Berani Mati, Baru Bisa Terbang.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Berani Mati, Baru Bisa Terbang.
Saya membaca sebuah artikel menarik di Facebook. Isinya sederhana tapi menohok:
kita selalu diajar bahwa ulat berubah menjadi kupu-kupu. Padahal, kenyataannya — ulat tidak berubah. Ia mati dulu, baru kemudian lahir kembali sebagai kupu-kupu.
Kalimat itu langsung menancap di hati saya. Begitu dalam, begitu rohani. Karena bukankah itu juga yang Tuhan ajarkan kepada kita?
Sebelum bisa menjadi ciptaan baru, kita harus bersedia “mati” terhadap diri dan kebiasaan lama.
Proses menjadi kupu-kupu bukan sekadar perubahan yang indah. Dari luar, memang tampak sederhana — seekor ulat membuat kepompong, lalu suatu hari keluar sebagai kupu-kupu cantik. Tapi yang terjadi di dalam kepompong itu justru sesuatu yang luar biasa dan, jujur saja, agak mengerikan. Saat ulat menutup diri dalam kepompong, tubuhnya benar-benar hancur. Sel-sel lamanya terurai, mencair, dan menjadi semacam “sup kehidupan.” Hampir seluruh organ yang lama dihancurkan: otot, usus, bahkan sebagian otaknya. Dari kehancuran total itu, sel-sel baru mulai terbentuk dan membangun sesuatu yang sama sekali berbeda. Dari cairan yang tidak berbentuk, Tuhan membangun ulang seluruh tubuh yang baru — dengan sayap, antena, dan kemampuan untuk terbang.
Ulat itu tidak pernah menjadi kupu-kupu secara perlahan. Ia benar-benar mati dulu. Kupu-kupu bukan hasil perbaikan dari ulat, tapi hasil kelahiran kembali dari kematian yang total.
Begitulah kehidupan kita bersama Tuhan. Banyak orang ingin mengalami perubahan, tapi tidak mau mati terhadap yang lama. Kita ingin karakter diperbarui, tapi masih mempertahankan kebiasaan lama. Ingin hidup berbuah, tapi tidak mau belajar taat. Ingin Tuhan ubah pasangan, tapi diri sendiri tidak mau diubah. Padahal, perubahan sejati selalu dimulai dari kematian — kematian terhadap ego, kesombongan, kebiasaan buruk, dan cara berpikir lama.
Proses ini memang tidak menyenangkan. Saat Tuhan mulai bekerja, sering kali rasanya seperti semua yang kita andalkan runtuh. Rasa aman, kebanggaan, bahkan orang-orang yang dulu dekat, tiba-tiba menjauh. Kita merasa sendirian dan kehilangan arah. Tapi di situlah Tuhan sedang bekerja paling dalam, sama seperti di dalam kepompong. Ia sedang menghancurkan bagian-bagian dari diri kita yang tidak lagi berguna, supaya sesuatu yang baru bisa lahir.
Kita suka berdoa, “Tuhan, ubahlah aku,” tapi begitu proses itu dimulai, kita mengeluh, “Tuhan, mengapa Engkau biarkan ini terjadi?”
Padahal itulah cara Tuhan membentuk sayap kita. Ia tahu bahwa kita tidak bisa terbang kalau masih mempertahankan cara lama berjalan. Seperti kupu-kupu yang harus menunggu sayapnya menguat sebelum bisa keluar dari kepompong, begitu juga kita — harus melewati masa “gelap” pembentukan sebelum bisa terbang dalam kebebasan yang Tuhan janjikan.
Kematian terhadap diri sendiri bukanlah kehilangan, tapi jalan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Saat kita berhenti melawan dan mulai berserah, Tuhan mengubah “sup kehidupan” dalam diri kita menjadi sesuatu yang baru — karakter yang lebih lembut, hati yang lebih sabar, iman yang lebih kuat. Segala yang dulu membuat kita jatuh, kini justru menjadi pelajaran berharga yang meneguhkan kita.
Banyak orang ingin menjadi kupu-kupu, tapi tidak mau menjadi ulat yang berani mati. Mereka ingin hasil tanpa proses, kemuliaan tanpa kehancuran. Padahal, tanpa kematian, tidak ada kebangkitan. Tuhan tidak menambal bagian lama kita, Ia menggantinya seluruhnya dengan yang baru.
Jadi, kalau hari ini hidupmu terasa seperti kepompong — sepi, gelap, menyesakkan — jangan takut. Itu tanda bahwa Tuhan sedang bekerja. Ia sedang mempersiapkanmu untuk terbang. Tidak ada ulat yang tahu kapan ia akan keluar dari kepompong, tapi semuanya percaya pada rancangan Sang Pencipta.
Suatu hari, kamu akan keluar dari proses itu, membawa sayap baru yang indah dan kuat. Kamu akan menoleh ke belakang dan menyadari, semua air mata dan perjuangan itu tidak sia-sia. Karena memang begitulah cara Tuhan bekerja: Ia tidak hanya memperbaiki hidup kita, Ia menciptakan kita kembali — sebagai ciptaan baru yang mampu terbang tinggi bersama-Nya.
Siap jadi kupu-kupu yang cantik? Yuk…..bayar harganya.
“Die before you die. There is no chance after.” – C.S. Lewis.
“Matilah sebelum kamu mati. Karena setelah itu, tidak ada kesempatan lagi.”- C.S. Lewis.
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama
