Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Sejak semalam, hujan salju turun cukup deras. Tidak heran saat bangun pagi, salju di sekitar hotel sudah tebal. Putih bersih, senyap, dan entah kenapa selalu bikin hati terasa lebih adem.

Di mana ada salju tebal, sekitarnya otomatis kelihatan cantik. Pohon, jalan, atap bangunan, semua seperti diselimuti keheningan. Suhu turun ke minus 14°C, tapi rasanya jujur saja seperti minus 20°C. Angin tajam, dingin menggigit. Nah lho… baju “perang” pun resmi dimulai. Berlapis-lapis tanpa kompromi. Wkwkwk.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Imperial Palace Shenyang.

Istana ini sudah berusia sekitar 400 tahun, dibangun tahun 1625. Bahkan lebih tua dari Forbidden City di Beijing. Di sinilah fondasi Dinasti Qing dimulai, jauh sebelum mereka menguasai seluruh Tiongkok.

Ada kisah menarik tentang Nurhaci, pendiri Dinasti Jin Akhir dan tokoh kunci lahirnya Qing. Ia bukan bangsawan istana. Ia adalah kepala suku Manchu yang hidup keras, ditempa peperangan, dan kehilangan ayah serta kakeknya karena konflik dengan Dinasti Ming.

Dari luka itulah, Nurhaci menyatukan suku-suku Manchu lewat disiplin militer yang ketat dan sistem Eight Banners yang legendaris.

Eight Banners atau Sistem Delapan Panji adalah sistem organisasi unik yang membagi masyarakat Manchu ke dalam delapan panji berwarna. Ini bukan cuma pasukan perang, tetapi sistem hidup: tentara, keluarga, logistik, dan kepemimpinan menyatu dalam satu struktur. Dengan sistem ini, Nurhaci menyatukan suku-suku yang tercerai-berai menjadi satu kekuatan besar. Dari sinilah Dinasti Qing punya mesin kekuasaan yang rapi, loyal, dan sangat efektif.

Shenyang menjadi pusat kekuasaannya, dan istana ini adalah simbol awal mimpi besar yang kelak mengubah sejarah Tiongkok.

Keunikan istana ini terasa kuat. Arsitekturnya bukan Han murni, bukan Mongol. Ini perpaduan Manchu-Han, dengan tata ruang yang lebih ringkas, praktis, dan sarat nuansa militer. Bahkan ada paviliun yang dirancang khusus untuk diskusi strategi perang, bukan sekadar upacara simbolik.

Kami pun segera berfoya-ria di sana. Foto ini, foto itu, sambil menahan dingin. Salju membuat istana tua ini tampak makin anggun dan berwibawa.

Berjalan di tempat berusia 400 tahun, di tengah salju dan sunyi, saya merasa sejarah tidak sedang berteriak.
Ia sedang berbisik. Dan justru itu yang membuatnya terasa hidup.

Dari Shenyang kami menuju Changchun.

Malam itu kami dinner di resto Korea Utara.
Lho… bukannya kami sedang di Changchun, China?

Yes. Betul sekali.
Dari Changchun ke perbatasan Korea Utara hanya sekitar 2,5 jam. Dan di kota ini, keberadaan restoran Korea Utara memang bukan hal yang aneh. Tapi pengalaman kami malam itu… jujur, jauh dari kata biasa.

Semua pelayannya adalah *gadis-gadis cantik dari Korea Utara.* Bukan sembarang pelayan. Mereka lulusan universitas ternama di Pyongyang. Tinggi badan, penampilan, latar belakang keluarga, bahkan kesetiaan politik *hingga tiga generasi*, semuanya diseleksi ketat. Baru setelah itu mereka diizinkan bekerja di luar negeri, termasuk di China.

Pertanyaannya langsung muncul di kepala:
_Kok bisa lulusan universitas bagus, cantik, terdidik, hanya jadi pelayan restoran?_

Itulah yang terjadi dengan negara yang masih terisolasi.
Mereka hanya bisa menikmati sekitar 50% penghasilannya.

Di luar negeri mereka bisa mendapat gaji yang lebih besar.
Gaji mereka sekitar 4.000 yuan per bulan, tapi mereka hanya perlu 300–500 yuan karena hidupnya hanya dari mess ke resto. Sisanya dikirim ke Korea Utara. Dari jumlah itu, setelah dipotong pajak dll oleh pemerintah, baru sisanya kurang dari 50% diberikan kepada keluarga mereka.

Mereka bekerja tujuh hari penuh, tinggal di mess, dan hanya mendapat libur dua jam per minggu. Setiap hari wajib membuat laporan detail: bertemu siapa, bicara apa, melakukan apa. Tidak boleh pacaran. Tidak boleh menikah dengan orang non-Korea Utara. Nekad melanggar? Keluarga mereka yang jadi jaminan. Penjara… atau lebih dari itu.

Lalu makanannya?
Wuih… enak! Bahkan
jauh lebih variatif dibanding saat kami benar-benar ke Korea Utara. Ada 14 macam hidangan, semua tersaji rapi. Malam itu juga ada hiburan. Gadis cantik menyanyi, diiringi akordion, berpindah dari satu ruang VIP ke ruang lainnya. Profesional. Tersenyum. Tapi matanya… tenang sekaligus kosong.

Mencicipi hal baru, ditambah pengalaman yang tidak biasa, selalu membuat saya tersadar:
itulah alasan saya suka travelling. Bukan cuma lihat tempat, tapi *melihat kehidupan.*

Dan hati saya bersyukur.
Lahir di Indonesia.
Menikmati kebebasan. Bukan hanya kebebasan fisik, tapi *kebebasan rohani*. Mengenal Tuhan yang penuh kasih. Tuhan yang memampukan kita hidup di atas situasi apa pun. Bersama-Nya, tidak ada yang mustahil.

Mengenal-Nya secara pribadi membuat hidup bermakna.
Dan kekekalan… sudah terjamin.

Praise The Lord!

He who has a why to live can bear almost any how.” – Viktor Frankl

“Orang yang memiliki alasan untuk hidup, dapat bertahan dalam hampir segala keadaan.” – Viktor Frankl

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Jejak Kenangan di Brisbane & Sydney dengan Regent Seven Seas Cruise.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jejak Kenangan di Brisbane & Sydney dengan Regent Seven Seas Cruise.

Brisbane… Brisbane… Brisbane… kota yang penuh kenangan.
Dengan penuh antusias kami mengikuti tour Leisure Brisbane.

Bagi P. Indra dan saya, ini bukan sekadar jalan-jalan. Ini seperti napak tilas perjalanan puluhan tahun lalu, saat kami mengantar Christian yang baru lulus SD untuk sekolah SMP sekaligus sekolah golf di Brisbane.
Waktu itu ia masih sangat kecil. Dan jujur saja, kami pun masih sangat minim pengalaman. Banyak keputusan diambil dengan iman yang polos, nyaris nekat. Tapi justru di sanalah kami melihat satu hal yang tak pernah berubah: Tuhan setia. Ia peduli. Ia menyertai. Ia mengubah keterbatasan kami menjadi kebaikan.

Saat hari ini ‘look back’ – kami menoleh ke belakang, jelas terlihat tangan Tuhan yang menuntun setiap langkah. Hati ini terharu. Terpukau. Dipenuhi rasa syukur.
God is good all the time. All the time, God is good.

Perjalanan mengitari kota Brisbane sungguh menyenangkan. Kota ini berubah banyak dalam 15 tahun terakhir. Terakhir kami ke sini saat Christian wisuda.
Kini gedung-gedung menjulang lebih modern, sungai tampak lebih hidup, dan kota terasa lebih rapi serta tertata.

P. Indra terlihat paling menikmati momen ini. Di tengah city, sambil video call dengan Christian, beliau menunjuk satu per satu lokasi yang dulu sering kami lewati. Elizabeth Street, tempat gereja Christian dulu beribadah, kini sudah berubah fungsi. King Street, Ann Street, dan Brisbane River terlihat makin cantik, lebih tertata, dan terasa hidup.

Hari itu 25 Desember. Natal. Banyak toko dan restoran tutup. Kota terasa lebih tenang, seolah memberi ruang bagi keluarga untuk berkumpul dan bersyukur. Suasana yang sederhana, tetapi hangat.

Foto-foto ini diambil di Kangaroo Point Cliffs Park, sebuah bukit batu alami yang menghadap langsung ke Brisbane River dan skyline kota. Dari sinilah kita bisa melihat gedung-gedung tinggi Brisbane, Story Bridge, dan aliran sungai yang membelah kota. Tempat ini memang terkenal sebagai spot favorit untuk menikmati panorama kota, terutama di siang hari yang cerah seperti ini. Angin sepoi, langit biru, dan pemandangan yang menenangkan hati.

Keesokan harinya kapal tidak docking. Kami berlayar menuju Sydney.
Dan di sanalah pengalaman lain menanti.

Cuaca cerah dan yang lebih menyenangkan lagi, meski summer temperatur sekitar 19? – 22? C, pas untuk jalan-jalan. Sejuk tetapi ada matahari diiringi semilir angin dingin. Langitnya biru berhiaskan awan-awan cantik, membuat foto-foto makin cantik.

Di Sydney, kami mengikuti Sydney Harbour Cruise sekitar tiga jam.
Rasanya… wow. Santai, elegan, dan menyenangkan. Sambil duduk menikmati pemandangan, kue dan minuman datang silih berganti. Semua disajikan dengan rapi, dan tentu saja… free of charge, khas *Regent Seven Seas Explorer.*

Kami mengitari ikon-ikon Sydney: – Sydney Opera House yang selalu memukau dari sudut mana pun
Sydney Harbour Bridge, megah dan kokoh
The Rocks, kawasan tua penuh sejarah
Circular Quay yang sibuk namun hidup
Fort Denison, pulau kecil dengan kisah militernya
Royal Botanic Garden dan Mrs Macquarie’s Chair, hijau dan menenangkan
Setiap sudut terasa seperti kartu pos hidup.

Yang lucu, hampir hanya kami rombongan orang Indonesia yang sibuk foto sana-sini. Jepret… jepret… ganti pose… ganti angle.
Sementara para bule lebih memilih duduk tenang, menikmati pemandangan tanpa banyak gaya. Mereka Ada juga dua orang Asia lain yang sesekali ikut memotret, tapi selebihnya… kami juaranya.
Hahaha….

Konon orang Asia itu punya ciri khas tersendiri.. Tour guide kami dari Singapura, jika keluarganya datang, yang pertama ditanyakan di Sydney adalah Fish Market alias pasar ikan. Rupanya Sydney Fish Market merupakan fish market kedua terbesar di dunia setelah Tokyo. Unik ya? Yang dicari pertama justru pasar ikan. Tuhan memang kreatif, mencipta manusia dengan berbagai ragamnya.

Dan justru di situ letak keindahannya.
Perjalanan ini bukan soal tempat mewah atau foto indah semata. Tapi tentang mengenang penyertaan Tuhan, melihat kembali jejak langkah-Nya, dan menyadari bahwa hidup ini sungguh penuh anugerah.

Seusai cruise, jalan-jalan santai sambil mencari souvenir cantik dan oleh-oleh untuk keluarga.
MU SEA UM, alias museum laut yang sengaja ditulis unik nan menggelitik.

Dari Brisbane ke Sydney, dari masa lalu ke hari ini, satu hal yang pasti:
Tuhan tidak pernah salah membawa kita berjalan menyusuri setiap musim kehidupan.
Dan setiap musim, selalu ada cerita indah yang Ia ukir.
Mengagumkan bukan?

Praise The Lord!

Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory.” – Dr. Seuss

“Sering kali kita baru menyadari nilai sebuah momen ketika ia telah menjadi kenangan.- – Dr. Seuss

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.

Cairns menyambut kami dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Kota tropis ini seperti tahu persis caranya membuat orang melambat. Pagi itu kami berjalan santai di sekitar area Gonsavale. Tidak ada agenda besar. Hanya langkah kaki, udara hangat, dan suasana yang ramah. Cairns bukan kota yang berisik. Ia tidak berusaha mengesankan. Justru karena itulah ia terasa jujur.

Berjalan di sini mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu harus penuh target. Ada masa di mana kita cukup hadir, cukup mengamati, cukup menikmati. Melihat orang-orang berlalu dengan ritme mereka sendiri. Mendengar suara alam yang bersahut-sahutan. Ada damai yang turun pelan-pelan, tanpa pengumuman.

Cairns juga punya satu mahakarya yang membuatnya dikenal dunia, Great Barrier Reef. Inilah taman bawah laut terbesar di dunia. Luasnya membentang ribuan kilometer, terdiri dari ribuan terumbu karang dan ratusan pulau kecil. Dari udara, ia tampak megah. Dari bawah laut, ia hidup, berwarna, dan penuh detail yang membuat kita terdiam.
Great Barrier Reef bukan sekadar destinasi wisata. Ia seperti galeri ciptaan Tuhan yang diletakkan di bawah permukaan laut. Karang-karang dengan bentuk dan warna yang tidak pernah kita bayangkan. Ikan-ikan kecil berkilau, penyu laut, dan kehidupan yang bergerak harmonis tanpa suara. Melihat atau bahkan sekadar membayangkan keindahannya membuat kita sadar betapa kecilnya manusia, dan betapa luar biasanya Sang Pencipta.

Dari Cairns, keesokan harinya, perjalanan kami berlanjut ke Airlie Beach. Dan suasananya berubah, tapi tetap memikat. Laut di sini berwarna hijau tosca, jernih dan tenang. Sepanjang jalan, mata dimanjakan oleh bunga flamboyan berwarna oranye menyala dan bougenville warna-warni yang tumbuh subur. Alam seakan sedang tidak pelit menunjukkan keindahannya.

Kami singgah di Coral Sea Resort. Pemandangannya langsung menghadap laut. Kapal dan boat cantik berjejer di perairan yang tenang, memberi kesan hidup namun tetap rapi. Ada rasa menyenangkan melihat laut yang tidak kosong, tetapi juga tidak sesak. Semua berada di tempatnya.
Bangunan-bangunan baru di sepanjang pantai menambah sentuhan modern tanpa merusak karakter alamnya. Airlie Beach terasa segar, tertata, dan bersahabat. Tempat yang membuat orang betah duduk lama, menatap laut, tanpa merasa harus melakukan apa pun.

Kenyamanan perjalanan ini semakin terasa karena perhatian pada hal-hal kecil. Snack, kopi, teh, semuanya tersedia dan sudah termasuk dalam fasilitas Regent Seven Seas Explorer. Tidak repot, tidak ribet. Semua mengalir. Ada rasa dimanjakan, tapi dengan cara yang tenang, tidak berisik.

Kami juga mengunjungi Proserpine Museum di Airlie Beach. Museum kecil, sederhana, namun penuh cerita. Tentang sejarah wilayah ini, tentang laut yang menjadi nadi kehidupan, dan tentang orang-orang yang membangun komunitasnya dari waktu ke waktu. Tempat seperti ini selalu mengingatkan bahwa keindahan hari ini tidak muncul begitu saja.

Cairns dengan Great Barrier Reef-nya, dan Airlie Beach dengan laut hijau toscanya, memberi pelajaran yang sama. Dunia ini indah bukan karena kita mengejarnya, tetapi karena kita mau berhenti sejenak untuk melihat. Dan di setiap keindahan itu, ada undangan lembut untuk bersyukur. Tanpa perlu kata-kata besar. Cukup hati yang terbuka dan kopi yang dinikmati perlahan.

“Look deep into nature, and then you will understand everything better.” – Albert Einstein.

“Tataplah alam dengan sungguh-sungguh, maka kita akan memahami banyak hal dengan lebih jernih.” – Albert Einstein.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Di Meja Regent: Saat Makan Menjadi Pengalaman, Bukan Sekadar Menu.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Meja Regent: Saat Makan Menjadi Pengalaman, Bukan Sekadar Menu.

Setelah tulisan pertama tentang Regent Seven Seas Explorer beredar, bagian yang paling sering memancing pertanyaan ternyata bukan rute pelayaran atau kemewahannya, melainkan satu hal yang sangat manusiawi: makanan.
“Benarkah boleh pesan apa saja?”
“Benarkah lobsternya setiap hari?”
“Benarkah tidak ada restoran berbayar?”
“Benarkah boleh pilih main course, appetizer dan premium dessert sepuasnya?”

Jawabannya: iya. Dan justru di situlah letak filosofi Regent yang membedakannya dari cruise lain.

Di Regent, makan tidak diatur dengan rasa takut kekurangan. Kita tidak diminta memilih dengan hati-hati seolah sedang menghemat. Tidak ada tekanan untuk “memilih yang paling mahal” karena takut rugi. Semuanya sudah disiapkan sebagai standar. Kebebasan memilih ini menciptakan suasana makan yang santai, penuh rasa aman, dan tanpa beban.
Kami bisa saling berbagi, mencicipi makanan bersama teman-teman.

Yang menarik, meskipun bebas, suasana tidak pernah berubah menjadi rakus atau berlebihan. Justru karena tidak dibatasi, kita makan dengan lebih sadar. Mencicipi. Menikmati. Menghargai.

Soal bahan, Regent jelas tidak bermain aman. Mereka bermain serius.
Daging sapi pilihan dengan grade USDA Prime adalah standar, bukan menu khusus. Steak disajikan dengan potongan yang tepat, dimasak presisi, dan tetap menonjolkan rasa asli daging. Ini jenis daging yang tidak perlu diselamatkan saus.

Untuk pecinta seafood, pengalaman di Regent terasa hampir tidak masuk akal. Lobster hadir hampir setiap saat, bukan sebagai menu gala satu malam. Tiger prawn besar dan manis, disajikan dengan teknik sederhana agar rasa alaminya tidak tertutup. Ikan segar terasa segar. Tidak amis. Tidak lelah.

Saya juga menikmati bagaimana dapur Regent memperlakukan hidangan klasik Eropa. Escargot, foie gras, saus berbasis mentega dan wine, semuanya disajikan dengan elegan, tanpa rasa berat. Ini bukan masakan yang ingin pamer teknik, tetapi ingin menyenangkan tamu.

Btw, Escargot ini menu favorit b. Silvy dan saya…
Hahaha…. kami benar-benar Duo, satu paket, ujar teman-teman, – baik dalam pelayanan jadi PIC BBL, mau pun selera makan.

Kristina pun berkomentar,”Wow luar biasa tulisan Yenny yang nyata tidak ditambah -tambahi, hanya ada sedikit kurang untuk piring Versace yg disajikan di semua meja setiap kita ke Compas Rose he he harga nya 445 USD per satu piring?.”

Wuih…..

O ya, kami dapat Free Wifi. 1 orang 1 nomor. Ini menyenangkan sekali…

Satu hal kecil tapi penting: tidak ada rasa “produksi massal”.
Setiap piring terasa dibuat dengan niat serius. Pelayanannya personal. Sommelier menawarkan wine pairing tanpa menggurui. Chef terbuka pada permintaan khusus, selama bahan tersedia. Bahkan menu di luar daftar pun bisa dibuat.

Dan karena ini Regent, semua itu terjadi tanpa embel-embel biaya tambahan. Tidak ada restoran premium yang disisihkan untuk “yang mau bayar lebih”. Tidak ada perasaan kelas sosial di ruang makan. Semua tamu diperlakukan setara.

Makan di Regent bukan soal kemewahan yang berisik. Ini tentang kelimpahan yang tenang. Tentang rasa cukup. Tentang menikmati tanpa rasa bersalah.

Mungkin itu sebabnya banyak tamu mengatakan bahwa di Regent, mereka bukan hanya pulang dengan foto-foto indah, tetapi juga dengan ingatan tentang rasa. Rasa makanan, rasa damai, dan rasa syukur.

Dan di tengah segala kelimpahan itu, kita diingatkan bahwa segala sesuatu yang baik, termasuk kemampuan menikmati, adalah karunia Tuhan.

Regent mengajak kita mengalami paradoks surgawi: bahwa kelimpahan terasa paling nikmat justru ketika tidak kita kejar. Dengan menghapuskan mekanisme “bayar lebih” dan “pilihan terbatas”, kapal ini menciptakan ruang di mana jiwa bisa beristirahat dari mentalitas kelangkaan. Di sini, kita dilatih untuk percaya bahwa cukup itu ada, dan berkat itu mengalir bagi semua. Ini adalah gambaran kecil dari kerajaan sorga-di mana perjamuan tersedia untuk setiap tamu yang datang, tanpa syarat, tanpa hierarki, hanya dengan tangan terbuka dan senyum penerimaan.

Hhhmmmm…. betapa indahnya!

“Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, in all the places you can, to all the people you can, as long as ever you can.” – John Wesley.

“Lakukan semua kebaikan yang kau bisa, dengan segala cara yang kau bisa, di segala tempat yang kau bisa, kepada semua orang yang kau bisa, selama kau masih bisa.” – John Wesley.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bintang Tujuh di Tengah Samudra: Pengalaman Berlayar Bersama Regent Seven Seas Explorer….


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bintang Tujuh di Tengah Samudra: Pengalaman Berlayar Bersama Regent Seven Seas Explorer….

Liburan senantiasa menyenangkan, terlebih lagi menikmati Regent Cruise – Seven Seas Explorer dari Benoa, Bali mulai tanggal 12 Desember 2025, menuju Sydney, Australia.
Direncanakan kami akan tiba tanggal 28 Desember 2025.

Diprakarsai oleh Kristina Roberts, kami semua berdelapan liburan bersama-sama.
Kristina, P. Indra, saya – YennyIndra, Silvy, dr. Daniel & Tjuarty, Sur & Ayun.

Saya sudah puluhan kali menikmati cruise, dari Asia Tenggara, Alaska, Eropa, Amerika, hingga Oasis of the Seas yang pernah menyandang predikat kapal pesiar terbesar di dunia pada masanya. Artinya, saya bukan baru pertama kali naik kapal pesiar. Standar sudah terbentuk. Tidak mudah terkesan.

Namun Regent Seven Seas Explorer memberi rasa yang berbeda sejak hari pertama.

P. Anton Thedy dari TX Travel berkomentar sambil tertawa, “Ini bintang tujuh.”
Saya menimpali, “Kayak obat sakit kepala saja ya… hahaha.”
Tapi semakin hari di kapal ini, saya paham maksudnya. Ini bukan sekadar mewah. Ini pengalaman yang matang, tenang, dan penuh perhatian pada detail.

Hal pertama yang langsung terasa adalah ruang dan ketenangan. Regent tidak mengejar jumlah penumpang. Semua kabin adalah suite dengan balkon pribadi.
Kamar di Regent luas dan terasa seperti apartemen pribadi.
Ada wardrobe terpisah, ruang tamu yang nyaman, dan balkon pribadi untuk menikmati laut.
Semua tertata rapi dan fungsional.
Bukan sekadar kamar, tapi ruang untuk benar-benar tinggal dan beristirahat.

Tidak ada kamar “hemat” tanpa jendela. Semua lapang. Semua nyaman. Kita tidak merasa berada di kapal besar yang ramai, melainkan seperti tinggal di hotel butik yang kebetulan sedang berlayar.

Konsep truly all-inclusive juga menjadi pembeda besar. Hampir semua sudah termasuk: fine dining, minuman premium, wine berkualitas, minibar, room service 24 jam, hingga shore excursion di setiap pelabuhan. Tidak ada kejutan tagihan. Tidak ada perasaan “ini bayar lagi ya?”. Pikiran benar-benar istirahat.

Soal makanan, Regent bermain di level serius.
Terdapat 7 restoran utama, masing-masing dengan karakter kuat.

Compass Rose, restoran signature Regent, memungkinkan kita merancang menu sendiri. Pilih protein, saus, hingga tingkat kematangan.
Prime 7, steakhouse klasik dengan daging berkualitas tinggi.
Chartreuse, restoran Prancis modern dengan plating cantik.
Plating cantik artinya makanan ditata indah, niat, dan berkelas. Bukan hanya enak dimakan, tapi memanjakan mata.
Pacific Rim, Asian fusion yang elegan dan refined.
La Veranda,buffet yang tidak terasa seperti buffet.
Malam hari berubah menjadi Sette Mari, restoran Italia yang hangat.
Dan Pool Grill, santai tapi tetap premium.

Semua ini tanpa biaya tambahan. Di Regent, specialty dining bukan ekstra. Itu standar.

Satu fasilitas yang sangat saya apresiasi dan jarang disadari orang adalah laundry dan pressing gratis setiap hari, hingga dua hari sebelum kapal bersandar di Sydney. Baju dicuci, disetrika, rapi, dan kembali ke lemari tanpa biaya. Hanya jika kita meminta dry clean, barulah ada charge. Untuk perjalanan panjang, ini bukan detail kecil. Ini kenyamanan nyata.

Fasilitas lain yang membuat pengalaman semakin lengkap:
Serene Spa & Wellness, tenang dan tidak ramai.
Observation Lounge dengan pemandangan laut luas, tempat favorit untuk duduk diam sambil minum kopi.
Perpustakaan, sunyi dan elegan.
Bahkan tersedia self-service laundry, bagi yang suka mandiri.

Yang juga unik di Regent adalah rasio kru dan tamu yang tinggi. Pelayanan terasa personal. Mereka mengingat nama, kebiasaan, bahkan preferensi minum kita. Bukan basa-basi, tapi perhatian yang tulus.

Bagi saya, Regent Seven Seas Explorer bukan soal kemewahan berlebihan. Ini soal pace.
Pace artinya ritme hidup atau perjalanan, cepat atau pelan.
Di sini, pace-nya pelan dan sadar. Tidak dikejar jadwal. Tidak berisik. Tidak melelahkan. Kita menikmati hari apa adanya.

Perjalanan 16 hari dari Benoa ke Sydney ini bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang proses menikmati setiap hari. Membuka balkon pagi hari. Menatap laut. Minum kopi tanpa tergesa. Membaca. Berjalan. Makan enak. Turun di pelabuhan dengan tenang.

Jika ditanya, apa yang benar-benar membedakan Regent dari cruise lain?
Jawabannya sederhana: rasa cukup.
Tidak ada yang terasa kurang. Tidak ada yang perlu ditambah. Semua sudah dipikirkan.

Dan mungkin, itulah definisi kemewahan yang sesungguhnya.
Bukan yang berisik.
Bukan yang pamer.
Tapi yang membuat kita bisa bernapas lega, dan menikmati hidup dengan utuh.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar tentang kapal, makanan, atau destinasi. Di tengah laut yang luas dan ritme hidup yang diperlambat, ada ruang untuk diam, merenung, dan kembali menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah.

Ketika kita berhenti sejenak dan tidak tergesa, hati menjadi lebih peka melihat kebaikan Tuhan dalam hal-hal sederhana. Setiap pagi, setiap pelayanan, setiap momen tenang menjadi pengingat bahwa Tuhan menyertai langkah kita, ke mana pun kita pergi.

Dan tentu saja….. menjadi kesempatan bersyukur dan menikmati karunia-Nya.

Luxury is not about having more. It’s about needing less.” – Coco Chanel.

“Kemewahan bukan soal memiliki lebih banyak, tetapi membutuhkan lebih sedikit.” – Coco Chanel.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3