Wow..Ternyata Iman Kita Bisa Menyembuhkan Orang Lain!
Banyak penderita sakit yang mendapatkan diri mereka berada di dalam ketidakberdayaan. Orang-orang percaya mencoba memotivasi, supaya iman mereka meningkat dan disembuhkan, di sisi lain, orang-orang yang tidak percaya hanya berharap kepada bantuan medis saja. Bagaimana jika kita mengubah mindset, memandang kesembuhan sebagai ekspresi kebaikan Tuhan, sedangkan sebagai Tubuh Kristus, kita dapat memberikan anugerah kesembuhan bagi si penderita sakit?
“Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Matius 10:8 TB
Kelahiran baru merupakan transaksi spiritual. Karenanya, dibutuhkan iman pribadi. Sedangkan kesembuhan merupakan transaksi fisik. Kesembuhan bisa diberikan sebagai anugerah kasih melalui iman orang lain, kepada tubuh si penderita sakit.
Wow…. Sungguh pemahaman baru yang diajarkan oleh Barry Bennett yang semula tidak pernah terpikirkan. Dengan demikian, sebagai Tubuh Kristus, kita tidak hanya menguatkan, tetapi bisa bersepakat dalam iman, agar anugerah kesembuhan dapat diterima dan direalisasikan pada tubuh saudara kita yang sakit.
Ayat pendukungnya mana? Karena dosa seluruh dunia telah diselesaikan di kayu salib, maka ada pembenaran hidup bagi semua orang (Rm. 5:16-17), dan Allah tidak memperhitungkan dosa kepada kita (2 Kor. 5:19). Karena dosa tidak menghalangi (1 Yohanes 2:2), maka Anugerah Kesembuhan Tersedia Bagi SEMUA ORANG. Itu merupakan ekspresi kebaikan Tuhan.
Dahsyat!!!
Percaya kepada kebenaran adalah tindakan iman pribadi. Menerima kesembuhan bisa merupakan tindakan iman pribadi, Pemberian Melalui Iman Orang Lain, atau melalui kebaikan Tuhan semata, bukankah Tuhan menurunkan hujan-Nya atas orang benar dan orang tidak benar?
Petrus memiliki iman untuk orang lumpuh dalam Kisah Para Rasul 3. Sang Perwira itu memiliki iman untuk hambanya. Ibu non-Yahudi, seorang Kanaan, memiliki iman untuk putrinya yang tersiksa karena ulah setan. Yairus memiliki iman untuk putrinya. Dalam setiap kasus ini, iman orang lainlah yang membawa anugerah kesembuhan bagi orang yang sakit dan menderita.
Dengan cara yang sama, iman kita juga bisa menyembuhkan penyakit orang lain.
Yesus berbelas kasihan kepada banyak orang dan menyembuhkan mereka yang sakit (Mat. 14:14). Bahkan Yesus menyembuhkan tanpa syarat. Tidak pernah mengurus dosanya atau memberikan syarat-syarat tertentu. “Jangan berbuat dosa lagi…,” demikian pesan-Nya setelah sembuh.
Yesus memiliki belas kasihan pada seorang janda yang membawa putranya yang telah meninggal dalam perjalanan ke kuburan. Baik ibu maupun anak yang meninggal itu, tidak memiliki iman. Kebaikan Allah melalui iman Yesuslah yang membangkitkan dia dari kematian.
Daripada menempatkan orang yang sedang sakit dan menderita di bawah tekanan dan beban, untuk meningkatkan imannya agar kesembuhan mereka tercipta, kita bisa menjadi saluran bejana kasih Tuhan, yang membawa kesembuhan bagi mereka. Tuhan itu baik.
Praktik yuk…..
You can have Impact wherever you Go – Charis
Anda bisa memberikan Dampak ke mana pun Anda pergi – Charis
Sumber: A Gift of Healing – Barry Bennet.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
23 tahun lalu saya mengenal Siuling di Joga dan cocok. Kami bersahabat. Ternyata kami kuliah di Universitas yang sama, hanya beda jurusan. Persahabatan panjang, meski dalam keseharian kami jarang berkomunikasi tetapi jika saya ke Jogja atau Siuling ke Surabaya, kami ketemuan.
Sama-sama haus dan lapar untuk mengenal Tuhan, kami mengejar pengenalan dengan cara masing-masing. Siuling belajar di Kingdom Business Community, sementara saya sekolah di Charis.
Saya ke Jogja, seperti biasa kami berjumpa. Berbagi cerita pengalaman masing-masing. Siuling sebagai cancer survivor, melayani di komunitas kanker. Memotivasi, menguatkan dan melayani para penderita kanker. Mendampingi mereka melalui saat-saat berat terutama setelah kemoterapi dan di akhir masa hidup mereka.
Salah satunya, Siuling melayani almarhumah Wiwik. Hingga kakak Wiwik, Yani berujar, Wiwik bisa bertahan hidup sekian lama karena ada Siuling yang setia mendampingi dan menguatkan hingga akhir hidupnya. Awalnya Wiwik sangat pesimis, berkat pelayanan Siuling, Wiwik bersemangat bahkan bisa melayani para penderita kanker lainnya. Dia merasa hidupnya bermakna, pulang ke surga dengan siap dan tegar.
“Tuhan beri pelayanan ini buat kamu Ling. Aku gak bisa melayani seperti kamu. Tugas kita berbeda,” ujar saya, “Terus maju dan tegar, fokus dengan tugas yang Tuhan berikan. Jangan sampai pandangan kita teralihkan oleh masalah-masalah kecil di sepanjang jalan… Itu siasat iblis yang mencoba melemahkan kamu. Pandang Tuhan dan lakukan pelayanan dengan bergantung sepenuh hati kepada-Nya. Menentukan batasan alias boundaries dalam hidup memang penting. Dr. Henry Cloud menegaskan, boundaries yang jelas membuat apa yang kita kerjakan terarah, fokus, jelas, dan tentunya, hasil lebih maksimal.”
Dari berbagai cerita dan pengalaman tokoh-tokoh yang kami kagumi, idolakan serta menjadi panutan di masa lalu, ternyata banyak diantaranya yang tidak seperti kami harapkan. Ada yang menendang rekannya demi jabatan, menyingkirkan rekan yang sama-sama merintis di awal pelayanan dsb. Tidak ada bedanya dengan kongsi di perusahaan. Pecah kongsi. Kerap orang yang rohani dan pengajarannya sedemikian memukau dan mempersona, ternyata tidak terlalu berbeda dengan orang-orang dunia. Dalam keadaan terjepit, secara manusia, selama ini sudah memperlakukan, memuja serta melayani sang tokoh dengan sangat-sangat baik, tentu berharap sang tokoh akan menjadi kawan yang setia. Ternyata tidak!
Kekecewaan demi kekecewaan terjadi, tidak sedikit teman-teman lalu menjauhi Tuhan. Lho manusianya yang salah, gak setia, koq jadi Tuhan yang dimusuhi?
Masih banyak teman-teman yang belum bisa membedakan antara pelayan Tuhan dengan Tuhan. Orang yang melayani Tuhan itu manusia biasa sama seperti kita yang masih dalam proses belajar. Mereka juga masih mengalami jatuh bangun yang sama. Salah kita sendiri yang menganggap mereka seperti malaikat, memuja bahkan meletakkan harapan kepada mereka
Hahaha… Hingga kini masih banyak teman-teman yang menganggap jabatan Pendeta itu kastanya lebih tinggi daripada jemaat biasa. Doanya dianggap lebih Jos, sampai dikejar habis-habisan. Klo belum didoakan oleh sang pendeta, belum mantap. Tidak heran, jika sang pendeta diperlakukan secara istimewa, bak pejabat tinggi. Bahkan masih ada yang mati-matian bersaing dengan temannya demi menjadi ‘orang terdekat’ sang pendeta. Dilayani sedemikian rupa, hingga saya kerap bercanda dengan teman-teman Charis, pendeta top itu beda tipis dengan artis top. Dikejar, dikagumi dan diperlakukan nyaris ga ada bedanya.
“Habis manis, sepah dibuang,” itu memang karakter manusia pada umumnya. Banyak juga yang menyandang jabatan keren, bergengsi dan rohani, ternyata lahir baru pun belum. Mereka hanya berubah status saja. Dulu gak kenal Tuhan sekarang KTP Kristen. Tapi Tuhan hanya dijadikan stempel semata, bukan BOSS atas hidupnya. Koq tahu? Dari buah kehidupannya, kita menilai seseorang, BUKAN dari jabatannya yang keren.
Btw… Saya ngerti teorinya, tapi berulang kali terjerumus juga. Kerap terpesona dengan jabatan keren dari gereja top. Akhirnya, kecewa. Sadar… Mestinya sudah ngerti prinsipnya.
Padahal, Tuhan sudah mengingatkan, ”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan! Mengandalkan orang lain mau pun mengandalkan diri sendiri, sama buruknya di hadapan Tuhan.
Di Charis, kami diajar membangun hubungan langsung dengan Tuhan. Tidak berharap kepada manusia. Pewahyuan Tuhan untuk tokoh – tokoh mendunia seperti Andrew Wommack, sama koq dengan pewahyuan untuk kita semua. Karena Allah tidak memandang muka atau pilih kasih. Asalkan kita juga sungguh-sungguh menyediakan hati dan waktu untuk membangun hubungan yang benar dengan Tuhan melalui doa dan firman-Nya.
“Tapi jangan mundur karenanya Ling…. Justru kita yang mesti berbeda. Yuk beneran menghidupi kebenaran Tuhan agar bisa menjadi duta Allah di dunia ini. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi? Itu yang harus kita pertanggungjawabkan saat berjumpa dengan Tuhan di surga kelak. Ini urusan kita pribadi dengan Tuhan. Bukan pandangan manusia.”
Kami pun sepakat mengikuti Tuhan dengan menjaga motivasi kami jujur, setia, dilandasi kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Kami tidak mengejar jabatan. Kepemimpinan itu pengaruh, bukan status atau jabatan. Kami wajib menampilkan Allah melalui hidup kita. Inilah nilai-nilai yang mesti kami kejar dan hidupi.
Jangan pernah memanfaatkan orang lain, apalagi mengambil keuntungan demi kepentingan diri sendiri. Berharap kepada Tuhan saja karena Tuhanlah Sumber Berkat kita yang sejati. Kami memperbaharui lagi komitmen dalam melayani Tuhan.
“Yen, masih sibuk beli Branded Bags?”
“Gak tuh. Aku gak peduli pakai apa, Pede karena ada Allah yang tinggal dalam rohku. Lebih penting itu. Fokusku terakhir ke situ. Aku kan menampilkan Allah. Klo beneran hubunganku dengan Tuhan sesuai jalurnya, seharusnya ada wibawa Allah yang terpancar. Aku termasuk yang percaya, bahwa penyertaan Allah itu kasat mata koq. Temanku, P. Dolfi, setiap butuh parkir, koq ya… Pas ada parkir premium yang kosong. Buahnya kelihatan nyata, orang di sekeliling bisa melihat dan merasakannya.
Klo tiba-tiba aku emosian, aku sadar, pasti hubunganku dengan Tuhan gak beres. Karena yang sabar, mulia, adil, manis, lembut, yang sedap didengar dan penuh pengendalian diri itu, Tuhan. Klo aku jadi wadah yang taat, membiarkan Tuhan sepenuhnya mengalir melalui aku, maka jadilah aku yang manis. Sebaliknya, klo akunya yang dominan, yo balik ke Yenny yang dulu… yang gak sabaran. Kuncinya di situ. It’s all about God, not me.”
“Klo kamu bisa nyaman tanpa embel-embel yang dari luar, artinya kamu sudah selesai dengan dirimu. Tiba pada End of Yourself. Fokus kita pada Tuhan dan menjadi duta Allah di dunia ini.”
Mak Jleb…..
“Wow…. Bener ya itu yang mesti kita hidupi. Aku gak pernah memikirkan soal the end of myself…. Wajib kita kejar kualitasnya. Tidak sibuk dengan asesoris yang diluar tetapi mengejar nilai-nilai yang kekal, yang hakiki, tidak lekang oleh waktu. Bukan sibuk pada diri sendiri, tetapi fokus pada Allah. Aku catat itu Ling.”
Pembicaraan selama 5 jam dengan sahabat yang satu visi, sehati, sama-sama mengejar Tuhan, meski dari jalur yang berbeda, dengan cara yang berbeda, – sungguh membangun. Kami saling menguatkan dan dikuatkan. Bersama-sama meluruskan tujuan, agar tiba di tujuan bersama pula.
Tidak banyak yang seberuntung saya, bisa sekolah, memiliki komunitas yang membangun serta positif, bahkan di berbagai kota pun memiliki teman-teman sevisi dan saling membangun… Sungguh berkelimpahan hidup saya… Praise The Lord!
Run your business in harmony with God’slaws. This will keep you on an ethical footing. Seek to please God in everything you do. – David Green.
Jalankan urusan Anda selaras dengan Hukum Tuhan. Ini membuat Anda tetap berdiri di atas pijakan yang etis. Berusahalah menyenangkan hati Tuhan dalam segala hal yang Anda lakukan. – David Green.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Kita Yang Menentukan Jawaban Doa Kita Sendiri! Percaya Ga?
Bukankah masalah kerap datang tanpa permisi? Saya pun mengalaminya. Sejujurnya, kami merasa terteror dengan proses penyelesaian masalah ini. Ini jenis masalah yang berulang, namanya juga bisnis…
Kemudian saya menyadari, ternyata pengaruh masalah ini terhadap saya pribadi, sekarang berbeda. Dulu saya galau abis, kepikiran terus selama berhari-hari, stress sudah pasti. Bahkan kerap terbangun di malam hari dengan keringat dingin. Sekarang, tidak lagi.
Sejak awal, Tuhan begitu jelas berbicara di pikiran saya, “Malapetaka tidak akan menimpamu dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu…” Percaya bahwa Tuhan menyertai dalam menyelesaikan permasalahan ini, saya tidak memikirkannya lagi. Sudah ada yang in-charge, ngapain mesti repot.
Pelajaran demi pelajaran yang Tuhan ajarkan setiap hari, membawa saya untuk melihat Tuhan di balik setiap peristiwa apa saja yang terjadi dalam hidup ini. Bukankah saya menjalani hidup bersama-Nya? Bukankah Allah menggandeng tanganku? Dan saat melewati jalanan yang terjal dan berbahaya, justru Allah yang menggendongku? Apa yang mesti dikhawatirkan? Hati pun lega!
Hari demi hari berlalu… Proses pun berjalan… Entah bagaimana saya mendapatkan pengertian baru, memang iblis berusaha menjegal, memasang berbagai rintangan di sepanjang jalan, tetapi Allah mengubahnya, menjadi kebaikan, agar dalam proses penyelesaian ini saya hendaknya dengan berani menunjukkan iman saya…. Agar ketika masalah ini selesai, semua staf dan orang-orang di sekeliling saya tahu, bahwa penyelesaian ini menurut ukuran Allah. Mujizat terjadi karena Allah yang menyelesaikan masalah ini.
Perkataan iman dideklarasikan. Prinsip-prinsip Allah diterapkan. Menjaga mulut terhadap kata-kata sia-sia yang berlawanan dengan doa yang dipanjatkan. Bukankah kerap doa kita tidak terjawab, karena berdoa minta A tapi kata-kata yang diucapkan justru B, yang berlawanan dengan A?
Artinya, dibutuhkan kedisiplinan rohani, agar dapat merealisasikan kemenangan bersama Allah. Ada bagian kita, respon iman kita, agar tercipta.
Wow…. Tiba-tiba sukacita menyelimuti hati… Saya paham sekarang…. Kalau saya bertindak sesuai arahan-Nya, prinsip-prinsip firman-Nya, Tuhan dimuliakan.
Tanpa melewati gunting yang tajam, mustahil lembaran kain bisa menjadi gaun yang indah.
Tokoh kunci yang berusaha mencari-cari kesalahan kami, secara mendadak disingkirkan. Amazing…. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Cara Tuhan selalu di luar nalar.
Detik-detik penyelesaian tiba. Iblis berusaha menyodorkan fakta-fakta, kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi, Untuk meneror….
Kalau Tuhan sudah memulai, Tuhan akan menyelesaikannya dengan luar biasa baiknya. Tuhan tidak pernah mempermalukan orang-orang yang menaruh harap kepada-Nya.
Teringat ketika Pohon Ara dikutuk, kelihatannya pohon itu biasa-biasa saja… Namun sesungguhnya, akarnya mati seketika. Baru keesokan harinya, secara kasat mata Pohon Ara itu mati. Perkataan kita punya kuasa. Karena Roh Allah berdiam di dalam roh kita. Gunakan Otoritas atau Kuasa yang sudah Allah berikan.
Kerapkali, kita gagal karena kita mendapatkan perkataan Allah, – janji Allah secara personal… Tetapi dalam perjalanan menanti realisasinya, Kita tidak teguh berdiri di atas janji firman-Nya. Bukan salah Tuhan jika doa tidak terjawab, Salah kita yang yang menyerah sebelum sampai finish.
Mari pegang Janji-Nya. Dunia boleh berakhir, tetapi Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Firman Tuhan Ya & Amin. Percayalah!
Faith is the bridge between the spiritual realm and the phisical one. Nothing you desire will manifest, if you aren’t believing! – AWM.
Iman adalah jembatan antara alam spiritual dan alam fisik. Tidak ada yang Anda inginkan yang bisa terwujud, jika Anda tidak percaya! – AWM.*
YennyIndra TANGKI AIR & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Ramai beredar unggahan, *Kesalahan bapak bukan merupakan tanggung jawab anaknya. Stop bully anaknya. Saya bersama Anda Trisha Eungelica!!
Miris membacanya. Tentunya berat sekali beban Trisha menanggung bully dan pandangan sinis masyarakat di sekitarnya karena perbuatan ayahnya yang ramai diperbincangkan orang. Kuliah di Fakultas Kedokteran Trisakti, meski ayahnya kaya raya, ternyata Trisha mau menjadi guru les matematika.
Fakta sesungguhnya saya tidak tahu. Saya hanya membaca di sosmed. Belakangan berita simpang siur banyak beredar.
Pepatah Jawa yang terkenal adalah “Anak polah, bapak kepradah” Artinya, anak bertingkah, bapak atau orang tua yang bertanggung jawab. Berdasarkan peribahasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa begitu besarnya tanggung jawab orang tua kepada anaknya, oleh sebab itu sebagai anak tentu harus berbakti kepada orang tua. Nach yang terjadi sekarang, justru kebalikannya. Bapak yang bikin ulah, anak ikut menanggung akibatnya. Apa ya pepatahnya?
Saya Google keluarlah : Bapak molah, anak kepradah.
“Ma, kasi barang ke temenku ya? Yang pegang Toko “XYZ” itu sekarang temenku koq… “, ujar anak saya.
“Dulu mamanya klo bayar seenaknya jadi kita gak masuk lagi ke tokonya.”
“Ya, aku ngerti. Temenku cerita… Beratnya dia meneruskan toko mamanya. Mamanya gak ngerti bisnis. Setelah papanya meninggal, mulai dipegang mamanya, nyaris ga ada yang mau kasi barang. Tapi temenku janji Ma… Dia mau bayar tepat waktu. Coba dikasi barang gak usah banyak-banyak. Kita lihat pembayarannya. Klo kita gak bantu, temenku gak bisa muter… Bantulah.”
“Ok. Kita lihat ya…”
Anak ini baik. Mengelola tokonya dengan baik. Bayar mundur-mundur sedikit tapi masih dalam batas wajar. Akhirnya, tokonya bisa berjalan lancar lagi.
Teman saya dan seluruh keluarganya kaget bukan main. Sekitar 6 bulan setelah papanya meninggal, ada seorang perempuan yang mengaku istri papanya, menuntut warisan.
Gubraaaaakkkkk…. Gegerlah seluruh keluarga. Karena selama ini, setahu mereka, papanya tidak pernah menikah lagi. Mamanya sudah meninggal terlebih dahulu jauh sebelum papanya meninggal.
Perempuan itu menunjukkan bukti nikah siri. Kebenarannya, abu-abu. Bisa ya, tetapi bisa juga tidak. Yang jelas, gara-gara kasus ini, teman saya dan keluarganya, mengeluarkan banyak uang untuk berperkara di pengadilan. Sudah menjadi rahasia umum, ada pengacara yang 2 muka. Jadilah mereka harus ganti pengacara baru lagi. Intinya, keluar duit lagi. Tidak hanya duit, teror, pikiran dan energi yang terkuras tidak sedikit.
Pelajarannya, hati-hati bertindak dan bergaul. Jangan melakukan hal-hal yang menyerempet dosa, resikonya terlalu mahal. Jangan sampai ketika kita meninggal, bukannya mewariskan hal-hal yang baik dan berguna, justru bikin repot anak cucu yang masih hidup.
Nach repot juga, saat seseorang sudah sepuh, kadang nalarnya sudah tidak seperti dulu. Dalam keadaan sakit, asal ada yang perhatian, disuruh apa saja, dia nurut. Seorang kerabat kaya, sepuh, hidup sendirian… Lalu ada kemenakan yang seolah perhatian. Ketahuan di belakang hari, sambil bertandang, perhiasan kerabat sepuh ini diambil. Hendaknya keluarga juga waspada.
“Tahukah kita bahwa seseorang tidak mati ketika namanya masih dibicarakan?”, ujar Terry Pratchett.
Nach masalahnya, yang dibicarakan tentang apa? Jika yang tetap dikenang, bagaimana kita membuat kehidupan orang-orang yang mengenal kita menjadi lebih baik, tentunya itu akan mempermudah atau meluruskan kehidupan keturunan kita. Mereka bersyukur, punya nenek moyang seperti kita.
Tetapi jika yang diceritakan justru bagaimana kehidupan kita membuat hidup mereka jadi terhambat, mesti buang uang karena apa yang kita lakukan, tentunya tidak menjadi berkat bukan? Pilih mana?
Ketika awal akan membuka cabang di sebuah kota, kami butuh menyewa gudang. Nego harga, sambil ngobrol sana sini. Ternyata sang pemilik kenal dengan papa saya. Papanya teman papa saya. Akhirnya harga deal dan kami boleh menempati gudangnya terlebih dahulu, meski pun kami belum ke notaris. Jadilah kami sudah pindahan dan menempati selama 2 minggu, baru ke notaris dan bayar lunas. Tanpa DP pula.
Di saat lainnya, kami beli truk second hand. Sama juga, dari pembicaraan rupanya si pemilik kenal papa saya, yang dulunya seorang kepala sekolah.
Setelah membeli truk tsb. Si pemilik lama bilang, “Sudah gak usah dibalik nama. Daripada buang-buang uang. Nanti kalau perpanjangan, saya pinjami KTP.”
Jaman dulu masih bisa. Kalau sekarang sudah gak bisa pinjam nama begitu. Pelajarannya, nama baik papa, membuat jalan kami jauh lebih mudah dan hemat.
“Usahakan saat meninggal bisa kasi warisan ke anak cucu. Jangan membebani mereka, jangan tinggalkan hutang,” pesan mama. Dan itu yang terjadi. Papa Mama meninggalkan aset dan terutama nama baik yang berharga bagi kami semua. Dan tidak pernah merepotkan. Kami bangga menjadi anak, menantu serta cucu mereka.
Apa gunanya belajar sejarah? Agar kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, tidak perlu mengalami jatuh bangun seperti mereka. Ada contoh positif dan negatif.
Raja Salomo mengingatkan, tidak ada yang baru dibawah matahari. Sesungguhnya segala sesuatu itu berulang, tergantung kita sendiri, bersediakah belajar? Belajar dari pengalaman sendiri, jauh lebih mahal dan menyakitkan. Ada beberapa pengalaman saya juga, yang kurang peka, meski sesungguhnya sudah diperingatkan, tidak percaya. Akibatnya sungguh berat…. Kapok! Pilihan ada di tangan kita sendiri!
Carve your name on hearts, not tombstones. A legacy is etched into the minds of others and the stories they share about you. — Shannon Adler
Ukir namamu di hati, bukan di batu nisan. Sebuah warisan terukir di benak orang lain dan cerita yang mereka bagikan tentang Anda. — Shannon Adler
YennyIndra TANGKI AIR & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Banyak sekali para pelayan Tuhan yang menghubungi saya. Baik pendeta, pengelola panti asuhan, pendiri sekolah gratis dan sebagainya. Mereka melayani Tuhan dengan penuh ketulusan. Hatinya mengasihi jiwa-jiwa dan ingin menjadi berkat bagi sesama.
Dari sekedar sharing, minta sumbangan, menawarkan invest atau join di bisnis mereka – karena ada yang harus berbisnis agar kebutuhan dana di sekolah gratisnya bisa tercukupi -, hingga sekedar minta baju pantas pakai atau buku. Repotnya, tidak sedikit yang lokasinya tidak sekedar di luar pulau, tetapi di desanya. Ongkir kirim baju pantas pakai atau buku yang diminta, jaaauuuh lebih mahal daripada barang yang dikirim.
Selama ini saya bertanya-tanya, bukankah Tuhan berjanji mencukupi setiap kebutuhan kita? Apalagi ini pelayanan untuk mempermuliakan nama-Nya…. Klo sampai kekurangan, bagaimana pandangan dunia terhadap mereka? Apalagi yang sampai sangat-sangat minus, sampai-sampai hamba Tuhannya nampak begitu minder, putus asa dan nyaris tanpa harapan. Orang dunia yang gak kenal Tuhan, sama sekali tidak tertarik dengan Tuhan mereka. Tidak Mendemonstrasikan Allah yang baik, yang begitu peduli dan mengasihi anak-anak-Nya.
“Mengapa hidup pelayan Tuhan koq bisa minus seperti itu?”, tanya seorang teman yang beragama lain. Mak jleb! Saya diam. Gak tahu mesti menjawab apa? Mengapa antara janji-janji-Nya dengan fakta di lapangan tidak selaras? Entahlah!
Pagi ini Nana mengirimkan unggahan dari Charis Africa. Dan ini jawabannya!
Melihat adanya kebutuhan dan merasa berbelas kasihan, BUKAN panggilan Tuhan.
Banyak orang-orang yang mengasihi Tuhan, ketika melihat ada anak-anak yatim piatu yang membutuhkan tempat bernaung, atau anak-anak miskin yang sekolah, mereka menyadari, anak-anak ini butuh panti asuhan atau sekolah gratis sebagai solusinya. Hati mereka yang lembut dan penuh belas kasihan, tergerak, Menganggap ini panggilan Tuhan, padahal BUKAN. Belas Kasihan BUKAN Panggilan Tuhan.
Prinsipnya: Jika itu memang Panggilan Tuhan, maka Penyediaan Ada Di Sana.
Kebutuhan Bukanlah Panggilan, Tuhanlah yang memanggil ke dalam suatu pelayanan. Yang akan dilaksanakan menurut Waktu Tuhan, serta Cara Tuhan.
Pesan dari Charis Africa, JANGAN Memanggil Dirimu Sendiri, atau membiarkan Orang Lain yang Memangilmu. Pastikan Tuhan yang Betul-betul Memanggilmu. Dengarkan Langsung Suara Tuhan di dalam rohmu, pastikan bahwa ini Betul-betul Panggilan-Nya, Kehendak-Nya agar kita masuk ke dalam pelayanan itu.
Dalam 1 korintus 12:28 dikatakan: God has appointed for the church…. 1 Corinthians 12:28 (NLT) Tuhan telah menetapkan untuk gereja…. 1 Korintus 12:28 (NLT)
Tuhan yang menetapkan, merancang, menentukan waktu, caranya dan dilaksanakan dengan cara berjalan langkah demi langkah bersama-Nya. Bukan menurut waktu dan cara kita, apalagi jika sesungguhnya Tuhan tidak memanggil.
Ini Proyek Tuhan, maka Tuhan yang mengatur semuanya secara detil, Tuhan yang menyediakan apa pun yang dibutuhkannya, termasuk orang yang tepat apalagi dananya. Tunggu waktu-Nya.
Ketika Tuhan menunjukkan visi-Nya kepada kita, tidak berarti itu harus dilaksanakan sekarang. Barry Bennett guru saya yang lain, bercerita, dia menerima visi Tuhan untuk melayani ke luar negeri. Setelah lulus sekolah Alkitab dan menikah pada tahun 1978, segera Barry pergi ke Mexico. Tetapi pelayanannya gagal total. Tidak ada yang support.
Barry kembali ke Amerika. Bekerja sekuler sambil melayani. Di sana Barry dipersiapkan, dibentuk, diperlengkapi, mendapatkan berbagai pengalaman dan buah pelayanan terbukti. Lebat, baik dan benar. 11 tahun kemudian, Barry benar-benar yakin, suara Tuhan meneguhkan ini saatnya… Barry dan keluarga berangkat ke Guatemala lalu dilanjutkan dengan pelayanan di Chile, melayani di sana. Diteguhkan pula oleh organisasi yang mendukung pelayanannya. Semua siap, lancar dan Tuhan sudah menyiapkan pula orang-orang yang dibutuhkannya baik di Guatemala mau pun di Chile. Sukses besar, tidak hanya berhasil membangun gereja yang bertumbuh sehat, tetapi membangun Sekolah Alkitab juga.
Hingga suatu saat, 12 tahun kemudian, Tuhan mengarahkan Barry kembali ke Texas, Amerika dan akhirnya, mengajar di Charis Bible College. Barry terkenal sebagai guru idola, menjelaskan pelajaran detil, mudah dimengerti dan didukung oleh berbagai ayat. Greg Mohr menjuluki Barry Bennett sebagai ‘Alkitab Berjalan.’ Gereja dan Sekolah Alkitab di Chile tetap langgeng hingga kini. Inilah contoh pelayanan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Jalan hidup kita, hendaknya menuruti tuntunan-Nya. Dia tahu yang terbaik bagi masa depan kita. Hidupku bukan aku lagi tapi Kristus yang ada didalamku. It’s all about God, Not us. Ini semua tentang Tuhan, Bukan kita.
Lalu tugas kita apa? Menjadi bejana yang siap mengalirkan-Nya. Kita sekedar wadah yang mau, siap dibentuk dan taat. Sehingga ketika proyek ini sukses, kita tahu, tahu dan tahu… Ini Tuhan Yang Dahsyat BUKAN kita!
“Beberapa pelayan Tuhan menjadi tidak efektif, membuang-buang waktu dan tenaga karena seseorang yang memanggil mereka masuk ke dalam pelayanan Bukan Tuhan yang memanggilnya,” tertulis dalam artikel Charis Afrika.
Seorang teman pengusaha, yang cinta Tuhan, dan terlibat ke dalam pelayanan. Setia, penuh kasih dan murah hati. Ketika gerejanya berniat buka cabang baru di sisi lain kota, dipilihlahteman pengusaha ini menjadi pendeta di sana. Perlu dicatat, yang memilih itu leader di gerejanya, BUKAN panggilan Tuhan kepadanya secara pribadi.
Awalnya berjalan baik. Fokus terhadap bisnisnya makin lama makin berkurang, akhirnya dia memutuskan menjadi full-timer. Ternyata melayani tidak semudah yang dibayangkan. Di perusahaan, tidak cocok, bisa pecat dan ganti karyawan baru. Di gereja, banyak sukarelawan alias jemaat yang melayani, yang tidak bertanggung jawab, tapi punya duit, sumbangannya besar dan mau mengatur. Singkat cerita, terjadi gonjang ganjing di gerejanya, yang berakhir dengan peletakan jabatan. Mantan pengusaha ini mundur, bisnis sudah ditutup dan pelayanan gagal.
Teman-teman lain bertanya-tanya… “Bukankah Si A sudah meninggalkan segala-galanya untuk Tuhan? Mengapa koq Tuhan tidak memelihara apalagi memberkatinya?”
Nach justru Tuhan lagi yang disalahkan. Padahal faktanya, leader Si A yang memanggilnya masuk ke dalam pelayanan, Bukan Tuhan.
Teringat pelajaran yang diberikan. Greg Mohr, guru saya berkata, “Jika itu Ismail,– anak yang diperoleh Abraham atas usul Sara, agar meniduri Hagar, hambanya, karena Sara tidak punya anak. Artinya Hasil Kemauan dan Rancangan kita sendiri, – maka kita sendiri yang harus kasi makan. Tetapi jika itu Ishak,– Anak Perjanjian yang memang dirancang dan dijanjikan Tuhan, artinya rencana Tuhan – maka Tuhan yang kasi makan.”
Kesimpulan:
Pelayanan yang memang kehendak Tuhan, dilaksanakan dengan cara Tuhan, menurut waktu Tuhan, Tuhan pula yang memimpin langkah demi langkah, maka Tuhan yang bertanggung jawab dalam segala hal, termasuk dananya.
Tetapi pelayanan yang dibangun oleh rancangan manusia, ya… orang itu sendiri yang harus bertanggung jawab. Cengli?
Yayasan Pondok Hayat dan Sekolah Gratis Pelita Permai, contoh yang saya kenal dekat dengan foundernya, Monica dan Bu Liana, membuktikan bagaimana Tuhan mencukupi apa pun yang mereka butuhkan. Kalau itu memang panggilan Tuhan, maka Tuhan yang menyediakan segalanya. Tuhan tidak pernah ingkar janji.
Tidak hanya dalam pelayanan, tetapi di dalam setiap aspek kehidupan kita, hendaknya kita membiarkan Tuhan yang menjadi Boss, Pemimpin hidup kita. Biarkan rencana-Nya, terealisasi melalui hidup kita. Jauh lebih nyaman, santai dan damai, ketika membiarkan Tuhan berkarya melalui hidup kita, daripada kita yang mesti bersusah payah berjuang merancang masa depan kita sendiri. Hasil Tuhan pasti jauh lebih dahsyat! Bukankah karya Salib Kristus yang sudah selesai, sudah membayar semuanya, hingga kita bisa hidup dalam anugerah-Nya?
Bagaimana pendapat Anda?
For I know the plans I have for you,” declares the LORD, “plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future.- Jeremiah 29:11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. -Yeremia 29:11 TB
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN