Articles

Saat Mukjizat Hilang, Anda Lari ke Mana?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Mukjizat Hilang, Anda Lari ke Mana?

Ada satu perempuan dalam 2 Raja-raja 4 yang selalu terasa dekat di hati saya. Alkitab menyebutnya perempuan Sunem. Ia dikenal sebagai wanita terpandang, bahkan dalam terjemahan lain disebut kaya. Tetapi yang membuatnya istimewa bukanlah apa yang ia miliki, melainkan bagaimana ia hidup.

Ketika ia melihat Elisa sering lewat, ia tidak hanya bersikap ramah. Ia mengajak dengan sengaja. Ia memperhatikan. Ia memikirkan. Lalu ia berkata kepada suaminya, mari kita buatkan kamar kecil di atas untuknya. Ia tidak sekadar menyediakan tempat tidur. Ia menyiapkan tempat tidur, meja, kursi, dan pelita. Ia memberi dengan detail. Dengan kehormatan. Ia memahami kebutuhan, bukan sekadar melakukan kewajiban. Ia tidak memberi setengah hati.

Menariknya, ia tidak memberi untuk mendapatkan sesuatu. Ketika Elisa ingin membalas, ia berkata bahwa ia hidup tenteram di tengah bangsanya. Tidak ada tuntutan. Tidak ada harapan tersembunyi. Tidak ada agenda.
Namun justru dari situ muncul hal yang tidak pernah ia minta. Ia tidak memiliki anak. Suaminya sudah tua. Waktu seolah telah lewat. Setahun kemudian, ia menggendong seorang anak laki-laki. Tuhan tidak membutuhkan keadaan yang ideal untuk bergerak.

Lalu suatu hari, anak itu mengeluh sakit kepala. Ia dibawa kepada ibunya dan duduk di pangkuannya sampai tengah hari. Di situ ia meninggal. Bayangkan perasaan seorang ibu yang menerima mukjizat yang tidak pernah ia minta, lalu kehilangannya.

Namun responsnya tidak seperti yang kita bayangkan. Ia tidak berteriak. Ia tidak panik. Ia tidak menyebarkan berita. Ia membawa anak itu ke kamar Elisa. Ia meletakkannya di tempat yang tepat. Bukan di kamarnya sendiri. Ia tidak membawa masalahnya ke sembarang tempat.

Ketika suaminya bertanya mengapa ia pergi hari itu, ia hanya berkata, semua baik. It is well. Bukan karena semuanya baik. Tetapi karena ia tahu kepada siapa ia akan membawa masalahnya.

Ia berangkat dengan segera. Ia tidak menunggu. Ia tidak hanya berdoa lalu diam. Iman membuatnya bergerak.

Bahkan ketika ditanya lagi apakah semuanya baik, jawabannya tetap sama. It is well. Ia tidak membuka lukanya kepada semua orang. Ia menjaga kata-katanya. Ia menjaga emosinya.
Ia hanya runtuh di tempat yang benar. Di kaki Elisa.

Sikapnya di tengah kekacauan menciptakan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Ia tidak menyalahkan. Ia tidak kehilangan kehormatan. Ia tidak kehilangan bahasa iman. Ia tidak membiarkan krisis menentukan atmosfer di sekitarnya.

Dan kita tahu akhir ceritanya. Anak itu dipulihkan.

Kadang mukjizat tidak ditentukan oleh besarnya masalah, tetapi oleh bagaimana kita merespons di tengah masalah. Menjaga kata-kata, menjaga emosi, dan bijak memilih di mana kita menaruh beban.

Mengatakan “semua baik” bukan berarti menolak kenyataan. Itu adalah disiplin hati. Itu adalah pengakuan bahwa Tuhan masih terlibat. Dan jika Ia terlibat, cerita belum selesai.

“One thing is certain: God’s story never ends in ashes.
— Elisabeth Elliot

“Satu hal yang sangat pasti: cerita Tuhan tidak pernah berakhir dengan ‘abu.”- Elisabeth Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Apakah Kita dipimpin Oleh Tuhan?”
Ralat dan Penjelasan tentang Pengurapan
TRANSFORM not CONFIRM