Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Ketika Tidak Dipilih, Tetapi Tetap Dilihat.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Tidak Dipilih, Tetapi Tetap Dilihat.

Ada masa dalam hidup ketika kita sadar… kita bukan pilihan utama.
Bukan yang paling diinginkan.
Bukan yang paling diutamakan.
Mungkin hanya ada karena keadaan.
Kisah Lea di Kejadian 29 terasa dekat dengan realitas seperti ini.

Ia menikah dengan Yakub, tetapi bukan karena cinta. Hati Yakub tertuju pada Rahel. Perbandingan sudah terlihat sejak awal. Rahel digambarkan cantik dan menawan. Lea hanya disebut “lemah lembut matanya.”

Yakub bekerja tujuh tahun demi Rahel. Itu menunjukkan dengan jelas ke mana hatinya condong.

Namun kehidupan Lea tidak berhenti di titik itu.
Kejadian 29:31 mencatat sesuatu yang sederhana tetapi sangat dalam:
“Tuhan melihat bahwa Lea tidak dicintai.”
Tuhan melihat.

Itu titik awal perubahan.
Lea melahirkan Ruben, Simeon, dan Lewi.
Dan setiap nama membawa harapan:
“Sekarang suamiku akan mengasihi aku.”

Ada kerinduan untuk diterima. Untuk dilihat. Untuk dianggap berarti.
Bukankah kita sering melakukan hal yang sama?

Mencoba menjadi lebih.
Memberi lebih.
Berusaha lebih keras.
Bukan karena panggilan, tetapi karena ingin diterima.
Namun semua usaha itu tidak pernah benar-benar menenangkan hati.
Sampai satu momen terjadi.

Ketika anak keempat lahir, Lea berkata:
“Sekarang aku akan memuji TUHAN.”
Ia menamai anak itu Yehuda.
Sebuah pergeseran terjadi.
Bukan lagi, “Sekarang suamiku akan…”
Tetapi, “Sekarang aku akan…”
Fokusnya berpindah.
Dari mencari cinta manusia
menjadi merespons kasih Tuhan.

Dan dari titik itu, kisahnya bergerak ke arah yang tidak terduga.
Dari Lea lahir Lewi, suku imam.
Dari Lea lahir Yehuda, suku raja.
Melalui Yehuda, garis keturunan itu berlanjut hingga Daud.
Dan dari Daud, lahirlah Yesus.
Warisan yang mengalir dari hidup Lea tidak ditentukan oleh bagaimana manusia melihatnya, tetapi oleh bagaimana Tuhan bekerja di dalam kisahnya.

Terlebih lagi kita yang hidup di Perjanjian Baru mengenal Yesus.
Itu jauh lebih luar biasa.
Dia mati untuk kita ketika kita masih berdosa.
Saat hidup kita masih berantakan,
Yesus tetap memilih untuk memberikan diri-Nya.
Dunia bisa menolak kita.
Manusia bisa tidak menerima kita.
Tetapi Yesus rela mati bagi kita… saat kita masih amburadul.

Seperti anak bungsu yang telah menghabiskan warisannya.
Ia pulang hanya berharap diterima sebagai pekerja.

Namun sang ayah melihatnya dari jauh… dan berlari.
Ia diberi jubah.
Tanda pemulihan identitas.
Ia diberi kasut.
Tanda bahwa ia bukan budak.
Ia diberi cincin.
Tanda otoritas sebagai anak.
Ia tidak sekadar diterima.
Ia dipulihkan.

Penerimaan dari Tuhan cukup bagi kita.
Bahkan itulah yang membuat kita penuh dan utuh.
Selama kita berharap dari manusia, itu tidak akan pernah cukup.
Kasih manusia selalu terbatas.
Sering kali bersyarat.
Karena itu, arahkan harapan kepada Tuhan.
Jangan salah fokus!

Ketika kita tahu bahwa kita sudah diterima oleh-Nya, kita tidak lagi harus membuktikan diri kepada dunia.
Dan dari tempat itulah, hati menemukan damai.

“To be loved by God is the greatest privilege.” – C.S. Lewis.

“Dikasihi oleh Tuhan adalah hak istimewa terbesar.” – C.S. Lewis.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Matematika Diam-Diam Menunjuk pada Tuhan. Percayakah Anda?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Matematika Diam-Diam Menunjuk pada Tuhan. Percayakah Anda?

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Kenapa alam ini begitu rapi?
Bukan sekadar indah, tapi teratur.
Bisa dihitung. Bisa diprediksi.

Kita tahu matahari terbit dengan presisi. Planet berputar tanpa tabrakan acak. Hukum gravitasi tidak berubah-ubah sesuai suasana hati.
Semua tunduk pada hukum yang konsisten.

Dan yang menarik, pola matematika bukan cuma ada di buku pelajaran. Ia muncul di kebun kita.

Di sinilah kita bertemu dengan sesuatu yang disebut deret Fibonacci.
Deret ini diperkenalkan oleh seorang matematikawan Italia abad ke-13, *Leonardo of Pisa*, yang lebih dikenal sebagai Fibonacci.

Polanya sederhana sekali.
Setiap angka adalah hasil penjumlahan dua angka sebelumnya:
1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, dan seterusnya.
Kelihatannya biasa saja. Tapi lihat apa yang terjadi di alam.

Coba ambil nanas. Perhatikan pola “mata” nanas itu. Kalau dihitung spiralnya ke kiri dan ke kanan, sering kali jumlahnya adalah angka Fibonacci.

Bunga matahari? Biji-bijinya membentuk spiral yang saling berlawanan arah. Kalau dihitung, jumlah spiralnya sering 34 dan 55. Atau 21 dan 34. Angka-angka Fibonacci lagi.

Keong? Cangkangnya membentuk spiral yang mendekati rasio emas, angka 1.618… yang muncul ketika satu angka Fibonacci dibagi angka sebelumnya.

Pengertian dan Karakteristik Rasio Emas
Definisi Matematis:
Jika kita memiliki garis yang dibagi menjadi dua bagian (a dan b), di mana a adalah bagian yang lebih panjang dan b adalah bagian yang lebih pendek, maka rasio a/b akan sama dengan (a+b)/a, dan keduanya bernilai sekitar 1,618.

Pakis yang menggulung sebelum mekar juga membentuk pola spiral yang sama.

Pertanyaannya sederhana.
Kenapa nanas tidak membentuk pola sembarangan?
Kenapa bunga matahari tidak acak?
Kenapa keong tidak spiral sesuka hati?
Jawaban ilmiahnya adalah efisiensi pertumbuhan.

Pola Fibonacci membantu tanaman mendapatkan cahaya matahari maksimal dan ruang optimal. Benar.

Tapi itu belum menjawab pertanyaan lebih dalam:
Kenapa hukum pertumbuhan mengikuti pola matematis yang elegan?
Kenapa alam tunduk pada angka?
Semakin dalam ilmu pengetahuan berkembang, semakin terlihat bahwa alam semesta bukan hasil kekacauan liar. Ia diatur oleh konstanta yang sangat presisi. Sedikit saja gravitasi berubah, kehidupan tidak mungkin ada.
Sedikit saja keseimbangan atom bergeser, materi tidak stabil.
Ini yang disebut fine tuning.
Disetel dengan sangat tepat.

Kalau kita melihat rumah dengan desain rapi, kita tahu ada arsitek.
Kalau kita membaca buku dengan struktur logis, kita tahu ada penulis.
Mengapa ketika melihat galaksi, DNA, spiral nanas, dan hukum fisika, kita mendadak berkata, “Ah, ini kebetulan”?

Rasul Paulus pernah menulis bahwa apa yang tidak kelihatan dari Allah dapat dipahami dari ciptaan-Nya.
Artinya Tuhan meninggalkan jejak.
Bukan jejak emosional.
Jejak rasional.

Matematika itu abstrak. Angka tidak bisa disentuh. Tetapi dunia fisik tunduk pada sesuatu yang abstrak itu. Materi taat pada logika.
Itu menarik.

DNA manusia misalnya. Ia berisi informasi. Bukan sekadar zat kimia, tapi informasi terstruktur seperti kode. Dan informasi selalu berasal dari pikiran.
Kalau saya menerima pesan teks, saya tahu ada pengirimnya.
DNA jauh lebih kompleks dari pesan teks.
Siapa Pengirimnya?

Saya tidak mengatakan matematika membuktikan Tuhan seperti kita membuktikan hasil ujian. Tetapi matematika memaksa kita jujur. Dunia ini terlalu konsisten untuk disebut kecelakaan kosmik.

Fibonacci bukan ayat Alkitab.
Spiral keong bukan khotbah.
Nanas tidak bersaksi di mimbar.
Tetapi semuanya berfungsi dengan pola yang sama.
Dan pola selalu menunjuk pada pikiran.
Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar argumen intelektual. Ini penguatan iman.

Tuhan yang merancang galaksi dengan hukum presisi bukan Tuhan yang asal-asalan mengatur hidup kita.
Kalau Dia mengatur spiral bunga matahari dengan detail, Dia tidak mungkin lalai mengatur musim hidup kita.

Kadang hidup terasa acak. Tapi mungkin kita hanya belum melihat polanya.
Angka-angka itu diam.
Namun keteraturannya berbicara.
Dan bagi hati yang mau merenung, semua itu seperti bisikan lembut:
Ini bukan tanpa Perancang.

“This most beautiful system of the sun, planets, and comets could only proceed from the counsel and dominion of an intelligent and powerful Being.” – Isaac Newton.

“Sistem matahari, planet, dan komet yang begitu indah ini hanya mungkin berasal dari rencana dan kuasa Pribadi yang cerdas dan berkuasa.” – Isaac Newton.

Notes: Follow “Seruput Kopi Cantik YennyIndra” sekarang lewat – Channel WhatsApp – Yuuk join di sini :
https://whatsapp.com/channel/0029VbCXRSuL2ATuEVMfPF2S
&
Follow “Seruput Kopi FIRMAN TUHAN” – Khusus untuk teman-teman yang KRISTIANI. channel on WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb7DUotAzNbmL2Mk7E1C

Di mana membacanya?
Tekan tombol UPDATES di bagian bawah samping tombol chat.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Saat Mukjizat Hilang, Anda Lari ke Mana?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Mukjizat Hilang, Anda Lari ke Mana?

Ada satu perempuan dalam 2 Raja-raja 4 yang selalu terasa dekat di hati saya. Alkitab menyebutnya perempuan Sunem. Ia dikenal sebagai wanita terpandang, bahkan dalam terjemahan lain disebut kaya. Tetapi yang membuatnya istimewa bukanlah apa yang ia miliki, melainkan bagaimana ia hidup.

Ketika ia melihat Elisa sering lewat, ia tidak hanya bersikap ramah. Ia mengajak dengan sengaja. Ia memperhatikan. Ia memikirkan. Lalu ia berkata kepada suaminya, mari kita buatkan kamar kecil di atas untuknya. Ia tidak sekadar menyediakan tempat tidur. Ia menyiapkan tempat tidur, meja, kursi, dan pelita. Ia memberi dengan detail. Dengan kehormatan. Ia memahami kebutuhan, bukan sekadar melakukan kewajiban. Ia tidak memberi setengah hati.

Menariknya, ia tidak memberi untuk mendapatkan sesuatu. Ketika Elisa ingin membalas, ia berkata bahwa ia hidup tenteram di tengah bangsanya. Tidak ada tuntutan. Tidak ada harapan tersembunyi. Tidak ada agenda.
Namun justru dari situ muncul hal yang tidak pernah ia minta. Ia tidak memiliki anak. Suaminya sudah tua. Waktu seolah telah lewat. Setahun kemudian, ia menggendong seorang anak laki-laki. Tuhan tidak membutuhkan keadaan yang ideal untuk bergerak.

Lalu suatu hari, anak itu mengeluh sakit kepala. Ia dibawa kepada ibunya dan duduk di pangkuannya sampai tengah hari. Di situ ia meninggal. Bayangkan perasaan seorang ibu yang menerima mukjizat yang tidak pernah ia minta, lalu kehilangannya.

Namun responsnya tidak seperti yang kita bayangkan. Ia tidak berteriak. Ia tidak panik. Ia tidak menyebarkan berita. Ia membawa anak itu ke kamar Elisa. Ia meletakkannya di tempat yang tepat. Bukan di kamarnya sendiri. Ia tidak membawa masalahnya ke sembarang tempat.

Ketika suaminya bertanya mengapa ia pergi hari itu, ia hanya berkata, semua baik. It is well. Bukan karena semuanya baik. Tetapi karena ia tahu kepada siapa ia akan membawa masalahnya.

Ia berangkat dengan segera. Ia tidak menunggu. Ia tidak hanya berdoa lalu diam. Iman membuatnya bergerak.

Bahkan ketika ditanya lagi apakah semuanya baik, jawabannya tetap sama. It is well. Ia tidak membuka lukanya kepada semua orang. Ia menjaga kata-katanya. Ia menjaga emosinya.
Ia hanya runtuh di tempat yang benar. Di kaki Elisa.

Sikapnya di tengah kekacauan menciptakan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Ia tidak menyalahkan. Ia tidak kehilangan kehormatan. Ia tidak kehilangan bahasa iman. Ia tidak membiarkan krisis menentukan atmosfer di sekitarnya.

Dan kita tahu akhir ceritanya. Anak itu dipulihkan.

Kadang mukjizat tidak ditentukan oleh besarnya masalah, tetapi oleh bagaimana kita merespons di tengah masalah. Menjaga kata-kata, menjaga emosi, dan bijak memilih di mana kita menaruh beban.

Mengatakan “semua baik” bukan berarti menolak kenyataan. Itu adalah disiplin hati. Itu adalah pengakuan bahwa Tuhan masih terlibat. Dan jika Ia terlibat, cerita belum selesai.

“One thing is certain: God’s story never ends in ashes.
— Elisabeth Elliot

“Satu hal yang sangat pasti: cerita Tuhan tidak pernah berakhir dengan ‘abu.”- Elisabeth Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Berjalan di Atas Air: Soal Fokus, Bukan Soal Ombak.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Berjalan di Atas Air: Soal Fokus, Bukan Soal Ombak.

Kisah Petrus berjalan di atas air selalu menarik untuk direnungkan. Bukan karena mujizatnya semata, tetapi karena kisah ini sangat jujur menggambarkan kehidupan iman kita sehari-hari.
Alkitab mencatat, ketika para murid berada di perahu dan angin bertiup kencang, Yesus datang berjalan di atas air. Petrus, dengan keberanian yang tidak biasa, berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Dan Yesus menjawab singkat, jelas, tanpa drama: “Mari datanglah.”

Coba perhatikan satu hal penting. Sebelum Petrus melangkah keluar dari perahu, angin sudah ada. Ombak sudah ada. Situasi berbahaya itu bukan muncul setelah Petrus berjalan. Sejak awal semuanya sudah ada.

Dan ketika Petrus benar-benar berjalan di atas air, angin yang sama tetap bertiup. Ombak yang sama tetap bergulung. Tidak ada yang berubah di luar dirinya.
Lalu apa yang membedakan antara Petrus yang berjalan di atas air dan Petrus yang hampir tenggelam?

Fokus!

Selama Petrus fokus memandang Yesus, ia melakukan hal yang mustahil. Air yang biasanya membuat manusia tenggelam, kali ini menjadi pijakan. Tetapi saat fokusnya teralihkan, saat ia mulai memperhatikan angin dan ombak, imannya goyah. Ketakutan masuk. Dan ia mulai tenggelam.
Bukankah ini sangat menggambarkan kita?

Kita berdoa minta terobosan keuangan. Kita minta proyek besar. Kita rindu peningkatan, ekspansi, pertumbuhan. Dan Tuhan menjawab, “Mari datanglah.” Anugerah sudah tersedia. Peluang sudah ada. Jalan sudah disiapkan.
Tinggal satu hal: kita melangkah.
Namun sering kali, setelah melangkah, fokus kita berubah. Kita mulai “menonton ombak”. Kita mendengar berita: krisis global, dollar naik, ekonomi tidak pasti, bisnis terancam, pasar lesu. Perlahan-lahan keberanian yang tadi penuh iman, berubah menjadi kekhawatiran.

Padahal, mari jujur saja. Sejak dulu media selalu memberitakan krisis. Dollar naik salah, turun juga salah. Pengamat ekonomi hampir selalu meramalkan hal-hal buruk. Itu bukan hal baru. Dan justru karena itulah berita-berita tersebut laku.

Masalahnya bukan pada berita. Masalahnya pada fokus kita.
Firman Tuhan mengingatkan, sumber berkat kita bukan dari sistem dunia, melainkan dari Tuhan. Kita hidup di bawah hukum Kerajaan Allah, bukan semata-mata hukum ekonomi dunia. Dan di Kerajaan Allah, tidak pernah ada krisis.

Itulah sebabnya, di tengah dunia yang kacau, kita tetap bisa maju. Kita tetap bisa bertumbuh. Kita tetap bisa sukses.
Bahkan, sering kali di dalam krisis justru tersembunyi potensi keuntungan besar bagi mereka yang peka dan taat pada arahan Tuhan. Saat pandemi Covid, banyak aset strategis dijual murah. Mereka yang mendengar dengan peka, melangkah dengan iman dan hikmat, sekarang menuai hasil yang besar.
Prinsip yang sama berlaku dalam kesembuhan. Yang menyembuhkan bukan dokter. Bukan rumah sakit. Bukan alat medis. Semua itu hanyalah sarana.
Yang memberi kesembuhan adalah Tuhan.

Semahal apa pun obatnya, secanggih apa pun teknologinya, jika tubuh tidak bisa melakukan recovery, kesembuhan tidak akan terjadi. Dan siapa yang memberi kemampuan tubuh untuk pulih? Tuhan sendiri.

Karena itu, selama fokus kita tetap pada Tuhan dan jalan-jalan-Nya, tidak ada kondisi yang terlalu mustahil. Baik itu keuangan, bisnis, kesehatan, maupun masa depan.

Kuncinya satu: iman yang bertindak dan fokus yang terjaga.
Angin mungkin tetap bertiup. Ombak mungkin tetap besar. Tetapi selama mata kita tertuju kepada Yesus, kita tidak akan tenggelam.

Dan kalau pun sempat goyah, ingat satu hal yang menghibur. Saat Petrus mulai tenggelam dan berseru, Yesus langsung mengulurkan tangan-Nya.
Tuhan setia. Tinggal kita mau menjaga fokus atau sibuk menghitung ombak.

Pada akhirnya, hidup iman bukan soal seberapa besar ombak yang kita hadapi, melainkan ke mana mata kita tertuju. Ombak bisa sama, angin bisa tetap kencang, tetapi hasilnya akan berbeda ketika fokus kita tetap pada Tuhan yang memanggil kita untuk melangkah.

“Look at the world, you’ll be distressed. Look within, you’ll be depressed. Look at Christ, you’ll be at rest.” – Corrie ten Boom.

“Jika kita memandang dunia, kita akan gelisah. Jika memandang diri sendiri, kita akan tertekan. Tetapi jika memandang Kristus, kita akan menemukan ketenangan.” – Corrie ten Boom.

Dan seperti Petrus, selama kita memilih untuk tetap memandang Yesus, air yang sama yang menenggelamkan orang lain justru menjadi pijakan bagi langkah iman kita.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Buli-Buli yang Dipecahkan: Saat Hidup Kita Menjadi Kesaksian

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Buli-Buli yang Dipecahkan: Saat Hidup Kita Menjadi Kesaksian

Ada satu detail kecil dalam kisah perempuan dengan buli-buli pualam yang sering kita lewatkan. Ia tidak membuka buli-buli itu. Ia memecahkannya.
Dan justru di situlah inti ceritanya.

Buli-buli pualam dibuat untuk menjaga sesuatu yang mahal. Minyak di dalamnya bukan barang murah. Disimpan rapat. Dijaga. Tidak sembarang dituang. Sekali dipecahkan, tidak bisa dipakai lagi. Tidak ada sisa. Tidak ada cadangan. Tidak ada rencana “nanti”.

Di titik itu, kisah ini berhenti bicara soal minyak wangi. Ia mulai bicara tentang hidup.

Kita sering ingin mengikut Tuhan tanpa memecahkan buli-buli kita. Kita ingin tetap utuh. Tetap aman. Tetap punya kontrol. Kita ingin Tuhan memakai kita, tapi ego jangan disentuh. Kita ingin jadi saksi, tapi harga diri tetap dijaga. Kita ingin hadirat-Nya mengalir, tapi kepentingan pribadi masih disimpan rapi.

Masalahnya sederhana. Minyak tidak akan mengalir selama buli-buli masih utuh.

Sebagai jemaat Tuhan, kita membawa hadirat-Nya. Itu identitas kita.
Bukan karena kita hebat, rohani, atau punya jabatan pelayanan. Tapi karena Roh Kudus diam di dalam kita. Namun hadirat itu tidak otomatis menyebar. Ia bisa terkurung. Tersegel. Terjebak di dalam “wadah” bernama ego, ambisi, luka, rasa ingin dihargai, dan kebutuhan untuk terlihat benar.

Banyak orang Kristen wangi di dalam, tapi tidak tercium ke luar.
Kenapa?
Karena buli-bulinya belum dipecahkan.

Memecahkan buli-buli berarti membiarkan Tuhan menyentuh area yang paling kita lindungi. Cara berpikir yang merasa paling benar. Motif pelayanan yang diam-diam ingin dipuji. Kerinduan untuk dikenal, dihormati, diakui. Bahkan luka lama yang kita pelihara dan jadikan identitas.
Selama itu belum dipecahkan, minyaknya tertahan.

Perempuan itu tidak menuang setetes demi setetes. Ia tidak menghitung. Ia tidak bernegosiasi. Ia memecahkan segalanya. Minyaknya tuntas. Tidak tersisa. Dan justru karena itu, seluruh ruangan dipenuhi keharuman.

Begitu juga dengan hidup kita.
Kesaksian sejati tidak lahir dari hidup yang rapi dan terkendali, tapi dari hidup yang diserahkan. Dari orang-orang yang berani berkata, “Tuhan, ambil semuanya. Bukan sebagian.” Dari orang-orang yang tidak lagi sibuk menjaga citra, tapi rindu memuliakan Kristus.

Di sinilah banyak orang salah paham. Mereka mengira Tuhan senang dengan pengorbanan besar. Padahal yang Tuhan cari adalah penyerahan total. Bukan apa yang kita berikan, tapi apa yang kita lepaskan.

Ego yang dipecahkan akan menghasilkan kerendahan hati.
Ambisi yang dipecahkan akan menghasilkan ketaatan.
Kepentingan pribadi yang dipecahkan akan menghasilkan kasih.
Dan saat itu terjadi, minyaknya mengalir dengan sendirinya.

Kita tidak perlu berusaha keras menjadi saksi. Hidup kita akan bersaksi. Keharuman Kristus akan tercium, bukan karena kita bicara banyak, tapi karena wadahnya sudah tidak menahan-Nya lagi.

Ini bukan tentang kita. Bukan tentang reputasi. Bukan tentang pelayanan. Bukan tentang seberapa rohani kita terlihat.
It’s all about God, not us.

Salib sendiri adalah bukti tertinggi dari prinsip ini. Yesus dipecahkan sepenuhnya. Tidak ada yang ditahan. Tidak ada yang disisakan. Dan karena itu, hidup, pengampunan, dan kasih karunia mengalir bagi banyak orang.

Pertanyaannya sekarang sederhana, tapi jujur:
Buli-buli apa dalam hidup kita yang masih utuh?
Apa yang masih kita simpan rapat-rapat?
Karena saat kita berani membiarkannya dipecahkan, hadirat-Nya tidak hanya tinggal di dalam kita, tapi menyebar keluar. Tuntas. Tanpa sisa.

Bersediakah kita?

“God can do nothing with an individual until he is comes to the end of his resources.” – Oswald Chambers.

“Tuhan tidak dapat melakukan apa pun melalui seseorang sampai orang tersebut sampai pada titik di mana segala kemampuannya telah berakhir (habis) – Oswald Chambers.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 6