Kemungkinannya, pada titik tertentu, kita pernah mendengar pertanyaan: “Jika Tuhan itu ada, mengapa begitu banyak kejahatan dan ketidakadilan di dunia ini?” Saya menemukan diri saya terjebak dalam percakapan seperti itu dengan seseorang belum lama ini. Seperti biasa, orang yang saya ajak bicara menunjuk pada kemiskinan dunia dan bertanya mengapa Tuhan tidak melakukan sesuatu untuk membantu orang miskin.
Meskipun saya tidak mengatakannya dengan keras, saya bertanya-tanya, apa yang orang ini harapkan dari Tuhan—menghujani uang dari awan? Tuhan adalah Tuhan yang baik dan penuh kasih. Tentu bukan kehendak-Nya bagi orang-orang untuk hidup dalam kemiskinan dan pergi tanpa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dan, karena Dia adalah Tuhan dan telah memikirkan segalanya, Dia sudah memiliki rencana untuk memenuhi kebutuhan dunia. Ini ditemukan dalam Ulangan 8:18 : Dialah yang memberi Anda kekuatan untuk mendapatkan kekayaan, agar Dia menegakkan perjanjian-Nya” (New King James Version).
Perjanjian yang Tuhan berikan kepada dunia tidak hanya bersifat rohani; itu juga mencakup kekayaan materi, kesehatan, kedamaian, dan segala sesuatu yang lain yang harus Dia berikan. Dari semua cara Allah dapat “menegakkan perjanjian-Nya” di bumi, Dia memilih untuk menggunakan kita—tubuh Kristus! Betapa suatu hak istimewa—dan tanggung jawab—kita harus bermitra dengan Dia dalam melayani kebutuhan rohani dan materi dunia.
Dalam Financial Stewardship, Andrew menjelaskan bahwa “kemakmuran sebenarnya bukan untuk kita. Tujuan kemakmuran agar kita bisa menjadi berkat. Itu memungkinkan kita untuk memberkati orang lain.” Masalahnya adalah bahwa agama telah mengajar gereja bahwa kemakmuran itu jahat dan egois, sehingga kita harus menghindarinya dengan segala cara jika ingin menjadi saleh. Pola pikir ini menerima kemiskinan sama dengan kerendahan hati dan kesalehan.
Mereka yang percaya paham ini, hanya menginginkan berkat Tuhan secukupnya saja. Mereka baik-baik saja dengan hanya memiliki sedikit karena mereka tidak ingin menjadi egois. Tetapi 2 Korintus 9:8 (TB) mengatakan, “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” Tuhan ingin kita berkelimpahan dalam setiap pekerjaan baik. Kita tidak bisa berkelimpahan dalam membantu orang lain jika kita sendiri berada pada posisi bangkrut!
Melihat kemakmuran dari perspektif Alkitabiah yang benar, kita egois jika kita tidak berkelimpahan, karena itu berarti kita tidak bisa memberi kepada orang lain. Menurut ajaran Andrew dalam Penatalayanan Keuangan, kita perlu mulai makmur sehingga kita dapat berlimpah dalam setiap pekerjaan baik. Inilah sebabnya mengapa Tuhan ingin kita makmur. Dia ingin memberkati kita sehingga Dia dapat membuat kita menjadi berkat. Kita tidak bisa memberkati orang lain jika kita tidak diberkati.
Jika setiap orang Kristen memiliki sikap yang benar terhadap kemakmuran—memahami bahwa kemakmuran tidak mementingkan diri sendiri, tetapi berkat yang Tuhan ingin berikan kepada kita—saya percaya kita dapat menghapus kelaparan dan kemiskinan dunia dan mengirimkan Injil ke seluruh dunia. Tuhan tidak akan menghujani manusia dengan uang. Dia menunggu kita untuk percaya kepada-Nya untuk meraih kemakmuran sehingga kita, “memiliki semua kecukupan dalam segala hal, dapat berlimpah untuk setiap pekerjaan baik.”
[Repost : “Blessed to be a Blessing”, – Andrew Wommack, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Firman Tuhan berbicara lebih banyak tentang keuangan daripada tentang surga dan neraka. Yesus berkata mempercayai Dia dengan uang kita merupakan penerapan iman kita yang paling kecil (Lukas 16:9-11). Jika kita tidak dapat melakukan hal yang paling kecil, maka kita tidak dapat melakukan hal-hal yang lebih besar. Ini sangat penting.
Sebelum saya mengajar tentang keuangan, izinkan saya menceritakan, minggu ini, saya menonton penggalangan dana yang diadakan oleh jaringan Kristen, dan saya terkejut. Saya melihat manipulasi yang membuat para penipu terlihat jujur, dan itu semua dilakukan atas nama Tuhan dengan air mata berlinang dan menggunakan banyak promosi sensasional. Itu benar-benar menyedihkan hati, karena saya tahu korbannya adalah sebagian besar dari Anda.
Tetapi tahukah Anda apa yang paling membuat saya kesal? Bukan sang pendeta yang salah mengartikan kehendak Tuhan. Hal seperti itu akan selalu dan selalu terjadi. Apakah sangkut pautnya jerami dengan gandum (Yeremia 23:28)? Kita mengarahkan pandangan kita pada Yesus (Ibrani 12:1-2). Yang benar-benar membuat saya kesal, ternyata taktik ini berhasil. Tubuh Kristus menanggapi permohonan semacam ini dengan memberikan banyak uang, dan itulah sebabnya para ‘pendeta’ dan pelayan yang ‘palsu’, melakukan hal seperti ini: karena berhasil. Ada organisasi yang menerima ratusan juta dolar per tahun melalui tipu muslihat, kebohongan, dan manipulasi.
Ini menggambarkan, betapa banyaknya ketidakdewasaan dalam tubuh Kristus.
Ketika saya berdoa tentang hal ini, saya merasa seolah Tuhan berkata, “Bagaimana umat-Ku dapat menjadi dewasa dalam bidang ini tanpa mendapatkan pengajaran yang benar, karena ‘iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus’ [Roma 10:17]? Jadi, jika kita ingin melihat tubuh Kristus menjadi dewasa dalam area ini, ajari mereka.” Itulah yang saya lakukan.
Namun dalam tulisan kali ini, saya ingin berfokus secara khusus pada apa yang Alkitab katakan tentang mengapa, kapan, dan di mana seharusnya memberi. Perspektif Alkitabiah dalam tiga bidang ini akan menghentikan kekonyolan ini.
Pertama, motivasi di balik pemberian Anda lebih penting daripada pemberian Anda. Inilah poin yang digarisbawahi dalam 1 Korintus 13:3 (TB), yang mengatakan, “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”
Alasan Anda memberi, jauh lebih penting daripada apa atau berapa banyak yang Anda berikan.
Setiap presentasi yang mengatakan, Anda dapat membeli berkat Tuhan atau keselamatan orang yang Anda kasihi atau keuntungan positif lainnya yang bisa diraih dengan pemberian keuangan Anda, telah menggunakan motif yang salah untuk membuat Anda memberi. Memang benar kisah janda di Sarfat memberi Elia semua yang dia miliki dan sebagai hasilnya kebutuhannya dipenuhi secara supernatural selama tiga tahun ke depan. Tetapi 1 Raja-raja 17:9 mengatakan, “Aku telah memerintahkan seorang janda di sana untuk menopang engkau.” Tuhan telah memerintahkannya untuk mendukung Elia. Ini bukan tentang memenuhi kebutuhannya, meskipun itu memang terjadi; dia memberi untuk membantu abdi Allah.
Juga benar bahwa pemberian Kornelius muncul di hadapan Tuhan sebagai kejadian yang penting untuk diingat (Kisah Para Rasul 10:4), tetapi imannyalah yang menyenangkan Tuhan (Ibrani 11:6). Pemberiannya hanyalah tanda nyata dari iman dan kepercayaannya kepada Tuhan. Berkat Tuhan tidak dapat dibeli (Kisah Para Rasul 8:18-20).
Memang benar, karena kita memberi, Tuhan akan memberi kembali kepada kita seratus kali lipat dalam hidup ini (Markus 10:30), tetapi memberi hanya untuk mendapatkan kembali adalah motivasi yang salah. Allah memakmurkan kita sehingga kita dapat mendirikan kerajaan-Nya (Ulangan 8:18), memberi kepada mereka yang membutuhkan (Efesus 4:28), dan berlimpah dalam setiap pekerjaan baik (2 Korintus 9:8). Kita memang perlu berharap untuk menerima ketika kita memberi, terutama agar kita diperlengkapi dan mampu memberi lebih banyak. Namun, penekanannya harus pada memberi, bukan menerima. Lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kisah Para Rasul 20:35). Kita harus hidup untuk memberi dan bukan memberi untuk hidup.
Kedua, banyak kesalahpahaman terjadi tentang kapan kita harus memberi. Banyak orang Kristen hanya memberi setelah semua kebutuhan mereka terpenuhi. Tetapi Kitab Suci mengajarkan bahwa pemberian kita adalah buah sulung (Amsal 3:9). Artinya, hal pertama yang kita lakukan saat menerima uang adalah menghormati Tuhan dengan memberikan sebagian untuk pekerjaan-Nya. Kurang dari itu tidak menghormati Tuhan.
Juga, beberapa dari kita diajar hanya untuk memberi atas perintah khusus Tuhan. Tentu saja, Firman Tuhan adalah instruksi-Nya, dan kita tidak harus menerima suara yang dapat didengar atau audibel, untuk memberi kita arahan lebih lanjut. Ada kalanya Tuhan secara khusus mengarahkan pemberian kita, tetapi itu tidak terjadi setiap saat.
Kitab Suci mengatakan, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” 2 Korintus 9:7 (TB).
Bagaimana jika satu-satunya kesempatan, anak-anak kita mengatakan kepada kita bahwa mereka mencintai kita, adalah ketika kita menyuruh mereka memberitahukannya kepada kita? Memang benar kita harus mengajari anak-anak untuk mengatakan hal-hal seperti “Terima kasih” dan “Aku mencintaimu.” Kita memang memimpin mereka ke dalam hal-hal seperti itu, dan Tuhan memang menuntun kita untuk memberi pada waktu-waktu tertentu. Tetapi semua orang tua merindukan hari dimana tanggapan seperti itu keluar dari hati anak-anak mereka secara spontan. Demikian juga, Tuhan ingin kita memberi sesuai keinginan kita untuk memberi, bukan di bawah tekanan.
Jadi, ketika kita dikutuk agar memberi, atau dibuat merasa bersalah jika tidak memberi, itu adalah waktu yang salah untuk memberi. Saya memiliki seorang teman yang pernah memberikan $1.000 kepada seorang pendeta supaya dia dan semua orang bisa pergi dari gerejanya. Sang pendeta mengatakan dia tidak akan membiarkan siapa pun pergi sampai tujuan (dana yang dikumpulkan) mereka tercapai. Setelah tiga kali persembahan, mereka masih kekurangan $1.000, jadi teman saya memberikan $1.000 hanya untuk keluar dari sana.
Saya tidak akan pernah memberi dalam situasi seperti itu. Karena artinya mendukung perilaku negatif. Ini seperti memberikan suara atau mendukungnya, dan berkata, “Saya menyukainya. Lakukan lagi lebih banyak lagi.”
Setiap kali kita memberi kepada ‘pelayan atau pendeta’ yang memanipulasi kita, itu seperti memberikan suara atau mendukung perlakuan semacam itu terus berlanjut. Kita tidak punya hak untuk menggerutu dan mengeluh ketika kita memilih melakukan hal yang pada akhirnya membuat kita sendiri kesal.
Ketiga, soal kemana kita harus memberi, itu yang paling mudah. Paulus berkata dalam 1 Korintus 9:7-11, Galatia 6:6, 1 Timotius 5:17-18, dan banyak ayat kitab suci lainnya, Anda harus memberi di tempat di mana Anda diberi makan. Anda tidak makan di McDonald’s tetapi pergi ke Wendy’s untuk membayar. Anda membayar di tempat Anda makan. Demikian juga, Anda harus memberi di mana Anda diberi makan.
Maleakhi 3:10 (TB) membaca, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
Saya telah mendengar banyak pendeta menggunakan ayat itu untuk mengajarkan bahwa persepuluhan Anda adalah milik gereja lokal Anda, dan persembahan di atas, persepuluhan Anda digunakan untuk pelayanan dan pekerjaan kebajikan lainnya. Saya setuju dengan itu jika gereja Anda benar-benar rumah perbendaharaan. Rumah perbendaharaan adalah tempat Anda menyimpan makanan atau pergi untuk mendapatkan makanan.
Gereja lokal adalah tulang punggung pekerjaan Tuhan di bumi ini. Ada cara-cara gereja lokal dapat memberi Anda makan, yang tidak dapat dilakukan oleh pelayanan lain. Anda tidak dapat menelepon saya di tengah malam atau meminta saya melakukan pemberkatan pada pernikahan anak Anda atau membantu menasihati mereka. Anda membutuhkan persekutuan dengan orang percaya lainnya. Saya tidak bisa menawarkan pelayanan itu, tapi gereja lokal bisa.
Namun, berapa banyak dari kita yang menyadari bahwa kita tidak hidup di dunia yang sempurna di mana setiap gereja mampu memenuhi kebutuhan orang-orang yang hadir? Ada orang yang pergi ke gereja setiap minggu dan tidak pernah diberi makan. Sebenarnya, saya bertemu dengan banyak orang yang mengatakan kepada saya, bahwa mereka kelaparan atau justru diracuni oleh gereja-gereja lokal mereka, dan mereka hidup dari pengajaran saya.
Sesungguhnya, sesuatu hal yang salah, jika diberi makan di satu tempat, lalu memberikan persepuluhan dan persembahan Anda ke tempat lain. Jika Anda tidak berada di gereja lokal yang benar-benar memberi makan Anda, maka keluarlah dari sana dan temukan gereja yang baik. Kemudian berikan persepuluhan Anda kepada gereja itu dan persembahan Anda untuk pelayanan lainnya. Tetapi jika Anda tidak dapat menemukan gereja yang baik atau, karena alasan lain, tetap tinggal di gereja yang sudah mati, jangan berikan uang Anda di sana. Itu sama aetinya, Anda mensubsidi kegagalan mereka.
Saya dapat menjamin kepada Anda, mereka yang menggunakan tipu muslihat dan kutukan untuk memanipulasi, tidak benar-benar memberi makan umat Tuhan. Sudah lumrah diketahui, agama (legalisme) tidak memberi makan orang secara rohani. Jika tubuh Kristus ingin memurnikan motif mereka dalam memberi, mereka hanya memberi ketika mereka dapat melakukannya dengan sukacita dan bukan karena rasa bersalah, dan memberi di tempat mereka benar-benar diberi makan, maka mereka yang tidak memberi makan kawanan domba Tuhan, harus bertobat atau pergi. Gulung tikar. Sehingga, hanya pendeta dan gereja sejati yang benar-benar memberi makan tubuh Kristus-lah yang akan memiliki lebih banyak uang, lebih daripada yang mereka butuhkan
Setiap pelayanan yang benar-benar menjangkau orang, akan memiliki hasil yang serupa. Satu-satunya pengecualian yang dapat saya pikirkan adalah pelayanan yang melayani mereka yang tidak bisa memberi, seperti misionaris atau mereka yang membantu orang miskin. Itulah yang saya sebut pelayanan kebajikan, dan mereka membutuhkan sumbangan dari mereka yang tidak diberi makan langsung oleh mereka.
Saya menggunakan jam doa saya di Charis Bible College untuk mengajar tentang topik ini, “Mengapa, Kapan, dan Di Mana Memberi.” Itu benar-benar memberkati para siswa. Saya pikir pengajaran ini akan memberkati dan membantu Anda menjadi lebih cerdas dalam bidang ini. Selain itu, saya yakin Anda mengenal beberapa orang yang memiliki sikap buruk tentang memberi, karena telah melihat bagaimana uang itu telah diselewengkan dan disalahgunakan.
Saya pikir pemahaman ini akan menjadi sarana yang bagus untuk melewati rasa sakit yang pernah mereka alami, dan membantu mereka untuk mulai menerima yang terbaik dari Tuhan di bidang keuangan ini.
[Repost : “Why, When, and Where to Give”, – Andrew Wommack, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Siapa pernah merasa gak Pede? Saya tunjuk jari. Sejak dulu saya suka membaca dan menulis, tetapi berbicara di depan umum, itu problem bagi saya.
Saya pun ikut seminar public speaking, berkali-kali… Semua guru saya Top dan pilihan. Tetapi masalahnya ada pada saya… Bisa sich… Tetapi ada perasaan tidak nyaman.
Sampai saya belajar, bahwa Tuhan itu tinggal di dalam roh saya. Sesungguhnya yang menulis dan berbicara itu bukan saya, tetapi Tuhan. Koq bisa? Kan saya hanya pena di tangan Tuhan, alatnya Tuhan. Coba kalau Tuhan ga beri saya ide tulisan, tidak menyertai saya saat menuangkannya menjadi tulisan, memangnya saya bisa? Meski pun orang kerap menyebutnya sebagai talenta tetapi tanpa Tuhan, saya gak bisa apa-apa.
Teringat pada kesaksian Keith Moore. Beliau sejak kecil menang sudah fasih berbicara di depan umum tanpa menggunakan catatan. Pandai menyanyi dan memainkan alat musik, tanpa harus mengikuti pelatihan formal. Karenanya, mengajar dan menyanyi merupakan sesuatu yang natural dan mudah baginya.
Suatu ketika dia bertanya, “Tuhan, ini Kemampuanku atau ini Engkau?”
Setelah bertanya demikian, tidak terjadi apa-apa. Tiba di kelas, tiba-tiba dia sadar. Mau menyanyi tidak ingat sebuah lagu pun… Dieeeenk…. Mau mengajar, bahan-bahan yang sudah amat dikuasainya selama bertahun-tahun, yang selama ini gak usah mikir, sudah otomatis mengalir, sekarang lupa total.
Keith duduk di kantornya, memandang keluar melalui jendela. Bak botol yang kosong. Selama 3 hari 3 malam, Keith tidak bisa apa-apa. Bengong. Sejak itu Keith Moore belajar, bahwa setiap anugerah, talenta, kemampuan, ketrampilan itu berasal dari Tuhan. Karena segala sesuatu berasal dari Tuhan, maka seyogyanya, dipergunakan untuk kemuliaan-Nya.
Kisah Keith Moore menjadi titik balik kehidupan saya. Hhhmmm… Segala sesuatu dari Tuhan dan untuk Tuhan. Saya kan hanya Pena Di Tangan Tuhan, istilah yang saya peroleh setelah berdiskusi dengan sis Elma. Jadi baik, yang dapat pujian itu Tuhan. Kalau buruk, yang malu juga Tuhan…
Hal lain yang saya pelajari dari Greg Mohr, setiap apa yang Tuhan percayakan, maka ada Anugerah Penugasan yang menyertainya. Tugas kita cukup taat saja. Tuhan yang akan menuntun bagaimana cara mengerjakannya dan membuatnya menjadi berhasil.
Mungkin saja bidang yang kita geluti nampak sederhana, tidak heboh, bukan brand yang gebyar-gebyar tetapi dengan memiliki perkenanan Tuhan, alias God’s Favor , maka yang nampak biasa menjadi aliran sungai berkat yang tidak pernah kering. Sehingga dalam prosesnya, kita bisa merasakan damai sejahtera serta ketenteraman. Dilengkapi dengan karunia untuk menikmatinya.
Kita tidak bergantung pada kemampuan kita, tetapi fokus dan bergantung pada kemampuan-Nya. Kalau Tuhan di pihakku, siapa dapat melawan aku?
It’s all about God and not me. Ini pewahyuan yang sangat membebaskan dan membuat saya jadi berani serta pede.
Bagaimana dengan Anda?
I am a little pencil in God’s hands. He does the thinking. He does the writing. He does everything and sometimes it is really hard because it is a broken pencil and He has to sharpen it a little more. – Mother Teresa
Saya adalah pensil kecil di tangan Tuhan. Dia yang berpikir. Dia yang menulis. Dia yang melakukan segalanya dan terkadang sangat sulit karena pensil itu patah sehingga Dia harus menajamkannya sedikit lagi. – Bunda Teresa
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Ada sesuatu tentang air yang menarik perhatian kita. Keindahan kumpulan besar air yang tenang, suara gemericik air di anak sungai, atau pemandangan ombak laut yang memukau saat mereka berlarian ke pantai menyebabkan sebagian besar dari kita berhenti, menatap, mendengarkan, dan merenung.
Air sangat penting bagi kehidupan di planet ini. Jumlah air dalam tubuh manusia berkisar antara 50-75%. Rata-rata tubuh manusia dewasa, 50-65% nya adalah air. Tanpa air dalam tubuh alami, kita hanya bisa hidup beberapa hari. Sungguh menarik bahwa Yesus berbicara tentang air hidup sebagai solusi bagi pencarian manusia akan hidup yang kekal.
Yesus menjawab dan berkata kepadanya, “Jika kamu tahu karunia Allah, dan siapa yang berkata kepadamu, Beri aku minum”; Anda akan memintanya, dan dia akan memberi Anda air hidup. (Yohanes 4:10).
Manusia roh kita membutuhkan air kehidupan. Yesuslah ‘air hidup’ itu. Sama seperti tubuh fisik kita tidak dapat hidup lama tanpa air alami, roh kita tidak dapat makmur tanpa mengambil bagian dari Yesus. Yesuslah satu-satunya yang dapat memuaskan dahaga roh kita. Tidak ada lagi yang bisa memuaskan. Pekerjaan kita sendiri, membuat kita frustrasi dan lelah. Mencari makna kehidupan kepada orang lain tidak pernah memuaskan. Hanya Yesus yang dapat memenuhi kita dengan damai, sukacita, iman, kasih dan hidup.
“Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Yohanes 4:14 (TB).
Semua orang bisa datang kepada Sang Sumber Kehidupan. Tidak ada biaya. Free of charge.
Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” Wahyu 22:17 (TB).
Hal yang luar biasa lagi, ‘air kehidupan’ yang sama yang telah memberi kita kehidupan, dapat mengalir dari kita kepada orang lain juga, saat kita berbagi kasih Tuhan. Kita memiliki ‘air’ yang bisa dibagikan kepada dunia!
“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yohanes 7:38 (TB).
[Repost : “Are You Thirsty?”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Intimidasi Senjata Iblis Menyerang Kita. (Healing Part 7)
Berulang kali saya minta Rheva menulis kesaksiannya disembuhkan secara supernatural dari syaraf terjepit, tetapi tak kunjung muncul jua. Hingga setahun kemudian Rheva email. Ternyata terkuak penyebabnya.
“Sebenernya bu, ampunilah aku karena kemarin-kemarin aku masih suka ketakutan ga berani bersaksi, kalau kumat bagaimana?”, ujar Rheva, “Aku ditodong Taufan teman sekelas di CJ3 bersaksi, aku sudah ga bisa menghindar. Begitu menyetujuinya, apa yang terjadi?
Rasa sakitnya muncul lagi 2 hari sebelum jadwal kesaksian! Aku ga berani buka mulut, cuma diam, dan aku bilang sama si jahat “Jangan permainkan aku, pergi deh, aku ga mau termakan tipuanmu!!!” Pagi harinya aku bangun, the pain is gone, lenyap tak berbekas. Aku kesaksian bagaimana disembuhkan dari syaraf terjepit secara supernatural, tanpa rasa sakit sedikit pun… Memang battlefield of the mind – peperangan dalam pikiran, selalu ada ya bu… tapi ya itu, otot rohani harus terus dilatih.
Ini aku ceritain ke kakak rohaniku…. unbelief – ketidakpercayaan, itu tetap bisa hadir, tapi aku menetapkan hati, ga mau naik turun kalau mempercayai kesembuhan…. karena karya Allah itu sempurna, ga setengah-setengah…. kalau sudah sembuh, akan selalu sehat. Aku pegang erat-erat kebenaran ini. “
Ketakutan yang sama saya alami saat saya ‘yakin’ disembuhkan dari Hipertiroid. Tetapi saya tidak berani cek laboratorium karena terselip ketakutan kalau ternyata hasilnya tidak sembuh bagaimana?
Darimana saya ‘tahu’ kalau saya sembuh? » Malam hari jantung saya tidak berdebar-debar lagi, meski pun saya sudah lepas obat. Detak jantung sekitar di angka 100 ketika sedang parah-parahnya. Sekarang sekitar 60 – 70 an. » Berat badan saya stabil tanpa obat. Sebelumnya, tanpa obat, berat badan langsung meluncur turun dengan cepatnya.
Menjelang vaksin Covid, saya test laboratorium, hasilnya normal. Yeaaayyyy…. Betul-betul sembuh dan terbukti dengan hasil lab. Lega.
Beberapa minggu lalu, saya mendapatkan tugas sharing. Seminggu sebelum hari H, berkumpul dengan teman-teman bercengkerama seperti biasa. Tiba-tiba saya ingat Yuliadi akan sharing bulan depan. Tanpa berpikir panjang saya berkomentar, “Yul, mesti ada klimaksnya… Biar ada yang bisa ditindaklanjuti pendengar.”
Selama seminggu itu saya betul-betul diteror ‘musuh’. “Koq bisa kasi saran Yuliadi? Yuliadi itu lebih berpengalaman..lebih jagoan dari saya… Belum lagi disampingnya P. Paulus, yang pengalamannya puluhan tahun dan sudah terkenal di seluruh negeri. Bagaimana dengan sharingmu minggu depan? Memangnya kamu bisa?”
Perasaan bersalah, takut, galau bercampur aduk. Intimidasi demi intimidasi berputar-putar di kepala. Padahal Yuliadi, P. Paulus mungkin sudah tidak ingat apa yang saya katakan.
Saya mengingatkan diri: it’s all about God, not me. Ini semua tentang Tuhan, bukan saya. Saya bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Persis malam sebelum hari H, menjelang tidur tiba-tiba jantung saya berdebar-debar keras. Terlintas pikiran seperti yang dialami Rheva, jangan – jangan Hipertiroid saya kambuh lagi. Langsung saya sadar, ini bukan pikiran saya mau pun pikiran dari Tuhan. Tetapi pikiran yang diselipkan si ‘musuh’ yaitu iblis. Segera saya usir dalam nama Allah!
Sharing keesokan harinya lancar dan berjalan dengan baik. Begitu selesai, rasanya leegggaaa… Janji Tuhan Ya dan Amin. Dia tidak pernah meninggalkan mau pun membiarkan kita.
Yuliadi menulis di grup WA sekolah:
Guilt, fear, shame – rasa bersalah, ketakutan, rasa malu, adalah 3 senjata yang paling sering digunakan setan untuk merusak kesehatan tubuh seseorang. – Dr. Henry Wright.
Kadang-kadang perasaan bersalah bisa dipicu oleh hal-hal yang sedemikian sepele, terlambat menjemput anak di sekolah, meledak marah untuk hal-hal yang remeh lalu iblis menuduh kita bukan ibu atau istri yang baik….
Ada teman atau keluarga dekat yang berkomentar negatif, tanpa sadar kita menyetujuinya dan merasa ‘kita tidak cukup baik.’ Timbul perasaan tertolak, kepahitan dan malu.
Berhari-hari didera perasaan negatif, imun tubuh pun menurun. Berpikir, oh… Kurang minum vitamin. Terlalu lelah.. Atau kurang istirahat. Padahal penyebab utamanya justru intimidasi si musuh.
Saat ngobrol dengan Rheva, saya bercerita akan menulis bahwa intimidasi itu sesuatu yang wajar tetapi jangan diterima, karena itu pikiran yang diselipkan oleh musuh. Penting ini, banyak yang tidak paham.
“Betul Bu…. Ketakutan ini bisa muncul lagi setiap saat, karena symptomsnya memang real ya bu. Langsung kerasa,” sahut Rheva, “Tapi aku selalu inget kesaksian alan n Debby Moore. Otaknya memang masih rusak tapi dia hidup mengalahkan hasil MRI- nya. Sekarang aku melatih imanku untuk bisa melihat bantalan tulangku digantikan yang baru oleh Tuhan. Baby steps untuk belajar mempercayai hal ini.”
Inilah kisah Alan & Debby Moore yang di mention Rheva:
Suatu hari Alan Moore yang tengah merawat kebunnya, terjatuh. Ternyata terkena stroke. Segera Debby, istrinya membawanya ke rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan 1/3 otak Alan memang mati. Tetapi baik Alan mau pun Debby percaya bahwa kesembuhan sudah ada di dalam roh mereka. Maka mereka bersepakat untuk memanifestasikannya, menolak intimidasi musuh bahwa stroke tidak bisa sembuh. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, para suster dan dokter terheran-heran karena Alan bisa berjalan sendiri ke toilet, padahal secara medis, seharusnya Alan lumpuh separuh tubuhnya.
Di rontgen ulang, hasilnya tetap sama. 1/3 otaknya tetap mati. Tetapi kenyataannya Alan bisa berjalan bahkan bekerja normal seperti sedia kala. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kesaksian ini yang menguatkan Rheva, tidak peduli kondisi bantalan tulangnya seperti apa, pokoknya Rheva yakin, dia normal dan sembuh.
Sesungguhnya kita sudah paham di kepala, taktik lama si iblis tetapi ternyata menyingkirkannya, tidak semudah teorinya. Karena itu perlu untuk senantiasa memperkuat fondasi rohani kita: pemahaman akan kasih Allah yang tanpa syarat dan menerimanya, hingga menghidupinya dalam hati. Dan bergaullah dengan orang-orang yang percaya bahwa kesembuhan itu sudah ada di dalam kita, maka terjadilah menurut imanmu.
Praktik yuk….
Real faith has perfect peace and joy and a shout at any time. It always sees the victory – Smith Wigglesworth.
Iman sejati memiliki damai yang sempurna, sukacita dan bersorak kapan saja. Karena iman sejati selalu melihat kemenangan. – Smith Wigglesworth.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN