Category : Articles

Articles

Benarkah Tuhan Memanggil Seseorang Untuk Meninggalkan Dunia?

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Benarkah Tuhan Memanggil Seseorang Untuk Meninggalkan Dunia?

“Tuhan memanggil P. Amin pulang subuh pagi ini..”
Yang dimaksud adalah P. Amin sudah meninggal dunia pagi ini.

Istilah Tuhan yang memanggil, Tuhan lebih sayang jadi segera dipanggil pulang ke surga, menjadi kalimat yang kerap digunakan dalam masyarakat.

Benarkah itu Tuhan yang memanggil? Ini jawabannya.

Tuhan tidak pernah berjanji bahwa kita tidak akan mati. Bahkan, Dia berjanji persis sebaliknya – semua orang mati. Pertama kita mati, dan setelah itu kita hidup selamanya.

Ibrani 9:27 (TB) Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.

Tetapi idealnya, kematian seorang percaya haruslah “kematian dalam kemuliaan,” di mana kita telah menyelesaikan panggilan hidup kita terlebih dahulu.
Tuhan adalah sumber kehidupan, bukan kematian.

*Kematian bukanlah kehendak Tuhan, melainkan akibat dosa yang masuk ke dunia.*

*Roma 6:23 (TB) Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.*

Yesus telah menebus manusia dari dosa dan kematian, sehingga setiap orang percaya memiliki hak untuk hidup dalam kemenangan.

Sangat penting bagi kita untuk memahami kehendak Tuhan yang baik, berkenan, dan sempurna, yaitu kehidupan yang berkelimpahan (Yohanes 10:10).*

Ketika tidak memahami kehendak Tuhan, banyak orang mati bukan disebabkan panggilan Tuhan, melainkan karena serangan iblis, tertipu oleh tipu daya ‘si ular tua’ atau berbagai keputusan yang salah, karena kurangnya pengenalan akan kebenaran firman-Nya (Hosea 4:6).

Itulah sebabnya penting bagi kita untuk “Menepati garis iman” dan terus membangun persekutuan pribadi dengan-Nya.

Apa arti “Menepati garis iman”?
Sikap hati yang teguh untuk percaya pada Tuhan tanpa kompromi, menjaga pikiran, perkataan, dan tindakan kita, sesuai dengan firman-Nya.
Ini panggilan untuk berjalan dengan keberanian dan ketekunan, karena janji Tuhan pasti digenapi bagi mereka yang tidak menyerah.

*Galatia 6:9 AMPC.*
*Janganlah kita menjadi lemah semangat, lelah, atau putus asa dalam melakukan hal-hal yang baik dan benar. Sebab pada waktunya, yaitu di musim yang telah ditetapkan, kita akan menuai hasilnya, jika kita tidak menyerah atau kehilangan keberanian.*

Bagaimana cara mencegah Kematian Dini?
Seseorang yang percaya pada kesembuhan ilahi harus tetap menepati garis iman dengan mengakui, “Oleh bilur-bilur Yesus, saya telah disembuhkan” (Yesaya 53:5), meskipun gejala sakit masih ada.
Menepati garis iman berarti tidak terpengaruh oleh keadaan atau laporan dokter, tetapi terus percaya pada janji Tuhan sampai kesembuhan itu terwujud sepenuhnya.

1.Tetap Berpegang pada Firman Tuhan
Tidak menyerah pada janji firman Tuhan, bahkan ketika situasi tampak sulit.
Iman bukan hanya percaya di awal, tetapi juga bertahan hingga akhir.
Kita harus terus mengakui kebenaran firman Tuhan, seperti yang tertulis di
2 Korintus 5:7, “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”

2. Mengendalikan Pikiran dan Perkataan
Menjaga pikiran dan perkataan kita tetap selaras dengan firman Tuhan.
Jangan mengijinkan keraguan, ketakutan, atau perkataan negatif keluar dari mulut kita.

Perkataan iman memiliki kuasa kreatif, sehingga kita harus berbicara seperti apa yang kita imani, bukan seperti apa yang kita lihat.

3. Berdiri Teguh di Tengah Ujian

Salah satu tantangan terbesar dalam “menepati garis iman”, yaitu menghadapi ujian dan serangan.
Siapa yang mencobai dan menguji?
Si iblis, ular tua.

Iblis akan mencoba menggoyahkan iman kita, tetapi Tuhan telah memberikan kuasa kepada kita untuk menang. Menepati garis iman, tentang menolak menyerah, tetap fokus pada janji Tuhan, dan melawan tipu muslihat musuh. Efesus 6:16 (TB)

4. Melibatkan Roh Kudus mentaati-Nya.
Menjalani hidup bersama Roh Kudus akan membantu kita menepati garis iman.
Roh Kudus yang memberikan hikmat, kekuatan, dan penghiburan untuk tetap teguh dalam perjalanan iman, terutama ketika menghadapi situasi yang kelihatannya mustahil.

Banyak orang kehilangan hasil dari iman mereka karena menyerah di tengah jalan. Tuhan selalu setia pada firman-Nya, tetapi sering kali manusia gagal untuk tetap setia dalam percaya.
Ketika kita melepaskan garis iman, kita membiarkan musuh mencuri apa yang seharusnya menjadi milik kita.

Kesimpulannya, Tuhan TIDAK PERNAH memanggil seseorang meninggal dunia.

Otoritas dan pilihannya ada di tangan kita.
Apakah kita terampil menggunakan otoritas dan perlengkapan senjata Allah yang sudah dikaruniakan-Nya sesuai dengan pengetahuan firman-Nya?
Jika YA, tentunya kita akan hidup berkemenangan dan mampu menyelesaikan tugas kita di dunia ini dengan sangat baik.
Dan kita akan pulang dengan bangga karena Mission Completed – Misi Telah Selesai, kita ingin segera pulang bertemu dengan Bapa terkasih untuk menerima hadiah kita. Ini yang paling ideal.

Ada juga orang-orang yang masih ingin hidup di dunia ini, tetapi tubuhnya sudah terlalu rapuh, mungkin karena sakit penyakit atau akibat banyaknya obat-obatan yang dikonsumsi.
Ketika rohnya melihat ‘baju (tubuh)’ nya sudah terlalu rusak, tidak layak huni, maka roh memilih kembali kepada Bapa.
Kan rumahnya memang bukan di dunia ini, tetapi di kekekalan.

Ada pula orang-orang yang di depan keluarga seolah masih ingin hidup, tetapi dalam hatinya sudah bosan dan ingin pulang ke surga… jadilah dia secara pribadi minta pulang.

Apa pun penyebabnya, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Jatidiri kita yang sesungguhnya adalah manusia roh. Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara – ‘mampir ngombe’ – berhenti sejenak untuk minum, kata Orang Jawa. Jadi, memang rumah kita yang sesungguhnya ada di kekekalan.

We are confident, yes, well pleased rather to be absent from the body and to be present with the Lord. – Kita yakin, ya, kita terlebih suka absen dari tubuh ini dan hadir bersama Tuhan. II Corinthians 5:8 NKJV

Ketika kita meninggalkan tubuh yang fana ini, dalam sepersekian detik kita sudah berada di surga.
Kematian hanyalah sekedar berpindah tempat dari dunia kepada kekekalan, di mana Yesus menjemput kita, membawa ke tempat yang terbaik bersama-Nya.
Menakjubkan bukan?

“Someday you will read in the papers that D.L. Moody is dead. Don’t you believe a word of it! At that moment I shall be more alive than I am now. I will have gone up higher, that is all.” – D.L. Moody

“Suatu hari Anda akan membaca di koran bahwa D.L. Moody telah meninggal. Jangan percaya sepatah kata pun! Pada saat itu saya akan lebih hidup daripada sekarang. Saya hanya naik ke tempat yang lebih tinggi – D.L. Moody

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Kekuatan Penglihatan – Vision”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Kekuatan Penglihatan – Vision”

Dalam berbagai kisah tentang Yesus memberi makan banyak orang, kita melihat keadaan yang serupa. Ada ribuan orang, sumber daya yang sangat terbatas, dan kurangnya iman di pihak para murid.
Namun, dalam setiap kasus, beberapa roti dan ikan dilipatgandakan untuk memberi makan ribuan orang dengan sisa yang melimpah.
Apa yang terjadi?
Apakah Yesus menggunakan keilahian-Nya untuk secara ajaib mengubah roti dan ikan? Bukankah Dia melayani melalui Roh Kudus yang sama yang kita miliki saat ini?

Saya percaya, apa yang Yesus tunjukkan hanyalah kekuatan penglihatan. Vision.

Sumber daya yang ada, mengambil sifat dari Dia yang melihatnya. Mata alami melihat kekurangan. Mata rohani melihat lebih dari cukup. Mata Yesus (penglihatan, belas kasihan, dan iman-Nya) menyebabkan roti dan ikan mengambil sifat dari penglihatan-Nya. Mereka menjadi apa yang Dia lihat!

“Tetapi kita tahu, bahwa apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” (1 Yohanes 3:2)

Tahukah Anda bahwa kita akan diubahkan menjadi serupa dengan gambar-Nya ketika kita MELIHAT-Nya?
Dengan kata lain, apa yang kita lihat akan menjadi diri kita.

“Sebagaimana orang membuat perhitungan dalam hatinya, demikianlah ia.” (Amsal 23:7)

Dengan cara yang sama, hal-hal di sekitar kita akan mengikuti sifat sesuai dengan cara kita melihatnya. Ketika kita melihat kekurangan dalam hati kita, sumber daya kita akan menanggapi penglihatan itu. Ketika kita melihat penyakit, penyakit menjadi nyata. Ketika kita melihat masalah, “penglihatan” kita akan memberi masalah itu kekuatan.

Yesus melihat lebih dari cukup dalam roti dan ikan, dan mereka menanggapi apa yang Dia lihat. Mereka tidak punya pilihan. Sifat dari hal-hal fisik, harus sesuai dengan sifat orang yang memiliki penglihatan.

Makan siang untuk dua orang menjadi makan siang untuk ribuan orang, bukan melalui keilahian Yesus, tetapi melalui penglihatan Yesus. Dia memilih untuk melihat kelimpahan, dan sumber daya yang tersedia disesuaikan dengan penglihatan rohani itu. Itu adalah kebenaran yang luar biasa!

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan-Nya, demikianlah juga yang dikerjakan Anak. (Yohanes 5:19)

Yesus mengandalkan kehidupan persekutuan-Nya dengan Bapa untuk mendapatkan visi-Nya. Apa yang Ia LIHAT dilakukan Bapa menjadi visi untuk apa yang Ia lakukan. Itu sebabnya Yesus selalu memiliki sumber daya dan iman untuk setiap kebutuhan. Ia telah melihatnya. Segala sesuatunya menanggapi sifat visi dan iman sang visioner.

Bagaimana Anda melihat sumber daya Anda, kesehatan Anda, pekerjaan Anda, pelayanan Anda, pernikahan dan keluarga Anda.
Semuanya menanggapi visi Anda.
Apakah Anda melihat apa yang Bapa lihat?

“Only believe and see as God sees, and you will witness His power at work in your life.” – Smith Wigglesworth.

“Percayalah dan lihatlah sebagaimana Tuhan melihat, maka kita akan menyaksikan kuasa-Nya bekerja dalam kehidupan kita.” – Smith Wigglesworth.

Sumber: Barry Bennett.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tanah Perjanjian Milik Kita, Mungkin Dihuni Oleh Raksasa.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tanah Perjanjian Milik Kita, Mungkin Dihuni Oleh Raksasa.

Setiap manusia ingin sukses. That’s why kita suka berdekatan dengan orang-orang yang positif, antusias, tahu tujuan hidupnya dan ikut termotivasi saat orang-orang hebat itu bergairah meraih mimpinya.

Hidup tanpa kemajuan, adalah hidup yang tidak layak dijalani. Setiap orang rindu hidupnya berguna bagi orang lain dan bisa memberkati sesamanya. Itu memang design awal Allah saat menciptakan manusia.

Sampai dosa masuk, karakter manusia berubah menjadi egois dan sibuk melihat dirinya, sebagai pusat kehidupan.
Ketika hubungan kita dengan Allah dipulihkan, kerinduan itu kembali, karakter dan naluri awal saat kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, muncul lagi….

Allah menjanjikan *The Promise Land* – Tanah Perjanjian yang berlimpah susu dan madunya.

Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya untuk memberikannya kepadamu — kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan;
rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami — dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.

Wow…. sungguh berkat dan kelimpahan yang luar biasa.
Masalahnya, Tanah Perjanjian itu ada raksasa-raksasanya.
Dan itu bagian kita yang harus menaklukkannya.
Nach lho…..

Antara kita dan setiap tujuan yang ingin dicapai, ada serangkaian rintangan. Semakin besar tujuannya, semakin besar rintangannya. Keputusan kita untuk menjadi orang hebat yang dipakai Tuhan secara spektakuler, memiliki hal-hal besar yang akan kita kelola agar memberkati banyak orang, serta mengeksekusinya dengan melakukan sesuatu yang luar biasa, perlu keahlian agar mampu menghadapi kesulitan dan tantangan yang luar biasa juga.

Terkadang aset terbesar kita untuk menaklukkannya, hanyalah kemampuan kita untuk tetap fokus kepada Tuhan, lebih lama dari orang lain. Keberanian tetap taat meski jalan-jalan-Nya seolah tidak masuk akal.
Dan terus mengikutinya langkah demi langkah.
Dan ternyata….. setiap langkah itu merupakan suatu mujizat!

Agar bisa melakukannya, diperlukan pengalaman & hubungan pribadi yang mendalam, sehingga kita betul-betul mengenal karakter dan kasih-Nya kepada kita:
Allah tidak sekali-sekali akan meninggalkan atau membiarkan kita.

******
Ketika Firaun mendengar Musa membawa bangsanya meninggalkan Mesir, hatinya berubah. Ia marah dan membawa seluruh kereta serta tentaranya untuk mengejar mereka. Rombongan Musa yang berkemah di tepi Laut Merah sangat ketakutan ketika melihat tentara Mesir mendekat. Mereka mengeluh kepada Musa, merasa lebih baik menjadi budak di Mesir daripada mati di padang gurun.

Musa menenangkan mereka, mengatakan bahwa Tuhan akan bertindak untuk menyelamatkan mereka.

Tetapi dalam hati Musa pun ketakutan, sehingga Allah menegurnya:
“Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat.
Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering.

Tidak hanya itu, Tuhan juga menggerakkan tiang awan untuk melindungi mereka dari pasukan Mesir.
Saat Musa mengulurkan tangannya, air laut terbelah dan menjadi tembok di kanan dan kiri, sehingga orang Israel bisa melewatinya dengan aman. Tentara Mesir mengejar mereka ke dalam laut, tetapi Tuhan membuat roda kereta mereka sulit bergerak. Tentara Mesir menyadari, Tuhanlah yang sedang berperang bagi Israel.

Tuhan memerintahkan Musa untuk mengulurkan tangan lagi, dan air laut pun menutup, menenggelamkan seluruh tentara Mesir. Orang Israel selamat, berjalan di tempat kering, sementara musuh mereka binasa di laut. Peristiwa ini meneguhkan bahwa Tuhan berperang bagi mereka, membebaskan mereka dari Mesir.

******
Sesungguhnya Allah juga melakukan hal yang sama bagi kita, saat kita tengah memasuki ‘Tanah Perjanjian’ kita masing-masing.

Tuhan yang berperang bagi kita, tetapi kita harus berani melangkah dan berlatih menggunakan otoritas yang sudah Tuhan berikan bagi kita. Tiang awan dan tiang api akan melindungi kita juga, asalkan kita terus berjalan di jalan-jalan-Nya. Artinya, hubungan pribadi dengan Allah itu tidak tergantikan.

Setiap hari kita bangun, kita memiliki satu pekerjaan: menjadi lebih baik dari kemarin. Tuhan selalu membuat cara di mana tampaknya tidak ada jalan, tetapi Tuhan itulah Sang Jalan kehidupan yang akan mengantar kita memasuki Tanah Perjanjian dengan cara-Nya yang ajaib.

Siap maju menggenapi rancangan Tuhan bagi hidup kita?
Mari kita laksanakan dan jadilah pemenang!

“Challenges are a stage for God to display His power. When we dare to trust Him, He can do far greater than we imagine.” – John Piper.

“Tantangan adalah panggung bagi Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Ketika kita berani mempercayai-Nya, Dia mampu melakukan jauh lebih besar dari yang kita pikirkan.” – John Piper

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Orang Kristen Bercerai? Oh…”.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Orang Kristen Bercerai? Oh…”.

Wuih … seru komentar-komentar tentang orang Kristen yang bercerai. Boleh or Tidak? Why?
Begitu banyak teman-teman yang mengirimkan artikel apik dari para ahli dan orang-orang hebat.

Hhhmm… saya ingin mengulasnya dari pengalaman saja sehingga sedikit berbeda dari lainnya. Yang jagoan sudah banyak, yang ini simple saja.

Sekian puluh tahun lalu, ada istri yang mengalami KDRT kelas berat. Gembala kami sudah menyarankan agar keluar dari rumah dulu. Tetapi si istri bersiteguh tetap bertahan. Istri harus tunduk kepada suami, demikian prinsipnya. Akhirnya beneran meninggal dunia. Oleh karena itu saya setuju, jika KDRT membahayakan nyawa, bercerai atau berpisah itu oke.

*****
Nach bagaimana dengan Verbal Abbuse-perkataan yang melecehkan, merendahkan, mengancam dsb?

Nach ini yang sulit untuk dinilai. Kadangkala ketika sudah menikah, kita cenderung berkata jujur, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling – alias ga ada pemanisnya sama sekali. Nach kerap kejujuran itu menyakitkan.

Kita bisa tersinggung, terluka karenanya. Sementara di luar, teman or orang lain memperlakukan kita dengan manis, respek dan menyenangkan.

Setiap kita butuh proses untuk mengikis karakter lama kita, setelah lahir baru. Itu tidak terjadi secara otomatis. Kerelaan untuk mengakui kekurangan diri sendiri dan bersedia belajar, itu yang akan membentuk kita semakin hari semakin memiliki karakter serupa dengan Kristus. Itu menyakitkan lho….

Tetapi bisa juga sesungguhnya tidak demikian, bukan kita yang salah – tetapi pasangan yang salah mengerti, menganggapnya demikian dan disampaikan dengan vulgar. Kritikan yang tajam membuat hati serasa berdarah-darah.

Menyakitkan?
Yess!
Tetapi apakah hanya karenakesalahpahaman seperti itu yang terjadi beberapa kali, lalu menjadi alasan untuk bercerai? Apalagi jika sudah ada anak-anak…
Setelah menikah, hidup itu bukan hanya tentang kita, tetapi masa depan seluruh keluarga, terutama anak-anak, dan keteladanan yang kita berikan.

Intinya, yang dilabeli “Verbal Abbuse” bisa betul-betul memang verbal abbuse, tetapi bisa juga karena kita yang tidak mau mengakui kekurangan diri sendiri dan tidak mau berubah.
Masih ada kekurangan pasangan pula, yang kita harapkan untuk berubah. Ternyata pasangan bisa mengkritik tapi gak mau berubah. Sama-sama tidak mau kalah. Nach makin rumit.

Padahal keduanya datang dari keluarga dan latar belakang yang berbeda. Dibutuhkan kerendahan hati agar bisa saling mengasihi dan mengutamakan pasangannya. Ini tidak otomatis. Butuh belajar dan kasih Kristus serta firman Tuhan sebagai fondasinya.
Agar makin dewasa, dapat mengendalikan diri dan bijaksana menyikapinya.
*******
Saya pernah membaca kisah 2 anak muda yang kecewa karena ortunya bercerai. Lalu kedua anak muda ini mengadakan riset di seluruh USA, mewawancarai pasangan-pasangan yang sudah menikah lebih dari 40 tahun dan mencari rahasia, apa yang membuat mereka bertahan dan tetap bahagia?

Ternyata kunci suksesnya sederhana: No Exit Door! Tidak Ada Pintu Keluar!
Perceraian atau perpisahan bukanlah opsi.

Jadi apa pun yang terjadi, pokoknya belajar menyesuaikan diri, agar bisa get along well.
Menarik bukan?

Seorang reporter bertanya kepada pasangan tua, “Bagaimana kalian mengatur sehingga bisa bertahan menikah selama 65 tahun?”

Wanita sepuh itu menjawab, “Kami dilahirkan pada masa di mana ketika sesuatu itu rusak, kami akan memperbaikinya, bukan membuangnya….”

Sementara di jaman ini, perceraian anak-anak muda, kerap disebabkan oleh hal-hal yang sangat sepele. Tersinggung sedikit, bercerai..
Masalah yang sesungguhnya bisa diperjuangkan untuk bisa dibereskan, dicoba sedikit koq sulit, lalu pilih bercerai.

Bagaimana cara membereskan, meraih rasa hormat dari pasangan dan bekerjasama dengan baik?

Kedekatan pribadi dengan Tuhan, menabur firman secara teratur dan menghidupinya, sehingga terjadi “effortless change”– perubahan tanpa usaha, seperti yang diajarkan oleh Andrew Wommack, sangat menolong.
Saat hati penuh dengan firman yang hidup, hal-hal yang dulunya membuat tersinggung, menimbulkan pertengkaran, sekarang tidak lagi.

Apalagi sejalan dengan pemahaman akan Identitas kita di dalam Kristus, memiliki Yesus sudah lebih dari cukup.
Tidak lagi sibuk mencari penerimaan dari luar tetapi merasa aman dengan penerimaan dan Kasih Kristus.
Maka tidak lagi mudah tersinggung, bereaksi dsb. Menghindarkan kita dari ribuan pertempuran yang tidak perlu.
Semakin mengenal Tuhan, terang Kristus menerangi bagian kehidupan yang gelap.

Orang-orang yang merasakan ‘Terang’ yang ada di dalam kita, membutuhkan kekuatan Tuhan, hikmat, cara pandang kita sesuai Alkitab, nilai-nilai sesuai firman Tuhan yang ada di dalam kita.
Ada hikmat yang melampaui pengetahuan manusia serta Wibawa Allah di dalam orang-orang yang hidupnya melekat kepada Tuhan.
Abide in Him.

Kebenaran-Nya mengurai permasalahan rumit seperti hitam dan putih. Roh Kudus memberi hikmat, pengendalian diri, dan kesabaran, yang sangat membantu menjaga hubungan harmonis. Tidak semua masalah perlu dihadapi; ada yang akan selesai pada waktunya. Ide kreatif Tuhan sering memberikan solusi sederhana untuk masalah rumit. Kita menjadi jawaban & solusi yang dicari orang dunia.

Mazmur 119:97-100 (TB)Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.
Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.
Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.
Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu.

Firman Tuhan itu benih. Tanam dalam hati, biarkan bertumbuh tanpa kita sadari. Seperti latihan fisik yang menghasilkan kekuatan, hidup dalam Firman mengalirkan kuasa Tuhan. Sikap dan perkataan kita berubah, yang akhirnya membuat keluarga & dunia sekeliling kita menghormati dan merespon dengan penuh kasih.

Inilah yang layak kita kejar: Mengalahkan dengan Kasih & Kuasa Allah, menunjukkan jalan kebenaran tanpa merendahkan.
Dengan kualitas seperti ini, siapa yang berani merendahkan atau melecehkan?
Setuju?

“People are drawn to those who carry the power of God within them, not because of who they are, but because of who God is in them.”

“Orang-orang tertarik mengikuti mereka yang membawa kuasa Allah di dalam dirinya, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa Allah di dalam mereka.”

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Rahasia Doa Terjawab? Sepakat Dengan Tuhan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Rahasia Doa Terjawab? Sepakat Dengan Tuhan.

Berjalankah dua orang Bersama – sama Jika Tidak Sepakat?
Sudah sejak lama saya mendengar ungkapan ini, tetapi terus terang, dulu saya tidak benar-benar memahami maknanya. Saat itu, saya berpikir, jika seseorang, sebut saja Ani, memiliki pola pikir dan nilai yang berbeda dengan saya, rasanya sulit untuk bisa akur dan berjalan bersama. Perbedaan itu pasti akan menimbulkan banyak gesekan, dan hasilnya? Kami sama-sama tidak nyaman.

Tapi semua berubah saat Wendell Par, guru saya, mengungkapkan arti sebenarnya dari ungkapan ini. Wendell menjelaskan bahwa berjalan bersama itu bukan hanya soal kesamaan pandangan, tetapi soal hati yang selaras dalam percaya—terutama dalam hal iman.

Saya kemudian merenung lebih dalam. Misalnya, saat saya berdoa minta kesembuhan, dalam hati saya yakin bahwa Tuhan ingin anak-anak-Nya hidup sehat. Namun, tak lama setelah berdoa, saya bertemu dengan seorang teman yang mengatakan betapa berbahaya penyakit yang saya derita. Atau, ketika saya membaca artikel yang memaparkan berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, pikiran saya pun mulai diselimuti ketakutan. Semua kemungkinan buruk terasa begitu nyata, seperti bayangan gelap yang terus menghantui.

Inilah yang dimaksud Wendell: ketika pikiran kita dikuasai hal-hal negatif, kita sebenarnya tidak lagi berjalan bersama Tuhan. Meski saya berdoa untuk kesembuhan, namun hati saya tidak sejalan dengan Tuhan karena dikuasai ketakutan. Dan, seperti kata Wendell, apa yang kita lihat dalam pikiran kita itulah yang terjadi dalam hidup kita. Jika pikiran kita dipenuhi kekhawatiran, maka yang kita dapatkan justru kekhawatiran itu sendiri.

Di sinilah muncul pesan lain yang pernah saya dengar dari Lawson Purdue: “If you want to receive more, you have to believe more”—Jika Anda ingin menerima lebih banyak, Anda harus percaya lebih banyak.

Pernyataan ini menegaskan bahwa apa yang kita terima sangat dipengaruhi oleh apa yang kita yakini. Jika saya ingin menerima kesembuhan, saya harus percaya penuh bahwa Tuhan benar-benar ingin saya sehat. Namun, jika ketakutan mendominasi, berarti saya tidak percaya sepenuhnya, dan akhirnya saya justru menjauh dari berkat itu.

Banyak orang berdoa untuk sesuatu, tetapi di dalam pikirannya, yang mereka bayangkan justru kebalikannya. Seseorang mungkin berdoa agar sembuh, tetapi dalam imajinasinya, ia membayangkan dirinya semakin lemah. Atau ada yang meminta berkat finansial, namun dalam pikirannya ia terus merasa tidak mampu. Mereka sebenarnya tidak sepakat dengan Tuhan.

Pada akhirnya, hidup ini adalah tentang apa yang kita percayai. Percaya itu melihat. Bukan mata jasmani yang membuat kita melihat, tetapi mata pikiran. Mata jasmani hanya membawa gambaran ke pikiran kita. Apa yang kita ijinkan masuk, itulah yang menguasai hati kita.

Seperti kata Bill Winston,
“Your feet will never take you where your mind has never been”—Kaki Anda tidak akan membawa Anda ke tempat yang belum pernah Anda pikirkan.

Artinya, kita harus bisa mengimajinasikan diri kita menerima apa yang kita doakan sebelum benar-benar memilikinya. Ketika saya bisa melihat kesembuhan dalam pikiran saya, iman saya terkunci pada keyakinan bahwa itu akan terjadi.

Kesembuhan, berkat finansial, atau jawaban doa lainnya terjadi saat kita percaya sepenuhnya dan berjalan sepakat dengan Tuhan dan firman-Nya. Inilah makna dari berjalan bersama Tuhan—berjalan dalam kuasa-Nya yang supernatural.

Ketika kita sepakat dengan Tuhan, apa yang supernatural akan memengaruhi yang natural. Prinsipnya, yang jasmani tunduk pada yang rohani.

Kini, saya mengerti, jika ingin menerima lebih banyak, saya harus percaya lebih banyak. Saya bisa memilih: apakah saya ingin tetap dipenuhi keraguan, atau berani berjalan bersama Tuhan dengan iman yang teguh?

Dengan mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya, kita membuka jalan bagi yang supernatural untuk bekerja di dalam kehidupan kita, hingga berkat Tuhan termanifestasi dan berkelimpahan.

“There is nothing impossible with God. All the impossibility is with us when we measure God by the limitations of our unbelief.” – Smith Wigglesworth.

“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Ketidakmungkinan hanya ada pada kita ketika kita mengukur Tuhan dengan keterbatasan ketidakpercayaan kita.” – Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 50 51 52 53 54 314