Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Kebenaran Diri – Self Righteousness

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kebenaran Diri – Self Righteousness

Apa itu? Menurut Andrew Wommack, banyak orang Kristen hidup dalam tekanan tanpa sadar karena masih berjuang membuktikan diri di hadapan Tuhan.

Ia menyebutnya “kebenaran diri” (self-righteousness) — yaitu usaha untuk menjadi benar dengan kekuatan sendiri, bukan karena percaya pada apa yang Yesus sudah lakukan di kayu salib. Kebenaran diri terdengar rohani, tapi sebenarnya membuat orang percaya kehilangan damai dan tidak pernah benar-benar menikmati kasih karunia Tuhan.

Orang yang hidup dalam kebenaran diri sering berpikir, “Tuhan memberkatiku karena aku rajin doa, baca Alkitab, dan melayani.”
Mereka berasumsi bahwa kasih Tuhan bergantung pada performa mereka. Padahal, itu artinya mereka sedang percaya pada diri sendiri, bukan pada Kristus.

Roma 10:3 berkata, “Karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”

Selama seseorang masih mencoba menjadi cukup baik supaya diterima Tuhan, ia sebenarnya menolak kebenaran sejati — kebenaran yang diberikan sebagai anugerah, bukan hasil usaha.

Kebenaran sejati, bukanlah pencapaian, tapi pemberian, Anugerah. *Kita dijadikan benar bukan karena sudah sempurna, tapi karena Yesus sudah menukar hidup-Nya dengan kita.*
Ia menegaskan, “Kamu tidak menjadi benar karena melakukan hal yang benar, kamu melakukan hal yang benar karena kamu sudah benar.”
Perbuatan baik bukanlah akar kebenaran, melainkan buah dari kebenaran.
Dan setiap kali kita mengandalkan performa sendiri, kasih karunia berhenti bekerja.

Galatia 5:4 menulis, “Kamu lepas dari Kristus, kamu yang mencari pembenaran oleh hukum Taurat; kamu jatuh dari kasih karunia.” Jadi kuncinya adalah berhenti berusaha menjadi benar dan mulai percaya bahwa kita sudah dibuat benar.

Masalahnya, banyak orang sulit menerima bahwa kebenaran itu gratis. Kita terbiasa berpikir harus “berbuat sesuatu” agar layak. Tapi justru di situlah perang iman terjadi — percaya bahwa kasih dan penerimaan Tuhan tidak pernah diukur dari performa kita, melainkan dari karya Kristus.

Kebenaran sejati adalah identitas, bukan target moral. Ia bukan hasil perubahan perilaku, melainkan perubahan posisi: dari manusia berdosa menjadi anak Allah.

Firman Tuhan berkata dalam Yesaya 54:14, “Engkau akan meneguhkan dirimu di dalam kebenaran.” Artinya, bukan lagi berusaha menjadi benar, tetapi membangun kesadaran bahwa kita sudah benar di dalam Kristus.
Ini bukan pekerjaan Allah untuk kita, tetapi tanggung jawab pribadi — meneguhkan diri dalam kebenaran yang sudah menjadi milik kita.

Meneguhkan diri berarti membangun kesadaran dan pola pikir baru. Kita belajar berkata pada diri sendiri, “Saya benar, bukan karena saya sempurna, tetapi karena Yesus menjadikan saya benar.” Pikiran ini harus diulang sampai tertanam kuat di hati. Kita merenungkannya, mengucapkannya, dan mempraktikkannya dalam cara berpikir, berbicara, dan bereaksi. Kebenaran tidak akan berdampak sampai kita berpikir dan berbicara sesuai dengan kebenaran itu.

Saat seseorang mulai hidup dari kesadaran ini, banyak hal berubah. Ia tidak lagi hidup dalam rasa bersalah, takut, atau tertekan. Ia berhenti menilai diri dari masa lalu, dan mulai melihat dirinya sebagaimana Allah melihatnya. Tidak ada lagi tempat bagi rasa malu, kegagalan, atau penghukuman. Firman Tuhan menjanjikan, ketika kita meneguhkan diri di dalam kebenaran, kita akan jauh dari ketakutan, jauh dari penindasan, dan bebas dari tekanan.

Meneguhkan diri di dalam kebenaran bukan berarti menjadi sombong, melainkan hidup dengan identitas yang benar. Kita tidak sedang berusaha menjadi siapa pun — kita hanya hidup sebagai siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.
Saat kita berkata, “Saya di dalam Dia, dan Dia di dalam saya,” kita sedang melatih diri untuk berpikir seperti orang benar, berbicara seperti orang benar, dan bereaksi seperti orang benar.

Kebenaran membuat kita berhenti hidup dalam ketakutan dan mulai berjalan dalam damai. Ia memindahkan kita dari hidup yang digerakkan rasa bersalah ke hidup yang digerakkan kasih karunia. Kita tidak lagi hidup berdasarkan perasaan, tetapi berdasarkan identitas baru.

Tugas kita bukan mencoba menjadi benar, melainkan meneguhkan bahwa kita sudah dibuat benar. Ketika kesadaran itu tumbuh, hidup menjadi ringan. Kita berhenti berjuang untuk diterima dan mulai menikmati hubungan yang manis dengan Bapa. Karena kebenaran sejati bukan hasil kerja kita, melainkan hadiah dari kasih Tuhan yang sempurna.

Siap praktik? Yuuuk……


*”It is not what you do that makes you righteous, but what you believe about what Jesus has done.” – Andrew Wommack*

*”Bukan apa yang kita lakukan yang membuat kita benar, tetapi apa yang kita percayai tentang apa yang telah Yesus lakukan. – Andrew Wommack*

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Carilah Dahulu Kerajaan Allah – Jejak Tangan Tuhan di Balik Pintu yang Tak Terduga”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Carilah Dahulu Kerajaan Allah – Jejak Tangan Tuhan di Balik Pintu yang Tak Terduga”

Cerita Daniel dan Kristin ternyata belum selesai.
Ada sahabat saya, B. Silvy, seorang wanita berhati lembut yang gemar mengajak teman-teman gereja berlibur atau “healing” ke rumah sahabatnya di Solo — bergantian, dua atau tiga orang setiap kali.

Suatu hari, ia terpikir untuk mengundang Daniel dan Kristin.
Namun, mereka tidak langsung mengiyakan.
Mereka mempertimbangkan jadwal, harus izin kerja lebih dulu, memastikan tanggung jawab di tempat tugas beres.
Itu hal kecil, tapi mencerminkan karakter — orang yang tahu menempatkan diri dan menjaga kepercayaan.

Setibanya di Solo, mereka diajak menikmati keindahan Perbukitan Menoreh. Dalam obrolan santai, B. Silvy terenyuh mendengar bahwa pasangan ini belum pernah berbulan madu selama 15 tahun menikah.
Ketika melihat foto rumah kontrakan mereka yang sederhana dan sering kebanjiran saat hujan, hatinya pun tersentuh.

Ia lalu bertanya tentang harga rumah di daerah itu.
Setelah tahu angkanya, ia berkata dalam hati, “Aku ingin membelikan rumah untuk mereka.”
Ketika ia menceritakan niat itu kepada anak-anaknya, mereka menjawab ringan,
“Toh, Mami tidak akan tambah kaya atau miskin kalau membeli rumah itu.”

Luar biasa. Like mother, like son.

Yang menarik, sebenarnya B. Silvy tidak mengenal dekat Daniel dan Kristin. Tapi ia peka terhadap suara Tuhan.
Ketika saya bertanya,
“Kenapa mereka yang dibelikan rumah, bukan yang lain?”
Ia hanya tersenyum dan berkata,
“Entahlah, aku merasa Tuhan mendorong… jadi aku nurut saja.”

Menakjubkan.
Dan di situlah letak keindahan ketaatan — ia tidak menghitung untung-rugi, hanya mengikuti tuntunan Roh Kudus.

B. Silvy bukan tipe yang hanya pandai berkata-kata tentang firman, tapi kehidupannya sendiri menjadi khotbah yang hidup.
Ia pelaku firman sejati.
Tak heran, berkat seperti mengejar hidupnya.
Ia adalah bendahara Kerajaan Allah yang setia.
Tuhan tahu setiap berkat yang dipercayakan kepadanya tidak akan berhenti di tangannya, melainkan mengalir untuk memberkati banyak orang.

Hidupnya membuktikan prinsip sederhana namun pasti:
*Apa yang ditabur, itu pula yang dituai.*
Kalau tidak menabur benih, rasanya tidak adil kalau berharap panen, bukan?

B. Silvy menabur dalam ketaatan, kasih, dan kemurahan hati — dan menuainya dalam sukacita saat melihat kehidupan orang lain dipulihkan.

Lebih indah lagi, Daniel dan Kristin tidak bersikap aji mumpung.
Mereka mencari rumah yang sederhana, menawar dengan hati-hati agar tidak membebani.
Mereka bahkan memberikan perincian setiap rupiah yang digunakan.
Setelah transaksi selesai, ayah Kristin menelpon mengucapkan terima kasih sambil bercerita tentang rencana merenovasi rumah itu — pekerjaannya memang tukang renovasi.
Keluarga yang tahu berterima kasih, dan itu nilai-nilai yang semakin langka hari ini.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali terkejut.
Kristin ingin mengembalikan modal kecil yang dulu pernah dipinjam — tanpa ada yang menagih.
Mereka menabung sedikit demi sedikit sampai bisa melunasinya.
Ketika saya bercerita pada B. Silvy, ia tersenyum dan berkata,

“Pantesan Tuhan bela mereka…”

Benar juga.
Tuhan tidak memberkati dengan menjatuhkan uang dari langit.
Ia memakai manusia — tetapi hanya mereka yang hidupnya pantas dipercaya yang akan Tuhan gerakkan untuk menjadi saluran berkat.

Integritas dan kerendahan hati Daniel serta Kristin memancarkan wibawa Allah.
Mereka tidak berusaha menarik simpati, tapi iman dan harapan mereka terlihat jelas dalam tindakan dan sikap hidup.

Saya sempat berpikir, masuk akal juga…
Kalau seseorang hidupnya menyulitkan, tidak jujur, suka memanfaatkan keadaan, atau bersikap seenaknya, “mbencekno” kata Orang Surabaya — siapa yang akan tergerak untuk menolong?
Manusia mungkin melihat tampilan luar, tapi sikap hati seseorang selalu terpancar lewat perbuatannya.
Dan sering kali, itulah tanda yang Tuhan pakai untuk menggerakkan bendahara-bendahara surgawi-Nya.

Tuhan melihat hati, tapi manusia melihat yang tampak.
Ketika hati kita benar di hadapan Tuhan, sikap dan tindakan kita mencerminkan kasih-Nya — dan itu yang membuka jalan bagi berkat-Nya mengalir.

Seperti Daniel dan Kristin, mereka sungguh-sungguh mencari dahulu Kerajaan Allah, dan Tuhan sendiri yang menambahkan semuanya — bahkan dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.

Tuhan tidak menurunkan uang dari langit.
Ia menggerakkan hati manusia.
Namun, hanya mereka yang hidupnya mencerminkan kasih dan integritas Kristus yang dapat dipercaya, yang menjadi wadah berkat itu.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini?
Tunggu kelanjutannya di artikel berikutnya: “Hikmat yang Tersembunyi…”


“Character is how you treat those who can do nothing for you.”— Malcolm Forbes.

“Karakter sejati tampak dari cara seseorang memperlakukan orang yang tak bisa memberi imbalan apa pun.” — Malcolm Forbes

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Belajar Bekerja Sama dengan Hukum-Hukum Allah

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Belajar Bekerja Sama dengan Hukum-Hukum Allah

Beberapa tahun lalu, saya baru sungguh-sungguh memahami satu kebenaran besar: Tuhan tidak akan melanggar hukum-hukum-Nya sendiri.
Dan karena dunia ini diciptakan berdasarkan hukum-hukum itu, kita tidak bisa sekadar berdoa tanpa mengerti cara kerja-Nya.

Sama seperti hukum gravitasi yang berlaku bagi semua orang, hukum rohani juga tetap — siapa pun yang menaatinya akan mengalami hasilnya.
Tuhan sudah menetapkan caranya, dan sekarang giliran kita untuk menyesuaikan diri agar kuasa-Nya bisa bekerja dalam hidup kita.

Saya dulu sering berpikir, kalau saya berdoa sungguh-sungguh, Tuhan pasti bergerak. Tapi kenyataannya, banyak doa yang tak kunjung dijawab.
Bukan karena Tuhan tidak mau, tapi karena saya tidak mengerti bagaimana hukum rohani itu bekerja.

Firman Tuhan berkata, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, menurut kuasa yang bekerja di dalam kita.” (Efesus 3:20).
Perhatikan bagian akhirnya — menurut kuasa yang bekerja di dalam kita.
Tuhan memang Mahakuasa, tapi Ia tidak bekerja secara otomatis. Kuasa itu perlu diaktifkan lewat iman dan tindakan kita yang sesuai dengan Firman.

Andrew Wommack menjelaskan, “Allah tidak akan bergerak tanpa kerja sama Anda. Kehendak bebas Anda adalah sesuatu yang tidak akan Dia langgar.”
Artinya, tanggung jawabnya di tangan kita. Tuhan sudah memberi kuasa, tapi kita harus menyalakannya dengan iman.

Mazmur 107:20 berkata, “Disampaikan-Nya firman-Nya, dan disembuhkan-Nya mereka.”
Amsal 4:22 menambahkan, “Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.”

Firman Allah adalah resep dari Dokter Agung.
Kalau dokter memberikan obat tapi pasiennya tidak meminumnya, tentu tidak ada hasilnya. Begitu pula dengan Firman Tuhan — kalau kita tidak ‘meminumnya’ setiap hari lewat perenungan, pengakuan, dan tindakan iman, maka “obat rohani” itu tidak akan bekerja.

Saya mulai menyadari, kunci kesembuhan, damai, dan berkat bukan pada doa panjang atau air mata, tetapi pada ketaatan terhadap hukum-hukum Allah.
Firman-Nya adalah benih kehidupan. Dan setiap benih akan menghasilkan buah kalau ditanam, disiram, dan dijaga.

Kita tidak bisa berdoa minta damai, lalu tetap membiarkan pikiran dipenuhi kekhawatiran.
Tidak bisa minta kesembuhan, tapi setiap hari mengucapkan, “Aduh, sakitku makin parah.”
Hidup kita akan selalu bergerak ke arah pikiran yang dominan.

Amsal 23:7 berkata, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia.”

Artinya, kita menjadi seperti yang kita pikirkan.
Kalau pikiran kita penuh ketakutan, hasilnya adalah kecemasan.
Kalau pikiran kita tertuju pada Tuhan, hasilnya adalah damai sejahtera.

Roma 8:6 menegaskan, “Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”

Jadi sebenarnya, hidup ini berjalan sesuai arah pikiran kita — bukan karena Tuhan menentukan segalanya, tapi karena kita memberi izin lewat apa yang kita percayai dan pikirkan.

Yang paling mengubah saya adalah kesadaran ini:
Sayalah masalahnya, bukan Tuhan.

Dulu saya sering bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau tidak menolong?”
Sampai akhirnya saya sadar, Tuhan tidak pernah berubah. Firman-Nya tetap sama, tapi sayalah yang perlu belajar bagaimana hukum-hukum-Nya bekerja.

Ketika saya menyesuaikan diri dengan Firman, segalanya mulai berubah.
Hidup saya jadi lebih tenang, iman bertumbuh, dan doa-doa saya lebih sering “terjawab” — bukan karena Tuhan baru mendengar, tapi karena saya baru tahu caranya.

Kebenarannya sederhana:
Tuhan sudah menyediakan semuanya.
Ia sudah memberi kuasa, berkat, dan kesembuhan.
Namun, Ia tidak bisa melanggar hukum-Nya sendiri hanya karena kita tidak tahu cara kerjanya.

Kalau kita mau hasil yang berbeda, kita perlu berpikir berbeda.
Isi pikiran kita dengan Firman, bukan dengan kekhawatiran.
Arahkan hati pada kebenaran, bukan pada ketakutan.
Dan biarkan kuasa Allah bekerja melalui iman kita.

Hukum-hukum Tuhan itu tetap — tapi begitu kita belajar berjalan bersamanya, hidup kita tidak akan pernah sama lagi.

Siap praktik? Yuuuk…..

“God doesn’t change His will to fit your plans; He invites you to adjust your life to His will.” – Henry Blackaby.

“Tuhan tidak mengubah kehendak-Nya untuk menyesuaikan rencanamu; la mengundangmu menyesuaikan hidupmu dengan kehendak-Nya – Henry Blackaby.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Kalau Tuhan Itu Baik, Kenapa Ada Perintah Menghancurkan?”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Kalau Tuhan Itu Baik, Kenapa Ada Perintah Menghancurkan?”

Tulisan ini tidak sedang membenarkan kekerasan. Justru sebaliknya. Saya ingin kita melihat satu sisi yang sering dilupakan: betapa baiknya Tuhan itu, penuh kesabaran, dan tidak semena-mena dalam menghakimi.

Saat membaca ayat seperti Ulangan 20:16, di mana Tuhan memerintahkan Israel untuk membinasakan seluruh penduduk Kanaan tanpa sisa, jujur saja, kita bisa merasa bingung, bahkan terganggu. “Mengapa Tuhan yang penuh kasih bisa mengeluarkan perintah seperti itu?” Tapi kalau kita hanya membaca satu ayat dan menarik kesimpulan dari situ, kita akan kehilangan konteks besar dari cerita dan karakter Tuhan.

Mari kita lihat lebih dalam. Pertama, tidak semua orang Kanaan dimusnahkan. Tuhan bukanlah sosok kejam yang langsung menghabisi tanpa pandang bulu. Ada orang-orang Kanaan yang memilih percaya kepada Tuhan, dan mereka disambut—bukan dibunuh. Contoh paling terkenal adalah Rahab, seorang perempuan di Yerikho, yang menyelamatkan pengintai Israel dan menyatakan imannya kepada Tuhan Israel. Apa yang terjadi? Dia diselamatkan bersama keluarganya dan bahkan masuk dalam garis keturunan Yesus. Kita juga mengenal Uria orang Het, seorang prajurit setia yang hidup di zaman Daud. Ia pun berasal dari suku Kanaan. Artinya, pintu pertobatan selalu terbuka bagi siapa pun, termasuk orang Kanaan.

Kedua, penghakiman Tuhan tidak terjadi secara tiba-tiba. Tidak seperti manusia yang gampang meledak emosinya, Tuhan sangat sabar. Ketika Tuhan berbicara kepada Abraham, Ia sudah tahu bahwa Kanaan sedang menuju kejahatan yang dalam, tapi Ia berkata bahwa keturunannya harus tinggal di Mesir selama 400 tahun. Kenapa? Karena “kesalahan orang Amori itu belum sampai puncaknya” (Kejadian 15:16). Tuhan memberi waktu 600 tahun penuh—dari saat Abraham menerima janji sampai bangsa Israel masuk tanah Kanaan. Enam abad! Itu bukan Tuhan yang mudah tersinggung. Itu Tuhan yang menunggu, terus memberi kesempatan, walau mereka terus menolak.

Namun, ketika bangsa Kanaan akhirnya benar-benar melampaui batas, situasinya sudah gawat. Mereka tidak hanya berdosa, tapi sudah hidup dalam penyembahan berhala ekstrem, mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban bakaran, praktik okultisme, dan kekerasan yang mengakar. Tuhan tidak membenci orang Kanaan—Tuhan membenci kejahatan yang menguasai mereka. Jika dibiarkan, kejahatan itu akan menggerogoti Israel dari dalam. Tuhan bukan sedang melakukan pembersihan etnis. Ia sedang menyelamatkan umat-Nya dari pengaruh yang mematikan.

Kita semua tahu, dosa tidak bisa diajak kompromi. Kalau tidak dibinasakan, ia akan membinasakan kita. Tuhan tahu bahwa jika Israel tidak menguasai Kanaan, justru Israel yang akan dikuasai. Dan itulah yang sering kali terjadi di kemudian hari, ketika mereka gagal menaati perintah Tuhan sepenuhnya. Mereka mulai menyembah berhala, mengikuti praktik keji orang Kanaan, dan menuai kehancuran karena ketidaktaatan mereka sendiri.

Saat membaca kisah ini, kita harus belajar satu hal penting: Tuhan panjang sabar, penuh kasih, tapi juga adil. Ia tidak pernah menghukum tanpa alasan. Ia tidak bertindak tanpa peringatan. Ia tidak membinasakan tanpa kesempatan untuk bertobat. Ia adalah Tuhan yang sabar—bahkan sangat sabar. Tapi ketika manusia dengan sengaja memilih untuk menolak-Nya berkali-kali, ada titik di mana Tuhan bertindak untuk melindungi kebenaran dan umat-Nya.

Hari ini, kita hidup di era kasih karunia. Tuhan tetap panjang sabar dan tidak menghendaki seorang pun binasa. Tapi jangan salah. Kasih Tuhan bukan berarti kita bisa mempermainkan kebenaran. Jangan tunggu sampai waktunya habis. Jangan tunda sampai pintu tertutup. Kalau hari ini Tuhan menegur atau memanggil kita, itu tanda bahwa kasih-Nya masih bekerja.

Karena Tuhan yang sama yang sabar menanti orang Kanaan bertobat selama 600 tahun… adalah Tuhan yang juga sabar menanti kita. Tapi jangan salah paham—kesabaran bukan berarti kelemahan. Itu kasih yang menanti dengan harapan. Jangan sia-siakan.

“God’s mercy is so great that you may sooner drain the sea of its water, or deprive the sun of its light, or make space too narrow, than diminish the great mercy of God.” – Charles Spurgeon

“Kasih setia Tuhan begitu besar, hingga kita lebih mungkin mengeringkan lautan, memadamkan matahari, atau menyusutkan alam semesta, daripada mengurangi belas kasih-Nya.” – Charles Spurgeon

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Pelayanan Itu Panggilan, Bukan Sekadar Pilihan

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Pelayanan Itu Panggilan, Bukan Sekadar Pilihan

Banyak orang berpikir pelayanan adalah pilihan karier. Seperti memilih profesi lain, selama punya hati yang baik dan motivasi tulus, ya sah-sah saja melayani. Tetapi kebenarannya, pelayanan bukanlah profesi, melainkan panggilan. Bukan sekadar soal niat baik, melainkan mandat ilahi yang diberikan langsung oleh Tuhan.

Paulus tidak pernah mencalonkan diri sebagai rasul. Ia tidak ikut “program pelatihan pelayanan” lalu lulus ujian jadi rasul. Ia dipanggil secara langsung dan supranatural oleh Tuhan. Begitu Allah memanggil, saat itu juga dia menjadi rasul. Bukan nanti, bukan sambil belajar dulu. Panggilan Tuhan bukan trial and error. Begitu Tuhan tetapkan, selesai.

Sama seperti Sostenes, mantan kepala rumah ibadat orang Yahudi di Korintus. Dulu ia menentang Paulus, tapi kemudian bertobat dan justru menjadi rekan sepelayanan Paulus. Tidak ada sekolah teologi mana pun yang bisa mengubah hati seperti itu. Itu murni karya Roh Kudus melalui panggilan Tuhan.

Di dunia, seseorang bisa jadi pemimpin lewat pencapaian atau pemilihan.
Tapi di Kerajaan Allah, seorang pemimpin rohani tidak boleh menetapkan dirinya sendiri. Hanya Tuhan yang berhak memanggil dan menetapkan. Mengapa? Karena hanya panggilan Tuhan yang disertai pengurapan supranatural.
Dan hanya pengurapan itu yang mampu memerdekakan orang dari belenggu dosa, ketakutan, dan kepahitan hidup.

Sering terdengar ungkapan, “Saya sedang belajar jadi pendeta.” Secara Alkitabiah, ini rancu. Kita memang bisa belajar komunikasi, leadership, atau manajemen jemaat supaya pelayanan lebih efektif.
Tapi menjadi hamba Tuhan bukanlah hasil belajar. Itu buah panggilan. Kita bisa menangkap panggilan Tuhan dan meresponsnya, tetapi tidak bisa “menciptakan” panggilan itu lewat ambisi pribadi.

Sayangnya, ada orang-orang dengan niat tulus masuk pelayanan padahal tidak pernah menerima panggilan dari Tuhan. Mereka ingin menolong, ingin mengubah hidup orang lain, ingin jadi terang. Semuanya mulia. Tetapi niat baik saja tidak cukup. Jika tidak dipanggil, pelayanan akan terasa berat, kering, dan penuh frustrasi.

Melayani tanpa panggilan ibarat mencoba menyalakan api tanpa bahan bakar. Mungkin menyala sebentar, tetapi cepat padam. Sebaliknya, ketika seseorang sungguh dipanggil Tuhan, di tengah tekanan, tantangan, bahkan pengkhianatan, ia tetap bertahan. Bukan karena kuatnya pribadi, tetapi karena pengurapan Tuhan yang menopangnya.

Panggilan bukan soal gelar. Banyak orang punya titel rohani, tetapi tidak membawa kuasa. Ada juga orang sederhana, tidak terkenal, tapi ketika bicara, kuasa Tuhan mengalir dan menyentuh hati. Itu bukan karena mereka hebat, melainkan karena mereka benar-benar dipanggil.

Ketika seseorang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, saat ia berbicara, mengajar, atau bersaksi, kuasa Tuhan akan mengalir. Kristus memang sudah tinggal dalam roh setiap orang percaya, tetapi seberapa besar kuasa itu bekerja tergantung seberapa intim kita dengan-Nya dan seberapa besar kita memberi ruang bagi Tuhan untuk berkarya melalui hidup kita. Tuhan memberi manusia kehendak bebas, dan Dia menghargainya.

Jadi, pelayanan itu bukan profesi yang bisa dipelajari lalu dipromosikan. Itu urusan panggilan—dan hanya bisa ditangkap lewat hubungan pribadi dengan Tuhan. Kalau Tuhan yang memanggil, Dia juga yang melengkapi, mengurapi, dan menyertai. Kalau bukan Tuhan yang memanggil, sehebat apa pun, hasilnya hanya akan melelahkan dan merusak.

Mari kita doakan dan dukung mereka yang sungguh-sungguh dipanggil Tuhan dalam pelayanan. Dan bagi kita yang sedang mencari panggilan hidup, jangan buru-buru loncat ke mimbar. Duduklah lebih dulu di kaki Tuhan. Dengarkan suara-Nya. Kalau Dia memanggil, tidak ada pintu yang tertutup. Tapi kalau Dia belum memanggil, lebih baik setia dulu di tempat kita sekarang. Kesetiaan di perkara kecil seringkali adalah ujian sebelum panggilan besar datang.

Pelayanan itu panggilan. Dan jika benar dari Tuhan, akan terasa seperti napas—mengalir alami, tidak dibuat-buat, dan membawa dampak nyata.

God does not call the qualified, He qualifies the called.” – Oswald Chambers.

“Tuhan tidak memanggil orang yang sudah layak, tetapi Dia melayakkan orang yang Dia panggil.” – Oswald Chambers.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3