*MEMBERI DENGAN SUKACITA, MEMINTA DENGAN BIJAKSANA…*
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
MEMBERI DENGAN SUKACITA, MEMINTA DENGAN BIJAKSANA…
Mengapa ketika seseorang meminta sumbangan, ada yang dengan sukacita memberi, tetapi ada pula yang merasa sedang dikompas atau diperas?
Menariknya, sering kali persoalannya bukan pada jumlah uang yang diminta, melainkan siapa yang meminta, bagaimana cara meminta, dan hubungan seperti apa yang sudah terbangun.
Saya tertarik dengan nasihat Greg Mohr, pengajar Charis Bible College:
“Give where you have joy. Don’t give where you don’t have joy. And don’t allow yourself to become condemned about not giving where you don’t have joy.”
Artinya, berilah di tempat kita memiliki sukacita. Jangan memberi ketika tidak ada sukacita, dan jangan membiarkan diri dihukum oleh perasaan bersalah karena memilih tidak memberi.
Sederhana, tetapi sangat membebaskan!
Greg menjelaskan bahwa terkadang orang memberi karena tekanan, rasa bersalah, atau kewajiban. Padahal bukan demikian cara Tuhan memimpin kita. Tuhan dapat menuntun ke mana, kapan, dan berapa banyak kita memberi. Ketika mengikuti tuntunan-Nya, kita dapat memberi dengan sukacita yang tulus.
Lalu bagaimana menerapkannya?
Pertama, bagi yang dimintai sumbangan.
Jangan langsung mengiyakan hanya karena sungkan, apalagi karena yang meminta adalah pemimpin rohani, teman dekat, atau orang yang kita hormati.
Doakan dahulu. Berikan kesempatan kepada Roh Kudus menuntun kita.
Apakah hati kita sejahtera? Apakah tujuan penggalangan dana tersebut sesuai dengan nilai dan visi yang kita yakini? Apakah orang atau lembaga yang mengelolanya memiliki integritas, rekam jejak yang baik, serta transparansi penggunaan dana?
Pertimbangkan juga kondisi keuangan dan tanggung jawab keluarga. Memberi dengan iman bukan berarti mengabaikan hikmat.
Kadang kita tidak mengenal seseorang secara pribadi, tetapi karena menghormati integritasnya, mempercayai visinya, dan melihat buah pelayanannya, kita tergerak untuk mendukung.
Apalagi jika hubungan baik sudah terjalin dan kita memiliki visi yang sama.
Sebaliknya, jika belum ada damai, jangan memaksakan diri. Kita boleh menunda untuk mencari kejelasan atau menolak dengan sopan.
“Terima kasih sudah mengajak saya berpartisipasi. Untuk saat ini saya belum dapat mendukung secara finansial. Semoga pelayanannya berjalan dengan baik.”
Cukup. Tidak perlu merasa bersalah atau memberikan penjelasan panjang lebar.
Tentu, tidak setiap keraguan berarti Tuhan melarang kita memberi. Kadang kita perlu memeriksa apakah itu tuntunan Roh Kudus, ketakutan, atau sekadar keengganan berbagi. Karena itu, *keputusan perlu ditimbang dengan Firman, doa, dan hikmat.*
Kedua, bagi yang menggalang sumbangan.
Sebelum memikirkan siapa yang bisa dimintai bantuan, bukankah lebih bijaksana berdoa terlebih dahulu?
Tuhan, kepada siapa saya perlu menyampaikan visi ini? Bagaimana cara menyampaikannya dengan baik? Apakah ada kebutuhan orang tersebut yang justru dapat saya doakan atau bantu?
Sebab orang bukan sekadar sumber dana untuk membiayai visi kita.
Ada hal penting yang kerap terlupakan.
Apakah selama ini kita sudah pernah “MENABUNG” dalam hubungan tersebut? Entah melalui perhatian, kepedulian, kebaikan, pertolongan, maupun hubungan emosional yang tulus.
Hubungan ibarat rekening kepercayaan.
Kalau kita memiliki tabungan satu juta, sesekali menarik dua ratus ribu mungkin tidak menjadi persoalan.
Tetapi kalau rekeningnya kosong, bahkan belum pernah dibuka, lalu tiba-tiba datang meminta penarikan, wajar jika orang merasa kurang nyaman.
Jangan sampai kita rajin mengirim broadcast WhatsApp berisi permintaan sumbangan, tetapi jarang menghubungi orang secara pribadi untuk menanyakan kabar, memperhatikan kebutuhannya, atau mengetahui pergumulan yang sedang dihadapinya.
Bisa jadi orang yang kita mintai bantuan justru sedang membutuhkan pertolongan.
Kita begitu fokus pada kebutuhan pelayanan sendiri sampai lupa bahwa orang lain pun memiliki kebutuhan dan tanggung jawab.
Tentu, mengirim broadcast bukan sesuatu yang salah. Itu sarana komunikasi yang praktis. Tetapi jangan sampai hubungan hanya terjalin ketika ada kebutuhan dana.
Orang ingin dihargai sebagai manusia, bukan diperlakukan sebagai daftar calon donatur.
Namun ada satu prinsip yang lebih penting lagi.
Tabungan hubungan BUKAN berarti kita berhak menariknya sesuka hati.
Kebaikan yang kita berikan bukan investasi untuk memperoleh sumbangan di kemudian hari. Hubungan yang tulus dibangun karena kita menghargai manusianya, bukan karena berharap suatu saat mendapat keuntungan darinya.
Ketiga, cara meminta sama pentingnya dengan tujuan permintaan.
Sampaikan visi, kebutuhan dana, rencana penggunaan, serta pertanggungjawabannya dengan jelas.
Berikan kesempatan orang untuk mempertimbangkan dan memutuskan sendiri.
Jangan menggunakan rasa bersalah, tekanan rohani, atau kesan bahwa orang yang tidak memberi berarti kurang beriman, kurang mengasihi Tuhan, atau tidak mendukung pekerjaan-Nya.
Pelayanan yang baik tidak seharusnya merusak hubungan demi mendapatkan dana.
Demikian pula, jangan menganggap penolakan sebagai penolakan terhadap pribadi kita atau terhadap Tuhan.
Setiap orang memiliki prioritas, tanggung jawab, dan tuntunan yang mungkin berbeda.
Prinsip Alkitab sangat jelas dalam 2 Korintus 9:7. Hendaklah setiap orang memberi menurut kerelaan hatinya, bukan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
Akhirnya saya belajar, kepercayaan membuka hati, visi memberikan alasan, integritas mempertahankan kepercayaan, dan kasih menjaga hubungan.
Memberi bukan sekadar memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lainnya. Ada hati, kepercayaan, hubungan, dan nilai yang terlibat di dalamnya.
Jangan sampai demi mendapatkan sumbangan hari ini, kita kehilangan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.
Sebab keberhasilan penggalangan dana bukan hanya diukur dari berapa banyak uang yang terkumpul, tetapi juga apakah cara kita melakukannya mencerminkan karakter Kristus.
“Give where you have joy. Don’t give where you don’t have joy.”— Greg Mohr.
“Berilah di tempat kita memiliki sukacita. Jangan memberi di tempat kita tidak memiliki sukacita.”— Greg Mohr.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Pengampunan
“Jangan membangun hubungan demi mendapatkan sumbangan. Bangunlah hubungan yang tulus, hiduplah dalam integritas, dan biarkan kepercayaan bertumbuh. Sebab memberi dengan sukacita jauh lebih berharga daripada memberi karena terpaksa.”
“Don’t build relationships to get donations. Build genuine relationships, live in integrity, and let trust grow. Because giving with joy is far more valuable than giving out of necessity.”
— Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
Covid Hingga Batuk Berdarah? Mana Bisa Survive? Simak Kisahnya!
Mei 20, 2020
Apa SichYang Mustahil? Nothing Impossible With God! (Kisah Aphen & Chun Han)
Juli 25, 2020
