Mengapa Harus Berputar-putar di Padang Gurun 40 Tahun?
Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra
Mengapa Harus Berputar-putar di Padang Gurun 40 Tahun?
Satu kali saya membaca ulang kisah bangsa Israel di padang gurun dan bertanya-tanya… Kenapa sih harus sampai 40 tahun? Bukankah Tuhan mahakuasa? Bukankah Tanah Perjanjian itu cuma butuh beberapa minggu perjalanan dari Mesir?
Tapi Tuhan ternyata bukan cuma tertarik membawa mereka ke tempat yang benar—Dia ingin membentuk mereka jadi orang yang benar.
Alkitab mencatat, mereka sudah dua tahun menerima hukum Taurat di Gunung Sinai, dan setelah itu Tuhan menyuruh mereka berputar-putar selama 38 tahun lagi. Kenapa?
Karena mereka bersungut-sungut, mengeluh, dan tidak percaya.
Salah satu keluhan mereka bahkan cukup menyakitkan di telinga Tuhan:
“Anak-anak kami pasti akan mati di padang gurun ini!”
Tapi apa jawaban Tuhan?
“Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran… semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku… tetapi anak-anakmu yang telah kamu katakan akan menjadi tawanan—merekalah yang akan Kubawa masuk…”
(Bilangan 14:29-31 TB)
Wow! Yang mereka takutkan justru Tuhan balikkan. Anak-anak mereka tidak mati, malah mereka yang akhirnya masuk dan merebut tanah itu. Sedangkan para pengeluh—yang menolak percaya—mati di padang gurun.
Tuhan tidak pernah kejam. Tapi Dia adil. Dia sabar, memberi kesempatan, tapi tidak bisa membawa orang-orang yang penuh ketakutan, keras hati, dan suka bersungut-sungut masuk ke dalam janji-Nya.
Tapi jangan salah… Di tengah penghakiman dan ketegasan Tuhan, kita tetap melihat kasih dan kelembutan-Nya.
Lihat saja Rahab. Seorang perempuan dari Yerikho, pelacur lagi! Tapi ketika ia mendengar tentang Allah Israel, hatinya berubah. Ia berkata:
“Tuhanmu adalah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.” (Yosua 2:11)
Karena imannya, Rahab dan seluruh keluarganya diselamatkan. Bahkan, Tuhan menunda seluruh arak-arakan penghancuran Yerikho demi perempuan ini! Rahab pun dicatat dalam silsilah Yesus, karena dia menikah dengan salah seorang pengintai yang diselamatkannya.
Bukan masa lalu yang menentukan masa depan kita—imanlah yang memindahkan kita dari kutuk menjadi berkat!
Hal yang sama terjadi pada Lot. Kota tempat tinggalnya, Sodom, penuh dengan kejahatan. Tapi Tuhan menyebut Lot sebagai orang benar (2 Petrus 2:7). Bahkan malaikat diutus khusus untuk menyelamatkan dia dan keluarganya—hanya karena ada satu orang yang percaya.
Bahkan, karena Yakub, Laban pun diberkati berlimpah-limpah. Laban sendiri mengaku:
“Tuhan memberkati aku karena engkau.” (Kejadian 30:27)
Dan karena Yusuf, Potifar mengalami hal yang sama.
“Sejak Potifar memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.” (Kejadian 39:5)
Apa artinya?
Orang yang menempel, setia, dan taat kepada Tuhan—membawa berkat dan perlindungan bagi sekelilingnya! Bahkan rumah tangga, keluarga, tempat kerja, atau kotanya sekalipun… bisa ikut menikmati aliran berkat ilahi hanya karena ada satu orang benar di dalamnya!
Sodom dihancurkan bukan karena Tuhan pilih kasih. Tapi karena dosanya sudah sangat berat (Kej. 18:20). Sama halnya dengan bangsa Kanaan. Tuhan sabar menunggu mereka bertobat. Bahkan dalam Kejadian 15:16, Tuhan berkata bahwa hukuman bagi mereka belum datang karena “kesalahan orang Amori belum genap.” Tapi saat kejahatan mereka mencapai puncaknya, Tuhan bertindak. Itu bentuk keadilan.
Dan inilah pelajaran besarnya:
Tuhan tidak sembarangan menghukum. Dia menimbang hati, mengamati keputusan pribadi, dan selalu memberikan kesempatan. Tapi pada akhirnya, Dia tidak akan membawa mereka yang terus mengeluh dan memberontak ke dalam tanah perjanjian kehidupan.
Hanya orang yang percaya, taat, dan mau dibentuk yang bisa masuk dan menikmati janji-Nya.
Jadi hari ini, kita tanya hati kita masing-masing:
Apakah aku seperti generasi lama yang terus bersungut-sungut?
Atau seperti Kaleb, Yosua, Rahab… bahkan Lot—yang hatinya berpaut kepada Tuhan?
Padang gurun bukan akhir cerita. Tapi jangan biarkan kita mati di sana karena sikap hati yang salah. Kalau kita mau bertobat, percaya, dan setia pada Tuhan—Dia sanggup membalikkan kisah kita. Bahkan lebih dari itu: melalui kita, keluarga kita pun bisa ikut diberkati dan dipelihara oleh Tuhan!
Setuju?
“Your attitude determines how far you go with God. A thankful heart is the key to promotion in the kingdom.” – Andrew Wommack.
“Sikap hatimu menentukan seberapa jauh engkau berjalan bersama Tuhan. Hati yang bersyukur adalah kunci untuk promosi dalam Kerajaan Allah”.- Andrew Wommack
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

