Tante Tirsa Rahardjo: Kasih yang Tidak Butuh Panggung.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Tante Tirsa Rahardjo: Kasih yang Tidak Butuh Panggung.
Foto quotes yang ditulis Tante Drg. Tirsa, muncul di Facebook saya. Diposting oleh P. Benjamin Rahardjo, putra bungsunya.
Focus on God, not your problem
Listen to God, not your insecurity
Rely on God, not your strength
Courage is going from failure to failure without losing enthusiasm
— Winston Churchill
Dan… hati saya meleleh.
Di usia 95 tahun, masih terus belajar, bahkan mengutip Winston Churchill.
Wow… sungguh kehidupan yang patut diteladani.
Saat Tante Tirsa pulang ke Rumah Bapa, hati ini ingin sekali menulis tentang beliau, pahlawan dan teladan saya. Tetapi saya teringat, semasa hidup tante kurang suka ditulis.
“Tante nggak melakukan apa-apa, Yenny… Tante berterima kasih, tapi jangan ditulis-tulis,” ujarnya.
Hari pertama setelah Om dimakamkan, Tante kembali mengunjungi teman seusianya untuk memijat dan merawatnya. Seorang keponakan yang menderita asma kronis, hingga akhirnya mengalami patah tulang akibat kerapuhan tulang karena komplikasi terapi, sudah lama masuk dalam daftar pelayanannya.
Tante Tirsa melihat ada ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan. Kemudian didorongnya mereka belajar menjahit. Setelah itu, Tante membeli kain daster dan memotongnya sendiri, lalu meminta mereka menjahitnya dan memberi upah. Daster tersebut kemudian dibagikan kepada keluarga dan orang-orang yang membutuhkan.
Setiap mendengar kotbah Minggu, Tante mencatat. Di rumah, catatan itu disalin dengan rapi, difotokopi, lalu dikirimkan kepada teman-teman dekat dan saudara-saudaranya.
Wow…
Jika dilakukan oleh yang muda, mungkin biasa.
Namun saat yang melakukan sudah sepuh, itu menggetarkan hati.
Di luar sana, tidak sedikit orang tua yang sibuk mengeluhkan penyakitnya.
Tante Tirsa justru hadir menjawab kebutuhan oma-oma dengan hati yang tulus. Walk in their shoes.
Langka.
Di zaman ini, tidak sedikit pelayanan dilakukan demi organisasi, demi menambah daftar kegiatan “baik”, tanpa hati benar-benar terlibat.
Tante Tirsa berbeda.
Beliau mendengarkan. Beliau peduli.
Flashback ke tahun 2005, saat pertama kali saya pindah ke Surabaya dan berjemaat di MDC, yang digembalakan Ps. Andreas Rahardjo.
Suatu kali ada seminar wanita SHINE. Saya menulis ulang topik “Excellence”.
Itulah pertama kalinya saya menulis di publik. Sejak itu, hampir setiap minggu tulisan saya dan Lia Sutandio muncul di warta jemaat.
Sejujurnya, tulisan saya waktu itu tentu belum bagus. Saya belum belajar menulis.
Namun yang memukau, setiap bertemu, Tante Tirsa tidak sekadar memuji.
Beliau mengutip apa yang saya tulis.
Bayangkan… yang mengutip adalah ibunda gembala saya, sosok yang dihormati.
Ternyata kepada Lia pun beliau melakukan hal yang sama.
Bukankah ini teladan?
Tante memahami bahwa penulis pemula butuh dukungan.
Jika saya masih menulis sampai hari ini, ada investasi kasih Tante Tirsa di sana.
Beliau juga selalu menanyakan keadaan suami dan anak-anak.
“Tante berdoa untuk keluarga Yenny…”
Setelah saya pindah ke Jakarta, sesekali beliau menelepon dan berkomentar tentang Seruput Kopi Cantik.
“Tante tetap membaca tulisan Yenny. Terima kasih ya… tulisannya bagus-bagus…”
Saat Tante Tirsa pulang ke Rumah Bapa, Ko Paulus Rahardjo mengirimkan kisah ini:
Sebulan sebelum mama meninggal, tepat 22 Desember, kami merayakan ulang tahunnya yang ke-95. Sederhana, tetapi bermakna.
Saya bertanya,
“Apa yang mama inginkan dalam sisa hidup mama?”
Mama menjawab tenang,
“Mama ingin meninggal dengan tenang, dalam tidur.”
Saya berkata,
“Kalau begitu, Ma, setiap malam serahkan nyawa mama ke tangan Tuhan.”
Kami berdoa.
Doa kami bukan tentang kematian, tetapi tentang kekuatan menjalani hari-hari yang Tuhan masih beri.
Dan Tuhan menjawab dengan cara-Nya.
Mama tidak dipanggil dalam tidur.
Tetapi pada saat yang ia sukai: pagi hari, saat berenang, berolahraga.
Tiba-tiba Mama terdiam, tidak bergerak, Pak Andreas yang sedang berenang di sebelahnya segera meraih dan memeluk Mama.
Mama pulang dalam keadaan aktif, dijaga, dan dikelilingi kasih.
Penutupan hidup yang penuh damai.
Wow… Tuhan menjawab doa.
*”Mama tidak sendiri. Pindah dari pelukan anak di kolam renang langsung ke pelukan TUHAN,”* kata Ko Paulus.
Saya percaya, Tante disambut Tuhan dengan:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia…”
“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” – Mother Teresa.
“Kita mungkin tidak bisa melakukan hal-hal besar. Tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” – Mother Teresa.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama
