Category : Articles

Articles

Hidup yang Berdampak: Warisan yang Abadi.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Hidup yang Berdampak: Warisan yang Abadi.

Ketika saya mengenang pelajaran Steven Covey dalam buku “ The 7 Habits of Highly Effective People” ,
HABIT 2: BEGIN WITH THE END IN MIND – kebiasaan ke dua: Mulailah dengan tujuan akhir dalam pikiran.

Nah saat ikut seminar P. Prasetya M. Brata, kami diberi tugas menulis naskah pidato untuk seseorang yang akan dibacakan saat pemakaman masing-masing. Saya termenung… Jika saya meninggal, saya ingin dikenang sebagai pribadi seperti apa?

Pertanyaan sederhana, namun menggetarkan jiwa. Karena jawabannya tidak akan datang tiba-tiba pada hari kematian kita. Jawaban itu dibentuk oleh keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini.

Tuhan memberi saya jawaban lewat kisah Onesiforus.

Dalam 2 Timotius 1:16 KJV tertulis:
“Tuhan memberikan kasih karunia kepada rumah Onesiforus; karena ia sering menyegarkan aku, dan tidak malu akan rantai-ku.”

Wah… satu ayat, tapi dampaknya sampai 2.000 tahun kemudian! Nama Onesiforus hanya disebut dua kali di Alkitab, tetapi efek hidupnya menggetarkan sejarah kekristenan!

Apa yang ia lakukan? Ia menyegarkan Paulus. Mungkin lewat makanan, pakaian, atau bahkan sekadar mendengarkan dan hadir. Yang jelas: ia tidak malu terhadap Paulus, bahkan saat Paulus ada dalam penjara. Ia tekun mencari Paulus di Roma—kota besar, berbahaya, dan penuh risiko. Tapi Onesiforus tidak mundur. Ia tetap setia. Ia hidup sesuai namanya: pembawa manfaat.

Bandingkan dengan Phygellus dan Hermogenes dalam 2 Timotius 1:15—disebut hanya untuk dikenang sebagai pengecut.
Duh… saya tidak mau dikenang seperti itu!

Tindakan kecil Onesiforus, mungkin terlihat remeh saat itu. Tapi karena ia melakukannya dengan kasih dan iman, Tuhan mencatatnya. Bukan hanya dalam kitab, tapi dalam sejarah kekal!

“Tuhan tidak melupakan pekerjaan kasihmu…” (Ibrani 6:10)

Itu sebabnya saya suka menulis kisah-kisah seperti Seruput Kopi Cantik. Bukan sekadar cerita, tapi kesaksian yang mengangkat prinsip-prinsip Tuhan yang bisa diteladani. Pernah seorang teman berkata, “Tulisan ibu seperti pelita. Menuntun saya di tengah gelapnya keputusan.”
Wow… saya terharu.

Ternyata, saat kita menulis kebaikan Tuhan atau melakukan hal kecil dengan kasih—itu bisa menjadi warisan yang memberkati orang lain bahkan setelah kita tidak ada.

“Tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak untuk ditulis.” – Benjamin Franklin

Dan ini alasan saya terus menulis. Saya ingin meninggalkan jejak yang memberkati, bukan sekadar nama di batu nisan.

Onesiforus adalah contoh nyata bahwa tidak harus menjadi pengkotbah besar atau mengukir prestasi yang spektakuler, untuk meninggalkan warisan abadi. Cukup setia. Cukup mengasihi. Cukup hadir. Bahkan di saat sulit.

Matius 10:42 (TB) Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Jadi, jangan pernah meremehkan tindakan kasih yang sederhana. Tuhan menghargainya.

Ketika kita hidup dengan tujuan kekal, keputusan kita menjadi berbeda. Kita tidak lagi dikuasai rasa takut atau ego. Karena kita tahu, yang kita bangun bukan hanya reputasi—tetapi warisan rohani.

“Anda tidak kebetulan ada di dunia ini. Tuhan telah menciptakan Anda untuk sebuah tujuan yang luar biasa. Hidup yang paling memuaskan adalah saat Anda menemukan dan mengikuti panggilan yang telah Tuhan rencanakan bagi Anda.” – Rick Warren

Teman-teman, mari kita renungkan:
Apakah hidup kita hari ini akan dikenang dengan sukacita atau disesali orang?
Apakah kita hidup untuk memberi dampak atau sekadar menjalani hari?

Saya percaya…
Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak hidup yang kita sentuh.

Dan ingatlah,Albert Schweitzer (filsuf & dokter peraih Nobel Perdamaian) berkata,

“Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing.”

Keteladanan bukan hal utama dalam memengaruhi orang lain. Itu satu-satunya cara.

Maukah kita menjadi seperti Onesiforus?
Membawa manfaat. Menyegarkan sesama. Menjadi berkat.

Hidup seperti itu, akan terus bersuara… bahkan setelah kita diam.
Sesungguhnya, selama orang masih menyebut nama kita, diri kita belum meninggal, kata orang bijak.

Menarik bukan?

“Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, to all the people you can, as long as ever you can – John Wesley

“Lakukan segala kebaikan yang Anda bisa, dengan segala cara yang Anda bisa, di semua tempat yang Anda bisa, kepada semua orang yang Anda bisa, selama Anda bisa.” – John Wesley.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mengampuni: Kekuatan yang Membebaskan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengampuni: Kekuatan yang Membebaskan

Pernah nggak sih, merasa marah banget sama seseorang sampai kita simpan dendam diam-diam di hati? Saya pernah. Rasanya seperti bawa beban tak kasat mata yang melelahkan—ke mana pun pergi, selalu terbawa.

Sampai satu hari saya membaca kutipan ini dari Albert Einstein yang membuka mata saya:

*“Weak people revenge. Strong people forgive. Intelligent people ignore.”*

Wow! Orang lemah membalas dendam, orang kuat mengampuni, dan orang cerdas… mengabaikan!
Saya merenung: Saya ini termasuk yang mana, ya?

Tuhan berkata:
*”Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”*

Tuhan tidak hanya menyuruh kita mengampuni, tapi mengampuni seperti Dia mengampuni kita. Duh… berat ya? Tapi justru di situ letak kekuatannya.

Saya belajar dari pengalaman: mengampuni itu bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, tapi kita memilih untuk tidak lagi mengikat diri kita pada rasa sakit yang mereka timbulkan. Mengampuni bukan hadiah untuk mereka, tapi pembebasan bagi diri kita sendiri.

Salah satu pelajaran dari Einstein yang saya suka adalah ini:
*”Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” -“Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak.”*

Begitu pula saat disakiti—kalau kita diam dan terus mengulang-ulang rasa sakit itu di pikiran, kita jatuh. Tapi kalau kita belajar melepas, bangkit, dan terus melangkah… keseimbangan hidup kembali terjaga.

Saya pernah dikhianati oleh seseorang yang saya bantu dengan tulus. Rasanya… hancur! Tapi saat saya memilih mengampuni, justru saya merasakan damai yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata, saat kita membiarkan Tuhan yang menyelesaikan, Dia yang bertindak.
Tuhan bilang:
*“Pembalasan itu adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan.”*

Dan Dia sungguh setia. Orang itu memang tidak berubah, tapi saya yang dipulihkan.

Waktu membuktikan, orang yang curang dan mengkhianati, kelihatannya gebyar-gebyar pada awalnya…
Tetapi waktu membuktikan, siapa menabur angin akan menuai badai.

Einstein juga berkata:
*”Never do anything against your conscience, even if the state demands it.” – Jangan melanggar suara hati atau keyakinan moral Anda, meskipun pemerintah, otoritas, atau sistem hukum memaksa Anda untuk melakukannya.*

Kadang kita merasa “berhak” untuk membalas atau membenci. Tapi hati kecil kita tahu, itu bukan jalan Tuhan. Kalau kita terus turuti ego, kita yang tersesat.

Ketika kita memilih mengampuni, bukan hanya kita yang dipulihkan—tetapi hidup kita berubah menjadi demonstrasi kebaikan Tuhan.
Tanpa kita sadari, orang-orang mengamati dan berkata, “Aku ingin hidup seperti dia!”
Dan itulah kekuatan dari hidup yang jadi kesaksian.

“Kita berdoa agar kita terus-menerus mengalami kebesaran kuasa Allah yang tak terukur, yang disediakan bagi kita melalui iman. Sehingga hidup kita akan menjadi iklan hidup dari kuasa yang luar biasa ini saat Tuhan bekerja melalui diri kita!”
Karena pada akhirnya, bukan kata-kata yang mengubah hidup orang lain, tapi teladan nyata.
Seperti yang dikatakan sahabat saya, *Ludy Hadiyanto*:
*“Keteladanan adalah suara yang paling lantang, meskipun tanpa bunyi.”*

Ampuni. Lepaskan. Biarkan kasih Tuhan mengalir bebas lewat hidup kita—dan dunia pun melihat, betapa luar biasanya Tuhan yang kita sembah.
It’s all about God, not us.

*”To forgive is to set a prisoner free and discover that the prisoner was you.” – Lewis B. Smedes*

*”Mengampuni adalah membebaskan seorang tahanan dan kemudian menyadari bahwa tahanan itu adalah dirimu sendiri.” – Lewis B. Smedes*

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
?? *MPOIN PLUS & PIPAKU* ??
?? *THE REPUBLIC OF SVARGA* ??
?? *SWEET O’ TREAT*h ??
?? *AESTICA INDONESIA – AESTICA ID* ??
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Pernah nggak sih, merasa marah banget sama seseorang sampai kita simpan dendam diam-diam di hati? Saya pernah. Rasanya seperti bawa beban tak kasat mata yang melelahkan—ke mana pun pergi, selalu terbawa.

Sampai satu hari saya membaca kutipan ini dari Albert Einstein yang membuka mata saya:

“Weak people revenge. Strong people forgive. Intelligent people ignore.”

Wow! Orang lemah membalas dendam, orang kuat mengampuni, dan orang cerdas… mengabaikan!
Saya merenung: Saya ini termasuk yang mana, ya?

Tuhan berkata:
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Tuhan tidak hanya menyuruh kita mengampuni, tapi mengampuni seperti Dia mengampuni kita. Duh… berat ya? Tapi justru di situ letak kekuatannya.

Saya belajar dari pengalaman: mengampuni itu bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, tapi kita memilih untuk tidak lagi mengikat diri kita pada rasa sakit yang mereka timbulkan. Mengampuni bukan hadiah untuk mereka, tapi pembebasan bagi diri kita sendiri.

Salah satu pelajaran dari Einstein yang saya suka adalah ini:
“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” -“Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak.”

Begitu pula saat disakiti—kalau kita diam dan terus mengulang-ulang rasa sakit itu di pikiran, kita jatuh. Tapi kalau kita belajar melepas, bangkit, dan terus melangkah… keseimbangan hidup kembali terjaga.

Saya pernah dikhianati oleh seseorang yang saya bantu dengan tulus. Rasanya… hancur! Tapi saat saya memilih mengampuni, justru saya merasakan damai yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata, saat kita membiarkan Tuhan yang menyelesaikan, Dia yang bertindak.
Tuhan bilang:
“Pembalasan itu adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan.”

Dan Dia sungguh setia. Orang itu memang tidak berubah, tapi saya yang dipulihkan.

Waktu membuktikan, orang yang curang dan mengkhianati, kelihatannya gebyar-gebyar pada awalnya…
Tetapi waktu membuktikan, siapa menabur angin akan menuai badai.

Einstein juga berkata:
“Never do anything against your conscience, even if the state demands it.” – Jangan melanggar suara hati atau keyakinan moral Anda, meskipun pemerintah, otoritas, atau sistem hukum memaksa Anda untuk melakukannya.

Kadang kita merasa “berhak” untuk membalas atau membenci. Tapi hati kecil kita tahu, itu bukan jalan Tuhan. Kalau kita terus turuti ego, kita yang tersesat.

Ketika kita memilih mengampuni, bukan hanya kita yang dipulihkan—tetapi hidup kita berubah menjadi demonstrasi kebaikan Tuhan.
Tanpa kita sadari, orang-orang mengamati dan berkata, “Aku ingin hidup seperti dia!”
Dan itulah kekuatan dari hidup yang jadi kesaksian.

“Kita berdoa agar kita terus-menerus mengalami kebesaran kuasa Allah yang tak terukur, yang disediakan bagi kita melalui iman. Sehingga hidup kita akan menjadi iklan hidup dari kuasa yang luar biasa ini saat Tuhan bekerja melalui diri kita!”
Karena pada akhirnya, bukan kata-kata yang mengubah hidup orang lain, tapi teladan nyata.
Seperti yang dikatakan sahabat saya, Ludy Hadiyanto:
Keteladanan adalah suara yang paling lantang, meskipun tanpa bunyi.

Ampuni. Lepaskan. Biarkan kasih Tuhan mengalir bebas lewat hidup kita—dan dunia pun melihat, betapa luar biasanya Tuhan yang kita sembah.
It’s all about God, not us.

“To forgive is to set a prisoner free and discover that the prisoner was you.” – Lewis B. Smedes

“Mengampuni adalah membebaskan seorang tahanan dan kemudian menyadari bahwa tahanan itu adalah dirimu sendiri.” – Lewis B. Smedes

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Gereja Lokal: Tempat Berkatmu Mengalir dan Perlindunganmu Dinyatakan!

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Gereja Lokal: Tempat Berkatmu Mengalir dan Perlindunganmu Dinyatakan!

“Saya bisa jadi orang Kristen tanpa ke gereja.” Kedengarannya keren dan independen, ya? Tapi sayangnya, itu bukan kebenaran Firman Tuhan.

Yesus sendiri, seperti tertulis dalam Lukas 4:16, memiliki kebiasaan untuk datang ke rumah ibadat. “Seperti kebiasaan-Nya”—Yesus, Sang Mesias, secara rutin hadir di rumah Tuhan. Kalau Yesus saja melakukannya, bagaimana mungkin kita merasa bisa hidup sebagai murid Kristus tanpa gereja lokal?

Tiap domba butuh gembala.

Tuhan tidak merancang kita untuk berjalan sendiri. Dia menempatkan kita dalam tubuh Kristus, dan setiap bagian tubuh memiliki tempatnya. Karena itu, Tuhan menetapkan gembala—bukan sekadar untuk berkhotbah, tapi untuk membawa perlindungan, arah, dan otoritas rohani dalam hidup kita.

Saya pribadi sangat bersyukur untuk gembala-gembala yang pernah Tuhan tempatkan dalam hidup saya. Firman yang mereka taburkan bertahun-tahun lalu menjadi jangkar iman ketika badai datang. Jangan anggap remeh kehadiran gembalamu—itu kunjungan Tuhan bagimu.

Gembala bukan hanya pengkhotbah. Mereka adalah saluran anugerah. Saat kita mendengarkan firman dari gembala yang Tuhan tetapkan, kita tidak sekadar menerima informasi. Kita sedang menerima impartasi rohani—ada urapan, perlindungan, bahkan mujizat yang mengalir lewat pelayanan mereka. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena Tuhan mengurapi mereka.

Iblis tahu ini. Karena itu, dia selalu mencoba memisahkan kita dari tempat Tuhan menanam kita. Ketika kita keluar karena kecewa atau bosan, kita keluar dari perlindungan. Jangan pindah ladang hanya karena rumputnya tampak lebih hijau.

Gereja lokal bukan cuma tempat kita diberkati, tapi tempat kita dibentuk. Di sanalah kita belajar mengasihi, mengampuni, dan membangun tubuh Kristus bersama-sama. Yesus berkata, “Semua orang akan tahu kamu murid-Ku jika kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35)

Kasih sejati diuji dalam keseharian. Maukah kita tetap mengasihi meski kecewa? Maukah kita mengampuni saat disakiti? Maukah kita tetap setia saat gembala kita sedang lemah?

Persekutuan sejati tidak bisa digantikan dengan Zoom, YouTube, atau tayangan online lainnya.

Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan.
Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.
Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari. [Kisah Para Rasul 14:8-10 (TB) ]

Mengapa disembuhkan?
Ada urapan dan impartasi yang hanya bisa kita terima saat kita hadir secara fisik dalam komunitas yang Tuhan tempatkan.

Karena pemuda lumpuh itu HADIR, Paulus MELIHAT dia memiliki iman. Ketika diperintahkan dan taat maka mujizat terjadi. Itu kuncinya!

Namun, hasil yang kita peroleh sangat tergantung pada sikap hati kita.

Yesus berkata, “Perhatikan cara kamu mendengar!” (Lukas 8:18)

Dua orang bisa duduk di kursi yang sama, mendengar khotbah yang sama, tapi hasilnya berbeda. Yang satu datang lapar dan haus akan kebenaran, yang lain datang sekadar memenuhi kewajiban.

Saya mengenal seorang wanita yang setia di gerejanya selama bertahun-tahun. Tapi sayangnya, gereja itu tidak mengajarkan firman Tuhan secara utuh—tidak tentang otoritas iman, kuasa perkataan, atau kesembuhan ilahi. Saat terkena penyakit serius, ia hanya berkata, “Kalau Tuhan mau sembuhkan, pasti sembuh.” Ia tidak tahu bahwa kesembuhan itu sudah disediakan dan harus diambil dengan iman. Ia meninggal dalam usia muda. Bukan karena Tuhan tidak peduli, tapi karena ia tidak pernah diajarkan kebenaran yang memerdekakan.

Hosea 4:6 berkata, “Umat-Ku binasa karena tidak berpengetahuan.”

Kita harus tahu siapa gembala kita dan di mana Tuhan menanam kita. Jangan tertipu oleh gemerlap program atau gaya modern. Pilih tempat yang menantang dan menumbuhkan kerohanianmu, bukan yang sekadar menyenangkan perasaanmu.

Gereja lokal adalah tempat Tuhan membangkitkan panggilan kita. Bangkitlah. Ambil posisi kita di sana. Jadilah pelaku, bukan sekadar penonton.

Ini musim kemuliaan. Dan semuanya dimulai dari tempat Tuhan menanam kita: di gereja lokal yang Tuhan tetapkan.

Siap? Yuk….

“We are created for community, fashioned for fellowship, and formed for a family, and none of us can fulfill God’s purposes by ourselves.” – Rick Warren.

“Kita diciptakan untuk hidup dalam komunitas, dibentuk untuk persekutuan, dan dirancang untuk menjadi bagian dari keluarga. Tidak seorang pun dapat memenuhi tujuan Tuhan seorang diri.” – Rick Warren.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Sukses Tanpa Harus Gagal Dulu, Memangnya Bisa?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Sukses Tanpa Harus Gagal Dulu, Memangnya Bisa?

Selama ini saya selalu percaya bahwa kegagalan adalah bagian dari proses menuju kesuksesan. Hampir semua buku motivasi dan tokoh-tokoh sukses yang saya pelajari selalu mengulang kalimat serupa: “Kegagalan adalah guru terbaik.” Atau, “Sukses adalah hasil dari serangkaian kegagalan yang tidak membuatmu menyerah.”

Saya pun mengangguk-angguk setuju. Rasanya kalimat itu begitu logis, realistis, bahkan menenangkan. Seolah-olah memberi izin untuk gagal—karena toh nanti pasti sukses juga. Tapi ternyata… saya keliru.

Beberapa waktu lalu, saya sedang memperdalam satu bagian dari Firman Tuhan yang membuka mata saya lebar-lebar. Ternyata kesuksesan tanpa harus jatuh bangun pun bisa terjadi—asalkan kita sungguh-sungguh belajar Firman Tuhan dan membiarkannya bekerja dalam hidup kita.

Saya menemukan satu kata menarik yang mengubah cara pandang saya: ARTIOS. Kata ini berasal dari bahasa Yunani dan diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Inggris sebagai “perfect” atau “sempurna.” Tapi maknanya bukan tanpa cela, melainkan “lengkap,” “matang,” atau “cukup.”

Kata ini muncul dalam surat Paulus:
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian, tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi (ARTIOS) untuk setiap perbuatan baik.”

Wow! Paulus tidak sedang berkata bahwa kita harus melewati berbagai penderitaan dulu supaya menjadi matang dan lengkap. Tapi bahwa Firman Tuhan sanggup menyempurnakan kita—membuat kita arif, bijak, dan mampu dalam setiap aspek kehidupan.

Selama ini, saya berpikir, “Ah, orang percaya pasti harus mengalami pencobaan dan penderitaan supaya dewasa rohani.” Tapi ternyata Firman Tuhan tidak pernah bilang begitu. Justru jika kita membiarkan Firman itu tinggal dalam hati dan kita sungguh-sungguh belajar serta melakukannya, kita bisa bertumbuh tanpa harus jatuh dan luka lebih dulu.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa penderitaan, kegagala, dan hal-hal yang berat itu tidak bisa digunakan Tuhan. Tentu saja bisa. Banyak orang justru bertobat dan mengenal Tuhan saat mereka berada di titik terendah hidupnya. Tapi itu bukan satu-satunya cara.

Kita bisa memilih: apakah kita mau belajar lewat pengalaman pahit, atau mau lebih dulu membekali diri dengan kebenaran Firman Tuhan, sehingga saat tantangan datang, kita tetap kuat, tidak perlu jatuh, dan tetap menang.

Seorang bijak berkata, “Tuhan tidak pernah merancang penderitaan untuk mendewasakan kita. Ia merancang Firman-Nya untuk menyempurnakan kita.”

Luar biasa, bukan?

Ini menjadi pelajaran besar bagi saya. Ternyata kegagalan bukan harga mati untuk mencapai sukses. Kita bisa menghindari banyak kesalahan dan luka, jika kita memilih untuk belajar dan hidup dari Firman.

Kadang Tuhan mengirimkan guru di sepanjang kehidupan kita. Tujuannya agar kita dengan rendah hati belajar dari pengalamannya. Tidak perlu kita sendiri yang mengalami jatuh bangun.

Pengalaman orang lain bisa menjadi ‘Peta Jalan’ agar kita dapat belajar lebih cepat, lebih cerdas dan bisa menghindari ribuan pertempuran yang tidak perlu.

“One hour with a wise person can reveal truths you may never find in hundreds of pages.”

“Satu jam bersama orang bijak bisa mengungkapkan kebenaran yang tidak kita temukan meski membaca ratusan halaman buku.”

Karena itu, “Mendengar Tuhan” bukan dengan suara audibel melainkan melalui kesaksian roh, itu wajib.

Saya belajar, hidup kita ini sebenarnya bisa seperti kendaraan yang dipandu GPS ilahi. Firman Tuhan dan tuntunan-Nya melalui hubungan kita secara pribadi, merupakan petunjuk jalan yang selalu akurat. Tapi kalau kita keras kepala dan memilih “coba-coba” jalan sendiri, ya jangan heran kalau harus berputar-putar dulu, bahkan tersesat.

Hari ini, saya memutuskan untuk lebih serius dan sungguh-sungguh belajar Firman Tuhan dan membangun hubungan yang intim dengan-Nya. Karena saya tahu, Tuhan menyediakan jalan terbaik—dan jalan itu bisa tanpa luka, tanpa trauma, tanpa jatuh bangun yang menyakitkan.

Firman Tuhan cukup.
Firman Tuhan sanggup.
Dan Firman Tuhan akan menyempurnakan kita, jika kita mau taat.

Mari kita pilih jalan yang lebih baik: belajar lewat Firman, bukan lewat kesalahan.

Mau ikut belajar juga? Yuk….

“You can learn things the hard way, or you can learn from God’s Word and avoid unnecessary pain.” – Andrew Wommack

“Kamu bisa belajar dengan cara yang sulit, atau kamu bisa belajar dari Firman Tuhan dan menghindari rasa sakit yang tidak perlu.” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Mau Hidup Berkemenangan? Ini Rahasianya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mau Hidup Berkemenangan? Ini Rahasianya!

“Mengapa hidup naik-turun terus, kadang semangat, kadang hancur lebur?”
Seringkali kita bertanya seperti itu, tanpa menyadari bahwa jawabannya ada pada siapa yang memimpin hidup kita—roh kita yang sudah lahir baru, atau pikiran dan perasaan kita yang belum dilatih.

Perasaan itu ciptaan Tuhan. Indah! Menjadikan hidup berwarna, menarik, penuh dinamika. Tetapi BUKAN untuk menjadi pemimpin. Kalau perasaan dijadikan kompas hidup, hasilnya adalah kebingungan, ketidakstabilan, dan kekalahan.

Firman Tuhan mengajarkan, kunci utama untuk hidup berkemenangan adalah pikiran yang diperbaharui.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”.

Pikiran yang diperbarui = cara berpikir yang benar = senjata melawan tipu daya iblis.

Iblis sudah kalah. Dilucuti kuasanya. Tapi dia masih punya satu senjata: kata-kata.
Dia melemparkan sugesti, ancaman, tuduhan, dan ketakutan ke dalam pikiran kita. Ia adalah pendakwa, kalau kita tidak terlatih mengelola pikiran, hidup kita bisa disabotase oleh suara-suara itu. Bukan karena iblis kuat, tapi karena kita mengijinkan.

Iblis suka mengetuk “pintu pikiran” kita dengan keras—dengan tuduhan seperti,
“Kamu gagal,”
“Kamu nggak layak,”
“Kamu akan kehilangan semuanya.”
Tetapi pertanyaannya: apakah kita membuka pintunya?
Ketukan yang keras tidak sama dengan masuknya ancaman. *Kita yang memutuskan pikiran mana yang boleh masuk dan tinggal.*

Bahkan ketika muncul godaan untuk tersinggung, marah, merasa dicurangi, atau diperlakukan tidak adil, kita tetap punya pilihan. Tersinggung itu pilihan!
Kita bisa memilih untuk menyimpan sakit hati dan membiarkan amarah mengambil alih, atau kita memilih berkata, “Aku percaya kebenaran Tuhan akan membelaku.”

Saat kita memilih untuk menolak tersinggung, kita sedang berkata: “Aku menolak dipimpin oleh perasaanku. Aku memilih dipimpin oleh rohku dan kebenaran Firman Tuhan.”

Hidup ini sepenuhnya di tangan kita. Bukan soal apa yang terjadi di luar, tapi bagaimana kita memilih menghidupinya.

Kita harus dilatih menguasai diri. Disiplin.
Pernah melihat anak yang tidak terlatih? Begitu susah mengaturnya….
Bayangkan kalau pikiran kita tidak pernah dilatih?
Takut, cemas, dan depresi merupakan hasil dari pikiran yang liar dan tidak diperbaharui.

Kita sering diajari untuk mendeklarasikan Firman, dan itu benar.
Tapi itu belum cukup.
Jika pikiran melanglang buana, apa yang dideklarasikan tidak akan termanifestasi. Tidak ada iman di sana!
Kita juga harus mendisiplinkan pikiran kita.
Belajar berkata: “Hei, kamu pikiranku, dan kamu pelayan dari rohku! Bukan aku yang ikut kamu, tapi kamu yang harus tunduk kepada kepada rohku. Tunduk dan selaras dengan Firman Tuhan.”

Tuhan sudah memberi kita roh yang baru—roh yang kuat, kudus, dan pemenang.
Tetapi pikiran dan tubuh?
Itu bagian kita.
Kita yang harus mendidik pikiran agar tunduk pada roh. Kita yang harus membuat tubuh menjadi hamba, bukan tuan. Kalau tubuh atau pikiran yang memimpin hidup kita, mereka akan menyeret kita menuju kehancuran.

Hidup yang dipimpin oleh roh adalah hidup yang berkemenangan.
Roh kita—yang bersatu dengan Roh Tuhan—selalu tahu apa yang benar. Tapi suara roh itu lembut. Ia tidak teriak. Maka perlu latihan untuk mendengarnya, dan keberanian untuk mentaatinya.

Mulailah hari ini: melatih pikiran kita untuk berpikir sesuai Firman, bukan perasaan.

Saat takut datang, ucapkan, “Aku tidak menerima pikiran ini. rohku percaya kepada Tuhan!” Saat tuduhan datang, ucapkan, “Tidak ada penghukuman bagi yang ada di dalam Tuhan.”
Saat ingin tersinggung, berkata, “Aku serahkan semua kepada Tuhan. Aku tidak akan kehilangan damai hanya karena emosi sesaat.”

Kemenangan kita bukan karena dunia tenang, tapi karena pikiran kita tunduk pada roh.
Dan roh kita—bersama Tuhan—selalu menang!

Yuk, ambil kendali atas pikiran dan perasaan kita.
Karena dari situlah hidup yang berkemenangan dimulai.
Siap?

“Your life is going the direction of your most dominant thoughts.” “Hidupmu sedang menuju ke arah dari pikiranmu yang paling dominan.” – Andrew Wommack.

Hidupmu sedang bergerak ke arah yang ditentukan oleh pikiranmu yang paling dominan.” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 30 31 32 33 34 308