Hati-Hati, Kita Bisa Menjadi “Tuhan” Dalam Hidup Orang Lain…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Hati-Hati, Kita Bisa Menjadi “Tuhan” Dalam Hidup Orang Lain…
Ada sesuatu yang menarik yang pernah diungkapkan oleh Dr.Caroline Leaf, seorang pakar neuroscience dan kesehatan mental yang banyak meneliti hubungan antara pikiran, emosi, dan pola hidup manusia.
Menurutnya, banyak orang yang sejak kecil kekurangan perhatian emosional akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang sangat suka merawat orang lain. Mereka menjadi penolong. Menjadi tempat bersandar. Menjadi orang yang selalu hadir ketika dibutuhkan.
Konon, pikiran manusia akan terus mencari jalan untuk mendapatkan apa yang dulu tidak sempat ia rasakan.
Kalau dulu seseorang jarang ditenangkan, jarang diperhatikan, atau terlalu cepat dipaksa menjadi “kuat”, tanpa sadar ia bisa membangun identitas sebagai orang yang selalu memberi kepada orang lain.
Dan jujur saja, waktu membaca itu, saya seperti ditampar pelan.
Karena saya sadar, ada banyak hal yang selama bertahun-tahun saya lakukan secara otomatis, tanpa benar-benar memeriksa akar pikirannya.
Sebagai anak Tuhan, sejak kecil saya diajar bahwa kita harus murah hati. Harus menolong. Apalagi kalau ada saudara seiman yang membutuhkan. Dan itu memang baik.
Mungkin bukan jumlah yang spektakuler, tetapi prinsip berbagi itu seperti kewajiban moral.
Lagipula, dari kecil kita dididik bahwa berbuat baik adalah sesuatu yang mulia.
Lalu Sekolah Charis . Belajar firman. Lulus. Tetapi ternyata, lulus sekolah tidak otomatis membuat pola pikir langsung berubah.
Perubahan mindset membutuhkan pembaharuan pikiran dan prosesnya terus-menerus.
Dan salah satu pelajaran yang paling sulit saya pahami, ternyata tidak semua perbuatan baik otomatis benar.
Gubbraaakkk…
Wah… ini perlu waktu bertahun-tahun untuk benar-benar saya mengerti.
Karena selama ini logikanya sederhana: kalau ada orang susah lalu kita membantu, bukankah itu baik?
Ya, baik.
Tetapi apakah selalu benar?
Ternyata belum tentu.
Kadang tanpa sadar, saat kita selalu menjadi jawaban bagi semua kebutuhan orang lain, kita sedang mengambil posisi yang seharusnya menjadi bagian Tuhan dalam hidup mereka.
Kita menjadi “penolong tetap”.
Akibatnya, orang itu tidak belajar percaya Tuhan. Tidak belajar bertumbuh. Tidak belajar menggunakan iman dan tanggung jawab pribadinya.
Yang lebih berbahaya, orang-orang mulai terbiasa menggantungkan diri kepada kita.
Sedikit-sedikit datang. Sedikit-sedikit minta bantuan. Sedikit-sedikit berharap kita turun tangan.
Awalnya kita merasa dibutuhkan.
Lama-lama lelah.
Lalu mulai kecewa.
Dan kalau jujur, kadang muncul pahit hati: “Kenapa ya saya selalu dikelilingi orang yang maunya ditolong terus?”
Padahal mungkin tanpa sadar kita sendiri ikut membangun pola itu.
Kita terlalu cepat menyelesaikan masalah orang lain.
Terlalu cepat menjadi penyelamat.
Padahal kasih yang sehat bukan membuat orang bergantung kepada kita, tetapi menolong mereka bertumbuh dewasa.
Di situlah saya mulai mengerti perbedaan antara sekadar “baik” dan melakukan apa yang “benar”
strong>Yang benar bukan selalu memberi ikan. Kadang yang benar adalah mengajar orang me
Kadang yang benar adalah membimbing seseorang mengenal kebenaran Firman Tuhan, belajar berdiri dengan imannya sendiri, lalu memberi ruang bagi Tuhan bekerja dalam hidupnya.
Memang lebih cepat memberi bantuan.
Sementara memuridkan orang membutuhkan kesabaran, hikmat, dan kepekaan rohani.
Itulah sebabnya Amanat Agung Tuhan bukan hanya mengabarkan Kabar Baik, tetapi juga memuridkan.
Bukan sekadar membuat orang merasa tertolong sesaat, tetapi membawa mereka bertumbuh menjadi pribadi yang mengenal Tuhan, mendengar suara-Nya, dan berjalan bersama-Nya.
Karena tujuan akhirnya bukan membuat orang tergantung pada manusia, tetapi makin mengandalkan Tuhan.
Dan di sinilah saya belajar sesuatu yang penting: kita tidak bisa menolong hanya berdasarkan rasa kasihan atau emosi.
Kita harus belajar menolong sesuai pimpinan Tuhan.
Ada saat Tuhan memang menyuruh kita memberi.
Ada saat Tuhan menyuruh kita diam.
Ada saat Tuhan meminta kita menopang seseorang.
Tetapi ada juga saat Tuhan membiarkan seseorang melewati proses supaya imannya bertumbuh.
Kalau tidak hati-hati, rasa “ingin menolong” bisa berubah menjadi campur tangan yang justru menghambat pekerjaan Tuhan dalam hidup orang itu.
Karena itu kita perlu makin peka mendengar suara Tuhan.
Bukan sekadar bergerak karena iba, tekanan, atau rasa tidak enak.
Semakin dewasa rohani, semakin kita belajar bertanya: “Tuhan, apa yang benar untuk dilakukan dalam situasi ini?”
Kadang jawabannya memberi.
Kadang jawabannya menunggu.
Kadang jawabannya membimbing.
Kadang jawabannya hanya mendoakan.
Dan jujur saja, mendengar suara Tuhan dalam hal seperti ini membutuhkan latihan terus-menerus.
Sebab hati manusia mudah terseret rasa bersalah, kebutuhan untuk diterima, atau keinginan merasa dibutuhkan.
Hari ini saya percaya, kalau seseorang sungguh-sungguh mencari Tuhan dengan segenap hati, Tuhan sanggup menuntun, membuka jalan, dan memelihara hidupnya.
Kita boleh membantu. Tentu.
Tetapi jangan sampai kita mengambil alih proses yang seharusnya membuat seseorang belajar berjalan bersama Tuhan.
Dan ternyata menarik sekali… prinsip Firman Tuhan itu sejalan dengan apa yang dijelaskan Dr.Caroline Leaf.
Pola yang tidak disadari akan terus berjalan otomatis, sampai kita berhenti sejenak dan mulai bertanya:
“Apakah saya menolong karena dipimpin kasih dan hikmat Tuhan… atau karena saya merasa harus selalu menjadi penyelamat?”
Makes sense?
“Give a man a fish and you feed him for a day. Teach him how to fish and you feed him for a lifetime.” – Chinese Proverb
“Beri seseorang ikan, ia kenyang sehari. Ajari ia memancing, ia bisa hidup seumur hidup.” – pepatah China.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
