Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun
Conflict Resolution — cara menangani konflik dengan anggun — adalah keterampilan yang perlu dipelajari. Resolusi berarti keputusan untuk berubah, memperbaiki perilaku, dan membangun hidup yang lebih baik. Dalam konteks hubungan, conflict resolution artinya mengelola konflik dengan bijak agar kehidupan kita semakin berkualitas.
Banyak orang salah kaprah. Mereka berpikir jika fondasi hubungan adalah kasih, maka pintu maaf selalu terbuka dan tidak ada konsekuensi. Padahal mengampuni itu wajib, tetapi konsekuensi tetap harus ada.
Kasih tidak berarti membiarkan kekacauan. Kasih dan disiplin harus berjalan seimbang.
Guru kami, Carrie Pickett, sering membagikan prinsip-prinsip praktis disertai contoh kasus. Misalnya, bagaimana menangani seseorang yang tidak memahami visi organisasi dan bertindak semaunya.
Evaluasinya sederhana:
Apakah orang itu sudah ditraining?
Apakah ia mengerti visi dan tujuan organisasi?
Apakah ia tahu apa yang diharapkan darinya?
Kalau semua sudah jelas, barulah diajak bicara dengan kasih. Mulai dari kata-kata positif, tunjukkan potensinya, lalu jelaskan peraturan dan visi organisasi. Sampaikan kesalahannya tanpa menghakimi, dan beritahu konsekuensi jika tetap melanggar.
Dan jika setelah semua ini ia tetap melanggar, konsekuensi harus diterapkan. Tegas bukan berarti tidak mengasihi. Malah justru karena mengasihi.
Tuhan berkata, “Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum sepakat?”
Jika tidak sepakat, lebih baik berjalan sendiri-sendiri. Ini mencegah konflik berkepanjangan dan energi yang terbuang sia-sia.
Satu contoh menarik dari Carrie: sebelum menegur seseorang, ia tidak langsung bicara. Ia mengajaknya makan bersama beberapa kali tanpa membahas kesalahannya. Tujuannya membangun hubungan. Setelah persahabatan terjalin, barulah teguran disampaikan dengan lembut.
“Biarkan mereka melihat hati kita terlebih dahulu. Lalu tanyakan apakah kita boleh menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak nyaman,” kata Carrie.
Pendekatan ini membuat orang lebih siap menerima masukan. Benar seperti pepatah: kita tidak bisa menarik uang di bank kalau tidak pernah menabung.
Sayangnya banyak orang baru muncul ketika butuh sumbangan atau dukungan. Proposal datang, tapi selama ini menyapa pun tidak pernah.
Hukum kehidupan itu sederhana: tabur dan tuai.
Bagaimana mungkin mengharapkan dukungan jika kita tidak pernah menabur kebaikan sebelumnya?
Itu sebabnya saya suka menabur tanpa pamrih. Selain rutin menulis Seruput Kopi Cantik, saya sering mengirim buku gratis, bahkan kepada orang yang belum pernah saya temui. Ini cara saya menggelar karpet merah kehidupan. Saya percaya ketika kita rajin menabur kebaikan, saat kita membutuhkan sesuatu, Tuhan membawa orang-orang yang tepat untuk membantu.
Andrew Wommack punya kisah serupa. Ia mengajar di radio dan televisi secara gratis, dan hampir semua materi pelayanannya boleh diunduh tanpa biaya. Ia bahkan mendorong murid-muridnya memberi untuk pelayanan tamunya, meski Andrew sendiri sedang membangun gedung jutaan dolar. Ia tidak takut kekurangan.
Inilah rahasia mindset kelimpahan: Tuhan punya lebih dari cukup untuk semua orang. Andrew menabur di mana-mana. Karena itu ketika Tuhan memberi langkah penggenapan visi, donatur dari seluruh dunia datang membantu. Mereka mengenal integritasnya. Mereka ingin terlibat.
Andrew berkata, “Saya punya panen karena sebelumnya saya menabur.”
Carrie juga pernah menangani staf yang terlibat perselingkuhan hingga hamil. Mereka bertobat dan berubah, dan Carrie tetap mengasihi mereka. Tapi konsekuensi tetap berlaku: mereka harus dicopot dari jabatan. Karena posisi itu mempengaruhi banyak orang.
Mereka tidak dibuang. Tetap dilibatkan dalam organisasi, tetapi pada tugas yang tidak berhubungan langsung dengan publik. Kepercayaan harus dibangun kembali.
Karena benar kata Warren Buffett:
“Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk merusaknya.”
Kepercayaan itu mahal. Sekali pecah, sulit kembali utuh.
Belajar yuk menangani konflik dengan anggun, penuh kasih tetapi tetap tegas.
“Anyone can become angry—that is easy. But to be angry with the right person, at the right time, for the right purpose, and in the right way—that is not easy.” – Aristotle.*
“Siapa pun bisa marah—itu mudah. Tapi marah kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan tujuan yang benar, dan dengan cara yang benar—itu tidak mudah.” – Aristoteles*
YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama





