Ketika Firman Dihidupi…..
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Ketika Firman Dihidupi…..
Frances Perkins tidak pernah bermimpi menjadi orang berkuasa. Ia hanya ingin hidup benar—setia pada nurani dan imannya. Namun justru dari situ, Tuhan memakainya mengubah wajah Amerika.
Sebagai gadis muda, Frances tumbuh dengan banyak pertanyaan. Mengapa ada orang miskin, padahal mereka rajin dan jujur? Ayahnya berkata, orang miskin malas atau lemah. Tetapi di hati kecilnya, Frances tahu, itu tidak benar. Kebenaran tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari cara seseorang menghargai sesamanya. Keyakinan sederhana itu kelak menjadi fondasi seluruh hidupnya.
Ketika berkuliah di Mount Holyoke, ia mengambil jurusan fisika—aman, terhormat, sesuai dengan harapan keluarga. Sampai suatu hari, gurunya membawa para mahasiswa berkunjung ke pabrik di sepanjang Sungai Connecticut. Di sana Frances melihat gadis-gadis muda bekerja dalam ruangan pengap, tanpa ventilasi, tanpa pintu keluar, tanpa istirahat. Jari-jari mereka terjepit mesin, paru-paru mereka rusak karena debu kapas. Ia pulang dari perjalanan itu dengan hati yang bergetar. Ia berkata, “Ilmu pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak menolong orang hidup dengan bermartabat.”
Sejak itu Frances memilih jalan yang berbeda. Ia tidak mau hanya jadi “wanita baik-baik” yang diam dalam kenyamanan. Ia belajar ekonomi dan sosiologi di Columbia University, meneliti kemiskinan di Hell’s Kitchen, tempat orang-orang hidup di pinggir maut setiap hari. Keluarganya menentang keras. Tapi Frances tidak peduli apa kata orang. Iman di hatinya terlalu kuat untuk dikalahkan oleh norma sosial.
Ketika ia menyaksikan 146 perempuan muda tewas terbakar dalam kebakaran pabrik Triangle Shirtwaist, Frances tahu hidupnya tidak akan sama lagi. Ia berdiri di jalan dan melihat gadis-gadis melompat dari jendela lantai sembilan—karena pintu keluar dikunci. Ia tidak bisa menutup mata. Ia berjanji kepada Tuhan, “Kematian mereka tidak akan sia-sia.”
Janji itu menjadi panggilan hidup. Frances memperjuangkan undang-undang keselamatan kerja, jam kerja maksimal, dan hak-hak buruh. Ia tidak hanya marah, tapi bertindak. Ia membawa bukti, data, dan hati nurani ke ruang-ruang rapat penuh pria berkuasa. Mereka menertawakannya, menyebutnya keras kepala, bahkan “wanita tidak wajar.” Tapi Frances tahu siapa yang ia layani. Bukan mereka, melainkan Tuhan yang menaruh kasih terhadap yang lemah.
Ketika Presiden Roosevelt memintanya menjadi Menteri Tenaga Kerja—wanita pertama dalam sejarah Amerika—Frances tidak langsung mengiyakan. Ia menyerahkan daftar syarat: kerja 40 jam seminggu, upah minimum, jaminan sosial, asuransi pengangguran, dan penghapusan pekerja anak. Roosevelt kaget. “Itu mustahil,” katanya. Frances menjawab tenang, “Kalau begitu, carilah orang lain.” Dan Roosevelt memilihnya juga.
Selama dua belas tahun ia berjuang, diserang, difitnah, bahkan disebut komunis. Tapi Frances tidak goyah. Ia tahu siapa yang memanggilnya. Ia percaya iman tanpa tindakan adalah mati. Firman Tuhan berkata, “Apa pun yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.” Itulah keyakinan yang membuat Frances berdiri teguh, bahkan ketika seluruh sistem menentangnya.
Hari ini, setiap kali kita menerima gaji dengan upah lembur, menikmati akhir pekan, atau melihat pintu keluar darurat di gedung—itu semua warisan dari perjuangan Frances Perkins. Ia tidak hanya menyaksikan penderitaan; ia menjadikan imannya sebagai bahan bakar untuk mengubah dunia.
Iman bukan sekadar keyakinan di kepala, tetapi arah hidup yang kita jalani setiap hari. Frances membuktikan bahwa iman yang dihidupi, yang diwujudkan dalam tindakan nyata, mampu menegakkan keadilan dan memulihkan martabat manusia. Ia tidak perlu berteriak tentang Tuhan—hidupnya sendiri sudah menjadi kesaksian yang berbicara.
Dunia mungkin tidak lagi mengingat namanya, tapi setiap orang yang bekerja dengan layak, setiap lansia yang menerima jaminan sosial, dan setiap anak yang belajar di sekolah alih-alih di pabrik—adalah bukti nyata bahwa iman yang dihidupi bisa menyalakan terang di tengah kegelapan. Frances hidup untuk membuktikan satu hal: iman sejati selalu melahirkan tindakan yang memuliakan Tuhan dan memanusiakan manusia.
“Faith in action is love, and love in action is service.” – Mother Teresa.
Iman yang diwujudkan adalah kasih, dan kasih yang diwujudkan adalah pelayanan. – Mother Teresa.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
