Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.

Cairns menyambut kami dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Kota tropis ini seperti tahu persis caranya membuat orang melambat. Pagi itu kami berjalan santai di sekitar area Gonsavale. Tidak ada agenda besar. Hanya langkah kaki, udara hangat, dan suasana yang ramah. Cairns bukan kota yang berisik. Ia tidak berusaha mengesankan. Justru karena itulah ia terasa jujur.

Berjalan di sini mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu harus penuh target. Ada masa di mana kita cukup hadir, cukup mengamati, cukup menikmati. Melihat orang-orang berlalu dengan ritme mereka sendiri. Mendengar suara alam yang bersahut-sahutan. Ada damai yang turun pelan-pelan, tanpa pengumuman.

Cairns juga punya satu mahakarya yang membuatnya dikenal dunia, Great Barrier Reef. Inilah taman bawah laut terbesar di dunia. Luasnya membentang ribuan kilometer, terdiri dari ribuan terumbu karang dan ratusan pulau kecil. Dari udara, ia tampak megah. Dari bawah laut, ia hidup, berwarna, dan penuh detail yang membuat kita terdiam.
Great Barrier Reef bukan sekadar destinasi wisata. Ia seperti galeri ciptaan Tuhan yang diletakkan di bawah permukaan laut. Karang-karang dengan bentuk dan warna yang tidak pernah kita bayangkan. Ikan-ikan kecil berkilau, penyu laut, dan kehidupan yang bergerak harmonis tanpa suara. Melihat atau bahkan sekadar membayangkan keindahannya membuat kita sadar betapa kecilnya manusia, dan betapa luar biasanya Sang Pencipta.

Dari Cairns, keesokan harinya, perjalanan kami berlanjut ke Airlie Beach. Dan suasananya berubah, tapi tetap memikat. Laut di sini berwarna hijau tosca, jernih dan tenang. Sepanjang jalan, mata dimanjakan oleh bunga flamboyan berwarna oranye menyala dan bougenville warna-warni yang tumbuh subur. Alam seakan sedang tidak pelit menunjukkan keindahannya.

Kami singgah di Coral Sea Resort. Pemandangannya langsung menghadap laut. Kapal dan boat cantik berjejer di perairan yang tenang, memberi kesan hidup namun tetap rapi. Ada rasa menyenangkan melihat laut yang tidak kosong, tetapi juga tidak sesak. Semua berada di tempatnya.
Bangunan-bangunan baru di sepanjang pantai menambah sentuhan modern tanpa merusak karakter alamnya. Airlie Beach terasa segar, tertata, dan bersahabat. Tempat yang membuat orang betah duduk lama, menatap laut, tanpa merasa harus melakukan apa pun.

Kenyamanan perjalanan ini semakin terasa karena perhatian pada hal-hal kecil. Snack, kopi, teh, semuanya tersedia dan sudah termasuk dalam fasilitas Regent Seven Seas Explorer. Tidak repot, tidak ribet. Semua mengalir. Ada rasa dimanjakan, tapi dengan cara yang tenang, tidak berisik.

Kami juga mengunjungi Proserpine Museum di Airlie Beach. Museum kecil, sederhana, namun penuh cerita. Tentang sejarah wilayah ini, tentang laut yang menjadi nadi kehidupan, dan tentang orang-orang yang membangun komunitasnya dari waktu ke waktu. Tempat seperti ini selalu mengingatkan bahwa keindahan hari ini tidak muncul begitu saja.

Cairns dengan Great Barrier Reef-nya, dan Airlie Beach dengan laut hijau toscanya, memberi pelajaran yang sama. Dunia ini indah bukan karena kita mengejarnya, tetapi karena kita mau berhenti sejenak untuk melihat. Dan di setiap keindahan itu, ada undangan lembut untuk bersyukur. Tanpa perlu kata-kata besar. Cukup hati yang terbuka dan kopi yang dinikmati perlahan.

“Look deep into nature, and then you will understand everything better.” – Albert Einstein.

“Tataplah alam dengan sungguh-sungguh, maka kita akan memahami banyak hal dengan lebih jernih.” – Albert Einstein.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Di Meja Regent: Saat Makan Menjadi Pengalaman, Bukan Sekadar Menu.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Meja Regent: Saat Makan Menjadi Pengalaman, Bukan Sekadar Menu.

Setelah tulisan pertama tentang Regent Seven Seas Explorer beredar, bagian yang paling sering memancing pertanyaan ternyata bukan rute pelayaran atau kemewahannya, melainkan satu hal yang sangat manusiawi: makanan.
“Benarkah boleh pesan apa saja?”
“Benarkah lobsternya setiap hari?”
“Benarkah tidak ada restoran berbayar?”
“Benarkah boleh pilih main course, appetizer dan premium dessert sepuasnya?”

Jawabannya: iya. Dan justru di situlah letak filosofi Regent yang membedakannya dari cruise lain.

Di Regent, makan tidak diatur dengan rasa takut kekurangan. Kita tidak diminta memilih dengan hati-hati seolah sedang menghemat. Tidak ada tekanan untuk “memilih yang paling mahal” karena takut rugi. Semuanya sudah disiapkan sebagai standar. Kebebasan memilih ini menciptakan suasana makan yang santai, penuh rasa aman, dan tanpa beban.
Kami bisa saling berbagi, mencicipi makanan bersama teman-teman.

Yang menarik, meskipun bebas, suasana tidak pernah berubah menjadi rakus atau berlebihan. Justru karena tidak dibatasi, kita makan dengan lebih sadar. Mencicipi. Menikmati. Menghargai.

Soal bahan, Regent jelas tidak bermain aman. Mereka bermain serius.
Daging sapi pilihan dengan grade USDA Prime adalah standar, bukan menu khusus. Steak disajikan dengan potongan yang tepat, dimasak presisi, dan tetap menonjolkan rasa asli daging. Ini jenis daging yang tidak perlu diselamatkan saus.

Untuk pecinta seafood, pengalaman di Regent terasa hampir tidak masuk akal. Lobster hadir hampir setiap saat, bukan sebagai menu gala satu malam. Tiger prawn besar dan manis, disajikan dengan teknik sederhana agar rasa alaminya tidak tertutup. Ikan segar terasa segar. Tidak amis. Tidak lelah.

Saya juga menikmati bagaimana dapur Regent memperlakukan hidangan klasik Eropa. Escargot, foie gras, saus berbasis mentega dan wine, semuanya disajikan dengan elegan, tanpa rasa berat. Ini bukan masakan yang ingin pamer teknik, tetapi ingin menyenangkan tamu.

Btw, Escargot ini menu favorit b. Silvy dan saya…
Hahaha…. kami benar-benar Duo, satu paket, ujar teman-teman, – baik dalam pelayanan jadi PIC BBL, mau pun selera makan.

Kristina pun berkomentar,”Wow luar biasa tulisan Yenny yang nyata tidak ditambah -tambahi, hanya ada sedikit kurang untuk piring Versace yg disajikan di semua meja setiap kita ke Compas Rose he he harga nya 445 USD per satu piring?.”

Wuih…..

O ya, kami dapat Free Wifi. 1 orang 1 nomor. Ini menyenangkan sekali…

Satu hal kecil tapi penting: tidak ada rasa “produksi massal”.
Setiap piring terasa dibuat dengan niat serius. Pelayanannya personal. Sommelier menawarkan wine pairing tanpa menggurui. Chef terbuka pada permintaan khusus, selama bahan tersedia. Bahkan menu di luar daftar pun bisa dibuat.

Dan karena ini Regent, semua itu terjadi tanpa embel-embel biaya tambahan. Tidak ada restoran premium yang disisihkan untuk “yang mau bayar lebih”. Tidak ada perasaan kelas sosial di ruang makan. Semua tamu diperlakukan setara.

Makan di Regent bukan soal kemewahan yang berisik. Ini tentang kelimpahan yang tenang. Tentang rasa cukup. Tentang menikmati tanpa rasa bersalah.

Mungkin itu sebabnya banyak tamu mengatakan bahwa di Regent, mereka bukan hanya pulang dengan foto-foto indah, tetapi juga dengan ingatan tentang rasa. Rasa makanan, rasa damai, dan rasa syukur.

Dan di tengah segala kelimpahan itu, kita diingatkan bahwa segala sesuatu yang baik, termasuk kemampuan menikmati, adalah karunia Tuhan.

Regent mengajak kita mengalami paradoks surgawi: bahwa kelimpahan terasa paling nikmat justru ketika tidak kita kejar. Dengan menghapuskan mekanisme “bayar lebih” dan “pilihan terbatas”, kapal ini menciptakan ruang di mana jiwa bisa beristirahat dari mentalitas kelangkaan. Di sini, kita dilatih untuk percaya bahwa cukup itu ada, dan berkat itu mengalir bagi semua. Ini adalah gambaran kecil dari kerajaan sorga-di mana perjamuan tersedia untuk setiap tamu yang datang, tanpa syarat, tanpa hierarki, hanya dengan tangan terbuka dan senyum penerimaan.

Hhhmmmm…. betapa indahnya!

“Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, in all the places you can, to all the people you can, as long as ever you can.” – John Wesley.

“Lakukan semua kebaikan yang kau bisa, dengan segala cara yang kau bisa, di segala tempat yang kau bisa, kepada semua orang yang kau bisa, selama kau masih bisa.” – John Wesley.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bintang Tujuh di Tengah Samudra: Pengalaman Berlayar Bersama Regent Seven Seas Explorer….


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bintang Tujuh di Tengah Samudra: Pengalaman Berlayar Bersama Regent Seven Seas Explorer….

Liburan senantiasa menyenangkan, terlebih lagi menikmati Regent Cruise – Seven Seas Explorer dari Benoa, Bali mulai tanggal 12 Desember 2025, menuju Sydney, Australia.
Direncanakan kami akan tiba tanggal 28 Desember 2025.

Diprakarsai oleh Kristina Roberts, kami semua berdelapan liburan bersama-sama.
Kristina, P. Indra, saya – YennyIndra, Silvy, dr. Daniel & Tjuarty, Sur & Ayun.

Saya sudah puluhan kali menikmati cruise, dari Asia Tenggara, Alaska, Eropa, Amerika, hingga Oasis of the Seas yang pernah menyandang predikat kapal pesiar terbesar di dunia pada masanya. Artinya, saya bukan baru pertama kali naik kapal pesiar. Standar sudah terbentuk. Tidak mudah terkesan.

Namun Regent Seven Seas Explorer memberi rasa yang berbeda sejak hari pertama.

P. Anton Thedy dari TX Travel berkomentar sambil tertawa, “Ini bintang tujuh.”
Saya menimpali, “Kayak obat sakit kepala saja ya… hahaha.”
Tapi semakin hari di kapal ini, saya paham maksudnya. Ini bukan sekadar mewah. Ini pengalaman yang matang, tenang, dan penuh perhatian pada detail.

Hal pertama yang langsung terasa adalah ruang dan ketenangan. Regent tidak mengejar jumlah penumpang. Semua kabin adalah suite dengan balkon pribadi.
Kamar di Regent luas dan terasa seperti apartemen pribadi.
Ada wardrobe terpisah, ruang tamu yang nyaman, dan balkon pribadi untuk menikmati laut.
Semua tertata rapi dan fungsional.
Bukan sekadar kamar, tapi ruang untuk benar-benar tinggal dan beristirahat.

Tidak ada kamar “hemat” tanpa jendela. Semua lapang. Semua nyaman. Kita tidak merasa berada di kapal besar yang ramai, melainkan seperti tinggal di hotel butik yang kebetulan sedang berlayar.

Konsep truly all-inclusive juga menjadi pembeda besar. Hampir semua sudah termasuk: fine dining, minuman premium, wine berkualitas, minibar, room service 24 jam, hingga shore excursion di setiap pelabuhan. Tidak ada kejutan tagihan. Tidak ada perasaan “ini bayar lagi ya?”. Pikiran benar-benar istirahat.

Soal makanan, Regent bermain di level serius.
Terdapat 7 restoran utama, masing-masing dengan karakter kuat.

Compass Rose, restoran signature Regent, memungkinkan kita merancang menu sendiri. Pilih protein, saus, hingga tingkat kematangan.
Prime 7, steakhouse klasik dengan daging berkualitas tinggi.
Chartreuse, restoran Prancis modern dengan plating cantik.
Plating cantik artinya makanan ditata indah, niat, dan berkelas. Bukan hanya enak dimakan, tapi memanjakan mata.
Pacific Rim, Asian fusion yang elegan dan refined.
La Veranda,buffet yang tidak terasa seperti buffet.
Malam hari berubah menjadi Sette Mari, restoran Italia yang hangat.
Dan Pool Grill, santai tapi tetap premium.

Semua ini tanpa biaya tambahan. Di Regent, specialty dining bukan ekstra. Itu standar.

Satu fasilitas yang sangat saya apresiasi dan jarang disadari orang adalah laundry dan pressing gratis setiap hari, hingga dua hari sebelum kapal bersandar di Sydney. Baju dicuci, disetrika, rapi, dan kembali ke lemari tanpa biaya. Hanya jika kita meminta dry clean, barulah ada charge. Untuk perjalanan panjang, ini bukan detail kecil. Ini kenyamanan nyata.

Fasilitas lain yang membuat pengalaman semakin lengkap:
Serene Spa & Wellness, tenang dan tidak ramai.
Observation Lounge dengan pemandangan laut luas, tempat favorit untuk duduk diam sambil minum kopi.
Perpustakaan, sunyi dan elegan.
Bahkan tersedia self-service laundry, bagi yang suka mandiri.

Yang juga unik di Regent adalah rasio kru dan tamu yang tinggi. Pelayanan terasa personal. Mereka mengingat nama, kebiasaan, bahkan preferensi minum kita. Bukan basa-basi, tapi perhatian yang tulus.

Bagi saya, Regent Seven Seas Explorer bukan soal kemewahan berlebihan. Ini soal pace.
Pace artinya ritme hidup atau perjalanan, cepat atau pelan.
Di sini, pace-nya pelan dan sadar. Tidak dikejar jadwal. Tidak berisik. Tidak melelahkan. Kita menikmati hari apa adanya.

Perjalanan 16 hari dari Benoa ke Sydney ini bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang proses menikmati setiap hari. Membuka balkon pagi hari. Menatap laut. Minum kopi tanpa tergesa. Membaca. Berjalan. Makan enak. Turun di pelabuhan dengan tenang.

Jika ditanya, apa yang benar-benar membedakan Regent dari cruise lain?
Jawabannya sederhana: rasa cukup.
Tidak ada yang terasa kurang. Tidak ada yang perlu ditambah. Semua sudah dipikirkan.

Dan mungkin, itulah definisi kemewahan yang sesungguhnya.
Bukan yang berisik.
Bukan yang pamer.
Tapi yang membuat kita bisa bernapas lega, dan menikmati hidup dengan utuh.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar tentang kapal, makanan, atau destinasi. Di tengah laut yang luas dan ritme hidup yang diperlambat, ada ruang untuk diam, merenung, dan kembali menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah.

Ketika kita berhenti sejenak dan tidak tergesa, hati menjadi lebih peka melihat kebaikan Tuhan dalam hal-hal sederhana. Setiap pagi, setiap pelayanan, setiap momen tenang menjadi pengingat bahwa Tuhan menyertai langkah kita, ke mana pun kita pergi.

Dan tentu saja….. menjadi kesempatan bersyukur dan menikmati karunia-Nya.

Luxury is not about having more. It’s about needing less.” – Coco Chanel.

“Kemewahan bukan soal memiliki lebih banyak, tetapi membutuhkan lebih sedikit.” – Coco Chanel.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Cara Menangani Berbagai Konflik Dengan Anggun

Conflict Resolution — cara menangani konflik dengan anggun — adalah keterampilan yang perlu dipelajari. Resolusi berarti keputusan untuk berubah, memperbaiki perilaku, dan membangun hidup yang lebih baik. Dalam konteks hubungan, conflict resolution artinya mengelola konflik dengan bijak agar kehidupan kita semakin berkualitas.

Banyak orang salah kaprah. Mereka berpikir jika fondasi hubungan adalah kasih, maka pintu maaf selalu terbuka dan tidak ada konsekuensi. Padahal mengampuni itu wajib, tetapi konsekuensi tetap harus ada.
Kasih tidak berarti membiarkan kekacauan. Kasih dan disiplin harus berjalan seimbang.

Guru kami, Carrie Pickett, sering membagikan prinsip-prinsip praktis disertai contoh kasus. Misalnya, bagaimana menangani seseorang yang tidak memahami visi organisasi dan bertindak semaunya.

Evaluasinya sederhana:
Apakah orang itu sudah ditraining?
Apakah ia mengerti visi dan tujuan organisasi?
Apakah ia tahu apa yang diharapkan darinya?

Kalau semua sudah jelas, barulah diajak bicara dengan kasih. Mulai dari kata-kata positif, tunjukkan potensinya, lalu jelaskan peraturan dan visi organisasi. Sampaikan kesalahannya tanpa menghakimi, dan beritahu konsekuensi jika tetap melanggar.

Dan jika setelah semua ini ia tetap melanggar, konsekuensi harus diterapkan. Tegas bukan berarti tidak mengasihi. Malah justru karena mengasihi.

Tuhan berkata, “Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum sepakat?”
Jika tidak sepakat, lebih baik berjalan sendiri-sendiri. Ini mencegah konflik berkepanjangan dan energi yang terbuang sia-sia.

Satu contoh menarik dari Carrie: sebelum menegur seseorang, ia tidak langsung bicara. Ia mengajaknya makan bersama beberapa kali tanpa membahas kesalahannya. Tujuannya membangun hubungan. Setelah persahabatan terjalin, barulah teguran disampaikan dengan lembut.
“Biarkan mereka melihat hati kita terlebih dahulu. Lalu tanyakan apakah kita boleh menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak nyaman,” kata Carrie.

Pendekatan ini membuat orang lebih siap menerima masukan. Benar seperti pepatah: kita tidak bisa menarik uang di bank kalau tidak pernah menabung.

Sayangnya banyak orang baru muncul ketika butuh sumbangan atau dukungan. Proposal datang, tapi selama ini menyapa pun tidak pernah.
Hukum kehidupan itu sederhana: tabur dan tuai.
Bagaimana mungkin mengharapkan dukungan jika kita tidak pernah menabur kebaikan sebelumnya?

Itu sebabnya saya suka menabur tanpa pamrih. Selain rutin menulis Seruput Kopi Cantik, saya sering mengirim buku gratis, bahkan kepada orang yang belum pernah saya temui. Ini cara saya menggelar karpet merah kehidupan. Saya percaya ketika kita rajin menabur kebaikan, saat kita membutuhkan sesuatu, Tuhan membawa orang-orang yang tepat untuk membantu.

Andrew Wommack punya kisah serupa. Ia mengajar di radio dan televisi secara gratis, dan hampir semua materi pelayanannya boleh diunduh tanpa biaya. Ia bahkan mendorong murid-muridnya memberi untuk pelayanan tamunya, meski Andrew sendiri sedang membangun gedung jutaan dolar. Ia tidak takut kekurangan.

Inilah rahasia mindset kelimpahan: Tuhan punya lebih dari cukup untuk semua orang. Andrew menabur di mana-mana. Karena itu ketika Tuhan memberi langkah penggenapan visi, donatur dari seluruh dunia datang membantu. Mereka mengenal integritasnya. Mereka ingin terlibat.

Andrew berkata, “Saya punya panen karena sebelumnya saya menabur.”

Carrie juga pernah menangani staf yang terlibat perselingkuhan hingga hamil. Mereka bertobat dan berubah, dan Carrie tetap mengasihi mereka. Tapi konsekuensi tetap berlaku: mereka harus dicopot dari jabatan. Karena posisi itu mempengaruhi banyak orang.

Mereka tidak dibuang. Tetap dilibatkan dalam organisasi, tetapi pada tugas yang tidak berhubungan langsung dengan publik. Kepercayaan harus dibangun kembali.

Karena benar kata Warren Buffett:
“Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk merusaknya.”

Kepercayaan itu mahal. Sekali pecah, sulit kembali utuh.

Belajar yuk menangani konflik dengan anggun, penuh kasih tetapi tetap tegas.

“Anyone can become angry—that is easy. But to be angry with the right person, at the right time, for the right purpose, and in the right way—that is not easy.” – Aristotle.*

“Siapa pun bisa marah—itu mudah. Tapi marah kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan tujuan yang benar, dan dengan cara yang benar—itu tidak mudah.” – Aristoteles*

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Benarkah Uang Bisa Membeli Segalanya?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Benarkah Uang Bisa Membeli Segalanya?

“Apa sih yang gak bisa dibeli dengan uang?”

Kalimat itu sering terdengar gagah, penuh percaya diri, bahkan sedikit menantang dunia.

“kalau ada masalah, tinggal “tampar” pakai uang. Pasti beres.”, lanjutnya jumawa.

Saya malah tertawa kecil setiap dengar kalimat itu.
Bukan sinis, tapi karena hidup sudah cukup mengajar saya satu hal: dunia tidak sesederhana itu.

Beberapa waktu lalu, saya dengar cerita tentang seseorang yang hartanya luar biasa.
Aset di mana-mana. Bisnis jalan di beberapa kota. Duit banyak, koneksi luas.
Tapi waktu mau ikut tour bersama Pak Anton Thedy – TX Travel, dia ditolak.

Why?
Bukan karena uangnya kurang.
Bukan karena kuota penuh.
Bukan karena ribet.

Alasannya sederhana:
Karena gak sehat.

Sudah beberapa kali ikut perjalanan, tapi selalu berakhir masuk rumah sakit dan mengganggu rombongan. Jalan sendiri gak happy…. Gak ada teman!

Gubbrrraaaaak!

Di titik itu, uang benar-benar tidak berdaya.
Bisa beli tiket kelas bisnis or first class, tapi tidak bisa beli tubuh yang sehat.
Bisa bayar rumah sakit mahal, tapi tidak bisa membeli kesehatan dan kualitas hidup.

Dari sini saya belajar:
Uang itu kuat, tapi bukan Tuhan.
Dia punya batas.

Bagi banyak orang, kemakmuran diukur dari jumlah di rekening.
Semakin banyak, semakin dianggap sukses.
Semakin tinggi aset, semakin dianggap diberkati.

Tapi menurut Barry Bennett, salah satu guru favorit saya, itu terlalu dangkal.

Orang bisa sangat kaya, tapi:
– jiwanya kosong
– pikirannya penuh kecemasan
– tubuhnya rusak karena stres
– relasinya dingin
– emosinya berantakan
– rohnya kering

Itu bukan kemakmuran.
Itu cuma angka yang besar, tapi hidup yang kecil.

Barry pernah menjelaskan, uang hanyalah perpanjangan dari hati.
Kalau hati tidak diberkati, uang justru memperbesar kekacauan.

Dan di sinilah saya mau menambahkan satu hal yang sangat penting:

Berkat itu bukan pertama-tama uang. Berkat itu Firman Tuhan yang diperkatakan.

Firman itu bukan teori.
Firman itu bukan motivasi kosong.
Firman itu adalah Allah sendiri.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Firman itu roh,
Firman itu hidup,
Firman itu berkuasa,
dan Firman sanggup menciptakan apa yang tidak ada menjadi ada.

Waktu Firman bukan hanya kita baca, tapi kita ucapkan, percayai, dan dihidupi, alam mulai bergerak menyesuaikan dengan kebenaran itu.

Dan waktu hidup kita dipenuhi God’s Favor – perkenanan Tuhan, sesuatu yang indah terjadi:
Bukan kita yang mengejar kebutuhan,
tapi kebutuhan yang mengejar kita.

Bukan karena kita hebat.
Bukan karena uang kita banyak.
Tapi karena kita berjalan dalam rencana-Nya.

Bahkan sebelum kita sadar butuh, Tuhan sudah menyiapkan.
Sebelum kita minta, Dia sudah menyediakan.

Tuhan telah pergi ke masa depan kita untuk mempersiapkan jalan,
dan kebaikan Tuhan mengikuti di belakang kita untuk menyelamatkan kita dari bahaya masa lalu kita.
Dengan tangan kasih-Nya, Tuhan memberkati kita senantiasa”
, nyanyian Raja Daud.

Inilah kemakmuran sejati:
Bukan cuma kaya materi, tapi hidup dalam aliran perkenanan Allah.
Di mana kita tidak berjuang sendirian, tapi berjalan bersama Sang Sumber Segalanya.

Dan orang itu, yang ditolak ikut tour?
Dia bukan miskin.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia beli:
Tubuh yang sehat, damai di dalam, dan hidup yang selaras dengan Firman.

What a loss!

Karena itu, sebelum kita sibuk mengejar uang, keamanan, atau segala hal duniawi, Tuhan sudah memberi satu kunci sederhana:
Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Ini bukan janji kosong, tapi prinsip hidup.

Saat fokus kita lurus kepada Tuhan, saat Firman-Nya jadi arah, bukan sekadar hiasan, hidup kita masuk ke dalam tatanan ilahi. Bukan kita yang kelelahan mengejar segala sesuatu, tetapi segala sesuatu itu akan ditambahkan sesuai waktu dan cara Tuhan. Bukan karena kita hebat, tapi karena kita memilih sumber yang benar.

It’s all about God, not us.

Siap praktik? Yuuuk….

“The greatness of a man’s power is the measure of his surrender.”- AW Tozer.

“Besar kecilnya kuasa seseorang ditentukan oleh besar kecilnya penyerahannya.” – AW Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 5