Articles

“Sumber Segala Dukacita.”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Sumber Segala Dukacita.”

Tuhan menciptakan kita untuk menjalani hidup kita dengan fokus kepada-Nya. Tujuannya sejak awal supaya kita “sadar akan Tuhan,” bukan “sadar terhadap diri sendiri.”
Sampai Adam dan Hawa memakan buah terlarang dari ‘Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat’, – sebelumnya mereka begitu tidak sadar akan diri sendiri, sehingga mereka pun tidak menyadari ketelanjangan dirinya. Tetapi setelah ketidaktaatan terjadi, mereka menjadi sepenuhnya sadar akan diri mereka sendiri dan ingin bersembunyi dari Tuhan. Fokus mereka telah bergeser dari Tuhan kepada diri sendiri.

Kesadaran diri hanyalah cara lain mengatakan keterpusatan pada diri sendiri, dan terpusat pada diri sendiri itulah sebenarnya akar dari semua kesedihan.
Orang berduka atau tidak bahagia karena banyak alasan. Tetapi, jika menganalisanya lebih dalam, mereka akan menemukan, penyebabnya selalu diakibatkan oleh diri mereka sendiri, yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Jadi, jawaban untuk mengatasi kesedihan, ditemukan dengan cara bagaimana kita menghadapi diri sendiri.

Misalnya, masalah keuangan kerap datang akibat mencoba hidup di atas kemampuan, berusaha memenuhi keinginan egois kita. Bukannya menentang kemakmuran—saya tidak demikian. Tetapi penting memiliki perspektif yang benar.
Jika Anda sedih atau tidak bahagia karena tidak memiliki rumah yang lebih besar, mobil yang lebih baru, atau televisi layar lebar, maka ada sesuatu yang salah. Keegoisan kitalah yang mengubah keinginan menjadi kebutuhan, kemudian kebutuhan itu menyebabkan terjadinya krisis pribadi.

Hati saya hancur melihat begitu banyak orang percaya yang dipenuhi Roh, bertindak sama egoisnya dengan dunia.
Mereka mencoba memanfaatkan Tuhan untuk mendapatkan hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia, fokus pada ‘apa untungnya bagi mereka.’ Entah memang tidak pernah tahu atau justru lupa pada beberapa ayat terpenting dalam Alkitab tentang keuangan.

Matius 6:33 (TB), mengatakan,
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Tuhan telah berjanji akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita di dalam Dia, bahkan akan ditambahkan pula kepada kita sebagai hasil yang akan mengikuti karena kita mencari kerajaan-Nya terlebih dahulu. Sama sekali tidak perlu memusatkan perhatian demi mendapatkan sesuatu dari Tuhan, bagi hal-hal yang telah disediakan-Nya. Ketika kita melakukannya (hanya berfokus kepada tambahan, bukan pada penyediaan dari kerajaan-Nya), justru akan membawa kita kembali kepada pintu keterpusatan pada diri sendiri, alias keegoisan.

Termasuk juga dalam kasus kematian orang yang kita cintai. Sesungguhnya, kesedihan berakar pada kehilangan pribadi kita. Fokus kita pada situasi itu, berasal dari sudut pandang kita sendiri : “Bagaimana saya bisa bertahan tanpa dia?, Saya tidak akan pernah melihat dia lagi di bumi.”
Kita dapat meyakinkan diri sendiri, kita memang berduka atas kematian orang-orang yang kita sayangi, tetapi sesungguhnya, semua itu berkaitan dengan bagaimana hal itu akan mempengaruhi diri kita sendiri.
Jika orang yang meninggal sudah lahir baru dan sekarang bersama Yesus, seharusnya justru menjadi waktu untuk bersukacita.
Mari kita bayangkan suasana pemakaman orang percaya..
Jika kita berfokus pada bagaimana orang itu bersama Yesus dan apa yang dialaminya, – bukannya memikirkan pikiran egois kita sendiri, – apa yang hilang dari kita-, maka alih-alih berduka, alangkah menyenangkan saat bersyukur dan memuji!

Sumber kesedihan besar lainnya adalah kesedihan yang Anda alami dalam hubungan Anda dengan orang lain.
Mengapa?
Karena ketika Anda berfokus pada diri sendiri, jadi mudah tersinggung. Jika Anda mengalami kepahitan, sakit hati, atau kemarahan dalam hubungan baik dengan atasan, teman, atau seperti yang paling sering terjadi, dengan seseorang dalam keluarga Anda sendiri, Firman Tuhan tidak memberi Anda ruang untuk salah memahami alasannya.

Amsal 13:10 (KJV), membaca,
“Hanya dengan kesombongan muncul pertengkaran.”

Ayat ini menjelaskan bahwa kesombongan adalah sumber dari segala perselisihan. Saya tahu, banyak orang tidak ingin mendengarnya, tetapi bukan keadaan atau kepribadian yang terlibat dalam situasi ini, yang menyebabkan mereka bersedih—itu karena harga diri mereka.
Kesombongan bukanlah penyebab utama pertengkaran; itu satu-satunya penyebabnya.

Namun, kesombongan itu seperti tongkat—memiliki dua ujung. Sebagian besar dapat dengan jelas melihat bagian akhir yang mewakili arogansi dan keangkuhan, tetapi mereka gagal melihat ujung yang lain, penyebabnya karena harga diri yang rendah, kerendahan hati yang palsu, sifat takut-takut, atau rasa malu.

Orang yang menganggap diri mereka kurang percaya diri atau pemalu, sebenarnya dipenuhi dengan kesombongan.
Harga diri yang rendah, menyebabkan pemikiran dominan mereka terpusat pada diri sendiri. Sebegitu fokusnya mereka pada apa yang mungkin dipikirkan oleh orang lain, jika mereka mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah.
Untuk melindungi diri, mereka menjadi rendah diri dan pemalu, hingga menyebabkan diri mereka mengalami banyak kesedihan. Jika mereka diminta untuk memberikan kesaksian atau menumpangkan tangan pada seseorang untuk didoakan, kesombongan mereka akan mencegahnya. Mereka tidak akan mengambil risiko, kemungkinan DIRI mereka bisa dikritik.

Mereka yang memiliki kerendahan hati palsu sebaliknya percaya, merendahkan diri sama dengan kerendahan hati, dan meninggikan diri merupakan kesombongan. Tetapi itu juga salah.

Dalam Yakobus 4:10 (TB,) dikatakan,
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”

Apa yang terjadi ketika Anda merendahkan diri (dengan pemahaman yang benar tentang kerendahan hati yang sejati), dan Tuhan mulai meninggikan Anda?
Orang yang benar-benar rendah hati akan membiarkan Dia meninggikan mereka, tetapi orang yang sombong tidak. Mereka terlalu peduli pada apa yang orang lain pikirkan, dan mencoba menangkisnya dengan cara merendahkan diri mereka sendiri. Itu sekedar bentuk lain dari kesombongan.

2 Timotius 2:11 (TB), mengatakan,
“Benarlah perkataan ini: ”Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia;”

Dan dalam Galatia 2:20 (TB), kita membaca,
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Ayat-ayat Alkitab ini mengajarkan bahwa kita seharusnya mati terhadap diri sendiri dan hidup di dalam Kristus.
Jika benar-benar kita telah mati terhadap diri sendiri, kita tidak mungkin tersinggung (baperan).
Orang ‘mati’ tidak merasakan apa-apa. Mereka bisa ditendang, dihina, atau bahkan dibohongi, dan mereka tidak peduli.
Alasan kita begitu mudah terluka atau tersinggung, karena kita masih hidup untuk diri sendiri dan penuh dengan kesombongan.

Namun, jika kita fokus pada mati terhadap diri sendiri dan hidup di dalam Kristus, (dengan kemampuan kita sendiri) kemungkinan kita akan gagal.
Dulu, dalam doa setiap pagi, saya berusaha memotivasi diri sendiri, sambil mencoba fokus mati terhadap diri sendiri sebaik mungkin. Saya mengakui semua dosa yang saya pikir telah saya lakukan: “Kebanggaan! kesombongan! Gagal mempelajari Firman!”
Hal seperti ini terus berlanjut sampai pada akhir waktu saat teduh, nyatanya, saya telah menghabiskan seluruh waktu doa dengan fokus pada diri saya sendiri. Goblok. Bodoh!

Cara yang benar untuk mati terhadap diri sendiri, yaitu dengan cara mengalihkan fokus Anda. Temukan seseorang yang membutuhkan doa atau pelayanan. Bantu mereka mengatasi situasinya, lalu Anda akan menemukan, Anda telah melupakan kebutuhan diri Anda sendiri.
Anda pun menemukan, apa yang semula dianggap sangat penting, sebenarnya tidak signifikan.
Kasih kepada orang lain, selalu mengalahkan diri sendiri.
Kasih mengharuskan Anda memberikan diri serta menjadi korban yang hidup, namun semua itu sepadan.

Tetapi fokus utama kita haruslah kepada Tuhan, bukan hanya pada orang lain dan tentu saja, bukan pada diri kita sendiri.
Hanya saat berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kita dapat mengasihi orang lain yang melanggar kepentingan egois kita.

Roma 12:1 (TB), mengatakan,
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Bukankah menarik sekali, ternyata mengorbankan diri sebagai persembahan yang hidup, dianggap sebagai pelayanan yang wajar oleh Tuhan?
Untuk melakukannya, kita harus merendahkan diri, menolak diri sebagai “tuan”, dan meletakkannya di atas mezbah.
Satu-satunya masalah dengan persembahan yang hidup adalah, mereka cenderung merangkak dari altar. Bahkan jika kita membuat komitmen ini dalam hati sekarang, kita harus memperbaharuinya lagi besok, minggu depan, bulan depan, dan tahun depan.

Selama kita masih ada di bumi, kita harus membuat keputusan untuk mengasihi Yesus melebihi dari diri kita sendiri, setiap hari.

[Repost ; “Source of All Grief”. – Andrew Wommack, Penerjemah Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Berkat Tuhan Dicurahkan Saat Tidur?
Mana yang lebih dulu, Tuhan atau Keluarga?”
Tanah Liat & Penjunan.