Tag Archives: #gospeltruth’s truth #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Roh Kudus, Sahabat Terdekatku—Lebih dari Sekadar Pengalaman ….

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Roh Kudus, Sahabat Terdekatku—Lebih dari Sekadar Pengalaman ….

Saya masih ingat betul saat pertama kali saya berbahasa roh. Rasanya… luar biasa! Saya menitikkan air mata terharu, tersungkur, dan hati saya meluap penuh sukacita. Seolah langit terbuka dan saya disentuh langsung oleh hadirat Tuhan.

Tapi lama-lama, sadar… itu baru permulaan. Saya hanya mencicipi awalnya saja, belum benar-benar mengenal Pribadi agung di balik pengalaman itu—Roh Kudus.

Terlalu sering kita menjadikan Roh Kudus seperti alat. Kalau sudah bisa berbahasa roh, kita merasa “sudah sampai.”
Tujuan Sudah Tercapai. No!!!

Itu baru pintu masuk ke dunia rohani. Seperti bayi yang baru lahir, kita perlu bertumbuh, belajar mendengar suara-Nya, dan melibatkan Dia dalam setiap aspek kehidupan kita.

“As a man thinks in his heart, so is he. – Seperti seseorang berpikir dalam hatinya, demikianlah dia”

Cara kita memandang Roh Kudus sangat menentukan cara kita berelasi dengan-Nya. Jika kita hanya mengejar kuasa-Nya, mengharapkan mujizatnya semata maka kita akan kecewa….itu sekedar puncak gunung es yang terlihat di permukaan.

Di bawah laut masih tersimpan gunung besar yang menyimpan berbagai kelimpahan, kuasa dan hal-hal dahsyat yang semestinya bisa kita nikmati. Syaratnya?
Bangun hubungan pribadi yang intim dengan-Nya.
Dialah Roh Penolong yang dikirim Bapa untuk menuntun, membimbing serta mengarahkan kita. Dia tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kita.
Namun Dia juga pribadi yang sopan dan lembut. Dia tidak petnah memaksakan kehendak-Nya.
Tergantung apakah kita mengundang-Nya untuk bejerjasama serta mengijinkan-Nya untuk berkarya dalam kehidupan kita.

Jika kita menyadari, Dia adalah Sahabat sejati yang tinggal di dalam kita, hidup kita pun akan diubahkan dari dalam.
Roh Kuduslah satu-satunya Sahabat Sejati yang terus akan menemani kita, hingga kita kembali ke rumah Bapa..

Siapa orang terdekat kita?
Suami? Anak? Orangtua? Sohib?
Percayalah…. saat kita meninggal, kita akan berangkat sendirian. Suami, anak, orangtua apalagi sahabat hanya mengantar hingga ke persemayaman yang terakhir.
Siapa yang tetap menemani kita?
Roh Kudus!
Karena siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. 1 Korintus 6:17 (TB)

Bulan 30 Desember 2009, kami sekeluarga terjebak di padang belantara Western Australia saat hendak menuju Pinnacles. Cuti libur di Aussie sejak 29 Desember hingga Senin 3 Januari 2010.
Mobil Camry sewaan kami selip.
Tidak ada signal HP, saat itu masih menggunakan GPS Garmin. Kami tersesat di hamparan tabah kosong yang belum digarap. Tidak ada bangunan, tidak ada manusia dan tidak ada mobil lewat karena kami cukup jauh dari jalan raya. Yang ada hanya kangguru yang berkali-kali lewat.

Secara nalar logika, semua jalan buntu. Di luar kota besar Australia, jalanan sangat sepi. Lebih banyak domba daripada manusianya.
Kami hanya bisa berdoa minta mujizat pertolongan Tuhan.
Apa yang terjadi?
Keesokan paginya ada mobil Jeep besar datang, melewati tempat kami terdampar. Pabrik nereka berlawanan arah tetapi Roh Kudus menuntun mereka agar berputar agar bertemu dengan kami.
Bukankah sungguh luar biasa? Roh Kudus tidak pernah terlambat atau gagal. Tepat ketika kami sudah bersiap-siap menyiapkan koper cabin untuk meninggalkan mobil kami untuk mencari pertolongan dan menyelamatkan diri!

Zakharia 4:6-7 mengajarkan:
“Bukan dengan kekuatan, bukan dengan kuasa, tetapi dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam… Gunung besar akan menjadi dataran!”

Masalah besar sekalipun akan tunduk saat kita berjalan bersama Roh Kudus. Tapi sayangnya, banyak orang percaya tidak mengenal Pribadi ini. Kita sibuk mengejar mujizat, tanpa membangun hubungan dengan Sang Pembuat mujizat.

Yesus sendiri tidak memulai pelayanan-Nya tanpa Roh Kudus. Ia dibaptis, Roh turun ke atas-Nya. Ia dipimpin Roh ke padang gurun, dan kembali dalam kuasa Roh. Sebelum naik ke sorga, Ia berkata:
“Tinggallah di Yerusalem sampai kamu diperlengkapi dengan kuasa dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49)

Kuasa itu bukan sekadar kemampuan supranatural—itu Pribadi Allah sendiri yang tinggal di dalam kita!

Pernahkah kita menyapa-Nya pagi hari?
“Selamat pagi, Roh Kudus. Terima kasih Engkau menyertai saya saat tidur dan memberkatinya. Apa yang Engkau ingin sampaikan hari ini? Saya mau menyelaraskan hidupku dengan rancanganMu.”

Ketika saya mulai berbicara kepada-Nya seperti seorang Sahabat, hidup saya berubah. Saya mendapatkan arahan dalam keputusan penting, kekuatan saat lemah, dan tuntunan dalam pelayanan.

Dia Allah. Dia Pribadi. Dia Sahabat. Dan saat kita menyambut Dia sebagai Sahabat sejati, bahkan gunung terbesar pun akan menjadi dataran.

“The reason the world is not seeing Jesus is that Christian people are not filled with Jesus. They are satisfied with attending meetings weekly, reading the Bible occasionally and praying sometimes. It is an awful thing to see people who profess to be Christians live lifeless, powerless, and Christless lives.” —Smith Wigglesworth.

“Alasan dunia tidak melihat Yesus adalah karena orang Kristen tidak dipenuhi oleh Yesus. Mereka puas hanya menghadiri pertemuan mingguan, membaca Alkitab sesekali, dan berdoa kadang-kadang. Sungguh tragis melihat orang yang mengaku Kristen hidup tanpa kehidupan, tanpa kuasa, dan tanpa Kristus.” —Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mengapa Harus Berputar-putar di Padang Gurun 40 Tahun?

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Mengapa Harus Berputar-putar di Padang Gurun 40 Tahun?

Satu kali saya membaca ulang kisah bangsa Israel di padang gurun dan bertanya-tanya… Kenapa sih harus sampai 40 tahun? Bukankah Tuhan mahakuasa? Bukankah Tanah Perjanjian itu cuma butuh beberapa minggu perjalanan dari Mesir?

Tapi Tuhan ternyata bukan cuma tertarik membawa mereka ke tempat yang benar—Dia ingin membentuk mereka jadi orang yang benar.

Alkitab mencatat, mereka sudah dua tahun menerima hukum Taurat di Gunung Sinai, dan setelah itu Tuhan menyuruh mereka berputar-putar selama 38 tahun lagi. Kenapa?

Karena mereka bersungut-sungut, mengeluh, dan tidak percaya.

Salah satu keluhan mereka bahkan cukup menyakitkan di telinga Tuhan:
“Anak-anak kami pasti akan mati di padang gurun ini!”

Tapi apa jawaban Tuhan?

“Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran… semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku… tetapi anak-anakmu yang telah kamu katakan akan menjadi tawanan—merekalah yang akan Kubawa masuk…”
(Bilangan 14:29-31 TB)

Wow! Yang mereka takutkan justru Tuhan balikkan. Anak-anak mereka tidak mati, malah mereka yang akhirnya masuk dan merebut tanah itu. Sedangkan para pengeluh—yang menolak percaya—mati di padang gurun.

Tuhan tidak pernah kejam. Tapi Dia adil. Dia sabar, memberi kesempatan, tapi tidak bisa membawa orang-orang yang penuh ketakutan, keras hati, dan suka bersungut-sungut masuk ke dalam janji-Nya.

Tapi jangan salah… Di tengah penghakiman dan ketegasan Tuhan, kita tetap melihat kasih dan kelembutan-Nya.

Lihat saja Rahab. Seorang perempuan dari Yerikho, pelacur lagi! Tapi ketika ia mendengar tentang Allah Israel, hatinya berubah. Ia berkata:

“Tuhanmu adalah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.” (Yosua 2:11)

Karena imannya, Rahab dan seluruh keluarganya diselamatkan. Bahkan, Tuhan menunda seluruh arak-arakan penghancuran Yerikho demi perempuan ini! Rahab pun dicatat dalam silsilah Yesus, karena dia menikah dengan salah seorang pengintai yang diselamatkannya.

Bukan masa lalu yang menentukan masa depan kita—imanlah yang memindahkan kita dari kutuk menjadi berkat!

Hal yang sama terjadi pada Lot. Kota tempat tinggalnya, Sodom, penuh dengan kejahatan. Tapi Tuhan menyebut Lot sebagai orang benar (2 Petrus 2:7). Bahkan malaikat diutus khusus untuk menyelamatkan dia dan keluarganya—hanya karena ada satu orang yang percaya.

Bahkan, karena Yakub, Laban pun diberkati berlimpah-limpah. Laban sendiri mengaku:

“Tuhan memberkati aku karena engkau.” (Kejadian 30:27)

Dan karena Yusuf, Potifar mengalami hal yang sama.

“Sejak Potifar memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.” (Kejadian 39:5)

Apa artinya?

Orang yang menempel, setia, dan taat kepada Tuhan—membawa berkat dan perlindungan bagi sekelilingnya! Bahkan rumah tangga, keluarga, tempat kerja, atau kotanya sekalipun… bisa ikut menikmati aliran berkat ilahi hanya karena ada satu orang benar di dalamnya!

Sodom dihancurkan bukan karena Tuhan pilih kasih. Tapi karena dosanya sudah sangat berat (Kej. 18:20). Sama halnya dengan bangsa Kanaan. Tuhan sabar menunggu mereka bertobat. Bahkan dalam Kejadian 15:16, Tuhan berkata bahwa hukuman bagi mereka belum datang karena “kesalahan orang Amori belum genap.” Tapi saat kejahatan mereka mencapai puncaknya, Tuhan bertindak. Itu bentuk keadilan.

Dan inilah pelajaran besarnya:

Tuhan tidak sembarangan menghukum. Dia menimbang hati, mengamati keputusan pribadi, dan selalu memberikan kesempatan. Tapi pada akhirnya, Dia tidak akan membawa mereka yang terus mengeluh dan memberontak ke dalam tanah perjanjian kehidupan.

Hanya orang yang percaya, taat, dan mau dibentuk yang bisa masuk dan menikmati janji-Nya.

Jadi hari ini, kita tanya hati kita masing-masing:
Apakah aku seperti generasi lama yang terus bersungut-sungut?

Atau seperti Kaleb, Yosua, Rahab… bahkan Lot—yang hatinya berpaut kepada Tuhan?

Padang gurun bukan akhir cerita. Tapi jangan biarkan kita mati di sana karena sikap hati yang salah. Kalau kita mau bertobat, percaya, dan setia pada Tuhan—Dia sanggup membalikkan kisah kita. Bahkan lebih dari itu: melalui kita, keluarga kita pun bisa ikut diberkati dan dipelihara oleh Tuhan!
Setuju?

“Your attitude determines how far you go with God. A thankful heart is the key to promotion in the kingdom.” – Andrew Wommack.

“Sikap hatimu menentukan seberapa jauh engkau berjalan bersama Tuhan. Hati yang bersyukur adalah kunci untuk promosi dalam Kerajaan Allah”.- Andrew Wommack

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kunci Mujizat: Berdoa Dari Sisi Kemenangan!

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Kunci Mujizat: Berdoa Dari Sisi Kemenangan!

Pernahkah kita mendoakan kesembuhan, kelepasan, atau terobosan, lalu kita mengucap syukur dan percaya bahwa Tuhan sudah menjawab… tetapi gejalanya masih ada? Rasa sakit belum hilang, utang belum lunas, situasi belum berubah? Apa yang harus kita lakukan?

Dulu saya pun bingung. Sampai saya mengerti prinsip penting ini: yang rohani lebih nyata daripada yang jasmani. Kita bukan hanya tubuh dan jiwa, tetapi roh, jiwa, dan tubuh. Dan mujizat Tuhan dimulai di alam roh, lalu baru termanifestasi di alam fisik.

Andrew Wommack berkata, “Saya bukan menyebut yang tidak nyata seolah-olah nyata. Saya justru menyatakan kebenaran—hanya saja ini kebenaran di alam roh. Dan sesuai Markus 11:23-24, kalau saya tidak bimbang dan tetap percaya, maka kebenaran di alam roh akan termanifestasi di alam fisik.”

Wow! Ini membuka mata saya. Selama ini, saya terlalu fokus pada apa yang bisa saya lihat, rasakan, atau alami. Kalau gejalanya masih ada, saya langsung kecewa. Padahal kebenaran firman Tuhan berkata: “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” Itu sudah selesai. Bukan akan disembuhkan, tapi sudah.

Permasalahannya, kita hidup dalam dunia yang mendidik kita untuk percaya pada apa yang terlihat. Itu sebabnya banyak orang Kristen hidup secara karnal—bukan berarti berdosa terus, tapi artinya dikendalikan oleh panca indera. Mereka tidak mengakui bahwa ada dunia rohani yang lebih nyata daripada dunia fisik.

Roma 8:6 berkata, “Karena keinginan daging ialah maut, tetapi keinginan Roh ialah hidup dan damai sejahtera.” Artinya, kalau pikiran kita hanya fokus pada fakta fisik, hasilnya adalah kematian—kebingungan, kekalahan, depresi. Tetapi kalau kita berpikir sesuai kebenaran roh, maka akan muncul hidup dan damai.

Roh kita yang sudah dilahirkan kembali punya sukacita, damai, iman, kesembuhan, kelimpahan—semua yang kita butuhkan sudah ada! Tetapi untuk mengalaminya, kita perlu percaya bahwa yang dikatakan firman Tuhan lebih nyata daripada kenyataan fisik.

Saya mulai melatih diri saya untuk berbicara seperti ini:
“Aku punya sukacita, karena itu buah rohku. Meskipun aku merasa sedih, sukacitaku nyata!”
“Aku sembuh, karena itu janji Tuhan. Meskipun gejalanya belum pergi, aku tidak goyah!”
Dan pelan-pelan, saya melihat perubahannya. Keadaan mulai berbalik arah. Bukan karena saya berusaha keras, tetapi karena saya setuju dengan kebenaran yang sudah Tuhan ciptakan.

Inilah kunci mujizat: setujulah dengan apa yang Tuhan sudah lakukan di alam roh. Percayalah lebih pada firman-Nya daripada perasaanmu. Maka yang rohani akan menarik yang jasmani.

Hidup bukan tentang menunggu mujizat, tetapi menciptakan manifestasinya lewat iman.

Sudah selesai di alam roh—tinggal kita yang harus sepakat dan bertindak seolah-olah itu sudah nyata. Karena memang sudah nyata, di dalam roh kita.

Apa yang Anda lihat belum tentu realita. Tapi firman Tuhan selalu kebenaran.
Dan kebenaran itulah yang membebaskan kita.

Selaras dengan hal ini,
Daniel 10:12-13 menceritakan
bahwa sejak hari pertama Daniel berdoa dan merendahkan diri, doanya sudah didengar. Namun jawabannya tertunda 21 hari karena ada perlawanan dari pemimpin kerajaan Persia di dunia roh.
Malaikat akhirnya dibantu oleh Mikhael untuk menerobos dan membawa jawaban kepada Daniel.

Dari pemahaman ini, sekarang saya mengerti, saat berdoa, sesungguhnya doa kita langsung dijawab Tuhan. Tetapi manifestasinya membutuhkan waktu karena berbagai sebab.

Nah… sekarang kita bisa berdoa dari sisi kemenangan, dengan penuh keyakinan, bahwa doa kita sudah terjawab. Tinggal kita mengucap syukur, agar terjadi percepatan manifestasinya.

Menarik bukan?
Praktik yuk….

“Faith reaches into the spiritual realm and brings what is already a reality there into the physical realm.” – Andrew Wommack.

“Iman menjangkau ke alam roh dan membawa apa yang sudah nyata di sana ke dalam alam fisik.” – Andrew Wommack

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Paskah Yang Mengubah Relasi ….”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Paskah Yang Mengubah Relasi ….”

Dulu Wajib Jaga Jarak 1000 Yard, Sekarang: Datanglah Mendekat!
Apa maksudnya?

“Namun, antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta. Jangan mendekatinya, supaya kamu tahu jalan mana yang harus kamu tempuh, sebab kamu belum pernah melalui jalan itu sebelumnya.”
— Yosua 3:4 (TB)

Pernahkah kita merasa Tuhan itu jauh? Seolah-olah ada jarak lebar antara kita dan-Nya? Ternyata… memang dulu begitu!

Di jaman Perjanjian Lama, bangsa Israel harus menjaga jarak seribu yard (kira-kira 900 meter) dari Tabut Perjanjian — lambang kehadiran nyata Tuhan.

Tuhan itu kudus. Terang-Nya tak terjangkau.
Mereka tidak boleh sembarangan mendekat. Hanya para imam yang bisa mengangkat Tabut, itupun dengan aturan yang sangat ketat. Bahkan saat membongkar perkemahan, Tabut ditutupi dengan kain-kain khusus agar tidak ada mata biasa yang melihatnya (Bilangan 4:5-6). Semua ini menunjukkan: “Jaga jarak! Aku kudus, jangan sembarangan datang.”

Ketika tabut Allah hendak jatuh, Uza memegangnya.
Apa yang terjadi?
Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya l itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. (2 Samuel 6:7)

Oh……

Itulah sebabnya, ada orang Israel yang seumur hidupnya tidak pernah benar-benar melihat Tabut itu. Kehadiran Tuhan terasa jauh dan tidak bisa diakses langsung. Itulah suasana Perjanjian Lama.

Namun… semuanya berubah saat Yesus datang!

Yesus datang membawa undangan baru:
“Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberimu kelegaan.” (Matius 11:28)
Bukan lagi “jaga jarak”, tetapi “datanglah mendekat”!

Mengapa bisa berubah total?

Karena darah Anak Domba telah tercurah.
Karena korban yang sempurna sudah diberikan.
Karena tabir pemisah sudah terbelah dari atas ke bawah saat Yesus mati di kayu salib (Matius 27:51).
Karena sekarang, kita semua punya akses langsung kepada Bapa — bukan karena kita kudus, tetapi karena Yesus yang kudus telah membuka jalan.

Penulis Ibrani menulis dengan penuh keyakinan:
“Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16)

Dulu, untuk tahu “jalan mana yang harus ditempuh”, mereka harus melihat Tabut dari jauh dan ikut di belakangnya. Tapi sekarang… Roh Kudus tinggal di dalam kita! Kita dipimpin langsung dari dalam, bukan dari jarak 1000 yard!

Bahkan Roh Allah dengan segala kekayaan dan kuasa-Nya, berdiam di dalam roh orang yang sudah lahir baru. (1 Kor 3:16)
Allah memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.
2 Korintus 1:22 (TB)

Wow! Betapa besar kasih karunia yang kita terima!

Sayangnya… banyak orang percaya masih hidup seolah-olah di bawah Perjanjian Lama.
Masih merasa Tuhan itu jauh. Masih takut datang karena merasa diri belum cukup suci, belum layak, belum doa puasa, belum baca Alkitab.

Padahal Yesus sudah berkata: “Datanglah!”
Bukan karena kita layak, tapi karena Dia yang melayakkan kita.

Jangan biarkan rasa bersalah atau kegagalan membuat kita menjauh dari Tuhan. Justru saat kita lemah, kita butuh datang. Saat kita kacau, kita butuh kasih karunia. Saat kita bimbang, kita butuh suara-Nya.

Dan pintu-Nya selalu terbuka.

Dulu: 1000 yard. Sekarang: pelukan kasih.
Dulu: jangan mendekat. Sekarang: datanglah dengan keberanian.
Dulu: hanya imam yang bisa. Sekarang: kita semua dipanggil menjadi imam bagi Tuhan.

Jangan hidup di bawah bayang-bayang hukum Taurat. Hidupilah undangan kasih dari Yesus.
Dia berkata: “Datanglah… jangan menjauh lagi.”

Dan ketika kita datang kepada-Nya, Dia membawa kita kepada tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madunya.
Di mana segala berkat rohani di surga dikaruniakan dan kita memanifestasikannya dengan iman.

Mau? Yuk….

“We must not content ourselves with Easter as a historical fact. Christ’s resurrection changes everything, especially how we approach God.” – John Stott

“Kita tidak boleh puas dengan
Paskah sebagai fakta sejarah. Kebangkitan Kristus mengubah segalanya, terutama cara kita mendekati Allah.” – John Stott

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Idiopatic Urticaria, Covid & Mujizat Tuhan! Part 5

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Idiopatic Urticaria, Covid & Mujizat Tuhan! Part 5

Beberapa waktu lalu, saya dan suami, P. Indra, harus dirawat di rumah sakit. Keadaan P. Indra tidak main-main-semakin hari semakin kritis.

Di tengah situasi seperti itu, P. Irsan bertanya,
“Sucouw, bagaimana bisa Sucouw masih sempat posting Gospel Truth’s Cakes, padahal sedang opname?
Bukankah ini butuh konsentrasi luar biasa , pemusatan pikiran total ibarat orang yg lagi berlatih sinkang , pemusatan pikiran nya bahkan ketika gunung Thaysan runtuh pun , Sucouw sudah tidak mengedipkan mata , tidak bergeming, karena pemusatan pikiran yg tenggelam dalam Firman?”, lanjut P. Irsan dengan gaya bahasanya yang ala cerita silat dan selalu memanggil saya “Sucouw” artinya nenek guru.. wkwkwk

Sebetulnya jawabannya simple saja. Klo saya tidak menulis atau menerjemahkan Living Commentary Andrew Wommack, pikiran saya bisa melayang ke mana-mana.
Sejujurnya saat itu saya lebih sering hanya menerjemahkan saja, sulit konsentrasi…
Tetapi dengan menerjemahkan, mau tidak mau saya ‘dipaksa’ terus menerus membaca dan mengingat Firman Tuhan. Dan Firman itu Allah sendiri.

Dalam menghadapi tantangan berat, – apalagi antara hidup dan mati -, kemenangan kita sangat ditentukan oleh apa yang ada dalam pikiran kita.
Peperangan terjadi di pikiran!

Repotnya, pikiran itu gak bisa netral dan gak bisa ditinggal.
Selalu mengikuti dan jika tidak dikendalikan, bisa mengembara ke mana-mana, biasanya justru memikirkan yang negatif dan menakutkan.
Kemungkinan buruk yang diceritakan dokter, bahkan bisa terngiang-ngiang di telinga.

Apa yang kita fokuskan akan membesar. Kita yang harus menentukan ke mana hendak mengarahkannya.

Tuhan itu merespon iman. Bukan merespon keluhan atau permintaan kita.
Tuhan senantiasa menjawab doa kita, ibarat listrik yang senantiasa tersedia.

Jika kita beriman, percaya maka kita ibarat konduktor yang dapat mengalirkan listrik dengan sangat baik.
Contoh konduktor itu logam, emas dll.

Sebaliknya, jika kita membiarkan ketakutan, cemas, galau yang menguasai hati maka kita ibarat isolator yang tidak bisa mengalirkan listrik.
Contoh isolator itu plastik, kayu dll.

Meski pun listriknya tersedia dan siap dialirkan, namun isolator tidak dapat mengalirkannya.
Bukan salah Tuhan, tetapi salah kita sendiri.

Jika saya membiarkan Wrong Thinking – pikiran ketakutan, intimidasi iblis, kemungkinan buruk yang meneror berputar-putar di kepala – sudah pasti iman saya runtuh.
Like two dollar suitcase, kata Andrew Wommack.Remuk.

Wrong thinking membuka pintu bagi si iblis.
Sementara Right Thinking membuka pintu bagi Tuhan.

Right Thinking – memikirkan kebesaran Tuhan, betapa tidak ada yang mustahil bagi orang percaya, kesembuhan adalah kehendak Tuhan & sakit penyakit adalah upaya si musuh untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. Jadi wajib dilawan. Tuhan datang untuk memberi hidup, bukan hidup yang biasa-biasa saja tetapi hidup yang berkelimpahan: sehat, normal, pulih, sempurna dan penuh sukacita itulah hidup yang berkelimpahan – cara kita membangkitkan iman.

Iman inilah yang menghadirkan kuasa Allah. Iman membuat kuasa Allah dimanifestasikan. Bukan perasaan.

Smith Wigglesworth mengatakan, “Ada sesuatu tentang percaya kepada Tuhan yang akan membuat-Nya melewati sejuta orang hanya untuk menjangkau kamu.”

Wow…. dahsyat bukan?
Koq bisa?
Saat kita mengaktifkan iman, Tuhan punya jalan masuk ke dalam situasi yang kita alami. Dia bisa mengalir dengan kuasa-Nya, dengan kemampuan-Nya, dan menempatkan kita pada sisi kemenangan dari masalah itu.

Sejujurnya, bukan karena saya mampu tetapi karena dukungan doa dan kasih teman-teman, semua bisa terlewati.
Ketika mendengar diagnosa dokter dan berita-berita buruk yang disampaikan, apalagi di rumah sakit, suasananya membuat kita merasa pesimis.
Puji Tuhan begitu banyak teman – teman yang terus menerus menabur firman sehingga menengok ke mana pun yang dilihat dan didengar full firman.

Sengaja yang direnungkan, dideklarasikan itu Firman Tuhan. Lalu yang diputar pengajaran firman Tuhan atau video kesaksian kesembuhan Tuhan.
Dengan cara demikian, iman berkobar-kobar….
Jika yang sedemikian parah saja sembuh dan survive, berarti P. Indra pasti survive.

Tuhan itu Allah yang selalu bisa diandalkan. Percayalah.

“Faith doesn’t deny a problem’s existence. It denies it a place of influence” – Bill Johnson.

“Iman bukan berarti menutup mata dari masalah, tapi iman menolak membiarkan masalah itu menguasai hidup kita” – Bill Johnson.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 5 6