Category : Articles

Articles

Ketika Sistem Melukai, Jangan Menyalahkan Yesus…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Sistem Melukai, Jangan Menyalahkan Yesus…

“Kemarin, saya mendapat kehormatan untuk berbicara dalam ibadah di Howard University,” demikian A.R. Bernard memulai.
Ia menyinggung ketegangan yang banyak dialami generasi muda saat ini:
“Saya tidak religius — saya spiritual.”

Ia berkata, ia mengerti bahasa itu.
Ia pun pernah menggunakannya ketika mempertanyakan institusi dan menantang sistem yang tidak mencerminkan perubahan yang dikhotbahkan.

Namun ia juga mengingatkan:
Spiritualitas tanpa pembentukan bisa menjadi kabur dan tidak berakar.

Kita perlu belajar membedakan antara Yesus — karakter-Nya, pengajaran-Nya, dan cara-Nya menyatakan natur Allah — dengan konstruksi sosial yang dibangun oleh manusia.
Di situlah kita bisa sungguh-sungguh mengikuti Dia.

Lalu muncul pertanyaan penting:
Bagaimana kita memisahkan pribadi Yesus dari sistem yang dibangun atas nama-Nya?

Yesus sendiri pernah memberikan gambaran yang sangat kuat.
Ia menceritakan tentang seorang yang dirampok di tengah jalan.
Ia terluka, tergeletak, tidak berdaya.
Seorang imam lewat.
Ia melihat… lalu berjalan terus.

Seorang Lewi lewat.
Ia juga melihat… lalu melewati.
Mereka adalah orang-orang sistem.
Orang-orang yang memahami aturan, fungsi, dan tanggung jawab religius.

Namun justru seorang Samaria — orang luar, bukan bagian dari struktur — yang berhenti.
Ia mendekat.
Ia merawat luka.
Ia mengangkat.
Ia memulihkan.
Perumpamaan ini sederhana, tetapi tajam.

Terkadang yang paling dekat dengan sistem justru yang paling jauh dari empati.
Dan yang paling mencerminkan hati Tuhan justru bukan mereka yang menjaga struktur, tetapi mereka yang melihat manusia.
Inilah realitas yang banyak dialami hari ini.

Ketika anak muda berkata, “Aku spiritual, bukan religius,” seringkali itu bukan karena mereka menolak Tuhan.
Itu lahir dari luka.
Ada yang pernah melayani dengan tulus, tetapi ketika hidupnya goyah, respons yang ia terima hanya seputar jadwal.

Ada yang datang membawa pergumulan pribadi, tetapi yang ditanyakan bukan “apa yang kamu alami?”, melainkan “siapa yang akan menggantikanmu?”
Ada yang berharap didengar, tetapi yang mereka temui adalah sistem yang harus tetap berjalan.

Mereka tidak sedang menolak Kristus.
Mereka sedang bereaksi terhadap pengalaman.
Luka itu bukan datang dari Yesus, tetapi dari struktur yang dibangun manusia, yang kadang berbicara lebih keras daripada kasih.
Dan di titik itulah banyak orang mulai menjauh.
Bukan dari Tuhan.
Dari sistem.
Namun tanpa sadar, keduanya disamakan.
Ketika sistem melukai, Yesus ikut disalahkan.

Padahal realitas pelayanan memang tidak sederhana.
Banyak pemimpin rohani hidup di bawah tekanan menjaga keberlangsungan.
Pelayanan harus tetap jalan.
Jadwal harus stabil.
Sistem harus tidak terganggu.

Tanpa disadari, peran yang muncul bukan lagi gembala jiwa, tetapi:
administrator rohani
penjaga struktur
pengarah pelayanan

Fokusnya bukan pada hati yang terluka, tetapi pada fungsi yang harus tetap berjalan.
Di titik tertentu, pelayanan mulai dijalankan bak bisnis di perusahaan sekuler – menekankan efisiensi, kontinuitas, dan stabilitas, sementara ruang bagi empati semakin menyempit.
Dan dalam tekanan itu, empati sering menjadi korban pertama.
Tidak ada ruang untuk benar-benar walk in others shoes – berjalan di sepatu orang lain.

Yang ada hanyalah respons praktis:
Yang penting ada pengganti.
Yang penting pelayanan tetap jalan.
Bagi orang yang sedang bergumul, ini terasa seperti penolakan.

Lalu muncul kesimpulan yang menyakitkan:
Kalau beginilah wajah pelayanan, mungkin beginilah wajah Tuhan.

Padahal Yesus sangat berbeda.
Ia tidak memperlakukan manusia sebagai bagian dari sistem.
Ia berhenti di tengah perjalanan demi satu orang.
Ia menunda agenda demi mendengar.
Ia tidak melihat manusia sebagai fungsi, tetapi sebagai jiwa.
Ia tidak menjaga jadwal.
Ia menjaga hati.

Yesus tidak pernah mengorbankan manusia demi stabilitas pelayanan.
Ia justru mengorbankan diri-Nya demi manusia.

Bagi para pemimpin, ini juga menjadi cermin.
Pelayanan membawa pengaruh.
Jemaat, posisi, akses, bahkan kedekatan dengan kekuasaan sosial.
Fasilitas, pujian, peluang — semua itu bisa menjadi berkat, tetapi juga jebakan.
Sering dikatakan, perbedaan antara pendeta dan figur publik kadang sangat tipis bagaikan sehelai rambut belaka.
Keduanya bisa dipuja.
Keduanya bisa dielu-elukan.
Dan ketika pujian menggantikan empati, sistem bisa kehilangan jiwa.

Tulisan ini bukan untuk menolak gereja.
Tetapi untuk mengajak kita semua — pemimpin maupun jemaat — melakukan check and recheck:

Apakah kita sedang mencerminkan Kristus?
Atau hanya menjaga struktur?
Atau tanpa sadar memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri?
Karena pada akhirnya,

“The greatest single cause of atheism in the world today is Christians who acknowledge Jesus with their lips, then walk out the door and deny Him by their lifestyle.” — Brennan Manning

“Satu penyebab atheisme terbesar di dunia saat ini adalah orang Kristen yang mengakui Yesus dengan bibir mereka, lalu berjalan keluar pintu dan menyangkal Dia dengan gaya hidup mereka.” — Brennan Manning

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Sudah Dalam Kristus, Mengapa Hidup Masih Berat?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Sudah Dalam Kristus, Mengapa Hidup Masih Berat?

Beberapa waktu ini saya merenungkan sesuatu yang sangat sederhana… tapi diam-diam menentukan arah hidup kita.
Identitas.

Bukan identitas di KTP.
Bukan peran sebagai ibu, istri, pemimpin, atau pelayan Tuhan.

Tapi identitas kita di dalam Kristus.
“In Christ.”
Kalimat ini sering kita dengar.
Tapi sering kita masih hidup seolah-olah di luar.
Padahal sejak lahir baru, posisi kita sudah berubah.
Kita tidak lagi berdiri di luar, berusaha mendekat kepada Tuhan.
Kita sudah ditempatkan di dalam Dia.

Artinya:
Bukan lagi hidup untuk mendapatkan penerimaan,
tapi hidup dari penerimaan.
Bukan lagi berusaha supaya diberkati,
tapi hidup dari berkat.
Ini seperti pindah sistem kehidupan.

Dulu kita hidup dari:
usaha
ketakutan
pembuktian diri
Sekarang kita hidup dari:
union
kelimpahan
keamanan identitas

Namun seringkali, meskipun posisi kita sudah berubah, cara hidup kita belum.
Kita masih berpikir seperti dulu.
Masih merasa harus melakukan sesuatu supaya hasil berubah.

Di sinilah saya mulai melihat hukum tabur tuai dengan cara yang lebih sehat.
Bukan sebagai transaksi.
Tapi sebagai arah hidup.

Saya teringat kisah Warren Buffett.
Ia bukan orang yang menjadi kaya karena “mengejar uang”.
Sejak muda, ia menabur satu hal:
nilai.

Ia membaca, belajar, membangun cara berpikir yang benar tentang investasi.
Ia menabur:
disiplin
kesabaran
hikmat
Hasilnya?
Ia menuai keuangan dalam skala luar biasa.

Bukan karena ia menabur uang terlebih dahulu dalam jumlah besar.
Tapi karena ia menabur kehidupan yang tepat.

Sebaliknya, banyak orang punya uang, menabur uang, tapi tetap tidak menuai kekayaan.
Karena yang ditabur sebenarnya adalah:
ketakutan
emosi
keputusan impulsif
Hidup menuai apa yang ditanam, bukan sekadar apa yang diberikan.

Di dalam Kristus, kita sudah diberkati.
Itu posisi.

Tapi apa yang kita tabur setiap hari menentukan pengalaman kita.
Kita selalu menabur.
Lewat pikiran.
Lewat kata-kata.
Lewat respon.

Saat kita menabur kekhawatiran, kita menuai gelisah.
Saat kita menabur syukur, kita menuai damai.
Bukan karena Tuhan berubah.
Tapi karena arah hidup kita berubah.
Tabur tuai bukan mesin rohani.
Bukan:
beri lalu mendapat.
Ini tentang kehidupan yang kita lepaskan.

Seperti air.
Air selalu mengalir.
Tapi arah alirannya menentukan ke mana ia pergi.
Mengalir saja tidak cukup.
Kalau arahnya ke bawah, ia tidak akan naik.

Saya juga teringat Mother Teresa.
Ia tidak menabur uang.
Ia menabur kasih.
Ia menabur pelayanan.
Ia menabur kepedulian.

Apa yang ia tuai?
Favor – Perkenanan, dunia.
Dukungan global.
Sumber daya yang terus mengalir.
Keuangan datang… bukan karena ia mengejarnya.
Tetapi karena kehidupan yang ia lepaskan menciptakan dampak.

Di dalam Kristus, sumber kita sudah benar.
Kita tidak menabur supaya Tuhan memberkati.
Kita menabur karena kita hidup dari sumber yang diberkati.
Dan apa yang kita lepaskan setiap hari akan membentuk realitas yang kita alami.

In Christ bukan berarti hidup tanpa konsekuensi.
Tapi hidup dari posisi yang benar, sehingga taburan kita mengalir dari kelimpahan, bukan dari kekurangan.
Dan dari situlah kehidupan mulai bertumbuh…
bukan karena kita mengejar hasil,
tetapi karena kita hidup dari sumber yang benar.

“Sow a thought, reap an action; sow an action, reap a habit; sow a habit, reap a character; sow a character, reap a destiny.” – Stephen Covey.

“Taburlah pikiran, tuailah tindakan; taburlah tindakan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah masa depan” – Stephen Covey.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Tidak Dipilih, Tetapi Tetap Dilihat.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Tidak Dipilih, Tetapi Tetap Dilihat.

Ada masa dalam hidup ketika kita sadar… kita bukan pilihan utama.
Bukan yang paling diinginkan.
Bukan yang paling diutamakan.
Mungkin hanya ada karena keadaan.
Kisah Lea di Kejadian 29 terasa dekat dengan realitas seperti ini.

Ia menikah dengan Yakub, tetapi bukan karena cinta. Hati Yakub tertuju pada Rahel. Perbandingan sudah terlihat sejak awal. Rahel digambarkan cantik dan menawan. Lea hanya disebut “lemah lembut matanya.”

Yakub bekerja tujuh tahun demi Rahel. Itu menunjukkan dengan jelas ke mana hatinya condong.

Namun kehidupan Lea tidak berhenti di titik itu.
Kejadian 29:31 mencatat sesuatu yang sederhana tetapi sangat dalam:
“Tuhan melihat bahwa Lea tidak dicintai.”
Tuhan melihat.

Itu titik awal perubahan.
Lea melahirkan Ruben, Simeon, dan Lewi.
Dan setiap nama membawa harapan:
“Sekarang suamiku akan mengasihi aku.”

Ada kerinduan untuk diterima. Untuk dilihat. Untuk dianggap berarti.
Bukankah kita sering melakukan hal yang sama?

Mencoba menjadi lebih.
Memberi lebih.
Berusaha lebih keras.
Bukan karena panggilan, tetapi karena ingin diterima.
Namun semua usaha itu tidak pernah benar-benar menenangkan hati.
Sampai satu momen terjadi.

Ketika anak keempat lahir, Lea berkata:
“Sekarang aku akan memuji TUHAN.”
Ia menamai anak itu Yehuda.
Sebuah pergeseran terjadi.
Bukan lagi, “Sekarang suamiku akan…”
Tetapi, “Sekarang aku akan…”
Fokusnya berpindah.
Dari mencari cinta manusia
menjadi merespons kasih Tuhan.

Dan dari titik itu, kisahnya bergerak ke arah yang tidak terduga.
Dari Lea lahir Lewi, suku imam.
Dari Lea lahir Yehuda, suku raja.
Melalui Yehuda, garis keturunan itu berlanjut hingga Daud.
Dan dari Daud, lahirlah Yesus.
Warisan yang mengalir dari hidup Lea tidak ditentukan oleh bagaimana manusia melihatnya, tetapi oleh bagaimana Tuhan bekerja di dalam kisahnya.

Terlebih lagi kita yang hidup di Perjanjian Baru mengenal Yesus.
Itu jauh lebih luar biasa.
Dia mati untuk kita ketika kita masih berdosa.
Saat hidup kita masih berantakan,
Yesus tetap memilih untuk memberikan diri-Nya.
Dunia bisa menolak kita.
Manusia bisa tidak menerima kita.
Tetapi Yesus rela mati bagi kita… saat kita masih amburadul.

Seperti anak bungsu yang telah menghabiskan warisannya.
Ia pulang hanya berharap diterima sebagai pekerja.

Namun sang ayah melihatnya dari jauh… dan berlari.
Ia diberi jubah.
Tanda pemulihan identitas.
Ia diberi kasut.
Tanda bahwa ia bukan budak.
Ia diberi cincin.
Tanda otoritas sebagai anak.
Ia tidak sekadar diterima.
Ia dipulihkan.

Penerimaan dari Tuhan cukup bagi kita.
Bahkan itulah yang membuat kita penuh dan utuh.
Selama kita berharap dari manusia, itu tidak akan pernah cukup.
Kasih manusia selalu terbatas.
Sering kali bersyarat.
Karena itu, arahkan harapan kepada Tuhan.
Jangan salah fokus!

Ketika kita tahu bahwa kita sudah diterima oleh-Nya, kita tidak lagi harus membuktikan diri kepada dunia.
Dan dari tempat itulah, hati menemukan damai.

“To be loved by God is the greatest privilege.” – C.S. Lewis.

“Dikasihi oleh Tuhan adalah hak istimewa terbesar.” – C.S. Lewis.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Matematika Diam-Diam Menunjuk pada Tuhan. Percayakah Anda?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Matematika Diam-Diam Menunjuk pada Tuhan. Percayakah Anda?

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Kenapa alam ini begitu rapi?
Bukan sekadar indah, tapi teratur.
Bisa dihitung. Bisa diprediksi.

Kita tahu matahari terbit dengan presisi. Planet berputar tanpa tabrakan acak. Hukum gravitasi tidak berubah-ubah sesuai suasana hati.
Semua tunduk pada hukum yang konsisten.

Dan yang menarik, pola matematika bukan cuma ada di buku pelajaran. Ia muncul di kebun kita.

Di sinilah kita bertemu dengan sesuatu yang disebut deret Fibonacci.
Deret ini diperkenalkan oleh seorang matematikawan Italia abad ke-13, *Leonardo of Pisa*, yang lebih dikenal sebagai Fibonacci.

Polanya sederhana sekali.
Setiap angka adalah hasil penjumlahan dua angka sebelumnya:
1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, dan seterusnya.
Kelihatannya biasa saja. Tapi lihat apa yang terjadi di alam.

Coba ambil nanas. Perhatikan pola “mata” nanas itu. Kalau dihitung spiralnya ke kiri dan ke kanan, sering kali jumlahnya adalah angka Fibonacci.

Bunga matahari? Biji-bijinya membentuk spiral yang saling berlawanan arah. Kalau dihitung, jumlah spiralnya sering 34 dan 55. Atau 21 dan 34. Angka-angka Fibonacci lagi.

Keong? Cangkangnya membentuk spiral yang mendekati rasio emas, angka 1.618… yang muncul ketika satu angka Fibonacci dibagi angka sebelumnya.

Pengertian dan Karakteristik Rasio Emas
Definisi Matematis:
Jika kita memiliki garis yang dibagi menjadi dua bagian (a dan b), di mana a adalah bagian yang lebih panjang dan b adalah bagian yang lebih pendek, maka rasio a/b akan sama dengan (a+b)/a, dan keduanya bernilai sekitar 1,618.

Pakis yang menggulung sebelum mekar juga membentuk pola spiral yang sama.

Pertanyaannya sederhana.
Kenapa nanas tidak membentuk pola sembarangan?
Kenapa bunga matahari tidak acak?
Kenapa keong tidak spiral sesuka hati?
Jawaban ilmiahnya adalah efisiensi pertumbuhan.

Pola Fibonacci membantu tanaman mendapatkan cahaya matahari maksimal dan ruang optimal. Benar.

Tapi itu belum menjawab pertanyaan lebih dalam:
Kenapa hukum pertumbuhan mengikuti pola matematis yang elegan?
Kenapa alam tunduk pada angka?
Semakin dalam ilmu pengetahuan berkembang, semakin terlihat bahwa alam semesta bukan hasil kekacauan liar. Ia diatur oleh konstanta yang sangat presisi. Sedikit saja gravitasi berubah, kehidupan tidak mungkin ada.
Sedikit saja keseimbangan atom bergeser, materi tidak stabil.
Ini yang disebut fine tuning.
Disetel dengan sangat tepat.

Kalau kita melihat rumah dengan desain rapi, kita tahu ada arsitek.
Kalau kita membaca buku dengan struktur logis, kita tahu ada penulis.
Mengapa ketika melihat galaksi, DNA, spiral nanas, dan hukum fisika, kita mendadak berkata, “Ah, ini kebetulan”?

Rasul Paulus pernah menulis bahwa apa yang tidak kelihatan dari Allah dapat dipahami dari ciptaan-Nya.
Artinya Tuhan meninggalkan jejak.
Bukan jejak emosional.
Jejak rasional.

Matematika itu abstrak. Angka tidak bisa disentuh. Tetapi dunia fisik tunduk pada sesuatu yang abstrak itu. Materi taat pada logika.
Itu menarik.

DNA manusia misalnya. Ia berisi informasi. Bukan sekadar zat kimia, tapi informasi terstruktur seperti kode. Dan informasi selalu berasal dari pikiran.
Kalau saya menerima pesan teks, saya tahu ada pengirimnya.
DNA jauh lebih kompleks dari pesan teks.
Siapa Pengirimnya?

Saya tidak mengatakan matematika membuktikan Tuhan seperti kita membuktikan hasil ujian. Tetapi matematika memaksa kita jujur. Dunia ini terlalu konsisten untuk disebut kecelakaan kosmik.

Fibonacci bukan ayat Alkitab.
Spiral keong bukan khotbah.
Nanas tidak bersaksi di mimbar.
Tetapi semuanya berfungsi dengan pola yang sama.
Dan pola selalu menunjuk pada pikiran.
Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar argumen intelektual. Ini penguatan iman.

Tuhan yang merancang galaksi dengan hukum presisi bukan Tuhan yang asal-asalan mengatur hidup kita.
Kalau Dia mengatur spiral bunga matahari dengan detail, Dia tidak mungkin lalai mengatur musim hidup kita.

Kadang hidup terasa acak. Tapi mungkin kita hanya belum melihat polanya.
Angka-angka itu diam.
Namun keteraturannya berbicara.
Dan bagi hati yang mau merenung, semua itu seperti bisikan lembut:
Ini bukan tanpa Perancang.

“This most beautiful system of the sun, planets, and comets could only proceed from the counsel and dominion of an intelligent and powerful Being.” – Isaac Newton.

“Sistem matahari, planet, dan komet yang begitu indah ini hanya mungkin berasal dari rencana dan kuasa Pribadi yang cerdas dan berkuasa.” – Isaac Newton.

Notes: Follow “Seruput Kopi Cantik YennyIndra” sekarang lewat – Channel WhatsApp – Yuuk join di sini :
https://whatsapp.com/channel/0029VbCXRSuL2ATuEVMfPF2S
&
Follow “Seruput Kopi FIRMAN TUHAN” – Khusus untuk teman-teman yang KRISTIANI. channel on WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb7DUotAzNbmL2Mk7E1C

Di mana membacanya?
Tekan tombol UPDATES di bagian bawah samping tombol chat.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Saat Mukjizat Hilang, Anda Lari ke Mana?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Mukjizat Hilang, Anda Lari ke Mana?

Ada satu perempuan dalam 2 Raja-raja 4 yang selalu terasa dekat di hati saya. Alkitab menyebutnya perempuan Sunem. Ia dikenal sebagai wanita terpandang, bahkan dalam terjemahan lain disebut kaya. Tetapi yang membuatnya istimewa bukanlah apa yang ia miliki, melainkan bagaimana ia hidup.

Ketika ia melihat Elisa sering lewat, ia tidak hanya bersikap ramah. Ia mengajak dengan sengaja. Ia memperhatikan. Ia memikirkan. Lalu ia berkata kepada suaminya, mari kita buatkan kamar kecil di atas untuknya. Ia tidak sekadar menyediakan tempat tidur. Ia menyiapkan tempat tidur, meja, kursi, dan pelita. Ia memberi dengan detail. Dengan kehormatan. Ia memahami kebutuhan, bukan sekadar melakukan kewajiban. Ia tidak memberi setengah hati.

Menariknya, ia tidak memberi untuk mendapatkan sesuatu. Ketika Elisa ingin membalas, ia berkata bahwa ia hidup tenteram di tengah bangsanya. Tidak ada tuntutan. Tidak ada harapan tersembunyi. Tidak ada agenda.
Namun justru dari situ muncul hal yang tidak pernah ia minta. Ia tidak memiliki anak. Suaminya sudah tua. Waktu seolah telah lewat. Setahun kemudian, ia menggendong seorang anak laki-laki. Tuhan tidak membutuhkan keadaan yang ideal untuk bergerak.

Lalu suatu hari, anak itu mengeluh sakit kepala. Ia dibawa kepada ibunya dan duduk di pangkuannya sampai tengah hari. Di situ ia meninggal. Bayangkan perasaan seorang ibu yang menerima mukjizat yang tidak pernah ia minta, lalu kehilangannya.

Namun responsnya tidak seperti yang kita bayangkan. Ia tidak berteriak. Ia tidak panik. Ia tidak menyebarkan berita. Ia membawa anak itu ke kamar Elisa. Ia meletakkannya di tempat yang tepat. Bukan di kamarnya sendiri. Ia tidak membawa masalahnya ke sembarang tempat.

Ketika suaminya bertanya mengapa ia pergi hari itu, ia hanya berkata, semua baik. It is well. Bukan karena semuanya baik. Tetapi karena ia tahu kepada siapa ia akan membawa masalahnya.

Ia berangkat dengan segera. Ia tidak menunggu. Ia tidak hanya berdoa lalu diam. Iman membuatnya bergerak.

Bahkan ketika ditanya lagi apakah semuanya baik, jawabannya tetap sama. It is well. Ia tidak membuka lukanya kepada semua orang. Ia menjaga kata-katanya. Ia menjaga emosinya.
Ia hanya runtuh di tempat yang benar. Di kaki Elisa.

Sikapnya di tengah kekacauan menciptakan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Ia tidak menyalahkan. Ia tidak kehilangan kehormatan. Ia tidak kehilangan bahasa iman. Ia tidak membiarkan krisis menentukan atmosfer di sekitarnya.

Dan kita tahu akhir ceritanya. Anak itu dipulihkan.

Kadang mukjizat tidak ditentukan oleh besarnya masalah, tetapi oleh bagaimana kita merespons di tengah masalah. Menjaga kata-kata, menjaga emosi, dan bijak memilih di mana kita menaruh beban.

Mengatakan “semua baik” bukan berarti menolak kenyataan. Itu adalah disiplin hati. Itu adalah pengakuan bahwa Tuhan masih terlibat. Dan jika Ia terlibat, cerita belum selesai.

“One thing is certain: God’s story never ends in ashes.
— Elisabeth Elliot

“Satu hal yang sangat pasti: cerita Tuhan tidak pernah berakhir dengan ‘abu.”- Elisabeth Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 314