Ketika Diam Lebih Menguatkan daripada Membalas.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Ketika Diam Lebih Menguatkan daripada Membalas.
Sandra Bullock pernah membagikan sebuah pemikiran yang menyentuh:
“Ada saat-saat ketika dorongan untuk membalas terasa begitu kuat—membalas hinaan dengan hinaan, kekejaman dengan kekejaman. Tapi aku menghentikan diriku. Aku melihat lebih dekat. Aku memperhatikan luka mereka, beban mereka, bekas luka mereka. Dan aku sadar… hidup sudah cukup keras melawan mereka.”
Kalimat ini menggugah kesadaran bahwa di balik setiap sikap kasar seseorang, sering kali tersembunyi luka yang belum sembuh.
Banyak orang berjalan dengan wajah tegar, tapi jiwanya penuh retak. Kita tak pernah tahu beban apa yang mereka pikul diam-diam.
Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih yang lebih tinggi daripada sekadar balas membalas. Kasih yang bukan reaktif, tapi aktif. Bukan mengikuti logika dunia, tapi mencerminkan hati Tuhan. Kasih yang tidak menunggu orang lain berubah dulu baru bersikap baik, melainkan memilih untuk tetap baik, bahkan ketika dilukai.
Kasih yang seperti ini tidak muncul tiba-tiba. Harus dipilih.Secara sengaja kita mengambil keputusan, kita mau bertindak sesuai perintah-Nya. Sama seperti pengampunan. Bukan karena kita tidak merasa sakit, tapi karena kita menolak untuk hidup dalam kepahitan.
Kasih ilahi adalah keputusan sadar untuk tidak mencerminkan luka orang lain, tetapi mencerminkan Tuhan yang tinggal dalam kita.
Dalam dunia yang penuh reaksi cepat dan serba emosional, memilih diam kadang dianggap lemah. Padahal justru di situlah kekuatan sejati. Butuh kekuatan besar untuk tetap tenang saat disakiti. Butuh kedewasaan rohani untuk tidak membalas ketika disalahpahami. Butuh hati yang penuh Tuhan untuk berkata, “Aku tahu siapa aku di dalam Tuhan, dan aku tak perlu membuktikannya dengan amarah.”
Sering kali, Tuhan tidak meminta kita membalas atau menjelaskan. Dia hanya ingin kita percaya bahwa Dia melihat dan Dia akan bertindak. Dalam diam, kita menyerahkan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Dalam ketenangan, kita belajar menundukkan ego dan mempercayai hikmat-Nya.
Apa pun yang memenuhi hati kita, itulah yang akan keluar saat kita ditekan. Kalau kita dipenuhi kasih, maka saat disakiti pun yang keluar adalah pengampunan. Kalau kita dipenuhi damai, maka saat dilukai, kita tetap bisa tenang. Tapi kalau hati kita penuh kemarahan, luka, dan dendam… tak perlu banyak diguncang, kita pasti meledak.
Itulah sebabnya kita perlu terus mengisi batin kita dengan kebenaran Tuhan. Menyelaraskan pikiran dan respons dengan kasih-Nya. Menolak menjadi korban dari emosi atau provokasi orang lain. Kita bukan termometer yang berubah-ubah tergantung suhu sekitar, kita adalah termostat—yang mengatur suasana sekitar dengan damai yang dari Tuhan.
Hidup ini bukan soal menang debat atau siapa yang paling keras suara pembelaannya. Hidup ini tentang menjadi terang. Dan terang tidak perlu membela diri. Terang hanya perlu bersinar. Yang penting bukan penilaian orang, tapi persetujuan Tuhan.
Sandra Bullock menutup refleksinya dengan kata-kata sederhana namun kuat:
“Tidak semua pertempuran layak dijawab dengan kata-kata. Diam bisa menjadi jawaban yang paling tajam. Karena pada akhirnya, kita hanya bisa memberi dari apa yang memenuhi diri kita di dalam. Aku menolak mencerminkan luka mereka—aku memilih untuk melangkah maju. Biarlah kepahitan menguasai orang lain jika memang harus begitu. Aku memilih damai untuk jalanku.”
Dan itu juga panggilan bagi kita hari ini.
Bukan untuk jadi reaktif, tapi reflektif.
Bukan untuk mengalahkan orang, tapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.
Bukan untuk menyerang balik, tapi berdiri teguh dalam kasih.
Karena saat kita memilih kasih, kita sedang menabur sesuatu yang kekal.
Dan Tuhan—yang melihat segala yang tersembunyi—tak akan membiarkan kasih itu sia-sia.
“Returning hate for hate multiplies hate, adding deeper darkness to a night already devoid of stars.” – Martin Luther King Jr.
“Membalas kebencian dengan kebencian hanya memperbanyak kebencian, menambah kegelapan di malam yang sudah tanpa bintang” – Martin Luther King Jr.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

