Benarkah Kematian Karena Tuhan Memanggil?
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Benarkah Kematian Karena Tuhan Memanggil?
Ketika seseorang meninggal, kita sering mendengar kalimat ini:
“Tuhan lebih sayang, jadi dipanggil pulang.”
Kalimat ini terdengar rohani dan menghibur. Tetapi jika kita jujur membaca Alkitab apa adanya, kita akan menemukan satu hal penting: *Tuhan tidak pernah digambarkan sebagai Pribadi yang gemar “memanggil” manusia lewat kematian.*
Pertanyaannya sederhana.
Apakah kematian memang selalu kehendak Tuhan?
Atau justru banyak kematian terjadi karena *free will manusia di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa?*
Kisah Hizkia memberi kita kejelasan yang sangat kuat.
Dalam Yesaya 38, Tuhan mengutus Nabi Yesaya kepada Raja Hizkia dengan pesan lugas:
“Aturlah rumahmu, sebab engkau akan mati dan tidak akan sembuh.”
Ini bukan kutukan.
Ini peringatan.
Artinya, jika Hizkia terus hidup dengan cara, kondisi, dan pola yang sama, maka konsekuensinya adalah kematian.
Tuhan tidak berkata, “Aku akan memanggilmu sekarang karena Aku lebih sayang.”
Tuhan memberi informasi agar Hizkia punya kesempatan merespons.
Dan Hizkia merespons.
Ia memalingkan wajah ke tembok, merendahkan diri, menangis, dan bertobat.
Belum Yesaya keluar dari pelataran tengah, Tuhan menyuruhnya berbalik.
Hizkia mendapat tambahan usia 15 tahun.
Ini sangat penting.
Kalau kematian Hizkia sudah final karena “panggilan Tuhan”, maka pertobatan tidak akan mengubah apa pun.
Faktanya, *keputusan Hizkia mengubah arah hidupnya*.
Prinsip yang sama terlihat dalam perumpamaan anak bungsu.
Anak itu menghamburkan warisannya dan hidup sembrono.
Jika ia terus mengeraskan hati, kehancuran tinggal menunggu waktu.
Bukan karena ayahnya ingin ia hancur, tetapi karena *konsekuensi dari pilihannya sendiri.*
Namun ada titik balik yang sederhana namun menentukan:
“Lalu ia menyadari…”
Ia memilih bertobat dan pulang. Bahkan ia siap hanya menjadi pegawai.
Dan respons sang ayah bukan hukuman, melainkan pemulihan penuh.
Pesannya jelas.
Bukan ayah yang merencanakan kehancuran anak itu.
Pilihan sang anak yang membawanya jatuh, dan pertobatannya yang membawanya pulang.
Lalu bagaimana dengan kematian di dunia nyata?
Alkitab konsisten mengatakan bahwa kematian masuk karena dosa. Dunia ini sudah jatuh.
Di dunia yang jatuh, ada hukum alam yang rusak, penyakit, kecelakaan, bencana, dan konsekuensi dari tindakan manusia.
Ada juga kematian yang terjadi karena seseorang *tidak peka terhadap peringatan Tuhan,* baik melalui firman, suara hati, maupun situasi.
Nama Franky D. Tanamal sudah tercatat resmi dalam manifest penerbangan ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar. Secara logika, ia seharusnya ikut terbang.
Namun sore itu, Franky memilih berhenti sejenak dan taat pada dorongan batin yang lembut. Ia mengajukan izin untuk tidak ikut terbang karena harus melayani ibadah di gereja. Tidak ada tanda bahaya, tidak ada firasat menakutkan. Hanya kepekaan untuk tidak melangkah.
Pesawat tersebut kemudian mengalami kecelakaan tragis. Keputusan sederhana itu menjadi pembeda antara hidup dan maut.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa sering kali Tuhan menuntun bukan dengan suara keras, tetapi dengan dorongan lembut yang meminta kita berhenti, mendengar, dan taat.
Ada satu hal lagi, yang jarang dibicarakan secara jujur.
Tidak sedikit orang yang “pulang” karena memang sudah ingin pulang.
Mereka lelah hidup di dunia ini.
Tubuhnya sudah rusak oleh penyakit menahun, usia lanjut, atau penderitaan panjang.
Harapan perlahan padam, dan tanpa disadari, mereka melepaskan keinginan untuk hidup.
Ini bukan berarti Tuhan memanggil.
Ini juga bukan berarti Tuhan tidak mengasihi.
Ini menunjukkan bahwa *free will manusia nyata*, bahkan sampai ke sikap batin terdalam.
Alkitab berkata bahwa hidup dan mati berkaitan erat dengan sikap hati, perkataan, dan pengharapan.
Ketika seseorang menyerah sepenuhnya dan berhenti berharap, tubuh sering kali mengikuti keputusan batin itu.
Tuhan adalah Allah kehidupan.
Yesus berkata Ia datang supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam kelimpahan.
Menyederhanakan kematian dengan kalimat “Tuhan memanggil” sering kali justru menutup pelajaran penting:
bahwa pilihan kita hari ini sungguh berdampak pada hidup kita.
Kabar baiknya, seperti Hizkia dan anak bungsu itu, selama masih ada kesempatan untuk merespons Tuhan, arah hidup masih bisa berubah.
Bukan karena Tuhan berubah.
Tetapi karena kita memilih untuk merespons Dia.
“Life is a gift, and it offers us the privilege, opportunity, and responsibility to give something back by becoming more.” – Tony Robbins.
“Hidup adalah anugerah, dan kita bertanggung jawab menjalaninya dengan kesadaran, bukan sekadar pasrah.” – Tony Robbins.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
