Henningsvær: Ruang VIP di Surga Bernama Lofoten
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Henningsvær: Ruang VIP di Surga Bernama Lofoten
Hari ini Lofoten kembali membuat saya jatuh cinta.
Padahal sejak beberapa hari terakhir saya sudah melihat gunung-gunung yang menjulang dari laut, fjord yang bening seperti kaca, rumah-rumah nelayan merah, dan pemandangan yang terasa seperti kartu pos.
Tetapi anehnya, setiap sudut Lofoten memiliki kecantikannya sendiri.
Tidak ada yang terasa sama.
Tidak ada yang membosankan.
Justru semakin jauh menjelajah, semakin banyak kejutan yang menanti.
Sejak pagi matahari bersinar cerah.
Langit biru membentang luas.
Udara sejuk dan bersih.
Di perjalanan kami melewati sebuah drinking water reservoir yang terletak tepat di bawah tebing-tebing batu yang menjulang tinggi.
Airnya begitu tenang.
Begitu jernih.
Memantulkan bayangan gunung seperti cermin raksasa.
Di salah satu sisi tebing, terlihat beberapa orang sedang melakukan rock climbing.
Saya terpesona.
Di Norwegia, alam bukan sekadar tempat wisata.
Alam adalah bagian dari kehidupan.
Tak lama kemudian kami tiba di kawasan Gimsoy.
Di sana berdiri Gimsoy Bridge yang tinggi melengkung anggun di atas laut.
Sekilas mengingatkan saya pada jembatan-jembatan terkenal di Atlantic Ocean Road.
Dari atas jembatan, laut membentang luas dengan pulau-pulau kecil dan gugusan batu yang tersebar di sana-sini.
Gunung-gunung Lofoten berdiri kokoh di kejauhan.
Yang saya sukai dari Lofoten adalah kontrasnya.
Gunungnya terlihat gagah dan keras.
Tetapi lautnya lembut dan tenang.
Semua terasa begitu seimbang.
Perhentian berikutnya adalah Pantai Haukland.
Dan saya langsung mengerti mengapa banyak orang menyebutnya sebagai salah satu pantai terindah di Norwegia.
Pasir putihnya lembut seperti gula pasir.
Air lautnya berwarna biru kehijauan yang bening.
Gunung-gunung mengelilinginya seperti benteng alam yang megah.
Menariknya, meskipun udara bagi kami terasa cukup dingin, banyak orang Norwegia justru menikmati pantai itu dengan penuh sukacita.
Ada yang berenang.
Ada yang berjemur.
Ada yang bermain bersama keluarga.
Ada yang mendirikan tenda.
Budaya outdoor memang sudah menjadi bagian hidup mereka.
Bahkan sebagian orang Norwegia tetap berenang saat musim dingin.
Saya sendiri cukup menikmati pemandangannya saja.
Itu sudah lebih dari cukup.
Kami juga datang pada waktu yang tepat.
Bunga-bunga liar musim panas baru saja bermekaran.
Warna kuning, putih, dan ungu menghiasi lereng-lereng hijau. Ada pula bunga Lupina ungu yang terkenal.
Semuanya tampak segar.
Seolah alam sedang berdandan menyambut para tamunya.
Saat makan siang, kami kembali bertemu dengan “emas putih” Norwegia.
Ikan cod.
Selama ratusan tahun ikan cod menjadi sumber kehidupan masyarakat Lofoten.
Restoran tempat kami makan siang memiliki dekorasi yang unik.
Di langit-langit tergantung ikan cod kering.
Di berbagai sudut terdapat hiasan kepala ikan cod berukuran besar.
Bahkan saya sempat melihat bagian tenggorokan ikan yang memperlihatkan deretan struktur mirip gigi.
Wuih…
Baru kali ini saya melihatnya.
Makan siang kami diawali dengan sup ikan cod dan udang yang hangat.
Dilanjutkan steak salmon segar sebagai hidangan utama.
Lalu ditutup dengan hidangan penutup yang lezat.
Sederhana.
Tetapi nikmat.
Mungkin karena semua bahannya begitu segar.
Atau mungkin karena pemandangan di luar jendela membuat makanan terasa lebih istimewa.
Sore hari kami melanjutkan perjalanan menuju Henningsvær.
Konon, jika Lofoten adalah surga, maka Henningsvær adalah ruang VIP-nya.
Dan saya mulai mengerti alasannya.
Sebelum memasuki kota kecil ini, kami kembali melewati jembatan melengkung tinggi yang menjadi gerbang menuju Henningsvær.
Di bawahnya terbentang laut yang dipenuhi pulau-pulau batu. Ada sedikit rumput dan tanaman hijaunya.
Airnya begitu tenang.
Di kejauhan yacht-yacht berlayar perlahan.
Sesampainya di sana, saya langsung jatuh hati.
Henningsvær dibangun di beberapa pulau kecil yang saling terhubung oleh jembatan.
Karena itulah tempat ini sering dijuluki “Venice of Lofoten.”
Kota kecil ini terasa hidup namun tenang.
Rorbuer yang biasanya berwarna merah di tempat lain, di sini tampil lebih berani.
Ada yang berwarna kuning kunyit.
Hijau.
Coklat.
Putih.
Merah tua.
Bunga-bunga musim panas tumbuh di mana-mana.
Yacht berlabuh tenang di kanal-kanal kecil.
Orang-orang berjalan santai.
Tidak ada yang terburu-buru.
Mobil yang sesekali melintas, dengan sangat sabar menanti kami menyeberang. Dari jauh mereka sudah stop dulu.
Dan mungkin itulah yang membuat saya paling terkesan.
Bukan hanya keindahannya.
Tetapi ritme hidupnya.
Kami juga mengunjungi lapangan soccer yang paling cantik di seluruh dunia.
Lapangan itu berdiri di atas pulau batu kecil bernama Hellandsøya dan menjadi markas Henningsvær IL sejak tahun 1927.
Dari atas, lapangan hijau itu terlihat seperti permata yang mengapung di tengah laut.
Gunung-gunung batu berdiri mengelilinginya.
Laut membentang di segala arah.
Sungguh pemandangan yang luar biasa.
Namun ketika meninggalkan Henningsvær, saya merasa tempat ini mengajarkan sesuatu yang lebih dalam.
Bahwa hidup tidak harus selalu lebih besar.
Tidak harus selalu lebih ramai.
Tidak harus selalu lebih banyak.
Kadang hidup hanya perlu lebih disadari.
Lebih dinikmati.
Lebih disyukuri.
Karena semakin bertambah usia, saya mulai mengerti bahwa kekayaan bukanlah memiliki sebanyak mungkin.
Kekayaan adalah masih memiliki mata yang bisa melihat.
Hati yang bisa bersyukur.
Dan jiwa yang masih mampu terkagum-kagum.
Pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa jauh kita pergi.
Tetapi dari seberapa dalam kita melihat.
“The more clearly we can focus our attention on the wonders and realities of the universe about us, the less taste we shall have for destruction.” – Rachel Carson.
“Semakin kita memusatkan perhatian pada keajaiban dan realitas alam semesta di sekitar kita, semakin kecil keinginan kita untuk merusak.” – Rachel Carson.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
Keindahan ini bukan tujuan. Keindahan ini pengingat.
This beauty is not the destination. It is the reminder.
– Yenny Indra
