Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Saat Es, Salju, dan Keberanian Bertemu di Harbin.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Saat Es, Salju, dan Keberanian Bertemu di Harbin.

Pagi di Harbin itu tidak pernah setengah-setengah. Dinginnya serius. Menusuk. Bahkan rasanya lebih tajam daripada yang pernah kami alami di wilayah Kutub Utara. Tapi justru di situlah keindahannya.

Hari itu kami bangun tanpa terburu-buru, karena hotel kami berada di Volga Manor. Begitu keluar kamar, kami langsung disambut deretan ukiran dan patung es yang berdiri anggun di sekeliling bangunan. Es bening, pahatan detail, cahaya pagi memantul lembut. Rasanya seperti berjalan di negeri dongeng.

Volga Manor sendiri unik. Arsitekturnya kental nuansa Rusia klasik. Ada gereja kecil berkubah khas, jembatan, rumah-rumah bergaya Eropa Timur. Bahkan ada satu bangunan yang langsung mengingatkan saya pada Rovaniemi, kampung Santa Claus di Finlandia. Cantik, tenang, dan terasa hangat meski suhu minus.

Volga Manor memang dibangun untuk merayakan sejarah dan pengaruh Rusia di Harbin. Kota ini sejak dulu menjadi titik pertemuan budaya, sejak jalur kereta api Rusia dibangun ratusan tahun lalu.

Menariknya, semua es yang digunakan untuk patung dan bangunan es di Harbin diambil dari Sungai Songhua. Sungai ini membeku tebal saat musim dingin, menghasilkan balok es yang jernih, padat, dan kuat.

Es yang sama, tapi di tangan seniman, berubah menjadi karya seni kelas dunia. Alam menyediakan bahannya. Manusia memberi maknanya.

Tidak hanya itu, di Volga Manor kami naik ban yang sudah diikat sekitar 8-10 biji, lalu meluncur di parit panjang menurun, yang terbuat dari es…
Kompak yang di depan menahan sepatu teman di belakangnya, lalu meluncur bersama-sama sambil berteriak dan merasakan sensasinya.
Wuih….. serunya…

Siang hari kami menuju Sun Island. Dulu, ratusan tahun silam, pulau ini hanyalah tempat nelayan memancing. Lalu, ketika Rusia membangun jalur kereta api, orang-orang Rusia mulai membangun vila musim panas di sini. Dari pulau sederhana, Sun Island berubah menjadi pusat seni salju internasional.

Sun Island adalah rumahnya snow sculpture. Bukan es bening, tapi salju padat. Warnanya putih matte, kesannya lembut, artistik, dan penuh ekspresi.

Di sinilah kami melihat salah satu momen paling membanggakan: juara ketiga kompetisi internasional snow sculpture diraih oleh tim Indonesia. Karya berjudul “Dewi Dhawantari”, diukir oleh tim seniman Indonesia, diketuai oleh I Ketut Suaryana.

Sosok dewi digambarkan anggun, penuh simbol kehidupan dan keseimbangan. Berdiri di tengah kompetisi dunia, karya anak bangsa itu tidak kalah wibawa.

Juara pertama tahun itu diraih oleh tim Rusia, dengan karya berskala besar dan detail yang sangat kompleks. Melihat Indonesia berdiri di podium dunia, rasanya hangat di hati, meski udara dingin menusuk.

Sore bergeser ke malam, suasana berubah total saat kami mengunjungi Harbin Ice and Snow World atau yang sering disebut Ice Exhibition. Inilah dunianya ice sculpture. Es bening dari Sungai Songhua disusun menjadi kastil raksasa, menara, jembatan, dan bangunan bercahaya.

Tahun 2026, area ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, lebih dari satu juta meter persegi. Lampu LED tertanam di dalam es, memantulkan warna-warni.

Jika Sun Island itu galeri seni, Ice and Snow World adalah kerajaan es bercahaya. Wajib malam hari. Siang hari tidak akan memberikan efek yang sama.

Hari berikutnya kami mengunjungi Siberian Tiger Park. Ini pengalaman yang benar-benar berbeda. Harimau Siberia adalah predator langka.

Di dunia jumlahnya kurang dari 700 ekor, di China sekitar 100 ekor. Beratnya bisa mencapai 200–320 kg, panjang tubuhnya hingga lebih dari dua meter.

Kami membeli lima potong daging seharga 100 yuan, dimasukkan ke dalam ember. Dari dalam bus khusus dengan kaca anti peluru, kami memberi makan harimau-harimau itu satu per satu.
Karena datang masih pagi, harimau-harimau itu masih lapar.
Seru, mendebarkan, tapi tetap aman.
Kacanya tebal, desainnya memang dibuat untuk pengalaman tanpa risiko.

Satu lagi pengalaman unik di Harbin adalah pertunjukan berenang di air es. Awalnya tradisi ini berasal dari upacara baptisan musim dingin gereja Ortodoks Rusia. Seiring waktu, tradisi ini diadopsi masyarakat lokal dan menjadi tontonan publik.

Yang berenang bukan anak muda, tapi orang-orang usia 60–70 tahun, memakai pakaian renang terbuka, melompat dari ketinggian ke air bersuhu minus 22 derajat rasanya minus 34 derajat. Gaya mereka santai, bahkan percaya diri. Sulit dipercaya, tapi itulah Harbin.

Di mana-mana kami melihat snowman, dari yang kecil sampai raksasa. Kota ini seperti menolak kalah pada dingin. Harbin tidak melawan musim dingin. Harbin merayakannya.

Perjalanan ini mengajarkan satu hal sederhana: dingin tidak selalu tentang ketidaknyamanan. Dalam tangan yang tepat, dingin bisa berubah menjadi keindahan, keberanian, bahkan kebanggaan. Dan Harbin membuktikan itu dengan cara yang tidak terlupakan.

“In the depth of winter, I finally learned that within me there lay an invincible summer.”- Albert Camus

“Di tengah dingin musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya belajar bahwa di dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan.” – Albert Camus

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Paul Milligan: Ketika Integritas Menjadi Strategi Bisnis dan Pelayanan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Paul Milligan: Ketika Integritas Menjadi Strategi Bisnis dan Pelayanan

Tidak banyak orang yang benar-benar berhasil di dua dunia sekaligus: bisnis dan pelayanan. Lebih jarang lagi yang dampaknya lintas generasi dan lintas negara. Paul Milligan adalah salah satunya. Hidupnya membuktikan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari besar keuntungan semata, tetapi dari apa yang dibenahi, diperbaiki, dan ditinggalkan bagi banyak orang.

Paul bukan sekadar CEO Andrew Wommack Ministries. Ia adalah pembenah sistem, orang yang Tuhan pakai untuk menata fondasi AWM dan Sekolah Charis agar bisa bertumbuh sehat, stabil, dan berjangka panjang. Ketika ia masuk lebih dalam dalam kepemimpinan, pelayanan ini berubah dari pola top-down yang kaku menjadi organisasi yang bisa diperluas, dimultiplikasi, dan direplikasi secara global.

Andrew Wommack pernah hampir bangkrut pada tahun 1996. Bukan karena pelayanan tidak berbuah, tetapi karena kurangnya pemahaman management. Visi rohani besar, tetapi tidak diimbangi pengelolaan yang tepat. Di titik itulah Tuhan mengirim Paul Milligan. Bukan untuk mengambil alih mimbar, tetapi untuk membenahi belakang layar.

Hasilnya nyata.
Pendapatan dan jumlah staf AWM berlipat ganda. Auditorium dan fasilitas besar dibangun. Charis berkembang ke puluhan negara dan ratusan kota. Semua ini bukan terjadi karena mujizat instan, tetapi karena keputusan-keputusan benar yang konsisten.

Salah satu keteladanan Paul yang paling kuat adalah integritas tanpa kompromi.

Dalam salah satu bisnis besar yang ia jalankan, Paul diminta memberikan uang suap agar proyek dapat berjalan. Ia menolak. Akibatnya, ia dikeluarkan dan digantikan supplier lain. Selama satu tahun penuh, Paul kehilangan keuntungan besar. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada pembenaran rohani.

Setahun kemudian, praktik kotor itu terbongkar. Pemerintah Amerika Serikat justru mencari Paul dan mempercayakan proyek yang jauh lebih besar kepadanya. Keuntungannya dua kali lipat dari yang hilang sebelumnya. Apa yang hilang karena integritas, dikembalikan Tuhan melalui jalur yang bersih.

Ini pelajaran mahal:
integritas mungkin membuat kita kehilangan uang hari ini, tetapi menyelamatkan masa depan kita.

Paul Milligan juga mengajarkan prinsip yang sering disalahpahami orang percaya. Ia berkata, kehendak Tuhan tidak otomatis terjadi hanya karena kita berdoa. Anugerah Tuhan sudah menyediakan segalanya di dalam roh, tetapi *dibutuhkan respons iman yang konkret.*

Kerjakan bagian kita dengan serius.
Kumpulkan pengetahuan.
Bangun tim yang tepat.
Bekerja dengan excellence.

Setelah semua itu dilakukan, beristirahatlah di dalam Tuhan. Jangan stres. Jangan memaksa hasil dengan kekuatan sendiri. Di titik kita berhenti, Tuhan mulai mengerjakan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan. Di sanalah supernatural bekerja.

Paul juga menegaskan bahwa banyak orang sebenarnya sudah didoakan dan diberkati Tuhan, tetapi menganulir berkat itu sendiri karena kurang komitmen. Talenta ada. Peluang ada. Tetapi tidak dikerjakan dengan konsisten dan bertanggung jawab.

Keteladanan Paul bukan pada kata-katanya, tetapi pada hidup yang selaras. Apa yang ia ajarkan, itulah yang ia jalani. Ia berhasil membangun hampir dua puluh perusahaan, dan tetap menjadi pelayan Tuhan yang berbuah. Kombinasi ini sangat langka.

Hari ini Paul Milligan sudah menyelesaikan pertandingannya. Ia dipromosikan ke kemuliaan. Namun pengaruhnya tidak berhenti. Ia hidup dalam sistem yang dibenahi, pemimpin yang diperlengkapi, dan pelayanan yang terus menjangkau dunia.

Ia membuktikan satu hal:
ketika bisnis dibangun di atas Firman, dan pelayanan dikelola dengan hikmat, dampaknya akan jauh melampaui satu generasi.

Selamat jalan, Paul Milligan, guru yang kukagumi…

Engkau telah mengakhiri pertandingan dengan baik dan memelihara imanmu sampai garis akhir. Surga bersukacita menyambutmu, karena hidupmu berkenan dan berbuah.

Jejakmu tertinggal di bumi, tetapi upahmu menantimu di kekekalan. Apa yang engkau tabur dalam ketaatan, integritas, dan kasih, kini dituai dalam kemuliaan. Hamba yang baik dan setia, masuklah dalam sukacita Tuhanmu.

Sampai berjumpa kembali, di rumah Bapa, di tempat di mana jerih lelah berubah menjadi sorak sorai.

“One person with a belief is equal to ninety-nine who have only interests” — John Stuart Mill III.

“Satu orang dengan keyakinan lebih kuat daripada sembilan puluh sembilan orang yang hanya memiliki minat” — John Stuart Mill III.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tur Harbin: Dari Dunhua ke Snow Village: Cantik, Dingin, dan Dalam Maknanya.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Dari Dunhua ke Snow Village: Cantik, Dingin, dan Dalam Maknanya.

Dunhua itu kota transit. Titik berhenti sebelum kami masuk ke Hailin Snow Village. Kota kecil bernuansa China–Korea. Tulisan Korea hampir di seluruh sudut kota. Unik, dingin, dan tenang.

Saat hendak naik bus, Frank, local guide kami, menunjuk ke depan hotel. “Itu Buddha duduk tertinggi di dunia, menghadap ke selatan. Katanya sedang berhadapan dengan Buddha duduk yang lebih kecil di Hongkong. Biar ada teman ngobrol,” ujarnya sambil tertawa. Kami ikut tertawa. Humor receh tapi menghangatkan.

Lalu muncullah kisah Ratu Qixi, ratu paling boros. Setiap hari harus makan seratus macam hidangan.
Alamaaak….bagaimana makannya coba?

Istana mewah, tubuh terawat, wajah dipuja. Tapi usia tetap berjalan. Tak ada kosmetik yang bisa menahan waktu.

Di pegunungan dingin, hidup snow frog, katak kecil yang bisa berbulan-bulan bahkan ratusan hari tanpa makan. Lemaknya dipercaya menjaga daya hidup. Frank bilang, di dekat hotel kami, snow frog legendaris itu ada. Maka Qixi percaya, minyak snow frog bisa membuat awet muda. Konon, saat wafat, snow frog ikut dikubur bersamanya. Duh… kasihan snowfrognya.

Legenda ini sederhana tapi menampar. Manusia bisa membeli segalanya, kecuali keabadian. Dan yang dikejar mati-matian sering kali tidak pernah mengenyangkan jiwa. Tidak ada kepuasan sejati di luar Tuhan.

Mengapa harus transit di Dunhua?
Bu Rita menjelaskan, inilah beda tur premium dan tur biasa. Perjalanan diatur supaya tubuh tidak lelah. Bukan dihajar jarak. Ada tur yang bolak-balik Snow Village sampai waktu habis di jalan. Sampai lokasi sudah capek, penuh turis. Bahkan ada yang ke Harbin tapi tidak ke Snow Village.Padahal tempat ini cantik luar biasa.

Sengaja masuk lewat Dalian juga, agar tubuh kita tidak kaget. Dinginnya bertahap hingga paling dingin di Harbin. Strategi yang cerdik.

Tur Bu Rita TX Travel ini menginap di tengah Snow Village. Bayar tiket dan ada gate untuk masuk di lokasi ini. Ibaratnya, betul-betul di tengah ‘Disneyland’ nya.
Wuih… nikmat.

Depan hotel penuh resto dan pedagang street food. Sate, sosis, mala skewers pedas hangat, tahu, jamur, sayur berbumbu. Ada buah beku alami, dingin tapi manis segar.
Ada pilihan berbagai minuman hangat.
O ya juga jagung rebus or bakar yang rasanya seperti ketan yang pulen.
Tinggal pilih.

Ada pula supermarket, Starbucks, toko-toko. Mau naik dog sledding – kereta yang ditarik plastik, tempat duduk plastik atau kayu berbagai model yang ditarik manusia juga ada. Bisa untuk bawa koper-koper juga.
Pokoknya fasilitas lengkap.

Di belakang hotel, naik tangga sedikit, spot foto ramai sekali. Banyak orang-orang yang live streaming. Malam hari jepret-jepret. Jam delapan, kembang api mekar. Ciamiiik.

Dan kami beramai-ramai membuat ‘lukisan cantik’. Saat air panas dilempar ke udara minus lebih dari 20 derajat, ia tak sempat jatuh sebagai air.
Dalam sekejap, air itu meledak menjadi awan kristal es, berkilau diterpa cahaya, seperti debu cahaya surgawi yang menari sebentar… lalu lenyap.
Menarik sekali.

Pagi hari kami foto lagi. Sama-sama cantik, tapi keindahannya beda. Malam penuh lampu warna-warni, pagi soft tenang… Semua ini memungkinkan, karena kami menginap di Snow Village.

Kata Bu Rita, hotel ini harus booking setahun sebelumnya. Beliau sampai ganti agen dua kali demi hotel-hotel di lokasi khusus ini. Worth it.

Dilanjut naik jeep ke Yangcao. Suhu -28°C, terasa seperti -35°C. Salju turun, angin kencang.
Cemara-cemara dibungkus salju tebal. Seperti kartu Natal hidup.

Lanjut ke Snow Gallery. Lebih dingin lagi… minus 28 derajad tapi serasa minus 41 derajad. Cemara lebih banyak lagi dan semua diselimuti salju seperti pemandangan yang kerap kita lihat di kalender atau tiktok.

Patung-patung berbagai boneka salju yang lucu, lampion merah dan berbagai asesoris manis ada di ke dua lokasi indah itu.
Foto, video, tertawa, menari bersama teman-teman…. senangnya…
Liburan jadi hidup.

Anehnya, justru karena salju turun, jalan tidak licin. Klo tidak turun salju, es mengeras bak kaca itulah yang licin sekali. Bisa terpeleset that’s why mesti pakai spike paku-paku di sepatu.

Saljunya putih bersih, halus. Sampai alis dan bulu mata memutih. Menurut B. Rita, salju di kutub tidak bisa demikian karena butir-butir saljunya lebih besar.
Segenggam salju dilempar ke udara… wuih. Indah sekali.

Nach … ketela manis, sate dan sweet ice & snow pot yang manis segar, laris manis. Sambil beli, numpang menghangatkan tangan yang kedinginan.

Yang lucu, P. Mul & B. Mega, pasangan dokter ini beli ketela hanya untuk menghangatkan tangan. Saat mendingin, ditukar lagi dengan yang masih panas…. wkwkwk….

Dinner malam ini, steak ala Rusia karena kami mrnginap di tengah-tengah Volga Manor, kampung Rusia.
Hotel kami dikelilingi pahatan-pahatan es.
Keren abis dah….
Lanjut kisahnya di artikel besok.

*”You have made us for Yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in You.” – Augustine of Hippo.*

*”Engkau menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau.” – Augustine of Hippo.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tur Harbin: Changchun – Dunhua, Kaisar Boneka dan Harga Sebuah Kebebasan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Changchun – Dunhua, Kaisar Boneka dan Harga Sebuah Kebebasan.

Pernah menonton film The Last Emperor?
Nach, hari ini kami mengunjungi Puppet Emperor Palace, istananya Kaisar Puyi. Terdiri dari istana lama yang dibangun tahun 1928 dan istana baru yang dibangun untuk istri ke 4 Puyi tahun 1937.

Sesungguhnya, Puyi bukan penerus utama takhta Dinasti Qing. la dipilih justru karena masih sangat kecil dan tidak memiliki kekuatan politik. Setelah Kaisar Guangxu wafat tanpa keturunan, kekuasaan berada di tangan Permaisuri Cixi yang membutuhkan kaisar yang mudah dikendalikan. Puyi, yang baru berusia sekitar dua tahun, menjadi pilihan ideal. Sejak awal, mahkota itu bukan diberikan untuk memerintah, melainkan untuk diatur

Puyi dinobatkan menjadi kaisar pada tahun 1908, saat usianya masih balita. Secara resmi ia memerintah hingga 1912, ketika Dinasti Qing runtuh akibat Revolusi Nasionalis. Jadi secara kalender, ia adalah kaisar selama sekitar empat tahun. Namun pada kenyataannya, masa kekuasaan itu lebih bersifat simbolis daripada nyata.

Setelah turun takhta, Puyi masih diizinkan tinggal di Forbidden City hingga tahun 1924. la tinggal di Forbidden City selama 12 tahun, dijaga ketat dan hidup tanpa kuasa, seolah menjadi penjaga simbolis dari istana yang pernah menjadi miliknya.

Puyi mencari bantuan ke berbagai negara agar kekaisarannya bisa kembali.
Puyi mencoba mencari dukungan dari berbagai pihak, bahkan rela melepas banyak harta kekaisaran, berharap tahtanya bisa kembali.
Puyi percaya. Ternyata, banyak negara hanya mengincar hartanya.

Lalu datang Jepang dengan tawaran “pertolongan”. Puyi dibawa ke Jepang, disetting pulang Tiongkok dengan sambutan massa yang berteriak “Wansui…Wansui…Wansui….!”.

Wansui artinya “hidup seribu tahun” atau “panjang umur selamanya.”
Ia tersenyum. Ia pikir, inilah yang ia tunggu. Dia tidak sadar, semua itu propaganda Jepang, bukan kejadian spontan.

Sekembalinya ke Tiongkok, ia ditempatkan di Changchun, dibuatkan istana yang meniru Beijing. Bahkan dibangun tiruan Tiananmen Square. Megah, rapi, dan palsu.

Suatu hari, Puyi ingin berjalan keluar sendirian. Seorang prajurit melarangnya. Di situlah ia sadar: ia bukan kaisar. Ia ‘tahanan’. Raja boneka. Puppet emperor.

Tiga kali jadi raja, tiga kali pula jadi rakyat biasa. Ia kaisar pertama yang bisa bahasa Inggris, pernah naik sepeda, hidup modern—namun tak pernah merdeka.

Kisah paling menyayat adalah tentang istri ketiganya, Tan Yuling, yang paling ia cintai. Wafat di usia 22 tahun. Sakit batuk parah. Obat herbal terlalu lambat. Puyi ingin Yuling segera sembuh maka meminta dokter Barat. Seorang perwira Jepang berbicara 1 jam dengan sang dokter sebelum memberi suntikan pada Yuling. Subuhnya Tan Yuling meninggal.

Mengapa Yuling harus ‘dihilangkan’?
Ia dikenal jujur dan berani mengingatkan Puyi tentang kelicikan Jepang. Terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.

Pemakamannya dibuat megah, dengan mawar hitam yang harganya setara mobil pada zamannya.
Jepang lalu ingin menjodohkan Puyi dengan perempuan Jepang. Ia menolak. Perempuan itu akhirnya dinikahkan dengan adiknya. Puyi kemudian menikah dengan gadis 15 tahun, istri keempat, yang menemaninya sampai akhir hidup.

Di kompleks istana ada monumen jam yang konon disetel sesuai waktu ketika Puyi mencoba melarikan diri. Ini menjadi simbol momen runtuhnya ilusi terakhirnya sebagai kaisar.

Saat perang dunia ke 2, Jepang kalah. Sementara Uni Soviet juga mengincar China utara yang subur dan kaya berbagai tambang mineral yang langka di dunia. Puyi berusaha melarikan diri.Tetapi naas, Puyi ditangkap Soviet di Mukden (Shenyang) airport, 1945. Maka dia menjadi tahanan Uni Soviet.

Akhirnya China bersedia membebaskan Puyi dari tangan Soviet, asalkan dia bersedia bersaksi tentang strategi dan kejahatan Jepang.

Disebut Puppet Emperor karena sepanjang hidupnya, Puyi hanya memegang mahkota—tanpa pernah memegang kendali. Sebuah istana indah, kisah besar, dan pelajaran sunyi tentang kuasa tanpa kebebasan.
Sungguh tragis!

Selanjutnya, kami Nanhu Park, berfoto ria dan ini dia yang keren….
Teng… Teng…Teng ….. mengunjungi Jingyue lake yang konon kembarannya dari Sun Moon Lake di Taiwan.

Karena suhu minus 20 derajad Celcius, danaunya membeku jadi es dan banyak permainan di sana.
Seru sekali mengendarai Jeep di atas es. P. Indra senang sekali bersama teman-teman beraksi memutar jeep semaksimal mungkin hingga lebih dari 180 derajad…
Ngepot… kata orang jawa.

Tidak puas hanya sekali, awalnya pakai jeep hijau, ternyata lebih kecil dibandingkan jeep merah. Maka ronde ke dua P. Indra pakai jeep merah yang besar.

Wow….. gaya banget… lomba ngebut sambil merasakan terpaan angin dingin di wajah.
Tidak mau kalah gaya bak pembalap profesional….

Kami juga naik 6 bebek plastik beroda yang ditarik jeep dan di putar-putar jadilah deretan bebek berlarian ke kanan kiri….. sambil sedikit tegang. Pokoknya ngeri- ngeri sedap….
Hahahaha…..

Ada juga dog-sledding, kereta yang ditarik anjing Husky Siberia yang besar dan ganteng. Naik kuda. Dll
Begitu banyak aktifitas.
Tinggal pilih mau yang mana?
Inilah yang bikin liburan bersama teman-teman tak terlupakan.
Once in a lifetime perlu dicoba…

Life is good.
Thank you Lord!

“He who controls others may be powerful, but he who has mastered himself is mightier still.” – Lao Tzu

“Orang yang menguasai orang lain mungkin berkuasa, tetapi orang yang menguasai dirinya sendiri jauh lebih kuat. – Lao Tzu

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Sejak semalam, hujan salju turun cukup deras. Tidak heran saat bangun pagi, salju di sekitar hotel sudah tebal. Putih bersih, senyap, dan entah kenapa selalu bikin hati terasa lebih adem.

Di mana ada salju tebal, sekitarnya otomatis kelihatan cantik. Pohon, jalan, atap bangunan, semua seperti diselimuti keheningan. Suhu turun ke minus 14°C, tapi rasanya jujur saja seperti minus 20°C. Angin tajam, dingin menggigit. Nah lho… baju “perang” pun resmi dimulai. Berlapis-lapis tanpa kompromi. Wkwkwk.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Imperial Palace Shenyang.

Istana ini sudah berusia sekitar 400 tahun, dibangun tahun 1625. Bahkan lebih tua dari Forbidden City di Beijing. Di sinilah fondasi Dinasti Qing dimulai, jauh sebelum mereka menguasai seluruh Tiongkok.

Ada kisah menarik tentang Nurhaci, pendiri Dinasti Jin Akhir dan tokoh kunci lahirnya Qing. Ia bukan bangsawan istana. Ia adalah kepala suku Manchu yang hidup keras, ditempa peperangan, dan kehilangan ayah serta kakeknya karena konflik dengan Dinasti Ming.

Dari luka itulah, Nurhaci menyatukan suku-suku Manchu lewat disiplin militer yang ketat dan sistem Eight Banners yang legendaris.

Eight Banners atau Sistem Delapan Panji adalah sistem organisasi unik yang membagi masyarakat Manchu ke dalam delapan panji berwarna. Ini bukan cuma pasukan perang, tetapi sistem hidup: tentara, keluarga, logistik, dan kepemimpinan menyatu dalam satu struktur. Dengan sistem ini, Nurhaci menyatukan suku-suku yang tercerai-berai menjadi satu kekuatan besar. Dari sinilah Dinasti Qing punya mesin kekuasaan yang rapi, loyal, dan sangat efektif.

Shenyang menjadi pusat kekuasaannya, dan istana ini adalah simbol awal mimpi besar yang kelak mengubah sejarah Tiongkok.

Keunikan istana ini terasa kuat. Arsitekturnya bukan Han murni, bukan Mongol. Ini perpaduan Manchu-Han, dengan tata ruang yang lebih ringkas, praktis, dan sarat nuansa militer. Bahkan ada paviliun yang dirancang khusus untuk diskusi strategi perang, bukan sekadar upacara simbolik.

Kami pun segera berfoya-ria di sana. Foto ini, foto itu, sambil menahan dingin. Salju membuat istana tua ini tampak makin anggun dan berwibawa.

Berjalan di tempat berusia 400 tahun, di tengah salju dan sunyi, saya merasa sejarah tidak sedang berteriak.
Ia sedang berbisik. Dan justru itu yang membuatnya terasa hidup.

Dari Shenyang kami menuju Changchun.

Malam itu kami dinner di resto Korea Utara.
Lho… bukannya kami sedang di Changchun, China?

Yes. Betul sekali.
Dari Changchun ke perbatasan Korea Utara hanya sekitar 2,5 jam. Dan di kota ini, keberadaan restoran Korea Utara memang bukan hal yang aneh. Tapi pengalaman kami malam itu… jujur, jauh dari kata biasa.

Semua pelayannya adalah *gadis-gadis cantik dari Korea Utara.* Bukan sembarang pelayan. Mereka lulusan universitas ternama di Pyongyang. Tinggi badan, penampilan, latar belakang keluarga, bahkan kesetiaan politik *hingga tiga generasi*, semuanya diseleksi ketat. Baru setelah itu mereka diizinkan bekerja di luar negeri, termasuk di China.

Pertanyaannya langsung muncul di kepala:
_Kok bisa lulusan universitas bagus, cantik, terdidik, hanya jadi pelayan restoran?_

Itulah yang terjadi dengan negara yang masih terisolasi.
Mereka hanya bisa menikmati sekitar 50% penghasilannya.

Di luar negeri mereka bisa mendapat gaji yang lebih besar.
Gaji mereka sekitar 4.000 yuan per bulan, tapi mereka hanya perlu 300–500 yuan karena hidupnya hanya dari mess ke resto. Sisanya dikirim ke Korea Utara. Dari jumlah itu, setelah dipotong pajak dll oleh pemerintah, baru sisanya kurang dari 50% diberikan kepada keluarga mereka.

Mereka bekerja tujuh hari penuh, tinggal di mess, dan hanya mendapat libur dua jam per minggu. Setiap hari wajib membuat laporan detail: bertemu siapa, bicara apa, melakukan apa. Tidak boleh pacaran. Tidak boleh menikah dengan orang non-Korea Utara. Nekad melanggar? Keluarga mereka yang jadi jaminan. Penjara… atau lebih dari itu.

Lalu makanannya?
Wuih… enak! Bahkan
jauh lebih variatif dibanding saat kami benar-benar ke Korea Utara. Ada 14 macam hidangan, semua tersaji rapi. Malam itu juga ada hiburan. Gadis cantik menyanyi, diiringi akordion, berpindah dari satu ruang VIP ke ruang lainnya. Profesional. Tersenyum. Tapi matanya… tenang sekaligus kosong.

Mencicipi hal baru, ditambah pengalaman yang tidak biasa, selalu membuat saya tersadar:
itulah alasan saya suka travelling. Bukan cuma lihat tempat, tapi *melihat kehidupan.*

Dan hati saya bersyukur.
Lahir di Indonesia.
Menikmati kebebasan. Bukan hanya kebebasan fisik, tapi *kebebasan rohani*. Mengenal Tuhan yang penuh kasih. Tuhan yang memampukan kita hidup di atas situasi apa pun. Bersama-Nya, tidak ada yang mustahil.

Mengenal-Nya secara pribadi membuat hidup bermakna.
Dan kekekalan… sudah terjamin.

Praise The Lord!

He who has a why to live can bear almost any how.” – Viktor Frankl

“Orang yang memiliki alasan untuk hidup, dapat bertahan dalam hampir segala keadaan.” – Viktor Frankl

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 398