Articles

Berdamai Sebelum Terlambat.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Berdamai Sebelum Terlambat.

Pernahkah kita menyadari bahwa banyak masalah besar sebenarnya bisa dihindari… kalau saja kita mau bicara lebih awal? Kadang bukan soal siapa yang benar atau salah — tetapi soal siapa yang cukup bijak untuk tidak membiarkan luka berkembang jadi jurang.

Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan: kalau kamu sedang dalam perjalanan menuju pengadilan dengan seseorang yang berselisih denganmu, usahakan berdamai sebelum sampai ke meja hakim. Kenapa? Karena setelah kasus itu masuk sistem, kamu bisa kehilangan kendali, dan akibatnya bisa lebih buruk dari yang kamu bayangkan.

Ini bukan hanya soal pengadilan dalam arti hukum. Dalam kehidupan nyata, banyak dari kita sedang “di jalan” menuju bentuk penghakiman yang lain — kehilangan persahabatan, hancurnya keluarga, hubungan kerja yang tegang, atau bahkan hati yang hancur sendiri karena terlalu lama memelihara dendam.

Masalahnya, ketika konflik dibiarkan, ia berubah bentuk. Apa yang awalnya hanya kesalahpahaman kecil bisa tumbuh menjadi kebencian. Dan kebencian, kalau dibiarkan, akan menjebak kita dalam semacam “penjara emosional”.

Orang yang terluka sering menjadi curiga, mudah tersinggung, dan sulit percaya. Hatinya sempit. Fisiknya pun bisa ikut menderita. Banyak penyakit justru berakar dari tekanan batin dan kepahitan yang tidak pernah diselesaikan. Itulah mengapa kita perlu belajar berdamai — bukan hanya demi orang lain, tapi untuk kesehatan jiwa dan tubuh kita sendiri.

Rekonsiliasi bukan hal yang mudah, tetapi selalu mungkin. Bukan berarti semua akan kembali seperti dulu. Tapi kita bisa memilih untuk tidak menyimpan racun di dalam hati. Kalau kamu menyakiti orang lewat kata-kata, minta maaf. Kalau kamu punya utang janji atau tanggung jawab yang belum ditunaikan, selesaikan. Kalau kamu bersalah, akui dan perbaiki.

Inti dari perdamaian bukan sekadar menyentuh permukaan, tapi menyelesaikan akar persoalan: rasa sakit, iri, cemburu, atau harga diri yang pernah dilukai. Memang tidak mudah mengakui luka, apalagi kalau ego masih dominan. Tapi justru di situ letak kebijaksanaan.

Banyak orang menunggu waktu untuk menyembuhkan luka. Tapi waktu saja tidak cukup. Tanpa keputusan untuk berdamai, luka itu hanya tertutup debu, tapi tetap bernanah di dalam.

Menariknya, dalam hubungan manusia dan Tuhan, yang terpisah karena manusia jatuh dalam dosa. Tapi justru Tuhan yang pertama kali mengambil langkah untuk memperbaiki hubungan itu. Dia tidak menunggu manusia sempurna dulu — Dia datang terlebih dulu, menawarkan damai melalui anugerah-Nya dengan gratis. Mengampuni dan menebus dosa kita, bagi yang bersedia menerima-Nya. Sebuah contoh luar biasa tentang inisiatif dalam rekonsiliasi.

Entah Anda percaya konsep spiritual atau tidak, prinsipnya tetap sama: hubungan hanya bisa pulih kalau ada pihak yang mau mengambil langkah lebih dulu.

Dunia hari ini tidak kekurangan teknologi, tapi kekurangan hati yang mau mendengarkan. Tidak kekurangan peluang, tapi kekurangan orang yang mau mengalah demi kebaikan bersama.

Mungkin sekarang kita sedang dalam perjalanan menuju “pengadilan” tertentu. Hubungan yang retak, kepercayaan yang nyaris hancur, atau konflik yang tak kunjung selesai. Sebelum semuanya terlambat, cobalah untuk berdamai. Tidak selalu mudah. Tapi setiap langkah kecil menuju perdamaian adalah investasi besar bagi masa depan.

Karena ketika hati kita bebas dari beban konflik, barulah kita bisa benar-benar menikmati hidup dengan damai dan penuh makna.

Saya belajar…. bagaimana dengan Anda?

“Getting over a painful experience is much like crossing monkey bars. You have to let go at some point in order to move forward.” – C.S. Lewis.

“Melewati luka itu seperti naik palang monyet. Kamu harus melepaskan satu pegangan agar bisa maju” – C.S. Lewis

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Pekerjaan Telah Selesai!”
Kekuatan Injil
DI MANA LETAKNYA BERKAT?