Idiopatic Urticaria, Covid & Mujizat Tuhan! Part 2
Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra
Idiopatic Urticaria, Covid & Mujizat Tuhan! Part 2
Kami baru pulang kontrol dari Singapore. Setelah disuntik Omalizumab dan ditambah Cicloporin, saya flu. Pulang ke Indonesia, jadwal padat, makin lelah. Lalu ke Cirebon.
Di sana, P. Indra mulai flu. Saya pikir biasa saja. Tapi keluhannya kepala sakit sekali. Pulang ke BSD, seolah membaik, tapi besok paginya sakitnya tak tertahankan. Langsung ke IGD Eka Hospital.
Ternyata terkena 4 virus: SARS II dan 3 virus flu lainnya. Saya juga. Kami berdua opname. Saya sebetulnya ‘sehat’, tapi virus wajib dibasmi.
Obat-obatan seperti Omalizumab dan Ciclosporin menekan imun tubuh. Akibatnya, ‘tentara’ di tubuh P. Indra tertidur, padahal virusnya Sars II. Makin hari makin sesak.
ICU isolasi penuh, terpaksa di IGD Isolasi. Tidak membaik. Akhirnya dipindahkan ke ICU saat ada tempat kosong.
“P. Indra terkena pneumonia. Rontgen paru-paru tidak seberapa, tapi CT scan menunjukkan putih tebal dan luas. Bagian putih itu tidak bisa menyerap oksigen. Ditemukan juga virus RSV,” kata dr. Pompini, ahli paru.
RSV biasanya menyerang anak-anak. Tapi karena imun P. Indra ditidurkan, virus ini pun jadi bahaya.
Bersyukur dr. Pompi dan dr. Han Ye sangat perhatian. Biasanya visit malam, tapi mereka datang pagi. Anugerah Tuhan! Mereka berdua, terutama dr. Han Ye yang menangani P. Indra saat demam berdarah 3 tahun lalu. Kondisi makin mengkhawatirkan.
Anak-anak persiapan menghubungi Singapore dan asuransi untuk opsi transfer dengan Air Ambulance. Tapi pindah pun berisiko tinggi. P. Indra menggunakan high flow oksigen. Apakah Air Ambulance bisa menyediakan oksigen sebesar di Eka Hospital? Transfer butuh 4-5 jam. Mampukah bertahan?
Meeting dengan dr. Pompi, dr. Han Ye, dan tim 8 orang, sangat membantu. Kondisi cukup kritis.
“Semua peralatan dan obat di sini sama dengan di Singapore. Tapi kadang pasien lebih yakin dengan Spore. Itu juga faktor penting untuk kesembuhan,” jelas dr. Pompi.
Diputuskan agar darah P. Indra dicuci untuk mencegah badai sitokin dan membersihkan inflamasi serta virus.
Kesepakatan keluarga: jika hasil cuci darah buruk, transfer ke Spore. Hasilnya butuh minimal 24 jam.
“Tugas ibu berdoa. Tugas dokter mengobati semaksimal mungkin, tapi hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan,” ujar dr. Pompi.
Saya galau dan bertanya kepada Tuhan. Muncul ayat ini.
Roma 8:11 (TB) Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.
Roh Kudus mengingatkan video YouTube yang saya tonton tahun lalu. Segera saya lihat lagi.
Sungguh penting apa yang kita depositkan dalam ingatan saat keadaan baik. Roh Kudus mengarahkan melaluinya.
Seorang ibu anaknya kecelakaan di tol. Mobil hancur, anaknya tak ada respons, semua yakin meninggal. Tapi sang ibu terus mendeklarasikan imannya, “Ada kuasa Tuhan di dalam mobil itu. Ada kuasa Tuhan di tempat ini.” Berjam-jam ia memperkatakan itu, dan saat berhasil dievakuasi, anaknya hidup.
Kisah kedua, seorang wanita 21 tahun ditabrak pengemudi mabuk. Anak-anaknya hidup, tapi dia meninggal.
Saat polisi mengabarkan ibunya, sang ibu berkata, “Oh, itu hanya butuh sedikit kuasa kebangkitan Kristus.” Dia pendoa. Ia terus mendeklarasikan kuasa kebangkitan Kristus.
Wanita itu sudah dimasukkan kantong mayat. Seorang pekerja mendengar suara kresek dari ruang mayat. Dilihatnya pembungkus itu bergerak. Dibuka, ternyata wanita itu hidup! Dibawa ke rumah sakit.
Saat sang ibu datang, putrinya hidup dan sembuh. Iman sejati tidak pernah gagal!
Ketika berusia 50 tahun, wanita ini mendaftar sebagai detektif swasta. Saat pemeriksaan kesehatan, dokter terkejut, “Oh No… tidak mungkin kamu hidup!”
Ternyata wanita ini tidak punya frontal lobe di otaknya. Bagian otak depan yang mengatur berpikir, merencanakan, mengambil keputusan, dan mengendalikan emosi.
“Inilah saya,” katanya riang, “saya hidup normal.”
Kesimpulannya, Tuhan bisa menyembuhkan dengan atau tanpa frontal lobe!
Wow…
Saya pun berbesar hati. Tak peduli seputih apa paru-paru P. Indra, dia akan sembuh total. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan!
Iman bangkit.
“Kuasa kebangkitan Kristus menyembuhkan P. Indra.”
“Ada kuasa Tuhan di ruang ICU.”
Lagu Way Maker & I Speak Jesus terus dilantunkan:
Meski aku tidak melihatnya, Engkau sedang bekerja.
Meski aku tidak merasakannya, Engkau sedang bekerja.
Engkau tak pernah berhenti bekerja.
Nama-Mu berkuasa
Nama-Mu itu kesembuhan
Nama-Mu itu kehidupan
Hancurkan setiap benteng
Bersinarlah di tengah kegelapan
Membakar seperti api…
Cuci darah selesai pukul 21.00. Perlu tes lagi untuk hasilnya. Pukul 02.00 subuh keluar hasil, tapi angka peradangan naik. “Oh.. mesti ke Spore ini.”
Pagi harinya di ICU, dr. Frans & dr. Vannesi menjelaskan hasilnya sangat baik. High flow oksigen dicoba stop, diganti oksigen biasa. Jika responnya oke, 1-2 hari pindah ke kamar biasa.
Keesokan malamnya, pindah kamar biasa.
“Ma, papa itu gak kelihatan dari ICU. Bicaranya banyak. Bahkan dr. Pompi dan dr. Han Ye saat visit heran, sudah bisa bernapas sendiri tanpa oksigen,” cerita Michelle.
Wow… mujizat Tuhan dahsyat!
Saya belum boleh bertemu P. Indra sampai dinyatakan bebas virus.
Kami terpukau dengan cepatnya pemulihan P. Indra.
Yang menjadi Blessings in Disguise, Urticaria P. Indra sembuh total.
“Kemungkinan penyebabnya infeksi virus atau bakteri. Buktinya, begitu diberi antibiotik dan antivirus, langsung hilang,” ujar dr. Pompi, yang menulis buku tentang penyakit langka untuk para dokter.
Uniknya, begitu Urticaria sembuh, berat badan P. Indra kembali normal. Turun 6 kg, bengkak & tremor hilang dalam sekejap.
Amazing!
Iblis merancangkan kejahatan, mengirimkan penyakit. Tapi Tuhan mengubahnya menjadi sarana kesembuhan Urticaria. Umumnya, biduran dikira alergi atau auto-imun. Siapa berpikir itu infeksi virus atau bakteri?
God is good all the time…
Terima kasih untuk tim dokter & perawat Eka Hospital BSD:
dr. Pompini Agustina Sitompul, Sp.P
dr. Han Ye Sutedja, Sp.PD
dr. Yuliana Uganda, Sp.S
dr. Fransiscus J Manibuy, Sp.An.KIC
dr. Vannesi T Silalahi, Sp. An-KIC,MSC
Tuhan memberkati.
Sometimes when things are falling apart, they may actually be falling into place.”- J. Lynn
“Terkadang, ketika segala sesuatu terasa berantakan, sebenarnya semuanya sedang tertata pada tempat yang seharusnya.”– J. Lynn
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan