Category : Articles

Articles

Apa Senjata Pamungkas Yang Kerap Dilupakan Orang Kristen?

Gospel Truth’s Cakes
*Yenny Indra*

Apa Senjata Pamungkas Yang Kerap Dilupakan Orang Kristen?

Terakhir ini banyak sekali teman-teman yang minta didoakan, terutama saat keluarganya sakit.
Dan saya sungguh menyadari, betapa pentingnya membangun hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan di masa-masa baik.
Dan belajar bagaimana cara Tuhan bekerja di dalam kehidupan kita.

Segala sesuatu SUDAH diberikan Tuhan kepada kita melalui pengorbanan Kristus di kayu Salib 2000th lalu. Lengkap ada di dalam roh kita.  Oleh bilur-bilur-Nya kita SUDAH SEMBUH.

Bagaimana memanifestasikan kesembuhan ini di alam natural?
Melalui iman dan menggunakan otoritas yang Tuhan sudah berikan. BUKAN berdoa meminta Tuhan yang menyembuhkan lagi.

Lalu apa yang harus dilakukan?
Berdoa dalam roh atau berdoa bersama Roh Kudus.

Ps. Grace Lubega menjelaskan, ketika kita berdoa dalam roh, ibarat kita sedang mengangkat meja yang berat, kita mengangkat di sisi yang satu, sementara Roh Kudus mengangkat di sisi lainnya.
Tidak ada mujizat tanpa karya Roh Kudus.

Ada orang-orang yang berpikir, banyaknya kata-kata yang menggerakkan hati Tuhan.
Tetapi perhatikan ayat dibawah ini:

Roma 8:26-27 (BIMK) 
Begitu juga Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa;
Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan.
Maka Allah, yang mengetahui isi hati manusia, mengerti kemauan Roh itu; sebab Roh itu memohon kepada Allah untuk umat Allah, dan sesuai dengan kemauan Allah.

– Kita tidak tahu bagaimana harus berdoa.
– Roh Kudus yang menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita, doa yang sesuai dengan kemauan Allah.
– Maka Allah, yang mengetahui isi hati manusia, mengerti kemauan Roh itu.

Sehingga Tuhan mengerjakannya di :
Roma 8:28 (BIMK) 
Kita tahu bahwa Allah mengatur segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk orang-orang yang mengasihi Dia  dan yang dipanggil-Nya sesuai dengan rencana-Nya.

Banyak orang yang mengutip Roma 8:28 TANPA memenuhi persyaratannya yang tertulis dalam ayat 26 & 27, kita harus berdoa bersyafaat dalam roh.
Roma 8:28 tidak berlaku untuk semua orang & segala situasi!

Begitu banyak orang yang sudah menerima Baptisan Roh Kudus, tetapi tidak berul-betul memahami fungsinya sehingga tidak menggunakannya.
Bahkan ada teman yang merasa, karena tidak paham apa yang diucapkan saat berdoa dalam bahasa roh, jadi enggan menggunakannya.
Padahal itu senjata pamungkas yang dianugerahkan Tuhan pada kita!

Berdoa dengan kata-kata manusia itu terbatas, tetapi dengan berdoa dalam roh, hikmat Tuhan akan turun atas kita. Kuasa dan pengurapan Tuhan dicurahkan.

Hikmat Tuhan diperlukan di saat-sat kritis, agar keputusan yang diambil, merupakan keputusan yang terbaik.
Tuhan memberikan hikmat-Nya langsung kepada kita. Tidak melalui pendeta atau pemimpin rohani. Tetapi Tuhan bisa memakai mereka untuk meneguhkan, saat kita ragu.
Dan penting dicatat, hikmat Tuhan selalu selaras dengan firman Tuhan. Check & recheck!

Berapa lama berdoa dalam roh?
Sampai hati kita merasa lega dan beban terangkat.

Darimana kita tahu hikmat datang?
Kita tahu, tahu dan tahu saat Roh Kudus mengarahkan, setelah kita fokus berdoa dalam roh. Hati kita satu frekuensi dengan Allah.

Pernahkah kita menyadari Rasul Paulus yang tidak pernah menjadi murid Yesus ketika ada di muka bumi, tetapi dia menulis surat-surat,  yang mengisi 1/3 dari Kitab Perjanjian Baru, melebihi rasul-rasul yang bersama Yesus secara fisik?

Apa rahasia Paulus?
1 Korintus 14:18 (TB)  Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa *aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.*

Karena Rasul Paulus berdoa dalam bahasa roh melebihi orang lain, maka dia mendapatkan hikmat & pewahyuan yang ada di hati Allah, melebihi orang lain.
Kita pun begitu. Tuhan tidak pilih kasih.

Smith Wigglesworth (8 June 1859 – 12 March 1947), seorang penginjil  dengan iman yang luar biasa dari Inggris, dipakai Tuhan dengan dahsyat. Ia menyembuhkan ribuan orang dan membangkitkan 23 orang dari kematian.

Sedemikian diurapinya Smith, hingga orang-orang yang berada bersamanya di gerbong kereta api, menangis memohon belas kasihan serta bertobat, tanpa dia mengucapkan sepatah kata pun.
Smith pernah ditangkap di Swedia karena banyaknya orang yang disembuhkan di setiap kunjungannya, akibatnya tidak ada lagi pekerjaan bagi para dokter dan tenaga medis.

Ketika ditanya tentang rahasia pengurapan-Nya yang besar, ia hanya menjawab,
“Aku banyak berbicara (berdoa) dalam bahasa roh.”

“Jarang ada yang menyimpan dan menterjemahkan kotbah-kotbah Smith Wigglesworth, karena dalam kotbahnya dia banyak berbahasa roh,” cerita Yuliadi, sahabat saya di Sekolah Charis.

Dengan cara terus menerus berbahasa roh, kita senantiasa menyelaraskan pikiran dan hati kita dengan kehendak Allah. Itulah yang dimaksud dengan berdoalah senantiasa.

Rutin berbahasa roh yuk….
Saat keadaan baik, bangun hubungan yang dekat dan akrab dengan Tuhan sehingga ketika musuh menyerang, kita sudah punya senjata yang lengkap.
Setuju?

Always rejoice, constantly pray,
in everything give thanks. For this is God’s will for you in Christ Jesus.
1 Thessalonians 5:16-18 (NET)

Bersukacitalah senantiasa.
Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
1 Tesalonika 5:16-18 (TB) 

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

#gospeltruth’scakes
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Sudahkah Kita Menciptakan Kebahagiaan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sudahkah Kita Menciptakan Kebahagiaan?

Sebetulnya sejak awal pandemi, saya termasuk orang yang berhati-hati sekali menjaga, agar hidup saya tidak dicemari berita Covid tetapi memilih fokus pada Tuhan.
Tetapi beberapa minggu terakhir, dengan begitu banyaknya keluarga dan teman dekat yang terpapar bahkan meninggal, mau tidak mau, saya pun merasa terteror.
Dengan jujur saya minta Tuhan membawa saya kembali ke jalur yang benar, fokus hanya kepada-Nya.

Kemarin 10 juli’ 21 saya mengikuti acara kremasi Musa, suami sahabat saya, Bink, by zoom.
Ada acara testimoni dari  saudara mau pun teman-teman Musa, baik dari dalam dan luar negeri. Teman-teman yang dikenalnya sejak masih sekolah, bahkan ada yang sejak Taman Kanak-kanak.

Dan saya terpukau mendengarnya.
Saya mengenal Musa sekitar 15 tahun lebih, ketika mulai stay di Surabaya.
Kami kerap makan bersama, atau sekedar berbincang saat Musa menjemput Bink setelah kami berkencan.
Selama ini saya ‘merasa’ cukup mengenal Musa, hingga saya menonton berbagai  kesaksian tentang Musa, ternyata saya menemukan sisi lain Musa yang tidak pernah saya kenal.

Musa begitu lembut, rendah hati  penuh perhatian, tidak pernah merendahkan orang lain, padahal dia lahir dan dibesarkan di dalam keluarga yang kaya raya, jauh di atas level ekonomi teman-temannya.
MDC Surabaya dimulai dari inisiatif Musa membujuk ortunya agar bisa mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dari sanalah banyak tokoh-tokoh besar dibentuk hingga menyebar ke seluruh dunia.
Atas inisiatif Musa pula, ortunya membiayai kuliah temannya yang nyaris drop-out. Dan sederet  karya-karya lainnya, yang tidak pernah disebut saat Musa masih hidup.

“Siapa pun merasa nyaman berada di dekat Musa… mereka bisa menjadi diri mereka sendiri apa adanya. Ga usah jaim. Karena Musa tidak pernah judge orang lain, yang dibicarakan selalu sisi baiknya,” Bink menjelaskan keistimewaan Musa.

Wow….

Sheena… Bangga ya punya papa seperti Musa. Juga Bink, punya suami yang langka. Pribadi besar yang sudah membangun legacy sedemikian hebat, tanpa mengumbar banyak kata-kata.

Saya merenung.
Ketika seseorang masih hidup, jarang kita fokus pada kelebihannya. Justru yang selalu dikomentari itu kekurangannya.
Tetapi saat seseorang meninggal dunia  tiba-tiba semua kebaikannya bak film panjang yang diputar di pelupuk mata.
Ingatan bisa menggali kebaikan lama yang selama ini ‘nyaris’ terlupakan.

Ketika saya menulis kisah “Sudahkah Kita Menghargai Apa Yang Kita Miliki?”

P. Welly berkomentar,
“Ya sudah kodrat manusia, kita tidak bisa menghargai sesuatu yang dimiliki. Setelah hilang baru sadar… Tapi sudah kasep (terlambat).”

Saya terhenyak!
Dan yang terbanyak, justru kita lakukan pada orang-orang terdekat kita.
Mungkin karena dekat jadi blur…. Silau… Gak jelas yang dilihat.

Mengapa kita tidak fokus saja pada kelebihan orang-orang terdekat kita sejak saat ini?
Menegaskan secara verbal kelebihannya, memujinya dan mengungkapkan kebanggaan kita kepada mereka, supaya tangki kasih mereka menjadi penuh dan merasa dicintai serta diterima apa adanya.
Menikmati kebersamaan dengan mereka dengan sikap hati penuh ucapan syukur.
Tentunya lebih menyenangkan bukan?

Kebiasaan saya menulis artikel di HP karena sering berada di jalan. Saat sedang konsentrasi menulis, lalu GPS perlu diubah tujuannya, akibatnya saya kurang cepat menggantinya. Nach saya kadang diomeli P. Indra karenanya.
Sebelumnya, saya suka sebal. Tetapi sekarang saya memilih mengabaikannya dan tetap memilih bersukacita.
Mengurangi ribuan pertempuran yang tidak perlu.
Hidup itu pilihan koq…!!!

Buat apa ribut urusan remeh-temeh begitu? Lebih baik menikmati kebersamaan. Konsekuensi punya suami yang kreatif. Pergi ke suatu tempat saja, inginnya pas pulang ambil jalur yang berbeda. Biar gak bosan lihat pemandangan yang sama, katanya.

Two Edged of Sword, dua sisi mata pedang.
Setiap orang ada kelebihan dan kekurangannya.
Klo dapat suami seperti P. Indra, ya itulah resikonya.
Seandainya saja saya punya suami yang kalem, sabar, di sisi lainnya, orang itu tidak suka perubahan & monoton…  (Itu sudah hukum alam, ga ada manusia yang serba sempurna.)
Apa saya betah?
Gak jadi keliling dunia dong …
Nanti gak berani ambil resiko nyetir sendiri di negara yang baru pertama kali didatangi seperti P. Indra…. Apalagi dengan setir kiri.
Yo wes… Dinikmati saja.

Demikian pula dengan hal-hal lainnya dalam kehidupan.
Hitung berkat-berkat-Nya dan syukuri.
Kebahagiaan itu diciptakan, Bukan kebetulan.
Dibangun oleh hal-hal kecil yang kelihatannya sepele.

“When I started counting my blessings, my whole life turned around.” – Willie Nelson

“Ketika saya mulai menghitung berkat saya, seluruh hidup saya berbalik.( menjadi lebih membahagiakan, tentunya).”  – Willie Nelson

Praktik yuk…. Mumpung masih ada kesempatan.

“A grateful mind is a great mind which eventually attracts to itself great things.” – Plato

Pikiran yang bersyukur adalah pikiran yang hebat, yang pada akhirnya akan menarik hal-hal besar pada dirinya.”  – Plato

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Living Content- Hidup Memuaskan. Mungkinkah?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Living Content- Hidup Memuaskan. Mungkinkah?

“Bu Yenny tentu sedih ya… Dengan adanya pandemi gak bisa travelling lagi.”

“Saya belajar menikmati apa pun yang ada bu… Kepingin sich liburan lagi tapi jangan jadi beban.”

Apa yang membuat manusia tidak bahagia?
Saya merenung.
Saat di Jakarta, yang diingat yang di Surabaya. Makanan, misalnya.

Sebaliknya, saat di Surabaya, ingat dan menginginkan yang di Jakarta.
Atau hal-hal lain yang tidak bisa kita peroleh saat ini.

Familiar?
Itulah manusia… Gak ada puasnya.
Karena itu para bijak menyarankan, syukuri apa yang kita miliki dan ada saat ini.
Jangan berusaha mengendalikan sesuatu.
Ingat kita bukan Tuhan.

We can’t always control what happens in our lives- things will go well, things will go poorly-but what we can control is our response to those events. – Kenneth Blanchard.
Kita tidak selalu dapat mengontrol apa yang terjadi dalam hidup kita – apakah segala sesuatunya akan berjalan dengan baik, atau justru berjalan buruk – tetapi yang dapat kita kendalikan adalah respons kita terhadap peristiwa itu.  – Kenneth Blanchard.

Saya belajar menjadikan Tuhan pusat kehidupan saya. Dan saya percaya Tuhan akan mengatur segala sesuatu untuk kebaikan saya.

Kita tahu bahwa Allah mengatur segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk orang-orang yang mengasihi Dia  dan yang dipanggil-Nya sesuai dengan rencana-Nya.

Bahkan ketika si musuh merancangkan yang jahat, memasang batu sandungan, tetapi Tuhan akan mengubah batu sandungan itu dan diubah-Nya menjadi batu pijakan, agar saya dapat naik ke tempat yang tinggi sekali, yang tidak dapat saya capai tanpa adanya batu tersebut.

So… Saya bisa menjalani setiap langkah dalam kehidupan saya bersama-Nya. Memasuki setiap pintu yang Tuhan bukakan, dan berbelok saat menghadapi pintu yang tertutup tanpa harus kecewa.
Senantiasa belajar mengingatkan diri, kalau Tuhan menutup pintu, pasti ada alasan baik yang tidak saya mengerti.
Bukankah otak saya yang hanya sebesar kacang, tidak akan dapat memahami pikiran Allah yang Maha Kuasa?
Allah mengasihi saya, lebih dari saya dapat mengasihi diri saya sendiri.
Buat apa saya khawatir, kecewa dsb?
Kerap setelah lama berlalu….
Saat menoleh ke belakang, saya bersyukur untuk pintu-pintu yang tertutup. Apa yang dulu saya inginkan, ternyata ujungnya menuju ‘maut’.
Bersyukur Tuhan baik dan meluputkan saya dari semua itu.

Mudahkah?
Sama sekali tidak!
Kita hidup dalam masyarakat yang mempunyai pola pikir berbeda-beda, kedewasaan rohani yang berbeda pula.
Kadang cukup terganggu dengan komentar penonton.
‘Apa kata orang?’, dalam budaya kita masih sangat diperhitungkan.
Dibutuhkan keberanian dan iman untuk melangkah maju, mengikuti arahan Tuhan, sementara saya sendiri tidak tau ending-nya di mana.
Satu-satunya pegangan karena saya mengenal siapa Allah-ku yang sudah berjanji tidak akan membiarkan mau pun meninggalkan saya.

Saya memutuskan untuk lebih lagi melekat kepada-Nya dengan cara menghidupi serta menggali firman-Nya karena firman itulah Allah sendiri.

Apa yang terjadi?
Hidup jauuuuuh lebih enteng.
Saya menikmati hal-hal baik yang Tuhan karuniakan. Orang-orang baik yang Tuhan pertemukan. Hidup jadi jauh lebih simple.

Saya mengerti sekarang arti:
Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu. Ikutlah perintah-Ku dan belajarlah daripada-Ku. Sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan merasa segar. Karena perintah-perintah-Ku menyenangkan, dan beban yang Kutanggungkan atasmu ringan.

Beban hidup kita jadi ringan ketika kita berjalan bersama-Nya.
Prinsipnya:
Berpikir seperti Allah berpikir, menurut firman-Nya. Dan berbicara pun sesuai perkataan Allah dalam firman-Nya.

Saya paham sekarang, itulah rahasia Living Content, hidup yang memuaskan.

“Life isn’t about waiting for the storm to pass. It’s about learning how to dance in the rain,” ujar Vivian Greene.

Hidup bukan tentang menunggu badai berlalu. Melainkan bagaimana belajar menari di tengah hujan,” ujar Vivian Greene.

Praktik yuk…

We must offer ourselves to God like a clean, smooth canvas and not to worry ourselves about what God may choose to paint on it, but at each moment, feel only the stroke of HIS brush – Jean Pierre de Caussade.

Kita seharusnya mempersembahkan diri kita kepada Tuhan bagaikan kanvas yang bersih dan halus serta tidak mengkhawatirkan apa yang mungkin akan Tuhan pilih agar terjadi pada diri kita, melainkan setiap saat kita menikmati sapuan kuas-Nya -Jean Pierre de Caussade.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Curhat Menjelang Kremasi Ko Hoen Siang Ini.*

Link Live Streaming Acara Kremasi ?? Hari Ini:
https://youtu.be/spCMUqLMPFM

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Curhat Menjelang Kremasi Ko Hoen Siang Ini.

“Bu, sebelum kena covid apakah Pa Hoentoro ada penyakit lain?,” tanya P. Robby setelah saya mengirimkan artikel
Tribute To: Raden Hoentoro Hadiwidjojo Kolopaking (Ko Hoen).
pada P. Robby, pendonor plasma darah untuk Ko Hoen.

[Bagi yang belum membaca post kemarin, ini link-nya:
https://yennyindra.com/2021/07/tribute-to-raden-hoentoro-hadiwidjojo-kolopaking-ko-hoen/ ]

“Mata yg bermasalah. Secara umum oke sich. Beliau rutin check ke Singapore.”

“Seandainya Pa Hoentoro waktu itu dapat plasma lebih awal apakah bisa tertolong yah Bu..? Saya jadi kepikiran.”

“Pak, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Saya juga tidak tahu. Tetapi apa yang dilakukan P. Robby sudah sangat luar biasa. P. Robby bertindak menolong di tengah kesulitan yang kami alami.
Bahkan Eko menjelaskan, punya P. Robbylah plasma yang pertama kali jadi. Yang penting kita sudah ‘do our best,’ Pak”

Pernyataan P. Robby bagaikan air sejuk di tengah duka yang kami rasakan.
Masih ada ‘Malaikat’ di tengah hingar-bingar dunia saat ini.

Teringat saat kami membutuhkan plasma darah, banyak link dikirimkan oleh teman-teman. Sesungguhnya, pada dasarnya manusia itu baik. Ingin menolong sesamanya. Mereka pun ingin berbagi apa yang mereka ketahui.

Ada link dengan sederet nama pendonor.
Saya coba telpon langsung, tidak ada yang angkat. Ah, siapa tau sedang sibuk. Jadilah mesti di save satu persatu agar bisa kirim chat WA.
Dan ini butuh waktu! Padahal kami dikejar waktu….
Sedihnya, tidak ada satu pun yang menjawab.
Mubazir.

Demikian pula dengan link-link lainnya.
Idem pula saat butuh rumah sakit.
Oh…. Di mana operatornya? Kami perlu bantuan urgent!

Beberapa teman menelpon, benarkah saya membutuhkan bantuan.
“Ya, benar…”

Ternyata saking banyaknya Hoax berseliweran, hingga mereka kesulitan membedakan yang benar-benar butuh bantuan dengan yang sekedar di share, di share lagi dan lagi…
Saat sudah dapat yang dicari, kerap tidak memberi kabar.

Eko mengingatkan saya, blast lagi info kalau sudah dapat yang kami butuhkan.
Siap, komandan…!!!

Teman-teman menjelaskan sebagian besar info melalui link itu memang tidak bisa dikontak.
Bahkan ada info Hoax….
Gubrraaaaaakkkk….

Oh…. Teganya melakukan seperti ini di tengah penderitaan orang lain. Ini masalah nyawa seseorang.
Apakah mereka lupa bahwa apa yang ditabur, suatu saat mesti dituai hasilnya?
Saya tidak habis pikir.

Berapa banyak waktu yang sudah hilang sia-sia sejak tadi?

Alasan inilah membuat saya berhati-hati sekali untuk blast sesuatu. Jangan sampai terbiasa blast yang ga jelas, saat benar-benar butuh, orang tidak percaya lagi.

“Trust Must Be Earned- Kepercayaan Itu Diperoleh karena layak”, kata Greg Mohr.

*“Trust starts with truth and ends with truth.”– Santosh Kalwar

Kepercayaan dimulai dengan kebenaran dan diakhiri dengan kebenaran.” – Santosh Kalwar

Betapa mahalnya kepercayaan itu! Tidak mudah memperolehnya.

Bersyukur beberapa teman japri memberi kontak temannya, yang betul-betul bisa dihubungi. Dan ini membantu sekali.
Ada beberapa teman yang membantu menghubungi orang yang dikenalnya atau saudaranya untuk membantu kami.
Berhasil or tidak, tidak penting, tetapi kami sangat menghargai usahanya. Kami butuh bantuan nyata…. Dan ini memang nyata.
Thanks teman-teman semua. Luv u all.

P. Robby kontak japri menawarkan bantuan darah untuk plasma yang dibutuhkan.
Nyess… Senangnya…
Dan Puji Tuhan, pas masih bisa. Saya baru tahu bahwa yang bisa didonorkan terbatas 3 bulan setelah sembuh dari Covid.
Lewat itu, tidak bisa.

P. Robby sudah membantu, masih kepikiran pula, seandainya saja bisa lebih awal donor, mungkin Ko Hoen tertolong….
Pikiran dan perasaan yang sama terlintas dalam pikiran kami P. Robby…
Kehilangan orang-orang yang kita kasihi selalu menyisakan: seandainya saja…..

Tanpa sadar mata ini berkaca-kaca saat membaca pesan P. Robby,
“Seandainya ada yg butuh plasma lagi, bisa info ke saya, Bu…
Saya bisa donor plasma lg setelah 2 minggu. Jadi nanti tgl 15 July ke atas sy sudah bisa donor lagi…”

Sungguh terharu…

Orang bilang dunia sudah sangat egois, tetapi kami menemukan hal yang berbeda: ‘Malaikat’ yang Tuhan kirimkan.
Terimakasih Tuhan, telah mempertemukan kami dengan orang-orang yang baik…

Ko Hoen sepanjang hidupnya menabur kebaikan dan pertolongan di mana-mana. Saat semua bilang rumah sakit full, donor sulit, obat langka, tetapi kami melihat bukti janji Tuhan: apa pun yang Ko Hoen butuhkan, Tuhan menyediakan!

Ko Hoen sepanjang hidupnya menabur kebaikan dan pertolongan di mana-mana.
Saat semua bilang rumah sakit full, donor sulit, obat langka, tetapi kami melihat bukti janji Tuhan: apa pun yang Ko Hoen butuhkan, Tuhan menyediakan!

Hari kamis 1 july masuk rumah sakit langsung dapat IGD. Pk.24.00 dapat kamar isolasi.

Jumat 2 july butuh ICU, malam pun tersedia.

Sabtu 3 july butuh plasma, dapat juga. Butuh redemsivir pk.24.00 akhirnya dapat juga.

Minggu 4 july pukul 11.21 beliau pulang ke rumah Bapa, dengan hidup yang memuaskan dan sangat bermanfaat bagi orang lain.

Janji Tuhan Ya dan Amin.
Apa yang ditabur, itu yang dituai…

Saya membayangkan Tuhan berkata kepada Ko Hoen:
Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Wong urip iku mung mampir ngombe – orang hidup itu hanya sejenak berhenti minum, ungkapan pepatah Jawa.

Rumah kita sesungguhnya memang bukan di dunia ini. Setiap kita pada akhirnya akan kembali pada Sang Pencipta.
Jangan sampai hati kita justru melekat pada yang duniawi.

Dan kita lahir di dunia ini dengan mengemban tugas dari Tuhan.
Johan Wolfgang von Goethe mengingatkan, peran kita di dunia ini, tak tergantikan. Hanya kita yang bisa memenuhi tugas tersebut.
Ko Hoen sudah memenuhi tugasnya dan menjalankan perannya dengan sangat baik.

Pertanyaannya:
Bagaimana dengan kita?

A life of purpose can only be fulfilled when we put God first and make Him the center of our lives.

Kehidupan yang memiliki tujuan hanya dapat dipenuhi, ketika kita mengutamakan Tuhan dan menjadikan Dia pusat kehidupan kita.

Note:
Saat memilih foto Ko Hoen untuk artikel ini, ketemulah foto saat Ko Hoen menjenguk penjaga malam di rumah papanya, yang sedang sakit.
Hhhmmm ini juga patut ditiru… Siapa saja yang sakit, Ko Hoen menyempatkan diri untuk menengok. Tidak pilih-pilih. Boss besar yang sangat rendah hati.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tribute To: Raden Hoentoro Hadiwidjojo Kolopaking (Ko Hoen).

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tribute To: Raden Hoentoro Hadiwidjojo Kolopaking (Ko Hoen).

Bagaikan petir menggelegar saat saya mendapat kabar, P. Hoentoro Hadiwidjojo Kolopaking atau yang  biasa saya panggil Ko Hoen, meninggal dunia siang ini, 4 juli 2021.
Rasanya sejenak dunia berhenti berputar.
Tidak percaya! Benarkah?

Beberapa hari terakhir cukup menegangkan. Eko, sang keponakan, pontang-panting kian kemari. Perlu rumah sakit, donor plasma hingga obat langka: Remdesivir. Konon hanya rumah sakit yang bisa pesan. Begitu saya blast di berbagai grup WA, banyak teman-teman yang membantu dengan berbagai info.
Terimakasih sebesar-besarnya, untuk kasih,  perhatian, bantuan dan dukungan doa dari teman-teman, yang sungguh tak ternilai harganya. Terlebih lagi bagi P. Robby yang mendonorkan darahnya untuk plasma. Tuhan yang membalasnya.

Perasaan bercampur-baur…
Ko Hoen gemar naik motor gede. Koleksi Mogenya berderet berpuluh-puluh…
Gayanya trendy dengan rambut panjang dikuncir ke belakang, berkaos dan sepatu boots. Pokoknya gaya anak muda banget…
Berbeda dengan penampilan pria berusia kepala tujuh lainnya.
Masih rutin berkantor di 2 perusahaannya. Kreatif, penuh inisiatif, cerdas dan rendah hati.
Sekali waktu masih mengendarai mobil sendiri dan tidak wajib mobil super-mewah.

Ingatan pun melayang pada masa kecil.
Papa saya mengangkat saudara dengan 4 orang sahabatnya, salah satunya papanya Ko Hoen. Panca Saudara, namanya.
Jadilah kami bersaudara.
Saat kecil saya kerap melihat Ko Hoen berbincang-bincang masalah bisnis dan lainnya dengan papa. Usia kami terpaut puluhan tahun, lebih sering Ko Hoen menyapa saya sebagai adik kecil.

Yang istimewa, papa selalu menggambarkan apa itu UHAO (berbakti) dengan sosok Ko Hoen.
Orang Kebumen, -kampung halaman kami-, yang sukses besar di Jakarta, ya… Ko Hoen.
Jadi sejak kecil sudah tertanam dalam pikiran saya, gambaran:
Berbakti + Sukses = Ko Hoen.
Maka saya pun menjadi fans Ko Hoen.

Mengapa?
Orang sukses dan kaya di Jakarta, itu banyak…
Tetapi yang seperti Ko Hoen, membantu banyak sekali orang di mana-mana, tidak banyak. Dia bijak, dermawan, penuh belas kasih dan rendah hati.
Bahkan di Kebumen, nyaris ada satu daerah, yang hampir semua keluarga dibantu olehnya. Ada yang dibelikan rumah, ditolong saat terjerat hutang bank dsb.
Ko Hoen ‘malaikat’ yang selalu siap menolong.
Belum lagi yang disekolahkan, bahkan hingga S2 di luar negeri.
Tidak heran saat mendengar Ko Hoen meninggal, ada seorang ibu yang langsung pingsan.

Kerabat kami bercerita, suatu ketika bisnisnya mengalami kesulitan keuangan. Dia datang meminjam sejumlah uang pada Ko Hoen.
Ketika usahanya membaik, dia hendak mengembalikan, tentu tidak lupa dia menanyakan harus menambah berapa % bunganya.
% dalam Bahasa Hokian biasa disebut Hoen.

“Bunganya yo… Hian Hoen… ,” ujar Ko Hoen bercanda karena Hian Hoen itu nama Ko Hoen.
Akhirnya uang dikembalikan tanpa bunga, karena Ko Hoen tidak mau menerima bunganya. Dia hanya ingin membantunya maju.

Beliau tidak hanya berbakti pada orangtua dan keluarganya tetapi sangat berbakti  dan menunjukkan rasa hormat yang luar biasa kepada teman-teman papanya mau pun orangtua mana pun. Baik dengan siapa saja.
Setiap ke Kebumen, menyempatkan diri menjenguk teman-teman papanya.

Ketika papa saya meninggal, saya berpikir tentu sikap Ko Hoen berubah.
Ternyata tidak!
Secara rutin, setiap beberapa waktu, Ko Hoen tetap menelpon menanyakan kabar mama.
Yang unik lagi, setelah mama meninggal, Ko hoen masih menelpon adik ipar saya, Ayda, menanyakan kesehatannya. Mengingat Ayda yang selama ini merawat mama dan dia single parent.
Wow….
Sungguh sikap yang langka.

Ko Hoen yang jauh lebih sepuh, justru menelpon yang muda-muda.
Kadang Ko Hoen juga menelpon saya, sekedar memastikan semuanya baik-baik saja.

Tidak pernah menyombongkan diri, penampilannya bersahaja padahal beliau termasuk bilangan orang kaya lama di Jakarta yang asetnya berjibun.
Betul-betul seperti padi, semakin berisi justru semakin merunduk.

Bahkan ketika makan bersama di resto, sambil mengobrol saat menanti makanan disajikan, beliau menyempatkan diri membersihkan sendok dengan tissue dan diberikan kepada kami yang jauh lebih muda.
Saya terpukau dengan perhatiannya dalam hal-hal kecil.
Beliau boss besar lho…
Dan memperlakukan semua orang dengan hormat. Tidak membedakan kaya atau miskin.

Makanan favoritnya tetap Nasi Penggel, makanan khas Kebumen, yang disajikan dengan alas daun pisang. Dijual di teras rumah penduduk. Ko Hoen tidak keberatan menikmatinya sambil duduk di kursi panjang dari bambu, bersama penduduk setempat.

Oh ya… Setiap ada teman-teman papanya, atau teman dekat yang meninggal, bela-belain dari Jakarta ke Kebumen, ke kota-kota lainnya bahkan hingga ke luar pulau sebagai penghormatan terakhir.

Dalam sebuah kesempatan, saya bercerita pada Ko Hoen bagaimana papa Ko Hoen selalu menasehati saya, agar kelak menjadi anak yang berbakti seperti Ko Hoen.

Ko Hoen pun bercerita…
Saat mulai berbisnis dan sukses, Ko Hoen menceritakan pencapaiannya kepada papanya.
Tetapi bagaimana respon papanya?

“Kamu belum sukses kalau kamu hanya bisa mengumpulkan untuk dirimu sendiri atau sekedar mengentaskan keluarga besarmu saja. Orang yang sukses adalah orang yang bisa menolong orang lain. Ukuran kesuksesanmu adalah seberapa banyak orang yang bisa kamu bantu,Papa Ko Hoen memberikan wejangannya.
Nlai-nilai inilah yang mendorong Ko Hoen begitu dermawan, berbagi kepada banyak orang.
Berbagai acara yang digagas termasuk Acara Paguyuban Bumenan, Ko Hoen sponsornya….
Reuni Panca Saudara, Ko Hoen juga yang aktif supaya persaudaraan tetap terjalin.
Ko Hoen-lah pemersatu di mana-mana.

Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua, menentukan apa yang dikerjakan oleh generasi berikutnya.

Dan yang dilakukan Ko Hoen bergema dengan sangat lantang, terbukti dari banyaknya yang post foto Ko Hoen lengkap dengan wejangannya.

Hormati orangtua, kasihi dan layani orangtua selama masih hidup. Kalau kamu berbakti pada orangtua, maka rejekimu berlimpah,” nasehat Ko Hoen terus terngiang di telinga.

Keteladanan berbicara lebih keras daripada sejuta kotbah, ujar orang bijak.

Belajar dari Ko Hoen, mari kita mengisi hidup ini dengan kebaikan.
Pastikan apa yang kita lakukan adalah hal-hal yang memberi manfaat dan membawa kebaikan bagi banyak orang.

Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya- Raja Salomo

Ketika seseorang meninggal dunia, tidak ada yang menanyakan berapa banyak asetnya.
Yang dikenang orang, seberapa banyak hidup orang lain menjadi lebih baik karena mereka mengenal kita. Keteladanan dan nilai-nilai apa yang kita tabur dalam kehidupan orang lain? Itu yang bermakna!

Kisah Ko Hoen pun saya tulis menjadi salah satu artikel di buku “Seruput Kopi Cantik YennyIndra for a better relationship,” yang menginspirasi banyak orang.

Ko Hoen, Selamat menikmati kebahagiaan bersama Bapa di surga.

There are no goodbyes for us…
Wherever you are….
You will always be in our heart…

“It’s not how long you live, but how you live that’s important. Therefore, don’t make your life just livable, make it memorable.”— Tony Robbins

Bukan berapa lama Anda hidup, tetapi bagaimana Anda menghidupinya, itulah yang penting.  Oleh karena itu, jangan membuat hidup Anda hanya sekedar hidup, ciptakanlah hidup yang pantas dikenang” — Tony Robbins

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 221 222 223 224 225 308