Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Name it, Claim it!

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Name it, Claim it!

Kebanyakan orang langsung pasang alis ketika mendengar frasa ini. Name it, claim it! Wah… itu sih teologi kemakmuran! Ajaran sesat! Katanya begitu.

Tapi tunggu dulu…
Tahukah kita, bahwa setiap orang percaya yang lahir baru sebenarnya sudah menjalani prinsip ini?

Mari kita lihat dari awal. Saat seseorang percaya kepada Yesus, lalu mengakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia diselamatkan. Itu bukan karena usaha, bukan karena ritual tertentu, bukan pula karena hasil kerja keras. Kita cukup percaya dalam hati, dan mengaku dengan mulut — dan selamat!
Nah, bukankah itu sama dengan ‘Name it, Claim it’?

Istilah “Name it, Claim it” sering dipakai untuk menggambarkan iman yang salah kaprah: seolah-olah cukup menyebut sesuatu, maka otomatis kita berhak memilikinya. Banyak yang mengkritik karena dipahami seperti “sulap rohani” atau “keinginan daging dibungkus iman.”

Namun kalau kita luruskan sesuai Firman Tuhan, maknanya bukan sembarangan klaim, melainkan: “Deklarasikan janji Tuhan dan terimalah dengan iman.”

Tuhan sudah menawarkan keselamatan itu dalam Perjanjian Baru. Dan kita tinggal mengklaim dengan iman.
Bukan kita yang menciptakan janji itu. Tuhan yang lebih dulu menyediakannya.
Kita hanya percaya dan mengambilnya.

Dalam hal keselamatan, orang Kristen hampir tidak pernah protes.
Tapi giliran menyangkut kesembuhan, damai sejahtera, kecukupan, perlindungan, sukacita, hikmat, dan semua janji lainnya yang sudah dinamai oleh Tuhan dalam penebusan Kristus — langsung jadi kontroversi.

Padahal, prinsipnya sama.
Kalau Tuhan sudah menjanjikan dan menyediakannya, artinya kita boleh menerimanya.
Kita tidak sedang memaksa Tuhan. Kita hanya menerima apa yang sudah Dia sediakan.

Yesus sudah menang di salib. Artinya, semua manfaat dari penebusan — keselamatan, kesehatan, berkat, kedamaian, kemenangan atas dosa dan iblis — itu semua sudah jadi milik kita.
Ibarat rekening bank, isinya sudah ada. Tinggal kita ambil sesuai kebutuhan.
Tetapi banyak orang hidup seperti pengemis rohani.
Sudah punya warisan, tapi tidak pernah dicairkan. Sudah punya janji, tapi tidak pernah diklaim.

Kenapa?
Karena kita belum paham. Atau takut dikira serakah. Atau diajari bahwa Tuhan hanya memberi kepada orang-orang tertentu.
Padahal, Firman Tuhan berkata, “Segala janji Allah dalam Kristus adalah ‘ya’ dan ‘amin.’” (2 Korintus 1:20)
Artinya, boleh! Bahkan harus!
Itu bukan arogansi. Itu iman.

Tapi…
Bukan berarti kita bisa seenaknya menamai apa yang kita mau, lalu mengklaim seenaknya juga.
Bukan berarti kita bisa asal “speak – asal menyebutkan” mobil mewah, rumah megah, dan pasangan idaman tanpa dasar Firman.
Tuhan tidak menjanjikan semua keinginan kita.

Yang bisa kita klaim adalah apa yang sudah disediakan dalam penebusan Kristus.
Kita perlu tahu identitas, panggilan, dan tujuan hidup kita.
Iman itu bekerja kalau selaras dengan kehendak Tuhan — bukan sekadar menuruti hawa nafsu.

Ada batas yang jelas antara iman dan ambisi pribadi.

Karena itu penting bagi kita untuk belajar dan mengenal isi perjanjian yang sudah Tuhan berikan kepada kita.
Semakin kita tahu siapa kita di dalam Kristus, semakin berani kita hidup dalam otoritas anak-anak Allah.
Tuhan senang kalau kita percaya penuh kepada-Nya. Dia tidak pelit. Dia Bapa yang baik.

Kalau kita tidak berani percaya dan mengklaim, bukan karena Tuhan tidak mengasihi kita.
Seringkali karena kita tidak tahu bahwa janji itu sebenarnya milik kita.
Iblis suka menipu. Membuat kita merasa tidak layak, minder, atau ragu-ragu.
Padahal justru iman yang percaya kepada janji Tuhan itulah yang membuat kita menang.

Jadi…
Apakah kita masih takut dibilang ikut teologi “name it, claim it”?
Biarlah orang berkata apa saja.
Yang penting, kita tahu siapa identitas kita di dalam Kristus. Kita tahu apa yang sudah Tuhan sediakan. Dan kita berani mengambilnya dalam iman.

Bersyukurlah karena Tuhan kita bukan Tuhan yang pelit.
Dia sudah siapkan segalanya. Sekarang tinggal kita… name it… and claim it!

“Faith only appropriates what God has already provided by grace.” – Andrew Wommack.

“Iman hanya mengambil apa yang sudah Allah sediakan melalui kasih karunia” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Menang Bukan dengan Argumen, Tapi dengan Damai…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menang Bukan dengan Argumen, Tapi dengan Damai…

Kita sering keliru menyalurkan beban hati ketika ada masalah dengan orang terdekat. Saat berselisih dengan pasangan, kita justru curhat kepada teman kantor. Sebaliknya, ketika bermasalah dengan teman kantor, kita pulang dan curhat kepada pasangan. Rasanya lebih mudah, tetapi jelas bukan solusi. Masalah tidak akan selesai dengan dipindahkan ke telinga orang lain. Yang terjadi, kita hanya memindahkan sampah hati.

Henry Cloud menegaskan, diam hanya membuat orang lain menebak-nebak. Gosip tidak pernah menyelesaikan apa pun. Solusi datang saat kita berani bicara langsung, dengan jelas dan penuh kasih, kepada orang yang bersangkutan.

Saya belajar dari 40 tahun pernikahan, ada hal-hal yang tidak bisa saya ubah pada pasangan saya, sebagaimana ada bagian diri saya yang tidak bisa dia ubah. Sama halnya dengan persahabatan. Ada sisi-sisi yang memang tidak bisa kita pengaruhi.

Saat itu, doa Serenity Prayer menjadi pegangan:
“Tuhan, berikanlah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa kuubah, dan hikmat untuk membedakan keduanya.”

Hidup ternyata bukan tentang menang atau kalah, bukan soal siapa benar siapa salah, tetapi tentang kebijaksanaan dalam menjalani kebenaran.

Dr. Wayne Dyer pernah berkata, “When given the choice between being right and being kind, choose kind.” – “Ketika diberi pilihan antara bersikap benar dan bersikap baik, pilihlah yang baik.”

Betapa dalam maknanya. Banyak pertengkaran dalam hubungan sebenarnya bisa berakhir lebih cepat bila kita berani menaruh ego di bawah kasih. Menjadi benar itu penting, tetapi menjadi baik jauh lebih berdampak. Kita tidak kehilangan apa pun saat memilih mengalah, sebaliknya justru memperoleh damai.

Sering orang takut, “Kalau saya diam, nanti apa kata orang?” Padahal hidup bukan tentang pembenaran di mata manusia.
Pepatah Jawa berkata, Becik ketitik, olo ketoro.Kebenaran akan muncul dengan sendirinya. Firman Tuhan mengingatkan kita,

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.”

Janji Tuhan inilah yang membuat hati tenang. Emas, meski dibuang ke tempat sampah, tetap bersinar. Sementara kuningan, meski dipajang di tempat terhormat, pada waktunya akan menghitam dimakan usia. Tuhan itu setia dan adil. Percayalah, Dia sanggup menyingkapkan yang benar pada waktunya.

Orang yang bijak tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Mereka tidak sibuk mencari kemenangan kecil dalam debat, tetapi fokus menjaga damai yang lebih besar. Menang argumen hanya memuaskan ego sesaat, tetapi merusak hubungan jangka panjang. Orang di sekitar kita justru lebih menghargai mereka yang memilih damai daripada yang sibuk membuktikan diri.

Dalam pernikahan, prinsip ini menjadi kunci. Banyak orang beranggapan menikah berarti “happily ever after. -bahagia selamanya.”
Kenyataannya, pernikahan bukan dongeng, melainkan perjalanan panjang dua orang dengan karakter, kelemahan, dan latar belakang berbeda. Tidak ada pasangan yang sempurna. Konflik tidak bisa dihindari. Yang menentukan langgengnya sebuah pernikahan bukan ketiadaan konflik, melainkan kemampuan untuk mengampuni berkali-kali.

Voddie Baucham mengatakan, pernikahan bukan tentang “happily ever after – bahagia selamanya,” melainkan “forgiveness ever after – mengampuni selamanya” dan “reconciliation ever after – rekonsiliasi terus menerus selamanya.” Inilah kebenaran yang saya amini setelah empat dekade hidup bersama pasangan saya.

Hubungan apa pun—dengan pasangan, sahabat, atau rekan kerja—hanya bisa bertahan kalau kita berani bicara jujur, mengampuni, dan tidak menumpuk sampah hati. Kadang, pilihan terbaik bukan membuktikan siapa benar, tetapi menciptakan damai, menerima dengan lapang dada, dan membiarkan kasih menutupi kelemahan.

Albert Einstein pernah berkata, “Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.” Damai tidak bisa dipaksakan, tetapi tumbuh dari pengertian.
Dan pengertian hanya lahir dari hati yang mau mendengar, mengalah, dan mengampuni.

Doa Santo Fransiskus Asisi yang di post dr. Daniel Wijaya apiiik:

TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang. Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur; mengerti daripada dimengerti; mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal. Amin.

Yuk praktik…..

Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.” – Mother Teresa

“Kata-kata baik bisa singkat dan mudah diucapkan, tetapi gema pengaruhnya tidak berkesudahan – Mother Teresa

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Menang Bukan dengan Argumen, Tapi dengan Damai…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menang Bukan dengan Argumen, Tapi dengan Damai…

Kita sering keliru menyalurkan beban hati ketika ada masalah dengan orang terdekat. Saat berselisih dengan pasangan, kita justru curhat kepada teman kantor. Sebaliknya, ketika bermasalah dengan teman kantor, kita pulang dan curhat kepada pasangan. Rasanya lebih mudah, tetapi jelas bukan solusi. Masalah tidak akan selesai dengan dipindahkan ke telinga orang lain. Yang terjadi, kita hanya memindahkan sampah hati.

Henry Cloud menegaskan, diam hanya membuat orang lain menebak-nebak. Gosip tidak pernah menyelesaikan apa pun. Solusi datang saat kita berani bicara langsung, dengan jelas dan penuh kasih, kepada orang yang bersangkutan.

Saya belajar dari 40 tahun pernikahan, ada hal-hal yang tidak bisa saya ubah pada pasangan saya, sebagaimana ada bagian diri saya yang tidak bisa dia ubah. Sama halnya dengan persahabatan. Ada sisi-sisi yang memang tidak bisa kita pengaruhi.

Saat itu, doa Serenity Prayer menjadi pegangan:
“Tuhan, berikanlah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa kuubah, dan hikmat untuk membedakan keduanya.”

Hidup ternyata bukan tentang menang atau kalah, bukan soal siapa benar siapa salah, tetapi tentang kebijaksanaan dalam menjalani kebenaran.

Dr. Wayne Dyer pernah berkata, “When given the choice between being right and being kind, choose kind.” – “Ketika diberi pilihan antara bersikap benar dan bersikap baik, pilihlah yang baik.”

Betapa dalam maknanya. Banyak pertengkaran dalam hubungan sebenarnya bisa berakhir lebih cepat bila kita berani menaruh ego di bawah kasih. Menjadi benar itu penting, tetapi menjadi baik jauh lebih berdampak. Kita tidak kehilangan apa pun saat memilih mengalah, sebaliknya justru memperoleh damai.

Sering orang takut, “Kalau saya diam, nanti apa kata orang?” Padahal hidup bukan tentang pembenaran di mata manusia.
Pepatah Jawa berkata, Becik ketitik, olo ketoro. Kebenaran akan muncul dengan sendirinya. Firman Tuhan mengingatkan kita,

“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.”

Janji Tuhan inilah yang membuat hati tenang. Emas, meski dibuang ke tempat sampah, tetap bersinar. Sementara kuningan, meski dipajang di tempat terhormat, pada waktunya akan menghitam dimakan usia. Tuhan itu setia dan adil. Percayalah, Dia sanggup menyingkapkan yang benar pada waktunya.

Orang yang bijak tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Mereka tidak sibuk mencari kemenangan kecil dalam debat, tetapi fokus menjaga damai yang lebih besar. Menang argumen hanya memuaskan ego sesaat, tetapi merusak hubungan jangka panjang. Orang di sekitar kita justru lebih menghargai mereka yang memilih damai daripada yang sibuk membuktikan diri.

Dalam pernikahan, prinsip ini menjadi kunci. Banyak orang beranggapan menikah berarti “happily ever after. -bahagia selamanya.”
Kenyataannya, pernikahan bukan dongeng, melainkan perjalanan panjang dua orang dengan karakter, kelemahan, dan latar belakang berbeda. Tidak ada pasangan yang sempurna. Konflik tidak bisa dihindari. *Yang menentukan langgengnya sebuah pernikahan bukan ketiadaan konflik, melainkan kemampuan untuk mengampuni berkali-kali*.

*Voddie Baucham mengatakan, pernikahan bukan tentang “happily ever after,” melainkan “forgiveness ever after” dan “reconciliation ever after.”* Inilah kebenaran yang saya amini setelah empat dekade hidup bersama pasangan saya.

Hubungan apa pun—dengan pasangan, sahabat, atau rekan kerja—hanya bisa bertahan kalau kita berani bicara jujur, mengampuni, dan tidak menumpuk sampah hati. Kadang, pilihan terbaik bukan membuktikan siapa benar, tetapi menciptakan damai, menerima dengan lapang dada, dan membiarkan kasih menutupi kelemahan.

&Albert Einstein pernah berkata, “Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.” Damai tidak bisa dipaksakan, tetapi tumbuh dari pengertian*. Dan pengertian hanya lahir dari hati yang mau mendengar, mengalah, dan mengampuni.

Doa Santo Fransiskus Asisi yang di post dr. Daniel Wijaya apiiik:

TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang. Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur; mengerti daripada dimengerti; mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal. Amin.

Yuk praktik…..

Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.” – Mother Teresa

“Kata-kata baik bisa singkat dan mudah diucapkan, tetapi gema pengaruhnya tidak berkesudahan – Mother Teresa

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Diterima, Baru Bisa Menerima – Kasih yang Menyembuhkan

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Diterima, Baru Bisa Menerima –
Kasih yang Menyembuhkan

Hati manusia itu unik. Ketika ia merasa ditolak, ia bisa berubah keras, dingin, dan pahit. Tapi ketika ia merasa diterima dan dikasihi—meski sedang dalam keadaan paling buruk—ada sesuatu yang melembut. Yang retak bisa pulih. Yang tersesat bisa pulang.

Franklin Graham, anak dari penginjil besar Billy Graham, tahu betul rasanya diterima tanpa syarat. Dalam otobiografinya Rebel with a Cause, ia menceritakan masa mudanya yang liar, keras kepala, dan jauh dari kehidupan rohani. Ia mencoba berbagai hal untuk mencari identitas—rokok, alkohol, balapan motor, hingga keluar masuk sekolah.

Pernah satu hari, dengan suara bising Harley Davidson dan jaket kulit dekil, Franklin menerobos masuk ke ruang tamu, tempat ayahnya sedang menjamu tamu-tamu penting. Cambangnya lebat, wajahnya berdebu, dan suaranya menuntut uang.

Situasi memalukan? Jelas.

Tapi Billy Graham tidak berkata, “Maaf ya, anak saya sedang bermasalah.”
Sebaliknya, ia berdiri, tersenyum, dan berkata dengan bangga, “Ini anak saya, Franklin.”

Tanpa penjelasan. Tanpa pembelaan.

Di saat banyak orang memilih menjaga image, Billy memilih menjaga hati anaknya. Ia tahu, harga diri Franklin lebih berharga dari reputasi di mata publik.
Dan kasih itulah yang akhirnya meluluhkan hati Franklin, membawa dia kembali pada Tuhan, dan menjadikannya pewaris pelayanan besar ayahnya.

Hari ini, Franklin Graham dikenal sebagai Presiden dari Samaritan’s Purse, sebuah organisasi kemanusiaan yang melayani korban bencana, perang, dan kelaparan di seluruh dunia. Ia juga memimpin Billy Graham Evangelistic Association (BGEA), dan sering diundang untuk berdoa bersama Presiden Amerika Serikat serta para pemimpin dunia. Tapi semua itu tidak dimulai dari panggung. Semuanya dimulai dari satu pelukan kasih di tengah pemberontakannya.

Karena Franklin pernah mengalami kasih yang menerima, ia pun belajar menjadi pribadi yang menerima.

Bertahun-tahun kemudian, dunia menolak seorang penginjil bernama Jim Bakker. Ia dipenjara karena kasus keuangan. Yang tadinya dielu-elukan, kini membersihkan toilet penjara. Di titik itu, Billy Graham datang. Tanpa kamera. Tanpa panggung. Ia memeluk Jim dan berkata, “Jim, I love you.”

Pelukan itu bukan basa-basi. Itu kasih yang turun tangan saat semua orang menjauh.

Franklin ikut turun tangan. Ia berkali-kali datang ke penjara, menyemangati Jim dan para napi lainnya. Ruth Graham, istri Billy, bahkan menelepon dan mengundang Jim duduk bersama mereka di gereja. Ruth menepuk kursi di sebelahnya dan berkata, “Aku ingin kamu duduk di sini.” Setelah ibadah, mereka makan malam bersama.
Saat melihat Jim membawa amplop sebagai dompet (karena di penjara dompet dilarang), Ruth masuk dan keluar lagi membawa dompet Billy Graham.
“Billy nggak butuh ini sekarang. Kamu pakai saja,” katanya lembut.

Franklin bahkan menyediakan rumah, mobil, dan pendampingan agar Jim bisa membangun kembali hidupnya. Semua itu bukan karena Jim layak. Tapi karena Franklin ingat: dulu aku pun tidak layak, tapi tetap diterima.

Itulah kekuatan kasih yang menerima.

Bukan hanya menyelamatkan hubungan. Tapi menyelamatkan hidup seseorang.

Banyak dari kita cepat menuntut perubahan orang lain, tapi lupa bahwa hati seseorang tidak akan pernah berubah karena dikritik. Hati berubah karena dikasihi.
Bukan saat dia sempurna, tapi justru saat dia paling rapuh.

Tuhan pun memperlakukan kita begitu. “Tuhan rela mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
Artinya, Dia menerima kita dulu, baru mengubahkan.

Kalau kita sudah menerima kasih seperti ini, maka kita pun bisa menjadi salurannya bagi orang lain. Tidak harus dengan khotbah. Tapi lewat pelukan, telepon, atau sekadar berkata, “Aku di sini buat kamu.”

Dunia tidak butuh lebih banyak penghakiman.
Dunia butuh lebih banyak orang yang berani mengasihi seperti Kristus.

Dan kuncinya sederhana:
Ketika kita diterima, kita lebih mudah menerima. Ketika kita dikasihi, kita pun bisa mengasihi.
Di situlah wajah Tuhan terlihat di dunia.

“The people who are hardest to love are the ones who need it the most.”
— Rick Warren

“Orang yang paling sulit dikasihi justru sering yang paling membutuhkan kasih.”
— Rick Warren

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Foto, Tiktok, dan Tuhan: Bagaimana Kehadiran Orang Lain Mengubah Hidup”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Foto, Tiktok, dan Tuhan: Bagaimana Kehadiran Orang Lain Mengubah Hidup”

Teman-teman memperhatikan nggak, akhir-akhir ini quotes-quotes saya disertai foto-foto cantik, lengkap dengan keterangan: photo by: Jani Wiguna?

Jani ini teman baru saat perjalanan ke Xinjiang. Saat kami sibuk bergaya di spot-spot foto yang instagramable, Jani justru sibuk memotret kami satu per satu. Beda, ya! Setelah ngobrol, saya baru tahu ternyata dia memang serius menekuni dunia fotografi. Bukan sekadar hobi, tapi penuh dedikasi.

Baru-baru ini, dia khusus ke Bromo. Tujuannya? Bukan healing, bukan sekadar menikmati sunrise, tapi menanti berjam-jam hanya demi menangkap momen dua burung saat paruhnya saling bersentuhan secara simetris.
Wow… fotografer sejati memang punya cara pandang yang berbeda. Hal-hal biasa yang kita anggap sepele, seperti pagar tembok yang terkena sinar matahari, di tangannya bisa berubah jadi latar yang membentuk garis cahaya yang unik dan menawan. Saya pun ikut minta difoto di situ.
Hasilnya? Cantik dan artistik!

Karena kagum, saya pun minta izin untuk pakai karya-karyanya di postingan saya. Rasanya bangga bisa menampilkan hasil karya teman sendiri yang luar biasa.

Semuanya ini sebenarnya berawal dari trip ke Nepal dan Bhutan. Biasanya, kalau tour selesai ya sudah—bubar jalan. Tapi kali ini beda. Berkat inisiatif Amelia, kami kopdar di rumah dr. Daniel dan Tjuarty, yang masakannya kreatif dan unik banget. Dari situ kami jadi semakin akrab. Rupanya, like attracts like. Sama-sama suka jalan-jalan, tapi gak harus selalu bareng. Kadang ke satu tempat dengan teman ini, lain waktu dengan yang lain. Ada yang sudah pernah ke tujuan tertentu, jadi gak ikut. Tapi tetap saling berbagi info dan semangat.

Ajaibnya, teman dari teman juga asyik. Dari berbagai kota, berbagai profesi, tapi tetap bisa klop. Itinerary baru diposting, list peserta langsung penuh. Gak pakai drama, gak pakai ribet. Semuanya saling mengerti dan menikmati.

Nach .. menurut dr. Handrawan Nadrasul dalam talkshow ” Itu Perlu” dengan P. Antoh Thedy TX Travel, bertemu selama berhari-hari dengan teman-teman baru itu penting. Keluar dari rutinitas, merasa diterima, bisa saling berbagi maka hormon-hormon yang dibutuhkan muncul kembali.

Lucunya, sekarang ada teman baru, P. Siekah, si Tiktoker seru! Ke mana pun pergi, selalu bawa kamera kecil dan tongsis panjang. Kami sering heboh rebutan biar bisa masuk di TikTok-nya. Hahaha… seru! Selain itu, P. Siekah juga kreatif dan suka melucu, bikin suasana makin hidup. Tanpa disadari, momen-momen yang tadinya biasa saja, jadi kenangan yang menyenangkan dan penuh warna.

Ketika orang-orang dengan minat yang sama berkumpul dan saling mendukung, muncullah sinergi. Info mengalir dengan lancar. Segala sesuatu jadi lebih mudah dan ringan. Bahkan beberapa teman mulai kerjasama bisnis. Dapat partner, dapat teman, dapat rejeki juga. Win-win!

Tuhan memang baik. Saya percaya, gak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Ada orang-orang yang dikirim Tuhan jadi ‘guru kehidupan’, yang mengajari kita hal-hal penting yang kita butuhkan. Mereka mendorong kita naik ke tempat yang gak bisa kita capai sendirian.

Mei Tjien, misalnya, membimbing saya untuk menjalani Intermittent Fasting dan menang di area ini. Kristina memberi saya kesempatan ikut cruise dengan harga spesial. Mereka adalah ‘malaikat-malaikat’ Tuhan yang hadir dalam wujud manusia.

Namun ada juga orang-orang yang perlu kita pengaruhi—supaya hidup mereka jadi lebih baik karena mengenal kita. Bukankah kita ini duta Kerajaan Allah? Tuhan ingin kita jadi Terang dan Garam. Membawa rasa. Memberi arti. Menghadirkan kehangatan di tengah dunia yang semakin dingin dan individualis.

Tidak ada seorang pun yang bisa naik sendirian. Setiap kita butuh orang lain. Dan hidup kita bukan lagi milik kita sendiri. Kita ini bejana, saluran yang mengalirkan kasih, hikmat, dan kemuliaan Tuhan kepada dunia.

Jadi, kalau hari ini ada sesuatu yang baik terjadi dalam hidup kita, ada pencapaian yang diraih, jangan pernah berpikir itu karena kita hebat. Bukan. *It’s all about God, not us*. Semua tentang Dia. Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Yuuuk praktik… jadi terang dan garam yang nyata, di mana pun kita ditempatkan!

“Small people talk about themselves. Great people lift others up.” – Rick Warren

“Orang biasa membicarakan dirinya sendiri. Orang besar mengangkat orang lain.” – Rick Warren

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 21 22 23 24 25 404