Bukan Sekadar Pelabuhan: Rangkaian Kisah dari Benoa hingga Darwin dengan Regent Cruise.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Bukan Sekadar Pelabuhan: Rangkaian Kisah dari Benoa hingga Darwin dengan Regent Cruise.
Lalu bagaimana dengan tujuan wisatanya? Pertanyaan lanjutan dari teman-teman.
Setelah banyak cerita tentang kapal dan makanannya, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah: ke mana saja sebenarnya perjalanan ini membawa kami?
Rute dari Benoa hingga Darwin bukan sekadar deretan pelabuhan, tetapi rangkaian pengalaman yang kontras, dari desa-desa sederhana hingga kota dengan sejarah yang kuat.
Perjalanan dimulai dari Benoa, Bali, dengan kunjungan ke Baha Village dan Rice Village. Ini bukan Bali versi kartu pos, melainkan Bali yang tenang dan apa adanya. Desa dengan sawah hijau, ritme hidup yang pelan, dan senyum penduduk lokal yang tidak dibuat-buat. Di sini kita diingatkan bahwa keindahan tidak selalu harus megah. Kadang justru hadir dalam kesederhanaan yang terjaga.
Dari Bali, kapal berlayar menuju Lombok, dengan kunjungan ke Sekotong Village dan Vovotinus Beach. Lombok terasa lebih sunyi, lebih bersahaja. Pantainya bersih, airnya jernih, dan suasananya tidak ramai. Sekotong memberi gambaran kehidupan pesisir yang sederhana, sementara pantainya menghadirkan keheningan yang sulit ditemukan di tempat wisata populer.
Berikutnya adalah Komodo.
Tidak perlu banyak kata untuk tempat ini. Melihat Komodo Dragons di habitat aslinya adalah pengalaman yang membuat kita terdiam. Hewan purba ini berjalan pelan namun penuh wibawa. Alam di sini terasa mentah dan jujur. Tidak dipoles. Tidak disesuaikan untuk manusia. Kita hanya tamu yang diizinkan melihat sejenak kebesaran ciptaan Tuhan.
Dan kemudian kami tiba di Darwin, Australia.
Di sinilah perjalanan terasa berubah nuansanya. Dari alam dan desa, kita masuk ke kota dengan sejarah yang kuat. Kami menghabiskan dua hari penuh di Darwin, dan jujur saja, kota ini meninggalkan kesan yang dalam.
Darwin bukan kota besar yang sibuk. Ia terasa terbuka, luas, dan tenang. Langitnya besar. Udara tropisnya hangat. Kota ini dibentuk oleh sejarah yang tidak ringan, dan itu terasa di setiap sudutnya.
Hari pertama kami menelusuri Darwin Historical Past. Darwin adalah kota yang pernah hampir hancur total akibat Cyclone Tracy tahun 1974. Bencana ini membentuk karakter warganya: tangguh, praktis, dan tidak berlebihan. Kota ini dibangun ulang dengan kesadaran bahwa alam tidak bisa diremehkan.
Kami mengunjungi situs-situs sejarah yang menceritakan masa awal pemukiman, hubungan dengan penduduk Aborigin, dan bagaimana Darwin berkembang sebagai kota perbatasan yang penting. Sejarah di sini tidak disajikan secara glamor, tetapi jujur. Ada rasa hormat terhadap masa lalu, tanpa mencoba menutupinya.
Hari kedua membawa kami ke sisi lain Darwin: Darwin Military Past.
Darwin memiliki peran strategis penting selama Perang Dunia II. Kota ini pernah dibom oleh Jepang pada tahun 1942, menjadikannya wilayah Australia yang paling parah terdampak serangan langsung. Melihat situs-situs militer, museum, dan peninggalan perang memberi perspektif baru. Kota yang hari ini terasa santai, pernah berada di garis depan sejarah global.
Yang menarik, meski memiliki latar belakang sejarah berat, Darwin tidak terasa muram. Justru ada ketenangan yang matang. Seolah kota ini berdamai dengan masa lalunya. Tidak menyangkal, tidak membesar-besarkan.
Dua hari di Darwin terasa pas. Tidak terburu-buru. Cukup untuk berjalan, melihat, dan merenung. Setelah berhari-hari di laut, Darwin menjadi penutup yang membumi. Mengingatkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang melihat tempat baru, tetapi tentang memahami cerita di baliknya.
Dan di titik ini, saya kembali menyadari satu hal sederhana: setiap tempat menyimpan kisah, dan setiap kisah mengundang kita untuk belajar, merendah, dan bersyukur.
Karena perjalanan yang baik bukan yang membuat kita kagum sesaat, tetapi yang meninggalkan pemahaman lebih dalam tentang hidup.
“Travel changes you. As you move through this life and this world you change things slightly, you leave marks behind.” – Anthony Bourdain.
“Perjalanan mengubah kita. Saat kita melintasi hidup dan dunia ini, kita meninggalkan jejak, meski kecil.” – Anthony Bourdain.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

