Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Kuncinya, Menempatkan Diri Agar Bisa Mendengar Tuhan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kuncinya, Menempatkan Diri Agar Bisa Mendengar Tuhan…

Dalam hidup ini, setiap kita pasti percaya pada sesuatu. Bisa Firman Tuhan, bisa pendapat dokter, pengalaman pribadi, atau berita yang kita dengar. Tapi jika yang kita percayai bertentangan dengan Firman Tuhan… itulah yang disebut ketidakpercayaan.

Di tengah pergumulan, saat fakta-fakta seolah berteriak—rasa sakit, kekurangan, tekanan, atau situasi yang tampak mustahil—apa yang seharusnya kita lakukan?

Duduk. Diam. Dan mendengar.

Sederhana, tapi bukan perkara mudah. Namun, di situlah kuncinya. Kita perlu mendisiplinkan diri untuk duduk dan menempatkan diri di bawah atmosfer iman—di mana kita bisa terus mendengar dan mendengar Firman Tuhan.

Bukan mendengar keluhan orang, bukan cerita sedih, apalagi berita-berita yang menyulut ketakutan. Tapi mendengar Firman yang hidup. Firman yang penuh kuasa, yang mampu membangkitkan iman dan mengubah keadaan apa pun!

“Iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Tuhan.” Maka ketika iman kita lemah, solusinya bukan sibuk cari pertolongan ke sana kemari, tapi justru kita perlu mendengar. Bukan satu kali, tapi terus-menerus. Sampai Firman itu mengakar dan menghasilkan keyakinan yang tak tergoyahkan di dalam hati kita.

Rahab si pelacur bisa percaya dan bertindak karena dia mendengar. Dia mendengar bagaimana Tuhan membelah Laut Merah, menaklukkan dua raja besar, dan menyertai bangsa Israel. Semua orang di kota Yerikho mendengar hal yang sama, tapi hanya Rahab yang merespon dengan iman.

Dia berkata, “Aku tahu!”
Bukan karena dia melihat…
Bukan karena kejadiannya sudah terjadi…
Tapi karena dia percaya Firman itu pasti digenapi.

Sungguh luar biasa!
Kalau Rahab bisa… kita pun bisa!

Tantangan zaman ini: kita hidup dalam dunia yang dipenuhi ‘laporan jahat’. Berita-berita yang secara fakta memang benar—penyakit, bencana, krisis ekonomi—namun sering kali justru membunuh iman. Maka, kalau kita lebih percaya pada fakta daripada Kebenaran Firman Tuhan, kita sedang membiarkan ketidakpercayaan bertumbuh diam-diam.

Pengalaman tidak bisa dijadikan standar kebenaran. Firmanlah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu.

Karena itu, mari kita periksa: Apa yang sedang kita dengar setiap hari? Apakah yang kita dengar sedang membangun iman… atau malah menumbuhkan ketakutan?

Salah satu rahasia orang-orang yang hidup dalam dimensi mujizat: Mereka menjaga pintu hati mereka.

Apa yang masuk lewat telinga dan mata akan menentukan arah hidup kita. Jangan remehkan obrolan, tontonan, atau bacaan—semuanya punya kuasa membentuk pola pikir dan akhirnya… menentukan hasil hidup.

Sebaliknya, ketika kita menempatkan diri dalam lingkungan yang dipenuhi Firman, kesaksian, dan orang-orang yang percaya… atmosfer iman tercipta. Dan saat itulah, mujizat menjadi nyata.

Tuhan pernah menegur dengan lembut dalam hati,
“Kamu tak perlu tahu bagaimana caranya. Cukup tahu bahwa Aku sanggup.”

Dan benar. Saat kita duduk, diam, dan terus mendengar—iman itu tumbuh. Bukan karena kita memaksakan percaya, tapi karena benih Firman menyatu dengan roh kita… dan buahnya pun muncul dengan sendirinya.

Mungkin hari ini belum terasa perubahan. Tapi jangan berhenti mendengar. Teruskan. Karena Firman itu hidup dan aktif. Pada suatu ketika, pada titik tertentu …….. Ia akan menjadi rhema—pewahyuan pribadi dari Tuhan—yang menggerakkan tangan-Nya bekerja dalam hidup kita.

Jangan menunggu semuanya terlihat baik baru percaya. Tapi mari katakan bersama:
“Aku tahu, tahu dan tahu… Tuhanku sanggup dan setia menolongku!”

Seperti Rahab,kita pun akan melihat tangan Tuhan bekerja—melampaui nalar, melampaui harapan.

“Faith sees the invisible, believes the unbelievable, and receives the impossible.” – Corrie ten Boom.

“Iman melihat yang tak kelihatan, percaya pada yang tak masuk akal, dan menerima yang mustahil – Corrie ten Boom.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kaleb: Teladan Iman yang Menantang Generasi

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kaleb: Teladan Iman yang Menantang Generasi

Kisah Kaleb adalah salah satu yang penuh dengan inspirasi, keberanian, dan iman yang tak tergoyahkan. Ia bukan hanya seorang pejuang yang menaklukkan raksasa, tetapi juga seorang ayah dan paman yang meninggalkan warisan iman yang luar biasa. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang bagaimana berani meminta dan mengklaim janji Tuhan, bahkan di tengah tantangan yang besar. Kaleb menunjukkan kepada kita bahwa iman yang teguh bisa menginspirasi orang lain untuk juga berani berdiri teguh dalam janji-janji Tuhan.

Pada masa ketika sebagian besar bangsa Israel merasa takut dan ragu-ragu untuk memasuki tanah perjanjian, Kaleb berbeda. Ketika para pengintai melihat adanya raksasa, keturunan Enak, yang membuat mereka merasa gentar, Kaleb tidak terpengaruh. Dengan penuh keyakinan, ia berkata, “Aku mau tanah itu! Aku mau tanah yang semua orang takuti. Aku akan menghadapi raksasa itu dengan kuasa Tuhan!” (Yosua 14:12). Kaleb tidak hanya berbicara tentang apa yang Tuhan janjikan, tetapi ia bersedia untuk menanggung tantangan besar demi mengklaimnya.

Dalam perjalanan iman Kaleb, kita melihat warisan yang ia tinggalkan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya, terutama bagi keponakannya, Otniel. Kaleb mengundang Otniel untuk mengikuti jejaknya.

Dalam usaha menaklukkan kota Debir, Kaleb memberikan janji bahwa siapa pun yang berhasil menaklukkan kota tersebut akan mendapatkan anak perempuannya, Aksa, sebagai istri.

Tanpa ragu, Otniel maju dan merebut kota itu. Kaleb menepati janjinya, dan Aksa menjadi istri Otniel. Ini bukan hanya tentang kemenangan fisik, tetapi juga tentang bagaimana keberanian dan iman Kaleb menginspirasi generasi berikutnya untuk mengambil langkah berani dalam iman.

Namun, kisah ini tidak berhenti di situ. Aksa, putri Kaleb, menunjukkan bahwa keberanian dalam meminta juga merupakan bagian dari warisan yang ditinggalkan oleh Kaleb.

Setelah mendapatkan tanah dari ayahnya, Aksa dengan berani meminta tambahan: “Berilah aku suatu berkat. Karena engkau telah memberikan kepadaku tanah di tanah Negeb, berilah juga kepadaku sumber-sumber air”.

Dengan iman, Aksa tahu bahwa ia bisa meminta lebih dan mendapatkan lebih, dan Kaleb mengabulkan permintaannya dengan memberikan mata air atas dan mata air bawah, menjadikan tanah itu subur.

Apa yang dapat kita pelajari dari Kaleb dan keluarganya?

Pertama, kita diajarkan untuk berani meminta.
Tuhan suka melihat anak-anak-Nya yang berani meminta dan berani mengklaim apa yang telah Dia janjikan. Kaleb mengajarkan kita bahwa iman bukan hanya tentang menerima janji Tuhan, tetapi juga tentang berani menghadapinya, bahkan ketika ada “raksasa” yang tampaknya menghalangi kita. Kaleb dan keluarganya tidak takut menghadapi rintangan, karena mereka tahu bahwa Tuhan akan berjalan bersama mereka.

Lebih dari itu, Kaleb menunjukkan kepada kita pentingnya meninggalkan warisan iman bagi generasi berikutnya.

Keberanian dan iman yang ia tunjukkan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya, yang kemudian meneruskan perjuangan itu. Otniel, yang terinspirasi oleh pamannya, dan Aksa, yang belajar untuk meminta lebih dari Tuhan, adalah bukti nyata dari warisan iman yang ditinggalkan Kaleb.

Kaleb adalah contoh nyata bahwa iman tidak hanya untuk kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain di sekitar kita. Ketika kita hidup dengan iman yang teguh, kita menjadi teladan bagi anak-anak kita, keponakan, dan bahkan orang-orang di sekitar kita. Iman kita bisa menjadi sumber inspirasi yang menggerakkan orang lain untuk mengambil langkah-langkah berani dalam hidup mereka.

Sebagai orang tua, pemimpin, atau siapa pun kita, kita semua dipanggil untuk meninggalkan warisan iman.

Apakah kita sedang menginspirasi orang lain untuk berani meminta, untuk berani mengklaim janji Tuhan?
Apakah kita hidup dengan iman yang bisa menginspirasi generasi berikutnya?
Kaleb, dengan segala keberaniannya, telah menunjukkan kepada kita bagaimana melakukannya.

Tuhan telah memberikan janji-janji-Nya kepada kita, dan seperti Kaleb, kita dipanggil untuk berani mengambilnya. Kita tidak perlu takut dengan raksasa atau tantangan yang ada di depan kita. Dengan iman, kita bisa maju dan meraih tanah perjanjian yang telah Tuhan sediakan. Jadi, mari kita tinggalkan warisan iman yang kuat, seperti yang dilakukan Kaleb, dan inspirasi generasi berikutnya untuk berani meminta dan mengambil apa yang telah Tuhan janjikan.

“The greatest legacy one can pass on to one’s children and grandchildren is not money or other material things accumulated in one’s life, but rather a legacy of character and faith.” – Billy Graham.

“Warisan terbesar yang bisa diberikan seseorang kepada anak dan cucunya bukanlah uang atau harta benda, tetapi warisan karakter dan iman – Billy Graham.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Standing Ovation Seluruh Jerman Untuk Angela Merkel: Why?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Standing Ovation Seluruh Jerman Untuk Angela Merkel: Why?

Saya membaca kisah apik ini di FB P. Pria Takari, dan saya pun riset lalu menuliskannya ulang untuk pembaca Seruput Kopi Cantik.

Standing ovation yang paling dikenang untuk Angela Merkel di Jerman terjadi pada 2 Desember 2021, dalam acara perpisahan resmi militer (Großer Zapfenstreich) yang
diselenggarakan oleh Bundeswehr (militer Jerman) di Berlin, menandai akhir masa jabatannya sebagai Kanselir setelah 16 tahun memimpin Jerman (2005-2021)

Angela Dorothea Merkel yang lahir 17 Juli 1954 adalah politikus dan mantan ilmuwan peneliti Jerman yang menjabat sebagai Kanselir Jerman periode 2005 hingga 2021 dan Ketua Persatuan Demokrat Kristen (CDU) periode 2000 hingga 2018. Merkel adalah perempuan pertama yang memegang kedua jabatan tersebut.

Di tengah maraknya pejabat pamer gaya hidup mewah dan pencitraan, Angela Merkel justru tampil sederhana, diam, teguh, namun kuat dalam prinsip. Ketika masa jabatannya berakhir setelah 16 tahun, rakyat Jerman serentak berdiri di balkon dan bertepuk tangan selama enam menit. Tanpa pengeras suara, tanpa panggung, tapi penuh hormat.

Merkel, anak pendeta Lutheran dari Jerman Timur yang ateistik, dibesarkan dengan nilai Kristiani: tanggung jawab, kerja keras, dan kesederhanaan.
Iman dan integritasnya tampak nyata dalam kepemimpinan dan hidup sehari-hari. Ia tidak sekadar bicara, tapi memberi teladan.

Saat masa jabatannya berakhir setelah 16 tahun, rakyat Jerman serentak berdiri di balkon, jendela, dan jalan—bertepuk tangan selama enam menit. Tanpa pengeras suara, tanpa panggung, tapi penuh hormat.

Merkel membuktikan: keteladanan lebih berbicara daripada kata-kata. Ia dihormati bukan karena citra, tapi karena karakter yang memuliakan Tuhan.

“Saya ini petugas pemerintahan, bukan model,” jawabnya, saat ditanya kenapa pakaiannya nyaris tidak pernah berganti model. Jawaban ini bukan basa-basi. Selama 18 tahun, Angela Merkel memang konsisten memakai pakaian serupa, warna netral, sederhana, dan tidak mencolok.

Ia tinggal di apartemen yang sama sejak sebelum menjabat. Tak pernah pindah ke rumah mewah. Tak punya pembantu, tak punya jet pribadi, kolam renang, atau taman eksklusif. Ia dan suaminya mencuci baju sendiri, masak sendiri, dan memilih waktu mencuci malam hari supaya tidak membebani listrik kota. Bahkan ia mengatur suara mesin cuci agar tak mengganggu tetangga!

Seseorang pernah berkata, “Karakter yang kuat adalah suara dari jiwa yang tenang.” Dan itulah Angela Merkel. Ketika seluruh dunia panik, dia tetap tenang. Ketika tekanan datang dari kiri-kanan, dia tidak reaktif. Karena pemimpinnya bukan hanya dirinya sendiri, tapi Tuhan.

Di salah satu pidatonya, Merkel pernah berkata:

“Kita tidak akan pernah bisa memaksa semua orang berpikir atau percaya hal yang sama, tetapi kita bisa tetap menghormati dan bertindak berdasarkan kasih.”

Itu intisari yang diajarkan Tuhan: bukan memaksa, tetapi memengaruhi lewat kasih dan keteladanan.

Merkel tidak pernah mengklaim diri sebagai penyelamat Jerman. Ia tak suka pujian. Tak ada piagam penghargaan yang ia kejar. Tapi rakyat melihat buahnya.

Selama 16 tahun kepemimpinannya, Jerman stabil. Tidak ada skandal pribadi. Tidak ada drama politik. Tidak ada kerabat yang disusupkan ke pemerintahan. Tidak ada harta melimpah yang tiba-tiba muncul di akhir jabatan.

Justru, ia pergi di saat Jerman sedang kuat-kuatnya. Dan ia pergi dengan tenang. Tanpa pamitan dengan drama. Tanpa orasi pencitraan. Tapi ditingkahi 6 menit tepuk tangan dari rakyatnya.

Luar biasa!

Raja Salomo berkata, “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.”

Dan Angela Merkel telah hidup di dalamnya. Ia jadi pelindung 80 juta orang Jerman. Tak hanya lewat strategi ekonomi, tapi juga lewat keteladanan hidup.

Hhmmm … belajar seperti Angela Merkel yuk…

“Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing.” – Albert Schweitzer

*”Keteladanan bukanlah hal utama dalam memengaruhi orang lain. Itu satu-satunya hal” – Albert Schweitzer.*

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tak Perlu Takut, Hidupmu Ada dalam Penjagaan-Nya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tak Perlu Takut, Hidupmu Ada dalam Penjagaan-Nya!

Tak ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya aman, sukses, dan hidup bahagia. Tapi tidak sedikit pula orang tua yang justru terjebak dalam ketakutan tersembunyi.
Seperti Ayub dalam kisah kuno, ia terus mempersembahkan korban karena takut anak-anaknya berbuat dosa. Bukan karena iman, tapi karena kekhawatiran. Ironisnya, yang ia takutkan justru terjadi!

Itulah pelajaran besar yang saya pelajari:
ketika kita hidup dipimpin oleh ketakutan, kita tidak sedang melindungi keluarga kita—kita justru membuka pintu bagi hal-hal buruk yang kita takutkan.

Dulu saya pikir, semakin saya khawatir, semakin saya mencintai mereka. Ternyata salah! Khawatir bukan bukti kasih. Kekhawatiran adalah perwujudan rasa tidak percaya. Tidak percaya bahwa Tuhan mampu menjaga orang-orang yang kita kasihi jauh lebih baik daripada kita sendiri.

Ketakutan dan iman itu seperti dua sisi mata uang. Keduanya bekerja lewat kata-kata.
Saat kita berkata, “Aduh, jangan-jangan anakku kenapa-kenapa di jalan,” kita sedang membuka jalan bagi pikiran negatif untuk bekerja.
Pikiran yang terus diulang, – entah benar atau salah -, akan kita percayai dan menjadi keyakinan. Dan keyakinan yang salah—yang lahir dari ketakutan—akan membawa kita kepada keputusan yang salah pula.

Tuhan mengingatkan,
“Berhati-hatilah dengan apa yang kamu dengar.
Ukuran pemikiran dan pembelajaran yang kamu berikan kepada kebenaran yang kamu dengar, akan menjadi ukuran kebajikan dan pengetahuan yang kembali kepadamu—
dan lebih dari itu, akan diberikan kepadamu yang mau mendengar.”

Prinsipnya, apa yang kita terima dari Firman Tuhan bergantung pada seberapa sungguh-sungguh kita memberi perhatian, merenungkan, dan memperdalamnya. Semakin besar perhatian dan penggalian kita terhadap kebenaran, semakin besar pula hasil yang kita tuai—bahkan ditambahkan lebih dari itu.

Tapi ketika kita belajar hidup dalam iman, kita berkata, “Anakku dilindungi tangan Tuhan. Ke mana pun ia pergi, ada malaikat yang menjagai dia. Tuhan sudah berjanji, Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku. Janji Tuhan Ya dan Amin.”

Kata-kata kita bukan hanya sekadar penghiburan, tapi pernyataan iman yang punya kuasa!

Kuncinya: Kenali sumber pikiranmu.

Pikiran dari Tuhan selalu datang dengan damai sejahtera. Seringkali muncul dari dalam, tenang tapi kuat. Tapi pikiran dari musuh datang tiba-tiba, menyerang seperti badai. Memaksa, membuat cemas, dan mendesak untuk segera diambil tindakan.

Pernah satu malam saya gelisah, memikirkan salah satu anak saya yang sedang bepergian. Pikiran saya dipenuhi kemungkinan terburuk. Saat itu saya belajar menundukkan pikiran saya dan bertanya: “Ini dari mana ya?”
Ternyata bukan dari Tuhan. Maka saya belajar menolak pikiran tersebut dan menggantinya dengan ucapan syukur serta janji-janji perlindungan Tuhan.

Kalau tidak, saya bisa saja langsung menelepon anak saya dengan nada khawatir dan tanpa sadar, justru menularkan ketakutan saya kepadanya.

Kita tidak bisa mencegah burung beterbangan di atas kepala, tapi kita bisa mencegahnya membuat sarang di kepala kita. Begitu pula pikiran. Jangan biarkan pikiran negatif tinggal dan berkembang. Segera tolak dan gantikan dengan yang benar.

Lalu, apa bedanya doa yang panik dan doa yang penuh iman?

Doa yang panik muncul dari kecemasan dan ketidakpercayaan. Kata-katanya dipenuhi kekhawatiran: “Tuhan, jangan sampai terjadi sesuatu ya… lindungi ya… jangan-jangan begini… jangan-jangan begitu…” Setelah berdoa pun hati tetap gelisah, pikiran masih berkecamuk, dan kita makin ingin mengontrol keadaan.

Sebaliknya, doa yang penuh iman lahir dari hati yang yakin akan kasih dan kuasa Tuhan. Kata-katanya penuh syukur: “Tuhan, terima kasih karena Engkau sudah menjaga anakku. Aku percaya Engkau bekerja dalam hidupnya. Aku tenang karena Engkau setia.” Setelah berdoa, hati terasa ringan dan damai. Kita bisa tersenyum, bahkan tidur nyenyak karena tahu segala sesuatu dalam tangan-Nya.

Hari ini, mari kita koreksi cara kita berdoa.
Apakah motivasi kita berdasarkan iman atau ketakutan?
Apakah kita sedang percaya pada kebaikan Tuhan, atau sedang mencoba “mengendalikan” keadaan lewat doa karena kita panik?

Ketika doa kita lahir dari hati yang percaya, damai sejahtera akan mengikuti. Tapi kalau kita makin panik setelah berdoa, mungkin itu bukan doa… mungkin itu hanya pelampiasan rasa takut.

Yuk, mulai hari ini kita memilih hidup dari tempat percaya, bukan cemas. Menyerahkan orang-orang yang kita kasihi ke tangan Tuhan, yang jauh lebih sanggup menjagai mereka daripada kita.

Kita lakukan bagian kita: membimbing, mengingatkan, mencintai, dan… percaya. Selebihnya, Tuhan yang melakukan bagian-Nya.

Karena ternyata, yang benar-benar menjaga dan memelihara hidup mereka bukan kita. Tapi Tuhan yang maha kasih dan setia.

“Worry does not empty tomorrow of its sorrow. It empties today of its strength.”
— Corrie ten Boom

“Kekhawatiran tidak mengurangi kesusahan hari esok. Tapi ia mencuri kekuatan kita hari ini.”— Corrie ten Boom

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Autoimun? Ini Penyebabnya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Autoimun? Ini Penyebabnya!

Sungguh mengherankan, mengapa saya menderita auto-imun….
Saya cinta Tuhan, berdoa, baca firman, bahkan Sekolah Charis karena ingin mengenal-Nya lebih dekat lagi.
Ingin protes rasanya, ketika saya mendengar bahwa penyebab auto-imun adalah penolakan terhadap diri sendiri dan pemberontakan terhadap Allah.
Masakan saya memberontak pada Allah dan menolak diri sendiri?

Kebalikan penolakan diri adalah mengasihi diri sendiri. Ternyata definisinya berbeda dengan apa yang saya pikirkan.

Loving yourself is believing what God said about you is true & receiving it & not entertaining the contrary thoughts that the enemy brings to you hour by hour – Adrianne Shelf.

Mencintai diri sendiri artinya percaya pada apa yang Tuhan katakan tentang Anda adalah benar, menerimanya dan tidak menikmati pikiran yang berlawanan yang dibawa musuh kepada Anda, dari waktu ke waktu – Adrianne Shelf.

Saya pun sadar. Betapa sering selama ini menerima perasaan bersalah yang ditaruh musuh dalam pikiran saya dan menikmatinya!

Perasaan bersalah akan membawa kita pada penolakan diri, yang akhirnya membuat kita memberontak terhadap Tuhan. Karena pemberontakan itu diberi kekuatan oleh musuh kita, yaitu si iblis.

“Rebellion says I’m gonna to believe what the enemy says about me and not what you say about me, Father. – Pemberontakan adalah sikap yang menyatakan, saya memilih mempercayai apa yang musuh/iblis katakan tentang saya dan bukan apa yang Tuhan katakan,” Adrianne Shelf menjelaskan.

Perasaan bersalah ini sudah sedemikian umum dan samar, dari hal-hal besar hingga sepele maka kita tidak menyadarinya. Perasaan bersalah mengendalikan kita sepanjang hari. Merasa bersalah makan terlalu banyak, terlambat menjemput sekolah atau hal-hal sepele lainnya. Ternyata itu pun berpengaruh.

Dieeeeennnnkkkk…
Kalau definisi menolak diri dan pemberontakan seperti yang diungkapkan Adrienne Shelf, saya kerap melakukannya.
Saya percaya perkataan musuh bahwa saya bukan ibu yang baik. Tidak bisa masak, mengirim Elisa dan Chris saat masih belia sekolah ke luar negeri, seharusnya saya berusaha lebih keras dll.

Masa sich pikiran bisa sedemikian berpengaruhnya?

Thoughts are real, physical things that occupy mental real estate. Moment by moment, every day, you are changing the structure of your brain through your thinking. When we hope, it is an activity of the mind that changes the structure of our brain in a positive and normal direction*, ujar Dr. Caroline Leaf, dalam bukunya “Switch On Your Brain”.

Pikiran sesuatu yang nyata, merupakan hal-hal fisik yang menempati ruang mental. Waktu demi waktu, setiap hari, Anda mengubah struktur otak Anda melalui pemikiran Anda.  Ketika kita berharap, itu menjadi aktivitas pikiran yang mengubah struktur otak kita ke arah yang positif dan normal. – Dr. Caroline Leaf.

Dr. Caroline Leaf adalah ahli patologi komunikasi dan ilmuwan saraf kognitif dengan gelar Master dan PhD di bidang Patologi Komunikasi dan BSc Logopaedics, dengan spesialisasi neuropsikologi kognitif dan metakognitif.

Saya sekarang menyadari kesalahan saya, menyetujui perkataan musuh dan memberontak kepada Allah. Tidak heran kalau saya menderita auto-imun hipertiroid!

Ternyata banyak orang-orang yang cinta Tuhan, yang ingin jadi pribadi yang baik, jadi sesempurna mungkin supaya mempermuliakan nama Tuhan, yang justru mudah merasa bersalah dan menjadi sasaran iblis.

Sekarang saya menikmati saja hubungan pribadi dengan Tuhan. Hal-hal yang saya tidak mampu, ya sudah… Serahkan pada Tuhan sesuai perintah-Nya. Ternyata Tuhan justru mengubah kekurangan saya, menjadi kebaikan. Dalam artikel lain, saya akan menceritakan bagaimana Elisa dan Chris justru bersyukur mereka ke Australia saat usia masih belia. God is good, all the time!

Dengan menyadari penyebabnya, sekarang setiap kali pikiran yang menuduh muncul di kepala, saya berhenti sejenak mengevaluasi. Pikiran dari siapa ini? Tuhan, saya atau si musuh?
Dengan sadar, sekarang saya *memilih* pikiran-pikiran mana yang boleh tinggal di kepala saya.

Belajar mengendalikan pikiran kita yuk… Supaya bebas dari serangan auto-imun.

We are not victims of our biology. We are co-creators of our destiny alongside God. God leads, but we have to choose to let God lead. We have been designed to create thoughts, and from these we live out our lives. – Dr. Caroline Leaf

Kita bukanlah korban secara biologis.  Kita adalah rekan pencipta takdir kita sendiri bersama Tuhan.  Tuhan yang memimpin, namun kita harus memilih untuk membiarkan Tuhan memimpin.  Kita telah dirancang untuk menciptakan pikiran, dan dari sinilah kita menjalani kehidupan kita  – Dr. Caroline Leaf

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 7 8 9 10