Articles

Diterima, Baru Bisa Menerima – Kasih yang Menyembuhkan

Seruput Kopi Firman
Yenny Indra

Diterima, Baru Bisa Menerima –
Kasih yang Menyembuhkan

Hati manusia itu unik. Ketika ia merasa ditolak, ia bisa berubah keras, dingin, dan pahit. Tapi ketika ia merasa diterima dan dikasihi—meski sedang dalam keadaan paling buruk—ada sesuatu yang melembut. Yang retak bisa pulih. Yang tersesat bisa pulang.

Franklin Graham, anak dari penginjil besar Billy Graham, tahu betul rasanya diterima tanpa syarat. Dalam otobiografinya Rebel with a Cause, ia menceritakan masa mudanya yang liar, keras kepala, dan jauh dari kehidupan rohani. Ia mencoba berbagai hal untuk mencari identitas—rokok, alkohol, balapan motor, hingga keluar masuk sekolah.

Pernah satu hari, dengan suara bising Harley Davidson dan jaket kulit dekil, Franklin menerobos masuk ke ruang tamu, tempat ayahnya sedang menjamu tamu-tamu penting. Cambangnya lebat, wajahnya berdebu, dan suaranya menuntut uang.

Situasi memalukan? Jelas.

Tapi Billy Graham tidak berkata, “Maaf ya, anak saya sedang bermasalah.”
Sebaliknya, ia berdiri, tersenyum, dan berkata dengan bangga, “Ini anak saya, Franklin.”

Tanpa penjelasan. Tanpa pembelaan.

Di saat banyak orang memilih menjaga image, Billy memilih menjaga hati anaknya. Ia tahu, harga diri Franklin lebih berharga dari reputasi di mata publik.
Dan kasih itulah yang akhirnya meluluhkan hati Franklin, membawa dia kembali pada Tuhan, dan menjadikannya pewaris pelayanan besar ayahnya.

Hari ini, Franklin Graham dikenal sebagai Presiden dari Samaritan’s Purse, sebuah organisasi kemanusiaan yang melayani korban bencana, perang, dan kelaparan di seluruh dunia. Ia juga memimpin Billy Graham Evangelistic Association (BGEA), dan sering diundang untuk berdoa bersama Presiden Amerika Serikat serta para pemimpin dunia. Tapi semua itu tidak dimulai dari panggung. Semuanya dimulai dari satu pelukan kasih di tengah pemberontakannya.

Karena Franklin pernah mengalami kasih yang menerima, ia pun belajar menjadi pribadi yang menerima.

Bertahun-tahun kemudian, dunia menolak seorang penginjil bernama Jim Bakker. Ia dipenjara karena kasus keuangan. Yang tadinya dielu-elukan, kini membersihkan toilet penjara. Di titik itu, Billy Graham datang. Tanpa kamera. Tanpa panggung. Ia memeluk Jim dan berkata, “Jim, I love you.”

Pelukan itu bukan basa-basi. Itu kasih yang turun tangan saat semua orang menjauh.

Franklin ikut turun tangan. Ia berkali-kali datang ke penjara, menyemangati Jim dan para napi lainnya. Ruth Graham, istri Billy, bahkan menelepon dan mengundang Jim duduk bersama mereka di gereja. Ruth menepuk kursi di sebelahnya dan berkata, “Aku ingin kamu duduk di sini.” Setelah ibadah, mereka makan malam bersama.
Saat melihat Jim membawa amplop sebagai dompet (karena di penjara dompet dilarang), Ruth masuk dan keluar lagi membawa dompet Billy Graham.
“Billy nggak butuh ini sekarang. Kamu pakai saja,” katanya lembut.

Franklin bahkan menyediakan rumah, mobil, dan pendampingan agar Jim bisa membangun kembali hidupnya. Semua itu bukan karena Jim layak. Tapi karena Franklin ingat: dulu aku pun tidak layak, tapi tetap diterima.

Itulah kekuatan kasih yang menerima.

Bukan hanya menyelamatkan hubungan. Tapi menyelamatkan hidup seseorang.

Banyak dari kita cepat menuntut perubahan orang lain, tapi lupa bahwa hati seseorang tidak akan pernah berubah karena dikritik. Hati berubah karena dikasihi.
Bukan saat dia sempurna, tapi justru saat dia paling rapuh.

Tuhan pun memperlakukan kita begitu. “Tuhan rela mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
Artinya, Dia menerima kita dulu, baru mengubahkan.

Kalau kita sudah menerima kasih seperti ini, maka kita pun bisa menjadi salurannya bagi orang lain. Tidak harus dengan khotbah. Tapi lewat pelukan, telepon, atau sekadar berkata, “Aku di sini buat kamu.”

Dunia tidak butuh lebih banyak penghakiman.
Dunia butuh lebih banyak orang yang berani mengasihi seperti Kristus.

Dan kuncinya sederhana:
Ketika kita diterima, kita lebih mudah menerima. Ketika kita dikasihi, kita pun bisa mengasihi.
Di situlah wajah Tuhan terlihat di dunia.

“The people who are hardest to love are the ones who need it the most.”
— Rick Warren

“Orang yang paling sulit dikasihi justru sering yang paling membutuhkan kasih.”
— Rick Warren

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Di Mana Berkat Tuhan Tersimpan?
“Apakah Kasih Itu?”
Ingin Tahu Rahasia Saat Ajal Menjemput? Ini Rahasianya!