Articles

Kasih Sahabat Sejati, yang Mengangkat Prajurit yang Terluka.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Kasih Sahabat Sejati, yang Mengangkat Prajurit yang Terluka.

Dua nama besar—Jim Bakker dan Jimmy Swaggart—pernah berdiri di puncak pelayanan. Ribuan jiwa datang kepada Tuhan melalui mereka. Tapi, seperti Petrus yang menyangkal Yesus, keduanya pernah jatuh dalam dosa yang membuat dunia menghakimi dan meninggalkan mereka. Namun dalam saat-saat tergelap itulah, kasih Kristus yang sejati diperlihatkan—bukan lewat khotbah, tapi lewat tindakan nyata dari seorang pria yang namanya identik dengan Injil: Billy Graham.

Jim Bakker sedang di penjara. Bukan lagi sebagai penginjil yang dielu-elukan, melainkan sebagai narapidana yang tengah membersihkan toilet ketika Billy Graham datang. Tanpa basa-basi, tanpa kamera atau publikasi, beliau memeluk Jim dan berkata pelan, “Jim, I love you.”
Di titik terendah hidupnya, pelukan itu menjadi pernyataan ilahi: Kamu belum habis. Tuhan belum selesai denganmu.

Dan lebih dari itu, anak Billy—Franklin Graham—berulang kali datang ke penjara untuk mengunjungi dan berbicara di kapel, menyemangati Jim dan para tahanan lainnya. Ia menyebut Jim temannya, dulu dan sekarang, dan siap membela hubungan itu di depan siapa pun.

Setelah dibebaskan, Jim tinggal di halfway house. Minggu pertamanya bebas, Ruth Graham menelepon dan memintanya duduk bersama keluarga Graham di gereja. Ketika dia datang, Ruth sudah duduk menunggu. Ia menepuk kursi di sebelahnya dan berkata,
“Aku ingin kamu duduk di sini.”

Sebuah tindakan kecil, tapi maknanya sangat besar. Dunia boleh menolak, tapi keluarga Graham berdiri sebagai representasi kasih Kristus—mereka berkata dengan tindakan: kamu masih berharga. Setelah ibadah, Ruth bahkan mengundangnya makan malam di rumah mereka. Jim datang dengan amplop yang ia pakai sebagai dompet karena di penjara dompet dilarang. Ruth kembali dari ruang pribadi dan memberikan salah satu dompet Billy Graham, sambil berkata, “Billy tidak membutuhkan ini sekarang, kamu pakai saja.” Tidak berhenti di situ, Franklin bahkan menolong Jim secara praktis: menyediakan rumah, memberi mobil, dan mendampingi secara pribadi agar Jim bisa membangun kembali hidupnya dengan martabat.

Sementara itu, Jimmy Swaggart juga mengalami kejatuhan yang besar. Lebih dari 500.000 jemaat meninggalkannya. Media menghancurkan reputasinya. Ia dicap “pendeta palsu.” Para pemimpin gereja pun menjadikan kisahnya sebagai contoh kegagalan di mimbar mereka.

Namun di tengah badai penghakiman itu, ketika Billy Graham ditanya tentang Swaggart, jawabannya mengguncang publik.
“Jika ini bisa terjadi pada Jimmy Swaggart, bisa juga terjadi padaku. Ia sudah terluka—jangan kita selesaikan dia. Mari kita sembuhkan dan angkat kembali prajurit kita.” Jawaban ini tidak hanya penuh kasih, tapi mencerminkan kerendahan hati yang dalam. Billy Graham tahu, tidak ada yang kebal dari godaan. Namun yang terpenting adalah, apakah kita ikut melempar batu, atau kita memilih jadi tangan yang mengangkat?

Karena sikap kasih dan penerimaan dari keluarga Graham—yang tidak hanya menyentuh secara emosional tapi juga praktis—kedua prajurit ini bangkit kembali. Jim Bakker hari ini masih memberitakan Injil dengan kerendahan hati yang dalam, dan pelayanan Jimmy Swaggart kembali dipenuhi dengan kuasa. Tanda-tanda heran dan mujizat kembali menyertai pelayanannya, membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah mencabut panggilan-Nya.

Kita sering begitu cepat menilai dan meninggalkan orang saat mereka gagal, padahal yang Tuhan cari bukan siapa yang benar atau salah, tapi siapa yang mau memulihkan.

Billy, Ruth, dan Franklin Graham menjadi contoh langka—mereka tidak bersaing, tidak memanfaatkan kegagalan orang lain untuk naik. Justru mereka hadir sebagai keluarga rohani sejati. Mereka tidak sibuk menjaga citra, tapi sibuk menjaga hati sesama prajurit Kristus.

Dunia ini butuh lebih banyak orang seperti keluarga Graham. Yang berani berkata, “Aku tidak malu berdiri di samping orang yang sedang bangkit dari lumpur,” karena itulah kasih Kristus.

Dan pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling sukses, tapi siapa yang jadi saluran pemulihan bagi mereka yang terjatuh. Seperti kata Ruth Graham: “Tak ada yang bisa melarangku mencintai orang yang Tuhan kasihi.” Dan itulah Injil yang hidup.

Sebagai penutup, Billy Graham itu terkenal jika sedang berada di lift sendiri, lalu ada wanita yang masuk, beliau memilih keluar. Billy menjaga dirinya sedemikian rupa agar tidak ada gossip atau celah di mana iblis bisa menjatuhkannya. Jauh lebih mudah untuk naik ke puncak kesuksesan daripada mempertahankan agar tetap di puncak. Billy Graham salah satu teladan yang bersih, sukses, tanpa cacat sepanjang hidupnya sebagai penginjil besar dunia hingga akhir hayatnya.

Teringat sahabat saya, Bu Mira, yang juga menolak diantar oleh suami orang, meski sudah kenal sangat baik dan hanya dekat saja.
“Saya itu janda, Bu Yenny…. harus bisa menjaga harkat dan martabat seorang janda.”

Keren ya…. mereka contoh pribadi yang menjaga kekudusan dengan disiplin. Jauh lebih mudah mencegah daripada membereskan saat gossip sudah menyebar di mana-mana. Tidak ada asap, jika tidak ada api.
Bagaimana pendapat Anda?

You can’t control what others say about you, but you can control what you give them to talk about.”- Craig Groeschel.

“Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang kita, tapi kita bisa mengendalikan apa yang kita berikan untuk mereka bicarakan.” – Craig Groeschel.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#Kesembuhan #ImanKepadaTuhan
#BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Lima Danau Berantai Bak Planet Mars!
Apa Yang Terjadi Di Hadirat Tuhan?
Tanda-Tanda Heran, Kuasa Supernatural Dan Mujijat Seharusnya Mengikuti Orang Percaya. Sudahkah Kita Mengalaminya?