia sudah memberi Firman-Nya. Memberi Janji-Nya. Memberi damai sejahtera-Nya. Tapi… kita yang harus memilih untuk percaya dan menolak kuatir.

“Kekuatiran adalah pilihan. Sama seperti damai sejahtera pun adalah pilihan.”

Lho? Masa sih?

Iya. Sama seperti kita bisa memilih untuk makan atau tidak, kita juga bisa memilih untuk memelihara kekuatiran… atau menolaknya.
Tuhan tidak akan pernah memaksa kita. Tapi Dia sudah membekali kita dengan Roh Kudus, pikiran Allah melalui firman-Nya, dan otoritas untuk menolak rasa takut.

Perhatikan tidak dikatakan
“Jangan kuatir, dan tunggulah sampai Aku mengambil kekuatiran itu dari hatimu.”

Tapi berkata:
“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan…?”

Artinya: jangan biarkan pikiranmu dan mulutmu bergabung menyebarkan rasa cemas itu.
Kalau kita terus memikirkan, lalu kita mengucapkannya, kekuatiran itu makin kuat cengkeramannya.

“Kekuatiran berkembang lewat pemikiran dan pengakuan yang salah.”

Jadi kalau kita mau mengalahkan kekuatiran, kita harus ambil sikap.

Bukan duduk pasif berharap rasa khawatir itu menguap. Tetapi aktif menolak.

Praktisnya bagaimana?

Setiap kali kekuatiran muncul, katakan:
“Tidak! Aku tidak menerima pikiran ini. Tuhan sudah berjanji, Dia memelihara aku.”
Lalu ucapkan Firman Tuhan keras-keras:

Tuhanku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.”

Ucapkan, bukan hanya pikirkan.

Karena mulut adalah kemudi hati. Mulut mengendalikan arah pikiran. Ketika kita memperkatakan Firman, perasaan akan ikut berbalik arah.

Kadang orang berkata,
“Saya nggak bisa mengendalikan perasaan saya.”
Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Kita tidak bisa mencegah perasaan muncul, tapi kita bisa memutuskan apakah kita akan membiarkannya tinggal.

Kekuatiran bukan tamu kehormatan. Jangan disediakan kopi. Usir saja.

Tuhan tidak akan menyuruh kita “jangan kuatir” kalau itu tidak mungkin dilakukan.
Dia tahu kita sanggup—karena Dia sudah memberikan semua yang kita perlukan.

Jadi, kalau kita berkata,
“Tuhan, tolong singkirkan rasa khawatir ini dari saya…”
Hati-hati. Itu bisa jadi bentuk spiritual-sounding untuk lari dari tanggung jawab pribadi.

Lebih tepat kalau kita berkata:
“Tuhan, aku percaya pada-Mu. Aku menolak kuatir. Aku ambil damai-Mu sekarang juga.”
Lalu bertindaklah seolah damai itu nyata—karena memang nyata!

Kesimpulannya?
Tanggung jawab atas perasaan ada di tangan kita.
Tuhan sudah memberi damai sejahtera, tinggal kita terima dan pegang.
Kalau kita menunggu Tuhan yang “mengambil” rasa kuatir dari kita, maka kita akan terus dikuasai pikiran negatif.

Kita yang punya kendali.
Kita yang punya pilihan.
Dan… kita yang harus berkata:

“Aku tidak kuatir. Tuhan yang memelihara aku. Titik.”

Nah sekarang, yuk… seruput kopi cantik, sambil bersyukur bahwa hari ini kita bebas memilih damai.
Siap?

Worry is the antithesis of trust.
Every time you worry, you are practicing atheism.”- Elisabeth Elliot.

Kekhawatiran adalah antitesis dari kepercayaan. Setiap kali Anda khawatir, Anda sedang mempraktikkan ateisme.” – Elisabeth Elliot.

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bukan Tuhan yang Mencobai – Hati-Hati dengan Tipu Daya Iblis!

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Bukan Tuhan yang Mencobai – Hati-Hati dengan Tipu Daya Iblis!

Masalah datang tanpa diundang. Kadang seperti badai, menggoncang hidup kita. Tapi pernahkah kita bertanya, siapa sih pencetus masalah ini?

Tidak semua penderitaan datang dari setan. Mari kita luruskan dulu:
Ada yang berasal dari kesalahan kita sendiri—salah ambil keputusan, sembrono, atau tidak peka mendengar suara Tuhan. Bahkan sesekali, sudah tahu itu melanggar firman, tetap saja dilakukan. Itu konsekuensi.
Tapi ada juga yang datang dari musuh jiwa kita, si setan, yang sengaja mengirim testing untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan.
Tujuannya satu: mencuri Firman Tuhan yang ada di dalam hati kita.

Mengapa Firman?
Karena Firman itulah kekuatan dan kemenangan kita!

*Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”*

Setan tahu: selama kita berdiri teguh di atas Firman, dia tidak bisa menang. Maka ia ciptakan skenario lewat orang, situasi, bahkan hal kecil yang mengganggu emosi—semua untuk membuat kita ragu, kecewa, dan melepaskan pegangan pada Firman.

Jangan salah paham!
Banyak orang mengira, “Ini cobaan dari Tuhan.”
Bahkan berkata, “Mungkin Tuhan sedang mengajar saya lewat penyakit ini… lewat kebangkrutan ini…”
Padahal Alkitab tegas:

_Yakobus 1:13 (TB): “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.”_

Tuhan bukan sumber masalah. Dia sumber pertolongan!
Tuhan mengajar kita melalui Firman-Nya — bukan lewat kecelakaan atau kanker.

_2 Timotius 3:16 (TB):
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”_

Jadi apa yang harus kita lakukan saat diuji?

Jangan menjauh dari Tuhan.
Justru saat tertekan, itulah waktunya mendekat. Kita perlu tuntunan dan strategi dari-Nya untuk menang.

Tetap berdiri di atas Firman.
Jangan ijinkan situasi mengguncang keyakinan kita. Firman itu kekal dan pasti bekerja.

Sadar bahwa kita sudah dibekali semua yang kita butuhkan!

Dengarkan janji ini:
2 Petrus 1:3-4 (TB):
“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia… Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar…”

Bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk menang dan hidup ilahi, terlepas dari hawa nafsu dunia ini.

Lalu bagaimana supaya kita tidak tersandung?
Lanjutkan di ayat 10:
“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”

Jelas!
Teguhkan panggilan kita. Berpegang terus pada Firman.
Karena ketika Firman hidup di hati dan kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, kita akan tetap berdiri, bahkan ketika badai menerpa.

Jadi, setan bisa datang menguji. Tapi dia tidak akan menang—selama kita tetap tinggal dalam Firman, mendekat pada Tuhan, dan memakai otoritas yang telah Yesus beri.
Kita tidak perlu tersandung.
Kita bisa tetap berdiri teguh. Karena kita bukan sendirian—kita bersama Dia, dan Firman-Nya hidup di dalam kita.

Itulah kuncinya.
Jangan lepas Firman, maka kita tidak akan tersandung.

Siap praktik? Yuuuk….

*God is not testing you. He is equipping you with truth to overcome.” – Lisa Bevere.*

“Tuhan tidak sedang menguji kamu. Dia sedang memperlengkapimu dengan kebenaran untuk menang.” – Lisa Bevere.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

In Christ Part 3: Stop Berusaha Membuktikan Diri – Anugerah Itu Gratis!


Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

In Christ Part 3: Stop Berusaha Membuktikan Diri – Anugerah Itu Gratis!

“Apa yang harus saya lakukan supaya doa saya dijawab Tuhan? Saya sudah berdoa, baca Alkitab, rajin ke gereja, bahkan setia bayar persepuluhan! Saya sudah melakukan semua yang Alkitab perintahkan.”

Itu kalimat yang sering kita dengar. Bahkan mungkin kita sendiri pernah berkata begitu. Tapi tahukah kita, justru itu alasan utama mengapa doa kita tidak dijawab?

Seperti yang Andrew Wommack katakan:
“Saat seseorang berkata begitu, dia tanpa sadar sudah menjelaskan mengapa dia tidak menerima jawaban doa—karena dia berpikir bahwa ketaatannya, usahanya, dan kebaikannya bisa membuat Tuhan menjawab.”

Kita sedang mengandalkan performa diri, bukan anugerah Tuhan.

Kasih Karunia Itu Gratis, Bukan Imbalan.

Kasih karunia (grace) artinya pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Tidak bisa dibeli, tidak bisa ditukar dengan perbuatan baik kita, dan tidak perlu dibuktikan bahwa kita layak. Kasih karunia itu datang dari hati Tuhan yang mengasihi, bahkan jauh sebelum kita lahir.

Tapi sering kali, tanpa sadar, kita menganggap Tuhan seperti bos yang menilai kinerja. Kita berpikir: kalau sudah cukup rajin dan taat, baru pantas diberkati. Kalau hidup kita belum benar, rasanya tidak mungkin Tuhan menjawab doa.

Ini adalah jebakan berpikir yang berbahaya. Karena tanpa sadar, kita sedang memindahkan dasar iman kita dari Yesus kepada usaha kita sendiri.

Iman: Tanggapan Positif atas Anugerah.

Kebenarannya adalah ini: Grace – Anugerah adalah bagian Tuhan. Faith – Iman adalah bagian kita.
Anugerah (kasih karunia) sudah Tuhan sediakan—semua berkat, kesembuhan, damai sejahtera, jawaban doa—sudah tersedia di dalam Kristus. Tugas kita adalah menanggapi dengan iman.

Iman bukan berarti kita memaksa Tuhan melakukan sesuatu.
Iman hanya berkata, “Ya Tuhan, aku percaya. Aku terima yang sudah Engkau sediakan.”

Sama seperti seseorang memberikan kita hadiah. Kita tidak perlu kerja dulu untuk dapat hadiah itu. Kita cukup menerima. Kalau menolak karena merasa belum layak, berarti kita menolak kemurahan si pemberi.

Begitu juga dengan Tuhan.

*Mengapa Banyak Doa Tidak Dijawab?*

Mungkin ini jawabannya. Kita sudah terlalu sibuk melakukan “performa rohani,” padahal kita lupa satu hal: Tuhan tidak menjawab doa karena kita sudah cukup baik. Tuhan menjawab doa karena Yesus sudah sempurna menggantikan kita.

1 Yohanes 5:4 berkata:
“Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”

Bukan kekuatan, bukan amal, bukan kerajinan. Tapi iman!

Iman yang percaya bahwa segala sesuatu yang kita butuhkan sudah selesai dikerjakan Yesus di kayu salib. Kita tinggal menerima dengan ucapan syukur, bukan dengan usaha mati-matian.

Mari kita berhenti bersusah payah secara rohani. Tuhan tidak minta kita bekerja untuk menerima kasih-Nya. Dia minta kita percaya bahwa Dia sudah bekerja untuk kita—dan pekerjaan itu sudah selesai!

Ketika kita berhenti berusaha, dan mulai percaya bahwa kasih karunia itu cukup, maka damai mulai mengalir. Doa pun jadi ringan dan penuh keyakinan. Kita tidak lagi datang sebagai pengemis yang merayu, tapi sebagai anak yang yakin dikasihi.

Dan anak yang tahu bahwa dia dikasihi, akan lebih mudah menerima warisan dari Bapanya.

Intinya,

– Anugerah/Kasih karunia adalah bagian Tuhan—sudah selesai.
– Iman adalah bagian kita—merespons dengan percaya.
– Jangan mengandalkan perbuatan baik untuk menerima jawaban doa.
– Percayalah pada kasih Tuhan dan karya salib Yesus.
– Iman yang percaya kepada anugerah/kasih karunia itulah yang membawa kemenangan.

Jadi… yuk, kita belajar untuk percaya lebih dari berusaha. Tuhan lebih tertarik pada hati yang percaya penuh daripada daftar panjang aktivitas rohani kita.

Itulah kehidupan yang penuh anugerah. Dan di situlah doa-doa mulai dijawab.

“Christianity does not begin with a big DO, but with a big DONE.” – Watchman Nee.

“Kekristenan tidak dimulai dengan kata LAKUKAN, tapi dengan kata SUDAH SELESAI.” – Watchman Nee.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

In Christ Part 2: Passover – Saat Semua Disembuhkan Seketika!

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

In Christ Part 2: Passover – Saat Semua Disembuhkan Seketika!

Mujizat besar yang sering terlupakan…
Bayangkan jutaan orang Israel keluar dari Mesir dalam satu malam. Usia mereka beragam — ada anak-anak, orang tua, bahkan yang dulunya diperbudak dan disiksa bertahun-tahun. Tapi Alkitab mencatat:
“Dituntun-Nya mereka keluar membawa perak dan emas, dan di antara suku-suku mereka tidak ada yang tergelincir.”
(Mazmur 105:37)

Tidak ada yang sakit. Tidak ada yang pincang. Tidak ada yang tertinggal!

Semuanya sembuh… instan.
Kapan itu terjadi?
Saat mereka merayakan Passover — Paskah pertama, menyembelih anak domba dan makan dagingnya.

Paskah itu bayangan dari yang akan datang… Yesus!
Peristiwa Paskah di Mesir adalah gambaran dari pengorbanan Yesus, Anak Domba Allah.

“Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.”
(1 Korintus 5:7)

Ketika kita mengambil Perjamuan Kudus, kita mengenang dan mengaktifkan kuasa pengorbanan Yesus yang sudah selesai di kayu salib.

“Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”
(1 Korintus 11:26)

Yesus sudah mati menggantikan kita, menanggung dosa, sakit penyakit, kutuk, dan kemiskinan.
Jadi sekarang tugas kita adalah percaya, mengingat, dan menerima yang sudah disediakan.

Dari Taman Eden ke Perjanjian Baru: Rencana Allah Tidak Pernah Berubah

“Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita… beranak cuculah dan bertambah banyaklah, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu…” (Kejadian 1:26–28)

Sejak awal, Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan: menjadi wakil-Nya di bumi.
Bukan hidup tertindas. Bukan hidup sakit-sakitan.

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya.
Kita ditetapkan untuk berkuasa, menaklukkan, dan memenuhi bumi dengan kemuliaan-Nya.

Tapi ketika dosa masuk lewat Adam, semua rusak.

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang… demikianlah maut menjalar kepada semua orang.” (Roma 5:12)

Namun kabar baiknya: Yesus datang sebagai Adam yang kedua.
Untuk memulihkan segalanya. Termasuk otoritas, kesehatan, dan hidup berkelimpahan yang hilang.

Tuhan Masih Menyembuhkan — Karena Itu Karakter-Nya!

“Sebab Aku Tuhan, yang menyembuhkan engkau.” (Keluaran 15:26)

Tuhan tidak berubah. Dia tetap penyembuh.
Bahkan saat bangsa Israel belum sempurna, Tuhan tetap memberi mereka tiang awan, tiang api, roti dari langit, burung puyuh, air dari gunung batu… dan tidak ada yang sakit!(Mazmur 105:39–41)

Kenapa? Karena Tuhan mengingat janji-Nya kepada Abraham.
Bukan karena bangsa Israel sempurna. Tapi karena Tuhan setia.

Bagaimana dengan kita hari ini?

Kita hidup di bawah Perjanjian Baru, bukan lagi berdasarkan hukum Taurat, tapi berdasarkan anugerah dan karya salib yang sudah selesai.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan jangan lupakan segala kebaikan-Nya. Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu.” (Mazmur 103:2–3)

Jangan mau dibohongi oleh iblis.
Kalau dosa sudah diampuni, sakit pun sudah disembuhkan!

Jangan duduk sebagai korban. Kita adalah anak Raja.
Wakil Kristus di bumi ini.

Jadi… bagaimana kita mengisi bumi dan menaklukkannya?

Dengan mengenali siapa kita di dalam Kristus,
Dengan hidup dari posisi sebagai orang yang sudah ditebus, disembuhkan, dan diberi otoritas.
Kita bukan meminta-minta berkat.
Kita hanya mengambil kembali apa yang sudah Yesus beli untuk kita.

Perjamuan Kudus bukan ritual, tapi pengingat kuat:
Yesus sudah mati. Kutuk sudah dihancurkan. Kesembuhan sudah disediakan.

Mari hidup layaknya anak Raja,
Yang berkuasa, yang sehat, yang bersinar memuliakan Bapa.
Karena itulah kita diciptakan.

Siap? Yuk……

Jesus didn’t just die for your sins. He died for your sicknesses, your poverty, and your defeat. If you’re still carrying those, you’re carrying what Jesus already took.” – Andrew Wommack.

“Yesus tidak hanya mati untuk dosamu. la juga mati untuk sakit-penyakitmu, kemiskinanmu, dan kekalahanmu. Kalau kamu masih memikul itu semua, berarti kamu sedang memikul apa yang sudah Yesus tanggung” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

In Christ Part 1: Sudah Punya, Ngapain Minta Lagi?

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

In Christ Part 1: Sudah Punya, Ngapain Minta Lagi?

“Tahukah kita, dalam Perjanjian Baru tidak ada pelajaran tentang menerima kesembuhan?”, ujar Ps. Daniel Amstutz.

Oh, sungguh mengejutkan!

Why?
“Karena saat lahir baru, kita sudah memiliki kesembuhan itu di dalam roh kita…,” lanjutnya.

Sungguh ini pewahyuan yang mengguncang cara berpikir lama saya!
Kalau memang sudah punya, ngapain minta lagi?

Yes!
Kita tidak perlu meminta sesuatu yang SUDAH kita miliki.
Kan sudah punya… buat apa didoakan untuk menerima lagi?
Makes sense!

Hidup dalam Kristus itu seperti kita duduk di dalam pesawat.
Yesus adalah pesawatnya.
Kita bisa terbang tinggi, bukan karena kita bisa mengepakkan tangan atau tahu cara menaklukkan angin, tapi karena kita ada di dalam pesawat.

Begitu juga, kita tidak bisa menyelamatkan, menyembuhkan, atau memberkati diri sendiri dengan kekuatan manusia.
Tapi karena kita ada di dalam Kristus, maka semua itu sudah otomatis jadi milik kita.

Keselamatan? Sudah punya.
Pengampunan? Sudah punya.
Kesembuhan? Sudah ditaruh di dalam roh kita.
Berkat, damai, sukacita, otoritas? Sudah semua!

Masalahnya: Kita sering lupa kalau kita sedang duduk di pesawat!
Kita malah panik, bingung, minta turun, minta didoakan ulang, dan bahkan kadang curiga:
“Tuhan, kenapa belum jawab doaku?”

Padahal Tuhan mungkin sedang tersenyum dan berkata,
“Nak, kamu sedang di dalam pesawat-Ku. Duduk saja yang manis. Tetap percaya. Segala sesuatunya sedang berjalan sesuai rencana.”

Saya teringat saat naik pesawat ke luar negeri.
Begitu duduk, semua fasilitas sudah disediakan.
Makanan, hiburan, bantal, selimut…
Saya tidak perlu buka pintu darurat dan beli makan sendiri di bawah.
Itu justru berbahaya!

Kesembuhan, damai, dan kelimpahan adalah ‘fasilitas kelas utama’ dari Kristus. Kalau sudah di dalam pesawat, kita tinggal menunggu pramugari datang bawa makanan.
Mengapa saya harus keluar untuk mencari?

Begitu juga dalam hidup kekristenan.
Kita in Christ.
Sudah ada di dalam Kristus!

Firman Tuhan berkata:
“Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia…” (Kolose 2:9-10)

Dipenuhi. Bukan akan dipenuhi. Sudah.

Itu sebabnya, kita perlu berubah cara berpikirnya.
Bukan lagi minta-minta dari luar.
Tapi belajar menyadari siapa kita di dalam Kristus, dan mulai berjalan dalam iman atas apa yang sudah kita miliki.

Pesawat itu membawa kita terbang tinggi di atas awan. Kita bisa melihat dunia dari perspektif berbeda.

“Allah telah membangkitkan kita bersama-sama dengan Dia dan mendudukkan kita bersama-sama dengan Dia di sorga dalam Kristus Yesus.” (Efesus 2:6)

Inilah realita rohani kita. Kita duduk in Christ — di atas segala kuasa jahat, penyakit, kemiskinan, ketakutan. Kita duduk bersama Yesus dalam posisi menang, lalu melihat semua itu dari atas, bukan dari bawah.

Jadi, bagaimana kalau tubuh terasa tidak sehat?
Kita bisa berkata:
“Tunggu dulu… Aku in Christ. Di dalam Kristus. Kesembuhan sudah ditaruh dalam rohku. Sekarang aku tinggal menerima dan bertindak sesuai kebenaran ini.”

Tidak panik.
Tidak bingung.
Tidak kejar-kejaran doa.
Tapi percaya dan tetap duduk manis di dalam pesawat-Nya.

Pesawat ini tidak pernah gagal membawa penumpangnya sampai ke tujuan.
Yesus-lah Jaminan Kita.

Dan karena kita ada di dalam Dia,
maka segala berkat rohani di surga adalah milik kita sekarang juga — bukan nanti, bukan besok, tapi sekarang, saat ini juga. (Efesus 1:3)

Jangan minta lagi yang sudah dikaruniakan.
Tinggal terima dan hidupi, karena kita in Christ!

God does not ask us to do anything for Him. He only asks us to be in Christ.” – Watchman Nee.

“Allah tidak meminta kita melakukan sesuatu untuk-Nya. Dia hanya meminta kita untuk tinggal di dalam Kristus.” – Watchman Nee.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 30 31 32 33 34 404