“Kalau Tuhan Itu Baik, Kenapa Ada Perintah Menghancurkan?”
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
“Kalau Tuhan Itu Baik, Kenapa Ada Perintah Menghancurkan?”
Tulisan ini tidak sedang membenarkan kekerasan. Justru sebaliknya. Saya ingin kita melihat satu sisi yang sering dilupakan: betapa baiknya Tuhan itu, penuh kesabaran, dan tidak semena-mena dalam menghakimi.
Saat membaca ayat seperti Ulangan 20:16, di mana Tuhan memerintahkan Israel untuk membinasakan seluruh penduduk Kanaan tanpa sisa, jujur saja, kita bisa merasa bingung, bahkan terganggu. “Mengapa Tuhan yang penuh kasih bisa mengeluarkan perintah seperti itu?” Tapi kalau kita hanya membaca satu ayat dan menarik kesimpulan dari situ, kita akan kehilangan konteks besar dari cerita dan karakter Tuhan.
Mari kita lihat lebih dalam. Pertama, tidak semua orang Kanaan dimusnahkan. Tuhan bukanlah sosok kejam yang langsung menghabisi tanpa pandang bulu. Ada orang-orang Kanaan yang memilih percaya kepada Tuhan, dan mereka disambut—bukan dibunuh. Contoh paling terkenal adalah Rahab, seorang perempuan di Yerikho, yang menyelamatkan pengintai Israel dan menyatakan imannya kepada Tuhan Israel. Apa yang terjadi? Dia diselamatkan bersama keluarganya dan bahkan masuk dalam garis keturunan Yesus. Kita juga mengenal Uria orang Het, seorang prajurit setia yang hidup di zaman Daud. Ia pun berasal dari suku Kanaan. Artinya, pintu pertobatan selalu terbuka bagi siapa pun, termasuk orang Kanaan.
Kedua, penghakiman Tuhan tidak terjadi secara tiba-tiba. Tidak seperti manusia yang gampang meledak emosinya, Tuhan sangat sabar. Ketika Tuhan berbicara kepada Abraham, Ia sudah tahu bahwa Kanaan sedang menuju kejahatan yang dalam, tapi Ia berkata bahwa keturunannya harus tinggal di Mesir selama 400 tahun. Kenapa? Karena “kesalahan orang Amori itu belum sampai puncaknya” (Kejadian 15:16). Tuhan memberi waktu 600 tahun penuh—dari saat Abraham menerima janji sampai bangsa Israel masuk tanah Kanaan. Enam abad! Itu bukan Tuhan yang mudah tersinggung. Itu Tuhan yang menunggu, terus memberi kesempatan, walau mereka terus menolak.
Namun, ketika bangsa Kanaan akhirnya benar-benar melampaui batas, situasinya sudah gawat. Mereka tidak hanya berdosa, tapi sudah hidup dalam penyembahan berhala ekstrem, mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban bakaran, praktik okultisme, dan kekerasan yang mengakar. Tuhan tidak membenci orang Kanaan—Tuhan membenci kejahatan yang menguasai mereka. Jika dibiarkan, kejahatan itu akan menggerogoti Israel dari dalam. Tuhan bukan sedang melakukan pembersihan etnis. Ia sedang menyelamatkan umat-Nya dari pengaruh yang mematikan.
Kita semua tahu, dosa tidak bisa diajak kompromi. Kalau tidak dibinasakan, ia akan membinasakan kita. Tuhan tahu bahwa jika Israel tidak menguasai Kanaan, justru Israel yang akan dikuasai. Dan itulah yang sering kali terjadi di kemudian hari, ketika mereka gagal menaati perintah Tuhan sepenuhnya. Mereka mulai menyembah berhala, mengikuti praktik keji orang Kanaan, dan menuai kehancuran karena ketidaktaatan mereka sendiri.
Saat membaca kisah ini, kita harus belajar satu hal penting: Tuhan panjang sabar, penuh kasih, tapi juga adil. Ia tidak pernah menghukum tanpa alasan. Ia tidak bertindak tanpa peringatan. Ia tidak membinasakan tanpa kesempatan untuk bertobat. Ia adalah Tuhan yang sabar—bahkan sangat sabar. Tapi ketika manusia dengan sengaja memilih untuk menolak-Nya berkali-kali, ada titik di mana Tuhan bertindak untuk melindungi kebenaran dan umat-Nya.
Hari ini, kita hidup di era kasih karunia. Tuhan tetap panjang sabar dan tidak menghendaki seorang pun binasa. Tapi jangan salah. Kasih Tuhan bukan berarti kita bisa mempermainkan kebenaran. Jangan tunggu sampai waktunya habis. Jangan tunda sampai pintu tertutup. Kalau hari ini Tuhan menegur atau memanggil kita, itu tanda bahwa kasih-Nya masih bekerja.
Karena Tuhan yang sama yang sabar menanti orang Kanaan bertobat selama 600 tahun… adalah Tuhan yang juga sabar menanti kita. Tapi jangan salah paham—kesabaran bukan berarti kelemahan. Itu kasih yang menanti dengan harapan. Jangan sia-siakan.
“God’s mercy is so great that you may sooner drain the sea of its water, or deprive the sun of its light, or make space too narrow, than diminish the great mercy of God.” – Charles Spurgeon
“Kasih setia Tuhan begitu besar, hingga kita lebih mungkin mengeringkan lautan, memadamkan matahari, atau menyusutkan alam semesta, daripada mengurangi belas kasih-Nya.” – Charles Spurgeon
YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

