Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Apa yang Tetap Bernilai Saat Semua Sorotan Padam?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Apa yang Tetap Bernilai Saat Semua Sorotan Padam?

Denzel Washington pernah berkata,
“Man gives the award. God gives the reward. On my last day, Oscars won’t do me any good.”

“Manusia memberikan penghargaan. Tuhan memberikan hadiahnya. Pada hari terakhirku, Oscar tidak akan membantuku.”

Kalimat ini sederhana tapi menghantam tepat di hati. Di tengah dunia yang terobsesi pada pengakuan, gelar, likes, views, dan popularitas, kita sering lupa: hidup bukan soal tampil gemilang di panggung, tetapi tentang dampak yang kita tinggalkan setelah lampu sorot padam.

Ada begitu banyak orang yang mati-matian membuktikan diri, mengejar validasi, bekerja sampai lupa hidup, hanya demi disebut sukses.

Padahal, seringkali yang terlihat hebat di luar, belum tentu damai di dalam. Kita bisa punya rumah besar tapi hati kosong. Bisa punya nama terkenal tapi relasi hancur. Bisa disanjung di media sosial, tapi kesepian saat pulang ke rumah.

Denzel menegaskan, manusia hanya bisa memberi award, penghargaan dari luar. Tapi reward sejati—upah yang bermakna, yang abadi—datangnya dari Tuhan. Karena Dia melihat hati. Bukan sekadar hasil, tapi motivasi dan kesetiaan dalam proses.

Saya jadi teringat, pernah suatu kali saya merasa gagal. Usaha sudah maksimal, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Rasanya ingin menyerah. Tapi dalam keheningan doa, saya merasakan Tuhan berkata, “Aku tidak melihat keberhasilan seperti manusia melihat. Aku melihat kesetiaanmu – konsistenmu dalam mengerjakan talenta yang Aku titipkan padamu.”

Gubraaaaakkk…..

Itulah yang membangkitkan kembali semangat saya. Dunia bisa mengabaikan kita. Tapi Tuhan tidak. Dan itu cukup.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi viral, kita dipanggil untuk setia. Tidak semua orang akan mengerti jalan kita, tapi Tuhan tahu. Bahkan secangkir air yang diberikan dengan tulus tidak akan sia-sia di hadapan-Nya.

Hidup yang benar bukan tentang impressing others – memukau orang lain, tetapi tentang pleasing God – menyukakan hati Tuhan.

Hidup dengan integritas, kasih, dan tujuan. Menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Menjadi teladan bagi anak-anak. Menolong saat bisa. Menguatkan saat diminta. Mengampuni saat disakiti.

Itu tidak akan masuk headline berita. Tapi tercatat di surga.

Dan saat hari terakhir tiba, seperti kata Denzel, Oscars tidak ada gunanya. Yang kita bawa bukan CV, sertifikat, atau medali. Tapi hati yang penuh kasih, jiwa yang pernah terluka tapi memilih mengasihi, dan jejak kebaikan yang menempel di hidup orang lain.
Hidup orang lain yang menjadi lebih baik karena mengenal kita itulah persembahan yang bisa kita bawa kepada-Nya.

Dari situlah kita bisa berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik. Aku telah mencapai garis akhir. Dan aku tetap setia.”

Itulah reward yang sejati.

Maka hari ini, kita punya pilihan: mengejar pengakuan dari dunia yang berubah-ubah, atau hidup untuk menyenangkan Tuhan yang tidak pernah berubah.

Kerjakan bagian kita. Bukan untuk dipuji, tapi karena itu benar. Bukan supaya terlihat baik, tapi karena kita sudah menerima kasih yang besar. Kita hidup bukan untuk membuktikan apa-apa—kita hidup untuk membagikan apa yang sudah kita terima dari-Nya.

“Try not to become a man of success. Rather become a man of value.” – Albert Einstein

Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses, tetapi jadilah pribadi yang bernilai – Albert Einstein.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Jangan Mati Gaya Hanya Karena Sekali jatuh.”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Jangan Mati Gaya Hanya Karena Sekali jatuh.”

Pernah nggak, kita mengawali sesuatu dengan penuh semangat, lalu gagal… dan tiba-tiba semua energi langsung hilang? Yang sebelumnya yakin, sekarang jadi ragu. Padahal baru gagal satu kali.

Dr. Charisse Nixon, profesor psikologi di Pennsylvania State University, pernah melakukan eksperimen sosial yang sederhana tapi sangat mengena.

Satu hari, beliau masuk ke kelas, membagikan secarik kertas kepada setiap mahasiswa. Mereka diminta untuk tidak langsung membalikkan kertasnya.

“Ini adalah anagram. Silakan susun huruf-huruf ini menjadi sebuah kata. Harusnya mudah,” kata Dr. Nixon.

Mahasiswa pun mulai mengerjakan.

Di sisi kanan ruangan, beberapa mahasiswa langsung tersenyum. Tangan mereka terangkat, tanda sudah menyelesaikan teka-teki. Mereka dapat soal seperti “back” dan “lemon”—memang mudah.

Tapi di sisi kiri ruangan, wajah-wajah mulai tegang. Tangan mereka tetap di meja, kepala menunduk penuh frustrasi. Mereka mencoba keras, tapi huruf-huruf itu seperti nggak masuk akal.

Apa yang mereka tidak tahu adalah: Dr. Nixon memang membagikan dua jenis soal.

Satu kelompok diberi anagram yang bisa diselesaikan. Kelompok lainnya diberi dua anagram pertama yang sengaja dibuat mustahil untuk dipecahkan.

Keduanya baru mendapat soal ketiga yang sama persis, yaitu “cinerama”—yang bisa disusun ulang menjadi “American.”

Tapi anehnya, kelompok yang sejak awal berhasil, langsung menyelesaikan soal ketiga ini.

Sementara kelompok yang sebelumnya gagal dua kali, tetap tidak bisa menyelesaikannya. Mereka sudah kalah duluan sebelum mencoba.

Lima menit berlalu. Ruangan sunyi di satu sisi, dan penuh percaya diri di sisi lain.

Saat itulah Dr. Nixon menjelaskan bahwa semua ini adalah eksperimen. Ia lalu bertanya kepada kelompok yang mendapat soal mustahil, “Apa yang kalian rasakan tadi?”

Beberapa mahasiswa mulai terbuka:
“Aku merasa bodoh.”
“Aku merasa kalah.”
“Aku bingung kenapa yang lain bisa, aku tidak.”
“Aku frustrasi.”

Lalu Dr. Nixon bertanya, “Kenapa kalian tidak bisa menjawab soal ketiga yang sebenarnya bisa diselesaikan?”

Jawaban seorang mahasiswa langsung mengena:
“Karena rasa percaya diriku sudah hancur.”

Itu yang disebut learned helplessness—ketidakberdayaan yang dipelajari. Saat kita gagal, otak merekam: “Aku memang nggak bisa.” Dan perasaan itu terbawa ke langkah-langkah berikutnya, bahkan untuk hal yang sebenarnya bisa kita lakukan.

Banyak orang yang gagal bangkit bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka percaya bahwa mereka tidak mampu.

Dan masalahnya, ini bukan cuma terjadi di ruang kelas. Tapi juga di kehidupan sehari-hari.

Kita pernah coba bisnis—gagal—lalu gak mau coba lagi.
Pernah percaya sama orang—dikhianati—akhirnya menutup hati.
Pernah pelayanan, pekerjaan —dihina—lalu gak mau terlibat lagi.

Padahal kegagalan itu bukan akhir, hanya bagian dari proses belajar.

Sayangnya, kita sering terlalu cepat menyimpulkan bahwa kegagalan sama dengan “aku memang gak bisa.” Itu kesimpulan keliru.

Bangkit lagi setelah gagal jauh lebih penting daripada tidak pernah gagal sama sekali.

Percaya bahwa kita bisa mencoba lagi, membuka jalan bagi kemenangan.

“Fall down seven times stand up eight” -Jatuh tujuh kali berdiri delapan kali.”

Tuhan gak pernah menuntut kita harus selalu berhasil. Tapi Dia ingin kita terus maju, terus melangkah, dan gak menyerah.

Jangan izinkan satu kegagalan hari ini mencuri semua potensi yang Tuhan siapkan untuk hari esok.

Kadang, bukan dunia yang menjatuhkan kita—tapi pikiran kita sendiri.

Mari kita lawan ketidakberdayaan yang dipelajari dengan keberanian untuk mencoba lagi.
Karena kemenangan tidak datang kepada orang yang tidak pernah jatuh,
tapi kepada mereka yang terus memilih untuk bangkit!

“Failure is simply the opportunity to begin again, this time more intelligently.” – Henry Ford.

“Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai kembali-kali ini dengan lebih cerdas.” – Henry Ford.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Belajar Memberi Grace: Melihat Orang Lain dengan Kaca Mata Baru

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Belajar Memberi Grace: Melihat Orang Lain dengan Kaca Mata Baru

Ada satu kalimat yang di post sahabat saya Yuliadi, yang mengubah cara saya melihat orang lain:

When you finally learn that a person’s behavior has more to do with their own internal struggle than it does you, you learn grace.

“Ketika kita akhirnya mengerti bahwa perilaku seseorang lebih banyak berhubungan dengan pergumulan dalam dirinya sendiri daripada tentang kita, saat itulah kita belajar memberi anugerah.”

Selama ini kita sering salah paham.
Ada orang yang bicara ketus, marah tiba-tiba, sinis, atau dingin. Spontan kita tersinggung. Pikiran kita langsung berkata: “Dia kenapa sih sama aku?”
Padahal, seringkali masalahnya bukan di kita sama sekali.

Kita tidak pernah tahu apa yang dia alami: mungkin sedang ada masalah rumah tangga, tekanan keuangan, sakit hati, atau bahkan masa lalu yang berat. Semua itu mempengaruhi sikapnya hari itu. Perkataannya hanyalah luapan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

Ketika saya sadar hal ini, hati seperti terbuka. Ada kelegaan.
Kita tidak lagi menempatkan diri sebagai pusat dunia, seolah semua orang bertindak karena kita. Kebanyakan orang sedang bergumul dengan diri mereka sendiri.

Di titik inilah kita belajar memberi grace.
Apa itu grace? Grace adalah anugerah.
Anugerah itu sesuatu yang kita terima dari Tuhan tanpa syarat, gratis, karena kasih-Nya. Bukan hasil usaha kita.

Kalau kita sudah menerima kasih karunia itu dengan iman, otomatis kita dimampukan untuk juga memberi anugerah kepada orang lain.
Memberi grace artinya memberi ruang, tidak cepat bereaksi, memberi pengertian, karena kita sadar kita pun hidup hanya karena kasih karunia Tuhan.

Grace tidak berarti membenarkan perilaku yang salah. Tapi hati kita tidak mudah tersulut, karena kita tahu masalahnya bukan tentang kita.
Grace itu sikap: hati kita tetap lembut walau orang lain sedang berantakan.

“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain.”
Kasih seperti ini bukan teori. Ini latihan setiap hari.
Kita dilatih justru saat orang lain tidak sempurna.

Saya belajar berkata dalam hati,
“Mungkin dia sedang letih. Mungkin hatinya terluka. Saya tidak perlu ikut terbawa arusnya.”
Hidup jadi lebih ringan.

Orang yang sudah matang dan mengerti kasih karunia Tuhan tidak gampang marah. Mereka tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, sehingga tidak terguncang oleh sikap orang lain.
Kita hanya bisa memberi grace kalau hati kita sudah kenyang oleh kasih Tuhan.

Seorang teman pernah berkata,
“Kalau kita bereaksi setiap kali ada orang yang salah kepada kita, hidup kita habis hanya untuk memadamkan api di luar. Lebih baik kita belajar memadamkan api di dalam hati dulu.”

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan marah-marah.

Mari kita belajar melihat orang lain dengan cara berbeda.
Daripada tersinggung, lihatlah mereka dengan belas kasihan.
Kadang orang yang paling menyebalkan adalah orang yang paling butuh kasih.

Apakah ini mudah? Tidak. Tapi setiap kali kita memberi grace, kita sedang bertumbuh.
Pelan-pelan, hati kita makin dewasa dan damai sejahtera kita terjaga.

Mungkin inilah maksud Tuhan ketika berkata: “Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.”

Berhentilah berpikir bahwa semua hal tentang kita.
Karena begitu kita sadar: Perilaku orang lain lebih banyak tentang pergumulan mereka sendiri, bukan tentang kita,
kita pun akan hidup lebih damai… dan belajar memberi grace—anugerah yang sudah kita terima dari Tuhan.

“Hurting people hurt people. They are full of pain, and it comes out in what they do and say.” – Joyce Meyer.

“Orang yang terluka cenderung melukai orang lain. Mereka penuh dengan rasa sakit, dan itu keluar melalui apa yang mereka lakukan dan katakan – – Joyce Meyer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Jangan Menyalahgunakan Kebaikan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Menyalahgunakan Kebaikan…

Niat baik bisa jadi bumerang kalau tidak dibarengi hikmat.
Banyak orang berpikir bahwa menolong = selalu memberi. Tapi kalau kita tidak hati-hati, “kasih” kita malah bisa menjerumuskan orang lain makin dalam ke dalam pola hidup yang salah.

Pernah dengar kalimat ini:
“Kalau dia tidak mau bekerja, jangan beri dia makan.”
Kedengarannya keras, ya? Tapi ini sebenarnya bentuk kasih yang benar.

Kita hidup di zaman yang suka mengaburkan batas antara baik hati dan dimanfaatkan. Di satu sisi, kita ingin membantu. Di sisi lain, ada orang yang menjadikan belas kasihan sebagai gaya hidup. Mereka bukan tidak mampu. Mereka hanya tidak mau berusaha. Dan lucunya, malah merasa itu sah-sah saja karena selalu ada yang “baik hati” menopang.

Ini bukan soal pelit. Tapi soal membangun manusia.
Menolong orang yang memang sedang jatuh, tertimpa musibah, atau benar-benar dalam masa sulit — itu wajib. Tapi “menolong” orang yang tidak mau berubah, tidak mau bertanggung jawab, justru membuat dia makin terlena.

Kebaikan tanpa batas itu bukan kasih. Itu kebodohan. Dan kalau diteruskan, bisa berubah jadi racun.

Saya pernah bertemu seorang pria muda yang selama bertahun-tahun hidup dari belas kasihan keluarganya. Setiap kali ia datang, ia bawa cerita sedih dan wajah penuh harap. Semua tergerak. Semua membantu. Tapi… tidak ada perubahan.
Tidak bekerja, tidak belajar, tidak bergerak.
Saat ditanya, jawabannya sederhana:
“Rejeki saya lewat orang-orang yang peduli.”

Sekilas terdengar rohani. Tapi itu manipulasi.
Kalimat manis yang dibungkus supaya orang lain terus membiayai kemalasannya.

Menolong tanpa membangun tanggung jawab = jebakan.
Itu bukan pertolongan. Itu pembiaran.
Dan sering kali, justru orang yang merasa menolong itu yang sedang menghalangi proses pendewasaan yang sedang terjadi dalam hidup si penerima.

Satu kalimat yang membekas dalam hidup saya:
“Kalau kamu menolong seseorang yang sebenarnya sedang diproses hidupnya, kamu bisa merusak proses itu.”

Jadi apa solusinya?
Tetap menolong — tapi dengan hikmat.
Alih-alih kasih uang, ajak ngobrol.
Daripada kasih bantuan terus-menerus, tawarkan pelatihan.
Daripada jadi penolong instan, jadilah sahabat yang berani menegur.

Orang malas bukan butuh kasihan, tapi butuh arahan.
Butuh dorongan untuk bangkit, bukan disuapi terus-menerus.
Karena kadang, cinta sejati justru muncul dalam bentuk ketegasan.

*Kebaikan bukan soal berapa sering kita memberi. Tapi seberapa jauh kita membangun manusia di baliknya.*

Mari jadi orang yang tetap murah hati, tapi cerdas.
Punya hati yang lembut, tapi tidak mudah dimanfaatkan.
Berani menolong, dan berani menolak — saat itu memang bentuk kasih yang lebih besar.

Karena tujuan kita bukan bikin orang nyaman dalam kondisi lama,
tapi membantu mereka keluar dari zona itu, bertumbuh, dan hidup dengan martabat.

Setuju?

“You are ridiculously in charge of your life.” – Dr. Henry Cloud.

“Hidupmu sepenuhnya tanggung jawabmu – suka tidak suka, kamu yang memegang kendalinya”. – Dr. Henry Cloud.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Yang Pahit Bisa Jadi Manis di Tangan Tuhan.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Yang Pahit Bisa Jadi Manis di Tangan Tuhan.

Ada masa lalu yang indah dan manis dikenang. Tapi ada juga yang pedih, pahit, bahkan meninggalkan luka yang dalam. Dikhianati orang terdekat, gagal dalam usaha, mengalami pelecehan, kehilangan orang yang dikasihi, dihina, dianggap tak berguna, atau diperlakukan semena-mena… semua itu meninggalkan bekas.

Namun satu hal yang perlu kita pegang teguh:
Masa lalu bisa membentuk kita, bahkan mungkin pernah menghancurkan sebagian dari diri kita… tetapi masa lalu bukan penentu akhir kisah hidup kita.

Tuhan tidak pernah memandang seseorang berdasarkan masa lalunya. Lihat perempuan Samaria—menikah lima kali dan kini tinggal dengan pria yang bukan suaminya. Tapi justru dialah yang dipilih Tuhan untuk menerima pewahyuan bahwa Dia adalah Mesias pertama kalinya. Bukankah itu luar biasa?

Luka di tangan Tuhan bisa jadi senjata.
Reruntuhan hidup bisa jadi batu pijakan menuju masa depan yang lebih baik.

Yang jadi masalah justru sering kali… kita sendiri.

Kita terjebak di masa lalu. Kita merasa tidak layak, malu, takut dihakimi. Kita hidup dalam bayang-bayang kesalahan, trauma, dan kegagalan. Kita biarkan suara masa lalu memvonis masa depan kita.
Padahal, Tuhan tidak pernah menulis akhir cerita hidup kita di tengah babak yang kacau.

Setiap pengalaman, baik maupun buruk, menyimpan pelajaran.
Pengalaman buruk dirancang iblis untuk menjatuhkan, tetapi
Tuhan bisa memakai semuanya untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih kuat, lebih bijak, dan lebih serupa dengan-Nya.

Kuncinya: Jangan biarkan masa lalu mengucapkan kata terakhir.

Pemulihan dimulai ketika kita berhenti menyandarkan identitas kita pada masa lalu.
Bahkan, luka dan air mata bisa menjadi jembatan menuju pengharapan, kalau kita mau menyerahkannya ke tangan Tuhan.
Iblis kecewa….
Yang dipikir iblis untuk menghancurkan kita, tetapi bersama Tuhan, kita justru keluar sebagai pemenang yang membuat dunia terpukau!

“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”
Bukan hanya dalam hal baik—segala sesuatu! Termasuk kesalahan dan kegagalan kita.

Kita tidak ditentukan oleh apa yang pernah terjadi, tetapi oleh apa yang kita pilih hari ini.
Kita bisa memilih untuk sembuh. Kita bisa memilih untuk bangkit. Kita bisa memilih untuk maju.
Tidak mudah, tapi mungkin. Karena Tuhan berjalan bersama kita.

Mungkin hari ini kita masih menyusun kepingan yang berserakan. Tapi percayalah, Tuhan itu Ahli dalam merangkai mozaik indah dari pecahan-pecahan hidup kita.
Tidak ada yang sia-sia ketika kita menyerahkan semuanya pada-Nya.

Lepaskan masa lalu.
Terima kasih atas pelajarannya—tapi itu bukan tempat tinggal kita.
Kita bukan korban dari masa lalu, kita adalah penulis masa depan bersama Tuhan.

Mari kita bangun hari ini dengan harapan.
Kita tidak harus sempurna untuk punya masa depan yang luar biasa.
Cukup bersedia percaya, berjalan bersama Tuhan, dan mengizinkan-Nya memakai seluruh hidup kita—termasuk bagian yang rusak—untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

“Luka masa lalu adalah pintu masuk bagi kasih Tuhan untuk menyembuhkan, jika kita berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai percaya bahwa Dia sanggup menebus segalanya.”

Jangan takut melangkah.
Hari esok bisa jadi indah… asal kita tidak menyeret masa lalu terus-menerus bersamanya.
Karena masa depan yang Tuhan siapkan bukan sekadar kelanjutan dari masa lalu—itu adalah sesuatu yang baru.

Selamat menulis babak baru dalam hidup, bersama Tuhan yang memulihkan.

“Your past mistakes are meant to guide you, not define you.”- Ziad K. Abdelnour

“Kesalahan di masa lalu dimaksudkan untuk menjadi penuntun, bukan penentu siapa dirimu.” – Ziad K. Abdelnour.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 4 5 6 7 8 10