Monthly Archives: May 2025

Articles

Sukses Tanpa Harus Gagal Dulu, Memangnya Bisa?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sukses Tanpa Harus Gagal Dulu, Memangnya Bisa?

Selama ini saya selalu percaya bahwa kegagalan adalah bagian dari proses menuju kesuksesan. Hampir semua buku motivasi dan tokoh-tokoh sukses yang saya pelajari selalu mengulang kalimat serupa: “Kegagalan adalah guru terbaik.” Atau, “Sukses adalah hasil dari serangkaian kegagalan yang tidak membuatmu menyerah.”

Saya pun mengangguk-angguk setuju. Rasanya kalimat itu begitu logis, realistis, bahkan menenangkan. Seolah-olah memberi izin untuk gagal—karena toh nanti pasti sukses juga. Tapi ternyata… saya keliru.

Beberapa waktu lalu, saya sedang memperdalam satu bagian dari Firman Tuhan yang membuka mata saya lebar-lebar. Ternyata kesuksesan tanpa harus jatuh bangun pun bisa terjadi—asalkan kita sungguh-sungguh belajar Firman Tuhan dan membiarkannya bekerja dalam hidup kita.

Saya menemukan satu kata menarik yang mengubah cara pandang saya: ARTIOS. Kata ini berasal dari bahasa Yunani dan diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Inggris sebagai “perfect” atau “sempurna.” Tapi maknanya bukan tanpa cela, melainkan “lengkap,” “matang,” atau “cukup.”

Kata ini muncul dalam surat Paulus:
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian, tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi (ARTIOS) untuk setiap perbuatan baik.”

Wow! Paulus tidak sedang berkata bahwa kita harus melewati berbagai penderitaan dulu supaya menjadi matang dan lengkap. Tapi bahwa Firman Tuhan sanggup menyempurnakan kita—membuat kita arif, bijak, dan mampu dalam setiap aspek kehidupan.

Selama ini, saya berpikir, “Ah, orang percaya pasti harus mengalami pencobaan dan penderitaan supaya dewasa rohani.” Tapi ternyata Firman Tuhan tidak pernah bilang begitu. Justru jika kita membiarkan Firman itu tinggal dalam hati dan kita sungguh-sungguh belajar serta melakukannya, kita bisa bertumbuh tanpa harus jatuh dan luka lebih dulu.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa penderitaan, kegagala, dan hal-hal yang berat itu tidak bisa digunakan Tuhan. Tentu saja bisa. Banyak orang justru bertobat dan mengenal Tuhan saat mereka berada di titik terendah hidupnya. Tapi itu bukan satu-satunya cara.

Kita bisa memilih: apakah kita mau belajar lewat pengalaman pahit, atau mau lebih dulu membekali diri dengan kebenaran Firman Tuhan, sehingga saat tantangan datang, kita tetap kuat, tidak perlu jatuh, dan tetap menang.

Seorang bijak berkata, “Tuhan tidak pernah merancang penderitaan untuk mendewasakan kita. Ia merancang Firman-Nya untuk menyempurnakan kita.”

Luar biasa, bukan?

Ini menjadi pelajaran besar bagi saya. Ternyata kegagalan bukan harga mati untuk mencapai sukses. Kita bisa menghindari banyak kesalahan dan luka, jika kita memilih untuk belajar dan hidup dari Firman.

Kadang Tuhan mengirimkan guru di sepanjang kehidupan kita. Tujuannya agar kita dengan rendah hati belajar dari pengalamannya. Tidak perlu kita sendiri yang mengalami jatuh bangun.

Pengalaman orang lain bisa menjadi ‘Peta Jalan’ agar kita dapat belajar lebih cepat, lebih cerdas dan bisa menghindari ribuan pertempuran yang tidak perlu.

“One hour with a wise person can reveal truths you may never find in hundreds of pages.”

“Satu jam bersama orang bijak bisa mengungkapkan kebenaran yang tidak kita temukan meski membaca ratusan halaman buku.”

Karena itu, “Mendengar Tuhan” bukan dengan suara audibel melainkan melalui kesaksian roh, itu wajib.

Saya belajar, hidup kita ini sebenarnya bisa seperti kendaraan yang dipandu GPS ilahi. Firman Tuhan dan tuntunan-Nya melalui hubungan kita secara pribadi, merupakan petunjuk jalan yang selalu akurat. Tapi kalau kita keras kepala dan memilih “coba-coba” jalan sendiri, ya jangan heran kalau harus berputar-putar dulu, bahkan tersesat.

Hari ini, saya memutuskan untuk lebih serius dan sungguh-sungguh belajar Firman Tuhan dan membangun hubungan yang intim dengan-Nya. Karena saya tahu, Tuhan menyediakan jalan terbaik—dan jalan itu bisa tanpa luka, tanpa trauma, tanpa jatuh bangun yang menyakitkan.

Firman Tuhan cukup.
Firman Tuhan sanggup.
Dan Firman Tuhan akan menyempurnakan kita, jika kita mau taat.

Mari kita pilih jalan yang lebih baik: belajar lewat Firman, bukan lewat kesalahan.

Mau ikut belajar juga? Yuk….

“You can learn things the hard way, or you can learn from God’s Word and avoid unnecessary pain.” – Andrew Wommack

“Kamu bisa belajar dengan cara yang sulit, atau kamu bisa belajar dari Firman Tuhan dan menghindari rasa sakit yang tidak perlu.” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Mau Hidup Berkemenangan? Ini Rahasianya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mau Hidup Berkemenangan? Ini Rahasianya!

“Mengapa hidup naik-turun terus, kadang semangat, kadang hancur lebur?”
Seringkali kita bertanya seperti itu, tanpa menyadari bahwa jawabannya ada pada siapa yang memimpin hidup kita—roh kita yang sudah lahir baru, atau pikiran dan perasaan kita yang belum dilatih.

Perasaan itu ciptaan Tuhan. Indah! Menjadikan hidup berwarna, menarik, penuh dinamika. Tetapi BUKAN untuk menjadi pemimpin. Kalau perasaan dijadikan kompas hidup, hasilnya adalah kebingungan, ketidakstabilan, dan kekalahan.

Firman Tuhan mengajarkan, kunci utama untuk hidup berkemenangan adalah pikiran yang diperbaharui.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”.

Pikiran yang diperbarui = cara berpikir yang benar = senjata melawan tipu daya iblis.

Iblis sudah kalah. Dilucuti kuasanya. Tapi dia masih punya satu senjata: kata-kata.
Dia melemparkan sugesti, ancaman, tuduhan, dan ketakutan ke dalam pikiran kita. Ia adalah pendakwa, kalau kita tidak terlatih mengelola pikiran, hidup kita bisa disabotase oleh suara-suara itu. Bukan karena iblis kuat, tapi karena kita mengijinkan.

Iblis suka mengetuk “pintu pikiran” kita dengan keras—dengan tuduhan seperti,
“Kamu gagal,”
“Kamu nggak layak,”
“Kamu akan kehilangan semuanya.”
Tetapi pertanyaannya: apakah kita membuka pintunya?
Ketukan yang keras tidak sama dengan masuknya ancaman. *Kita yang memutuskan pikiran mana yang boleh masuk dan tinggal.*

Bahkan ketika muncul godaan untuk tersinggung, marah, merasa dicurangi, atau diperlakukan tidak adil, kita tetap punya pilihan. Tersinggung itu pilihan!
Kita bisa memilih untuk menyimpan sakit hati dan membiarkan amarah mengambil alih, atau kita memilih berkata, “Aku percaya kebenaran Tuhan akan membelaku.”

Saat kita memilih untuk menolak tersinggung, kita sedang berkata: “Aku menolak dipimpin oleh perasaanku. Aku memilih dipimpin oleh rohku dan kebenaran Firman Tuhan.”

Hidup ini sepenuhnya di tangan kita. Bukan soal apa yang terjadi di luar, tapi bagaimana kita memilih menghidupinya.

Kita harus dilatih menguasai diri. Disiplin.
Pernah melihat anak yang tidak terlatih? Begitu susah mengaturnya….
Bayangkan kalau pikiran kita tidak pernah dilatih?
Takut, cemas, dan depresi merupakan hasil dari pikiran yang liar dan tidak diperbaharui.

Kita sering diajari untuk mendeklarasikan Firman, dan itu benar.
Tapi itu belum cukup.
Jika pikiran melanglang buana, apa yang dideklarasikan tidak akan termanifestasi. Tidak ada iman di sana!
Kita juga harus mendisiplinkan pikiran kita.
Belajar berkata: “Hei, kamu pikiranku, dan kamu pelayan dari rohku! Bukan aku yang ikut kamu, tapi kamu yang harus tunduk kepada kepada rohku. Tunduk dan selaras dengan Firman Tuhan.”

Tuhan sudah memberi kita roh yang baru—roh yang kuat, kudus, dan pemenang.
Tetapi pikiran dan tubuh?
Itu bagian kita.
Kita yang harus mendidik pikiran agar tunduk pada roh. Kita yang harus membuat tubuh menjadi hamba, bukan tuan. Kalau tubuh atau pikiran yang memimpin hidup kita, mereka akan menyeret kita menuju kehancuran.

Hidup yang dipimpin oleh roh adalah hidup yang berkemenangan.
Roh kita—yang bersatu dengan Roh Tuhan—selalu tahu apa yang benar. Tapi suara roh itu lembut. Ia tidak teriak. Maka perlu latihan untuk mendengarnya, dan keberanian untuk mentaatinya.

Mulailah hari ini: melatih pikiran kita untuk berpikir sesuai Firman, bukan perasaan.

Saat takut datang, ucapkan, “Aku tidak menerima pikiran ini. rohku percaya kepada Tuhan!” Saat tuduhan datang, ucapkan, “Tidak ada penghukuman bagi yang ada di dalam Tuhan.”
Saat ingin tersinggung, berkata, “Aku serahkan semua kepada Tuhan. Aku tidak akan kehilangan damai hanya karena emosi sesaat.”

Kemenangan kita bukan karena dunia tenang, tapi karena pikiran kita tunduk pada roh.
Dan roh kita—bersama Tuhan—selalu menang!

Yuk, ambil kendali atas pikiran dan perasaan kita.
Karena dari situlah hidup yang berkemenangan dimulai.
Siap?

“Your life is going the direction of your most dominant thoughts.” “Hidupmu sedang menuju ke arah dari pikiranmu yang paling dominan.” – Andrew Wommack.

Hidupmu sedang bergerak ke arah yang ditentukan oleh pikiranmu yang paling dominan.” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Pikiran Kita Menentukan Batasan Hidup Kita”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Pikiran Kita Menentukan Batasan Hidup Kita”

Seringkali kita datang ke hadapan Tuhan dengan harapan besar, tetapi pulang dengan kecewa. Bukan karena Tuhan tak sanggup, melainkan karena kita tidak percaya.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Firman itu seperti makanan rohani. Kadang kita dengar kotbah, belum sepenuhnya paham, tapi hati kita ‘kenyang’.”
Itu benar.

Tapi hari-hari ini, saya belajar sesuatu yang lebih dalam: Firman Tuhan bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi mengubahkan.

Firman yang hidup, bila diterima dengan hati terbuka, akan dipakai Roh Kudus untuk memperbaharui cara berpikir kita. Dan itu kuncinya. Karena pikiran kitalah yang menentukan batasan hidup kita.

Bisa saja kita mendengar ratusan kotbah, hafal banyak ayat, tapi kalau pola pikir kita belum berubah, berkat tidak bisa mengalir.

Saya suka sekali quotes ini:
“Kita dibatasi oleh pikiran kita. Ketika pikiran kita tidak bisa membayangkan, maka kita tidak bisa mempercayainya. Karena sistem kepercayaan kita dibangun atas dasar cara berpikir kita.”

Banyak di antara kita yang berdoa minta mujizat, solusi, terobosan mau pun jalan keluar, namun di dalam pikiran kita sudah menyerah, sudah pesimis. Kita tidak bisa membayangkan bahwa hidup kita bisa berubah.

Kebanyakan dari kita percaya Allah itu besar, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Yang kerap membuat tidak percaya, apakah Dia mau melakukannya untuk kita?
Apakah kita layak?
Tapi kemudian saya belajar: semua itu bukan soal kelayakan, tetapi soal iman.

Yesus saat menyembuhkan atau menjawab doa, tidak pernah minta persyaratan apa pun selain percaya.

Firman Tuhan berkata,
“Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya.”
Bukan bagi yang sempurna. Bukan bagi yang sudah kudus luar biasa. Tapi bagi yang percaya.

Dan kepercayaan itu dibangun dari cara berpikir yang benar—yang selaras dengan Firman.

Itulah sebabnya pengajaran Firman sangat penting.
Bukan sekadar pengetahuan intelektual.
Tapi pengajaran yang menuntun kita mengenal Allah secara pribadi.

Karena ketika kita mengenal Dia, percaya itu jadi mudah.
Dan saat kita percaya, Roh Kudus bekerja.

Ia mengubahkan hati. Membuka mata rohani kita. Menyesuaikan pemikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan.
Dan di situlah, mujizat dan jawaban doa mulai terjadi.

“Alkitab penuh dengan mujizat luar biasa, untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah! Jika Tuhan telah melakukannya bagi para nabi, Dia juga mau melakukannya lahi bagi kita!”

Tapi yang menarik adalah kelanjutannya:

*“Tetapi Dia tidak bisa melakukannya, kalau kita tidak percaya.”*

Gubraaaaaakkkk……

Tuhan Maha Kuasa, tetapi Dia membatasi diri-Nya pada iman kita.

Mari kita membangkitkan selera rohani kita dengan merenungkan firman-Nya. Supaya kita mulai percaya bahwa hidup kita bisa berubah.
Bahwa apa yang nabi-nabi alami, kita pun bisa alami. Bahkan lebih!

Yesus berkata, “Apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh. 14:13-14)

Luar biasa!
Tapi semuanya kembali ke satu hal:
Apakah kita percaya?

Kalau ya, mulailah dengan mengubah cara berpikir kita.

Firman adalah kuncinya.
Roh Kudus adalah pelakunya.
Dan iman adalah jalannya.

Mari, jangan puas hanya menjadi pendengar Firman.
Izinkan Firman itu mengubahkan kita.
Pikiran kita diubah.
Hati kita dijamah.
Iman kita bangkit.

Dan kita akan melihat,
Tuhan bekerja dalam hidup kita—dengan cara-cara yang ajaib!
Setuju?

Andrew Wommack

“You will never see what you can’t imagine. Your imagination is your spiritual womb.” – Andrew Wommack.

“Kita tidak akan pernah melihat apa yang tidak bisa kita bayangkan. Imajinasi kita adalah rahim rohani kita” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“HEALING WORSHIP TOUR”* * – Bagaimana Cara Mendengarkan Suara Tuhan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“HEALING WORSHIP TOUR”*
* – Bagaimana Cara Mendengarkan Suara Tuhan?

Kita semua rindu mendengar suara Tuhan. Tapi sering kali kita berkata, “Aku tidak mendengar suara Tuhan… tidak ada mimpi, tidak ada penglihatan… tidak ada firman yang ‘melompat keluar’ saat saya membacanya .”

Padahal, Tuhan selalu berbicara. Tapi… apakah kita sedang mendengarkan?

Andrew Wommack, founder Sekolah Charis, pernah bersaksi tentang bagaimana ia memulai program televisinya—bukan karena suara dari langit atau penglihatan spektakuler—tetapi karena dorongan lembut di hatinya.

Ia berkata, “Tuhan berbicara melalui impresi, pikiran, dan dorongan dalam roh kita. Seperti suara yang lembut dan tenang. Masalahnya bukan pada Tuhan yang tidak berbicara, tetapi kita yang belum belajar membedakan suara-Nya.”

Wow… mengena banget, ya?

Andrew Wommack menekankan bahwa mendengar suara Tuhan membutuhkan dua hal: keyakinan bahwa Tuhan memang berbicara, dan kemauan untuk melatih pendengaran rohani kita.

Tuhan berkata, “Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku.” Itu artinya, mendengar suara Tuhan adalah hak kita sebagai anak-anak-Nya. Tapi seperti mendengar siaran radio, kita harus menyesuaikan frekuensinya. Kalau tidak? Ya kita bisa keliru, atau tidak mendengar apa-apa.

Kita mungkin rajin berdoa, membaca firman… tetapi sesudah itu, menghabiskan waktu duduk bersama orang-orang yang bicara negatif. Menceritakan pengalaman buruk, penyakit, atau kegagalan. Lama-lama, kita dikelilingi atmosfer ketidakpercayaan.

Inilah yang harus kita hindari. Kalau kita ingin mendengar suara Tuhan, kita perlu memosisikan diri dalam atmosfer iman—bukan ketakutan.

Kita bangun atmosfer iman dengan mendengar Firman, menyembah Tuhan, dan mengisi hati kita dengan kesaksian-kesaksian yang membangkitkan harapan. Itulah sebabnya mengapa setiap kali kita berkumpul, kita saling membagikan kesaksian.

Saat seseorang bersaksi, jangan hanya berkata, “Bagus.” Tapi katakan, “Tuhan, kalau Engkau bisa lakukan itu untuk dia, Engkau bisa lakukan itu untukku juga.”

Kesaksian itu nubuatan bahwa Tuhan mau melakukannya lagi untuk kita.

Iman datang dari mendengar, dan mendengar Firman Tuhan.

Seorang pemuda lumpuh sejak lahir di Listra duduk mendengarkan Paulus sedang mengajarkan Firman, dan pemuda itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman untuk disembuhkan.

Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.

Tidak ada yang menumpangkan tangan. Tidak ada yang berdoa panjang. Tapi saat iman timbul karena mendengar Firman, mujizat langsung terjadi. Ia melompat dan berjalan!

Bayangkan, hanya dengan mendengar Firman dan dia dikelilingi suasana penuh iman, pemuda itu bisa sampai pada titik siap menerima kesembuhan yang mengubah hidupnya selamanya.

Itulah iman. Itulah ‘suara Tuhan’ yang disampaikan melalui Paulus.

Saat kita membaca buku yang ditulis oleh seseorang yang sudah mengalami Tuhan, maka yang ditulisnya adalah Firman dan kehendak Tuhan.
Ketika membacanya, bisa jadi kita mendapatkan pewahyuan saat membacanya.
Itulah ‘Suara Tuhan’ bagi kita.

Senantiasa ada orang-orang yang mengenal Tuhan lebih baik daripada kita. Belajar dari mereka, menghemat waktu dan membawa percepatan pengenalan kita akan Tuhan.

Tidak selalu juga harus persis dengan firman yang tertulis.
Kadang ada orang yang menyampaikan hikmat atau nasehat yang selaras dengan firman Tuhan, itu pun bisa merupakan ‘Suara Tuhan’, yang menjadi jawaban doa kita.

Nah … cara yang paling simple dan efektif, dengan sekolah. Contohnya, Sekolah Charis
Why?
Melalui sekolah, topik pelajarannya sudah tersusun rapi, mudah dimengerti.

Ketika saya bersekolah, mengalami percepatan yang melampaui apa yang bisa saya pikirkan.

Selain belajar topik pelajaran yang diajarkan, saya pun belajar dari pengalaman pribadi para guru. Pergumulan, kesalahan, kegagalan mau pun kesuksesan mereka. Semua itu menjadi ‘Peta Jalan’ bagi saya dalam menapaki masa depan.

Dan tidak hanya itu, teman-teman yang memilih sekolah, mereka pembelajar.
Kesaksian demi kesaksian dari pengalaman teman-teman yang menghidupi firman Tuhan juga sangat luar biasa.

Yang tanpa disadari, saya dikelilingi oleh teman-teman yang mengejar Tuhan dan firman-Nya. Suasana iman senantiasa mengelilingi, memudahkan saya mendapatkan berbagai jawaban doa serta hidup dalam berkat.

Apa yang terjadi?
Perubahan karakter dan kualitas hidup tercipta. Prioritas menjadi jelas. Nilai-nilai kebenaran terbentuk menjadi panduan kehidupan. Damai sejahtera yang melampaui segala akal menyelimuti hati.
Bebas stress, bebas ketakutan, tidak lagi responsif. Hidup jadi jauuuh lebih menyenangkan…

Saya merasa begitu diperlengkapi secara menyeluruh untuk menjalani kehidupan di masa depan.

Ada kabar menarik nich!
Salah seorang guru Charis, Daniel Amstutz, akan berkunjung ke Indonesia
Beliau akan berkunjung ke 4 kota sekaligus.

Spesialisasi pelayanan Daniel Amstutz adalah Pujian Penyembahan & Kesembuhan Ilahi.

“HEALING WORSHIP TOUR”
– “TUR IBADAH PENYEMBUHAN”

Yang akan diselenggarakan di:
? Jakarta 12 Juli 2025
? Semarang 14 Juli 2025
? Surabaya 16 Juli 2025
? Bali 18 Juli 2025.

Save The Dates!
Jangan lupa, catat tanggalnya teman-teman dan bersiaplah untuk hadir. Bawa teman dan saudara yang sakit.
Acara ini FREE….lho!

Hadir sama-sama yuk…..

“The first and most basic thing we can and must do is to keep God before our minds.” – Dallas Willard

“Hal pertama dan paling mendasar yang bisa dan harus kita lakukan adalah menjaga Tuhan tetap ada di dalam pikiran kita.” – Dallas Willard.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT*
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kuncinya, Menempatkan Diri Agar Bisa Mendengar Tuhan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kuncinya, Menempatkan Diri Agar Bisa Mendengar Tuhan…

Dalam hidup ini, setiap kita pasti percaya pada sesuatu. Bisa Firman Tuhan, bisa pendapat dokter, pengalaman pribadi, atau berita yang kita dengar. Tapi jika yang kita percayai bertentangan dengan Firman Tuhan… itulah yang disebut ketidakpercayaan.

Di tengah pergumulan, saat fakta-fakta seolah berteriak—rasa sakit, kekurangan, tekanan, atau situasi yang tampak mustahil—apa yang seharusnya kita lakukan?

Duduk. Diam. Dan mendengar.

Sederhana, tapi bukan perkara mudah. Namun, di situlah kuncinya. Kita perlu mendisiplinkan diri untuk duduk dan menempatkan diri di bawah atmosfer iman—di mana kita bisa terus mendengar dan mendengar Firman Tuhan.

Bukan mendengar keluhan orang, bukan cerita sedih, apalagi berita-berita yang menyulut ketakutan. Tapi mendengar Firman yang hidup. Firman yang penuh kuasa, yang mampu membangkitkan iman dan mengubah keadaan apa pun!

“Iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Tuhan.” Maka ketika iman kita lemah, solusinya bukan sibuk cari pertolongan ke sana kemari, tapi justru kita perlu mendengar. Bukan satu kali, tapi terus-menerus. Sampai Firman itu mengakar dan menghasilkan keyakinan yang tak tergoyahkan di dalam hati kita.

Rahab si pelacur bisa percaya dan bertindak karena dia mendengar. Dia mendengar bagaimana Tuhan membelah Laut Merah, menaklukkan dua raja besar, dan menyertai bangsa Israel. Semua orang di kota Yerikho mendengar hal yang sama, tapi hanya Rahab yang merespon dengan iman.

Dia berkata, “Aku tahu!”
Bukan karena dia melihat…
Bukan karena kejadiannya sudah terjadi…
Tapi karena dia percaya Firman itu pasti digenapi.

Sungguh luar biasa!
Kalau Rahab bisa… kita pun bisa!

Tantangan zaman ini: kita hidup dalam dunia yang dipenuhi ‘laporan jahat’. Berita-berita yang secara fakta memang benar—penyakit, bencana, krisis ekonomi—namun sering kali justru membunuh iman. Maka, kalau kita lebih percaya pada fakta daripada Kebenaran Firman Tuhan, kita sedang membiarkan ketidakpercayaan bertumbuh diam-diam.

Pengalaman tidak bisa dijadikan standar kebenaran. Firmanlah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu.

Karena itu, mari kita periksa: Apa yang sedang kita dengar setiap hari? Apakah yang kita dengar sedang membangun iman… atau malah menumbuhkan ketakutan?

Salah satu rahasia orang-orang yang hidup dalam dimensi mujizat: Mereka menjaga pintu hati mereka.

Apa yang masuk lewat telinga dan mata akan menentukan arah hidup kita. Jangan remehkan obrolan, tontonan, atau bacaan—semuanya punya kuasa membentuk pola pikir dan akhirnya… menentukan hasil hidup.

Sebaliknya, ketika kita menempatkan diri dalam lingkungan yang dipenuhi Firman, kesaksian, dan orang-orang yang percaya… atmosfer iman tercipta. Dan saat itulah, mujizat menjadi nyata.

Tuhan pernah menegur dengan lembut dalam hati,
“Kamu tak perlu tahu bagaimana caranya. Cukup tahu bahwa Aku sanggup.”

Dan benar. Saat kita duduk, diam, dan terus mendengar—iman itu tumbuh. Bukan karena kita memaksakan percaya, tapi karena benih Firman menyatu dengan roh kita… dan buahnya pun muncul dengan sendirinya.

Mungkin hari ini belum terasa perubahan. Tapi jangan berhenti mendengar. Teruskan. Karena Firman itu hidup dan aktif. Pada suatu ketika, pada titik tertentu …….. Ia akan menjadi rhema—pewahyuan pribadi dari Tuhan—yang menggerakkan tangan-Nya bekerja dalam hidup kita.

Jangan menunggu semuanya terlihat baik baru percaya. Tapi mari katakan bersama:
“Aku tahu, tahu dan tahu… Tuhanku sanggup dan setia menolongku!”

Seperti Rahab,kita pun akan melihat tangan Tuhan bekerja—melampaui nalar, melampaui harapan.

“Faith sees the invisible, believes the unbelievable, and receives the impossible.” – Corrie ten Boom.

“Iman melihat yang tak kelihatan, percaya pada yang tak masuk akal, dan menerima yang mustahil – Corrie ten Boom.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4