Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

“Cita-Cita New York Times, Realistiskah?” (Part 1)

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Cita-Cita New York Times, Realistiskah?” (Part 1)

Sejak kecil saya suka sekali membaca buku. Saya masih ingat betul, waktu itu setiap kali membaca buku bagus, di sampulnya selalu tertulis: “New York Times Best Seller.” Kata itu seperti punya daya magis tersendiri. Saya tidak tahu apa New York Times itu, atau seberapa besar dunia, tapi di benak saya kecil, yang punya tulisan New York Times pasti hebat luar biasa.

Dari sanalah, muncul cita-cita yang bagi anak kecil di masa itu, mungkin terlalu tinggi: saya ingin keliling dunia. Waktu itu tidak ada internet, tidak mudah mencari informasi. Tapi setiap kali saya melihat gambar-gambar di kalender—pemandangan indah, pegunungan bersalju, menara-menara megah di negeri jauh—saya tahu, dunia ini luas dan saya ingin melihatnya.

Setiap akhir tahun saya punya hobi: mengumpulkan kalender bergambar tempat-tempat indah di belahan dunia lain. Saya tidak tahu bagaimana caranya sampai ke sana, tapi hati saya penuh harapan dan imajinasi. Rasanya seperti sedang menggenggam mimpi lewat gambar.

Lalu saya membaca kata-kata Dale Carnegie yang menempel di benak saya sampai sekarang:

“Shoot for the moon and if you miss you will still be among the stars”.

“Tembaklah bulan dan kalau pun meleset, Anda masih akan berada di antara bintang-bintang.”

Artinya, jika punya cita-cita, pancangkanlah setinggi bulan. Kalaupun meleset, setidaknya kita masih berada di antara bintang-bintang.
Hhmmm…. sebaliknya, kalau cita-cita kita rendah dan meleset, ya jatuhnya tidak ke mana-mana.
Hidup cuma sekali dan tidak bisa diulang, karenanya realisasikan apa yang kita inginkan.
Itu semua tidak otomatis, kita yang harus merealisasikannya.

Sejak itu saya punya istilah pribadi: New York Times artinya menjadi yang terbaik di dunia.
Dunianya siapa? Ya dunia saya.
Dunia tempat Tuhan menempatkan saya untuk berkarya.
New York Times bukan soal masuk koran terkenal, tapi tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri, mengukir pencapaian yang berarti, dan meninggalkan jejak abadi.

Saya selalu terinspirasi oleh pemikiran ini: ketika seseorang meninggal tetapi namanya tetap disebut, sesungguhnya ia masih hidup—karena pengaruhnya belum berhenti.
Hidup seperti itu yang saya mau. Hidup yang berdampak.

Saya ingat, saat lulus dari Sekolah Charis, setiap murid diminta menuliskan apa yang diinginkan setelah lulus. Sebagian besar teman-teman menulis ingin menjadi volunteer di CBC. Tapi saya menulis, “Saya ingin membawa Kabar Baik sampai ke ujung bumi.”
Bagi saya, itulah makna sesungguhnya dari New York Times—menjangkau dunia, membuat perbedaan di setiap langkah yang Tuhan percayakan.

Anak-anak saya paham betul ketika saya bicara tentang New York Times.
Bagi kami, itu berarti menjadi yang terbaik dan berdampak sampai ke ujung bumi. Itu cara saya menanamkan semangat itu kepada mereka bukan lewat teori, tapi lewat kehidupan. Lewat tindakan, lewat mimpi yang dikerjakan, bukan sekadar diucapkan.

Itulah sebabnya saya mengatur agar blog saya: www.yennyindra.com, bisa dibaca dalam berbagai bahasa. Saya ingin apa yang saya tulis bisa menjangkau lebih banyak orang. Bukan demi popularitas, tapi karena saya sungguh ingin pesan kebaikan Tuhan dikenal oleh siapa pun, di mana pun. Bahkan setelah saya tidak ada di dunia ini, tulisan itu tetap berbicara.

Saya masih ingat reaksi seorang local guide di Nepal. Saat ia tahu fotonya muncul di artikel perjalanan saya dan artikel itu bisa dibaca dalam bahasa Nepal, wajahnya bersinar. Ia berkata ingin ibunya juga bisa membacanya. Saya tersenyum dalam hati—bukankah itu cara sederhana untuk menggenapi cita-cita New York Times?

Di berbagai Whatsapp Groups di mana saya mengirimkan artikel, tidak sedikit yang anggota-anggotanya teman dari Indonesia yang bermukim di berbagai belahan dunia. Ada teman-teman dekat di Eropa yang suka membagikan tulisan saya pada teman-temannya, karena blog saya bisa dibaca dalam bahasa ibu mereka. Menarik bukan?

Ada teman yang pernah salah mengerti, mengira saya ingin masuk New York Times secara harfiah.
Saya tersenyum dan menjawab, “Kalau memang bisa, why not?”
Karena siapa tahu, Tuhan bisa membawa kita melampaui apa yang kita pikirkan maupun doakan. Yang terpenting bukan topnya, tapi inspirasinya.

Bagi saya, setiap pencapaian, setiap kesempatan, hanyalah sarana untuk menyampaikan Kabar Baik dengan lebih efektif.
Kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa banyak harta dikumpulkan, seberapa hebatnya kita, tapi seberapa banyak hidup orang lain menjadi lebih baik karena mengenal kita. Dunia menjadi sedikit lebih baik karena kita ada di dalamnya.

Kita semua punya dunia masing-masing. Di situlah Tuhan menempatkan kita untuk bersinar.
Tugas kita bukan membandingkan, tapi mengerjakan bagian kita dengan sebaik mungkin, dengan hati yang tunduk, dan iman yang bekerja melalui kasih.

Dan rencana Tuhan tidak pernah bisa kita capai sendirian. Bukan ‘one man show.’
Rencana Tuhan hanya bisa direalisasikan dengan cara Tuhan, menggunakan kemampuan Tuhan, dan iman-Nya yang sudah didepositkan di dalam kita. Karena pada akhirnya, setiap pencapaian bukan hasil kerja keras kita, tapi hasil kerja Tuhan melalui kita. Kita hanya bejana yang mengalirkan-Nya, atau pena yang digunakan untuk menuliskan kisah-Nya.

Itulah versi saya tentang New York Times.
Menjadi yang terbaik di dunia yang Tuhan percayakan, dengan hati yang mau dipakai-Nya untuk menyentuh dunia di sekitar kita.
It’s all about God not us. Ini semua tentang Tuhan, bukan kita.

Setuju? Praktik yuk….

“Success is not measured by what you accomplish, but by the opposition you have encountered, and the courage with which you have maintained the struggle against overwhelming odds.” – Orison Swett Marden

“Kesuksesan bukan diukur dari apa yang kamu capai, tetapi dari keberanianmu untuk tetap berjuang di tengah tantangan yang besar.” – Orison Swett Marden

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kehidupan Orang Kristen Sejati…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kehidupan Orang Kristen Sejati…

Kehidupan orang Kristen sejati bukan sekadar menghadiri ibadah, membaca Alkitab, atau menyebut diri “percaya.” Orang Kristen sejati hidup karena Kristus tinggal di dalamnya. Ia bukan hanya meniru Yesus, tetapi menjadi bejana tempat Yesus sendiri mengalir. Seperti pena di tangan Sang Penulis, hidupnya menulis kisah tentang Allah — bukan lewat kata-kata indah, tapi lewat kehidupan yang nyata.

Kita sering berpikir kehidupan Kristen adalah perjuangan untuk menjadi lebih baik, lebih suci, lebih kuat. Tapi kebenarannya, bukan kita yang berusaha — Kristuslah yang hidup di dalam kita. Rasul Paulus menulis, “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20). Itulah inti kehidupan orang percaya: membiarkan Yesus menyalurkan hidup-Nya melalui kita.

Ketika kita lahir baru, roh kita dipenuhi dengan Allah sendiri. Anugerah terbesar bukan kesembuhan, bukan berkat jasmani, tetapi Allah yang tinggal di dalam roh kita. Di dalam Kristus, kita sudah memiliki “segala sesuatu yang berguna untuk hidup dan kesalehan” (2 Petrus 1:3). Itu artinya, Tuhan sudah menyiapkan segala yang kita perlukan untuk hidup berkemenangan, berbuah, dan memuliakan-Nya. Kita hanya perlu belajar hidup dari realitas itu — bukan dari kekuatan sendiri.

Kehidupan orang Kristen sejati bukanlah perjuangan untuk “mendapatkan” dari Tuhan, melainkan belajar menarik keluar apa yang sudah Ia berikan di dalam Kristus.
Kita bukan pengemis yang berdoa supaya Tuhan menoleh. Kita adalah anak-anak yang sudah memiliki warisan rohani, dan Tuhan ingin kita menikmatinya melalui iman.

Masalahnya, banyak orang masih berusaha keras menghidupi kekristenan dengan kekuatannya sendiri. Padahal kasih karunia berarti: kemampuan Allah menggantikan kelemahan kita. Ketika kita berhenti berjuang dan mulai percaya, kasih karunia itu bekerja. Paulus berkata, “Jangan menyia-nyiakan kasih karunia Allah.” Artinya, jangan kembali mengandalkan diri saat kekuatan Allah sudah tersedia.

Orang Kristen sejati hidup dengan kesadaran bahwa Kristus di dalam kita adalah sumber segala sesuatu. Kita tidak bekerja untuk memperoleh berkat, kita bekerja karena sudah diberkati. Kita tidak berdoa supaya Tuhan mencintai kita, kita berdoa karena kita sudah dicintai. Semua dimulai dari posisi in Christ — di dalam Dia.

Tuhan tidak memberi kita rencana lalu berkata, “Sekarang jalankan sendiri.” Tidak. Ia berkata, “Aku memenuhi engkau dengan Diri-Ku sendiri, supaya Aku bisa mengerjakannya melalui engkau.” Hidup dalam Kristus berarti membiarkan Dia menjadi hidup kita. Ia yang berpikir melalui kita, berbicara melalui kita, mengasihi orang lain melalui tangan kita.

Dan yang indah, Tuhan tidak hanya bekerja melalui kita — Ia juga memberi upah atas apa yang sebenarnya Ia lakukan lewat kita! Begitu luar biasa kasih karunia itu.

Hidup orang Kristen sejati penuh damai, sebab kita tidak lagi berjuang sendirian. Kita hanya perlu menjadi saluran tempat kasih dan kuasa Allah mengalir. Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Kelegaan itu bukan berarti kita berhenti beraktivitas, tapi artinya setiap aktivitas kini diisi oleh kekuatan Kristus. Ketika beban terasa ringan, itu karena Dia yang memikul bagian beratnya.

Kita tidak perlu lagi berdoa dengan takut-takut atau berharap Tuhan mendengar.
Ibrani 4:16 berkata, “Marilah kita dengan penuh keberanian datang ke takhta kasih karunia.”

Perhatikan, Tuhan tidak pernah berkata kapan kita harus pergi. Artinya, kita bisa tinggal di hadirat-Nya sepanjang hari. Hidup kita bisa menjadi doa yang terus berlangsung — bukan karena kita berlutut tanpa henti, tapi karena hati kita terhubung dengan Dia dalam setiap hal kecil yang kita lakukan.

Kehidupan orang Kristen sejati bukanlah kehidupan terpisah antara “spiritual” dan “sehari-hari.” Tuhan ingin kita membawa-Nya ke dapur, ke kantor, ke pasar, ke setiap percakapan. Hidup bersama Dia tidak dibatasi oleh waktu doa pagi; itu adalah kesadaran konstan bahwa Kristus menyertai dan bekerja melalui kita.

Saat hati kita menyadari hadirat-Nya, kehidupan menjadi ringan. Kita tidak lagi sibuk mengejar apa yang sudah dimiliki, tapi mulai menikmati Dia — Sang Pemberi hidup itu sendiri. Sebab hadiah terbesar bukanlah apa yang Tuhan berikan, melainkan Tuhan sendiri.

“The Christian life is not difficult — it’s impossible without Christ.”
— Hudson Taylor

“Hidup Kristen itu bukan sulit — tapi mustahil tanpa Kristus.”
— Hudson Taylor

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Diam Lebih Menguatkan daripada Membalas.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Diam Lebih Menguatkan daripada Membalas.

Sandra Bullock pernah membagikan sebuah pemikiran yang menyentuh:
“Ada saat-saat ketika dorongan untuk membalas terasa begitu kuat—membalas hinaan dengan hinaan, kekejaman dengan kekejaman. Tapi aku menghentikan diriku. Aku melihat lebih dekat. Aku memperhatikan luka mereka, beban mereka, bekas luka mereka. Dan aku sadar… hidup sudah cukup keras melawan mereka.”

Kalimat ini menggugah kesadaran bahwa di balik setiap sikap kasar seseorang, sering kali tersembunyi luka yang belum sembuh.
Banyak orang berjalan dengan wajah tegar, tapi jiwanya penuh retak. Kita tak pernah tahu beban apa yang mereka pikul diam-diam.

Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih yang lebih tinggi daripada sekadar balas membalas. Kasih yang bukan reaktif, tapi aktif. Bukan mengikuti logika dunia, tapi mencerminkan hati Tuhan. Kasih yang tidak menunggu orang lain berubah dulu baru bersikap baik, melainkan memilih untuk tetap baik, bahkan ketika dilukai.

Kasih yang seperti ini tidak muncul tiba-tiba. Harus dipilih.Secara sengaja kita mengambil keputusan, kita mau bertindak sesuai perintah-Nya. Sama seperti pengampunan. Bukan karena kita tidak merasa sakit, tapi karena kita menolak untuk hidup dalam kepahitan.

Kasih ilahi adalah keputusan sadar untuk tidak mencerminkan luka orang lain, tetapi mencerminkan Tuhan yang tinggal dalam kita.

Dalam dunia yang penuh reaksi cepat dan serba emosional, memilih diam kadang dianggap lemah. Padahal justru di situlah kekuatan sejati. Butuh kekuatan besar untuk tetap tenang saat disakiti. Butuh kedewasaan rohani untuk tidak membalas ketika disalahpahami. Butuh hati yang penuh Tuhan untuk berkata, “Aku tahu siapa aku di dalam Tuhan, dan aku tak perlu membuktikannya dengan amarah.”

Sering kali, Tuhan tidak meminta kita membalas atau menjelaskan. Dia hanya ingin kita percaya bahwa Dia melihat dan Dia akan bertindak. Dalam diam, kita menyerahkan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Dalam ketenangan, kita belajar menundukkan ego dan mempercayai hikmat-Nya.

Apa pun yang memenuhi hati kita, itulah yang akan keluar saat kita ditekan. Kalau kita dipenuhi kasih, maka saat disakiti pun yang keluar adalah pengampunan. Kalau kita dipenuhi damai, maka saat dilukai, kita tetap bisa tenang. Tapi kalau hati kita penuh kemarahan, luka, dan dendam… tak perlu banyak diguncang, kita pasti meledak.

Itulah sebabnya kita perlu terus mengisi batin kita dengan kebenaran Tuhan. Menyelaraskan pikiran dan respons dengan kasih-Nya. Menolak menjadi korban dari emosi atau provokasi orang lain. Kita bukan termometer yang berubah-ubah tergantung suhu sekitar, kita adalah termostat—yang mengatur suasana sekitar dengan damai yang dari Tuhan.

Hidup ini bukan soal menang debat atau siapa yang paling keras suara pembelaannya. Hidup ini tentang menjadi terang. Dan terang tidak perlu membela diri. Terang hanya perlu bersinar. Yang penting bukan penilaian orang, tapi persetujuan Tuhan.

Sandra Bullock menutup refleksinya dengan kata-kata sederhana namun kuat:

“Tidak semua pertempuran layak dijawab dengan kata-kata. Diam bisa menjadi jawaban yang paling tajam. Karena pada akhirnya, kita hanya bisa memberi dari apa yang memenuhi diri kita di dalam. Aku menolak mencerminkan luka mereka—aku memilih untuk melangkah maju. Biarlah kepahitan menguasai orang lain jika memang harus begitu. Aku memilih damai untuk jalanku.”

Dan itu juga panggilan bagi kita hari ini.
Bukan untuk jadi reaktif, tapi reflektif.
Bukan untuk mengalahkan orang, tapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.
Bukan untuk menyerang balik, tapi berdiri teguh dalam kasih.

Karena saat kita memilih kasih, kita sedang menabur sesuatu yang kekal.
Dan Tuhan—yang melihat segala yang tersembunyi—tak akan membiarkan kasih itu sia-sia.

“Returning hate for hate multiplies hate, adding deeper darkness to a night already devoid of stars.” – Martin Luther King Jr.

“Membalas kebencian dengan kebencian hanya memperbanyak kebencian, menambah kegelapan di malam yang sudah tanpa bintang” – Martin Luther King Jr.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Tiba-Tiba Hati Tak Lagi Nyaman? Bisa Jadi Tuhan Sedang Mengubah Arahmu!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Tiba-Tiba Hati Tak Lagi Nyaman? Bisa Jadi Tuhan Sedang Mengubah Arahmu!

Pernah merasa gelisah tanpa alasan yang jelas? Semua tampak baik-baik saja — pekerjaan berjalan lancar, pelayanan stabil, keluarga aman — tapi di dalam hati ada sesuatu yang mengganggu, seolah Tuhan sedang berbisik, “Ini bukan lagi tempatmu.”

Andrew Wommack pernah mengalaminya. Saat itu ia menggembalakan gereja di Seagoville, Texas. Segalanya baik. Jemaat bertumbuh, pelayanannya berhasil. Tapi tiba-tiba, dalam sekejap, hatinya berubah.
Ia menulis, “Kerinduan hati saya berubah dalam sekejap dan mendadak saya benci berada di Seagoville.”
Padahal sebelumnya ia sangat bahagia melayani di sana. Ia lalu berdoa, mencari Tuhan, dan dalam satu-dua jam, Tuhan memberi kejelasan: waktunya pindah.

Begitulah cara Tuhan menuntun kita — bukan lewat petir dari langit, tapi lewat kerinduan hati.
Roh Kudus menanamkan keinginan baru atau menghilangkan damai di tempat lama, supaya kita tahu saatnya bergerak ke fase berikutnya.
Kadang Tuhan tidak berkata “keluar sekarang”, tapi Ia mengubah rasa nyaman kita jadi tidak nyaman, agar kita mencari Dia lebih sungguh-sungguh.

Andrew menyebut hal ini “ketidakpuasan kudus.”
Bukan karena depresi atau kecewa, tapi karena Tuhan ingin membawa kita ke level berikutnya.
Ia menulis, “Depresi berasal dari dunia, tapi ketidakpuasan kudus berasal dari Allah. Ia memanfaatkannya untuk memberi arah kepada orang-orang percaya yang sungguh mencari-Nya.”

Saya pernah mengalaminya. Ada masa di mana sesuatu yang dulu saya cintai tiba-tiba tidak lagi menggairahkan. Dulu semangat, sekarang hambar. Saat saya berdoa, Tuhan menunjukkan bahwa musim itu memang sudah selesai.
Perasaan itu ternyata bukan salah, tapi tanda bahwa Tuhan sedang mengarahkan saya ke tempat baru.

Andrew berkata, “Anda tidak beranjak dari tidak berada dalam kehendak Allah lalu tiba-tiba berada di pusat kehendak-Nya. Itu proses yang terjadi secara progresif.”
Artinya, menemukan dan mengikuti kehendak Tuhan adalah perjalanan bertahap.
Tuhan tidak menunjukkan semuanya sekaligus, supaya kita belajar percaya langkah demi langkah.

Kadang kita berpikir, kalau benar Tuhan yang memanggil, semuanya akan lancar.
Padahal tidak selalu begitu. Justru di dalam proses itulah kita dibentuk — karakter, iman, dan ketekunan kita sedang diproses agar siap menanggung berkat yang lebih besar.

Saya suka kalimat ini:
“Anda tidak akan pernah memiliki rasa sukacita dan damai sejahtera sebelum Anda menjadi selaras dengan kehendak Allah bagi hidup Anda.”

Ketika kita mengikuti arah Tuhan, selalu ada rasa ‘klik’ di dalam hati.
Mungkin jalan itu belum sempurna, tapi kita tahu — ini langkah yang benar.

Jadi kalau hari ini Anda merasa gelisah, jangan buru-buru menolak perasaan itu.
Bisa jadi Tuhan sedang memindahkan Anda ke babak baru.
Buka hati, berdoa, dan biarkan Roh Kudus menuntun.
Sebab di balik ketidakpuasan itu, sering kali tersembunyi rencana baru yang lebih besar dari yang bisa kita bayangkan.

Tuhan tidak pernah membuang waktu kita. Ia hanya menuntun kita ke tempat di mana kita bisa berbuah lebih banyak.
Dan seperti Andrew alami di Seagoville — saat kita mengikuti pimpinan-Nya, sukacita dan damai yang sejati akan kembali mengalir, menandakan: kita sudah tiba di langkah berikutnya dari rancangan Allah.

“Faith is taking the first step even when you don’t see the whole staircase.” – Martin Luther King Jr.

“Iman adalah melangkah pertama kali meskipun kamu belum melihat seluruh tangganya.” – Martin Luther King Jr.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Anugerah vs Kasih Karunia

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Anugerah vs Kasih Karunia

Pernahkah kita bingung membedakan antara anugerah dan kasih karunia? Dalam bahasa Indonesia, keduanya sering dianggap sama, padahal dalam Alkitab dan pengajaran Andrew Wommack, ada perbedaan halus namun sangat penting.

Anugerah, atau grace, adalah hati dan sifat Allah sendiri—Dia yang murah hati, memberi tanpa menuntut balasan. Grace adalah dasar dari seluruh hubungan kita dengan Tuhan. Itu bukan sesuatu yang kita usahakan, tapi yang sudah diberikan secara cuma-cuma melalui Yesus Kristus. Saat kita masih berdosa, Tuhan sudah lebih dulu mengasihi dan menebus kita. Jadi, anugerah bukan respon Tuhan terhadap kebaikan kita, tapi inisiatif Tuhan karena kasih-Nya yang besar.

Kasih karunia, atau charisma, berasal dari akar kata yang sama, charis, tetapi bentuknya berbeda. Kalau grace adalah sumbernya, charisma adalah hasilnya—manifestasi nyata dari anugerah yang bekerja dalam hidup kita.
Grace adalah airnya, charisma adalah aliran sungainya. Grace adalah pohonnya, charisma adalah buahnya.

Waktu kita menerima anugerah keselamatan, itulah grace. Tapi saat kita mulai melayani, menyembuhkan orang sakit, menguatkan sesama, mengajar dengan hikmat, atau memberi dengan sukacita—itulah charisma, karunia-karunia yang lahir dari anugerah itu.

Andrew Wommack menjelaskan, grace adalah “apa yang Tuhan berikan”, sementara charisma adalah “apa yang grace hasilkan dalam hidup kita.” Grace membuat kita menjadi anak Tuhan; charisma memampukan kita hidup seperti anak Tuhan dan melayani orang lain dengan kuasa-Nya.

Masalahnya, banyak orang berhenti di grace. Mereka tahu diselamatkan oleh anugerah, tapi belum membiarkan grace itu mengalir keluar lewat charisma. Mereka menikmati kasih Tuhan, tapi belum menyalurkannya. Padahal, anugerah sejati akan selalu mencari jalan untuk memberkati orang lain. Grace yang diterima tanpa dialirkan akhirnya berhenti tumbuh.

Saya jadi teringat pada masa ketika pertama kali mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Rasanya seperti air segar di padang gersang. Saya disadarkan bahwa saya tidak perlu lagi berjuang agar Tuhan mau menerima saya. Dia sudah lebih dulu menerima saya di dalam Kristus. Tapi setelah beberapa waktu, Tuhan mulai menantang saya untuk melayani, berbagi, dan menulis. Di situlah saya mulai mengenal charisma. Saat saya menulis atau mendoakan orang lain, saya menyadari itu bukan kemampuan saya sendiri—itu hasil dari grace yang bekerja di dalam saya.

Charisma tidak selalu berbentuk karunia spektakuler. Kadang, itu muncul lewat kesabaran, empati, ketulusan mendengarkan, atau dorongan kecil di hati untuk menolong seseorang. Semua itu adalah bentuk nyata kasih karunia yang mengalir melalui kita. Karena itu, setiap kali kita mengasihi, mengampuni, memberi, atau menolong tanpa pamrih, sebenarnya kita sedang menyalurkan grace dalam bentuk charisma.

Grace diterima lewat iman, charisma bekerja lewat penyerahan diri. Saat kita percaya bahwa Tuhan sudah menaruh segala sesuatu di dalam kita, charisma mulai aktif. Tapi kalau kita sibuk menilai diri, merasa tidak layak, atau takut gagal, grace itu tidak bisa mengalir. Bukan karena Tuhan menahannya, tapi karena kita menutup pintunya lewat ketidakpercayaan.

Andrew berkata, “Grace mengubah siapa kita, charisma mengubah apa yang kita bisa lakukan.” Kalimat itu sederhana tapi dalam. Tuhan tidak sekadar ingin kita hidup dalam anugerah yang membuat kita merasa damai, tapi juga dalam kasih karunia yang membuat dunia di sekitar kita berubah karena kehadiran kita.

Mari hari ini kita buka hati dan biarkan grace bekerja lebih jauh. Kita sudah menerima sumbernya—sekarang izinkan alirannya keluar. Ketika grace dan charisma berjalan bersama, hidup kita menjadi cermin kasih Tuhan yang nyata: menerima dengan rendah hati, memberi dengan sukacita. Dan di situlah, anugerah tidak lagi hanya menjadi teori iman, tapi kehidupan yang mengalir, memulihkan, dan membawa berkat ke mana pun kita melangkah.

Grace is God’s nature to give; charisma is the evidence that His grace is flowing through you.” – Andrew Wommack

“Anugerah adalah sifat Allah yang memberi; kasih karunia adalah bukti bahwa anugerah-Nya sedang mengalir melalui hidupmu.” – Andrew Wommack

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 10 11 12 13 14 398