Articles, Relationship

ANGER

.

Banyak orang yang tidak berani marah karena marah itu dosa. Mereka memilih memendam rasa marah atau merasa terluka tanpa menyelesaikannya. Ada pula yang marah tetapi dengan kemarahan yang tidak bertujuan. Sekedar meluapkan kemarahan. Tidak banyak orang yang bisa marah dengan benar.

.

Aristoteles berujar  “Siapa pun bisa menjadi marah-itu mudah, tetapi menjadi marah kepada orang yang benar, pada saat yang benar dan untuk tujuan yang benar serta dengan cara yang benar-itu tidak berada pada kuasa siapa pun, dan itu tidak mudah”.

.

Apa sesungguhnya marah itu? Amarah adalah emosi manusia yang dirancang Allah untuk  memotivasi kita agar mengambil tindakan yang positif dengan cara membangun penuh kasih dalam menghadapi perbuatan yang salah. Tujuan utamanya adalah meluruskan hal yang salah, supaya keadaan menjadi lebih baik. Perbudakan di Amerika berakhir karena adanya kemarahan dalam menanggapi ketidakadilan kemanusiaan yang terjadi. Kemarahan dengan alasan yang baik ini, berkembang menjadi usaha untuk  memberikan  persamaan hak bagi setiap warga Amerika. Hasilnya adalah Proklamasi Emansipasi  yang ditandatangani oleh Presiden Abraham Lincoln.
.

.

Bagaimana caranya marah dengan benar?

  • Secara sadar, akui dengan jujur  pada diri sendiri bahwa kita marah.

Kesadaran ini membuat kita bisa mengambil respon positif, bukan sekedar membiarkan emosi kita meledak. Kesadaran ini seperti rem.

  • Kendalikan respon langsung kita.

Sangat bijak untuk diam dulu, membiarkan hati kita tenang sebelum bertindak. Pada saat hati panas, banyak kata-kata salah yang kita ucapkan.

  • Temukan fokus kemarahan kita: kesalahan apa yang diperbuat orang itu sehingga kita marah dan seberapa besar pelanggarannya. Apa kita marah memang karena orang itu salah atau kita hanya tersinggung saja misalnya karena kita ditolak saat ingin meminjam sesuatu, tidak dilibatkan dalam suatu kegiatan, diremehkan yang disebabkan cara kita memberi arti atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.
  • Analisa pilihan-pilihan yang kita miliki.

Ada dua pilihan yang kita miliki: yang pertama mengabaikan saja dan menganggap masalah ini selesai. Sedangkan pilihan ke dua, kita mengkonfrontasi orang itu dengan penuh kasih, tujuannya untuk memperbaiki keadaan.

  • Ambil tindakan yang membangun.

Banyak orang yang memilih tidak berkonfrontasi atau menegur. Sesungguhnya definisi teguran yang benar adalah memaparkan suatu masalah di hadapan orang lain yang kita anggap telah bersalah kepada kita. Tentunya teguran tidak disampaikan dengan kasar tetapi tujuannya agar bersama-sama bisa melihat permasalahan yang ada. Saat kita berani menegur maka kita memiliki kesempatan untuk mendengar dan mengerti sudut pandang orang itu terhadap masalah ini. Selain itu, kita memberinya kesempatan untuk mengungkapkan alasan  tindakan atau ucapannya yang telah membuat kita marah. Di samping itu, orang itu juga punya kesempatan untuk mendengar dan mengerti mengapa kita terluka, tersinggung atau bahkan marah. Pembicaraan terbuka dari ke dua belah pihak ini akan membuka pintu rekonsiliasi dan bisa terbuka pintu maaf dan pengampunan. Pembicaraan yang terbuka dan kesalahpahaman yang diselesaikan secara dewasa akan membawa hubungan ke tingkat keakraban yang lebih mendalam.

.
Masalahnya, tidak semua kemarahan dikeluarkan dengan cara positif dan ada pula orang-orang yang tidak bisa diajak untuk menyelesaikan masalah secara positif pula. Ada orang-orang yang selalu mencari ‘kambing hitam’- orang yang bisa disalahkan atau selalu mencari alasan.  Ada pula yang memilih untuk menarik diri, menyangkali kemarahannya dan memendam kemarahannya. Akibatnya, timbul kebencian, frustrasi dan kesedihan. Istri yang kelihatannya sabar, ‘nrimo’ istilah orang jawa, meski pun dijajah, diperlakukan kasar, dihina selama bertahun-tahun lalu tanpa disangka, suatu hari dia bisa membunuh suaminya. Kemarahan yang dipendam dan tidak diselesaikan dengan baik justru merusak dan reaksinya bisa diluar kontrol. Banyak teori yang mengaitkan kemarahan yang terpendam dengan berbagai penyakit yang dialami manusia.

.

.

.

Kita tidak bisa mengendalikan orang lain tetapi kita bisa mengendalikan respon kita terhadap sesuatu. Ada kalanya dalam hidup kita diperlakukan tidak adil, dikhianati dan difitnah. Jika kita bisa menyelesaikan dengan positif, maka selesaikan secara positif. Namun jika situasi tidak memungkinkan, serahkan kepada kebesaran dan keadilan Tuhan. Minta kekuatan Tuhan agar kita bisa mengampuni dan melepaskan segala kemarahan dari hati kita. Hidup adalah perjalanan panjang, mungkin saja saat ini kita nampak kalah namun seperti orang bertinju, yang dilihat adalah hasil di akhir pertandingan. Tuhan senantiasa membela anak-anakNya yang dengan setia berharap kepadaNya. Berkat mengikuti orang-orang yang berbuat benar. Mengapa kita harus mempertahankan kemarahan? Serahkan hidup kita kepada Tuhan!

Pengampunan bukanlah suatu metode

Yang harus dipelajari

Tetapi suatu kebenaran yang harus dijalani

Nancy Leigh Demoss

.

OLEH : YENNY INDRA

Bibliografi:

Gary Chapman, ANGER, Visipress 2010.

.

Photo: http://www.fuadlatip.com/v1/2009/03/pengurusan-marah/

http://www.valleyangermanagement.com/goals_objectives_valley_anger_management.htm

http://www.fmaware.org/PageServerd061.html?pagename=topics_positiveAttitude

.

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Apakah INJIL Itu?”
Apakah Hidup Kita Dibentuk oleh Ketakutan?
Apa Rahasia Terciptanya Mujizat?

Leave Your Comment