Tag Archives: #seruputkopicantik #yennyindra #Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Articles

“Wow… Kanas Lake! Keindahan yang Jadi Senjata Cerdas Tiongkok”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Wow… Kanas Lake! Keindahan yang Jadi Senjata Cerdas Tiongkok”

Pagi-pagi sekali kami sudah berangkat menuju Kanas Lake National Forest Park. Udara masih segar, matahari perlahan naik dari balik pegunungan. Namun betapa terkejutnya saya, ternyata pengunjung sudah membludak. Bus-bus wisata, mobil pribadi, hingga rombongan tur tampak memenuhi jalan menuju danau yang terkenal ini. Seakan semua orang berlomba untuk tiba lebih awal.

Rupanya pemerintah Tiongkok memang sangat cerdik. Sebelum Covid-19, sekitar 100 juta warganya setiap tahun berlibur ke luar negeri. Dari hitung-hitungan sipoa jelas tidak menguntungkan, devisa begitu saja mengalir keluar. Apa yang dilakukan? Mereka mengubah strategi. Objek-objek wisata dikelola serius: dibuat nyaman, cantik, bersih, dan lengkap fasilitasnya. Mulai dari jalan masuk, transportasi, hotel, restoran, hingga toilet umum – semua dipikirkan dengan detail.

Hasilnya luar biasa. Sampai dengan bulan Oktober ini saja, booking pesawat, hotel, dan paket perjalanan ke Xinjiang sudah menembus 130 juta orang. 98% adalah turis lokal. Wow… betapa lihainya strategi ini, sehingga uang rakyat tetap berputar di dalam negeri, menghidupkan ekonomi lokal dan menyejahterakan masyarakat.

Begitu memasuki kawasan Kanas, suasana langsung berbeda. Hamparan hutan cemara dan birch menyambut kami, menjulang tinggi seakan menjadi pintu gerbang alami. Di musim gugur, dedaunannya berubah warna menjadi emas, jingga, dan merah. Rasanya seperti berjalan di dalam lukisan yang hidup, setiap langkah menghadirkan pemandangan baru yang menakjubkan.

*Kanas* sering disebut sebagai salah satu danau tercantik di Tiongkok, bahkan dijuluki *Swiss-nya Timur*

Tak hanya itu, di sepanjang jalur sungai terdapat kelokan-kelokan cantik seperti Moon Bay, Fairy Bay, dan Wolong Bay. Ajaibnya, warna air di tiap kelokan bisa berbeda, tergantung cahaya matahari dan kandungan mineral alami. Berjalan di sepanjang tepian sungai ini seperti menikmati galeri seni alam, di mana setiap sudut menyuguhkan lukisan baru.

Dan ketika akhirnya sampai di tepi danau, saya terdiam. Uniknya, warna air di Moon Bay (Teluk Bulan) bisa berubah-ubah sesuai musim dan cahaya matahari – kadang biru jernih, kadang hijau toska, bahkan bisa keabu-abuan saat cuaca mendung. Semua itu menambah kesan mistis, seolah benar-benar sedang melihat “bulan” yang jatuh ke bumi.

Fairy Bay (Teluk Bidadari/Peri Teluk) yang tenang dan jernih, sering diselimuti kabut tipis di pagi hari. Suasananya terasa magis, seperti dunia dongeng, sehingga disebut tempat para peri turun bermain.

Puncaknya di Wolong Bay (Teluk Naga Tidur), kelokan sungai yang bentuknya menyerupai naga sedang tidur. Dikelilingi pepohonan rimbun, panorama ini melambangkan kekuatan dan keberuntungan dalam budaya Tiongkok.
Nampak bak pulau yang dikelilingi sungai dimana airnya berwarna biru kehijauan, tenang, seakan sebuah cermin raksasa yang memantulkan langit biru dan gunung bersalju di kejauhan lengkap dengan perpaduan daun hijau kuning serta sedikit merah . Kabut tipis melayang di atas permukaan, memberi kesan misterius nan anggun.
Wow… sulit rasanya menggambarkan dengan kata-kata.

Dan foto cantik pemandangan ini, hasil jepretan teman tur, #JaniWiguna dengan kamera khususnya. Thanks Jani!

Perjalanan ini bukan sekadar wisata mata, tetapi juga wisata hati. Alamnya mengajarkan keteduhan, sementara strateginya mengajarkan kecerdikan. Negeri ini berhasil mengubah “beban devisa keluar” menjadi “mesin ekonomi dalam negeri” hanya dengan menata da mempercantik apa yang sudah mereka miliki.

Wow… Kanas Lake mengingatkan saya bahwa kebijaksanaan bukan hanya soal strategi besar, tetapi juga tentang menghargai dan mengelola dengan baik apa yang ada di tangan kita.

Prinsip yang senantiasa Tuhan ajarkan dan sudah didepositkan di dalam setiap kita.
Setiap manusia itu unik, berbeda, limited edition dan lengkap… apa yang kita butuhkan untuk hidup berkemenangan sudah tersedia di dalam roh kita.
Sudahkah kita berkolaborasi dengan-Nya untuk menjalani hidup ini selangkah demi selangkah bersama-Nya?
Dan setiap langkah, merupakan suatu mujizat!

“Nature is painting for us, day after day, pictures of infinite beauty if only we have the eyes to see them.” – John Ruskin.

“Alam setiap hari melukiskan bagi kita gambar-gambar dengan keindahan tak terhingga, jika saja kita punya mata untuk melihatnya.” – John Ruskin.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
o

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesam

Read More
Articles

“Menjejak Hemu: Dari Scenery Road hingga Ski Resort di Atap Empat Negara”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Menjejak Hemu: Dari Scenery Road hingga Ski Resort di Atap Empat Negara”

Perjalanan pagi ini menuju Hemu Village dimulai melalui jalur baru yang dibuka pada Juni lalu, yang diberi julukan *Scenery Road.* Nama itu memang tepat. Di sebelah kiri, tampak gunung berbatu dengan puncak yang masih tertutup salju. Sementara di kanan, deretan pohon birch mulai menguning, berpadu dengan hijau segar yang masih bertahan. Pemandangan ini sederhana namun menawan.

Semakin jauh, jalan makin dikelilingi gunung bersalju pada ketinggian sekitar 2.700 meter. Ada hal menarik: sebagian pohon pinus berubah kuning sepenuhnya, sebagian tetap hijau, dan ada juga yang bercampur keduanya. Kontras warna ini membuat suasana perjalanan terasa berbeda. Nantinya, daun-daun itu akan memerah lalu gugur. Itulah mengapa September hingga awal Oktober disebut sebagai musim terbaik untuk berkunjung ke Xinjiang—pemandangannya berubah seperti kalender hidup yang terus berganti halaman.

Dari jalur ini, perjalanan dilanjutkan dengan cablecar yang bergerak perlahan di atas hutan pinus dan lembah. Suasananya tenang, memberi waktu untuk menikmati pemandangan tanpa tergesa. Cablecar ini membawa kami menuju *Hemu Ski Resort,* destinasi musim dingin populer di kawasan Altai. Dari ketinggian, seharusnya bisa terlihat perbatasan empat negara sekaligus: China, Mongolia, Rusia, dan Kazakhstan.

Namun saat kami tiba di puncak, sekitar 2.800 meter di atas permukaan laut, hujan salju kembali turun. Udara begitu dingin hingga menusuk tulang, dan kabut tebal membuat pandangan terbatas. Meski demikian, suasana tetap terasa istimewa. Di sana tidak ada kafe modern, tetapi jajanan sederhana seperti ubi bakar panas dan jagung rebus banyak dijual, dan cepat ludes karena menjadi pilihan favorit wisatawan yang kedinginan.

Area ski resort ini juga dilengkapi dengan spot-spot foto yang ditata rapi, sehingga pengunjung mudah menemukan sudut menarik untuk mengabadikan perjalanan mereka. Saat ini, pembangunan hotel berbintang 4 dan 5 serta jalur cablecar baru sedang berlangsung. Semua ini menunjukkan bahwa kawasan ini sedang dipersiapkan menjadi destinasi wisata berskala internasional. Penerintah Tiongkok benar-benar serius mempersiapkannya.

Dari ketinggian ski resort, pandangan mengarah ke bawah menuju desa tradisional Hemu. Desa ini dikenal sebagai salah satu yang terindah di China, dikelilingi hutan birch, pegunungan Altai, dan sering diselimuti kabut tipis di pagi hari. Hemu dihuni oleh suku Tuwa (Tuva), komunitas kecil yang sejak lama hidup sebagai penggembala dan peternak kuda. Mereka tinggal di rumah kayu sederhana dan menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Perubahan zaman membawa pengaruh besar. Hemu kini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Rumah-rumah kayu tradisional masih berdiri, namun desa telah ditata ulang agar lebih mudah diakses wisatawan. Jalan-jalan desa dipenuhi pengunjung yang ingin merasakan kehidupan etnis Tuwa dari dekat.

Berbagai makanan tradisional dijual di sana. Sate kambing menjadi makanan favorit yang terkenal mahal dibandingkan sapi dan ayam.

Di sepanjang jalan ada kambing-kambing kecil cantik yang sudah didandani, dengan pita, kalung, bunga untuk diajak foto oleh para wisatawan. Tentu ada tarifnya.

Dan menarik sekali. Di beberapa tempat terlihat orang yang sedang menari dengan mengenakan baju traditional.

Bunga matahari, bunga Adonis annua, yang menurut Kristina, semerah darah tentara yang meninggal saat berperang, dan berbagai bunga lain tumbuh berkembang di halaman rumah kayu traditional itu menambah asri suasana di sana. Beberapa spot mirip suasana rumah kayu di Jepang.

Meski interaksi dengan dunia luar semakin banyak, identitas budaya mereka tetap menjadi daya tarik utama. Tradisi lama tetap dijalankan, meski perlahan berpadu dengan modernitas.

Kombinasi inilah yang membuat Hemu berbeda. Di satu sisi, kita bisa merasakan kehidupan tradisional yang sederhana, dan di sisi lain terlihat jelas bagaimana pariwisata membawa perubahan dan peluang baru. Hemu kini menjadi simbol harmoni—antara alam, budaya, dan perkembangan zaman.
Unik ya?

Rumi pernah berkata:
“Wherever you stand, be the soul of that place.”
“Di mana pun engkau berdiri, jadilah jiwa dari tempat itu.”

Hemu seakan mengajarkan hal ini—setiap tempat memiliki jiwanya sendiri. Dan saat kita hadir dengan hati terbuka, kita pun bisa ikut merasakan denyut kehidupan yang ada di dalamnya.
Dan membuat kita makin terpesona dengan kebesaran Tuhan yang menciptakannya.

“The mountains are calling and I must go.” – John Muir.

“Gunung-gunung memanggil, dan aku harus pergi.” – John Muir.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

The Power of Kindness – Dunia Butuh Lebih Banyak Malaikat Seperti Kita.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

The Power of Kindness – Dunia Butuh Lebih Banyak Malaikat Seperti Kita.

Ketika Conan O’Brien dipecat dari The Tonight Show pada tahun 2009, dunia mengira dia akan baik-baik saja. Ia figur publik, lucu, cerdas, dan terkenal. Tapi di balik layar, hatinya remuk. Perasaan gagal, ditolak, dan dibuang begitu saja menyelimuti hari-harinya.

Di masa-masa seperti itu, kita semua bisa mengerti. Ada saat dalam hidup di mana semuanya terasa gelap. Doa seolah tidak dijawab. Orang-orang menjauh. Kita terpuruk, merasa sendiri, bahkan ditinggalkan oleh mereka yang kita pikir akan tetap ada.

Namun justru dalam momen paling gelap itu, kasih Tuhan bisa hadir… lewat cara yang paling tak terduga.

Di tengah kepedihannya, Conan mendapat telepon dari seseorang yang tidak terlalu dekat dengannya: Robin Williams.
Dia artis yang sangat tenar.
Conan bahkan tidak tahu dari mana Robin bisa mendapatkan nomor pribadinya. Tapi Robin menelepon dan memintanya datang ke sebuah toko sepeda di Santa Monica.

Setibanya di sana, Conan mendapati sebuah sepeda Colnago mewah berwarna hijau cerah yang sudah dibayar penuh atas nama Robin. Tanpa banyak kata, Robin berkata, “Kamu bakal suka sepeda itu, Chief. Keliling aja—kamu bakal merasa lebih baik.”

Terdengar aneh, ya? Tapi saat Conan melihat sepeda itu, ia tertawa. Bukan karena harganya. Tapi karena hatinya disentuh. Ia merasa dilihat. Dihargai. Disayangi. Dan ketika ia mulai mengayuh sepeda itu di udara pantai California, hatinya mulai pulih.

Itulah kuasa kebaikan. The power of kindness.

Tuhan sering bekerja dalam diam. Ia tidak selalu mengirim kilat atau gemuruh. Tapi Dia hadir lewat seseorang yang mau taat pada dorongan lembut di hati. Robin mungkin tidak tahu dampak dari sepeda itu. Tapi kebaikannya menjadi bentuk nyata dari kasih Tuhan—yang menjangkau Conan di saat ia nyaris putus asa.

Kita pun bisa ada di dua sisi.

Di satu sisi, ketika kita berada di lembah hidup, terpuruk dan merasa ditinggalkan, tetaplah buka hati. Jangan tenggelam dalam kepahitan. Jangan tutup diri. Fokuskan hati pada Tuhan, meski tidak ada hal yang terasa masuk akal. Karena di saat kita berpikir semuanya sudah selesai, Tuhan sedang menggerakkan seseorang—entah dari mana—untuk datang membawa penghiburan, harapan, bahkan tawa.

Di sisi lain, ketika Tuhan menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu, walau tampaknya sepele, aneh, atau tidak masuk akal—lakukan saja. Kirim pesan. Telepon seseorang. Belikan kopi. Dengarkan tanpa menghakimi. Atau bahkan… belikan sepeda hijau terang. Siapa tahu, kita sedang menjadi “malaikat” yang dikirim Tuhan untuk menjawab doa orang lain.

Seringkali kita berpikir, untuk dipakai Tuhan harus punya panggung, punya suara besar, atau punya banyak uang. Padahal Tuhan hanya butuh satu hal: hati yang mau peka dan taat. Karena kasih-Nya bekerja lewat tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan besar.

Kasih Tuhan itu nyata. Ia tahu persis kapan dan bagaimana menjangkau anak-anak-Nya yang sedang terluka. Dan ketika Dia ingin menyampaikan kasih-Nya, Dia sering memakai kita—yang bersedia.

Jangan remehkan satu tindakan baik. Jangan anggap sepele satu dorongan dari Roh Kudus yang muncul tiba-tiba di hati kita. Bisa jadi, itulah momen yang menyelamatkan hari seseorang. Bahkan menyelamatkan hidupnya.

Dan saat kita sedang di titik rendah, ingatlah… Tuhan tidak pernah jauh. Dia akan menemukan cara untuk menunjukkan bahwa Dia peduli. Bisa lewat siapa saja. Bisa lewat apa saja.

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Mungkin hari ini, kita sedang menunggu ‘Robin Williams’-kita.

Atau… mungkin justru kita yang sedang dipanggil untuk menjadi Robin bagi orang lain.

Who knows
Yuuuuk taat…..

“Do your little bit of good where you are; it’s those little bits of good put together that overwhelm the world.” – Desmond Tutu.

“Lakukanlah kebaikan kecil di tempatmu berada; karena kumpulan kebaikan kecil itulah yang mampu mengubah dunia – Desmond Tutu.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Luka Mereka, Bukan Milikmu..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Luka Mereka, Bukan Milikmu..

Saya membaca sebuah tulisan dari #ajraharjo yang begitu menusuk hati:

“Ketika seseorang memperlakukanmu dengan buruk, itu mencerminkan masalahnya sendiri, bukan nilai dirimu. Orang yang sehat secara emosional tidak akan menjatuhkan orang lain.”

Kalimat itu sederhana, tapi dalam. Seperti cermin yang memantulkan kenyataan—bukan tentang kita, tapi tentang luka orang lain yang belum selesai.

Ajraharjo bercerita tentang Maya, seorang seniman muda berbakat yang bekerja di galeri seni terkenal. Mimpinya tinggi, semangatnya menyala. Tapi setiap hari, Maya harus menghadapi kurator senior yang sinis, merendahkan, dan sering mengolok-olok karyanya. Bahkan pakaiannya pun dikomentari.

Awalnya Maya mencoba kuat. Tapi lama-lama ia mulai percaya bahwa dirinya memang tidak cukup baik. Bahwa mimpinya terlalu besar untuk bakatnya yang kecil. Bahwa dirinya memang layak direndahkan.

Sampai suatu hari, seorang kolektor seni datang dan terpukau dengan lukisan Maya. Ia memuji kedalaman warnanya, emosi dalam goresannya.

Maya terdiam, lalu bertanya dengan suara pelan, “Bagaimana Anda bisa melihat keindahan itu, sementara kurator saya hanya melihat kesalahan?”

Kolektor itu tersenyum, “Karena dia tidak pernah mampu melihat keindahan—dalam karyamu, bahkan dalam dirinya sendiri.”

Dan di situlah Maya mulai mengerti. Ia bukan masalahnya. Bukan lukisannya yang buruk. Hanya saja, orang yang melihatnya, belum sembuh dari kekosongan dalam dirinya.

Banyak dari kita pernah berdiri seperti Maya. Diserang tanpa sebab, dikritik tanpa kasih, dijatuhkan padahal tak salah. Lalu kita sibuk memperbaiki diri, bukan karena ingin bertumbuh, tapi karena takut dianggap gagal. Kita lupa, luka yang dilemparkan orang lain bukan cermin yang harus kita pakai untuk menilai harga diri.

Tuhan menciptakan kita dengan nilai, bukan berdasarkan pendapat manusia. Nilai itu melekat, tetap utuh—meski orang lain menolak, mengabaikan, bahkan mencibir.

Dalam sebuah pengajaran kuno tertulis, bahwa hati yang penuh dengan kebencian akan mengeluarkan caci maki; tangan yang penuh kepahitan akan mencari sasaran untuk dijatuhkan. Tapi itu bukan tentangmu. Itu cerminan dari jiwanya yang terluka.

Tuhan melihat hati. Bukan hanya perilaku kita, tapi juga motivasi dan luka yang kita bawa. Maka ketika kita menerima perlakuan yang menyakitkan, sebenarnya kita sedang diundang untuk melihat lebih dalam: Apakah aku akan bereaksi seperti mereka, atau tetap berdiri dalam terang yang telah Tuhan berikan padaku?

Orang yang sehat secara rohani dan emosional tidak sibuk menjatuhkan. Mereka terlalu sibuk membangun, mencipta, dan menginspirasi. Mereka tahu bahwa menjatuhkan orang lain tidak membuat mereka lebih tinggi. Justru sebaliknya, memperlihatkan betapa kosongnya dunia batin mereka sendiri.

Ketika seseorang mencoba meruntuhkanmu, jangan lari. Berdirilah tegak.

Bukan untuk membalas, tapi sebagai pernyataan: Aku tahu siapa diriku. Aku tahu siapa yang memegang hidupku. Aku bukan pantulan dari kritikmu, tapi ciptaan Tuhan yang unik dan bernilai.

Terkadang, terang dalam dirimu begitu kuat, sampai-sampai kegelapan dalam diri orang lain merasa terancam. Maka jangan padamkan terang itu hanya karena ada yang merasa silau. Jangan biarkan luka mereka merusak jiwamu. Biarkan mereka dengan pergumulannya, dan teruslah bersinar.

Dan saat hatimu mulai goyah, ingatlah kisah Maya. Ia hampir menyerah karena cermin yang retak. Tapi yang ia butuhkan bukan cermin baru, melainkan keberanian untuk melihat dirinya lewat mata yang lebih tinggi—mata yang melihat bukan hanya kesalahan, tapi potensi, kasih, dan panggilan hidup.

Kadang, kehidupan memaksa kita lewat jalan sempit agar kita belajar membedakan: mana kritik yang membangun, dan mana yang lahir dari kegelapan jiwa orang lain.

Kita tidak bisa memilih bagaimana orang memperlakukan kita. Tapi kita bisa memilih untuk tetap berdiri dalam kasih, dalam pengampunan, dan dalam keyakinan bahwa hidup kita berharga—bukan karena pengakuan mereka, tapi karena Tuhan sendiri yang memberi nilai itu.

Siap praktik?
Mari jadi Pemenang!

“You will never be criticized by someone doing more than you. You will only be criticized by someone doing less.”- Denzel Washington.

“Kamu tidak akan dikritik oleh orang yang melakukan lebih darimu. Kritikan biasanya datang dari mereka yang melakukan lebih sedikit.” – Denzel Washington.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Wat Phra That Doi Suthep: Ikon Chiang Mai yang Sarat Sejarah.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Wat Phra That Doi Suthep: Ikon Chiang Mai yang Sarat Sejarah.

Chiang Mai bisa diartikan sebagai “kota baru”.
Nama ini diberikan ketika kota ini didirikan pada tahun 1296 oleh Raja Mengrai, sebagai ibu kota baru menggantikan Chiang Rai (yang berarti “kota tua”). Meski artinya “kota baru”, sekarang Chiang Mai adalah salah satu kota tertua dan paling bersejarah di Thailand bagian utara.

Chiang Mai memang punya banyak sisi menarik, tapi satu tempat yang nyaris selalu masuk daftar kunjungan adalah Wat Phra That Doi Suthep. Terletak di atas bukit dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter, kuil ini bukan hanya bangunan tua yang cantik, tapi juga menyimpan sejarah panjang dan legenda yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Menurut cerita, kuil ini dibangun pada abad ke-14 di masa Raja Keu Naone dari Kerajaan Lanna. Yang membuat kisahnya menarik adalah bagaimana lokasi kuil ini dipilih. Konon, relik suci yang dipercaya sebagai bagian dari tubuh Buddha diletakkan di punggung seekor gajah putih. Gajah itu dilepas begitu saja ke hutan dan akhirnya berhenti di sebuah titik di Doi Suthep. Di sanalah ia berlutut, mengeluarkan suara tiga kali, lalu mati. Raja melihat ini sebagai pertanda, dan memerintahkan kuil dibangun tepat di lokasi tersebut.

Wat Phra That Doi Suthep sejak saat itu menjadi tempat penting bagi masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, lokasi ini juga jadi simbol budaya dan sejarah. Gaya arsitekturnya khas Lanna, lengkap dengan stupa emas yang mencolok dan berbagai ukiran detail. Meski bukan bagian dari kepercayaan saya pribadi, saya tetap bisa menghargai kerumitan karya seninya dan betapa terawatnya bangunan ini selama ratusan tahun.

Menuju kuil ini ada dua pilihan: naik cable car, – lebih tepatnya furnicular, – atau menapaki 306 anak tangga yang dihiasi ornamen naga berwarna-warni. Bagi yang suka sensasi wisata fisik, naik tangga bisa jadi pengalaman seru—walau ngos-ngosan, pemandangan dan atmosfer di atas cukup membayar usaha.

Begitu sampai, pemandangan kota Chiang Mai terbentang luas di kejauhan. Banyak pengunjung berhenti sejenak untuk menikmati angin sejuk dan berfoto. Area kompleks kuil cukup luas, dengan banyak sudut menarik—baik untuk penggemar fotografi maupun yang ingin sekadar duduk santai sambil menikmati suasana.

Hal menarik lainnya adalah kisah di balik akses jalan menuju kuil ini. Sebelum tahun 1935, satu-satunya cara menuju Doi Suthep adalah mendaki. Lalu seorang tokoh agama lokal, Khruba Sri Wichai, memimpin ribuan warga membangun jalan sepanjang 11 km secara gotong royong, tanpa bantuan pemerintah. Jalan itu selesai hanya dalam beberapa bulan dan masih digunakan hingga hari ini. Sebuah catatan sejarah yang memberi gambaran tentang semangat komunitas di masa lalu.

Meski kuil ini ramai dikunjungi wisatawan, suasananya tetap tenang. Orang-orang berbicara pelan, suasana dibuat tertib, dan ada aturan berpakaian yang cukup ketat—tidak boleh memakai celana pendek atau baju tanpa lengan. Bagi yang tidak membawa pakaian sopan, tersedia kain sarung gratis di pintu masuk.

Wat Phra That Doi Suthep bukan tempat yang dikunjungi karena alasan religius bagi semua orang, tapi sebagai wisata budaya dan sejarah, tempat ini sangat layak disambangi. Di balik kemegahannya, tersimpan banyak kisah menarik, baik dari sisi legenda, arsitektur, maupun peran pentingnya dalam kehidupan masyarakat Chiang Mai.

Jadi kalau sedang berada di kota ini, luangkan waktu setengah hari untuk naik ke atas dan menikmati salah satu warisan budaya paling penting di Thailand Utara. Bukan hanya karena lokasinya yang Instagramable, tapi juga karena pengalaman yang terasa berbeda: sejuk, tenang, dan penuh cerita.

Dari puncaknya, kita bisa menikmati kota Chiangmai dengan airportnya.
Jepret… jepret…jepret… kami pun berfoto ria.

Di Chiangmai banyak buah-buahan. Durian, mangga, kelengkeng, rambutan, srikaya dll….
Wuih … asyiknya.

Yang unik sekali ada buah salak kecil, bulunya panjang, sedikit tajam.
Rasanya?
Jauh lebih enak Salak Pondoh sich, manis. Tapi ini unik…
O ya ada minuman bunga kelapa pandan, manis rasanya….

Malam ke Night Market… tinggal pilih mau makan apa? Banyak baju dan berbagai souvenir dijual di sama.
Hhhmmm…. liburan selalu menyenangkan.

“Budaya sebuah bangsa terletak di hati dan jiwa rakyatnya.” – Jawaharlal Nehru.

“The culture of a nation resides in the hearts and in the soul of its people.” – Jawaharlal Nehru.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 3 4 5 6 7 10