Stop Menunggu Perasaan, Mulai Dari Ketaatan
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Stop Menunggu Perasaan, Mulai Dari Ketaatan
Salah satu jebakan paling halus dalam kehidupan rohani adalah ini: kita terlalu sibuk menunggu perasaan. Merasa siap dulu. Merasa penuh kuasa dulu. Merasa berani dulu. Merasa diurapi dulu. Baru setelah itu mau melangkah.
Padahal iman tidak pernah bekerja dengan sistem tunggu perasaan. Iman bekerja dengan ketaatan.
Banyak orang berkata,
“Aku belum merasa ada kuasanya.”
“Aku belum merasa siap pelayanan.”
“Nanti kalau rohaninya sudah lebih kuat.”
Masalahnya, kalau kita terus menunggu perasaan, kita bisa berhenti di situ sampai tua. Bahkan sampai napas terakhir.
Reinhard Bonnke pernah menulis bahwa baptisan Roh Kudus memberikan kuasa yang permanen, tetapi bukan perasaan berkuasa yang permanen. Ini penting sekali. Jangan salah ukur.
Alkitab sendiri berkata,
“Kami mempunyai harta ini dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Korintus 4:7)
Kuasa itu ada. Tapi dibungkus dalam tubuh rapuh, perasaan naik turun, kondisi yang tidak selalu ideal.
Bonnke memberi ilustrasi tentang kabel listrik bertegangan tinggi. Dari luar kelihatannya biasa saja, entah sedang dialiri listrik atau tidak. Tapi saat arus mengalir, kuasanya nyata.
Begitu juga kita. Kuasa Tuhan di dalam kita tidak untuk terus dirasakan, tetapi untuk dipakai saat dibutuhkan.
Saya pernah mengalami ini sendiri. Dalam masa kelelahan dan tekanan, waktu itu saya tidak merasa rohani sama sekali. Tidak ada perasaan “diurapi”. Tidak ada semangat meluap-luap. Yang ada hanya rasa lelah. Tapi ada tugas pelayanan yang harus dijalankan. Tidak ada pilihan mundur.
Dan saya bertindak dengan iman.
Waktu mulai melangkah, waktu mulai berbicara, waktu mulai setia melakukan bagian saya, sesuatu terjadi. Bukan karena saya tiba-tiba merasa kuat, tapi karena Tuhan setia pada janji-Nya.
“Yesus berkata: Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku…” (Kisah Para Rasul 1:8)
Perhatikan, bukan berkata: “Kamu akan merasa kuat.”
Tetapi: “Kamu akan menerima kuasa.”
Kuasa itu bukan sensasi. Kuasa itu realitas rohani.
Sering kali masalah kita adalah ingin merasakan dulu baru melangkah. Padahal Tuhan mau kita melangkah dulu baru mengalami.
Dalam 2 Timotius 1:7 tertulis,
*“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Roh yang membangkitkan kekuatan. Artinya kekuatan itu ada. Tinggal mau atau tidak kita memakainya.
Tapi ada satu hal yang harus jujur kita akui: Tuhan tidak memaksa.
Dia bertanya, seperti di Yesaya 6:8,
“Siapakah yang akan Kuutus? Dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”
Bukan siapa yang paling siap.
Bukan siapa yang paling merasa berkuasa.
Tapi siapa yang mau.
Karena di Kerajaan Allah, tidak ada wajib militer. Ada ketaatan sukarela.
Banyak orang berdoa supaya Tuhan memberi mereka “dorongan kuat” sampai akhirnya mereka tidak bisa menolak. Mereka ingin dipaksa jadi rajin, dipaksa berani, dipaksa melayani. Tapi itu bukan cara kerja Tuhan.
Tuhan menghormati kehendak kita.
Yakobus 2:17 mengingatkan,
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
Iman yang cuma menunggu perasaan, tapi tidak melangkah, tidak akan pernah melihat kuasa itu bekerja.
Kuasa Tuhan itu bukan seperti lampu hias yang bikin kita merasa hangat. Kuasa Tuhan itu seperti mesin yang bekerja saat kita menekan pedal.
Kalau kita tidak menekan, tidak akan ada gerakan.
Jangan tunggu merasa berani. Lakukan yang benar.
Jangan tunggu merasa kuat. Ambil langkah iman.
Jangan tunggu merasa diurapi. Ketaatan lebih berharga dari sensasi.
Karena firman Tuhan juga berkata:
“Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17)
Bukan oleh perasaan.
Bukan oleh mood.
Bukan oleh suasana hati.
Dan pelajaran terbesarnya adalah ini:
Saat kita berdiri dan melangkah, meskipun hati kosong dan tubuh lelah, di situlah kuasa Tuhan sering bekerja paling nyata.
Bukan karena kita kuat.
Tapi karena Dia setia.
Praktik yuuuk….
“Faith doesn’t wait for feelings. It acts on God’s Word.” – Reinhard Bonnke.
“Iman tidak menunggu perasaan. Iman bergerak berdasarkan Firman Tuhan” – Reinhard Bonnke.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan







