Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Menulis Itu Berpikir Di atas Kertas Lho…..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menulis Itu Berpikir Di atas Kertas Lho…..

Menarik sekali, Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi bercerita dalam acara “Kick Andy”, di Metro TV,
“Bang Andy tahu, hanya ada 1 kelas yang diharuskan untuk seluruh siswa semester 1 di Harvard University, coba tebak kelas apa itu?”

Banyak yang mengira pastilah kelas matematika… seperti yang selama ini kita pikirkan. Matematika kerap dianggap pelajaran terpenting, yang menunjukkan kepintaran seseorang.

Ternyata salah!
Kelas yang diharuskan dipelajari oleh siswa semester satu di Harvard University ternyata adalah Kelas Menulis!

Gubraaaakkkkk…..

Why?
Karena menulis itu Berpikir di atas kertas.

Apa itu tulisan yang tidak bagus?
Strukturnya gak ada. Ke mana-mana, lompat sana dan lompat sini.
Kalimat yang pertama dan kalimat ke dua, tidak ada sambungannya.
Hal itu menunjukkan cara pikir penulisnya tidak teratur. Dia tidak bisa mengkomunikasikan pikirannya.

Menulis adalah tuangan pikiran. Jika pikirannya semrawut, kacau-balau, maka tulisannya pun kacau balau.
Sebaliknya, jika pikiran seseorang itu teratur, tulisanya pun akan teratur dan mudah dipahami.

Jika seseorang dapat menulis dengan baik, biasanya dia bisa mempresentasikan dengan baik. Dan kembali, berarti dia bisa berpikir dengan baik.
Itulah sebabnya, mengapa kelas menulis itu begitu penting dan diharuskan.

Wuih keren ya?

Albert Einstein pernah mengungkapkan beberapa pandangan menarik tentang menulis dan mengkomunikasikan pikiran.

Simplicity is Key – Kuncinya adalah Kesederhanaan.
Einstein terkenal dengan kutipannya, “Jika Anda tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, itu artinya Anda belum benar-benar memahaminya.”

Ini menunjukkan bahwa komunikasi yang baik harus jelas, ringkas, dan mudah dipahami.

Saya suka sekali dengan Kwik Kian Gie, yang menjelaskan tentang devaluasi, istilah keuangan yang rumit dan membingungkan masyarakat saat itu ketika ada devaluasi mata uang rupiah, dengan illustrasi istri yang menjual nasi goreng. Dengan penjelasannya, orang awam pun paham apa yang terjadi tanpa harus pusing dengan istilah-istilah keuangan yang rumit dan dalam bahasa Inggris pula.

Curiosity-Driven Expression – Einstein mendorong pemikiran yang mendalam dan rasa ingin tahu.
Dia percaya bahwa menulis dan berbicara seharusnya bertujuan untuk menjawab pertanyaan fundamental, bukan sekadar menyampaikan informasi.

Uniknya, saat kita menulis maka Tuhan bisa mengingatkan kita pada stok pengetahuan atau informasi yang pernah kita baca bertahun-tahun yang lalu, yang ternyata berkaitan.
Dan saat kita mengaitkannya, ada sesuatu yang memacu kita untuk menggalinya lebih dalam ketika berproses.
Tanpa disadari, dengan menulis, kita pun makin mendalami suatu topik, merenungkannya sehingga ada pewahyuan-pewahyuan baru yang muncul, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Keep an Open Mind – Dalam berkomunikasi, Einstein menekankan pentingnya bersikap terbuka terhadap sudut pandang baru, karena “Pikiran itu seperti parasut, hanya berfungsi jika terbuka.”

Banyak hal yang tidak kita mengerti, sampai kita terbuka terhadap pandangan orang lain, cara pemikirannya, sudut pandangnya, kemudian sadar, “oh, ternyata ada ya… orang yang berpikir seperti itu. Padahal kita tidak pernah bermaksud demikian.”
Saat kita terbuka dengan cara pandang yang baru, kita jadi lebih kaya, makin bisa bertoleransi, tidak bersiteguh pada pandangan pribadi dan itu membuat kita lebih luwes dalam menyampaikan ide-ide kita sehingga makin mudah diterima banyak orang.
Kita bertumbuh makin bijaksana dan arif.
Orang-orang makin menyukai tulisan-tulisan kita karena mereka mudah menyerap manfaatnya.

*********
“Prose is architecture, not interior decoration,” kata Ernest Hemingway – Menulis bukan sekadar hiasan kata-kata, tetapi struktur pemikiran yang kuat untuk menyampaikan gagasan dengan efektif.

Menulis membuat kita bisa melihat keadaan dengan lebih jernih, berpikir lebih cerdas dan bisa menghasilkan gagasan yang tepat sasaran.

Beberapa teman yang sedang menghadapi masalah yang rumit, kerap saya sarankan untuk menuliskan uneg-uneg alias beban hatinya dalam tulisan.

“Tulis saja apa saja yang menjadi beban hatimu. Teratur atau tidak, jangan dipikirkan. Tulis saja semuanya…. keluarkan dengan tuntas. Toh kamu yang tau ceritanya, nanti setelah selesai ditulis, barulah disusun kembali sesuai konteks ceritanya, kronologis waktunya dsb”

Apa manfaatnya?
Ketika seseorang sudah menuliskan masalahnya secara tuntas, beban hatinya sudah ditumpahkan, maka dia bisa berpikir lebih jernih.

Sebelumnya, orang itu ceritanya lompat ke sana ke mari, karena semua ingin diceritakan tetapi dia kesulitan mana yang mesti diceritakan terlebih dahulu?
Cerita kejadian A baru sadar, penyebab A bisa terjadi karena didahului peristiwa X, Y & Z. Contohnya demikian.

Ketika sudah ditulis, dan dia menyusun kembali cerita itu sesuai kronologisnya, tidak jarang dia bisa melihat berbagai peristiwa dengan cara pandang yang baru.

“Oh, ternyata A itu terjadi karena M,N & O …. bukan X,Y & Z, yang diperkirakan sebelumnya.”

Seperti puzzle, satu demi satu makin terbuka permasalahan yang sesungguhnya dan dengan demikian, jalan keluar pun makin terbuka.
Pilihan-pilihan solusi, makin terbuka.
Mulailah dia bisa mempertimbangkan, untung rugi dan berbagai resiko dari pilihan-pilihan itu.
Apalagi saat kita meminta pertolongan dan hikmat Tuhan dalam menyelesaikannya, maka yang supernatural kerap ikut terlibat dan penyelesaian masalah pun menjadi jaauuuh lebih mudah.

Carl Sagan berujar “Writing is perhaps the greatest of human inventions, binding together people, citizens of distant epochs, who never knew one another.”
Menulis itu menghubungkan pikiran manusia lintas waktu dan ruang, memungkinkan komunikasi yang lebih dalam dan menciptakan solusi bagi tantangan bersama.

Wuih…. menarik ya?
Menulis yuk!!!

Good writing is clear thinking made visible.”- George Orwel

Menulis yang baik adalah pemikiran yang dibuat jelas dan terlihat.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan
#MotivasiKebaikan

Read More
Articles

Sudahkah Anda Menggunakan Karunia-Nya?

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Sudahkah Anda Menggunakan Karunia-Nya?

Banyak orang datang kepada saya dengan pertanyaan tentang Alkitab atau tentang kehidupan mereka, dan sering kali mudah terlihat bahwa mereka terfokus pada hal yang salah. Kita sering mencoba menyelesaikan masalah hidup dengan logika dan kekuatan sendiri, sementara kita mengabaikan kekayaan penyediaan yang telah kita terima dari Tuhan.

Sebagai orang percaya yang adalah “ciptaan baru,” dibenarkan oleh iman dalam darah-Nya, dan duduk bersama-Nya di tempat surgawi, kita telah diperlengkapi untuk hidup jauh lebih dari sekadar penderitaan dan kehidupan biasa. Namun, banyak orang mengabaikan karunia anugerah dan terus menjalani hidup dengan kekuatan sendiri yang terbatas. Apa yang telah Anda terima tetapi belum Anda gunakan?

Sudahkah Anda menyebut Nama Yesus hari ini? Sudahkah Anda mendeklarasikan Nama-Nya atas hidup Anda, keluarga, kesehatan, keuangan, peluang, dan tujuan Anda?

Sudahkah Anda menyadari Roh-Nya yang ada di dalam Anda hari ini? Apakah Anda dipenuhi dan memuji-Nya dalam bahasa surgawi?

Sudahkah Anda mengingat kuasa darah-Nya yang telah membersihkan dan membebaskan Anda dari rasa bersalah dan penghukuman?

Sudahkah Anda mengingat kuasa Firman-Nya? Firman-Nya dalam hati dan mulut Anda memiliki kuasa untuk mengubah keadaan, menyembuhkan tubuh, menguatkan mereka yang terluka, dan melawan musuh!

Apakah Anda berdiri di atas janji-janji-Nya? Semua janji-Nya hidup dan aktif, “ya dan amin,” serta mengungkapkan hati Tuhan untuk kehidupan Anda yang berkelimpahan.

Sudahkah Anda menggunakan “kunci Kerajaan?” Prinsip-prinsip Kerajaan adalah kunci untuk membuka segala anugerah dalam hidup kita. Memberi, mengampuni, menabur, ketekunan, visi rohani, kuasa perkataan—semuanya adalah “alat” yang tersedia bagi kita.

Tuhan telah memberikan segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup (2 Petrus 1:2-4).

Bola ada di tangan kita. Tuhan telah melengkapi kita untuk menang. Tidak ada kekurangan. Masalah hidup bukan sedang menunggu Tuhan bergerak, tetapi menunggu kita untuk mengambil dan menggunakan karunia yang telah kita terima guna menegakkan kehendak Tuhan dalam hidup dan keadaan kita.

**********

Banyak orang berdoa, lalu menanti kapan Tuhan bergerak mengabulkan doanya?

Lalu saya belajar, ternyata sebagian besar jawaban doa, inisiatifnya dari kita.
Tuhan sudah menyediakan semua yang kita perlukan melalui anugerah-Nya, nach bagian kitalah yang meresponinya dengan iman.
Maksudnya kita yang mengambil langkah iman bergerak maju.
Saat kita melangkah itulah, pintu kesempatan demi pintu kesempatan lainnya akan terbuka, yang akan menuntun kepada manifestasi jawaban doa yang kita perlukan.

Ketika kita melihat sebuah kebutuhan, pilihlah untuk “melihat” penyediaan bagi kebutuhan itu dalam Roh. Alih-alih berfokus pada masalah, lihatlah kesembuhan, kelimpahan, dan kemenangan. Apa yang kita pilih untuk lihat akan mengaktifkan iman atau justru ketidakpercayaan kita.

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan. Karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Korintus 4:18)

Setiap hari bisa menjadi anugerah yang penuh dengan potensi, atau hanya 24 jam penderitaan, ketakutan, dan kepahitan. Bukan keadaan yang menentukan bagaimana hari – hari kita, tetapi hati yang menentukannya.

“Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaan hatinya yang jahat.” (Matius 12:35)

Hidup kita bisa mulai berubah hari ini jika kita memilih untuk hidup dipimpin oleh Roh.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Siap praktik? Yuk

“God has given us His power, not so we can live defeated lives, but so we can walk in victory.” – Charles Stanley.

Tuhan telah memberi kita kuasa-Nya, bukan agar kita hidup dalam kekalahan, tetapi supaya kita berjalan dalam kemenangan. – Charles Stanley.

Sumber Barry Bennett

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles, Travelling

Divine Connection – Perjumpaan Ilahi….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Divine Connection – Perjumpaan Ilahi….

“P. Pras & B. Uti, lihat siapa dia?” , chat saya pada P. Prasetya M. Brata & B. Uti Brata, guru saya, sambil mengirimkan foto.

“Wah gimana ceritanya bisa ketemu bu Mariani?”, balas P. Pras penasaran.

“Waah ternyata sama Oma perginya”, komentar B. Uti.

Unik sekali…
Bertahun-tahun saya kerap melihat wajah B. Mariani berfoto dengan P. Pas dan para tokoh Neurosemantic dunia. Jadi familiar sekali dengan wajah dan nama beliau: Mariani Ng

Nach saat ikut tur Nepal Bhutan, berkenalan dengan beliau tetapi saya tidak menyangka beliau inilah sesepuh Neurosemantic Indonesia. Trainer Neurosemantic Wanita Pertama di Asia.

B. Mariani Ng, guru P. Pras. Sementara saya ini muridnya P. Pras.
Menurut bahasa cerita silat ala P. Irsan, sohib saya, berarti B. Mariani Ng ini sucow alias nenek – guru saya… Wuih kerennya.
Dan kami liburan bersama.

B. Mariani dengan bijak menjawab, saat saya bertanya benarkah beliau guru P. Pras?
“P. Pras hanya belajar sebagian ilmu dari saya, kami sama-sama belajarlah…. Nach, sekarang kami sama-sama mengembangkan Neuro Semantic dengan style masing-masing.”

Saya pun belajar….
Bergaul dengan orang-orang bijak, membuka kesempatan bagi kita untuk menimba ilmu dan mendapatkan pengaruhnya.

*******
Ketika ikut optional tour ke Mt. Everest, Hean sahabat saya mendengar Tiorida itu SMA nya di Malang?

“SMA di Hwaind (nama populer SMA Kolose Santo Yusuf, Malang yang biasa disingkat Kosayu)?”, B.Hean pun ingin tahu.

Ternyata benar.
Suami B. Hean, P. Leonard dan P. Indra sama-sama alumni Kosayu 76.
Tiorida alumni Kosayu 85, yang jagoan akuntansi.
Ternyata ada peserta lagi, P. Willy Himawan alumni Kosayu 88, yang kontraktor unik. Beliau tidak mau membangun gedung-gedung bertingkat biasa.
“Bosan”, katanya, P. Willy yang membangun Carstensz Mall di Tangerang Selatan, “Jika harus memindahkan sungai, pokoknya yang aneh-aneh, itu baru menarik dan menantang.”

Wow seru jadinya…. merasa bertemu dengan keluarga sendiri. Dan semuanya teman-teman yang berkualitas & berprestasi.
Duh…. senangnya.

Mereka pun segera mengambil foto berempat.
Divine Connection lagi….

******
B. Indrawaty, salah seorang peserta dari Jakarta pun menyapa saya.
Rupanya B. Indrawaty itu sahabat baik B. Meliani Buana Riem, sahabat baik saya juga di Surabaya.

Sungguh dunia itu sangat kecil… bahkan saat ke Nepal & Bhutan pun bertemu dengan orang-orang yang mengenal kita.

Pelajarannya:
Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.

Nama baik itu melekat ke mana pun kita pergi. Hingga ke ujung dunia pun akan ada orang-orang yang memiliki link dengan orang yang mengenal kita.

*********

Enakan jalan sendiri or ikut tur? Masing-masing ada keuntungan dan keunikan yang berbeda.

Tanpa tur saya ‘mungkin’ tidak bisa bertemu dengan B. Mariani dengan suasana seperti ini. Punya kesempatan berbagi, dalam keadaan santai.
Divine Connection. bukan hanya dengan B. Mariani tetapi juga dengan teman-teman lain.

Dr. Daniel dan Tju, istrinya, yang dokter spesialis penyakit manula,Geriatri namanya, sekaligus sahabat baik keluarga besar P. Kwik Kian Gie. Hobinya memotret kami semua, plus menjadi pengarah gayanya…

P. Edi dari Tegal dan P. Junaedi yang selalu berbaik hati membantu mengangkat smart luggage. Thanks Pak…

B. Hean dan Mei Tjien, yang sigap menyediakan apa yang saya perlu tanpa diminta…
So sweet…

Ke mana pun pergi, Tuhan mengirimkan orang-orang baik alias ‘malaikat’-Nya untuk menolong kami.

Banyak teman-teman lain yang gak bisa diceritakan satu persatu, dengan prestasi, pengalaman, pelayanan serta keunikannya.

Ssstt… grup kali ini, saya bertemu banyak traveller sejati.
Bahkan ada yang nyaris tiap bulan jalan liburan ke luar negeri. Tujuannya yang aneh-aneh pula, yang jarang dikunjungi turis umum.

Ada pula yang sudah pernah ke tempat wisata terkenal di China tetapi sudah lama, sekarang pergi lagi untuk menikmati perubahannya karena China berubah cepat sekali.

Saya diperkaya karenanya.
Tidak ada kebetulan di dunia ini. Tentunya Tuhan mempertemukan saya dengan mereka, karena Tuhan ingin saya belajar sesuatu, dan ada tujuan-Nya… mungkin bukan sekarang tetapi di masa depan. Who knows?

Bukankah kita ini ‘terang dan garam’ dunia yang memberi cahaya dan rasa?
Kata Tuhan, “Pergilah….”
Taati saja…
Setiap kita memiliki peran dan tugas yang berbeda. Tuhan ingin di mana pun kita berada, kita menjadi duta-Nya yang membawa damai, sukacita serta cermin siapa Tuhan kita?

Orang-orang tidak bisa melihat Tuhan secara kasat mata tetapi bisa melihat Tuhan melalui kita.
Keren bukan?

*****
Di Nepal, malam terakhir sebelum kami ke Bhutan diadakan show dan semua mengenakan baju traditional Nepal.
Tidak hanya menonton pertunjukkannya, tetapi penonton dilibatkan ikut menari.

Puncak acaranya, P. Anton Thedy TX Travel mendapatkan Certificate of Apreciation dari Pemerintah Nepal. Mereka sedang menggalakkan pariwisata ke Nepal dan Bhutan.

Belajar ‘berbisnis dan negosiasi’ pula secara tidak langsung. Banyak nilai-nilai dan pengalaman berharga yang membuka wawasan.
Travelling itu bukan sekedar berlibur tetapi belajar ‘melihat’ dari sisi yang berbeda, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

A mind that is stretched by a new experience can never go back to its old dimensions.” – Oliver Wendell Holmes Jr.

Pikiran yang telah diperluas oleh pengalaman baru tidak akan pernah kembali ke dimensinya yang lama. Oliver Wendell Holmes Jr.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan
#MotivasiKebaikan

Read More
Christianity, Seruput Kopi Cantik

Tiger Nest- ikonik Bhutan di Tebing Curam 3.000 Meter

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tiger Nest- ikonik Bhutan di Tebing Curam 3.000 Meter

Tiger’s Nest atau Paro Taktsang adalah ikonik di Bhutan yang bertengger di tebing curam setinggi 3.000 meter di atas lembah Paro.

Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga simbol spiritual yang penuh misteri dan legenda!
Konon, Guru Rinpoche- sang tokoh- terbang ke sini dengan menunggangi harimau betina. la bermeditasi di dalam gua selama tiga tahun, tiga bulan, tiga minggu, tiga hari, dan tiga jam!
Sejak itu, tempat ini menjadi pusat ziarah suci.

******
Malam sebelum kami ke Tiger Nest, P. Indra teringat handbagnya. Duh di mana ya?
Ah, kelihatannya disimpan di Smart Luggage – kopor yang ada batterynya- yang kami tinggal di bus.
Baru sadar, arloji dan cincin berlian P. Indra disimpan di sana.

Udara dingin, baju berlapis-lapis, jadi P. Indra merasa cincin dan arloji itu merepotkan. Dilepaslah arloji dan cincin itu lalu disimpan dalam tas.

Bisa hilang dong…. demikian pikiran natural kita.
Menolak kuatir, saya memperkatakan perintah, agar malaikat Tuhan menjagainya.

Keesokan paginya, begitu bus datang, saya cari smart luggage…. tapi gak ada. Ternyata disimpan tour leader di reception. Waktu saya buka, gak ada….
Oh….

Sudah terbiasa berdoa pagi BBL, apa pun yang terjadi, menolak berkata negatif atau kuatir. Dalam perjalanan ke Tiger Nest, P. Indra berusaha mengingat-ingat, terakhir di taruh di mana ya?
Ketinggalan di resto saat breakfast di hotel sebelumnya?
Atau ditinggal di rak bus di atas kepala?

Begitu bus berhenti di Tiger Nest bus stop, segera saya coba meraba-raba di rak atas, ternyata ada…
Dan saat dibuka, arloji dan cincin lengkap ..
Yeaaaay……
God is good all the time!

Yang saya gak bisa jagain, malaikat-Nya menjagai untuk saya….
Hati saya meleleh….
Betapa baiknya Engkau, Tuhan!
Siapakah aku ini jadi biji mata-Mu? Betapa hati ini bersyukur….I love You….

*******
Saat saya menceritakan kejadian ini pada teman-teman, B. Lusi bercerita, pagi tadi saat breakfast tiba-tiba gigi palsunya patah…
Alamaaak…..

Begitu B. Lusi berkomentar, “Aduh, gigiku patah….”
Persis di seberang mejanya, ada B. Ninin, tanpa banyak bersuara, segera mengeluarkan lem gigi palsu dari dalam tasnya….

Wow…..
Seberapa sering orang yang tur bawa lem gigi?
Dan gak usah nyari-nyari, langsung saat itu juga tersedia.
Sehingga B. Lusi tetap cantik…. klo gak cerita, saya pun ga tau…

*Dahsyatnya Tuhan itu…. menyediakan apa pun yang kita perlukan, bahkan yang kita tidak sadar kita membutuhkannya.*

Kami saling sharing dan terpukau, betapa baiknya Tuhan itu…
Kami pun bernyanyi bersama dengan hati yang penuh syukur & kekaguman atas kebaikan dan kesetiaan-Nya…

Aku punya Tuhan yang besar…
Yang tlah berjanji dan sanggup menggenapi…
Imanku bersepakat percaya kuasa-Nya,
Ku terima sekarang, kemenangan dari-Mu…

*********
Beberapa hari sebelumnya, saat di Nepal, P. Benny sedang berjalan keluar dari sebuah toko souvenir.

Tempatnya bertingkat, di sana sini ada beberapa anak tangga, tempatnya naik turun. P. Benny berpegangan pada seng, dipikirnya itu bangunan permanen, ternyata tidak. P. Benny pun meluncur ke bawah pelan-pelan kehilangan keseimbangan.
Gedubraaaaakkk…..
Jatuhlah beliau, padahal badannya besar.

Untungnya…. – Orang Jawa selalu untung 🙂 -, jatuhnya pelan dan meski sedikit sakit, tetap oke dan bisa melanjutkan tur dengan baik.
Bukankah ini pun mujizat Tuhan?
Malaikat-Nya menjagai di sepanjang perjalanan…

********
Ketika kami membicarakan kebaikan-kebaikan Tuhan, hati pun berbunga-bunga dan penuh semangat bersiap menikmati Tiger Nest yang terkenal.

Sebagian memilih naik kuda, termasuk saya, dan sebagian lagi memilih trekking.
Gadis muda yang menuntun kuda poni yang saya tunggangi, berusia 20 tahun. Dia sudah lulus SMA tetapi tidak melanjutkan kuliah karena harus membantu orangtuanya.
Sayang ya…. padahal ke universitas pun semua biaya sudah ditanggung pemerintah.

Mereka menuntun kuda berkelompok. Gadis ini dengan ayah dan saudarinya berada di satu kelompok kecil dan berjalan bersama-sama. Demikian pula kelompok-kelompok lainnya.

Perjalanan menanjak. Di sebagian tempat ada tangga tetapi masih berupa tanah berbatu, sisanya benar-benar jalan tanah di tepi tebing yang cukup curam. Pemandangannya indah dan udaranya cukup dingin, 4 derajad di pagi hari.

Kami menuju Tiger Nest Takshang Cafetaria berada di ketinggian sekitar 2.950 meter di atas permukaan laut.
Tempat ini menjadi titik istirahat favorit bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Tiger Nest yang berada di ketinggian sekitar 3.120 meter.
Dari sini, pengunjung bisa menikmati pemandangan spektakuler Tiger’s Nest sambil menikmati teh hangat atau makanan khas Bhutan.
Kami pun menikmati makan siang di sana.

Nampak biara putih berjajar di antara tebing batu yang menjulang tinggi di ketinggian…
Sungguh mempesona…. menakjubkan…

Menuju Tiger’s Nest bukan perjalanan biasa. Jalurnya 6 km menanjak, melalui hutan pinus yang sejuk, jembatan kecil, dan tanjakan curam. Setiap langkah merupakan latihan kesabaran dan ketahanan, seolah mengajarkan seperti juga perjalanan kehidupan yang tidak selalu mudah. Namun, bersama Tuhan kita senantiasa mampu menaklukkan tantangan hidup, seberat apa pun.

P. Indra terpukau dan berujar, “Tidak bisa dibayangkan bagaimana cara mereka membangunnya…. Tantangannya betul-betul tidak mudah.”
P. Indra memang dari Teknik Sipil dan biasa membangun pabrik sehingga mengerti betul kesulitannya.

Pada tahun 1998, Tiger Nest mengalami kebakaran hebat yang hampir menghancurkan seluruh bangunannya. Namun, dengan dedikasi dan ketekunan luar biasa, rakyat Bhutan bersama pemerintah berhasil membangunnya kembali dengan cara tradisional. Hingga kini, keaslian arsitekturnya tetap terjaga

Kami bertemu dengan turis-turis mancanegara. Dari Amerika, Korea, Eropa, India mau pun turis lokal.

Sungguh bersyukur diberi Tuhan kesempatan melihat langsung keindahan ciptaan-Nya yang dipadukan dengan ketekunan dan kegigihan manusia.

Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada-Nya!
Setuju?

Climb mountains not so the world can see you, but so you can see the world.” – David McCullough Jr.

“Mendaki gunung bukan agar dunia melihat kita, tetapi agar kita bisa melihat dunia.”- David McCullough Jr.

Artinya, setiap perjalanan mendaki gunung, membuka perspektif baru dan mengajarkan kita untuk melihat Tuhan dalam segala hal.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bhutan, Negeri Bahagia di Atas Awan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bhutan, Negeri Bahagia di Atas Awan.

Pagi ini kami terbang dari Kathmandu menuju Paro, airport di Bhutan dengan flight pagi.

Dalam perjalanan menuju Bhutan, awalnya saya berencana tidur. Ngantuk bangun subuh.
Namun terpukau…. ternyata kami kembali melewati Mt. Everest dari sisi yang berbeda.
Saat optional tour, kursi kami nomor 5, agak terhalang baling-baling. Tetapi kami memutuskan menolak kecewa, meski tidak mendapatkan yang terbaik. Ini pun sudah anugerah bisa menikmati Mt. Everest secara langsung.
Siapa sangka, saat ke Bhutan kami duduk di kursi terdepan dan 3 baris di belakangnya kosong…
Batal tidur, menikmati keindahan Mt. Everest sepuasnya. Apalagi ini international flight, terbangnya lebih tinggi, lebih dekat dan didukung cuaca yang bagus: Mt. Everest nampak menjulang tinggi dengan gagahnya, sementara awan putih jauh di dasarnya.
Puji Tuhan….

Pelajarannya:
Tetaplah bersyukur dalam segala perkara, kita akan menerima jauuuuh lebih banyak dari apa yang kita syukuri!

*******
Bhutan, negara kecil di Himalaya, dikenal sebagai Negeri Naga Guntur.
Begitu menginjakkan kaki ke Bhutan, suasananya sangat berbeda.
Tenang…. damai….bersih…

Satu-satunya negara di dunia yang mengukur kemajuan dengan Gross National Happiness (GNH), bukan hanya GDP!
Alamnya masih asri, penuh gunung, hutan, dan biara megah seperti Paro Taktsang (Tiger’s Nest) yang bertengger di tebing curam.

P. Anton bercerita, Bhutan itu lebih miskin daripada Nepal tetapi yang kelihatan justru kebalikannya.
Jalan-jalan halus, bersih, tenang tetapi kecil. Tidak ada bus atau truk besar di Bhutan.
Negara tanpa pabrik dan yang unik pula, tidak ada rumah pejagalan hewan. Dilarang membunuh hewan, baik ayam, ikan, sapi atau hewan-hewan lainnya.
Lalu bagaimana jika ingin makan daging?
Diimpor dari India.
That’s why tur ke Bhutan selalu mahal.
Tidak hanya makanan, namun
untuk menjaga kelestarian budaya dan lingkungan, Bhutan menerapkan kebijakan “High Value, Low Impact Tourism” dengan memberlakukan Biaya Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Fee/ SDF).

Mulai September 2023, SDF ditetapkan sebesar USD 100 per orang per malam, setelah sebelumnya sebesar USD 200. (travel.kompas.com). Kebijakan ini bertujuan untuk mengendalikan dampak pariwisata massal dan memastikan bahwa kunjungan wisatawan memberikan manfaat positif bagi negaranya.

Disamping pariwisata, pemasukan utama Bhutan, dengan menjual listrik ke India, Bangladesh, dan negara tetangga lainnya karena banyak sekali air terjun.

Perbedaan menyolok lainnya, klo di Nepal, penduduknya _Indian look_, tetapi begitu masuk Bhutan, _Oriental look_.

Apa itu Gross National Happiness (GNH)?
Gross National Happiness (GNH) atau Kebahagiaan Nasional Bruto adalah konsep unik dari Bhutan yang menilai kemajuan negara berdasarkan kesejahteraan spiritual, sosial, dan lingkungan, bukan hanya ekonomi seperti GDP.

Konsep ini diperkenalkan oleh Raja Jigme Singye Wangchuck pada tahun 1972, ketika beliau masih sangat muda. Saat banyak negara mengejar pertumbuhan ekonomi dengan segala cara, Raja Bhutan justru menekankan bahwa kesejahteraan rakyat lebih penting daripada sekadar kekayaan materi.

Sejak saat itu, Bhutan mengembangkan empat pilar GNH:

1. Pembangunan Sosio-Ekonomi yang Berkelanjutan – Ekonomi tumbuh tanpa merusak lingkungan dan budaya.

2. Pelestarian Budaya dan Tradisi – Identitas Bhutan tetap kuat meskipun dunia makin modern.

3. Kelestarian Lingkungan – Hutan dilindungi, dan Bhutan menjadi satu-satunya negara dengan emisi karbon negatif.

4. Tata Kelola Pemerintahan yang Baik – Pemerintah memastikan kebijakan selalu pro-rakyat dan berorientasi pada kebahagiaan.

Kini, Bhutan mengukur kebahagiaan rakyatnya secara berkala dengan survei GNH, mencakup aspek psikologi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan hubungan sosial.

Itulah sebabnya pendidikan dan medical care – pemeliharaan kesehatan semua gratis. Hebatnya, jika ada yang butuh transplantasi ginjal hingga ke India, misalnya, biayanya pun ditanggung pemerintah.
Konon jika ada turis mengalami kecelakaan di Bhutan, biayanya juga ditanggung pemerintah.
Wow…..

Meski rakyat hidup sederhana, tetapi mereka hidupnya santai, tidak tergesa-gesa, penuh senyum dan nampak sabar…
Saat kami membeli anggur, ibu penjual bersedia menyucinya satu persatu. Penuh empati.

Sampai kami bertanya kepada local guide, apakah ada yang stress?
Ternyata ada juga. Bahkan ada pula kejahatan…

Konsep GNH ini menginspirasi banyak negara dan organisasi dunia untuk melihat kebahagiaan sebagai indikator pembangunan yang lebih bermakna dibanding sekadar angka ekonomi.

*****
Kami mengunjungi Dochula Pass, di ketinggian 3.100 meter antara Thimphu dan Punakha, menyajikan panorama Himalaya yang megah dan memukau. Daya tarik utamanya adalah 108 Druk Wangyal Chortens, stupa yang didirikan untuk menghormati prajurit Bhutan yang gugur pada 2003 mengamankan negara dari serangan teroris.

Hutan cemara di sekitarnya dihiasi bendera doa berwarna-warni, melambangkan elemen alam dan membawa kedamaian. Druk Wangyal Lhakhang, kuil untuk Raja Bhutan keempat, berdiri megah di sini.

Setiap Desember, Druk Wangyal Festival menampilkan tarian dan budaya khas Bhutan. Dochula Pass bukan sekadar indah, tetapi juga kaya sejarah dan spiritualitas yang memukau.

Travel makes one modest. You see what a tiny place you occupy in the world. – Gustave Flaubert

Perjalanan membuat seseorang menjadi rendah hati. Anda melihat betapa kecilnya tempat yang Anda tempati di dunia ini. – Gustave Flaubert

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 44 45 46 47 48 404