Category : Articles

Articles

Naomi & Ruth: Saat Hidup Tidak Butuh Penolong, Tapi Penjaga Arah

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Naomi & Ruth: Saat Hidup Tidak Butuh Penolong, Tapi Penjaga Arah

Ada pelajaran hidup yang tidak bisa disiapkan oleh khotbah mana pun.
Saat hidup baik, saat tuaian ada, saat segala sesuatu berjalan lancar, banyak orang hadir di sekitar kita.

Namun ketika hidup berubah…
Ketika kehilangan datang…
Ketika cerita berbelok tanpa persetujuan kita…
Barulah terlihat siapa Orpa dan siapa Ruth.

Dan di titik inilah kita mulai mengerti:
Dalam hidup, kita tidak selalu membutuhkan bantuan ekonomi.
Ada musim ketika yang kita butuhkan bukan uang.
Tetapi kehadiran.
Seseorang yang mau duduk bersama dalam pergumulan.
Berdoa bersama sebelum keputusan diambil.
Memastikan langkah yang diambil tidak sekadar logis, tetapi selaras dengan hati Tuhan.
Karena ada keputusan dalam hidup yang tidak bisa diulang.
Sekali diambil, tidak ada jalan kembali.
Kalaupun diperbaiki, situasinya sudah berubah.
Dan kadang, keputusan itu menentukan arah hidup, pelayanan, bahkan masa depan generasi.

Untuk memahami prinsip ini, kita perlu melihat kisah Naomi, Orpa, dan Ruth.
Naomi adalah seorang perempuan Israel yang hidup di Betlehem bersama suaminya, Elimelekh, dan dua anak mereka. Ketika kelaparan melanda, mereka pindah ke Moab untuk bertahan hidup.

Di Moab, kedua anak Naomi menikah dengan perempuan setempat: Orpa dan Ruth.

Namun tragedi datang.
Suaminya meninggal.
Lalu kedua anaknya juga meninggal.
Naomi kini sendirian, bersama dua menantunya di negeri asing.
Ia memutuskan pulang ke Betlehem.

Dalam perjalanan, ia berkata kepada Orpa dan Ruth agar kembali ke keluarga masing-masing.

Orpa menangis, memeluk Naomi… lalu pulang.
Ruth juga menangis… tetapi memilih tinggal.
Ia berkata:
“Ke mana engkau pergi, aku pergi.”
Ia memilih berjalan bersama Naomi menuju masa depan yang tidak pasti.

Naomi tahu musim seperti itu.
Ia meninggalkan Betlehem, rumah roti, menuju Moab karena tekanan hidup.
Moab bukan sekadar tempat.
Moab adalah musim bertahan hidup.
Musim ketika *keputusan diambil karena krisis, bukan karena panggilan.*
Yang awalnya hanya langkah sementara berubah menjadi kehilangan permanen.

Namun ada satu hal yang Moab tidak bisa ambil:
Hikmat yang Tuhan tanam dalam dirinya.
Dan bahkan di tengah kehancuran itu, Tuhan telah mulai bekerja — mempersiapkan sarana pemulihan yang tidak disadari Naomi.

Ruth tidak membawa solusi praktis.
Ia tidak membawa jaringan.
Ia tidak membawa jaminan masa depan.
Ia hanya membawa kesetiaan.
Dan keputusan.
“Ke mana engkau pergi, aku pergi.”

Itu bukan sekadar emosi.
Itu komitmen hati.
Orpa juga menangis.
Orpa juga peduli.
Namun ia kembali.

Dan dalam hidup, kita akan menemukan banyak Orpa.
Mereka tidak jahat.
Mereka peduli.
Namun mereka adalah orang musiman.
Mereka berjalan bersama selama jalan terasa nyaman.
Selama masa depan terlihat jelas.
Namun ketika keputusan menjadi berat…
Ketika arah menjadi tidak pasti…
Mereka kembali ke yang familiar.

Ruth berbeda.
Ia memilih tinggal, justru ketika masa depan Naomi tampak kosong.
Dan di sinilah kita melihat prinsip anugerah:
Pemulihan Naomi dimulai dari Tuhan.
Namun Tuhan bekerja melalui kehadiran Ruth.
Ruth bukan sumber pemulihan, tetapi sarana anugerah-Nya.
Seseorang yang tidak pergi.
Seseorang yang mau berjalan bersama sampai arah Tuhan menjadi jelas.

Dalam Rut pasal 3, kita melihat sesuatu yang dalam.
Ruth memiliki kesetiaan.
Naomi memiliki hikmat.
Naomi memberi arahan.
Ruth merespons dengan ketaatan.
Dan di titik pertemuan itulah Tuhan membuka jalan.
Kesetiaan bertemu hikmat — dan anugerah bekerja.

Dalam hidup, kita semua akan berdiri di persimpangan.
Keputusan relasi.
Keputusan pelayanan.
Keputusan arah hidup.
Dan keputusan seperti ini tidak bisa diambil sendirian.
Bukan karena manusia adalah sumber jawaban,
tetapi karena Tuhan sering memakai tubuh Kristus untuk menuntun kita.

Di saat seperti itu, kita tidak butuh seseorang yang hanya berkata:
“Yang penting kamu bahagia.”
Kita butuh seseorang yang berkata:
“Mari kita berdoa dulu.”
Seseorang yang mau berjalan bersama sampai kehendak Tuhan menjadi jelas.

Karena bukan keputusan manusia yang menentukan masa depan,
melainkan anugerah Tuhan yang bekerja melalui langkah iman.

Dari Ruth dan Boas lahir Obed.
Dari Obed lahir Isai.
Dari Isai lahir Daud.
Dan dari garis itu lahir Yesus — Penebus sejati.
Semua ini bukan sekadar hasil keputusan manusia,
tetapi karya providensi Tuhan.

Dalam hidup, kita bersyukur ketika Tuhan menghadirkan Ruth.
Bukan sebagai penyelamat,
tetapi sebagai sahabat seperjalanan dalam anugerah-Nya.
Karena pada akhirnya,
masa depan kita tidak ditentukan oleh siapa yang menyelamatkan kita,
tetapi oleh Tuhan yang menebus kita —
sering kali melalui orang yang Ia tempatkan di samping kita.

Hhhmmm…. sekarang saya paham. Bagaimana dengan Anda?


“The Christian needs another Christian who speaks God’s Word to him.” – Dietrich Bonhoeffer

“Seorang Kristen membutuhkan orang percaya lain yang menyatakan Firman Tuhan kepadanya.” – Dietrich Bonhoeffer

??YennyIndra??
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Saat Fokus Bergeser, Tuhan Turun Tangan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Fokus Bergeser, Tuhan Turun Tangan.

Dalam hidup kadang kita terjebak dalam situasi, di mana kita benar-benar tidak tahu apa yang harus kita lakukan.
Maju salah dan mundur pun salah.
Diam terasa seperti kalah. Bertindak bisa memperkeruh keadaan. Membela diri berpotensi memicu konflik baru. Tidak membela diri malah membuat kita tampak lemah.

Di titik seperti itu biasanya naluri kita langsung aktif. Kita ingin meluruskan. Menjelaskan. Mengoreksi. Bahkan kalau perlu, membalas.

Karena secara manusiawi, kita ingin menang.
Namun sering tanpa sadar, fokus kita bergeser. Dari hidup benar di hadapan Tuhan, menjadi sibuk mengalahkan manusia.

Padahal di sinilah letak jebakannya.

Kita mengira kemenangan terjadi ketika lawan berhenti menyerang. Ketika nama kita dipulihkan. Ketika keadaan kembali menguntungkan.
Tetapi Kerajaan Allah bekerja dengan cara yang berbeda.

Ada satu prinsip rohani yang sangat halus namun menentukan arah hidup: ketika fokus kita bergeser dari mengalahkan musuh menjadi menyenangkan Tuhan, posisi Tuhan pun bergeser.

Ia tidak lagi hanya mengamati.
Ia mulai membela.
Sering kita berpikir Tuhan akan turun tangan ketika keadaan sudah terlalu jauh. Ketika ketidakadilan sudah memuncak. Ketika tekanan sudah tidak tertahankan.

Namun Alkitab menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.
Bukan tekanan yang menggerakkan Tuhan.
Keselarasanlah yang menggerakkan-Nya.
Saat hidup kita berkenan kepada-Nya, sesuatu terjadi di balik layar yang tidak selalu terlihat oleh mata.
Hati yang keras bisa menjadi lunak.
Serangan bisa kehilangan momentumnya.
Rencana yang tampaknya merugikan kita bisa runtuh dengan sendirinya.

Bukan karena kita lebih pintar.
Bukan karena kita lebih kuat.
Tetapi karena kita memilih tetap benar di hadapan Tuhan ketika kesempatan untuk membalas terbuka lebar.

Daud mengerti ini.
Ia punya peluang untuk mengakhiri ancaman Saul dengan tangannya sendiri. Secara logika, itu masuk akal. Secara strategi, itu aman. Secara emosi, itu memuaskan.

Tetapi Daud memilih menyenangkan Tuhan, bukan memenangkan situasi.
Ia menahan diri.
Dan di titik itulah, Tuhan tidak lagi sekadar menyertai. Tuhan mengambil alih.

Kerajaan Saul tidak runtuh karena serangan Daud, tetapi karena hatinya sendiri yang berhenti taat kepada Tuhan

Saul akhirnya disingkirkan, bukan oleh pedang Daud, tetapi oleh tangan Tuhan.

Ini membalik cara kita memandang konflik.
Banyak pertempuran yang kita kira harus kita menangkan sendiri, sebenarnya bukan milik kita.
Ketika kita sibuk mempertahankan diri, kita tanpa sadar mengambil alih posisi yang seharusnya menjadi milik Tuhan.
Dan ketika kita mengambil alih, Tuhan seringkali mundur.
Bukan karena Ia tidak peduli, tetapi karena kita memilih mengandalkan cara kita sendiri.

Namun saat kita memilih integritas di atas pembalasan, damai di atas reaksi, ketaatan di atas pembuktian diri, sesuatu bergeser.
Tuhan mulai bekerja dalam dimensi yang tidak bisa kita sentuh.

Kadang hasilnya bukan rekonsiliasi instan. Kadang bukan perubahan cepat pada orang lain.
Kadang bentuk pembelaan Tuhan adalah perlindungan dari sesuatu yang bahkan tidak kita sadari.

Pintu yang tertutup.
Percakapan yang batal terjadi.
Kesempatan yang hilang yang ternyata menyelamatkan kita.

Ada pertempuran yang dimenangkan bukan di depan publik, tetapi di ruang sunyi ketaatan.
Dan seringkali, damai yang Tuhan hasilkan tidak datang karena kita berhasil menenangkan situasi, tetapi karena Ia meredakan sesuatu di hati orang lain.
Atau bahkan meredakan badai di sekitar kita.
Di saat seperti ini, pertanyaan terpenting bukan lagi, “Bagaimana saya keluar sebagai pemenang?”
Tetapi, “Apakah respons saya menyenangkan Tuhan?”

Karena kemenangan sejati bukan ketika musuh berhenti menyerang, tetapi ketika hidup kita tetap selaras dengan-Nya.
Saat fokus kita berubah, dinamika rohani pun berubah.
Tuhan tidak lagi sekadar melihat dari jauh.
Ia berdiri di depan.
Membela.
Melindungi.
Mengatur hasil yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan pada akhirnya, yang menjaga hidup kita bukan kecerdikan, tetapi perkenanan-Nya.
Tetap selaras. Tetap tenang. Tetap taat.
Tuhan tahu bagaimana menangani apa yang kita tidak sanggup.

God never asks us to sacrifice what is right in order to gain what is expedient.”
– A.W. Tozer

“Tuhan tidak pernah meminta kita mengorbankan yang benar demi memperoleh yang praktis. – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Dunia Gaduh, Iman Kita Jangan Ikut Goyah

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Dunia Gaduh, Iman Kita Jangan Ikut Goyah

Perang.
Rumor.
Spekulasi akhir zaman.

Beberapa hari ini timeline penuh dengan pembahasan Amerika, Israel, Iran. Video demi video muncul. Tafsiran demi tafsiran berseliweran. Ada yang yakin ini tanda terakhir. Ada yang mulai menghitung-hitung nubuatan, menghubungkan ayat dengan headline berita.

Jujur, suasananya bisa bikin hati ikut tegang.

Di tengah semua itu, sahabat saya, Ci Mei Lian, menulis di grup gereja kami di Surabaya. Pesannya sederhana dan dewasa: jangan berspekulasi tentang “ramalan” akhir zaman. Dan mari berdoa untuk perdamaian. Kasihan anak-anak dan warga sipil yang jadi korban di pihak mana pun.

Saya membaca itu, dan entah kenapa hati saya langsung tenang.
Saya setuju.
Tuhan mengasihi semua manusia…
Tidak perlu membela kanan or kiri.

Saya tidak mendalami detail eskatologi. Ada orang-orang yang memang belajar dan dipanggil khusus di bidang itu. Biarlah mereka yang membahasnya dengan bertanggung jawab. Tidak semua orang harus jadi analis akhir zaman. Dan tidak semua berita harus kita tafsirkan.

Lalu sikap saya bagaimana?
Saya kembali ke tempat yang selalu aman: Firman.

Mazmur 91 bukan ayat hiasan untuk ditempel di dinding atau dibagikan saat suasana mencekam.
Itu deklarasi posisi.

“Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa, akan berkata kepada TUHAN: Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

Perhatikan kata “duduk” dan “bermalam”. Itu bukan visit, kunjungan singkat. Tetapi tinggal. Itu menetap. Itu pilihan sadar untuk berada di bawah naungan-Nya, bukan di bawah bayang-bayang ketakutan.

Lanjutannya tegas sekali.
“Ia akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.”
“Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang.”

Dan ayat yang selalu mengguncang iman saya:
“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.”
“Tulah tidak akan menimpa engkau, dan malapetaka tidak akan mendekat kepada kemahmu.”

Itu bukan janji untuk orang yang panik. Itu janji untuk orang yang memilih tinggal dalam naungan-Nya.

Ada bagian Tuhan. Ada bagian kita.
Bagian Tuhan adalah melindungi, melepaskan, menjaga. Bagian kita adalah tinggal, percaya, dan terus membangun iman.

Jangan salah. Saya juga manusia. Bisa merasa khawatir. Bisa terdistraksi oleh berita. Tapi saya belajar ini: kalau hati mulai goyah, itu tanda saya perlu kembali duduk. Bukan menambah konsumsi berita, tapi menambah waktu di hadirat-Nya.

Yesus pernah berkata, “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Pertanyaannya menusuk.
Bukan: adakah Ia mendapati orang yang paling update soal geopolitik?
Bukan: adakah Ia mendapati orang yang paling jago mengaitkan berita dengan kitab Wahyu?

Tetapi: adakah Ia mendapati iman?
Iman tidak lahir dari ketakutan.
Iman tidak dibangun dari rumor.
Iman timbul dari pendengaran akan Firman.

Dan waktu kita bukan tak terbatas.
Di usia saya sekarang, saya makin sadar, energi dan fokus adalah aset rohani.

Saya bisa menghabiskan waktu untuk belajar dadakan tentang akhir zaman.
Biar keren, biar update, biar gak kalah dengan yang lainnya.
Atau saya justru memakai waktu yang ada, untuk memperkuat iman, meneguhkan hati, memperdalam persekutuan dengan Dia?

Saya memilih yang kedua.
Saya memilih duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi.
Saya memilih bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa.
Saya memilih membangun iman, bukan membangun ketakutan.

Dunia boleh gaduh.
Timeline boleh panas.
Spekulasi boleh ramai.
Tapi jiwa kita tidak harus ikut gemetar.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita bertahan bukanlah pengetahuan detail tentang kronologi akhir zaman.

Yang membuat kita kokoh adalah keyakinan sederhana namun dalam:
Tuhan adalah perlindungan kita.
Dan iman kepada-Nya adalah posisi paling aman yang bisa kita miliki, apa pun yang sedang terjadi di dunia.

Bagaimana dengan Anda?

“I’ve read the last page of the Bible. It’s all going to turn out all right.” – Billy Graham.

“Saya sudah membaca hingga halaman terakhir Alkitab. Pada akhirnya semuanya akan berakhir dengan baik.” – Billy Graham.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tante Tirsa Rahardjo: Kasih yang Tidak Butuh Panggung.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tante Tirsa Rahardjo: Kasih yang Tidak Butuh Panggung.

Foto quotes yang ditulis Tante Drg. Tirsa, muncul di Facebook saya. Diposting oleh P. Benjamin Rahardjo, putra bungsunya.

Focus on God, not your problem
Listen to God, not your insecurity
Rely on God, not your strength
Courage is going from failure to failure without losing enthusiasm
— Winston Churchill

Dan… hati saya meleleh.

Di usia 95 tahun, masih terus belajar, bahkan mengutip Winston Churchill.
Wow… sungguh kehidupan yang patut diteladani.

Saat Tante Tirsa pulang ke Rumah Bapa, hati ini ingin sekali menulis tentang beliau, pahlawan dan teladan saya. Tetapi saya teringat, semasa hidup tante kurang suka ditulis.

“Tante nggak melakukan apa-apa, Yenny… Tante berterima kasih, tapi jangan ditulis-tulis,” ujarnya.

Hari pertama setelah Om dimakamkan, Tante kembali mengunjungi teman seusianya untuk memijat dan merawatnya. Seorang keponakan yang menderita asma kronis, hingga akhirnya mengalami patah tulang akibat kerapuhan tulang karena komplikasi terapi, sudah lama masuk dalam daftar pelayanannya.

Tante Tirsa melihat ada ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan. Kemudian didorongnya mereka belajar menjahit. Setelah itu, Tante membeli kain daster dan memotongnya sendiri, lalu meminta mereka menjahitnya dan memberi upah. Daster tersebut kemudian dibagikan kepada keluarga dan orang-orang yang membutuhkan.

Setiap mendengar kotbah Minggu, Tante mencatat. Di rumah, catatan itu disalin dengan rapi, difotokopi, lalu dikirimkan kepada teman-teman dekat dan saudara-saudaranya.

Wow…

Jika dilakukan oleh yang muda, mungkin biasa.
Namun saat yang melakukan sudah sepuh, itu menggetarkan hati.
Di luar sana, tidak sedikit orang tua yang sibuk mengeluhkan penyakitnya.
Tante Tirsa justru hadir menjawab kebutuhan oma-oma dengan hati yang tulus. Walk in their shoes.
Langka.

Di zaman ini, tidak sedikit pelayanan dilakukan demi organisasi, demi menambah daftar kegiatan “baik”, tanpa hati benar-benar terlibat.
Tante Tirsa berbeda.
Beliau mendengarkan. Beliau peduli.

Flashback ke tahun 2005, saat pertama kali saya pindah ke Surabaya dan berjemaat di MDC, yang digembalakan Ps. Andreas Rahardjo.
Suatu kali ada seminar wanita SHINE. Saya menulis ulang topik “Excellence”.

Itulah pertama kalinya saya menulis di publik. Sejak itu, hampir setiap minggu tulisan saya dan Lia Sutandio muncul di warta jemaat.
Sejujurnya, tulisan saya waktu itu tentu belum bagus. Saya belum belajar menulis.

Namun yang memukau, setiap bertemu, Tante Tirsa tidak sekadar memuji.
Beliau mengutip apa yang saya tulis.
Bayangkan… yang mengutip adalah ibunda gembala saya, sosok yang dihormati.
Ternyata kepada Lia pun beliau melakukan hal yang sama.
Bukankah ini teladan?

Tante memahami bahwa penulis pemula butuh dukungan.
Jika saya masih menulis sampai hari ini, ada investasi kasih Tante Tirsa di sana.

Beliau juga selalu menanyakan keadaan suami dan anak-anak.
“Tante berdoa untuk keluarga Yenny…”

Setelah saya pindah ke Jakarta, sesekali beliau menelepon dan berkomentar tentang Seruput Kopi Cantik.
“Tante tetap membaca tulisan Yenny. Terima kasih ya… tulisannya bagus-bagus…”

Saat Tante Tirsa pulang ke Rumah Bapa, Ko Paulus Rahardjo mengirimkan kisah ini:
Sebulan sebelum mama meninggal, tepat 22 Desember, kami merayakan ulang tahunnya yang ke-95. Sederhana, tetapi bermakna.
Saya bertanya,
“Apa yang mama inginkan dalam sisa hidup mama?”
Mama menjawab tenang,
“Mama ingin meninggal dengan tenang, dalam tidur.”
Saya berkata,
“Kalau begitu, Ma, setiap malam serahkan nyawa mama ke tangan Tuhan.”

Kami berdoa.
Doa kami bukan tentang kematian, tetapi tentang kekuatan menjalani hari-hari yang Tuhan masih beri.
Dan Tuhan menjawab dengan cara-Nya.

Mama tidak dipanggil dalam tidur.
Tetapi pada saat yang ia sukai: pagi hari, saat berenang, berolahraga.
Tiba-tiba Mama terdiam, tidak bergerak, Pak Andreas yang sedang berenang di sebelahnya segera meraih dan memeluk Mama.

Mama pulang dalam keadaan aktif, dijaga, dan dikelilingi kasih.
Penutupan hidup yang penuh damai.

Wow… Tuhan menjawab doa.
*”Mama tidak sendiri. Pindah dari pelukan anak di kolam renang langsung ke pelukan TUHAN,”* kata Ko Paulus.

Saya percaya, Tante disambut Tuhan dengan:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia…”

“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” – Mother Teresa.

“Kita mungkin tidak bisa melakukan hal-hal besar. Tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” – Mother Teresa.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Iman atau Tindakan Medis? Ketika Hikmat dan Mujizat Tidak Bertentangan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Iman atau Tindakan Medis? Ketika Hikmat dan Mujizat Tidak Bertentangan.

Anita duduk lama di mobil setelah keluar dari ruang dokter.
Diagnosisnya jelas: ada sel kanker, ditemukan sangat dini.
Secara medis, ini kabar baik. Masih sangat operable. Peluang sembuh tinggi.
Tetapi di dalam hatinya muncul pergumulan yang tidak sederhana.
Sebagai orang percaya, ia tahu Tuhan sanggup menyembuhkan secara supernatural.

Lalu pertanyaannya muncul:
Haruskah ia berdiri teguh menunggu mujizat?
Atau justru segera mengambil tindakan medis?
Apakah operasi berarti kurang iman?
Ini bukan lagi soal teologi kesembuhan.
Ini soal pengambilan keputusan.

Dan Alkitab sangat jelas:
iman tidak pernah meniadakan hikmat.

Seringkali kita tanpa sadar menjadikan mujizat sebagai penentu keputusan medis. Seolah-olah kalau kita cukup rohani, kita tidak perlu tindakan.
Padahal mengharapkan manifestasi supernatural itu sehat.
Yang tidak sehat adalah menjadikannya syarat untuk menunda langkah yang secara jelas bijak.

Paulus tidak pernah berkata kepada Timotius:
“Percaya saja. Jangan pakai apa pun.”
Justru ia menasihati Timotius:
“Janganlah minum air saja, tetapi tambahkanlah sedikit anggur oleh karena perutmu dan penyakitmu yang sering kambuh.”

Dengan kata lain, gunakan sesuatu yang membantu tubuh.

Iman tidak menggantikan hikmat.
Iman berjalan bersama hikmat.

“Orang bijak melihat malapetaka, lalu bersembunyi, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka

Kitab Amsal berkata bahwa orang bijak melihat bahaya dan mengambil tindakan.
Jika sesuatu masih bisa ditangani sejak dini, maka bertindak adalah bentuk tanggung jawab.
Operasi dini, ketika peluang baik masih tinggi, bukan tanda kurang iman.
Itu stewardship atas tubuh yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sama seperti kita tetap mengunci pintu rumah walau percaya Tuhan melindungi.

Para jenderal iman juga tidak anti tindakan medis.
Kenneth Hagin pernah menjalani operasi jantung.
Oral Roberts yang terkenal dengan pelayanan kesembuhannya, pada tahun 1983, menjalani operasi bypass jantung (open heart surgery) karena penyakit jantung koroner

Mereka tetap mengajarkan kesembuhan ilahi, tetapi tidak menolak alat yang Tuhan ijinkan tersedia.
Mereka tidak melihat operasi sebagai melawan mujizat.
Mereka melihatnya sebagai kemungkinan jalur manifestasi.

Greg Mohr, salah satu guru saya, pernah menceritakan kisah yang sangat membuka mata.

Tahun 1975, John Osteen mengalami masalah jantung dan dijadwalkan operasi.
Saat menunggu di rumah sakit, ia mendengar Tuhan berkata:
“Pulanglah. Tidak perlu operasi. Aku akan menyembuhkanmu.”
John taat. Ia pulang. Dan ia sembuh secara supernatural.

Namun tahun 1986, masalah jantung itu datang lagi.
Ia kembali ke rumah sakit.
Kali ini, ia mendengar Tuhan berkata:
Operasi.
Dan John taat lagi.
Ia menjalani operasi — dan sembuh.

Sebagian orang terkejut.
“Lho, kok operasi? Bukankah dulu sembuh tanpa operasi?”
Seolah-olah imannya turun.

Padahal Alkitab berkata:
Iman timbul dari pendengaran. Pendengaran oleh firman Kristus.

John tidak kehilangan iman.
Ia justru berjalan dalam iman.
Karena iman sejati bukan bersikeras pada metode, tetapi taat pada suara Tuhan saat itu.

Ada orang yang menganggap pergi ke dokter, minum obat, atau operasi berarti tidak beriman.
Itu keliru.
Dokter juga alat Tuhan.
Tuhan bisa menyembuhkan secara supernatural.
Tuhan juga bisa menyembuhkan melalui proses medis.
Dan seringkali, Ia bekerja melalui keduanya.

Jadi pola pikir kita perlu diluruskan.
Bukan:
Operasi = natural
Mujizat = supernatural
Tetapi:
Tuhan bisa bekerja tanpa operasi.
Tuhan bisa bekerja melalui operasi.
Dan operasi tidak menghalangi kuasa Tuhan.
Ia bisa menjadi salurannya.

Pertanyaan yang lebih sehat bukan:
“Apakah saya cukup beriman untuk tidak operasi?”
Tetapi:
Apa keputusan paling bertanggung jawab dengan terang yang ada sekarang?

Jika kanker masih dini, masih bisa ditangani, dan peluang hasil baik tinggi, maka secara hikmat tindakan dini adalah langkah bijak.
Dan iman tetap punya tempat di dalamnya.
Memilih operasi bukan berarti menyerah kepada manusia.
Justru sebaliknya.
Kita tetap mengharapkan hasil terbaik.
Kita mengharapkan pemulihan cepat.
Kita mengharapkan tidak ada penyebaran.
Kita mengharapkan tubuh merespons dengan baik.
Itu tetap iman.
Tuhan menemui kita di setiap level iman yang kita miliki.

Kuncinya bukan metode.
Kuncinya hubungan.
Apa yang Tuhan arahkan pada saat itu — itulah yang kita taati.

Seperti John Osteen.
Kadang jalannya pulang tanpa operasi.
Kadang jalannya masuk ruang operasi.
Keduanya bisa sama-sama iman.
Karena iman bukan soal memilih jalur supernatural.

Iman adalah mengikuti jejak Tuhan.
Dan berjalan dalam hikmat tidak pernah bertentangan dengan percaya pada mujizat.

“Do all the good you can, by all the means you can.” – John Wesley.

“Lakukan semua kebaikan yang dapat kamu lakukan, dengan semua sarana yang tersedia – John Wesley.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 314