Category : Articles

Articles

“Yesus Dijadikan Tuhan? Atau Memang Sudah Tuhan?”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Yesus Dijadikan Tuhan? Atau Memang Sudah Tuhan?”

Kalimat ini sering bikin orang berhenti sejenak saat membaca Kisah Para Rasul 2:36.
“Allah telah menjadikan Yesus … Tuhan dan Kristus.”

Lho?
Bukankah Yesus sudah Tuhan sejak semula?
Kalau Dia “dijadikan” Tuhan, apakah itu berarti sebelumnya Dia bukan Tuhan?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal kata. Ini soal bagaimana kita memahami Yesus dengan benar, bukan hanya dengan logika, tapi dengan pewahyuan.

Saya suka mengingatkan diri sendiri: Allah itu seperti samudra Atlantik, sementara pikiran kita cuma cangkir kopi kecil. Kalau kita paksa samudra masuk ke cangkir, yang rusak bukan samudranya, tapi cara kita memahami.

Mari kita duduk sebentar. Kita seruput pelan-pelan.

Sejak awal Injil, Yesus sudah disebut Tuhan.
Malaikat berkata kepada para gembala, “Telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan” (Lukas 2:11).
Artinya jelas: Yesus bukan baru Tuhan setelah kebangkitan.

Lalu kenapa Petrus berkata Allah “menjadikan” Yesus Tuhan?

Di sinilah banyak orang tersandung karena mencampuradukkan hakikat dengan jabatan.

Hakikat Yesus tidak pernah berubah.
Dia tetap Allah, tetap ilahi, tetap Tuhan, sebelum dan sesudah kebangkitan.
Yang berubah bukan siapa Dia, tapi posisi dan peran yang Ia jalani secara terbuka.

Saya suka analogi sederhana ini.
Seorang anak raja sudah lahir sebagai pewaris tahta. Ia raja secara identitas. Tapi ia belum memerintah. Baru saat dinobatkan, ia mulai menjalankan kuasa kerajaan secara penuh.

Begitu juga Yesus.

*Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus adalah Mesias, Anak Allah, Tuhan.
Namun setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Allah menobatkan Dia di takhta sorga.*
Di situlah Yesus mulai memerintah secara nyata atas segala sesuatu.

Itulah maksud Petrus.
Bukan “Yesus baru jadi Tuhan.”
Tetapi “Yesus sekarang memerintah sebagai Tuhan.”

Pentakosta membuktikannya.

Allah berjanji dalam Yoel bahwa Ia sendiri akan mencurahkan Roh-Nya.
Di Kisah Para Rasul 2, siapa yang mencurahkan Roh Kudus?
Yesus.

Ini bukan detail kecil.
Tidak ada manusia, sebaik apa pun, yang bisa mencurahkan Roh Kudus. Roh Kudus bukan tenaga, bukan energi, bukan pengalaman.
Dia Pribadi ilahi.

Kalau Yesus mencurahkan Roh Kudus, maka kesimpulannya sederhana tapi tegas:
Yesus bukan hanya Mesias. Ia adalah Allah yang menjadi manusia.

Itu sebabnya Petrus berani berkata bahwa keselamatan ada dalam nama Yesus.
Nama Tuhan yang harus diserukan untuk diselamatkan bukan nama lain.
Nama itu adalah Yesus.

Jadi Kisah Para Rasul 2:36 sama sekali tidak meruntuhkan iman Kristen.
Justru sebaliknya.
Ayat ini menunjukkan momen surgawi yang luar biasa:
Yesus, yang sejak kekal adalah Tuhan, kini dimahkotai dan memerintah sebagai Tuhan atas segala sesuatu.

Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar doktrin. Ini undangan untuk tunduk.
Kalau Yesus memerintah, maka hidup kita bukan milik kita lagi.
Kalau Yesus duduk di takhta, maka kita tidak bisa lagi duduk di kursi pengemudi.

Nach dalam terjemahan Godbey New Testament menjelaskan lebih gamblang.

*Act 2: 36 Godbey New Testament*
*Then let all the house of Israel assuredly know that God hath made this same Jesus, whom you crucified, both Lord and Christ*

*Kis 2: 36 Godbey New Testament*
*Kemudian, biarlah seluruh kaum Israel tahu dengan pasti bahwa Allah telah menjadikan Yesus yang sama ini, yang kamu salibkan, baik Tuhan maupun Kristus*

Diteguhkan dengan Filipi 2:9-11 (TB) Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Dan di situlah iman menjadi nyata.
Bukan sekadar tahu Yesus adalah Tuhan, tapi hidup Dia benar-benar memerintah.

Seruput kopi perlahan-lahan……
Kebenarannya dalam…
Betapa nikmatnya…. hhhmmmm….

The resurrection was not the making of Jesus into Lord, but the revealing of who He always was.”- N. T. Wright.

Kebangkitan bukanlah saat Yesus menjadi Tuhan, melainkan penyingkapan siapa Dia sejak semula. – N. T. Wright.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Penuh Kasih Seperti Oseola: Ketika Pemberian Sederhana Mengubah Taksi Banyak Orang

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Penuh Kasih Seperti Oseola: Ketika
Pemberian Sederhana Mengubah Taksi Banyak Orang

Saya terharu membaca kisah nyata Oseola McCarty, seorang wanita sederhana dari Hattiesburg, Mississippi. Tidak ada yang istimewa dalam penampilan atau status sosialnya — hanya seorang tukang cuci tua yang hidup tenang dan bersahaja. Namun di balik tangannya yang keriput dan tubuh mungilnya, bersemayam hati yang luar biasa mulia.

Oseola berhenti sekolah di kelas enam karena harus merawat neneknya yang sakit. Ia berjanji akan kembali, tapi waktu berlalu, dan ketika akhirnya bisa, ia merasa terlalu tua untuk duduk di bangku sekolah bersama anak-anak. Ia pun memilih bekerja. Puluhan tahun ia mencuci pakaian untuk keluarga-keluarga di kotanya — merebus, menggosok, menjemur, dan menyetrika dengan tangan. Tanpa mesin, tanpa keluhan.

Hidupnya sederhana. Ia naik bus ke mana-mana, jarang membeli barang baru, dan tidak pernah berlibur. Tapi dari hasil kerja kerasnya, setiap bulan ia menyisihkan sedikit uang untuk ditabung. Tidak banyak, tapi konsisten. Sedikit demi sedikit, tahun demi tahun, hingga jumlahnya menjadi besar. Pada usia 87 tahun, Oseola terkejut saat melihat tabungannya mencapai lebih dari 250.000 dolar!

Yang membuat dunia terdiam adalah keputusan yang diambilnya: ia menyumbangkan 150.000 dolar — lebih dari separuh tabungannya — kepada Universitas Southern Mississippi, kampus yang dulu hanya bisa ia impikan. “Saya tidak keberatan bekerja keras,” katanya, “tapi saya ingin membantu agar mereka tidak perlu bekerja sekeras saya.”

Ia tidak pernah kembali ke sekolah, tetapi ia membuka pintu pendidikan bagi banyak generasi muda. Melalui kasih dan ketulusannya, ratusan mahasiswa yang dulu tak mampu kini bisa melanjutkan kuliah. Hidup mereka berubah karena seorang tukang cuci yang penuh cinta.

Saya teringat ketika papa dan mama saya meninggal. Ada banyak hal yang belum sempat saya lakukan untuk mereka. Saya tidak bisa membuat mereka hidup kembali, tapi saya bisa melanjutkan impian mereka yang belum tercapai. Dengan cara itulah saya menghormati mereka — menjadikan hidup saya saluran berkat bagi orang lain, agar cita-cita dan nilai-nilai mereka tetap hidup.

Demikian pula dengan Oseola. Ia tidak bisa mengubah masa lalunya. Ia tak kembali duduk di kelas seperti yang ia impikan. Tapi ia mengubah masa depan banyak orang lewat satu keputusan sederhana: memberi.

Dan memberi tidak selalu berarti uang. Kadang yang dibutuhkan hanyalah telinga yang mau mendengar, hati yang peduli, penerimaan tanpa menghakimi, atau hikmat yang kita bagikan kepada generasi yang lebih muda, supaya mereka tidak perlu terjerembab dalam kesalahan yang sama seperti yang pernah kita alami dulu. Begitu banyak hal kecil yang bisa kita lakukan — senyum tulus, dorongan lembut, doa yang setia — semuanya bisa menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain.

Itulah kehidupan yang berdampak. Hidup yang meninggalkan jejak abadi. Dunia menjadi lebih baik karena kehadiran orang seperti Oseola. Ia tidak hidup untuk diri sendiri, tapi menjadi terang dan garam dunia. Hatinya yang penuh kasih adalah cermin dari kasih Tuhan sendiri.

Kisahnya mengingatkan kita: kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa mengubah masa depan. Tuhan tidak meminta kita melakukan hal besar, hanya setia dalam hal kecil — karena kasih yang sederhana, bila dilakukan dengan ketulusan, bisa mengubah hidup seseorang.

Oseola tidak hanya menabung uang, tetapi menabung kebaikan. Dan itulah yang kekal. Hidupnya mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukan tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan berapa banyak kasih yang kita sebarkan.

“It’s not how much we give, but how much love we put into giving.” — Mother Teresa

“Bukan seberapa banyak yang kita beri, tetapi seberapa besar kasih yang kita sertakan di dalam pemberian itu.” — Mother Teresa

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya! Banyak orang menjalani hidup

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya!

Banyak orang menjalani hidup seperti sedang mengikuti arus. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Kadang kita berpikir hidup ini milik kita, jadi kita bebas menentukan apa pun yang kita mau. Tapi pernahkah kita merasa, meski semuanya tampak baik-baik saja, hati tetap terasa kosong?

Kenyataannya, manusia tidak akan pernah benar-benar puas sebelum ia hidup sesuai rancangan Allah.
Mazmur 139:14–17 berkata bahwa bahkan sebelum kita lahir, Allah sudah menulis hari-hari kita. Dia menenun kita dengan tangan-Nya sendiri, menaruh kepribadian, bakat, dan potensi unik di dalam diri kita. Kita tidak hadir di dunia ini karena kebetulan.

Andrew Wommack menulis, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Betapa dalam kalimat itu! Kadang kita iri dengan kemampuan orang lain, ingin seperti mereka, padahal Tuhan tidak memanggil kita untuk itu.
Kalau Allah menciptakan saya sebagai pelari jarak jauh, maka saya tidak akan bisa berlari cepat seperti sprinter. Saya bisa melatih diri, tapi saya tidak bisa melawan desain Ilahi yang sudah ditetapkan.

Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras tapi tetap merasa hampa. Mereka sibuk melakukan banyak hal yang kelihatannya penting, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan rancangan Tuhan atas hidupnya.
Kita bisa punya jabatan tinggi, penghasilan besar, tapi kalau itu bukan tempat yang Allah mau, hati kita tidak akan damai.

Andrew berkata, “Allah bermaksud agar kita mengalami kepuasan kehidupan yang dijalani dengan baik.”
Artinya, hidup yang penuh makna bukan ditentukan oleh seberapa banyak kita punya, tapi seberapa selaras kita dengan kehendak Tuhan.
Kepuasan sejati datang saat kita tahu, “Saya berada di tempat yang seharusnya, melakukan apa yang Tuhan mau saya lakukan.”

Kadang Tuhan menuntun kita bukan lewat suara besar dari langit, tapi lewat damai sejahtera di hati. Kalau kita melangkah dalam kehendak-Nya, ada ketenangan batin yang tidak bisa dijelaskan.
Sebaliknya, ketika kita keluar dari jalur itu, hati menjadi gelisah.
Damai sejahtera adalah kompas batin orang percaya.

Buku ini juga menegaskan bahwa Allah tidak memaksa kehendak-Nya terjadi. Ia memberi kita kebebasan untuk memilih. Itu sebabnya banyak orang tidak menggenapi rencana Allah, bukan karena Allah tidak sanggup, tapi karena mereka tidak mau taat.
Tuhan tidak akan menarik kita seperti boneka tali. Ia ingin kita mencari, mengenal, lalu memilih untuk mengikuti-Nya dengan sukarela.

Saya belajar, hidup yang berhasil bukan berarti bebas dari masalah, tapi punya kepastian arah.
Kita tahu kemana sedang berjalan, dan siapa yang menuntun kita.
Ketika kita hidup dalam kehendak-Nya, meski jalannya kadang tidak mudah, hati kita tetap penuh damai dan sukacita.
Itu tanda kita sedang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Jadi, kalau hari ini hati terasa kosong, mungkin bukan karena ada yang kurang di luar, tapi karena kita belum sepenuhnya berjalan di dalam rancangan Tuhan.
Mulailah dengan doa sederhana, “Tuhan, tunjukkan apa yang Kau taruh dalam diriku, supaya aku bisa hidup sesuai dengan tujuan-Mu.”

Sebab seperti kata Andrew, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Dan saat kita mulai hidup sesuai rancangan-Nya, itulah awal dari hidup yang paling memuaskan.

“The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.” – Mark Twain

“Dua hari terpenting dalam hidupmu adalah hari kamu dilahirkan, dan hari kamu tahu untuk apa kamu dilahirkan.”
– Mark Twain

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun

Conflict Resolution — cara menangani konflik dengan anggun — adalah keterampilan yang perlu dipelajari. Resolusi berarti keputusan untuk berubah, memperbaiki perilaku, dan membangun hidup yang lebih baik. Dalam konteks hubungan, conflict resolution artinya mengelola konflik dengan bijak agar kehidupan kita semakin berkualitas.

Banyak orang salah kaprah. Mereka berpikir jika fondasi hubungan adalah kasih, maka pintu maaf selalu terbuka dan tidak ada konsekuensi. Padahal mengampuni itu wajib, tetapi konsekuensi tetap harus ada.
Kasih tidak berarti membiarkan kekacauan. Kasih dan disiplin harus berjalan seimbang.

Guru kami, Carrie Pickett, sering membagikan prinsip-prinsip praktis disertai contoh kasus. Misalnya, bagaimana menangani seseorang yang tidak memahami visi organisasi dan bertindak semaunya.

Evaluasinya sederhana:
Apakah orang itu sudah ditraining?
Apakah ia mengerti visi dan tujuan organisasi?
Apakah ia tahu apa yang diharapkan darinya?

Kalau semua sudah jelas, barulah diajak bicara dengan kasih. Mulai dari kata-kata positif, tunjukkan potensinya, lalu jelaskan peraturan dan visi organisasi. Sampaikan kesalahannya tanpa menghakimi, dan beritahu konsekuensi jika tetap melanggar.

Dan jika setelah semua ini ia tetap melanggar, konsekuensi harus diterapkan. Tegas bukan berarti tidak mengasihi. Malah justru karena mengasihi.

Tuhan berkata, “Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum sepakat?”
Jika tidak sepakat, lebih baik berjalan sendiri-sendiri. Ini mencegah konflik berkepanjangan dan energi yang terbuang sia-sia.

Satu contoh menarik dari Carrie: sebelum menegur seseorang, ia tidak langsung bicara. Ia mengajaknya makan bersama beberapa kali tanpa membahas kesalahannya. Tujuannya membangun hubungan. Setelah persahabatan terjalin, barulah teguran disampaikan dengan lembut.
“Biarkan mereka melihat hati kita terlebih dahulu. Lalu tanyakan apakah kita boleh menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak nyaman,” kata Carrie.

Pendekatan ini membuat orang lebih siap menerima masukan. Benar seperti pepatah: kita tidak bisa menarik uang di bank kalau tidak pernah menabung.

Sayangnya banyak orang baru muncul ketika butuh sumbangan atau dukungan. Proposal datang, tapi selama ini menyapa pun tidak pernah.
Hukum kehidupan itu sederhana: tabur dan tuai.
Bagaimana mungkin mengharapkan dukungan jika kita tidak pernah menabur kebaikan sebelumnya?

Itu sebabnya saya suka menabur tanpa pamrih. Selain rutin menulis Seruput Kopi Cantik, saya sering mengirim buku gratis, bahkan kepada orang yang belum pernah saya temui. Ini cara saya menggelar karpet merah kehidupan. Saya percaya ketika kita rajin menabur kebaikan, saat kita membutuhkan sesuatu, Tuhan membawa orang-orang yang tepat untuk membantu.

Andrew Wommack punya kisah serupa. Ia mengajar di radio dan televisi secara gratis, dan hampir semua materi pelayanannya boleh diunduh tanpa biaya. Ia bahkan mendorong murid-muridnya memberi untuk pelayanan tamunya, meski Andrew sendiri sedang membangun gedung jutaan dolar. Ia tidak takut kekurangan.

Inilah rahasia mindset kelimpahan: Tuhan punya lebih dari cukup untuk semua orang. Andrew menabur di mana-mana. Karena itu ketika Tuhan memberi langkah penggenapan visi, donatur dari seluruh dunia datang membantu. Mereka mengenal integritasnya. Mereka ingin terlibat.

Andrew berkata, “Saya punya panen karena sebelumnya saya menabur.”

Carrie juga pernah menangani staf yang terlibat perselingkuhan hingga hamil. Mereka bertobat dan berubah, dan Carrie tetap mengasihi mereka. Tapi konsekuensi tetap berlaku: mereka harus dicopot dari jabatan. Karena posisi itu mempengaruhi banyak orang.

Mereka tidak dibuang. Tetap dilibatkan dalam organisasi, tetapi pada tugas yang tidak berhubungan langsung dengan publik. Kepercayaan harus dibangun kembali.

Karena benar kata Warren Buffett:
“Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk merusaknya.”

Kepercayaan itu mahal. Sekali pecah, sulit kembali utuh.

Belajar yuk menangani konflik dengan anggun, penuh kasih tetapi tetap tegas.

“Anyone can become angry—that is easy. But to be angry with the right person, at the right time, for the right purpose, and in the right way—that is not easy.” – Aristotle.*

“Siapa pun bisa marah—itu mudah. Tapi marah kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan tujuan yang benar, dan dengan cara yang benar—itu tidak mudah.” – Aristoteles*

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Robert Liardon, seorang penulis yang dikenal lewat seri God’s Generals, pernah bercerita dengan gaya lugas dan penuh warna tentang pengalamannya bersama Oral Roberts. Ia berkata bahwa Oral Roberts memiliki karunia kesembuhan yang unik—dan hanya bekerja melalui tangan kanannya. Tangan kirinya biasa saja, seperti tangan pada umumnya. Banyak pengkhotbah datang kepadanya, lalu berdebat, mempertanyakan, mencoba mencari-cari rumus bagaimana karunia itu bekerja. Seolah-olah kalau diperas cukup lama, mereka bisa menemukan formula yang bisa direplikasi.

Robert Liardon memilih jalan yang berbeda. “Saya belajar sejak muda,” katanya sambil tertawa, “kalau Anda berada di dekat orang besar, tutup mulut dan ikut saja. Kepala kamu mungkin tidak nangkep, teologi kamu mungkin belum cocok, tapi kalau mereka jalan ke sana, ikut.”

Sadarlah, selalu ada yang mengenal Tuhan lebih baik dari kita. Jangan sok tahu, ikuti saja.. kira-kira demikian.

Dan karena tahu karunia itu mengalir dari tangan kanan Oral Roberts, setiap kali ia berkunjung, Robert akan duduk sedekat mungkin di sisi kanan. Kalau tangan itu mulai bergetar, ia yang kena duluan. “Nenek saya bilang, pukulan pertama itu yang paling dahsyat,” cerita Robert. Praktis, cerdik, dan tidak banyak teori—saya suka sekali gaya seperti itu.

Oral Roberts dan Billy Graham adalah dua figur yang mendefinisikan kekristenan global antara tahun 1950 sampai 2000. Mereka dipakai luar biasa oleh Tuhan tanpa pernah sepenuhnya dimengerti oleh manusia. Dan di sini saya sering tersenyum melihat pola umat Kristen: begitu ada hal supranatural, kita langsung ingin membuat rumusnya. Seolah-olah kalau kita bisa memerasnya sampai kering, kita akan menemukan cara kerja Roh Kudus yang bisa dimasukkan ke dalam “manual book”. Padahal otak kita cuma sebesar cangkir kopi, sementara pikiran Allah seluas samudra Atlantik. Tetap saja kita mencoba memasukkan samudra itu ke dalam cangkir kecil kita.

Guuuuubbrraaaakkk….

Mengapa kuasa kesembuhan Oral Roberts hanya bekerja melalui tangan kanan dan bukan kiri? Jujur saja: saya tidak tahu. Dan kita tidak perlu tahu. Yang jelas, kuasa itu nyata. Orang-orang sembuh. Mujizat terjadi. Dibanding sibuk merumuskan teori yang tak ada habisnya, saya jauh lebih suka sikap Robert Liardon: duduk saja di tempat yang tepat. Kalau Tuhan bergerak, saya mau di posisi yang kena duluan.

Saya sendiri lebih percaya pada buah dan bukti dibanding sekadar janji atau teori.
Saya suka bukti, bukan janji! Itu jargon saya.

Teologi itu penting, tentu saja. Tapi pengalaman pribadi bersama Tuhanlah yang mengubah hidup. Kita bisa hafal banyak ayat, tapi kalau tidak pernah mencicipi hadirat-Nya, semuanya terasa kering. Firman itu untuk dilakukan, bukan cuma diperdebatkan. Kadang kita harus melangkah dulu, mengimani dulu, taat dulu meski belum sepenuhnya paham. Karena terbukti berkali-kali: ketika firman ditaati, apa yang dijanjikan-Nya termanifestasi dalam hidup kita.

Buat apa berputar-putar dalam teori kalau Tuhan menawarkan pengalaman nyata? Roh Kudus hadir untuk menuntun, mengajar, dan menyingkapkan. Bagian kita sederhana: buka hati, lakukan firman, dan melangkah. Nanti Tuhan sendiri yang menunjukkan bahwa Ia setia. Dan bukankah itu yang terpenting?

Menurut saya, iman sejati tidak membutuhkan semua jawaban. Iman berjalan sambil percaya. Seperti Robert Liardon duduk di sisi kanan, siap menerima apa pun yang Tuhan lakukan. Praktis, sederhana, dan efektif. Kadang, justru itu cara paling bijak untuk mengalami Tuhan.

We know the truth, not only by reason, but by the heart.” – Blaise Pascal

“Kita mengenal kebenaran bukan hanya lewat logika, tetapi melalui hati.” – Blaise Pascal

YennyIndra

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGAl
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 5 6 7 8 9 307