Articles

Melihat Kisah Ayub dari Kacamata Perjanjian Baru.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Melihat Kisah Ayub dari Kacamata Perjanjian Baru.

Beberapa waktu lalu saya kembali merenungkan Kitab Ayub, kali ini sambil mengingat pengajaran A. R. Bernard tentang satu hal penting: Yesus adalah pusat dan kacamata terakhir untuk membaca seluruh Alkitab.

Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya besar. Karena selama ini, jujur saja, Kitab Ayub sering membuat kita bingung, bahkan takut. Orang benar bisa kehilangan segalanya. Allah seolah diam. Iblis seperti diberi ruang. Lalu muncul kesimpulan diam-diam di hati banyak orang Kristen: “Kalau Tuhan izinkan penderitaan ini, ya pasti ada maksud-Nya.”

Pertanyaannya, apakah itu cara Yesus memperkenalkan Allah?

Ayub adalah kisah sebelum Yesus

Hal pertama yang perlu kita sadari, Kitab Ayub ditulis jauh sebelum Yesus datang.

– Belum ada salib.
– Belum ada kebangkitan.
– Belum ada pewahyuan tentang Allah sebagai Bapa.

Ayub adalah orang saleh, tulus, dan jujur. Tapi ia hidup di zaman ketika manusia belum mengenal Allah seperti yang Yesus nyatakan. Maka wajar jika banyak perkataan dalam kitab ini adalah ungkapan kebingungan, pergumulan, dan pencarian makna. Itu jujur, tapi bukan standar iman Perjanjian Baru.

Ini penting.

Tidak semua yang tertulis di Alkitab adalah pengajaran yang harus ditiru. Banyak yang dicatat sebagai cerita pergumulan manusia, bukan definisi final tentang karakter Allah.

Yesus tidak pernah mengajar seperti Ayub

Coba kita bandingkan dengan hidup dan pelayanan Yesus Kristus.
Dalam Injil:
Yesus tidak pernah berkata penderitaan berasal dari Bapa.
Yesus tidak pernah menyuruh orang sakit untuk “bertahan supaya imannya diuji”.
Yesus tidak pernah memuliakan penderitaan.

Yang Yesus lakukan justru sebaliknya. Ia menyembuhkan yang sakit. Ia membebaskan yang terikat. Ia memulihkan yang hancur. Ketika murid-murid bertanya tentang penderitaan, Yesus mengarahkan mereka bukan ke teori, tapi ke pekerjaan Allah yang memulihkan.

Yesus berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Jadi kalau gambaran Allah yang kita tangkap dari Ayub terasa keras, jauh, dan membingungkan, kita perlu berani berkata jujur: itu bukan gambaran final tentang Allah.

Salib mengubah cara kita memahami penderitaan

Ayub bertanya, “Mengapa orang benar menderita?”

Yesus tidak menjawab dengan diskusi panjang. Ia menjawab dengan salib dan kebangkitan.
Di salib, kita melihat Allah yang tidak duduk jauh di surga sambil menguji manusia. Kita melihat Allah yang masuk ke dalam penderitaan manusia dan mengalahkannya.*
Kebangkitan Yesus menyatakan bahwa penderitaan bukan alat Allah, tapi musuh yang telah ditaklukkan.

Dari kacamata Perjanjian Baru, penderitaan bukan sesuatu yang harus dimaknai untuk dimengerti, tetapi sesuatu yang harus ditaklukkan di dalam Kristus.
Ayub berakhir dengan perjumpaan, bukan jawaban

Menariknya, di akhir kitab, Ayub tidak mendapat penjelasan logis. Ia mendapat hadirat Allah. Dan itu mengubah segalanya.

Di Perjanjian Baru, kita mendapat lebih dari hadirat. Kita mendapat Kristus yang diam di dalam kita. Artinya, posisi kita hari ini jauh lebih kuat daripada posisi Ayub saat itu.

Ayub bertahan.
Kita dipanggil untuk berdiri.
Ayub menunggu pemulihan.
Kita bergerak dalam otoritas Kristus.

Membaca Ayub dari kacamata Yesus menolong kita berhenti menyalahkan Allah atas hal-hal yang Yesus datang untuk menghancurkannya. Kita tidak hidup dengan iman pasrah, tapi dengan iman yang mengenal Bapa.

Kita punya otoritas dan kuasa untuk mengalahkan musuh.
As He is so are we in this world.
Sama seperti Yesus, kita ada di dunia ini.
Apa yang Yesus lakukan, kita bisa melakukannya bahkan lebih lagi.

Dan itu membuat Injil benar-benar menjadi kabar baik.

“Faith does not deny the problem. Faith denies the problem the right to dominate.”- Kenneth E. Hagin.

“Iman tidak menyangkal masalah, tetapi menolak masalah itu berkuasa” – Kenneth E. Hagin.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Kehormatan Itu Harus Diraih
Goblok & Karya Allah Yang Dahsyat. Apa Hubungannya?
Masalah Bak Benang Ruwet? Ini Solusinya!