Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

“Sumber Segala Dukacita.”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Sumber Segala Dukacita.”

Tuhan menciptakan kita untuk menjalani hidup kita dengan fokus kepada-Nya. Tujuannya sejak awal supaya kita “sadar akan Tuhan,” bukan “sadar terhadap diri sendiri.”
Sampai Adam dan Hawa memakan buah terlarang dari ‘Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat’, – sebelumnya mereka begitu tidak sadar akan diri sendiri, sehingga mereka pun tidak menyadari ketelanjangan dirinya. Tetapi setelah ketidaktaatan terjadi, mereka menjadi sepenuhnya sadar akan diri mereka sendiri dan ingin bersembunyi dari Tuhan. Fokus mereka telah bergeser dari Tuhan kepada diri sendiri.

Kesadaran diri hanyalah cara lain mengatakan keterpusatan pada diri sendiri, dan terpusat pada diri sendiri itulah sebenarnya akar dari semua kesedihan.
Orang berduka atau tidak bahagia karena banyak alasan. Tetapi, jika menganalisanya lebih dalam, mereka akan menemukan, penyebabnya selalu diakibatkan oleh diri mereka sendiri, yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Jadi, jawaban untuk mengatasi kesedihan, ditemukan dengan cara bagaimana kita menghadapi diri sendiri.

Misalnya, masalah keuangan kerap datang akibat mencoba hidup di atas kemampuan, berusaha memenuhi keinginan egois kita. Bukannya menentang kemakmuran—saya tidak demikian. Tetapi penting memiliki perspektif yang benar.
Jika Anda sedih atau tidak bahagia karena tidak memiliki rumah yang lebih besar, mobil yang lebih baru, atau televisi layar lebar, maka ada sesuatu yang salah. Keegoisan kitalah yang mengubah keinginan menjadi kebutuhan, kemudian kebutuhan itu menyebabkan terjadinya krisis pribadi.

Hati saya hancur melihat begitu banyak orang percaya yang dipenuhi Roh, bertindak sama egoisnya dengan dunia.
Mereka mencoba memanfaatkan Tuhan untuk mendapatkan hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia, fokus pada ‘apa untungnya bagi mereka.’ Entah memang tidak pernah tahu atau justru lupa pada beberapa ayat terpenting dalam Alkitab tentang keuangan.

Matius 6:33 (TB), mengatakan,
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Tuhan telah berjanji akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita di dalam Dia, bahkan akan ditambahkan pula kepada kita sebagai hasil yang akan mengikuti karena kita mencari kerajaan-Nya terlebih dahulu. Sama sekali tidak perlu memusatkan perhatian demi mendapatkan sesuatu dari Tuhan, bagi hal-hal yang telah disediakan-Nya. Ketika kita melakukannya (hanya berfokus kepada tambahan, bukan pada penyediaan dari kerajaan-Nya), justru akan membawa kita kembali kepada pintu keterpusatan pada diri sendiri, alias keegoisan.

Termasuk juga dalam kasus kematian orang yang kita cintai. Sesungguhnya, kesedihan berakar pada kehilangan pribadi kita. Fokus kita pada situasi itu, berasal dari sudut pandang kita sendiri : “Bagaimana saya bisa bertahan tanpa dia?, Saya tidak akan pernah melihat dia lagi di bumi.”
Kita dapat meyakinkan diri sendiri, kita memang berduka atas kematian orang-orang yang kita sayangi, tetapi sesungguhnya, semua itu berkaitan dengan bagaimana hal itu akan mempengaruhi diri kita sendiri.
Jika orang yang meninggal sudah lahir baru dan sekarang bersama Yesus, seharusnya justru menjadi waktu untuk bersukacita.
Mari kita bayangkan suasana pemakaman orang percaya..
Jika kita berfokus pada bagaimana orang itu bersama Yesus dan apa yang dialaminya, – bukannya memikirkan pikiran egois kita sendiri, – apa yang hilang dari kita-, maka alih-alih berduka, alangkah menyenangkan saat bersyukur dan memuji!

Sumber kesedihan besar lainnya adalah kesedihan yang Anda alami dalam hubungan Anda dengan orang lain.
Mengapa?
Karena ketika Anda berfokus pada diri sendiri, jadi mudah tersinggung. Jika Anda mengalami kepahitan, sakit hati, atau kemarahan dalam hubungan baik dengan atasan, teman, atau seperti yang paling sering terjadi, dengan seseorang dalam keluarga Anda sendiri, Firman Tuhan tidak memberi Anda ruang untuk salah memahami alasannya.

Amsal 13:10 (KJV), membaca,
“Hanya dengan kesombongan muncul pertengkaran.”

Ayat ini menjelaskan bahwa kesombongan adalah sumber dari segala perselisihan. Saya tahu, banyak orang tidak ingin mendengarnya, tetapi bukan keadaan atau kepribadian yang terlibat dalam situasi ini, yang menyebabkan mereka bersedih—itu karena harga diri mereka.
Kesombongan bukanlah penyebab utama pertengkaran; itu satu-satunya penyebabnya.

Namun, kesombongan itu seperti tongkat—memiliki dua ujung. Sebagian besar dapat dengan jelas melihat bagian akhir yang mewakili arogansi dan keangkuhan, tetapi mereka gagal melihat ujung yang lain, penyebabnya karena harga diri yang rendah, kerendahan hati yang palsu, sifat takut-takut, atau rasa malu.

Orang yang menganggap diri mereka kurang percaya diri atau pemalu, sebenarnya dipenuhi dengan kesombongan.
Harga diri yang rendah, menyebabkan pemikiran dominan mereka terpusat pada diri sendiri. Sebegitu fokusnya mereka pada apa yang mungkin dipikirkan oleh orang lain, jika mereka mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah.
Untuk melindungi diri, mereka menjadi rendah diri dan pemalu, hingga menyebabkan diri mereka mengalami banyak kesedihan. Jika mereka diminta untuk memberikan kesaksian atau menumpangkan tangan pada seseorang untuk didoakan, kesombongan mereka akan mencegahnya. Mereka tidak akan mengambil risiko, kemungkinan DIRI mereka bisa dikritik.

Mereka yang memiliki kerendahan hati palsu sebaliknya percaya, merendahkan diri sama dengan kerendahan hati, dan meninggikan diri merupakan kesombongan. Tetapi itu juga salah.

Dalam Yakobus 4:10 (TB,) dikatakan,
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”

Apa yang terjadi ketika Anda merendahkan diri (dengan pemahaman yang benar tentang kerendahan hati yang sejati), dan Tuhan mulai meninggikan Anda?
Orang yang benar-benar rendah hati akan membiarkan Dia meninggikan mereka, tetapi orang yang sombong tidak. Mereka terlalu peduli pada apa yang orang lain pikirkan, dan mencoba menangkisnya dengan cara merendahkan diri mereka sendiri. Itu sekedar bentuk lain dari kesombongan.

2 Timotius 2:11 (TB), mengatakan,
“Benarlah perkataan ini: ”Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia;”

Dan dalam Galatia 2:20 (TB), kita membaca,
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Ayat-ayat Alkitab ini mengajarkan bahwa kita seharusnya mati terhadap diri sendiri dan hidup di dalam Kristus.
Jika benar-benar kita telah mati terhadap diri sendiri, kita tidak mungkin tersinggung (baperan).
Orang ‘mati’ tidak merasakan apa-apa. Mereka bisa ditendang, dihina, atau bahkan dibohongi, dan mereka tidak peduli.
Alasan kita begitu mudah terluka atau tersinggung, karena kita masih hidup untuk diri sendiri dan penuh dengan kesombongan.

Namun, jika kita fokus pada mati terhadap diri sendiri dan hidup di dalam Kristus, (dengan kemampuan kita sendiri) kemungkinan kita akan gagal.
Dulu, dalam doa setiap pagi, saya berusaha memotivasi diri sendiri, sambil mencoba fokus mati terhadap diri sendiri sebaik mungkin. Saya mengakui semua dosa yang saya pikir telah saya lakukan: “Kebanggaan! kesombongan! Gagal mempelajari Firman!”
Hal seperti ini terus berlanjut sampai pada akhir waktu saat teduh, nyatanya, saya telah menghabiskan seluruh waktu doa dengan fokus pada diri saya sendiri. Goblok. Bodoh!

Cara yang benar untuk mati terhadap diri sendiri, yaitu dengan cara mengalihkan fokus Anda. Temukan seseorang yang membutuhkan doa atau pelayanan. Bantu mereka mengatasi situasinya, lalu Anda akan menemukan, Anda telah melupakan kebutuhan diri Anda sendiri.
Anda pun menemukan, apa yang semula dianggap sangat penting, sebenarnya tidak signifikan.
Kasih kepada orang lain, selalu mengalahkan diri sendiri.
Kasih mengharuskan Anda memberikan diri serta menjadi korban yang hidup, namun semua itu sepadan.

Tetapi fokus utama kita haruslah kepada Tuhan, bukan hanya pada orang lain dan tentu saja, bukan pada diri kita sendiri.
Hanya saat berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kita dapat mengasihi orang lain yang melanggar kepentingan egois kita.

Roma 12:1 (TB), mengatakan,
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Bukankah menarik sekali, ternyata mengorbankan diri sebagai persembahan yang hidup, dianggap sebagai pelayanan yang wajar oleh Tuhan?
Untuk melakukannya, kita harus merendahkan diri, menolak diri sebagai “tuan”, dan meletakkannya di atas mezbah.
Satu-satunya masalah dengan persembahan yang hidup adalah, mereka cenderung merangkak dari altar. Bahkan jika kita membuat komitmen ini dalam hati sekarang, kita harus memperbaharuinya lagi besok, minggu depan, bulan depan, dan tahun depan.

Selama kita masih ada di bumi, kita harus membuat keputusan untuk mengasihi Yesus melebihi dari diri kita sendiri, setiap hari.

[Repost ; “Source of All Grief”. – Andrew Wommack, Penerjemah Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Siapa Tuhanmu?”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Siapa Tuhanmu?”

Berbicara secara umum, Tuhan kita adalah sesuatu yang kepadanya kita setia dan tunduk secara terus menerus. Mungkin saja kita mengatakan Yesus adalah Tuhan kita, tetapi jika kita dengan setia tunduk kepada hal-hal lain, hal-hal lain itulah yang benar-benar merupakan tuhan kita.

“Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu.”
Roma 6:16 (TB).

Mari kita lihat contoh seorang pria yang menjadi budak dari keadaannya. Dalam Yohanes, bab 5, terdapat kisah tentang seorang pria yang telah berbaring di tepi Kolam Betesda selama 38 tahun karena penderitaan fisiknya. Dia, bersama dengan banyak orang sakit lainnya, sedang menunggu air yang seharusnya digoncangkan oleh seorang malaikat, orang yang pertama masuk ke dalam air, akan disembuhkan.

Dalam uraian singkat ini, kita dapat melihat bagaimana pria ini tunduk pada dua ‘tuan’ berbeda yang mendominasi hidupnya. Dia budak dari hal-hal yang dia patuhi.

Pertama, dia menjadi budak dari penderitaannya, yang telah mendikte gaya hidupnya selama 38 tahun. Identitas, rutinitas, dan takdirnya berkisar di seputar penyakitnya. Penyakit itu telah menjadi tuannya.

Kedua, dia dikuasai oleh takhayul.
Keyakinannya telah membelenggunya di sekitar kolam itu.
Tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama tentang kesembuhan yang datang kepada Bangsa Israel melalui malaikat yang menggoncangkan air kolam. Namun, banyak orang telah ditundukkan karena cerita ini.

“Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: ”Maukah engkau sembuh?”
Yohanes 5:6 (TB).

Yesus memberi orang ini pilihan yang baru. Dengan opsi baru ini, artinya penguasa atas penyakit dan takhayul harus dilepaskan cengkeramannya, dan pria tersebut dapat memasuki kebebasan sejati, JIKA dia bersedia melepaskan pegangannya pada ke dua tuan itu!

Sering kali kita membiarkan keadaan, takhayul, ketakutan, dan pemikiran salah menjadi tuan kita, tanpa menyadarinya.

Kita mengklaim bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi kita hidup dalam perbudakan tuhan lainnya.
Kebebasan sejati, termasuk kesembuhan, bisa datang ketika kita memilih untuk menjadikan Yesus sebagai Tuhan kita yang sejati.

Apakah Anda ingin bebas?
Apakah Anda ingin menjadi baik?
Serahkan diri Anda (hati, pikiran, dan takdir Anda) kepada Ketuhanan Yesus.
Tinggalkan ‘ketuhanan’ dari keadaan.
Kebebasan sejati dimulai dengan mengakui adanya ketuhanan perbudakan, memutuskan untuk memecat tuan itu dan memberikan hati Anda kepada orang yang mencintai Anda dan ingin membebaskan Anda. (Yesus)

“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”
Yohanes 8:36 (TB).

[Repost ; “Who is your Lord?”. – Barry Bennett, Penerjemah Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Sadarkah Kita, Tuhan Ingin Kita Bersatu, Bergotong-royong & Saling Mengasihi?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sadarkah Kita, Tuhan Ingin Kita Bersatu, Bergotong-royong & Saling Mengasihi?

Begitu post artikel “Tuhan Yang Selalu Bisa Diandalkan! Ini buktinya…*, Monica memberi info tambahan yang apik.

Yang belum baca artikel kemarin, sila KLIK:
https://yennyindra.com/2022/05/tuhan-yang-selalu-bisa-diandalkan-ini-buktinya/

” Yenny, tahu gak siapa pemilik gedung, yang menjadi -Malaikat Penolong Sekolah Pelita Permai?” tanya Monica,
“Beliau seorang Muslim yang baik hati, bahkan pemilik sebuah pesantren. Dengan penuh kasih, mengijinkan Pelita membayar sesuai dana yang ada dan sisanya dicicil selama 1 tahun.”

Wow…..

Perbedaan keyakinan, suku, ras tidak menjadi masalah.
Jangan pernah membatasi diri dengan pemikiran kita yang terbatas.

Dari pengalaman pribadi saya juga sama.
Tanah pertama yang kami miliki, dibeli dari seorang dosen, P. Darto, namanya.
Beliau seorang muslim taat, yang memberi kami kesempatan membeli tanahnya dengan mencicil.
Bahkan sebelum mencicil yang pertama kalinya, beliau berkenan sertifikat dibalik nama an. P. Indra.

Setelah mencicil pertama, kami bisa dapat pinjaman bank dengan jaminan sertifikat tsb. sehingga kami dapat modal tambahan untuk berbisnis.
Kami pun mencicil pinjaman itu pada P. Darto hingga lunas.

Tuhan itu Allah yang Maha-kreatif.
Apa yang sulit bagi-Nya?
Tidak ada yang mustahil bagi-Nya!
Karena itu, jangan batasi Allah dengan otak kita yang hanya sebesar kacang.
Bangun hubungan baik dengan siapa saja.
Siapa pun bisa Tuhan pakai jadi malaikat penolong.


Sesungguhnya Bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh kasih, rukun dan saling bergotong-royong sejak jaman dulu.
Melalui peristiwa ini, kita diingatkan, alangkah indahnya jika setiap kita bersatu, saling membantu, saling menghormati, tanpa ada kotak-kotak perbedaan agama, ras, suku dsb., lalu bergotong-royong membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan.
Betapa indahnya dunia ini….

Setiap kita umat Tuhan yang penuh kasih, tentunya kasih itulah yang perlu diamalkan dan dibuktikan bahwa buah kehidupan kita memang kasih.
Allah adalah Sang Kasih Yang Sempurna.
Jika Allah yang benar-benar ada di dalam hati kita, tentu yang terpancar melalui hidup kita, kasih juga.


Teringat saat kecil di Kota Kebumen, kampung halaman saya. Setiap lebaran mama sibuk mengirimkan hantaran untuk tetangga yang muslim. Ada juga tetangga muslim yang Orang Arab. Tuan Ali, demikian papa kerap menyebutnya.
Bahkan ketika ada penduduk yang baru pindah, justru mama yang penduduk lama yang mengirimi hantaran terlebih dulu.

“Ma, koq bukan tetangga baru yang ke rumah kita?”

“Gak apa, mungkin masih repot. Konon beliau seorang guru. Baru pindahan, hantaran ini bisa sedikit membantu.”

Hubungan antar tetangga sangat rukun dan damai. Tidak pernah terdengar pengkotak-kotakan seperti sekarang.
Bahkan saat Bapak pemilik Toko “Basuki” hendak menjual tokonya, banyak yang berminat. Baik dari tetangga yang muslim mau pun tionghoa.

“Toko ini hanya saya jual ke orang lain, kalau Papah & Mamah Toko Pojok tidak mau membelinya,” ujarnya.

Toko “Pojok” adalah toko milik papa & mama, yang sekarang dilanjutkan oleh Ayda, adik saya.
Sedemikian akrabnya hubungan persaudaraan dan pertemanan kami.
Sungguh menyenangkan dan membekas di hati. Keteladanan yang mulia.


Banyak guru-guru dan sahabat-sahabat saya yang muslim.:

  • P. Prasetya & B. Uti M. Brata – sang pakar Neuro Semantic. Provokasi & Inti Makna.
  • P. Eka Wartana – yang terkenal dengan teorinya “Berpikir Tanpa Mikir” yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan bukunya dipamerkan di Jerman.
  • P. Achmad Nurcholis, tokoh lintas agama.
  • Bunda Dewi Motik, sudah sangat terkenal dengan berbagai prestasinya sejak muda.
  • B. Santi Mia Sipan, pengusaha sekaligus ibu luar biasa yang berhasil mendidik putrinya yang autis jadi mandiri. Ada bukunya lho… Nanti saya tulis di Seruput Kopi Cantik ya..
  • Prof Edy Djuwito penemu Argentum yang wawasannya sangat luas, – baik soal rohani mau pun science -.
    Prof. Edy dengan murah hati memberikan berbagai bahan, mengajari hal-hal rohani tingkat tinggi…
    Hahahaha…. Saya yang ‘kepontalan,’ istilah Jawanya, terseok-seok, untuk memahaminya
  • dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Tidak sedikit pula yang Buddhist seperti filsuf kami, P. Sjahsjam, Bu Melly Kiong, dan ‘kakak’ saya tercinta, Bu Linda Ariamtiksna, meski beliau penganut Buddhist yang taat, namun tidak segan-segan membantu Sekolah Pelita Permai.
Bu Linda teman SMA P. Indra, kami bersahabat dekat.

Saya bangga, diperkaya, diperlengkapi dan menjadi lebih bijak serta memiliki wawasan yang lebih luas karena mereka.
Kami bergaul dekat dan akrab, perbedaan justru mempererat hubungan kami.
Memang kami berbeda keyakinan, beda suku, beda ras, beda level pendidikan tetapi itu tidak pernah membatasi kami untuk saling memperhatikan dan mengasihi.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin sadar bahwa sesungguhnya setiap kita adalah musafir di dunia ini. Tidak perlu sibuk dengan “aku” dan berbagai kepentingan di dunia ini.

“Wong urip iku mung mampir ngombe” – orang hidup itu hanya sekedar mampir minum, demikian kata pepatah Jawa.

Final kita, ketika berjumpa dengan Tuhan, berkenankah Allah pada apa yang kita kerjakan semasa di dunia ini?
Masing-masing akan mendapatkan upahnya.
Mengapa kita menyibukkan diri dengan yang sementara dan tidak mengejar yang kekal, selama-lamanya?

Saya senantiasa meyakini, di surga kelak, Tuhan juga tidak akan bertanya kita ini dari suku, ras, bangsa atau agama apa?
Tetapi Tuhan ingin tahu, apakah melalui kehidupan kita, orang lain bisa melihat Allah?
Bukankah kita ini ditugaskan menjadi Terang & Garam dunia?
Sudahkah kita melaksanakannya?

Jangan biarkan perbedaan memecah-belah bangsa kita.
Jika Tuhan menginginkan di dunia ini hanya ada satu agama, satu bangsa, satu warna kulit, satu suku dll, bisa ga?
Sangat bisa.
Dia Allah, apa yang mustahil bagi-Nya?
Tetapi Allah tidak melakukannya!

Why?

Taman kebanggaan di rumah kami, canttiiiik karena bunganya warna warni, dipadu dengan hamparan rumput yang menghijau.
Perbedaan warna inilah yang menciptakan kecantikan dan keanggunannya. Berbeda tapi rukun, masing-masing bunga berada di tempat masing-masing. Gak rebutan or saling tabrak.
Asri…. Ayem…. Adem…. Tenteram….
Jika kebun kami hanya satu warna, tentu membosankan. ‘Jebleh’, kata Orang Jawa.
Makes Sense?

Mari kita bersatu, bergotong-royong mengerjakan tugas Allah, agar dunia menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Bangsa Indonesia & Negara Indonesia menjadi lebih baik, saling mengasihi, saling menghormati karena memiliki warga negara seperti kita.
Yuuuuukkkk….

Sometimes the simplest solution out of conflict is becoming someone’s friend, instead of saying goodbye forever.- Shannon L. Alder.
Love each other dearly always. There is scarcely anything else in the world but that: to love one another. (Victor Hugo)

Kadangkala solusi paling sederhana dari konflik, yaitu dengan cara berteman, alih-alih mengucapkan selamat tinggal selamanya.- Shannon L. Alder.
Saling mengasihi senantiasa. Hampir tidak ada hal penting lainnya di dunia selain untuk saling mengasihi. – Victor Hugo

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Penyesuaian Besar-Besaran. Berani Gak? THERE NOT HERE!*

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Penyesuaian Besar-Besaran. Berani Gak? THERE NOT HERE!

Kebanyakan orang mau ikut Tuhan, tetapi ingin tetap mengendalikan hidupnya sendiri. Dia ingin menjadi ‘allah’ atas hidupnya.
Hanya mau berkat, keselamatan, keuntungan, manfaat yang dijanjikan Tuhan, tetapi tidak mau taat menuruti syarat-syarat yang diberikan Tuhan.

Saat ada masalah cari Tuhan, sudah dapat solusi, masalah selesai langsung bye… bye…

Saya baru belajar, ternyata mengikut Tuhan artinya kita harus menyesuaikan hidup kita secara besar-besaran kepada Tuhan dan kehendak-Nya.

Sebelum kenal Tuhan, mungkin teman-teman kita lingkungan yang suka dugem, merokok, menghalalkan segala cara. Ketika hendak menjadi murid Tuhan yang sungguh-sungguh, kita ‘harus’ meninggalkan teman-teman lama.

Koq gitu? Sok suci banget…
Tentu saja… Karena nilai-nilai yang dihidupi berbeda.
Kalau betul-betul bertobat, pasti secara natural merasa tidak cocok lagi. Hal-hal yang menyerempet dosa, membuat hati yang bertobat merasa tidak nyaman lagi. Roh Allah sekarang tinggal di dalam roh kita.

Selain itu, jika memaksakan diri, terus bergaul dengan lingkungan lama, mustahil hidup kita bisa berubah dan berkenan kepada Allah.
Mustahil pula hidup kita bisa naik dan merealisasikan semua keuntungan janji-janji Tuhan dalam kehidupan kita.

Setiap janji, ada persyaratannya. Ada cara untuk memperolehnya.
Ibarat penggenapan janji Tuhan ada di sebelah timur, kalau kita ngotot ke barat, ya pasti gak ketemu.
Bukannya Tuhan ingkar janji tetapi kita yang tidak mengikuti arahan-Nya.

Ingat pepatah:
Hidup Anda adalah rata-rata dari kehidupan 5 orang terdekat dalam kehidupan Anda.

Jadi mau lihat masa depan kita itu mudah.
Lihat saja teman-teman terdekat kita.
Apakah keluarga mereka harmonis? Bisnis lancar? Menghidupi firman-Nya? Bisa dipercaya?
Kalau ya, hidup kita tidak akan jauh dari itu.

Kalau sebaliknya, hidup Anda kurang lebih seperti itu juga.


Tidak sedikit orang yang bersiteguh tidak mau pergi dari kota kelahirannya. Dari lahir sampai mati pokoknya harus di kota itu.
Tidak salah sich, asalkan selaras dengan kehendak Tuhan.

Nach kadang-kadang ada yang berdoa minta terobosan dari Tuhan. Minta berkat.
Sebetulnya Tuhan sudah menyediakannya tetapi masalahnya berkatnya ada di sana – ‘there’, bukan di sini – ‘here’.

Suatu ketika hiduplah Elia, dari Tisbe-Gilead. Karena bangsanya berdosa melawan Tuhan, maka terjadilah kekeringan panjang di negara itu.

Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Elia:
“Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.
Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau Di SANA.”

Lalu Elia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.
Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.
Gagak pun bisa rutin mengirim roti dan daging setiap pagi dan petang.
Tetapi penyediaan itu ada di tepi Sungai Kerit alias ‘THERE’,
bukan di kampung halaman Elia alias ‘HERE’.

Seandainya Elia ngotot, gak mau menuruti Tuhan pergi ke Sungai Kerit, tentunya tidak ada gagak yang kirim roti dan daging ke sana. Kelaparan dia…. Bahkan bisa mati.
Nach lho…. Siapa yang salah???

Dengan cara yang sama, kerapkali bukannya Tuhan tidak menjawab doa-doa kita, Tuhan sudah menjawabnya.
Tetapi jawaban doanya itu THERE NOT HERE.
Jawabannya DI SANA, BUKAN DI SINI.

“Tuhan jadikan aku sesuai rencana-Mu yang bisa berdampak mendunia seperti si X.”

“Gampang itu, Nak… Tapi ikuti cara-Ku BUKAN caramu…,” jawab Tuhan,
“Yang Tuhan itu Aku, BUKAN kamu… Ingat itu!”

Gubraaaaaakkkkk….

Tergantung kita, bersediakah menyesuaikan diri besar-besaran dengan kehendak Tuhan atau tidak?
Penyesuaian diri ini butuh iman, perjuangan dan tentu saja tidak nyaman.


Sejak lulus SMP, saya sudah keluar dari kampung halaman tercinta, Kota Kebumen. SMA sekolah di Semarang. Kuliah di Jogja. Menikah tinggal di Solo. Pindah Surabaya dan sekarang di Tangerang. Selama itu, biasa wira-wiri ke berbagai kota plus travelling.

Paham sekali, pindah kota gak mudah. Cari teman baru. Menyesuaikan diri dengan budaya setempat, butuh waktu untuk mendapatkan teman-teman yang pas dll.
Perjuangan pokoknya…

Awal sekolah Charis, saya ambil kelas koresponden. Belajar sendiri. Di sekolah hanya kenal Imam, yang memperkenalkan saya pada Sekolah Charis, dan Chang, sahabat Imam.

Oneday ada acara di sekolah, saya hadir. Gak kenal siapa-siapa kecuali Imam & Chang. Beda usianya jauh.
Cowo pula.
Bengong… Senyum kanan kiri… Sendirian.
Jadilah dalam acara itu ada ratusan foto dan wajah saya tidak nongol satu pun dalam foto itu….
Dieeenk…. Tertolak rasanya…

Tetapi demi kemajuan ya… Dibela-belain. Tidak ada YennyIndra hari ini or Seruput Kopi Cantik, jika saya tidak mau melangkah keluar.

Karena terlalu terbiasanya pindah-pindah, putri saya Elisa, sudah punya bisnis di Surabaya. Liburan lebaran tahun lalu ke rumah kami BSD, trus gak pulang lagi, langsung buka cabang Jakarta dan memutuskan stay di Jakarta.
Bisnisnya di Surabaya justru jadi cabang sekarang.
So simple!

Itulah sebabnya, kami terheran-heran kalau lihat orang mau pindah kota saja, hebohnya luar biasa.
Kami pindah cuma bawa 1-2 koper. Barang-barang lain? Yah… Kapan-kapan klo butuh. Kan gapapa tetap di rumah Surabaya.
Sesungguhnya gak banyak koq barang-barang yang betul-betul kita butuhkan.
Take it easy saja…

Gak harus juga klo memilih menetap di Tangerang, lalu harus di Tangerang terus. Bosan ya.. Ke Surabaya or Solo or ke mana saja….
Mengapa status pindah dan stay di suatu tempat mesti dibikin heboh? KTP saya tetap Surabaya.
Wong sekarang jaman internet. Bule-bule banyak yang bisnisnya di luar negeri, tapi mereka kerjanya dari Ubud. Sambil liburan setiap hari.

Yuk belajar taat dengan kehendak Tuhan.
Regangkan diri, berpikir lebih besar dan luas.
Di suru pergi ke THERE ya… melangkahlah….

Rancangan Tuhan itu bukan seukuran kita, tetapi seukuran Allah, artinya kita akan mengalami krisis dan butuh iman untuk mencapainya.

Nach ketika tercapai, kita sadar…. Ini Tuhan, bukan saya!
Saya gak sehebat itu.
Nama Tuhan dipermuliakan…. Polanya begitu.
Berani?

When you follow God’s will for your life, you can see how yesterday’s events prepared you for today’s challenges and tomorrow’s opportunities – David Jeremiah.

Ketika Anda mengikuti kehendak Tuhan untuk hidup Anda, maka Anda dapat melihat bagaimana berbagai peristiwa yang lalu, mempersiapkan Anda untuk menghadapi tantangan hari ini dan menciptakan peluang untuk esok hari – David Jeremiah.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Toxic Shame.

Gospel Truth’s Cakes

Yenny Indra

Toxic Shame.

Ketika anak-anak masih kecil, kerap mereka pulang sekolah dengan bangga menceritakan pencapaiannya,

“Ma, aku hebat lho…. Tadi aku bla… bla… bla… Dan Bu guru memujiku.”

Lucu ya…. Dan sebagai orangtua, kita merasa bangga.

Tetapi seiring bertambahnya usia, kita sadar, memuji diri sendiri itu tidak wajar. Tabu.
Kadang ada yang meremehkan dsb. Ternyata pencapaian kita gak sepenting itu.
Meski pun sesungguhnya kita butuh pengakuan itu. Apalagi orang-orang yang bahasa kasihnya “Kata – Kata Penghargaan”, menurut Gary Chapman, dia merasa dikasihi ketika dipuji, diakui melalui perkataan verbal.

Kejujuran menjadi barang langka, di mana kita tidak bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan apa adanya.

Bisa dibenci orang, kalau tidak pintar-pintar membawa diri. Tahu waktu, kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu.


Suatu ketika, saya keceplosan tidak sengaja, betul-betul karena kelelahan, saya berkomentar ‘negatif’ mengungkapkan apa yang sejujurnya saya rasakan. Tanpa ada maksud apa pun…. Beneran…

Ketika teman saya menjawab sedemikian positifnya….
Tiba-tiba saya sadar, malu…..
Duh saya sudah sekolah sekian lama koq ternyata tetap punya pikiran negatif, dan tidak sebaik teman saya.

Perasaan malu, bersalah, menyalahkan diri sendiri bisa sedemikian mendera, sampai termimpi-mimpi saat tidur.
Bersamaan beberapa minggu lagi saya mendapatkan kesempatan bersaksi.
Saya merasa tidak layak….

“Lhah wong masih punya pikiran negatif koq mau bersaksi… Hatimu gak bersih, gak layak…”
Tuduhan-tuduhan itu meneror siang malam…
Tekanan darah tiba-tiba naik, dan saya sakit.

Lalu saya mengundurkan diri. Saya butuh waktu membereskan apa yang ada di dalam hati.
Padahal saya sekolah, tiap hari fokus firman….
Tiap hari post Seruput Kopi Cantik….
Bayangkan… Koq ga jadi panutan.
Ke depan saya harus lebih hati-hati, berpikir tulus, murni, baik, selalu memandang dari sisi positif dsb. dsb….
Demikian saya berjanji dalam hati, dengan perasaan tertuduh.

Ada perasaan takut mengecewakan orang lain, tidak bisa memenuhi harapan orang lain, tidak menjadi Terang & Garam dsb. Padahal makin berusaha dengan kekuatan sendiri, makin mustahil.

Sudah berdoa, minta ampun pada Tuhan dan paham, semua rasa malu, kesalahan dan dosa sudah ditanggung Yesus di Kayu Salib, tapi koq ya… Perasaan malu gak hilang-hilang juga.

Apakah hanya saya yang mengalaminya?
Gak tahulah.


Secara tidak sengaja Joyce Meyer muncul di Instagram saya.
Joyce bercerita, bahwa apa yang saya alami, itu disebut, Toxic Shame.

Tidak sekedar malu pada apa yang sudah kita lakukan atau katakan, bisa juga malu karena apa yang sudah dilakukan orang lain terhadap kita, tetapi akhirnya kita menjadi malu terhadap diri kita sendiri!
Inilah yang disebut Toxic Shame, perasaan malu yang meracuni.
Ketika kita malu terhadap diri sendiri, itu akan meracuni setiap aspek kehidupan kita.

Joyce Meyer mengalami sexual abuse dari kecil. Itu bukan salahnya, dia masih kecil tidak berdaya. Namun dia menjadi malu terhadap dirinya, merasa tidak layak, marah, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Padahal dia hanyalah korban. Menyalahkan diri sendiri.

Apa beda rasa malu yang sehat dengan yang meracuni?
The Gottman Institute mengungkapkan:

Healthy shame guides toward self-correction, making amends, and growth.
Toxic shame, on the other hand, can be very harmful psychologically. It’s deeply absorbed in the nervous system (meaning, you feel it in your gut). Toxic shame is self-punishing and lingers on.

Rasa malu yang sehat membimbing menuju koreksi diri, perbaikan, dan pertumbuhan.
Rasa malu yang meracuni, di sisi lain, bisa sangat berbahaya secara psikologis. Perasaan ini diserap dalam sistem saraf (artinya, Anda merasakannya di usus Anda). Rasa malu meracuni, berakibat menghukum diri sendiri dan terus berlanjut, dan berlanjut…

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, (yaitu, dalam dagingku), di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan berbuat apa yang baik…….. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Demikian ungkapan Rasul Paulus.

Kita semua bisa merasakan dilema ini. Frustrasi karena mengetahui hal yang benar untuk dilakukan, tetapi karena kelemahan daging serta kelemahan tekad mental kita sendiri, mendapati diri kita melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan.

Tuhan ingin kita mengasihi diri sendiri. Tuhan menerima dan SUDAH mengampuni segala dosa kita, baik dosa masa lalu, sekarang, mau pun dosa di masa yang akan datang.
Semua sudah lunas dibayar!

Saya paham prinsip itu, sudah lulus ujian, nempel di kepala, tetapi ternyata belum menghidupinya!

Salah ucapan, tidak sekedar malu terhadap perkataan yang salah, saya jadi malu terhadap diri sendiri!


Setiap menulis, saya mengaitkannya dengan Tuhan karena bagi saya, Tuhan itu pusat kehidupan saya.
Dengan menuliskannya, saya mengajari diri saya sendiri, agar prinsip ini terukir dalam hati.

Kadang ada pembaca yang mengharapkan penulisnya seperti malaikat.
Tentu tidak bisa!
Saat hubungan dengan Tuhan mulus, saya merasa jauh lebih sabar. Karena sabar itu buah roh.
Tetapi ada kalanya, hubungan dengan Tuhan tidak sedekat biasanya, masalah datang bertubi-tubi, emosi muncul juga.

Tuhan itu Allah yang Mahabaik.
Munculnya Joyce Meyer menyadarkan saya akan Toxic Shame.
Tidak hanya itu, tanpa sengaja bertemu teman dalam sebuah pertemuan. Ketika sedang ngobrol sana sini, teman ini menceritakan hal yang sama seperti yang saya rasakan. Dia berkomentar sama dengan komentar saya yang ‘negatif’.

Wuiiihhh…. Leganya!
Ternyata bukan saya yang jahat. Ada orang lain berpendapat demikian juga. Itu normal.
Hingga kini saya berusaha jujur, klo baik, saya puji. Di berbagai artikel Seruput Kopi Cantik saya kerap bahkan senang mengapresiasi teman-teman. Namun jika saya tidak merasa mendapat sesuatu, saya diam, tidak mau memuji sekedar basa-basi. Gak nyaman di hati.

Meski demikian, iblis tidak langsung berhenti. Beberapa bulan kemudian, ketika saya diberi kesempatan bersaksi, teror kembali datang.

Saya berdoa dan bilang sama Tuhan:
It’s all about You, my Lord… not me.
Saya ingin menceritakan kebaikan-Mu, untuk kemuliaan-Mu, biarlah saya menjadi wadah, silakan hati-Mu, perkataan-Mu yang Engkau alirkan melaluiku.
Saya tidak mau dikalahkan lagi oleh si musuh.

Semua berjalan lancar setelah saya tidak mengandalkan diri sendiri. Tetapi bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Joyce Meyer menambahkan,
“Meski pun hari ini adalah hari buruk Anda, sepanjang hari Anda bersikap tidak baik… Marah, menggerutu, dll tetapi saya beritahu: Tuhan tetap mengasihi Anda. Karena Tuhan melihat hatimu. Anda berada di sini karena Anda mencari-Nya dan mengasihi-Nya bukan? Allah perhitungkan hal itu.”

Memahami kita dibenarkan BUKAN karena kita baik atau melakukan hal yang benar, tetapi karena beriman kepada Yesus dan karya Salib yang Sudah Selesai, sungguh merupakan fondasi yang teguh.
Kita tidak diombang-ambingkan oleh perbuatan kita, tetapi saya benar karena saya ada di dalam Kristus.

Ketika kita belajar kebenaran firman Tuhan dan hidup dari Roh Allah, dosa dikalahkan.
Dan hasilnya? Kita tidak mengutuki diri sendiri lagi.
Tidak ada penghukuman ketika kita berjalan dalam Roh.

Yuk hidup dalam roh….

So now there is no condemnation for those who belong to Christ Jesus. – Romans 8:1

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1 (TB)

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 175 176 177 178 179 404