Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

“Bukan Aku. Itu Tuhan.”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Bukan Aku. Itu Tuhan.”

Pada hari-hari terakhir Januari 2026, sesuatu terjadi di lepas pantai Australia Barat yang membuat banyak orang terdiam. Apa yang seharusnya menjadi rekreasi keluarga yang sederhana berubah menjadi ujian keberanian yang sama sekali tidak mereka duga.

Austin Appelbee baru berusia 13 tahun.
Kebanyakan anak seusianya memikirkan sekolah, permainan, atau makan malam apa nanti. Namun pada Jumat, 30 Januari, Austin memikirkan satu hal: bertahan hidup.

Sore itu, ia bersama keluarganya—ibunya Joanne (47 tahun), adiknya Beau (12 tahun), dan Grace (8 tahun)—berangkat dari sebuah pantai dekat Quindalup, Geographe Bay, untuk bersantai menggunakan satu kayak dan dua papan dayung tiup.

Awalnya tenang. Lalu semuanya berubah.
Angin kencang dan ombak yang meninggi mendorong mereka semakin jauh ke tengah laut. Kayak mereka mulai kemasukan air. Tak lama kemudian, mereka sadar bahwa mereka sudah terlalu jauh dari pantai. Saat-saat yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi ketakutan.

Joanne tahu peluang mereka untuk terlihat sangat kecil. Tidak ada kapal di sekitar. Tidak ada orang lain di pantai. Angin terus membawa mereka semakin menjauh. Menjelang sore, ia mengambil keputusan yang kelak ia sebut sebagai “salah satu keputusan tersulit dalam hidup saya.”

Ia meminta anak sulungnya berenang ke pantai untuk mencari pertolongan.
Bagi kebanyakan dari kita, ini sulit dibayangkan. Seorang ibu mengirim anaknya ke dalam bahaya. Tetapi Joanne tahu, itulah satu-satunya kesempatan mereka. Dan Austin tidak ragu.

Selama empat jam, Austin melawan laut. Awalnya ia mencoba bertahan bersama kayak, tetapi terlalu tidak stabil, jadi ia melepaskannya. Di satu titik, ia bahkan melepaskan pelampungnya karena membuatnya sulit berenang di air yang bergelombang. Ia menggunakan setiap gaya renang yang ia bisa—gaya bebas, dada, punggung—apa pun, asal terus bergerak.

Dan di sinilah bagian yang paling menyentuh.
Austin berdoa sepanjang waktu.
Ia berkata kemudian bahwa ia terus berbicara kepada Tuhan. Ia tahu ini di luar kemampuannya. Ia merasa bukan dirinya yang menopang tubuhnya di air, melainkan Tuhan yang menahannya tetap hidup.

“Aku tidak merasa itu aku,” katanya kemudian. “Itu Tuhan sepanjang waktu.”

Ketika tubuhnya lelah dan pikirannya hampir menyerah, ia terus berdoa. Ia memikirkan hal-hal baik, hal-hal sederhana, agar pikirannya tetap tenang. Ada saat-saat ia takut—bahkan ada laporan hiu di wilayah itu beberapa hari sebelumnya—tetapi ia terus berkata pada dirinya sendiri, “Terus berenang. Terus berenang.”

Sekitar pukul 6 sore, Austin akhirnya mencapai pantai. Ia jatuh tersungkur di pasir, kelelahan. Tetapi perjuangannya belum selesai. Ia bangkit dan berlari hampir dua kilometer menuju tempat mereka menginap, mengambil ponsel keluarga, dan menghubungi layanan darurat.

Panggilan itu memicu operasi penyelamatan besar. Helikopter dan tim laut menyisir perairan. Sekitar pukul 8:30 malam, mereka menemukan Joanne bersama Beau dan Grace, berpegangan pada pelampung tiup, sekitar 14 kilometer dari pantai, dalam kondisi laut yang semakin dingin dan kasar. Mereka telah berada di air hampir sepuluh jam.

Semua selamat.
Saat mendengar kisah ini, satu hal menjadi jelas: ini bukan kebetulan. Bukan keberuntungan semata. Ini adalah keberanian, ketekunan, dan ketenangan hati—dan bagi Austin sendiri, ini adalah pertolongan Tuhan.

Yang membuat kisah ini lebih dari sekadar berita utama adalah betapa nyatanya cerita ini. Austin bukan atlet terlatih. Ia bahkan bukan perenang hebat. Beberapa minggu sebelumnya, ia kesulitan berenang 350 meter tanpa berhenti di sekolah. Namun ketika segalanya dipertaruhkan, ia menemukan kekuatan yang bahkan banyak orang dewasa mungkin tidak miliki.

Ada pelajaran besar di sini. Keberanian tidak selalu terlihat heroik dan dramatis. Kadang keberanian adalah terus melangkah ketika tubuh lelah, ketika hati takut, dan ketika satu-satunya pegangan hanyalah doa.

Pada usia 13 tahun, Austin menunjukkan bahwa keberanian bukan soal umur. Ini soal hati. Dan kadang, seperti yang ia sendiri akui, itu bukan kita—itu Tuhan yang menopang kita sepanjang jalan.
Dia Allah yang tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kita.

Pertanyaannya:
Bersediakah kita mengijinkan-Nya memimpin hidup kita seperti Austin?

“Faith is only real when there is obedience. Only he who believes is obedient, and only he who is obedient believes.” – Dietrich Bonhoeffer.

“Iman hanya nyata ketika ada ketaatan. Hanya orang yang percaya yang taat, dan hanya orang yang taat yang benar-benar percaya.” – Dietrich Bonhoeffer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Preparation Time Yusuf: Proses yang Menentukan Takhta

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Preparation Time Yusuf: Proses yang Menentukan Takhta

Sekolah Yusuf Bernama “Malapetaka”
Kisah Yusuf itu sangat familiar. Begitu familiar sampai kita sering merasa tidak ada lagi hal baru yang bisa dipelajari darinya. Alurnya sudah hafal. Dijual saudara, jadi budak, difitnah, dipenjara, lalu naik pangkat jadi orang nomor dua di Mesir. Selesai.

Namun firman Tuhan tidak pernah kehabisan makna. Selalu ada pewahyuan baru bagi hati yang mau belajar. Dan justru di situlah saya dibuat terdiam.

Selama ini saya menganggap apa yang Yusuf alami sebagai rangkaian malapetaka. Seolah hidupnya penuh ketidakadilan sebelum akhirnya Tuhan “mengganti rugi” dengan jabatan tinggi.

Sampai saya sadar satu hal penting: rumah Potifar bukan musibah. Itu sekolahnya Yusuf.

Potifar bukan orang sembarangan. Tercatat ia adalah seorang perwira tinggi Firaun, kepala pengawal istana. Orang kepercayaan kerajaan. Yusuf ditempatkan di rumah seorang pemimpin besar, bukan secara kebetulan.

Di sanalah Yusuf belajar budaya Mesir, sistem kerja, kepemimpinan, dan manajemen. Potifar memiliki banyak anak buah. Yusuf melihat langsung bagaimana seorang pemimpin mengatur orang, sumber daya, dan tanggung jawab.

Dan dicatat sesuatu yang sangat penting: Potifar melihat bahwa Tuhan menyertai Yusuf.Apa pun yang Yusuf jerjakan, dibuat Tuhan berhasil dan beruntung.

Bukan Yusuf yang mempromosikan diri. Bukan Yusuf yang sibuk membela nasibnya. Kualitas hidupnya berbicara. Keintimannya dengan Tuhan membuahkan hikmat yang membuatnya outstanding.

Sebagai hasilnya, Potifar pun mempercayakan seluruh hartanya tidak hanya yang di rumah tetapi juga di ladang-ladangnya.
Yusuf dipercaya mengurus seluruh milik Potifar, bukan hanya urusan rumah, tetapi juga ladang-ladangnya. Ini bukan detail kecil. Di sinilah Yusuf belajar mengelola aset besar. Tanpa ia sadari, dia sedang dipersiapkan untuk memanage sesuatu yang jauh lebih besar.

Saya pernah membaca, ada orang-orang yang rela membayar sejumlah besar uang hanya untuk Lunch dengan Warren Buffett, orang terkaya nomor 3 di dunia.
Mereka ingin belajar rahasia suksesnya.

Yusuf tidak hanya lunch, tetapi tinggal di rumah Potifar, ‘dimentori’ sampai sedemikian terampil dan sukses mengelola seluruh kekayaan Potifar, meski statusnya sebagai budak.

Lalu datanglah ujian karakter. Godaan dari istri Potifar. Yusuf menolak. Tegas. Bersih. Tidak kompromi.

Akibatnya?
Difitnah dan dipenjara.
Namun Yusuf tidak membela diri. Tidak mengasihani diri. Tidak memosisikan diri sebagai korban. Dia masuk penjara kerajaan, dan di sanalah “sekolah” itu berlanjut.

Pola yang sama terjadi. Yusuf setia. Yusuf melayani. Yusuf bertanggung jawab. Dan Yusuf sudah punya skill dan pengalaman yang mumpuni. Terbukti hasilnya.

Sampai kepala penjara mempercayakan seluruh urusan penjara kepadanya. Lagi-lagi, *setia dalam perkara kecil, dipercaya dalam perkara yang lebih besar.*

Di penjara, Yusuf menafsirkan mimpi kepala juru minuman dan kepala juru roti Firaun. Mimpinya tepat. Satu dipulihkan, satu dihukum mati. Yusuf hanya minta satu hal kecil: “Ingatlah aku.”

Namun dicatat, sesuatu yang menyakitkan tapi jujur: kepala juru minuman itu melupakan Yusuf. Dua tahun lamanya.
Bayangkan. Sudah benar. Sudah setia. Sudah menolong. Tapi dilupakan. Yusuf tetap menjaga hati bebas dari kepahitan. Tetap beriman menanti waktu Tuhan.

Sampai suatu malam, Firaun bermimpi. Bukan mimpi biasa. Mimpi yang membuatnya gelisah. Tujuh lembu gemuk dimakan tujuh lembu kurus. Tujuh bulir gandum baik ditelan tujuh bulir kering. Tidak ada seorang pun yang bisa menafsirkan mimpi itu.

Di titik itulah, ingatan yang terkubur selama dua tahun muncul kembali. Kepala juru minuman berkata, “Ada seorang Ibrani di penjara…”
Dan Yusuf dipanggil.

Yusuf bukan hanya menafsirkan mimpi. Dia *memberi solusi.* Dia menjelaskan krisis tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun kelaparan, lalu mengusulkan sistem pengelolaan nasional. Penyimpanan, distribusi, dan pengawasan.

Ini bukan ide spontan. Ini buah dari tahun-tahun panjang belajar tanpa panggung.
Firaun melihatnya.
“Adakah orang seperti ini, yang penuh dengan Roh Allah?”

Dalam satu hari, Yusuf diangkat menjadi orang nomor dua di Mesir.
Tidak ada sukses mendadak. Yang ada adalah proses panjang yang tidak disia-siakan Tuhan.

Tentu BUKAN Tuhan yang merancangkan malapetaka tetapi saudara-saudara Yusuf yang iri hati.
Namun rancangan buruk itu diubah Tuhan menjadi kebaikan.

Yusuf tidak mudah tersinggung. Tidak berhenti karena ketidakadilan. Tidak keluar dari proses sebelum waktunya. Dan karena itulah, ketika tanggung jawab besar datang, Yusuf siap.

Seandainya Yusuf tersinggung, memilih bermalas-malasan, tentunya saat kesempatan datang, Yusuf akan gagal.

Pelajarannya sederhana tapi tajam:
Jangan remehkan masa persiapan. Jangan mudah offended.
Preparation time is never wasted time.

Tuhan tahu persis sekolah apa yang kita butuhkan, sebelum Dia mempercayakan perkara besar kepada kita.

Siap praktik? Yuuuk

“Character is not built in moments of comfort, but in seasons of challenge.”
– Unknown

“Karakter tidak dibangun dalam masa nyaman, tetapi dalam musim penuh tantangan.” – – Unknown.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Hoki Itu Nasib, atau Respon Hidup?


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Hoki Itu Nasib, atau Respon Hidup?

Bu Fonny, teman perjalanan saya saat ikut tur menyusuri Sungai Yangtze, menulis satu kalimat singkat di grup chat. Pendek, tapi cukup mengusik pikiran saya.

“Hoki te it – pun su te ji.”
Lalu ia menambahkan penjelasan sederhana namun tajam:
Hoki nomor satu, kemampuan nomor dua.

Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak.
Benarkah hidup ini lebih banyak ditentukan oleh hoki dibanding kemampuan?
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hoki?

Ternyata dalam pemahaman orang Tionghoa, hoki bukan kebetulan buta. Bukan undian, bukan angka keberuntungan, apalagi nasib yang jatuh dari langit tanpa sebab.

Istilah yang dipakai adalah ?? (yùn qì). Artinya bukan sekadar keberuntungan, tetapi aliran hidup yang bertemu dengan timing dan respon manusia.
Dengan kata lain, hoki bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi sesuatu yang dijalani.

Orang Tionghoa percaya bahwa hoki dibentuk oleh tiga unsur utama.

Yang pertama (Ti?n shí), waktu yang tepat.
Ada musim menanam, ada waktu melangkah, ada saat menunggu. Tidak semua pintu bisa dibuka bersamaan. Momentum perlu dibaca, bukan dipaksakan.

Yang kedua,(Dì lì), tempat dan kondisi.
Lingkungan, posisi, relasi, dan situasi hidup. Ini sangat praktis. Apakah kita sedang berada di tempat yang mendukung pertumbuhan, atau justru terus menguras energi?

Yang ketiga,(Rén hé), sikap dan relasi manusia.
Ini yang paling ditekankan. Etika, kerja keras, konsistensi, dan cara memperlakukan orang.

Ada pepatah Tionghoa yang sering saya dengar:
Orang yang bisa dipercaya, cepat atau lambat pasti dapat hoki.

Dari sini kita bisa merangkumnya dengan sederhana:
Hoki itu berada di tempat yang tepat, pada saat yang tepat dan menjadi orang yang tepat.

Dan ketika ketiga hal itu bertemu, hidup terlihat “pas”.
Pas waktunya. Pas orangnya. Pas kejadiannya. Kita menyebutnya kebetulan, hoki.
Padahal itu anugerah Tuhan yang bekerja dengan sangat rapi.

Siapa yang bisa mengatur semuanya bisa ‘pas’ ?
Hanya Tuhan!

*Ralph Waldo Emerson* berkata,
“There are no accidents; what we call by that name is the effect of some cause which we do not see.”

“Tidak ada kebetulan; apa yang kita sebut kebetulan adalah efek dari beberapa sebab yang tidak kita lihat.”

Hoki yang dimaksud itu sesungguhnya adalah Anugerah Tuhan.
Meskipun Anugerah itu sudah tersedia, tetapi kesuksesan tidak terjadi secara otomatis.
Dibutuhkan respon kita untuk bertindak dan meraihnya.

Di titik ini, saya teringat kisah seorang gadis muda dari Maluku di Facebook.
Sari Dewi berasal dari Bandaneira. Latar belakangnya sederhana. Setelah lulus SMA, ia merantau ke Jakarta. Kuliah sambil kerja. Gaji pas-pasan. Hidup hemat. Tidak ada priviledge. Tidak ada koneksi besar.
Yang ia miliki hanyalah karakter.

Ia bekerja dengan rapi, tenang, dan bertanggung jawab. Tidak banyak bicara, tidak drama, tidak mengeluh berlebihan. Saat lelah, ia tetap belajar. Saat ditolak mengurus visa, ia memperbaiki diri dan mencoba lagi. Ia tidak menunggu keadaan sempurna untuk bertumbuh.

Akhirnya ia mendapat kesempatan bekerja di Madrid sebagai nanny. Bukan pekerjaan yang terlihat wah, tapi ia mengerjakannya dengan sikap excellent. Detail, bisa dipercaya, konsisten. Orang-orang di sekitarnya melihat sesuatu yang jarang: ketekunan yang sunyi.

Dari situlah kesempatan lain terbuka. Ia direkomendasikan. Dipercaya. Hingga akhirnya bekerja di rumah keluarga David Beckham.Gajinya 52 juta.

Orang luar menyebutnya hoki.
Padahal yang terjadi adalah persiapan panjang yang akhirnya bertemu kesempatan, yang merupakan rahasia kesuksesan, demikian ungkapan Seneca, seorang filsuf Romawi.

Hoki atau Anugerah bisa datang. Kesempatan bisa muncul. Tetapi jika seseorang tidak siap, tidak berani melangkah, takut mengambil tanggung jawab, atau memilih diam, – tidak ada Respon – maka tidak ada yang terjadi.
Kesempatan emas lewat begitu saja.

Itu BUKAN NASIB, tapi pilihannya.

Banyak orang berdoa minta pintu terbuka, tapi tidak siap melangkah ketika pintu itu benar-benar terbuka.

Dalam iman, kita percaya Tuhan berkuasa atas waktu, tempat, dan pertemuan. Tuhan bisa menempatkan kita di momen yang tepat, bertemu dengan orang yang tepat, dan memberi kesempatan yang tepat. Tetapi Tuhan juga menghormati kehendak dan respon kita.

Kita sering menyebutnya hoki.
Padahal Tuhan menyebutnya kesempatan yang dibungkus rapi dalam anugerah.
Dan hidup dibentuk bukan oleh apa yang datang, tetapi oleh bagaimana kita meresponsnya.
Karakter menentukan apakah kesempatan itu bertahan atau hilang.

“Hoki te it – pun su te ji.” – Hoki nomor satu, kemampuan nomor dua.

Hhhmm …cengli.

Betul itu. Harus ada kesempatannya dulu, baru kemampuannya bisa dibuktikan.

Tuhan memberi kesempatan.
Manusia menentukan respon.
Dan di sanalah hidup dibentuk.

Setuju?

“I will prepare, and someday my chance will come.” – Abraham Lincoln.

“Aku akan mempersiapkan diri, dan suatu hari kesempatanku akan datang.” –
Abraham Lincoln

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kehendak Tuhan Ditemukan Saat Kita Mencari Tuhan, Bukan Mencari Jawaban.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kehendak Tuhan Ditemukan Saat Kita Mencari Tuhan, Bukan Mencari Jawaban.

Ada satu jebakan rohani yang halus, kelihatannya rohani, tapi sebenarnya bikin kita makin bingung. Jebakan itu adalah ketika kita sibuk mencari jawaban, bukan mencari Tuhan.

Saya pernah ada di fase itu. Ada masalah. Ada keputusan. Ada tekanan. Lalu pikiran langsung bekerja keras.
“Bagaimana caranya ya?”
“Mungkin begini.”
“Atau mungkin begitu.”
“Kira-kira Tuhan maunya yang mana?”

Kelihatannya wajar. Bahkan terlihat bijak. Tapi semakin dipikirkan, kok makin ruwet. Makin banyak opsi, makin banyak suara, makin sulit membedakan: ini suara Tuhan atau cuma suara pikiran sendiri?

Di sinilah saya belajar satu kebenaran penting dari pengajaran Andrew Wommack. Saat dia ada di masa paling bingung dalam hidupnya, dia tidak mencari jawaban. Dia mencari Tuhan.

Itu kuncinya.

Andrew tidak sibuk bertanya ke banyak orang. Tidak mengejar pendapat ini dan itu. Tidak menganalisis semua kemungkinan sampai kepalanya penuh. Yang dia lakukan justru sebaliknya. Dia berhenti.

Dia berpuasa.
Dia menjauh dari gangguan.
Dia menghentikan suara manusia.

Dan dia memilih satu hal: hadirat Tuhan.

Ini bertolak belakang dengan kecenderungan kita. Saat butuh jawaban, refleks kita adalah cari solusi instan. Cari orang yang ahli. Cari yang sudah berpengalaman. Cari yang “pernah berhasil”. Dulu saya pikir itu cerdas. Sekarang saya sadar, itu bukan iman. Itu jiwa yang bekerja keras.

Logika dan pengalaman bukan hal yang jahat. Tapi kalau kita bergantung sepenuhnya pada itu, kita sedang beroperasi di tingkat jiwa, bukan roh. Dan keputusan rohani yang sejati tidak lahir dari kebisingan pikiran, tetapi dari keheningan hadirat Tuhan.

Masalahnya, saat kita sibuk memikirkan caranya, pendengaran kita terhadap Tuhan jadi tercemar. Fokus teralihkan. Suara Tuhan yang sebenarnya lembut dan jelas, tenggelam oleh asumsi, ketakutan, dan spekulasi kita sendiri. Akhirnya kita bertanya lagi: “Benarkah ini suara Tuhan?” Padahal kebingungan itu sering bukan karena Tuhan tidak bicara, tapi karena kita terlalu ribut di dalam.

Tuhan tidak pernah kesulitan memberi arahan. Yang sering kesulitan adalah kita yang tidak tenang untuk mendengar.

Pelajaran besar yang saya pelajari adalah ini: kehendak Tuhan tidak ditemukan saat kita mengejar jawaban, tetapi saat kita mengejar Tuhan. Saat fokus kita kembali pada Dia, bukan pada masalah, sesuatu yang menarik terjadi. Arah hidup mulai jelas dengan sendirinya.

Bukan karena kita mendapat peta lengkap. Tapi karena kita berjalan bersama Pribadi yang tahu jalan.

Tuhan punya rencana yang sangat spesifik bagi setiap kita. Bukan versi umum. Bukan meniru orang lain. Bukan hasil copy-paste dari kesaksian orang lain. Arahan Tuhan untuk saya belum tentu sama dengan arahan Tuhan untuk Anda. Karena itu, terlalu sibuk membandingkan justru menjauhkan kita dari suara yang seharusnya kita dengar.

Saat hati kita selaras dengan Tuhan, keputusan menjadi lebih jernih. Bukan selalu lebih mudah, tapi lebih pasti. Ada damai yang tidak bisa dijelaskan. Ada keyakinan yang tidak perlu dibela. Ada ketenangan yang membuat kita tahu: ini Dia.

Jadi, ini pengingat yang sederhana tapi menentukan:
-Jangan kejar petunjuk. Kejarlah Tuhan.
-Jangan kejar jawaban. Kejarlah hadirat-Nya.

Saat Tuhan menjadi fokus utama, jawaban akan datang pada waktunya. Dan sering kali, datang dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

The man who has God for his treasure has all things in One.” – AW Tozer.

“Orang yang menjadikan Tuhan sebagai harta utamanya, memiliki segala sesuatu di dalam Dia – AW Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Batal Terbang Demi Ibadah: Kebetulan, Takdir, atau Ketaatan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Batal Terbang Demi Ibadah: Kebetulan, Takdir, atau Ketaatan?

Saya membaca kisah ini di sebuah grup WhatsApp. Sederhana, tapi menghantam hati.

Nama Franky D. Tanamal awalnya tercatat resmi dalam manifes penerbangan maut ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar. Semua sudah fix. Nama ada. Jadwal ada. Kursi ada.

Namun sore itu, Franky mengambil satu keputusan kecil yang ternyata mengubah seluruh garis hidupnya. Ia mengajukan izin kepada atasannya untuk tidak ikut terbang. Alasannya bukan darurat medis, bukan urusan keluarga, bukan karena takut naik pesawat. Alasannya satu: *ia harus menjalankan pelayanan ibadah di gereja.*

Keputusan mendahulukan panggilan Tuhan itu menjadi jalan keselamatannya. Pesawat tersebut jatuh di Gunung Bulusaraung, Sabtu (17/1), dan menelan banyak korban jiwa.

“Ia izin tidak ikut terbang karena ada pelayanan ibadah,” ujar rekannya, Rumoton Sitanggang.

Penutup kisah ini, Kisah Franky adalah pengingat indah bagi kita semua: bahwa jika Tuhan sudah berkehendak dan takdir belum waktunya, maka selalu ada cara ajaib bagi-Nya untuk melindungi hamba-Nya. Ketaatan membawa keselamatan

Benarkah demikian?

Dulu, saya juga berpikir hidup ini misteri. Seram. Sewaktu-waktu hal buruk bisa terjadi, dan kita manusia kecil yang tak berdaya. Tuhan berdaulat, katanya. Jadi semua tergantung mood Tuhan. Kalau Dia lagi baik, kita selamat. Kalau tidak, ya sudah.

Jujur saja, pemahaman seperti itu membuat hidup melelahkan dan iman penuh ketakutan.

Namun setelah belajar Firman dengan benar, termasuk dari Greg Mohr, guru saya, maka saya menyadari: Tuhan tidak bekerja seperti itu.

Tuhan bukan Allah yang diam, apalagi acuh. Ia selalu berbicara, selalu memperingatkan, selalu membimbing, dan selalu ingin melindungi anak-anak-Nya. Masalahnya bukan pada Tuhan. Masalahnya pada manusia yang diberi free will dan free choice. Mau dengar atau tidak. Mau taat atau tidak.

Sejak Adam memberontak di Taman Eden, otoritas atas dunia ini jatuh ke tangan iblis. Dunia berada di bawah sistem yang rusak. Malapetaka, kecelakaan, kehancuran, bukan berasal dari Tuhan. Itu strategi iblis untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan.

Tujuan Tuhan jelas dan konsisten: memberi hidup, bahkan hidup yang berkelimpahan. Mati itu tidak hidup. Jadi sumbernya jelas bukan Tuhan. Sesederhana itu.

Greg Mohr sering menegaskan, Tuhan terus memberi sinyal peringatan. Alarm bahaya itu ada. Pertanyaannya, apakah kita peka?

Ia berkata, “Jika hewan saja bisa mengikuti insting mereka dan bergerak ke tempat lebih tinggi sebelum tsunami, bukankah orang yang dipenuhi Roh Tuhan seharusnya lebih lagi mendapat perlindungan dari tsunami keuangan, kesehatan, relasi, dan krisis hidup lainnya?”

Fakta menarik terjadi saat tragedi 9/11 di WTC. Dari seluruh pekerja, hanya sepertiga yang hadir di kantor hari itu. Dua pertiga lainnya tidak masuk, dengan alasan yang beragam. Ada yang sakit, mobil rusak, ada yang merasa tidak tenang tanpa tahu sebabnya.

Bahkan salah satu pesawat yang menabrak menara, hanya berisi 13 penumpang. Sangat tidak lazim.

Kebetulan? Tidak. Itu dorongan. Itu peringatan. Masalahnya selalu sama: apakah kita peka dan taat?

Greg juga pernah mengalami hal serupa. Suatu pagi, hatinya sangat tidak tenang. Ia menahan anak-anaknya untuk tidak berangkat sekolah. Ia dan istrinya berdoa hampir satu jam sampai damai. Setelah itu barulah mereka berangkat.

Di jalan tol, mereka melihat kecelakaan beruntun sekitar 20 mobil. Waktu kejadiannya persis jam biasa Greg lewat di sana.

Pesannya jelas: jangan abaikan peringatan Tuhan.

Kepekaan kita ditentukan oleh kedekatan kita dengan Tuhan. Kita lebih banyak mendengar siapa? Berita dunia atau Firman? Hati kita sensitif ke mana? Benih apa yang kita tanam setiap hari?

Jawaban atas pertanyaan itu menentukan ending hidup kita.
Bukan soal takdir.
Masalahnya: ketaatan.

Pertanyaannya:
Bagaimana dengan kita?

“God speaks in the silence of the heart. Listening is the beginning of prayer.” – – Mother Teresa.

“Tuhan berbicara dalam keheningan hati. Mendengar adalah awal dari doa.” – Mother Teresa

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 5