Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles, Christianity

“Mana yang diutamakan? Tuhan atau Keluarga?”

“Mana yang diutamakan? Tuhan atau Keluarga?”

Saya mendengar beberapa orang mencoba memprioritaskan hubungan kita dengan Tuhan, keluarga dan pelayanan dengan cara yang berbeda.
Beberapa orang berkata, “Tuhan dulu, lalu keluarga, baru pelayanan.”
Bahkan saya pernah mendengar orang lain berkata, “Tuhan dulu, lalu pelayanan, baru keluarga.”
Tentu saja, mereka yang lebih mengutamakan pelayanan daripada keluarga, biasanya sedang mencari alasan untuk mengabaikan keluarga mereka dan itu jelas terlihat.

Apa yang paling penting di hati Tuhan?

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Kejadian 2:18 (TB)

Tuhan menyadari bahwa hubungan Adam dengan-Nya tidaklah cukup. Untuk mencapai tujuan-Nya di bumi, pria membutuhkan seorang istri.

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Kejadian 2:24 (TB)

Tuhan mendirikan pernikahan dan keluarga terlebih dahulu. Keduanya merupakan lembaga yang diciptakan Tuhan pertama kali.

Paulus membicarakan tentang persatuan antara seorang pria dan istrinya juga.

“Karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”
Efesus 5:30-32 (TB)

Persatuan suami dan istri adalah misteri yang mengungkapkan hubungan Kristus dan gereja-Nya!
Apa yang bisa lebih penting dari itu?

Intinya begini: Mendahulukan keluarga ADALAH mendahulukan Tuhan. Pilihannya bukan antara Tuhan atau keluarga.
Memilih keluarga adalah memilih apa yang Tuhan pilih.
Memilih keluarga berarti memilih Tuhan.
Pernikahan dan keluarga ditetapkan oleh Tuhan untuk mengungkapkan hubungan antara Kristus dan gereja. Itu adalah hubungan perjanjian kasih, pemberian, pengorbanan, berkat dan pengampunan. Mengabaikan pernikahan dan keluarga untuk “melayani Tuhan” adalah pernyataan yang tidak masuk akal. Ketika kita mengabaikan keluarga, sesungguhnya kita sedang mengabaikan Tuhan.

Pertimbangkan peringatan dari Paulus:
“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.”
“1 Timotius 5:8 (TB)

Para pria, jika kita sedang mencari pelayanan, sementara itu kita menghormati pengantin wanita kita (istri kita), Tuhan akan lebih mempercayakan Mempelai-Nya (jemaat-Nya) kepada kita.

[Repost ; “Which is first? God or Family?”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

Read More
Self Motivation, Seruput Kopi Cantik

Salah Kita Sendiri? Mana Berani Datang Kepada Tuhan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Salah Kita Sendiri? Mana Berani Datang Kepada Tuhan?

Salah satu hal yang paling berat untuk ditanggung, ketika salah mengambil keputusan dan membuat segalanya kacau balau.
Apalagi jika akibatnya berdampak pada seluruh keluarga.
Rasanya ingin bersembunyi masuk ke perut bumi saja.
Merasa bersalah, tertuduh dan menyesal.

Siapa pernah mengalaminya?
Saya tunjuk jari!
Bertahun-tahun yang lalu, saya memilih menjauh dari Tuhan.
Tetapi dengan berjalannya waktu, pengenalan pada Tuhan makin mendalam, saya justru memilih segera datang kepada Tuhan.
Curhat, minta ampun dan mohon Tuhan membenahinya!

“Tuhan tolong ubah hati orang itu, agar kesalahan yang saya lakukan bisa Tuhan ubah menjadi kebaikan.”

“Tuhan beri saya hikmat, apa yang harus saya perbuat untuk memperbaiki situasi yang kacau balau.”

Kadang-kadang betul-betul tidak terpikirkan sehingga tidak melakukan yang seharusnya secara umum, orang sudah tahu.
Di saat lainnya, karena kurang pertimbangan, informasi kurang lengkap, salah mengambil keputusan.

“You’re a God who makes things right, giving justice to the defenseless. You know all about us, inside and out. You are mindful that we’re made from dust,
*Engkaulah Allah yang membuat segalanya menjadi benar*, memberikan keadilan kepada yang tak berdaya. Engkau mengenal kami, luar dan dalam. Dan menyadari bahwa kami terbuat dari debu,
” ujar Raja Daud.

Tuhan memang Allah Sang Penolong. Dia membuat apa yang salah menjadi ‘benar’ dengan cara-Nya yang ajaib.
Berulangkali, kesalahan yang saya buat, -entah dengan sengaja atau tidak-, diubahnya menjadi kebaikan.

Tuhanlah Allah yang bisa mengubah hati seseorang, bisa mengubah situasi, bahkan angin dan badai pun tunduk kepada-Nya.

“Aku itu berminggu-minggu mikir, bagaimana caranya bisa kenal dengan pemimpin proyek di Kalimantan Selatan?
Pusing gak ada ide. Secara gak sengaja pas ngobrol dengan pimpinan Kalimantan Tengah, aku tanya, kenal ga dengan pimpinan Kalimantan Selatan? Oooo kenal, gampang nanti tak kenalin. Walah … Segitu gampangnya,” ujar Dave, teman di Sekolah Charis, bercerita tentang proyeknya.

Itulah jalan hidup orang yang memperoleh perkenanan Tuhan dan manusia, semuanya jadi mudah, melebihi pikiran manusia.

“Perkenanan Tuhan dan perkenanan manusia itu seperti sepasang sepatu. Saling mendukung. Dengan memiliki keduanya, hidup jadi lancar dan mudah,” Dave melanjutkan.

*Pelajarannya, apa pun yang kita butuhkan, apa pun yang terjadi, bawa kepada Tuhan.*
*He is The Best!*

So now we come freely and boldly to where love is enthroned, to receive mercy’s kiss and discover the grace we urgently need to strengthen us in our time of weakness.

Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles, Christianity

“Kepuasan atau Kepasrahan?”

“Kepuasan atau Kepasrahan?”

“Saya telah belajar dalam keadaan apa pun, untuk menjadi puas.” (Filipi 4:11 KJV)

Jangan bingung antara kepuasan dengan berpuas diri.
Tuhan tidak menginvestasikan Anak-Nya, Roh-Nya, Firman-Nya, penyediaan-Nya, otoritas-Nya, iman-Nya, perlengkapan senjata-Nya, dan kunci-kunci kerajaan-Nya ke dalam diri kita supaya dapat menjalani kehidupan pasrah secara pasif [Que-sera-sera].

Kepuasan sejati adalah kedamaian di tengah situasi apa pun, tetapi bukan penerimaan pasif atas setiap situasi. Kepuasan tercipta karena menyadari kuasa Kristus yang ada di dalam diri kita untuk mengatasi setiap pencobaan dan memenuhi tujuan Tuhan dalam hidup kita dengan penuh sukacita.

Beberapa orang Kristen menyerah secara pasif, menerima kemiskinan sebagai kehendak Tuhan dan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa fatalisme (paham bahwa hidup manusia dikuasai nasib yang tidak bisa diubah) yang mereka anut adalah sebuah kebajikan. Yang lain belajar menyesuaikan diri dengan penyakit, kesedihan, dan depresi.

Bagi mereka yang hidup oleh iman memahami, Tuhan ingin melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
Efesus 3:20 (TB).
Dengan iman dan kesabaran kita mewarisi janji Tuhan, bukan dengan fatalisme dan kepasrahan.

Paulus tahu bagaimana berkekurangan dan berkelimpahan (Filipi 4:12). Namun, saat-saat berkekurangan, Paulus tidak menyerah pada nasib dan putus asa. Dalam beberapa ayat sebelumnya Paulus menulis, hendaknya kita selalu bersukacita di dalam Tuhan, dan kemudian diikuti dengan mengatakan,
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Filipi 4:6-7 (TB)

Tanggapan Paulus pada saat dalam kebutuhan, adalah pergi kepada Tuhan dengan doa dan ucapan syukur.
“Kepuasannya” adalah “tidak kuatir tentang apa pun.”
Dia tidak “tidak melakukan sesuatu”.
Imannya melihat penyediaan yang akan datang.

Itulah sebabnya Paulus bersukacita atas pemberian orang Filipi, sehingga pengorbanannya menginspirasi Paulus untuk berkata,
“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”
Filipi 4:19 (TB)

Kepuasan sejati mengucap syukur untuk tuaian yang akan datang, bukannya menyerah.

[Repost ; “Contentment or Resignation?”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

Read More
Self Motivation, Seruput Kopi Cantik

Belajar Mendengarkan Suara Tuhan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Belajar Mendengarkan Suara Tuhan.

Nyaris hampir tidak pernah Tuhan berbicara secara audibel pada kita, kecuali dalam beberapa kasus tertentu dan pada orang tertentu pula. Kebanyakan Tuhan berbicara melalui firman-Nya, ada juga yang melalui mimpi. Semakin fokus dengan Tuhan dan firman-Nya, kadang- kadang kita ‘tahu’ dengan sendirinya. Ini yang gak mudah, bisa benar tetapi bisa juga salah.

Nach agar bisa mendengarkan suara-Nya butuh jam terbang.
Bertahun-tahun saya belajar dan berusaha mempraktekkan berbagai teori, hingga akhir-akhir ini merasakan ada kemajuan.

Darimana saya tahu?
Dari artikel-artikel yang saya post. Biasa saya berdoa, bertanya kepada Tuhan, artikel mana yang harus dipost hari ini.
Nach ada teman-teman yang dengan murah hati memberitahu,
“Yenny artikelmu menjadi jawaban bagi doaku.”

Ketika post artikel,
https://yennyindra.com/2020/08/dikhianati-terpojok-ini-rahasianya/,
chat dari P. Ruswir masuk.
“Renungannya pas Bu dengan kondisi saya saat ini.. kemarin saya kecewa berat karena partner saya gak pegang komitmen sehingga posisi saya terpojok dengan pihak lain, padahal di awal sudah sepakat… kemarin malam sebelum tidur, ini yang saya lakukan, akhirnya setelah itu, saya bisa tidur.
Dikirimnya capture bagian artikel ini:
Pelajarannya:
Jangan pernah putus asa. Daripada stress, marah, bete, bawa segala masalah kepada Tuhan, serahkan kepada-Nya…
Angin badai, gunung pun tunduk kepada-Nya, apalagi hanya sekedar pembisik, pengkhianat, tukang adu domba atau musuh dalam selimut. Tuhan bisa menyelesaikannya dengan cara yang jauh lebih baik daripada apa yang bisa kita pikirkan.

Pk.23.02 japri masuk dari B. Elly. “Sengaja artikel B. Yenny di grup EZ Writing Community saya ketik ulang, bukan copas,” ujarnya sambil bercerita. Rupanya B. Elly merasa terluka diperlakukan tidak adil. Dan artikel ini berbicara padanya. Pas!

Dengan mengamati hal-hal kecil semacam ini, saya mulai paham…
Oh kalau begini artinya dorongan dari Tuhan. Tuhan menyuruh saya post artikel tertentu, karena Tuhan ingin memakainya sebagai jawaban untuk teman-teman tertentu. Saat menulis pun saya kadang heran, ada kata-kata yang jarang dipakai, bahkan terpikir pun tidak, tapi mengalir saat menulisnya. Itu Tuhan, bukan saya.

Dan ini membuat saya bersukacita. Berarti saya sedang berjalan pada track yang benar. Dan saya juga merasa dekat dengan teman – teman pembaca. Sehati. Ada kebersamaan. Ada benang merah yang terjalin. Ikut merasakan pergumulan mereka dan bisa ikut mendoakannya.

Ada kalanya merasa yakin ini dari Tuhan, ternyata salah.
Mendengarkan suara Tuhan itu dimulai dengan membangun sebuah hubungan-relationship, yang harus dibangun terus menerus dari waktu ke waktu. Banyak mendengar pelajaran dan kesaksian dari para guru serta teman-teman, disamping rutin merenungkan firman-Nya, membantu sekali untuk lebih mengerti kehendak-Nya.

Yang kerap terjadi, kadang kita bisa mendengar & mengerti kehendak-Nya, dan kadang tidak. Seolahh kehilangan signal. Yang dikejar tentunya hidup yang senantiasa dipimpin oleh Tuhan. Signal ON terus. Itu kunci hidup sukses, berkemenangan dan penuh sukacita. Hidup yang the best.

Ada waktunya, bingung bener gak sich Tuhan mau saya melakukan hal ini?
Saya bertanya pada diri sendiri:
– Apakah ini sesuatu yang baik?
– Apakah saya bisa?
Kalau ya, saya memilih melakukannya.
Daripada sesungguhnya Tuhan mau tetapi saya tidak taat, lebih baik dilakukan meski gak yakin. Toh ini sesuatu yang baik. Tuhan pasti suka dan menghargainya.

Bagaimana jika saya salah bertindak?
Tuhan Mahabaik. Dia akan mengubah kesalahan kita menjadi kebaikan. Percayalah.

Sesungguhnya Tuhan senantiasa berbicara. Masalahnya, kerapkali suara-suara dunia di sekeliling kita terlalu bising sehingga kita tidak bisa mendengar, saat Tuhan berbicara.

Namun Tuhan melihat motivasi dan kesungguhan hati kita untuk mencari dan mengutamakan Dia… Tuhan akan menemui kita di setiap level iman yang kita miliki.

Yuk belajar sama-sama hidup dipimpin Tuhan senantiasa!

The steps of a good man are ordered by the Lord, and he takes delight in his way.

Langkah-langkah orang benar ditetapkan oleh Tuhan, dan dia menikmati perjalanannya.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles, Christianity

“Apakah kita hidup dari jiwa atau dari roh kita?”

“Apakah kita hidup dari jiwa atau dari roh kita?”

Kebanyakan dari kita begitu terbiasa hidup dari jiwa, sehingga ketika kita lahir baru, kita benar-benar tidak berubah. Kita tetap hidup dari jiwa, meski pun menggunakan kosakata rohani. Perasaan dan emosi terus menerus mendominasi, kemudian bertanya-tanya mengapa kita tidak melihat janji Tuhan terjadi dalam hidup kita.

Bagaimana kita tahu apakah kita hidup dari jiwa kita?

1. Kita dimotivasi oleh perasaan.
Perasaan sedih, marah, kepahitan, takut, depresi, penuh kedukaan, dll., adalah sesuatu yang normal, bahkan diharapkan.
Kita mengevaluasi hari-hari kita berdasarkan berbagai perasaan. Berdoa atau membaca Firman hanya saat kita menginginkannya. Kita mudah lelah.

2. Kehidupan doa Anda (jika Anda berdoa) dimotivasi oleh emosi.
Anda hanya berdoa karena ketakutan, kesedihan, simpati atau kesedihan. Doa didasarkan pada reaksi emosional, bukannya visi rohani.

3. Kita mengizinkan panca indra kita mengevaluasi pertumbuhan rohani dan berkat Tuhan.
Hanya mempercayai apa yang kita lihat dan rasakan. Membiarkan tubuh kita memberi tahu apakah kita sembuh atau tidak. Firman Tuhan bukanlah otoritas terakhir. Iman bergantung pada apa yang terlihat, bukan pada yang tak terlihat.

Hidup dari Roh adalah dimensi kehidupan yang berbeda.

1. Kita dimotivasi oleh Firman.
Percaya pada apa yang tertulis, melebihi apa yang kita rasakan.
Memilih bersyukur, gembira dan positif.
Mengevaluasi hari kita berdasarkan benih-benih yang telah kita taburkan kepada orang lain. Bahkan kita mempersembahkan korban pujian jika perlu. Menolak membiarkan emosi mengalihkan perhatian kita dari Kebenaran.

2. Kehidupan doa kita dimotivasi oleh visi kemenangan, janji Tuhan dan kasih.
Mengijinkan Tuhan menunjukkan kemenangan sebelum kita berdoa.
Doa artinya bekerja sama dengan kehendak Tuhan, tidak mengemis dan mengeluh, tidak takut berharap.
Memilih untuk berdiri teguh di atas kebenaran Firman dan mengabaikan laporan negatif.
Pewahyuan lebih penting daripada informasi.

3. Kita mengharapkan agar Firman Tuhanlah yang mengatur jalan hidup kita.
Mengevaluasi hidup berdasarkan visi tentang janji dan berkat Tuhan yang bekerja untuk kita. Memiliki pandangan positif berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan emosi dan keadaan sementara.
Sadar, bahwa kita lebih dari pemenang dan hidup berkelimpahan adalah milik kita karena iman.

Hidup dari Roh tersedia untuk semua orang. Apakah kita memilihnya?

[Repost ; “Are you living from your soul or from your spirit?”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

Read More
1 280 281 282 283 284 404