Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Intimidasi Senjata Iblis Menyerang Kita. (Healing Part 7)

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Intimidasi Senjata Iblis Menyerang Kita. (Healing Part 7)

Berulang kali saya minta Rheva menulis kesaksiannya disembuhkan secara supernatural dari syaraf terjepit, tetapi tak kunjung muncul jua. Hingga setahun kemudian Rheva email. Ternyata terkuak penyebabnya.

“Sebenernya bu, ampunilah aku karena kemarin-kemarin aku masih suka ketakutan ga berani bersaksi, kalau kumat bagaimana?”, ujar Rheva,
“Aku ditodong Taufan teman sekelas di CJ3 bersaksi, aku sudah ga bisa menghindar. Begitu menyetujuinya, apa yang terjadi?

Rasa sakitnya muncul lagi 2 hari sebelum jadwal kesaksian! Aku ga berani buka mulut, cuma diam, dan aku bilang sama si jahat “Jangan permainkan aku, pergi deh, aku ga mau termakan tipuanmu!!!”
Pagi harinya aku bangun, the pain is gone, lenyap tak berbekas. Aku kesaksian bagaimana disembuhkan dari syaraf terjepit secara supernatural, tanpa rasa sakit sedikit pun…
Memang battlefield of the mind – peperangan dalam pikiran, selalu ada ya bu… tapi ya itu, otot rohani harus terus dilatih.

Ini aku ceritain ke kakak rohaniku…. unbelief – ketidakpercayaan, itu tetap bisa hadir, tapi aku menetapkan hati, ga mau naik turun kalau mempercayai kesembuhan…. karena karya Allah itu sempurna, ga setengah-setengah…. kalau sudah sembuh, akan selalu sehat. Aku pegang erat-erat kebenaran ini. “


Ketakutan yang sama saya alami saat saya ‘yakin’ disembuhkan dari Hipertiroid. Tetapi saya tidak berani cek laboratorium karena terselip ketakutan kalau ternyata hasilnya tidak sembuh bagaimana?

Darimana saya ‘tahu’ kalau saya sembuh?
» Malam hari jantung saya tidak berdebar-debar lagi, meski pun saya sudah lepas obat. Detak jantung sekitar di angka 100 ketika sedang parah-parahnya. Sekarang sekitar 60 – 70 an.
» Berat badan saya stabil tanpa obat. Sebelumnya, tanpa obat, berat badan langsung meluncur turun dengan cepatnya.

Menjelang vaksin Covid, saya test laboratorium, hasilnya normal.
Yeaaayyyy…. Betul-betul sembuh dan terbukti dengan hasil lab.
Lega.

Beberapa minggu lalu, saya mendapatkan tugas sharing.
Seminggu sebelum hari H, berkumpul dengan teman-teman bercengkerama seperti biasa.
Tiba-tiba saya ingat Yuliadi akan sharing bulan depan. Tanpa berpikir panjang saya berkomentar,
“Yul, mesti ada klimaksnya… Biar ada yang bisa ditindaklanjuti pendengar.”

Selama seminggu itu saya betul-betul diteror ‘musuh’.
“Koq bisa kasi saran Yuliadi? Yuliadi itu lebih berpengalaman..lebih jagoan dari saya… Belum lagi disampingnya P. Paulus, yang pengalamannya puluhan tahun dan sudah terkenal di seluruh negeri. Bagaimana dengan sharingmu minggu depan? Memangnya kamu bisa?”

Perasaan bersalah, takut, galau bercampur aduk.
Intimidasi demi intimidasi berputar-putar di kepala.
Padahal Yuliadi, P. Paulus mungkin sudah tidak ingat apa yang saya katakan.

Saya mengingatkan diri: it’s all about God, not me. Ini semua tentang Tuhan, bukan saya. Saya bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Persis malam sebelum hari H, menjelang tidur tiba-tiba jantung saya berdebar-debar keras.
Terlintas pikiran seperti yang dialami Rheva, jangan – jangan Hipertiroid saya kambuh lagi.
Langsung saya sadar, ini bukan pikiran saya mau pun pikiran dari Tuhan. Tetapi pikiran yang diselipkan si ‘musuh’ yaitu iblis.
Segera saya usir dalam nama Allah!

Sharing keesokan harinya lancar dan berjalan dengan baik.
Begitu selesai, rasanya leegggaaa…
Janji Tuhan Ya dan Amin.
Dia tidak pernah meninggalkan mau pun membiarkan kita.

Yuliadi menulis di grup WA sekolah:

Guilt, fear, shame – rasa bersalah, ketakutan, rasa malu, adalah 3 senjata yang paling sering digunakan setan untuk merusak kesehatan tubuh seseorang. – Dr. Henry Wright.

Kadang-kadang perasaan bersalah bisa dipicu oleh hal-hal yang sedemikian sepele, terlambat menjemput anak di sekolah, meledak marah untuk hal-hal yang remeh lalu iblis menuduh kita bukan ibu atau istri yang baik….

Ada teman atau keluarga dekat yang berkomentar negatif, tanpa sadar kita menyetujuinya dan merasa ‘kita tidak cukup baik.’ Timbul perasaan tertolak, kepahitan dan malu.

Berhari-hari didera perasaan negatif, imun tubuh pun menurun.
Berpikir, oh… Kurang minum vitamin. Terlalu lelah.. Atau kurang istirahat.
Padahal penyebab utamanya justru intimidasi si musuh.


Saat ngobrol dengan Rheva, saya bercerita akan menulis bahwa intimidasi itu sesuatu yang wajar tetapi jangan diterima, karena itu pikiran yang diselipkan oleh musuh. Penting ini, banyak yang tidak paham.

“Betul Bu…. Ketakutan ini bisa muncul lagi setiap saat, karena symptomsnya memang real ya bu. Langsung kerasa,” sahut Rheva,
“Tapi aku selalu inget kesaksian alan n Debby Moore. Otaknya memang masih rusak tapi dia hidup mengalahkan hasil MRI- nya. Sekarang aku melatih imanku untuk bisa melihat bantalan tulangku digantikan yang baru oleh Tuhan. Baby steps untuk belajar mempercayai hal ini.”

Inilah kisah Alan & Debby Moore yang di mention Rheva:

Suatu hari Alan Moore yang tengah merawat kebunnya, terjatuh. Ternyata terkena stroke. Segera Debby, istrinya membawanya ke rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan 1/3 otak Alan memang mati. Tetapi baik Alan mau pun Debby percaya bahwa kesembuhan sudah ada di dalam roh mereka. Maka mereka bersepakat untuk memanifestasikannya, menolak intimidasi musuh bahwa stroke tidak bisa sembuh. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, para suster dan dokter terheran-heran karena Alan bisa berjalan sendiri ke toilet, padahal secara medis, seharusnya Alan lumpuh separuh tubuhnya.

Di rontgen ulang, hasilnya tetap sama. 1/3 otaknya tetap mati. Tetapi kenyataannya Alan bisa berjalan bahkan bekerja normal seperti sedia kala.
Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Kesaksian ini yang menguatkan Rheva, tidak peduli kondisi bantalan tulangnya seperti apa, pokoknya Rheva yakin, dia normal dan sembuh.

Sesungguhnya kita sudah paham di kepala, taktik lama si iblis tetapi ternyata menyingkirkannya, tidak semudah teorinya.
Karena itu perlu untuk senantiasa memperkuat fondasi rohani kita: pemahaman akan kasih Allah yang tanpa syarat dan menerimanya, hingga menghidupinya dalam hati. Dan bergaullah dengan orang-orang yang percaya bahwa kesembuhan itu sudah ada di dalam kita, maka terjadilah menurut imanmu.

Praktik yuk….

Real faith has perfect peace and joy and a shout at any time. It always sees the victory – Smith Wigglesworth.

Iman sejati memiliki damai yang sempurna, sukacita dan bersorak kapan saja. Karena iman sejati selalu melihat kemenangan. – Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Pengelolaan Keuangan.”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Pengelolaan Keuangan.”

Ada sikap “anti-kemakmuran” di gereja saat ini, namun kebanyakan orang yang bersikap seperti itu, didalam hatinya ingin menjadi makmur. Ada alasan mengapa sikap ini begitu umum.
Beberapa guru kemakmuran menjalani gaya hidup yang memang layak mendulang kritik. Kita bisa memahaminya. Tetapi iman timbul karena mendengarkan Firman Tuhan (Roma 10:17), dan iman untuk meraih kemakmuran, timbul karena mendengarkan pengajaran tentang kemakmuran.
Kita perlu tahu apa yang Alkitab katakan tentang kemakmuran.

1 Tawarikh 29:12 (TB) mengatakan,
“Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.”

Tuhan berkata bahwa mereka yang percaya kepada-Nya tidak akan kekurangan hal yang baik (Mazmur 34:10).
Mempercayai diri sendiri atau sistem dunia ini adalah resep untuk menuai bencana. Manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya. (Yer. 10:23(TB) ). Ada cara yang lebih baik, dan itulah cara Tuhan.

Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

Ulangan 8:18 (TB).
Tuhanlah yang memberi kita kekuatan untuk mendapatkan kekayaan. Perhatikan Dia tidak memberi kita kekayaan secara langsung. Dia memberi kita kekuatan, atau kemampuan, untuk mendapatkan kekayaan. Disadari atau tidak, Tuhan adalah sumber kemakmuran kita. Mungkin saja kita berkata, “Tapi saya bekerja untuk memperoleh uang ini. Tuhan tidak memberikan ini padaku. Saya yang mendapatkannya.”

Izinkan saya mengajukan pertanyaan ini:
Apa yang kita lakukan sehingga dilahirkan pada masa paling makmur dalam sejarah ini?
Kita bisa saja terlahir sebagai budak atau di negara yang tidak memiliki peluang ekonomi. Kita tidak memberikan kepada diri kita sendiri baik bakat mau pun kemampuan. Kita dapat mengembangkan bakat kita, tetapi masing-masing dari kita memiliki karunia yang diberikan kepada kita oleh Tuhan.
Kita tidak dapat mengembangkan apa yang tidak Tuhan berikan kepada kita.

Jika bahan kimia di otak kita sedikit berbeda, kita bisa menjadi sangat marah. Jika kita memiliki cacat yang melemahkan, kita tidak akan bisa bekerja. Jadi, sekali lagi saya katakan, disadari atau tidak, Tuhan adalah sumber kemakmuran kita.

Kemakmuran finansial bukanlah berarti Tuhan memberi kita uang; Dia memberi kita urapan yang memungkinkan kita menjadi makmur. Aset yang sesungguhnya bukanlah uang—bukan rumah, bukan mobil, bukan benda-benda fisik yang berwujud—melainkan urapan dari Tuhan untuk menghasilkan kekayaan. Aset yang sesungguhnya adalah nikmat Allah. Uang bukanlah kemakmuran; uang adalah produk sampingan dari kemakmuran. Banyak orang Kristen jatuh ke dalam perangkap untuk mengukur kemakmuran dengan jumlah barang yang mereka miliki. Menjadi makmur adalah mengandalkan Tuhan sebagai sumber Anda.

Ada orang yang makmur tanpa mempercayai Tuhan, tetapi biasanya ada harga yang harus dibayar, yang ‘menghancurkan’ hidup mereka (1 Timotius 6:9).
Mereka mengalami kesulitan, stres, bermasalah dalam perkawinannya, dan seterusnya (1 Timotius 6:10).
Mereka mungkin kaya, tetapi ada harga yang harus dikorbankan di bidang lainnya. Jika kita berhasil di jalan Tuhan, berkat Tuhan akan membuat kita kaya, dan tidak ada kesedihan yang akan ditambahkan padanya (Amsal 10:22).

Saya percaya bahwa langkah pertama menuju kemakmuran adalah mengakui bahwa kita adalah sekedar penatalayan bagi keuangan Tuhan. Ini membutuhkan perubahan pola pikir yang lebih besar daripada cara dunia memandang uang.
Dunia mendorong kita untuk menjadi pemilik dan bukan penatalayan. Tapi itu bukan terserah apa maunya kita dalam menentukan apa yang akan kita lakukan dengan uang yang ada di tangan kita. Tuhan telah mempercayakan keuangan pada kita sehingga kita sekarang mempercayai-Nya dengan cara mengelolanya sesuai kehendak-Nya. Kemudian Dia akan membuat kita beruntung. Saya tahu kedengarannya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, tetapi memang begitu adanya.

Tuhan mempunyai rencana atas hidupmu. Mulailah dari posisi penatalayanan, dan biarkan Dia menjadi pemilik.
Maka kita akan diberkati, diberkati, dan diberkati.

Ketika Tuhan menjadi sumber kita, Dia akan menyediakan semua kebutuhan kita. Dan itu tidak akan sesuai dengan hukum ekonomi dunia ini, yang dilengkapi dengan semua depresi dan resesinya. Namun kebutuhan kita akan dipenuhi sesuai dengan ekonomi ala Tuhan. Itu dahsyat!

Filipi 4:19 mengatakan,
“Tetapi Allahku akan memenuhi segala kebutuhanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya oleh Kristus Yesus.”

Tuhan berkata Dia akan menyediakan semua yang kita butuhkan! Dan itu tidak sesuai dengan sistem dunia ini.
Ketika Tuhan menjadi sumber keuangan kita, maka kita tidak hanya memiliki kemakmuran supernatural tetapi juga kedamaian yang tidak dimiliki orang-orang di dunia.

Ketika orang memberi perpuluhan, banyak dari antara mereka merasa bahwa mereka memberi dari apa yang telah mereka peroleh. Lagi pula, merekalah yang bekerja untuk mendapatkan gaji. Tetapi segalanya akan berubah bagi mereka jika mereka melihat diri mereka sendiri sebagai penatalayan, sementara yang menangani sumber daya adalah Tuhan. Penatalayan adalah orang-orang yang melihat diri mereka bertanggung jawab atas apa yang telah Tuhan percayakan kepada mereka.

Mempercayai Tuhan dalam bidang keuangan adalah langkah kecil iman. Dan jika Anda tidak dapat mempercayai Dia dengan apa yang paling kecil, maka menurut apa yang Yesus katakan dalam Lukas 16, Dia tidak dapat mempercayai kita dengan kekayaan surgawi:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”
Lukas 16:10-11 (TB).

Beberapa orang tidak disembuhkan karena mereka tidak pernah mengembangkan iman mereka di bidang keuangan. Jangan salah paham—saya tidak mengatakan bahwa kita dapat membeli kesembuhan Anda. Itu salah. Tetapi ada orang-orang yang tidak mengalami kesembuhan dimanifestasikan, karena mereka tidak pernah mempercayai Tuhan “dalam hal yang terkecil” (Lukas 16:10).
Itu mungkin tidak berlaku dalam setiap kasus, tetapi sering kali menjadi masalah. Inilah tempat awal. Kita tidak dapat melewatkan hal ini.

Jika kita memahami pengelolaan keuangan dengan benar, itu akan memungkinkan kita menjadi berkat bagi orang lain.

Dan seperti yang dikatakan 2 Korintus 9:8 (TB).
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.”

Alasan Tuhan melimpahkan kasih karunia kepada kita, agar kita berkerlimpahan—memberi—untuk setiap pekerjaan baik. Motif sebenarnya di balik keuangan bukanlah untuk mendapatkan—melainkan untuk memberi.
Ini adalah titik kritis.

Banyak orang yang menolak pengajaran tentang kemakmuran Alkitabiah melakukannya karena mereka melihatnya sebagai egois atau serakah. Mereka berkata, “Saya sudah cukup. Saya mungkin tidak kaya, tetapi saya memiliki atap di atas kepala saya dan kebutuhan dasar saya terpenuhi. Saya tidak ingin atau membutuhkan lagi.” Tapi itulah sikap egois.

Jika kita memiliki semua yang kita butuhkan, percayalah lebih banyak lagi kepada Tuhan sehingga kita dapat membantu orang lain. Pikiran yang mengatakan “Saya sudah cukup—lupakan orang lain” adalah sikap yang benar-benar egois.
Kita perlu makmur, bukan agar kita dapat memiliki lebih banyak, tetapi agar kita dapat menjadi berkat yang lebih besar.

Tuhan memberi tahu Abram bahwa Allah akan memberkati dia dan menjadikannya berkat (Kejadian 12:2).
Kita tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki.
Abram tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain sampai dia diberkati.

Demikian juga, Anda dan saya tidak dapat memenuhi tujuan Tuhan bagi hidup kita tanpa menerima kemakmuran-Nya. Kerajaan Allah tidak dapat maju tanpa umat Allah menjadi makmur. Kita membutuhkan pewahyuan ini. Kita perlu tahu bagaimana memakmurkan jalan Tuhan.

Saya telah dipanggil oleh Tuhan untuk mendirikan Charis Bible College, yang akan mengubah kehidupan puluhan ribu orang yang, pada gilirannya, akan mempengaruhi tubuh Kristus di seluruh dunia. Ini sesuatu yang besar, dan diperlukan banyak uang untuk mencapainya. Saya berdoa agar Anda, rekan-rekan saya, akan mengizinkan Tuhan untuk mencapai kepuasan-Nya terhadap Anda dengan cara memakmurkan Anda dengan setiap pekerjaan yang baik (Mazmur 35:27).

[Repost : “Financial Stewardship”, – Andrew Wommack, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Pengakuan, Pertobatan dan Pemulihan.”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Pengakuan, Pertobatan dan Pemulihan.”

Apa kunci untuk berjalan dalam kemenangan terus-menerus dalam hidup?
Kita semua membuat kesalahan dan melakukan hal-hal yang kita harap tidak kita lakukan. Kesalahan-kesalahan ini bisa menjadi awal dari kehidupan yang penuh rasa bersalah, penghukuman dan kekalahan, atau bisa menjadi momen di mana kita dengan cepat pulih dan bergerak maju dengan kekuatan kasih karunia Tuhan.
Bagaimana cara kita mengatasi kesalahan, akan menentukan masa depan kita.

Dalam kisah Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32) ada pewahyuan yang kuat yang dapat membebaskan kita dari belenggu kegagalan masa lalu kita.
Setelah menghabiskan semua warisannya untuk memuaskan kedagingannya, Anak yang Hilang mendapati dirinya memberi makan babi untuk mencari nafkah dan mempertimbangkan untuk memakan makanan mereka, sekedar untuk bertahan hidup. Setelah mencapai titik terendah dalam hidupnya, kitab suci berkata, “Ketika dia sadar kembali.”

Pria ini memiliki momen kesadaran diri yang kuat.
Dia menyadari kebodohan, pemborosan, kegagalan, penurunan serta situasinya yang tanpa harapan. Sampai dia mau mengakui kesalahannya, dia ditakdirkan untuk tetap dalam kondisi itu. Tetapi begitu dia jujur ??pada dirinya sendiri dan menyadari konsekuensi dari pilihannya, dia berada dalam posisi siap dipulihkan.

Setelah menyadari kondisinya, dia berkata, “Aku akan bangkit dan pergi menemui ayahku, dan aku akan berkata kepadanya, “Ayah, aku telah berdosa terhadap surga dan di hadapanmu.” Inilah pertobatan sejati.
Sebuah keputusan dibuat untuk kembali ke ayahnya. Pertobatan adalah keputusan untuk berbalik dari apa yang kita anggap merusak, dan kembali kepada Dia yang mengampuni dan menyembuhkan. Anak yang hilang itu bertobat dan menyerahkan hatinya kepada Bapanya.

Bagian terakhir dari pemulihan Anak yang Hilang ditemukan ketika dikatakan, “Jadi dia bangkit dan datang kepada ayahnya.” Pertobatan hanya murni dan sejati, jika diikuti dengan tindakan yang menegaskannya. Itulah proses pemulihan. Niat baik tanpa tindakan yang sesuai, tidak akan menyelesaikan proses pemulihan.

Prinsip-prinsip ini akan berhasil dalam situasi apa pun.
Begitu kita benar-benar menyadari kesalahan kita, pemikiran kita yang salah, kata-kata kita yang salah atau gaya hidup kita yang merusak, kita berada dalam posisi untuk kembali kepada Bapa kita. Tetapi itu tidak bisa menjadi keputusan emosional sesaat. Harus diikuti dengan tindakan. Tidak peduli apa pun yang telah kita lakukan, selalu mungkin untuk dipulihkan.

Pengakuan, pertobatan, dan pemulihan akan membuat kita tetap berada di tempat yang penuh anugerah dan kemenangan.

[Repost : “Recognition, Repentance and Recovery”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Serba-Serbi Memberi, Yang Jarang Dipahami

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Serba-Serbi Memberi, Yang Jarang Dipahami

Apa pun kepercayaan atau agama seseorang, memberi itu sesuatu yang baik. Tetapi saya baru belajar, ternyata motivasi pemberian kita jaaauuuuhhh lebih penting daripada pemberian itu sendiri.
Wow..

“Dea tidak layak sakit ce… Dia orang yang baaaiiik luar biasa. Hatinya lembut, selalu ingin berbagi dengan orang lain. Setiap bulan dia membagikan makanan ke panti asuhan, panti jompo bahkan satpam dan tukang sapu di kompleks rumahnya. Rutin lho… Bukan hanya sekali-sekali, ” ujar sahabat saya sambil mengusap air matanya,
“Dea lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Koq bisa Tuhan ijinkan Dea sakit? Padahal orang-orang yang jahat justru sehat-sehat saja.”

“Orang berbuat baik, itu motivasinya apa dulu? Kalau dia berbuat baik supaya dia diterima Tuhan, misalnya, itu menjadi beban yang tidak pernah cukup. Dia melakukan 6, rasanya masih kurang baik, 7, kurang baik juga, gak ada habisnya. Karena pemahaman Dea salah, ” ujar Yuliadi, sahabat saya menjelaskan,
“Justru orang ‘jahat’ yang hidupnya gak karuan, gak pernah didera rasa bersalah. Jadi hidupnya justru sehat-sehat saja.”

Pertama, penyakit bukan dari Tuhan. Tetapi dari si musuh, iblis. Pemikiran yang salah itu yang memicu penyakit.

Seperti orang berpikir dalam dirinya, demikianlah ia, kata Raja Sulaiman/Salomo.

Pikiran kita menentukan kondisi kita. Dan pikiran itu hasil keputusan kita sendiri. Karena itu, perlu membangun mindset yang benar agar kita hidup sehat dan makmur sesuai dengan kehendak Tuhan.

Ke dua, motivasi kita dalam memberi, lebih penting daripada pemberiannya.
Ada orang-orang yang memberi karena dikejar perasaan bersalah, takut kalau tidak memberi nanti tidak diberkati. Jadi seperti orang memberi sesajen saja.

Ada juga yang seperti judi, Tuhan berjanji melipatgandakan apa yang kita berikan menjadi 30, 60, 100 kali lipat, maka memberi dengan tujuan dilipatgandakan. Ini jelas motivasi yang salah. Kita memberi karena kita SUDAH diberkati, sebagai ucapan syukur. BUKAN SUPAYA diberkati. Meski hukumnya memang tabur tuai tetapi bukan itu yang menjadi fokus dan motivasi alasan kita memberi.

Ingat, antara waktu menabur dan menuai ada jeda. Nach kalau yang ditanam biji mangga atau durian, bisa bertahun-tahun, baru bisa berbuah. Jangan sampai kecewa, ketika panen tak kunjung tiba.
Sikap hati kita, tabur saja segala hal baik yang bisa kita lakukan, soal panen, biarkan Tuhan dan alam yang mengatur. Janji Tuhan Ya dan Amin.
Kalau pun saat kita hidup tidak sempat menikmati tuaiannya, mungkin anak cucu kita yang menuainya.

Bahkan ada orang yang korupsi di perusahaan, lalu menyumbang dalam jumlah besar untuk pembangunan rumah ibadah.
Dieeeenk…..!!!
Dia berharap dengan sumbangannya, hati nuraninya yang dikejar rasa bersalah bisa ditenteramkan. Dosanya bisa di discount.
Nyogok Tuhan, tujuannya 🙂

Banyak orang menilai dari kulitnya saja. Perbuatannya kelihatannya baik, tetapi asal dana dan tujuannya yang menentukan. Tuhan menilainya bukan dari apa yang dilakukan, melainkan motivasi dalam melakukannya, jauh lebih penting.
Hhmmm… Make sense!

Ketiga, memberi dari apa yang ada pada kita, bukan yang belum kita miliki.

Andrew Wommack menyoroti, akhir-akhir ini banyak orang yang memberikan persembahan dengan menggesek kartu kreditnya. Niatnya baik, ingin memberkati orang lain, tetapi caranya kurang bijak.
Uang dari kartu kredit adalah uang yang BELUM dimiliki seseorang, alias hutang, seharusnya persembahan tidak demikian.
Orang itu ingin ‘beriman’ memberi dalam jumlah besar.
Andrew menegaskan, itu salah.
Keinginan itu baik, tetapi itu berlawanan dengan kebenaran yang diajarkan Tuhan. Persembahan yang berkenan kepada Tuhan, berasal dari uang yang memang milik kita.

Penting diingat, yang baik itu belum tentu benar.
Berpeganglah pada kebenaran dari Tuhan.
Persembahan seyogyanya diberikan dari uang atau harta yang SUDAH kita miliki.

Keempat, Berilah dengan sukacita bukan dengan berat hati.

Karena perpuluhan itu miliknya Tuhan, kerap asal sudah dibayar, hati plong. Padahal kadang dilakukan dengan motivasi takut kena kutuk kalau tidak dibayar, atau merasa berdosa merampok milik Tuhan.

Alasan dan sikap saat mempersembahkan, jauh lebih penting daripada nilai yang dipersembahkan

Tuhan menghendaki kita mempersembahkannya dengan hati yang penuh sukacita, kasih serta ucapan syukur.
Bagi orangtua, lebih membahagiakan ketika sang anak membawakan bunga di kebun tetapi diberikan dengan antusias, ceria dan penuh kasih.
Daripada diberi kado mahal tetapi dengan wajah yang cemberut, berat hati dan penuh beban.
Bukankah persembahan itu mewakili kasih di hati si pemberi?

Pengajaran ini membuat saya lebih bijak dan dewasa rohani.
Bagaimana dengan Anda?

GIVING IS BETTER THAN RECEIVING. When God blesses you financially, don’t raise your standard of living. Raise your standard of giving. – Mark Batterson.

MEMBERI LEBIH BAIK DARIPADA MENERIMA. Ketika Tuhan memberkati Anda secara finansial, jangan menaikkan standar hidup Anda. Tingkatkan standar pemberian Anda. – Mark Batterson.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Lahir Karena Kecelakaan? (Healing Part 6)

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Lahir Karena Kecelakaan? (Healing Part 6)

Menyambung Healing Part 5, dr. Henry Wright mengatakan, jika akar permasalahan tidak diselesaikan, meski pun sekarang sembuh, penyakit itu akan kumat lagi. Maka saya mencoba belajar dan menuliskan apa yang saya pelajari, semoga menjadi berkat untuk teman-teman.

“Bu Yenny, saya anak yang tidak diinginkan. Mama saya hendak menggugurkan saya tapi tidak berhasil. Itu membuat saya senantiasa merasa tertolak.”

Familiar dengan kisah seperti ini?
Sesungguhnya setiap orang pernah tertolak dalam kadar tertentu. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari masalah ini. Bahkan Gregory Dickow mengatakan akar segala permasalahan manusia adalah Rejection, penolakan.

Semua karena dunia memang sudah jatuh ke dalam dosa. Masalah ini sudah dimulai begitu Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Mereka malu, tertolak dan berusaha menyembunyikan diri dari Allah.
Iblis terus menerus melontarkan tuduhan, mengingatkan segala kesalahan kita sehingga kita makin terpuruk, merasa tidak layak dikasihi dan mengasihani diri sendiri.
Setting for less – rela menerima bukan yang terbaik.

Manusia lupa, kunci kesembuhannya hanya satu: kembali kepada Sang Pencipta, Allah sendiri.
Dalam hati kita, ada tempat kosong yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun, mau pun siapa pun… Selain Allah sendiri.

Kasih semua manusia itu bersyarat. Jika berharap kepada manusia, cepat atau lambat, ada saatnya mereka akan mengecewakan kita.
Hanya kasih Tuhan yang tak bersyarat.


Semakin saya sekolah dan mengenal kasih Allah, semakin saya bahagia karena sekarang kebahagiaan saya tidak lagi tergantung pada penerimaan suami, anak, menantu, teman atau siapa pun. Tidak pula tidak tergantung situasi di sekeliling saya.

Ketika saya memahami betapa Allah mengasihi saya bahkan sebelum saya lahir, sebelum saya bisa melakukan apa pun, bahkan saat masih dalam kandungan, sungguh itu sangat melegakan.
Allah mengasihi saya Tanpa Syarat!

Nyanyian Raja Daud, “Even if my father and mother abandon me, The Lord will HOLD ME CLOSE. – Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN MEMELUK AKU.”

Sekarang penerimaan orang lain tidaklah sepenting dulu, karena saya sudah dipuaskan dengan penerimaan Allah. Saya merasa aman, utuh, puas, sebelum berhubungan dengan orang lain. Semakin saya merasa puas dengan keberadaan saya di dalam Tuhan, makin saya bisa menoleransi dan bisa menerima kekurangan orang lain.
Semakin saya merasa aman dan memahami identitas saya di dalam Tuhan, semakin teman-teman dan orang-orang di sekeliling menyukai saya.

Apakah konsisten seperti itu?
Tidak!
Saya tidak steril terhadap kesalahan. Saat melakukan kesalahan, iblis pun tidak menunda serangannya. Intimidasi terus berlangsung.
Namun sekarang saya sudah punya senjata untuk menangkalnya.
Datang kepada Allah, mohon ampun, bertobat dan menyerahkan yang selanjutnya terjadi kepada-Nya.
Ya… Sudah. Pasrah.
Saya melakukan bagian saya yang terbaik, selebihnya biarlah Tuhan melakukan bagian-Nya.

Saat iblis terus menuduh, membuat perasaan bersalah menekan, saya bisa berdoa:
“Tuhan, tolonglah agar orang itu mengerti apa yang saya maksudkan dalam hatiku. Buatlah dia melupakan kata-kata salah yang sudah terlanjur keluar dan tolong agar ketulusan hatiku bisa dirasakannya sehingga kesalahpahaman bisa terurai dan diselesaikan dengan baik. “

Doa seperti ini sangat menolong untuk menghapus intimidasi.


Percaya atau tidak?
Ketika hubungan kita dengan Tuhan berlangsung baik dan mulus, seluruh aspek kehidupan kita menjadi baik.
Tidak berarti hidup mulus tanpa masalah, namun meski ada masalah, keyakinan di dalam hati begitu kuat:
Semuanya akan baik-baik saja karena Tuhan sudah berjanji bahwa masa depanku adalah masa depan yang penuh harapan.

Beberapa teman bertanya, ingin tahu formula cara P. Irsan diberkati.
Uniknya, hidup menurut Hukum Kerajaan Allah, itu bukan formula. Saat seseorang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, pintu-pintu kesempatan yang tak terpikirkan terbuka.

“Saya diberkati melebihi apa yang bisa saya pikirkan, berlimpah-limpah” ujar P. Irsan pada tanggal 8 November lalu, “…ada kawan beli jam dinding 153 biji, 31 tahun buka toko , baru hari ini dapat orderan gak masuk akal wkwkwk… Saya kan cuma pedagang eceran.”

Lalu tgl 13 November, chat masuk lagi.
“Ada fenomena aneh… kemarin ada orang beli batere , sekali beli mau 100 biji. Terpaksa aku kumpulkan dari kiri kanan, hari ini datang lagi mau 100 biji, kumpulkan lagi dari kiri kanan dapat 80 biji. 31 tahun buka toko baru dapat rekor pemesanan yang gak masuk akal. Nb: saya cuma pedagang eceran wkwkwk…. Jadi hilang kekesalan semalam ujian nilai jeblok wkwkwk… “

Padahal nilai ujian P. Irsan masih masuk kategori B, tetapi beliau tidak puas.
Fenomena ini terjadi setelah P. Irsan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan makin mengenal-Nya.
Logikanya di mana?
Apa hubungannya?
Speechless. Saya pun tidak bisa menjelaskannya. Tetapi itu kenyataannya.

Berkat yang bekerja menurut Hukum Kerajaan Allah itu bukan formula melainkan relationship. Hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.


Bagaimana dengan teman yang gagal digugurkan?
Sesuatu yang melegakan, tidak peduli apa penyebab seseorang hamil, tetapi begitu sel telur bertemu sperma di rahim seorang wanita, Tuhan sudah menetapkan tujuan bagi hidupnya. Kecelakaan, malapetaka terjadi karena dunia sudah jatuh dalam dosa.
Tetapi anak itu lahir bukan kecelakaan. Setiap anak spesial di mata Tuhan, memiliki tujuan khusus yang tak tergantikan dan Tuhan mengasihi serta menerimanya apa adanya. Tanpa syarat.

Ketika seseorang menyerahkan hidupnya, berbalik kepada Tuhan dan hidup mengikuti Hukum Kerajaan Allah, maka segala sesuatu yang menurut penglihatan kasat mata sesuatu yang ‘buruk’, akan diubah Tuhan menjadi batu pijakan, agar kita dapat naik ke tempat yang tinggi, yang tidak dapat dicapai, tanpa ada batu pijakan itu.
Dahsyat bukan?

“Mana buktinya Bu Yenny?”

Azie Taylor Morton, Menteri Keuangan Amerika Serikat pada zaman Presiden Jimmy Carter.
Dia lahir hasil dari perkosaan seorang pria terhadap ibunya yang bisu, tuli dan miskin sehingga dia tidak mengenal ayahnya.

Karena menanggung malu, ibunya melahirkannya di kebun yang sepi tanpa bidan. Yang menolong melahirkan adalah seorang ibu tua pemilik kebun.

Hidupnya sangat miskin hingga dalam umur yang masih sangat muda, Azie terpaksa bekerja untuk mencari nafkah untuk dia dan ibunya karena saat itu ibunya sakit stroke.
Dia bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan kapas.
Azie benci keadaan saat itu.
Kecewa kepada TUHAN saat itu karena DIA tidak adil atas hidupnya. Di saat kebanyakan anak-anak menikmati hidup layak, dia harus bergumul dalam penderitaan. Diejek dengan julukan ‘anak haram’, dikucilkan dan Azie tidak melihat harapan bagi masa depannya.

Suatu hari, Azie bertemu dengan seorang pendeta.
Beliau berkata, “Azie..tahukah kamu bahwa hidup ini adalah anugerah, Nak? TUHAN memberikan kamu kebebasan memilih. Mau tetap mengeluh seperti ini atau bangkit dari kemiskinan, pilihan itu ada di tanganmu, Nak. Perlu kamu ketahui rencana TUHAN atasmu bukan rencana kecelakaan melainkan hari depan yang penuh harapan.
Selama bisa memilih, pilihlah yang terbaik.”

Nadanya lirih namun penuh makna.
Kata-kata pendeta itu membangkitkan semangatnya untuk berdiri tegak dan doa ibunya membuatnya kuat menghadapi tantangan hidup. Akhirnya Azie memilih keluar dari rasa kecewa dan tak berguna ini.

Singkat cerita, Azie mulai bekerja dengan giat untuk membiayai sekolah dan kehidupan ibunya.
Berkat doa sang ibu serta kerja keras yang ulet, akhirnya TUHAN memberkati Azie dengan melimpah, meraih kesuksesan. Azie menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Tidak hanya itu, Azie satu-satunya wanita Afro-Amerika yang tandatangannya tertera dalam lembar mata uang US dollar.

Janji Tuhan Ya dan Amin!


Hidup itu bak HP Iphone, misalnya. Ketika ada sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya, ke mana tempat terbaik untuk membenahinya?
Ke Apple Service Center. Kan Iphone buatan Apple.

Dengan cara yang sama, saat hidup kita tidak berjalan lancar, ke mana tempat terbaik untuk membenahinya?
Datang kepada Allah, Sang Pencipta. Dialah yang dapat memuaskan dan memenuhi apa yang kita butuhkan.
Dia yang tahu bagaimana agar tubuh kita dapat bekerja secara optimal.
Dia juga yang tahu bagaimana Hukum Alam dan Hukum Kerajaan Allah bekerja, sehingga dengan menyelaraskan diri dengan hukum-hukum itu, pintu-pintu kesempatan terbuka, kekayaan alam ditemukan dan dikelola dengan efektif. Allah pula yang tahu bagaimana kita seharusnya menjalani hidup ini yang terbaik.

Siap belajar?
Mari kita hidup melekat kepada-Nya.

I am the vine; you are the branches. The one who remains in me – and I in him – bears much fruit, because apart from me you can accomplish nothing.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

??YennyIndra??
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?? MPOIN PLUS & PIPAKU??
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Read More
1 209 210 211 212 213 404