“Bu Yenny, mengapa Tuhan ijinkan segala malapetaka ini terjadi? Kami sudah meninggalkan bisnis untuk melayani-Nya tetapi sekarang justru gereja terpecah belah, kami terusir dari gereja yang kami bangun dari nol…”, keluh Anita pilu.
Anita dan suaminya, pasangan yang cinta Tuhan sejak muda. Setelah menikah, mereka berbisnis dan sangat sukses. Mereka melayani di marketplace dengan sangat baik, menjadi panutan dan membimbing para pebisnis muda. Tentu saja mereka juga aktif melayani di full gospel dan berbagai aktivitas lain di gereja.
Suatu ketika suami Anita, Richard, menderita sakit kanker di lehernya. Mereka bergumul cukup lama menghadapi penyakit itu. Hingga Richard bernazar, “Tuhan, klo aku sembuh, aku akan melayani Engkau sepenuh waktu.” Dan Richard betul-betul sembuh secara mujizat. Mereka pun meninggalkan bisnisnya, merintis gereja dari nol. Tidak mudah. Setelah bertahun-tahun barulah membuahkan hasil.
Ketika gereja makin besar, jumlah jemaat makin bertambah, masalah-masalah yang dihadapi makin kompleks. Muncullah kelompok yang berseberangan dengan mereka. Singkat cerita, terjadi perpecahan dalam gereja, justru Richard dan Anita yang harus keluar dari gereja yang mereka rintis dari nol. Tragis.
Greg Mohr mengajarkan agar kita berkarya di bidang yang menjadi karunia terkuat kita. Banyak orang yang menghabiskan waktu berusaha memperbaiki kelemahannya. Itu hanya buang-buang waktu.
“Jack of all trades, master of none” istilah untuk orang yang apa saja bisa, tetapi tidak ada yang benar-benar ahli. Serba tanggung.
Menurut Greg, bayarlah orang lain untuk mengerjakan bidang di mana kita lemah, itu menjadi berkat bagi mereka.
Greg bercerita, dia lemah dalam pelajaran aljabar tetapi jago dalam bahasa. Dan passionnya adalah mengajar. Pendidikan merupakan sesuatu yang menjadi hasratnya.
“Gak usah berusaha mati-matian belajar menjadi akuntan. Saya menyerahkan tugas itu kepada akuntan, sementara saya cukup membaca laporan keuangan. Tidak perlu semuanya dikerjakan sendiri. Biarkan itu menjadi pekerjaan yang memberkati orang lain. Sementara saya berkarya di bidang karunia yang terkuat dan menjadi yang terbaik sesuai versi saya” Greg Mohr menegaskan.
Run your own race, berlarilah di lintasan kita sendiri. Jangan mencoba menjadi orang lain, apalagi iri hati dan membandingkan diri dengan orang lain.
Sehubungan dengan kasus Richard dan Anita, benarkah melayani sepenuh waktu itu panggilan Tuhan bagi mereka? Mereka berdua sangat baik ketika menjadi pengusaha yang melayani di marketplace. Setia support berbagai pelayanan gereja, pengabaran Injil dan sekolah-sekolah. Banyak orang dimenangkan dan terinspirasi dengan keberhasilan mereka baik dalam keluarga, bisnis mau pun pelayanan. Tetapi ketika mengerjakan pelayanan full time, nampak begitu berat dan penuh dengan berbagai masalah.
Prinsip yang diajarkan di sekolah, jika itu benar-benar panggilan Tuhan maka provision/penyediaan akan tersedia. Orang-orang yang dibutuhkan akan muncul pula.
Ungkapan yang terkenal, Jika itu Ishak, anak perjanjian, Tuhan yang kasi ‘makan’ . Tetapi jika itu Ismail, anak yang dihasilkan menurut keinginan dan cara kita sendiri, maka kita yang harus kasi ‘makan’.
Nazar, janji Richard untuk melayani sepenuh waktu, itu dikarenakan Richard menganggap melayani full time lebih baik daripada melayani part-time. Sesungguhnya bagi Tuhan sama saja. Yang terpenting bukanlah full time or part time, tetapi yang mana kehendak Tuhan bagi kita? Kalau pun tahu kehendak Tuhan, cara pelaksanaannya juga harus sesuai dengan caranya Tuhan, bukan cara kita.
Lalu solusi bagi Richard & Anita bagaimana? Kembali kepada Tuhan dan firman-Nya. Minta tuntunan serta arahan-Nya untuk membenahi hidup mereka kembali.
Tuhan itu Allah yang Maha baik, memulihkan keadaan mereka, perkara yang mudah bagi. Tuhan. Yang dikehendaki-Nya, supaya hidup kita melekat kepada-Nya, bertumbuh makin dewasa rohani hari demi hari.
Anugerah Tuhan – apa pun yang kita butuhkan dalam hidup ini- sudah Tuhan berikan dengan gratis, tetapi untuk meraihnya agar termanifestasi dalam kehidupan kita, perlu diresponi dengan iman.
Ketika kita bertobat dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat pribadi kita, dalam sekejap kita lahir baru. Menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Tetapi untuk menghidupi kehidupan sebagai ciptaan baru yang semakin serupa dengan Kristus, menanggalkan mesir serta hidup di tanah perjanjian, diperlukan usaha seumur hidup.
Hhmmm saya paham sekarang. Bagaimana dengan Anda? Belajar sama-sama yuk…
“Don’t strive to be a well-rounded leader. Instead, discover your zone and stay there. Then delegate everything else. Admitting a weakness is a sign of strength. Acknowledging weakness doesn’t make a leader less effective.” – Andy Stanley
“Jangan menjadi pemimpin yang berusaha mengerjakan segala sesuatu. Sebaliknya, temukan zona kekuatan Anda dan tetaplah di sana. Kemudian delegasikan yang lainnya. Mengakui kelemahan adalah tanda kekuatan. Mengakui kelemahan tidak membuat seorang pemimpin menjadi kurang efektif.” – Andy Stanley
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Greg Mohr, guru saya, sudah pusing merasakan mobil tuanya yang terus menerus bermasalah. Beliau bersama istrinya berdoa sepakat minta mobil yang baru, yang lebih sehat kondisinya.
Minggu demi minggu berlalu. Pada suatu hari, sepasang suami istri mengajak Greg dan istrinya makan seusai ibadah. Di tengah makan, mereka bercerita bahwa mereka ingin memberikan mobilnya bagi Greg dan keluarga. Wow…. Segera Greg mengucap syukur atas kebaikan mereka dan anugerah Tuhan. Lalu pasangan ini menyodorkan dokumen mobilnya, tetapi di tengah-tengahnya ada buku cicilan mobil. Rupanya mobil ini belum lunas tetbayar.
Greg merasakan ada tendangan kecil dari istrinya di bawah meja. Ah, mungkin Janice gak sengaja. Karena sudah lelah dengan mobil tuanya yang bermasalah, meski tahu belum lunas, Greg tetap menerimanya. Kembali ada tendangan kecil Janice dari bawah meja. Greg tahu, ini tendangan yang disengaja. Tetapi Greg tetap bergeming.
Setelah beberapa hari mengendarai mobil barunya, Greg tahu mengapa pasangan suami istri itu memberikan mobilnya kepadanya… Mobil ini penuh masalah. Bahkan tanpa kunci pun mobil ini bisa dinyalakan. Anak-anaknya memberi julukan mobil itu : Chicken Thunder…. Ketika akan dijual, tidak laku-laku, hingga cicilan selesai. Akhirnya laku terjual bertahun-tahun kemudian, dengan harga yang amat jatuh.
Dua minggu setelah mendapatkan mobil barunya, Greg dan Janice diundang makan oleh pasangan lain yang hendakpindah ke New York. Di tengah percakapan, mereka bercerita, bahwa Tuhan menyuruh mereka memberikan salah satu mobilnya untuk Greg & Janice. Mobil yang jauh lebih baru, lebih besar, SUV dan cicilannya sudah lunas terbayar. Tetapi karena mereka mendengar kesaksian Greg tentang mobil barunya, akhirnya mereka memberikan mobil itu kepada adiknya.
Sungguh suatu ‘tamparan’ keras bagi Greg Mohr. Seandainya saja dia bersabar menanti waktu Tuhan, 2 minggu lagi, malapetaka mobil ‘chicken thunder’ bisa dihindari.
Greg mengajarkan agar kita menunggu waktu Tuhan, bukan mencocokkan situasi dengan kebutuhan kita. Jangan gunakan cara kita lalu memaksa Tuhan menuruti kemauan kita.
Dieeeenk…. Saya sadar sekali, begitu banyak kekacauan dalam hidup saya karena tidak bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan. Kalau pun sudah bertanya, kerap tidak sabar menunggu jawaban-Nya dan mengambil keputusan yang ‘baik’ menurut pemikiran pada saat itu, ternyata menimbulkan banyak masalah di kemudian hari.
Sungguh ‘tamparan’ yang keras pula bagi saya…. Sekarang saya bertobat… Belajar lebih baik lagi, sabar menanti waktu Tuhan. Yang sudah terlanjur kacau bagaimana? Saya bawa ke altar Tuhan dan menyerahkannya kepada Tuhan, kalau saya saja yang manusia biasa, ketika anak saya mengalami kekacauan karena kesalahannya, saya menolong mereka membenahinya, apalagi Tuhan, Allah yang kasih-Nya tak terbatas…. Tentu Tuhan akan menolong saya membenahinya, bahkan menjadikannya batu pijakan agar saya dapat naik ke tempat yang lebih tinggi, yang tidak dapat saya capai tanpa adanya batu pijakan itu.
Ada peristiwa yang membekas dalam ingatan saya saat masih remaja. Pada suatu hari papa butuh truk, karena putra sahabatnya dealer truk di kota kami, maka papa membeli darinya. Papa itu dengan teman-temannya hubungannya sangat dekat, bak saudara. Jadi papa main percaya saja.
Mama sempat mengingatkan papa untuk check dan recheck. Tetapi papa percaya pada putra sahabatnya, “Sudah diaturkan Si A yang terbaik….”, ujar papa dengan yakin.
Selang beberapa waktu sesudah truk datang, papa mama sadar, mereka membayar harga truk jauuuh lebih mahal daripada harga pasaran.
Dalam acara tertentu, saya masih bertemu dengan putra teman papa. Dan setiap bertemu dengannya, saya teringat peristiwa truk tsb. Gapapa sich… Sudah lewat puluhan tahun lalu tetapi saya belajar, saya ingin diingat orang karena hal-hal baik yang saya taburkan. Bukan karena sesuatu yang melukai, merugikan orang lain. Keuntungan uang hanya sekali, tetapi hubungan itu selamanya.
Bisa juga sudah terlanjur, orang itu lalu berubah. Berbuat baik dan peduli. Tetapi luka lama memang sudah tidak sakit, tetapi bekas luka tetap ada selamanya.
Berarti B. Yenny gak memaafkan dong?
Paulo Coelho mengajarkan: Forgive but do not forget, or you will be hurt again. Forgiving changes the perspectives. Forgetting loses the lesson.
Maafkan tapi jangan lupa, atau Anda akan terluka lagi. Memaafkan mengubah perspektif. Melupakan artinya Anda kehilangan Pelajarannya.
Saya sedang merenungkan pelajaran dari Greg Mohr, Pentingkan Hubungan Di Atas Uang
Warisan yang seharusnya menjadi milik Greg Mohr, ditilap oleh kerabatnya. Jika Greg bersedia menuntutnya, pasti menang. Jumlah yang cukup besar.
Lalu Greg berpikir, jika dia menuntut, maka hubungan persaudaraan akan putus. Mereka tidak bisa makan bersama lagi dan Greg tidak bisa menceritakan serta mendemonstrasikan kasih Allah kepada mereka. Bukankah tujuan hidupnya menjadi terang dan garam dunia? Akhirnya Greg memilih membiarkannya dan menyerahkan masalah ini kepada Tuhan. Hubungan lebih penting daripada Uang, ” kata Greg Mohr.
Wow…. Sungguh sesuatu yang luar biasa!
Saya pun belajar…. Dan merenungkannya.
Ada teman-teman, yang ketika kita cincai, tidak perhitungan, justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Bisa sich ditutupi dengan berbagai alasan yang ‘masuk akal’ tetapi ketika ditanyakan pertanyaan yang diajarkan oleh Drg. Iwan, menjadi gamblang:
° Siapa yang diuntungkan dalam hal ini? ° Apa tujuan sesungguhnya? ° Kalau kita berada di posisinya, apa yang kita lakukan? ° Apakah ini terbaik untuk dia or terbaik untuk saya? Jika berhubungan dengan Tuhan dan melayani-Nya: ° Tuhan dapat apa? Jangan sampai Tuhan dirugikan!
Sekali sadar dimanfaatkan, hubungan dengan orang yang dimanfaatkan akan cacat. Diingat karena kesan yang buruk. Mungkin seperti Greg Mohr, kerabat yang mau menangnya sendiri & serakah dimaafkan tetapi dijadikan ilustrasi, menggambarkan bukan contoh yang baik. Masa kita mau masuk kelompok orang yang dilabeli egois dan serakah?
Cari teman yang kikir, mau menangnya sendiri, itu banyak. Tetapi mendapatkan teman yang baik, cincai, peduli dan percaya kepada kita, itu tidak mudah. Privilege. Bukankah seharusnya kita menjaga baik-baik hubungan dengan orang yang langka tersebut?
“Jadi orang itu sama-sama… Tahu diri, supaya persahabatan itu langgeng,” kata B. Mira.
Kalau A, katakan A. Jangan ada agenda tersembunyi, menjebak orang secara halus. Bikin orang sungkan. Memaksa orang lain membayar dengan terpaksa.
Tidak selalu dalam hubungan dengan uang, bisa juga ketika kita dipercaya dicurhati hal-hal yang rahasia. Jangan ember diceritakan ke mana-mana ditambah bumbu pula.
Saya berprinsip, klo saya berani berbicara tentang seseorang di belakang orang itu, saya berani berbicara dengan kalimat yang sama di hadapannya. Ukuran ala saya, memastikan apa yang dikatakan itu sesuai dengan hati saya dan apa adanya. Tidak ada bumbu!
Bahkan saat minta pertimbangan, saya tunjukkan chat saya dengan orang yang saya sedang bermasalah, supaya pertimbangannya betul-betul berdasarkan fakta yang murni dan apa adanya. Tidak ada manipulasi. Kita mau solusi yang terbaik bukan? Bukan sekedar mau membela dan membenarkan diri?
Kalau terbukti saya yang salah, ya sudah… Minta maaf, akui dan perbaiki. Buktikan perubahan dan pertobatan kita. As simple as that!
Setiap kita masih dalam proses memperbaiki diri, semakin hari semakin serupa dengan Tuhan. Targetnya, setiap orang yang melihat kita, dapat melihat kasih serta karakter Allah melalui kehidupan kita. Belajar dari pribadi besar dan bijak seperti Greg Mohr, guru saya, mendorong untuk meneladani nilai-nilai dan sikap hidupnya.
Siap belajar? Mari kita belajar bersama-sama.
There are things that are more important than money and that is our family and friends. We should not take them for granted cause they are the most important treasure in our life.
Ada hal-hal yang lebih penting daripada uang, itu adalah keluarga dan teman-teman kita. Kita tidak boleh memanfaatkannya, bersikap tidak tulus, karena mereka adalah harta yang terpenting dalam kehidupan kita.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK- PEDULI KESEHATAN
Banyak orang yang membangun hubungan dengan Tuhan setelah sepanjang hari menghabiskan kehidupan yang sibuk dan penuh tekanan. Mereka sedemikian tertekan oleh banyaknya tugas yang harus dikerjakan, tuntutan multitasking – harus mampu menyelesaikan beberapa tugas dalam waktu yang bersamaan -, dan berharap bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Mungkin, di penghujung hari yang melelahkan ini, mereka meminta Tuhan untuk memberkati atau menghibur mereka.
Tahukah kita sesungguhnya semua yang kita butuhkan untuk meraih hidup yang berkelimpahan serta berkemenangan sudah tersedia bagi kita?
“Demikianlah firman-Ku….seperti hujan yang mengairi bumi dan membuatnya berkembang biak dan bertunas….itu memberi benih kepada penabur…dan tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan memenuhi apa yang Aku kehendaki, dan akan berhasil dalam hal yang Aku suruhkan kepadanya.” (Yes. 55:10-11 diadaptasi)
Semua yang kita butuhkan sudah tersedia di dalam Firman-Nya. Firman Tuhan merupakan benih yang mengandung sifat serta tujuan Allah. Benih dirancang untuk menghasilkan peningkatan dan kelimpahan. Kedamaian, sukacita, iman, kasih, kesehatan, kemenangan, dan kemakmuran, semuanya hidup dan terkandung di dalam Firman Tuhan. Tetapi benih firman harus ditaburkan. Ditanam.
Ketika benih ditempatkan di lingkungan yang tepat (tanah yang baik), ia akan menghasilkan buah sesuai dengan sifatnya. Ketika firman Tuhan ditaburkan ke dalam hati dan lingkungan kita, firman itu juga akan menghasilkan buah sesuai dengan sifatnya. Benih akan mencapai tujuannya.
Firman-Nya juga seperti hujan. Dalam pengertian demikian, Firman-Nya (hujan) menyirami Firman-Nya (benih). Semakin banyak kita melepaskan Firman Tuhan ke dalam setiap situasi kehidupan, berarti kita menabur dan menyiram pada saat yang sama. Kita seharusnya mengharapkan panen yang berlimpah-limpah!
Benih ketakutan, keraguan, ketidakpercayaan, kepahitan dan pelanggaran juga akan menghasilkan sesuai dengan sifatnya. Hati kitalah yang menentukan sifat benih yang kita taburkan. (Mat. 12:34-35)
Biarkan Firman Tuhan bekerja dalam kehidupan kita. Pisahkan diri kita dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Resapi dan biarkan hidup di dalamnya. Deklarasikan. Berikan ruang untuk bertumbuh.
“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” Amsal 4:20?-?22 TB
Benih Firman Tuhan tidak pernah gagal untuk mencapai tujuannya, tetapi kondisi tanah hati kitalah, yang menentukan benih itu akan tumbuh berbuah atau justru mati.
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Amsal 4:23 TB
Hidup kita merupakan gambaran dari apa yang tersimpan di dalam hati kita. Apa yang kita “makan”, – yang kita ijinkan masuk -, akan menentukan apa yang diproduksi oleh hati kita: melalui pikiran, kata-kata, dan tindakan.
Mereka yang ‘memakan’ berbagai berita, baik berita Hollywood, olahraga, gosip, dan kritik, akan menjadi selaras dengan lingkungan itu, dan dari hati mereka akan muncul perasaan, pikiran, kata-kata, serta tindakan sesuai dengan yang ditontonnya. Jika hati kita tidak terus dipelihara oleh Firman-Nya yang merupakan Roh dan hidup, maka kita membatasi kasih karunia Tuhan yang tersedia untuk meraih hidup yang berkelimpahan.
“Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Matius 12:35 TB
“Harta karun” di dalam hati itu memiliki sumber. Sumbernya merupakan kumpulan apa yang kita makan, di mana kita meluangkan waktu, dan apa yang kita renungkan.
Sangat penting untuk memahami kekuatan hati! “. . . Karena apa yang diucapkan mulut meluap dari hati. Matius 12:34 TB
Kata-kata membawa kehidupan dan kematian, iman dan ketakutan, berkat atau kutukan. Kata-kata datang dari hati.
Pikiran ganda alias double minded adalah masalah hati. “… sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Yakobus 4:8 TB
Mereka yang selalu dihantui kebingungan dan terus bergumul dengan keraguan, memiliki masalah hati. Apa yang kita ‘makan’ akan membentuk pemikiran, perasaan, kata-kata, dan tindakan kita.
“Jaga hatimu dengan segala kewaspadaan!” Beri makan diri kita dengan janji-janji Tuhan, pujian serta ucapan syukur. Pilihlah untuk menjadi pemberi berkat, suka berbagi, dan orang yang senantiasa mengucapkan kata-kata kehidupan, pengharapan, serta iman. Saat kita menghasilkan “hal-hal yang baik,” panen berkat Tuhan akan mengejar kita.
Siap praktik? Yuk….
My son, do not forget my teaching, but let your heart keep my commandments
Anakku, jangan lupakan ajaranku, tetapi biarkan hatimu menuruti perintahku
Sumber: Barry Bennett
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Salah satu manfaat terbesar dari keselamatan kita adalah kemampuan mendengar Tuhan berbicara kepada kita secara pribadi. Tidak ada hubungan yang intim dengan Bapa surgawi tanpa mendengarkan-Nya. Meski sesungguhnya, semudah kita berbicara kepada-Nya, rata-rata orang Kristen mengalami kesulitan mendengar suara-Nya. Hal ini berlawanan dengan keinginan Tuhan.
Belajar membedakan suara Tuhan dengan jelas, sangatlah berharga. Supaya kita tidak menjalani hidup secara membabi buta, sehingga kita bisa memiliki hikmat Tuhan yang membimbing dan melindungi kita. Tidak seorang pun yang mampu mendengarkan Tuhan dan menerima kebenaran, yang hidupnya tidak berubah secara radikal. Pernikahan yang paling buruk pun, dengan satu kata dari Tuhan, akan mengalami perubahan haluan secara total. Jika kita sedang menderita atau sakit, satu pewahyuan firman Tuhan yang dihidupkan akan langsung menyembuhkannya. Jika kita berada dalam krisis keuangan, Tuhan tahu persis bagaimana cara membalikkan keadaan kita. Semua hanya masalah bagaimana mendengarkan suara-Nya.
Tuhan terus-menerus berbicara kepada kita dan memberi kita arahan-Nya. Bukannya Tuhan tidak berbicara, tetapi kitalah yang tidak mendengar. Yesus membuat beberapa pernyataan radikal tentang mendengarkan suara-Nya dalam Yohanes 10:3-5. Dia berbicara tentang diri-Nya sebagai Gembala domba dan satu-satunya jalan untuk memasuki ke kandang domba.
Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.” Yohanes 10:3-5 (TB).
Perhatikan, Dia berkata dalam ayat 3, domba-domba-Nya mendengarkan suara-Nya. Dia tidak mengatakan domba-Nya DAPAT mendengar suara-Nya atau HARUS mendengar suara-Nya. Dia membuat pernyataan tegas bahwa domba-Nya mendengarkan suara-Nya.
Kebanyakan orang Kristen akan mempertanyakan keakuratan pernyataan itu karena pengalaman mereka tidak sejalan. Bukannya apa yang Yesus katakan itu salah; Semua orang percaya yang sejati tidak hanya bisa, tetapi selalu mendengar suara Tuhan; hanya saja, mereka tidak mengenali bahwa apa yang mereka dengar itu adalah suara Tuhan.
Stasiun radio dan televisi memancarkan siarannya dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu; tetapi kita hanya mendengarnya saat kita menghidupkan alat penerima dan menyetelnya. Kegagalan mendengar dikarenakan masalah sinyal, bukan karena stasiun radio /tv tidak memancarkan siarannya. Demikian juga, Tuhan terus-menerus mengirimkan suara-Nya kepada domba-domba-Nya, tetapi sedikit yang menghidupkan alat pendengarannya dan menyetelnya. Kebanyakan orang Kristen sibuk memohon kepada Tuhan dalam doa untuk menyampaikan masalahnya, ketika mereka berada di depan alat penerima.
Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki receiver atau alat penerima kita – percayalah bahwa Tuhan sudah berbicara dan mulailah mendengarkan Dia. Tentu itu membutuhkan waktu, tenaga, dan kemauan untuk fokus. Gaya hidup orang Kristen masa kini, rata-rata sangat sibuk, tidak kondusif untuk mendengarkan suara Tuhan. Misalnya, apa jawaban khas kita untuk pertanyaan, “Apa kabar?” Banyak diantara kita mungkin menjawab dengan kalimat yang menggambarkan betapa sibuknya kita. Saya sering berkata, “Saya lebih sibuk daripada gantungan kertas satu tangan.” Kita semua tampaknya lebih sibuk daripada sebelumnya, dan itulah salah satu alasan BESAR, mengapa kita tidak bisa mendengarkan suara Tuhan dengan lebih baik. Kita terlalu sibuk.
Mazmur 46:10 (TB) mengatakan, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”
Dalam keheningan, bukannya kesibukan, telinga rohani kita disetel untuk mendengarkan suara Tuhan. Tuhan senantiasa berbicara kepada kita di dalam hati, “TENANGLAH, ada suara kecil” (1 Raja-raja 19:12, penekanan dari saya), tetapi sering kali suara itu tenggelam di tengah semua kekacauan yang terjadi di dalam keseharian hidup kita.
Kedua, dan ini sangat penting. Yang paling sering terjadi, kita salah mengira suara Tuhan sebagai pikiran kita sendiri. Betul sekali. Saya tegaskan, bahwa suara Tuhan datang kepada kita, memang di dalam pikiran kita sendiri.
Yohanes 4:24 (TB) mengatakan, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Hal ini menegaskan bahwa komunikasi dengan Tuhan adalah komunikasi dari Roh kepada roh, bukan otak ke otak atau mulut ke telinga, seperti cara kita berkomunikasi di alam fisik. Tuhan berbicara kepada roh kita, bukan dengan kata-kata, tetapi di dalam pikiran dan berupa kesan. Kemudian roh kita yang berbicara kepada kita dengan kata-kata seperti, “Saya pikir Tuhan ingin saya melakukan ini atau itu.” Tuhan biasanya tidak mengatakan “Kamu lakukan ini atau itu,” tetapi Dia akan mengesankan roh kita untuk melakukan sesuatu, kemudian roh kita berkata, “Saya pikir saya harus melakukannya. . . “ Oleh karena itu, kita sering melewatkan pimpinan Tuhan, karena mengira itu adalah pikiran kita sendiri.”
Setiap kita pernah melakukan sesuatu yang bodoh dan kemudian berkata, “Saya tahu itu hal yang salah untuk dilakukan.” Kita merasa ada yang salah dengan keputusan yang akan diambil, tetapi kita mengikuti logika atau tekanan, pada akhirnya menyadari, ternyata kesan yang kita terima, sesungguhnya memang Tuhan yang berbicara kepada kita.
Saya mempelajari hal ini dengan cara yang sulit saat menggembalakan di Pritchet, Colorado. Semua penatua gereja adalah pengusaha di bidang pertanian. Enam bulan dalam setahun, mereka pergi setelah panen gandum. Karenanya, mereka mendesak agar kami menahbiskan penatua lain yang akan selalu berada di sana. Mereka memilih seseorang menjadi penatua, saya tidak menentangnya. Tetapi ketika saya berdoa tentang pria ini dan istrinya, saya merasa tidak pas untuk menahbiskannya sebagai penatua. Namun, sebagai seorang pria, saya mengikuti logika, bukan hati saya.
Dalam dua minggu setelah penatua lain berangkat untuk panen gandum, penatua baru ini berubah menjadi ‘iblis’. Dalam laporannya kepada para penatua, dia menuduh saya mencuri uang gereja, melakukan perzinahan, minum alkohol, merokok, dan segala sesuatu yang tidak dapat Anda bayangkan. Sungguh sebuah pengalaman yang mengerikan. Segera setelah pria ini menunjukkan warna aslinya, saya paham dalam hati, bahwa melalui perasaan dan pikiran yang saya terima sebelumnya, sesungguhnya Tuhan sedang berbicara kepada saya, namun saya menolaknya. Sejak saat itu, saya membuat keputusan bahwa saya tidak akan pernah mengabaikan suara di hati saya lagi.
Mazmur 37:4 (TB) mengatakan, “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu”
Ayat ini sering diartikan bahwa Tuhan akan memberikan apapun yang Anda inginkan, lalu digunakan untuk membenarkan keegoisan, keserakahan, dan bahkan perzinahan. Tetapi arti ayat ini bukannya Tuhan akan memberikan apa pun yang kita inginkan; melainkan ketika kita mencari Tuhan, Dia akan memasukkan keinginan-Nya ke dalam keinginan hati Anda. Dia akan membuat keinginan-Nya menjadi keinginan Anda.Tuhan yang mengubah “keinginan” Anda.
Saya pernah merencanakan perjalanan ke Costa Rica, tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya, dan sangat antusias untuk kembali lagi ke sana. Namun, saat saya mendoakannya, saya kehilangan keinginan untuk pergi. Sebaliknya, justru muncul rasa takut untuk pergi. Hal pertama yang saya lakukan ketika itu terjadi adalah memastikan saya benar-benar mencari Tuhan dengan sepenuh hati. Saat dalam sebuah perjalanan, saya menghabiskan tujuh belas jam berdoa dalam bahasa roh, dan semakin saya memusatkan pikiran pada Tuhan, semakin saya tidak ingin kembali ke Costa Rica. Karena alasan itu, saya membatalkan perjalanan.
Ketika orang-orang Costa Rica bertanya mengapa, yang bisa saya jawab hanyalah saya tidak ingin pergi. Sulit dilakukan, dan saya tidak yakin mereka mengerti. Pesawat yang saya pesan untuk penerbangan ke Costa Rica, jatuh saat lepas landas dari Mexico City, menewaskan semua 169 orang di dalamnya. Tuhan memperingatkan saya tentang hal itu dan menyelamatkan hidup saya, bukan dengan mengatakan, “Jangan pergi ke Costa Rica,” tetapi, dengan mengkomunikasikan kepada roh saya dan menghilangkan keinginan saya untuk pergi. Itu cara dominan Tuhan berbicara kepada kita, dan kita sering melewatkan komunikasi semacam itu.
Salah satu keputusan terpenting dalam hidup saya terjadi pada tahun 1968. Saya masih di perguruan tinggi ketika Tuhan secara radikal menyentuh hidup saya, dan semua keinginan saya berubah. Saya tidak ingin kuliah lagi, dengan mengikuti keinginan baru itu, lalu saya membuat keputusan untuk berhenti sekolah. Kemudian semua terjadi. Ibu saya tidak mengerti, dan dia mendiamkan saya untuk beberapa waktu. Para pemimpin di gereja memperingatkan, bahwa saya telah mendengar suara iblis. Saya akan kehilangan uang $ 350/bulan, dukungan pemerintah dari jaminan sosial ayah saya, dan saya akan kehilangan beasiswa akibat penundaan ini. Tanpa penundaan, saya memiliki masa depan yang bagus, daripada hidup berakhir di Vietnam.
Karena berbagai reaksi negatif atas keputusan saya ini, maka saya mundur untuk sementara waktu dan benar-benar menderita. Hal ini terus berlanjut selama dua bulan, hingga saya tidak tahan lagi, dan suatu malam Tuhan akhirnya berbicara kepada saya melalui Roma 14:23 (TB), yang mengatakan,
“Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.”
Saya menyadari saya telah berdosa karena dipenuhi keraguan. Saya memutuskan untuk membuat keputusan iman malam itu dan mematuhinya. Saat saya berdoa dan mempelajari Firman untuk mencari bimbingan, saya menemukan Kolose 3:15 (TB), yang mengatakan,
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu.”
Tuhan berbicara, saya harus menuju ke arah yang paling memberi damai sejahtera. Sejujurnya, saya tidak memiliki kedamaian total ke segala arah, tetapi sebagaimana wasit harus membuat keputusan dan mematuhinya, saya perlu menelepon. Saya merasa paling damai dengan berhenti sekolah, jadi saya menelepon dan melangkah keluar dari keraguan menuju keyakinan, sejauh yang saya pahami. Dalam dua puluh empat jam Tuhan memberi saya peneguhan dan kegembiraan sehingga saya tidak pernah meragukan kebijaksanaan keputusan yang saya ambil, sejak saat itu. Keputusan yang satu itu, mungkin lebih dari yang lain, mengarahkan hidup saya pada jalur yang membawa saya ke tempat di mana saya berada sekarang ini.
Saya yakin, Bapa surgawi yang murah hati, terus menerus berbicara kepada setiap anak-Nya, memberi kita semua informasi dan bimbingan yang kita butuhkan untuk menjadi pemenang sejati. Tidak ada masalah dengan pemancar-Nya; penerima kitalah yang membutuhkan pertolongan.
Kebanyakan orang memohon kepada Tuhan untuk berbicara, padahal pendengaran kitalah yang perlu disesuaikan. Meyakini dengan iman bahwa Tuhan sedang berbicara, kemudian belajar untuk mendengarkan serta mentaatinya akan mengubah hubungan kita dengan Tuhan. Hal itu bisa menyelamatkan hidup Anda seperti yang saya alami.
What you have learned and received and heard and seen in me, practice these things and the God of peace will be with you. – Bob Yandian
Apa yang telah Anda pelajari dan terima dan dengar dan lihat dalam diri saya, praktikkan hal-hal ini dan Tuhan damai sejahtera akan menyertai Anda. – Bob Yandian
“How to: Hear God’s Voice”, – Andrew Wommack.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Setiap orang ingin hidup makmur, bahagia dan berkelimpahan. Tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang mengalaminya, meski Allah sudah mengatakan bahwa benih-benih kemakmuran untuk setiap bidang kehidupan kita sudah ada di dalam roh orang yang percaya kepada-Nya.
Why? Di mana letak kesalahannya? Di mana kemakmuran tersembunyi? Hhhm… Ternyata di sinilah letak rahasianya.
“Karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal,” ujar orang bijak.
Dunia yang kita hidupi, tergantung bagaimana kita melihatnya. Dan itu akan tercipta, sesuai dengan cara pandang alias mindset yang kita miliki.
Jika Anda melihat dunia ini sebagai dunia yang penuh kekurangan, Anda benar. Jika Anda melihat dunia ini sebagai dunia yang penuh kelimpahan, Anda pun benar. Anda yang memutuskannya!
Kita yang menentukan, apakah kita melihat apa yang kita miliki sebagai benih kekurangan atau kita melihatnya sebagai benih kelimpahan? Visi kitalah yang menentukan masa depan kita sendiri.
Mungkin saja secara kasat mata kita tidak melihat kelimpahannya ada di mana tetapi jika kita punya visi: Allah kita Maha-Kaya, apa pun yang kita butuhkan, Tuhan sudah menyediakannya maka kita sepakat dengan-Nya.
Perkataan kita pun penuh dengan kesepakatan pada visi rohani Tuhan, bahwa hidup kita tengah menggenapi tujuan Allah dan penyediaan dari Allah mengikutinya. Dengan demikian kita tengah melepaskan kehidupan dan kuasa Allah pada situasi kita yang secara kasat mata, terbatas. Inilah cara multiplikasi Allah, pelipatgandaan-Nya tercipta, dengan bersepakat dengan Allah dan Firman-Nya. Kemudian, terjadilah menurut imanmu.
Ketakutan adalah penghancur visi Allah yang terbesar. Ketakutan ini pula yang paling laris dijual oleh dunia. Berita dunia, film, begitu banyak menyebarkan ketakutan. Seolah-olah bahaya senantiasa mengintip, menghantui serta mengikuti ke mana pun kita pergi. Bahkan hingga saat ini pun masih banyak yang ketakutan Covid, meski sudah makin sedikit yang terkena dampaknya. Traumanya tetap mencekam hidup sebagian orang. Saran-saran tentang kesehatan dan pencegahannya, sesungguhnya membungkus ketakutan terhadap penyakit. Kadang membuat sebagian orang terobsesi menjaga ‘kesehatan’ hingga berlebihan, dengan dihantui perasaan cemas. Motivasi ketakutannya yang kurang sehat. Bukan fokus pada kesehatan Ilahi, melainkan kepada ketakutan. Apa pun yang kita fokuskan membesar, dan terjadilah menurut imanmu.
Banyak permasalahan kesehatan sesungguhnya karena jiwanya tidak sejahtera, hidupnya dipenuhi oleh berbagai ketakutan dan kepahitan, namun tidak dibereskan. Yang dilakukan justru hanya fokus membenahi dari sisi luar, tubuhnya saja. Tentu olahraga dan vitamin berguna tetapi yang di jiwa harus dibereskan juga. Itu yang lebih penting.
Sesuatu yang jarang kita sadari, ketika kita Takut, sesungguhnya kita Tidak Mempercayai Allah. Ah masa? Saya rutin beribadah dan berdoa lho!
Repotnya, manusia itu sebegitu cepat dan mudahnya berpindah kubu. Sesaat percaya Tuhan, di saat berikutnya bisa saja kehilangan kepercayaannya.
Dengan gamblang kita dapat mengambil kesimpulan, jika khawatir dan takut, itu artinya kita tidak mempercayai Tuhan. Tidak beriman. Sesederhana itu….
Ketakutan sama saja dengan tidak memandang Tuhan, tidak bergantung kepada-Nya dan tidak mempercayai janji-janji-Nya. Sebaliknya yang dipandang adalah keadaan, perasaan, ingatan akan masa lalu serta berita-berita yang negatif. Rasa takut muncul karena bergantung pada kekuatan diri sendiri dan sadar, kita tidak mampu mengatasinya. Dalam ketakutan, tidak ada rasa syukur. Inilah sebabnya, kerap manifestasi janji-janji-Nya tidak terealisasi karena perasaan takut dan kurang percaya.
Apa yang kita yakini merupakan pilihan kita sendiri. Kendalinya ada di tangan kita sendiri. Pilihlah untuk mempercayai Tuhan dan beristirahat dalam damai-Nya! Imanlah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Masalah dan penyakit beneran datang tuh… Yess, si musuh memang mengirimkan badai… Itu nyata! Tetapi ketika kita berani menghadapi badai dengan mata yang tertuju kepada Allah, kita akan mendapatkan pewahyuan dan bukti, bahwa dengan rest, beristirahat dalam damai-Nya serta percaya kepada-Nya, kita dapat menggunakan otoritas yang diberikan-Nya untuk mengatasi badai.
Memang ketakutan dan intimidasi musuh demikian mencekam, tetapi kita bisa memilih, membiarkan Allah mengatasinya, sementara kita tenggelam di dalam pelukan perlindungan kasih-Nya yang melampaui segala akal. Jangan biarkan ketakutan justru menutupi jalan bagi Allah untuk menolong kita. Lapangkan jalan, dengan fokus pada kemampuan Allah. Apa sich yang mustahil bagi-Nya? Tidak ada! Semua akan baik-baik saja, Percayalah!
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan,” pesan-Nya.
Sepakatkah kita dengan Allah? Jika YA, sebesar apa pun badai yang menerpa, Allah sanggup menenangkannya. Bukankah Dia Allah Sang Pencipta alam semesta?
“Worrying is arrogant because God knows what He’s doing.” – Barbara Cameron.
“Khawatir itu sombong karena Tuhan tahu apa yang sedang lakukan-Nya.” – Barbara Cameron.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN