JANGAN UKUR PERTUMBUHAN ORANG DENGAN PENGGARIS KITA.
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
JANGAN UKUR PERTUMBUHAN ORANG DENGAN PENGGARIS KITA.
Ada sesuatu yang mudah sekali terjadi ketika kita sudah lama belajar.
Kebenaran yang sekarang begitu jelas bagi kita terasa seolah-olah seharusnya jelas juga bagi semua orang.
Kita lupa bahwa dulu kita pun tidak langsung mengerti.
Ada hal-hal yang harus kita dengar berkali-kali. Ada pola pikir lama yang membutuhkan waktu untuk diperbarui. Ada kebenaran yang sudah kita catat di buku, bahkan mungkin bisa kita jelaskan kepada orang lain, tetapi belum sungguh-sungguh menjadi cara kita berpikir dan hidup.
Lalu ketika bertemu seseorang yang pemahamannya masih bercampur-campur, kita mulai bertanya,
“Kok masih begitu?”
“Bukankah sudah belajar?”
“Sudah ikut sekolah Alkitab, masa masih belum mengerti?”
Nach, di sinilah kita perlu berhati-hati.
Pertumbuhan rohani bukan perlombaan siapa yang paling cepat memahami semuanya.
Paulus menulis, “Berubahlah oleh pembaharuan budimu.”
Pembaruan pikiran bukan peristiwa satu malam. Identitas kita di dalam Kristus adalah anugerah yang sudah kita terima, tetapi belajar berpikir selaras dengan kebenaran adalah perjalanan.
Seseorang bisa sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, rajin belajar, bahkan berulang kali mendengarkan pengajaran yang sama, tetapi masih mempunyai area tertentu yang belum diperbarui.
Bukankah kita juga demikian?
Mungkin doktrin kita sudah rapi, tetapi respons ketika tersinggung masih perlu diperbarui. Mungkin kita sudah banyak memahami anugerah, tetapi masih mudah menghakimi. Mungkin kita fasih menjelaskan iman, tetapi ketika keadaan tidak sesuai harapan, hati kita masih mudah goyah.
Karena itu pengetahuan yang lebih banyak seharusnya tidak membuat kita semakin cepat menilai orang.
Justru seharusnya membuat kita semakin sabar.
Bayangkan seorang murid kelas satu dibandingkan dengan seseorang yang sudah bertahun-tahun belajar. Tentu pemahamannya berbeda.
Tidak adil menuntut orang lain berada di kilometer 50 hanya karena kita sudah sampai di sana, sementara ia baru memulai perjalanan dari kilometer 5.
Bahkan kita tidak tahu seberapa jauh ia sudah berjalan.
Mungkin sesuatu yang bagi kita tampak “masih jauh”, sebenarnya merupakan kemajuan luar biasa dibandingkan kehidupannya beberapa tahun lalu.
Yesus memberikan gambaran pertumbuhan yang indah. Benih yang ditaburkan tidak langsung menghasilkan panen.
Mula-mula tunas, kemudian tangkai, lalu bulir, dan akhirnya bulir yang penuh isinya.
Saya suka sekali gambaran ini.
Kadang kita begitu sibuk mencari panen, sampai lupa bersyukur ketika melihat tunas.
“Kok belum berubah?”
Padahal benihnya mungkin sudah pecah.
“Kok pemahamannya masih begitu?”
Padahal tangkainya sedang tumbuh.
“Kok belum seperti yang seharusnya?”
Padahal bulirnya mulai terbentuk.
Jangan mencabut tanaman hanya karena hari ini kita belum melihat panen.
Sirami. Beri Firman. Beri kasih. Beri kesempatan untuk bertumbuh.
Tuhan bekerja bersama kita dari tempat kita berada. Dia tidak mengubah kebenaran untuk menyesuaikan diri dengan level iman kita, tetapi dengan sabar membawa kita dari pengertian yang kita miliki menuju kedewasaan yang lebih besar.
Bukankah Tuhan juga begitu sabar terhadap kita?
Karena itu jangan hanya melihat apa yang belum ada dalam diri seseorang. Belajarlah mensyukuri apa yang sudah mulai tumbuh.
Hari ini mungkin baru tunas.
Besok menjadi tangkai.
Kemudian bulir.
Dan pada waktunya, panen.
Kedewasaan bukan hanya mampu mengenali buah yang sudah matang. Kedewasaan juga mampu melihat sebuah tunas kecil dan bersyukur karena tahu: kehidupan sudah bekerja di dalamnya.
Itulah sebabnya saya belajar satu prinsip:
Jangan menilai seseorang hanya dari posisinya hari ini. Lihat juga arah perjalanannya.
Apakah ia lapar akan kebenaran? Apakah ia mau belajar? Apakah ketika mengetahui sesuatu yang lebih benar, ia bersedia berubah?
Teachable heart jauh lebih berharga daripada sekadar banyaknya pengetahuan.
Tentu kasih bukan berarti semua pengajaran dianggap sama benarnya. Kebenaran tetap harus diuji. Kita perlu membedakan apa yang benar-benar dikatakan Firman, apa yang merupakan interpretasi, dan apa yang sekadar pengalaman seseorang.
Bahkan pengajar yang kita hormati pun tidak menjadi otoritas terakhir.
Firman Tuhan tetap otoritas final.
Tetapi ada perbedaan besar antara menguji pengajaran dan menghakimi perjalanan seseorang.
Yang satu mencari kebenaran. Yang lain bisa lahir dari kesombongan karena merasa sudah lebih tahu.
Semakin bertumbuh, seharusnya kita semakin sadar betapa banyaknya yang masih perlu kita pelajari.
Mungkin salah satu bukti bahwa pikiran kita benar-benar sedang diperbarui bukan hanya karena kita semakin pandai membedakan doktrin, tetapi karena kita menjadi semakin rendah hati dan semakin mencerminkan anugerah ketika melihat orang lain masih berproses.
Guru yang baik tidak berdiri di garis finish sambil berteriak,
“Kok kamu belum sampai?”
Ia kembali beberapa langkah, mengulurkan tangan dan berkata,
“Yuk, kita jalan bersama. Saya pun masih belajar.”
Pada akhirnya, Tuhan tidak meminta kita menjadi polisi pertumbuhan orang lain.
Kita dipanggil untuk terus bertumbuh, memegang kebenaran dengan teguh, tetapi menyampaikannya dengan kasih.
Karena kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kesombongan, sementara kasih tanpa kebenaran kehilangan arah.
Kalau kita merasa sudah memahami anugerah lebih banyak, mungkin pertanyaan yang justru perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah:
Apakah pemahaman saya tentang anugerah juga membuat saya semakin penuh anugerah dalam memperlakukan orang yang belum mengerti sebanyak saya?
Mak jleb!
“Knowledge puffs up, but love builds up.”— 1 Korintus 8:1.
“Pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.” — 1 Korintus 8:1.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
“Jangan kecewa karena hari ini baru melihat tunas ketika kita mengharapkan panen. Syukuri setiap tahap pertumbuhan. Tunas adalah bukti bahwa benih itu hidup.”
“Don’t be disappointed when you see only a sprout while expecting a harvest. Celebrate every stage of growth. A sprout is evidence that the seed is alive.”
— Yenny Indra
