“Dapatkah Anda Hidup dari Krisis yang satu kepada Krisis yang lain?”
Krisis : masa ketika keputusan sulit atau penting harus dibuat; masa kesulitan, kesulitan, atau bahaya yang intens.
Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu digambarkan sebagai krisis. Perubahan iklim dinyatakan sebagai krisis. Pemilihan umum yang akan datang, merupakan pemilihan paling penting sejak pemilihan terakhir, dua tahun lalu. Masalah imigrasi dianggap krisis juga. Belum lagi ancaman perang dengan berbagai negara, dapat segera terjadi. Sistem pendidikan kita sedang dalam krisis. Penggunaan obat yang mengandung ganja, berada pada tingkat krisis pula. Kontroversi gender juga menimbulkan krisis budaya. Daftar ini bisa terus dan terus, makin berlanjut. Dari media hingga ke mimbar, kita diberitahu tentang krisis demi krisis. (krisis ekonomi melalui Pandemi, penyebaran virus C-19 selama kurang lebih 2 tahun).
Semua menggambarkan malapetaka yang akan terjadi di kemudian hari, yang tanpa disadari, telah mencuri kedamaian, sukacita dan kemampuan kita dalam mendengarkan suara Tuhan. Bahkan orang Kristen yang dewasa rohani pun, nyaris tenggelam dalam kegalauan menghadapi berbagai krisis ini. Kesadaran adalah satu hal, tetapi terobsesi adalah hal yang berbeda.
Pada titik ini, kita akan kehilangan tujuan ilahi dan hanya sekedar menjadi satu lagi warga di negara ini, yang terjerumus dalam kecemasan akan hal yang menakutkan, sama seperti yang lainnya. Ketika orang Kristen tidak dapat dibedakan dari orang non-Kristen dalam menangani kecemasannya, maka ada sesuatu yang salah.
“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Roma 8:6 (TB).
Saat pikiran dipenuhi dengan kekhawatiran akan krisis yang mungkin terjadi hari ini dan tidak merasa damai, maka sesungguhnya kematian sedang bekerja di dalam diri kita! Ketika sukacita Tuhan tidak lagi kita alami, maka maut sedang bekerja di dalamnya. Jika kita tidak bisa mensyukuri berkat yang Tuhan curahkan, maka kita juga tidak akan menerima kehidupan dan kedamaian. Hidup berkelimpahan mustahil dinikmati, kalau hati kita dipenuhi dengan berita dunia.
Saya tidak mengatakan bahwa peristiwa dunia ini tidak penting. Saya hanya berpendapat, mungkin saja kita telah terseret dari krisis yang satu kepada krisis yang lain, sehingga menjadi tidak efektif dalam menggenapi tujuan rohani yang sesungguhnya. Hanya mereka yang berpikiran rohani yang dapat menikmati hidup damai, dan semua itu terlepas dari masalah politik, iklim atau imigrasi ilegal. Segala sesuatu tidak harus sempurna bagi kita, agar dapat menikmati hidup yang damai.
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8 (TB).
[Repost : “Can you live from crisis to crisis?”, – Barry Bennett, Penerjemah oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Elon Musk, CEO Mobil Listrik Tesla, Sekaligus Orang Terkaya Di Dunia, Dituntut Rp 3.818 triliun…. Why???
Elon Musk dituntut US$ 258 miliar atau sekitar Rp 3.818 triliun (kurs Rp 14.800) oleh investor Dogecoin. Investor tersebut menuduh Musk mempemainkan harga DOGE dan menjalankan skema piramida berbasis uang kripto. Dalam laporannya ke Pengadilan Manhattan, Keith Johnson menuduh pendiri perusahaan mobil listrik Telsa itu sengaja menaikkan harga DOGE lalu membiarkan harganya jatuh begitu saja.
“Elon Musk sadar betul sejak 2019 Dogecoin tidak bernilai, tapi terus-terusan mempromosikan koin kripto tersebut demi meraup keuntungan,” kata pelapor dalam keterangannya yang dikutip dari Reuters, Jumat (17/6/2022).
Laporannya itu juga memuat pernyataan Warren Buffett, Bill Gates, dan pihak-pihak yang meragukan nilai asli dari uang kripto.
Dari berita CNBC terungkap, Menurut Johnson, sejak Musk mulai mempromosikan mata uang virtual itu, investor telah kehilangan sekitar US$ 86 miliar. Dia ingin Musk untuk mengganti investor jumlah ini, ditambah membayar dua kali lipat dalam kerusakan tambahan senilai US$ 172 miliar.
Wow….. Dr. Andik Wijaya dalam seminarnya beberapa bulan lalu sudah mengingatkan, akan terjadi goncangan perekonomian yang besar di tingkat dunia karena Kripto.
Banyak orang terpesona dengan Elon Musk, konon orang terkaya di dunia saat ini. Bahkan kepala negara pun ingin menemuinya. Dahsyatnya…
Pepatah dunia, “Kalau ingin sukses belajarlah dengan orang sukses,” tentu tidak salah kalau orang-orang berbondong-bondong ingin meniru dan mengikuti cara Elon Musk menjadi kaya. Ketika Elon Musk mempromosikan sesuatu, segera dibeli. Takut ketinggalan. Ini cara kaya masa kini. Buktinya Musk dalam sekejap jadi orang terkaya di dunia. Percaya dong….
Masalahnya, kebenaran dunia selalu berganti. Kemarin Elon Musk disanjung, hari ini ada berita investor yang kehilangan milyaran dollar karena Musk. Oh…..
Saya pun mengalaminya dalam skala kecil-kecilan. Ikut seminar bayar puluhan juta, karena motivatornya kaya & terkenal, diajari investasi properti, sampai sekarang jangankan untung, buntung iya… Mau dijual, balik modal pun belum. Disewakan seharga kamar kost di Jakarta. Kapok!
Kalau dipikir ulang, siapa sich yang mau beneran ngajarin dan membimbing kita secara tulus, tanpa ada motif apa pun dibelakangnya, kecuali orangtua kita?
Orang lain paling banter ya menunjukkan jalan, ini lho… Lalu jalanlah sendiri. Beda klo ortu, saat jalan dimonitor. Salah jalan, cepat-cepat diberitahu. Karena kasih, cinta…. Tidak ingin anak mengalami kesulitan. Orang lain mana mau? Apa dulu untungnya buat gue? Sayangnya, tidak semua anak menyadarinya… Justru dianggap ortu suka mengatur!
Beberapa hari lalu, ada acara bagi nasabah sebuah Bank Swasta di Surabaya. Christian di Jakarta dan saya juga. Akhirnya, Fanny, Relatioship Manager saya menyarankan agar diwakilkan saja, siapa tahu dapat hadiah. Jadilah Andre, staf kami yang mewakili.
Dan….. Nama saya dipanggil sebagai pemenang utama. Yeaaayyyy…..
“Berkat mengejar Ai (tante)… Luar biasa,” komentar Fanny, “dari sekian banyak orang lho!”
Dapat hadiah tentu menyenangkan, tetapi yang lebih menyentuh hati: Saya tidak berdoa. Saya tidak meminta Tetapi Tuhan memberikan anugerah-Nya. Terbukti Tuhan jauuuuuhhh lebih baik daripada yang bisa kita pikirkan.
Dan melalui peristiwa ini, Fanny pun bisa melihat Tuhan di balik semuanya. Bukankah itu tujuan Tuhan memberkati kita? Agar orang-orang di sekeliling kita bisa melihat Allah melalui kehidupan kita. Koq YennyIndra beruntung, hoki, atau apa pun istilahnya… Dan mereka tahu, yang hebat bukan YennyIndra, melainkan Allah yang Mahabaik. Orang lain pun terinspirasi untuk hidup mendekat kepada Tuhan. Ingin mengenal Tuhan yang Mahabaik juga. To God be the glory!
Apakah saya orang terpilih? Sama sekali tidak! Tuhan itu Allah yang adil dan memberikan berkat yang sama kepada semua orang.
Mengapa tidak semua orang mendapatkan berkat yang sama? Tuhan SUDAH mencurahkan berkat-Nya bagi setiap kita, tetapi tergantung wadah kita seberapa besarnya?
Berkat Tuhan berbanding lurus dengan pengetahuan kita akan kebenaran firman Tuhan dan pengenalan kita akan Allah.
Ada cara untuk menerima berkat-Nya, karena itu Tuhan ingin setiap orang menjadi murid-Nya. Bahkan itu perintah-Nya, bukan pilihan lho!
Why? Karena tanpa menjadi murid, kita hanya belajar sepotong-sepotong dan tidak ada yang membimbing. Meski dulu saya rajin baca buku sana sini, hasilnya berbeda dengan sekolah. Pengetahuan dan pengenalan (wadah) kita terbatas.
Di sekolah pelajaran runut, belajar 1 topik, dibahas dari A sampai Z. Tidak paham ada guru tempat bertanya. Belum lagi teman-teman diskusi itu sangat membantu. Lalu pengalaman teman-teman, menginspirasi saya ingin seperti dia. Kalau teman saya bisa sembuh, berarti saya bisa sembuh juga. Semangat jadinya. Ini cara memperbesar wadah.
Untuk menjadi murid, kita harus berkomitmen, disiplin, menundukkan diri dan konsisten. Ada harga yang harus dibayar. Mindset lama dibongkar habis dan wajib untuk menyesuaikan diri dengan mindsetnya Allah. Cara Tuhan berbeda dengan cara kita. Sejujurnya, itu butuh kerendahan hati dan tidak mudah. Mau ga?
Nach banyak orang yang hanya mau mendekat kepada Tuhan saat ada butuhnya saja… Begitu masalah mendapatkan solusi, langsung Tuhan ditinggalkan. Mereka hanya Visit alias berkunjung, BUKAN Dwell alias tinggal di dalam naungan Allah yang Mahatinggi.
Dulu saya ‘gedubrakan’ berusaha sukses, diberkati, mencari cara bahagia… Lari sana, sini, mengejar berbagai seminar, buku dan orang-orang sukses… Ingin ketularan sukses.
Sekarang saya tidak lagi… Saya memilih satu saja yang perlu dan yang tidak akan dapat diambil dari saya, duduk di bawah kaki Tuhan. Belajar Kepada-Nya, mendengarkan hikmat-Nya dan melakukan perintah serta arahan-Nya… Itu jauh lebih efektif. Prinsip dan kebenaran Tuhan tetap sama, tidak berubah-ubah seperti kebenaran dunia.
Mengubah motivasi hati. Bukan lagi ingin cepat kaya dan serakah tetapi sadar, bahwa harta, talenta dan hidup saya semua milik Allah. Titipan. Yang harus dipertanggungjawabkan saat saya berjumpa dengan Allah di surga kelak. Cara hidup berubah. Nilai-nilai berubah dan mindset pun berubah.
Andrew Wommack mengajarkan tujuan Tuhan memberkati kita agar kita memiliki penyediaan Allah untuk merealisasikan perintah-perintah-Nya. Dan ukuran kesuksesan seseorang bukan diukur berapa banyak uang atau aset yang disimpannya, tetapi berapa banyak yang dibagikan kepada orang lain dan hidup orang lain menjadi lebih baik karena mengenal kita.
Masih ikut seminar? Ya kalau sesuai dengan dorongan Tuhan. Belajar itu perlu, ilmu pengetahuan itu penting. Bekerja itu wajib. Tuhan bilang orang yang tidak bekerja, janganlah ia makan. Tetapi dasar apa pun yang saya lakukan adalah Allah sumber berkat dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Allah itulah Boss hidup saya.
Bagaimana pendapat Anda?
“How often we expect big things from God without preparing for big things from him” ~ Beth Moore.
Betapa seringnya kita mengharapkan hal-hal besar dari Tuhan tanpa mempersiapkan diri untuk menerima hal-hal besar dari-Nya” ~ Beth Moore.
YennyIndra TANGKI AIR & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Tuhan berbicara kepada saya baru-baru ini: “Kamu mungkin menghabiskan waktu di dalam Firman, tetapi apakah Firman masuk ke dalam dirimu?” Yesus berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yohanes 15:7 (TB).
Anda dapat mengetahui apakah Firman ada di dalam Anda, jika Anda menghargai Firman itu di atas segalanya, merenungkannya siang dan malam, tidak membiarkan diri Anda terganggu oleh kekhawatiran dunia, maka pada saat itulah firman menjadi kesehatan bagi tubuh (daging) Anda.
Firman Tuhan adalah Roh dan hidup (Yohanes 6:63). Ketika Firman tinggal di dalam kita, maka ada terang, pengertian, iman, dan kesembuhan. Inilah sifat Firman yang menyembuhkan dan membebaskan.
“Disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur. Mazmur 107:20 (TB).
Firman itu harus tinggal di dalam hati Anda. Persetujuan secara mental, di dalam pikiran saja, tidaklah cukup.
Ketika kita hanya membaca Firman sekedar sebagai kewajiban, sebagai formula, atau untuk mengisi kepala saja, maka kita kehilangan kehidupan yang tersedia. Ketika Firman tinggal di dalam Anda, maka Anda memiliki kedamaian dan sukacita. Anda menunjukkan kebaikan dan pengampunan. Dan itulah obat bagi tubuh (dagingmu).
“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” Amsal 4:20?-?22 (TB).
“Aku gembira atas janji-Mu, seperti orang yang mendapat banyak jarahan.” Mazmur 119:162 (TB).
Apakah Firman-Nya tinggal di dalam Anda? Ketika Firman adalah gairah Anda, maka hidup Anda akan mencerminkan hidup-Nya.
[Repost ; “Health to Your Flesh”. – Barry Bennett, Penerjemah Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Ketika Tuhan menarik perhatian saya pada sebuah buku yang pernah saya baca sekitar 25 tahun lalu, ditambah pula dengan buku lain dari penulis yang berbeda, saya paham, Tuhan sedang mengarahkan saya pada jalur hidup yang baru.
Allah ingin menjadi Allah atas setiap aspek hidup kita. 25 tahun lalu, saya hanya bersedia menyerahkan kepada Allah, aspek hidup yang saya rasa aman. Aspek sisanya, saya mau mengendalikannya menurut cara saya sendiri. Saya menjadi allah di sana. Saat itu rasanya wajar, teman-teman juga begitu koq…
Ternyata begitu banyak jatuh bangun selama 25 tahun, berusaha mengatur kehidupan saya sendiri. Hingga tiba pada pemahaman, ternyata seharusnya saya mempersembahkan seluruh aspek hidup saya kepada Tuhan dan membiarkan Allah menjadi Boss yang sebenarnya. Saya mengikuti rancangan-Nya, menyesuaikan diri, dan hidup melekat kepada-Nya. Ibarat ranting yang menempel pada pokok anggur. Yang memberi makan ranting, ya dari akar pokok anggurnya. Jika ranting benar-benar menempel, maka ranting akan mengeluarkan buah anggur yang manis, yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Itu buktinya!
Dulu ada kecemasan tersembunyi, kuatir kalau semua diserahkan Tuhan, lalu saya dibawa ke tempat yang tidak saya sukai, bagaimana?
Tetapi pengalaman hidup 25 tahun terakhir membuktikan, justru Tuhan memberikan jaaauuuuhhh lebih baik daripada apa yang bisa saya pikirkan. Mimpi saja gak berani, ternyata sampai juga ke sana… Mimpi Tuhan buat saya ya mimpi seukuran Allah… Bukan seukuran mimpi saya. So sweet…
Semakin lama ikut Tuhan, semakin sadar, pokoknya kalau Tuhan ngomong sesuatu, percaya saja…. Tuhan mengasihi saya, lebih daripada saya dapat mengasihi diri sendiri… Apa yang Tuhan minta dari kita, semua demi kebaikan kita. Tuhan ingin membawa kita kembali pada kualitas seperti Adam & Hawa sebelum jatuh dalam dosa, di Taman Eden. Semua Tuhan yang mencukupi, mereka bekerja karena bekerja itu memang menyenangkan, bukan terpaksa. Keren bukan?
Dulu saya berpikir, menanti itu membosankan. Karena itu hobi saya, ‘membantu’ Tuhan menjawab doa-doa saya. Akibatnya, yang saya dapatkan bukan yang terbaik dari Tuhan. Tidak sedikit yang mengakibatkan stres, luka dan penyesalan.
Sekarang bertobat sungguh-sungguh. Ternyata saat menantikan Tuhan itu saat yang aktif. Ngapain saja? Saya belajar mengenal kehendak Tuhan, jalan-jalan-Nya lalu mengamati keadaan sekitar…. Di mana Tuhan sedang bekerja? Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu pekerjaan Tuhan? Saya bisa bergabung di sana.
Apakah Tuhan sedang berbicara kepada saya melalui keadaan ini? Apa yang dikatakan Tuhan kepada saudara – saudara seiman lainnya? Tugas saya senantiasa selaras dengan tugas dan rencana Tuhan secara keseluruhan, jadi sayalah yang harus menyesuaikan diri.
Berdoa dan bertanya kepada Tuhan, meminta arahan-Nya. Semua ini butuh waktu, perenungan dan usaha. Menanti justru waktu yang sibuk. Tuhan tengah membentuk, melatih, memproses sehingga saya dapat dipakai menjadi alat-Nya secara efektif.
Beberapa hari lalu, ketika sedang sarapan setelah berolah raga, di samping meja kami ada tukang taman sedang menggergaji batang pohon besar. Suaranya memekakkan telinga dan tidak enak
“Itu karena gergajinya tumpul,” kata drg. Iwan, sahabat yang mengepalai kalau kami berolah raga, “Perhatikan hasil potongannya tidak rapi dan butuh tenaga besar untuk memotongnya. Berbeda jika gergajinya tajam. Enteng dan hasilnya rapi.”
Nach saat menanti, merupakan saat di mana gergaji sedang diasah. Begitu siap, gergaji kita akan bermanfaat dan memberikan hasil yang excellent.
Saat ini, dalam penantian, Tuhan mengarahkan saya untuk belajar. Pemahaman baru dibukakan. Tulisan lancar mengalir. Sungguh terpukau menyadari berbagai bahan yang terpencar dan sama sekali tidak berhubungan, disajikan Tuhan dan dituntun-Nya menjadi sebuah artikel. Ketika artikel selesai, saya sendiri terheran-heran, dan menyadari: Ini Tuhan yang merangkai, BUKAN saya. Artikel ini seukuran Tuhan, BUKAN seukuran YennyIndra.
Dan tidak ada yang lebih nikmat serta melegakan, selain menyadari bahwa saya tengah mengerjakan tugas-Nya, berada di tengah-tengah kehendak-Nya dan menggenapi rencana-Nya. Kehadiran Allah begitu nyata dan Dia berkenan terlibat dalam hal-hal kecil dalam kehidupan anak-anak-Nya. Asalkan kita mengizinkan.
Menanti sampai kapan? Ketika waktunya siap, Tuhan akan berinisiatif memberi tahu kita, apa yang harus kita lakukan. Jangan kuatir jika kita tidak mengerti. Dia Allah, dengan Cara-Nya Dia memastikan kita mengerti. Tidak mungkin gagal.
Allah senantiasa berkarya di dalam dunia dan di tempat kita berada. Bila Allah sudah siap untuk melibatkan kita dalam suatu tugas bersama Dia, Ia selalu berinisiatif datang kepada kita dan menyatakan apa yang sedang dikerjakan-Nya. Jika ini terjadi, itu merupakan undangan-Nya kepada kita agar bergabung dengan Dia.
Bergabung dengan Dia memerlukan penyesuaian besar-besaran dari kehidupan kita kepada kehidupan ala Allah. Setelah itu, untuk mengalami Dia yang sedang berkarya di dalam dan melalui kita, maka kita harus mematuhi Dia. Jika kita patuh, Ia akan mewujudkan pekerjaan-Nya melalui kita dan kita akan mengenal Dia melalui pengalaman. Wuiih…. Akhirnya…. Kenal Tuhan.
Kita percaya kepada-Nya lalu menyesuaikan hidup kita dengan pengalaman ini. Level iman kita naik satu tingkat. Pengalaman demi pengalaman ini akan membangun fondasi iman yang tak tergoyahkan serta hubungan yang lebih intim serta bermakna. Kita pun menjalani hidup dengan kacamata Allah, cara Allah. Berpikir, merasa dan berkata selaras dengan perkataan Allah.
Hidup kita menjadi demonstrasi kebaikan-kebaikan Tuhan, pencapaian-pencapaian kita seukuran Allah. Orang-orang di sekeliling kita pun ingin memiliki hidup yang kita alami. Nama Tuhan dipermuliakan. Kita menjadi Terang dan Garam. Dunia di sekeliling kita menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Mau? Praktik yuk…
“The truth is that God can do anything He pleases through an ordinary person who is fully dedicated to Him.”? Henry T. Blackaby.
“Kebenaran sesungguhnya, Tuhan dapat melakukan apa pun yang Dia kehendaki melalui orang biasa yang sepenuhnya mengabdi kepada-Nya.”? Henry T. Blackaby.
YennyIndra TANGKI AIR & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Tuhan menciptakan kita untuk menjalani hidup kita dengan fokus kepada-Nya. Tujuannya sejak awal supaya kita “sadar akan Tuhan,” bukan “sadar terhadap diri sendiri.” Sampai Adam dan Hawa memakan buah terlarang dari ‘Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat’, – sebelumnya mereka begitu tidak sadar akan diri sendiri, sehingga mereka pun tidak menyadari ketelanjangan dirinya. Tetapi setelah ketidaktaatan terjadi, mereka menjadi sepenuhnya sadar akan diri mereka sendiri dan ingin bersembunyi dari Tuhan. Fokus mereka telah bergeser dari Tuhan kepada diri sendiri.
Kesadaran diri hanyalah cara lain mengatakan keterpusatan pada diri sendiri, dan terpusat pada diri sendiri itulah sebenarnya akar dari semua kesedihan. Orang berduka atau tidak bahagia karena banyak alasan. Tetapi, jika menganalisanya lebih dalam, mereka akan menemukan, penyebabnya selalu diakibatkan oleh diri mereka sendiri, yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Jadi, jawaban untuk mengatasi kesedihan, ditemukan dengan cara bagaimana kita menghadapi diri sendiri.
Misalnya, masalah keuangan kerap datang akibat mencoba hidup di atas kemampuan, berusaha memenuhi keinginan egois kita. Bukannya menentang kemakmuran—saya tidak demikian. Tetapi penting memiliki perspektif yang benar. Jika Anda sedih atau tidak bahagia karena tidak memiliki rumah yang lebih besar, mobil yang lebih baru, atau televisi layar lebar, maka ada sesuatu yang salah. Keegoisan kitalah yang mengubah keinginan menjadi kebutuhan, kemudian kebutuhan itu menyebabkan terjadinya krisis pribadi.
Hati saya hancur melihat begitu banyak orang percaya yang dipenuhi Roh, bertindak sama egoisnya dengan dunia. Mereka mencoba memanfaatkan Tuhan untuk mendapatkan hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia, fokus pada ‘apa untungnya bagi mereka.’ Entah memang tidak pernah tahu atau justru lupa pada beberapa ayat terpenting dalam Alkitab tentang keuangan.
Matius 6:33 (TB), mengatakan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Tuhan telah berjanji akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita di dalam Dia, bahkan akan ditambahkan pula kepada kita sebagai hasil yang akan mengikuti karena kita mencari kerajaan-Nya terlebih dahulu. Sama sekali tidak perlu memusatkan perhatian demi mendapatkan sesuatu dari Tuhan, bagi hal-hal yang telah disediakan-Nya. Ketika kita melakukannya (hanya berfokus kepada tambahan, bukan pada penyediaan dari kerajaan-Nya), justru akan membawa kita kembali kepada pintu keterpusatan pada diri sendiri, alias keegoisan.
Termasuk juga dalam kasus kematian orang yang kita cintai. Sesungguhnya, kesedihan berakar pada kehilangan pribadi kita. Fokus kita pada situasi itu, berasal dari sudut pandang kita sendiri : “Bagaimana saya bisa bertahan tanpa dia?, Saya tidak akan pernah melihat dia lagi di bumi.” Kita dapat meyakinkan diri sendiri, kita memang berduka atas kematian orang-orang yang kita sayangi, tetapi sesungguhnya, semua itu berkaitan dengan bagaimana hal itu akan mempengaruhi diri kita sendiri. Jika orang yang meninggal sudah lahir baru dan sekarang bersama Yesus, seharusnya justru menjadi waktu untuk bersukacita. Mari kita bayangkan suasana pemakaman orang percaya.. Jika kita berfokus pada bagaimana orang itu bersama Yesus dan apa yang dialaminya, – bukannya memikirkan pikiran egois kita sendiri, – apa yang hilang dari kita-, maka alih-alih berduka, alangkah menyenangkan saat bersyukur dan memuji!
Sumber kesedihan besar lainnya adalah kesedihan yang Anda alami dalam hubungan Anda dengan orang lain. Mengapa? Karena ketika Anda berfokus pada diri sendiri, jadi mudah tersinggung. Jika Anda mengalami kepahitan, sakit hati, atau kemarahan dalam hubungan baik dengan atasan, teman, atau seperti yang paling sering terjadi, dengan seseorang dalam keluarga Anda sendiri, Firman Tuhan tidak memberi Anda ruang untuk salah memahami alasannya.
Amsal 13:10 (KJV), membaca, “Hanya dengan kesombongan muncul pertengkaran.”
Ayat ini menjelaskan bahwa kesombongan adalah sumber dari segala perselisihan. Saya tahu, banyak orang tidak ingin mendengarnya, tetapi bukan keadaan atau kepribadian yang terlibat dalam situasi ini, yang menyebabkan mereka bersedih—itu karena harga diri mereka. Kesombongan bukanlah penyebab utama pertengkaran; itu satu-satunya penyebabnya.
Namun, kesombongan itu seperti tongkat—memiliki dua ujung. Sebagian besar dapat dengan jelas melihat bagian akhir yang mewakili arogansi dan keangkuhan, tetapi mereka gagal melihat ujung yang lain, penyebabnya karena harga diri yang rendah, kerendahan hati yang palsu, sifat takut-takut, atau rasa malu.
Orang yang menganggap diri mereka kurang percaya diri atau pemalu, sebenarnya dipenuhi dengan kesombongan. Harga diri yang rendah, menyebabkan pemikiran dominan mereka terpusat pada diri sendiri. Sebegitu fokusnya mereka pada apa yang mungkin dipikirkan oleh orang lain, jika mereka mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah. Untuk melindungi diri, mereka menjadi rendah diri dan pemalu, hingga menyebabkan diri mereka mengalami banyak kesedihan. Jika mereka diminta untuk memberikan kesaksian atau menumpangkan tangan pada seseorang untuk didoakan, kesombongan mereka akan mencegahnya. Mereka tidak akan mengambil risiko, kemungkinan DIRI mereka bisa dikritik.
Mereka yang memiliki kerendahan hati palsu sebaliknya percaya, merendahkan diri sama dengan kerendahan hati, dan meninggikan diri merupakan kesombongan. Tetapi itu juga salah.
Dalam Yakobus 4:10 (TB,) dikatakan, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”
Apa yang terjadi ketika Anda merendahkan diri (dengan pemahaman yang benar tentang kerendahan hati yang sejati), dan Tuhan mulai meninggikan Anda? Orang yang benar-benar rendah hati akan membiarkan Dia meninggikan mereka, tetapi orang yang sombong tidak. Mereka terlalu peduli pada apa yang orang lain pikirkan, dan mencoba menangkisnya dengan cara merendahkan diri mereka sendiri. Itu sekedar bentuk lain dari kesombongan.
2 Timotius 2:11 (TB), mengatakan, “Benarlah perkataan ini: ”Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia;”
Dan dalam Galatia 2:20 (TB), kita membaca, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Ayat-ayat Alkitab ini mengajarkan bahwa kita seharusnya mati terhadap diri sendiri dan hidup di dalam Kristus. Jika benar-benar kita telah mati terhadap diri sendiri, kita tidak mungkin tersinggung (baperan). Orang ‘mati’ tidak merasakan apa-apa. Mereka bisa ditendang, dihina, atau bahkan dibohongi, dan mereka tidak peduli. Alasan kita begitu mudah terluka atau tersinggung, karena kita masih hidup untuk diri sendiri dan penuh dengan kesombongan.
Namun, jika kita fokus pada mati terhadap diri sendiri dan hidup di dalam Kristus, (dengan kemampuan kita sendiri) kemungkinan kita akan gagal. Dulu, dalam doa setiap pagi, saya berusaha memotivasi diri sendiri, sambil mencoba fokus mati terhadap diri sendiri sebaik mungkin. Saya mengakui semua dosa yang saya pikir telah saya lakukan: “Kebanggaan! kesombongan! Gagal mempelajari Firman!” Hal seperti ini terus berlanjut sampai pada akhir waktu saat teduh, nyatanya, saya telah menghabiskan seluruh waktu doa dengan fokus pada diri saya sendiri. Goblok. Bodoh!
Cara yang benar untuk mati terhadap diri sendiri, yaitu dengan cara mengalihkan fokus Anda. Temukan seseorang yang membutuhkan doa atau pelayanan. Bantu mereka mengatasi situasinya, lalu Anda akan menemukan, Anda telah melupakan kebutuhan diri Anda sendiri. Anda pun menemukan, apa yang semula dianggap sangat penting, sebenarnya tidak signifikan. Kasih kepada orang lain, selalu mengalahkan diri sendiri. Kasih mengharuskan Anda memberikan diri serta menjadi korban yang hidup, namun semua itu sepadan.
Tetapi fokus utama kita haruslah kepada Tuhan, bukan hanya pada orang lain dan tentu saja, bukan pada diri kita sendiri. Hanya saat berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kita dapat mengasihi orang lain yang melanggar kepentingan egois kita.
Roma 12:1 (TB), mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Bukankah menarik sekali, ternyata mengorbankan diri sebagai persembahan yang hidup, dianggap sebagai pelayanan yang wajar oleh Tuhan? Untuk melakukannya, kita harus merendahkan diri, menolak diri sebagai “tuan”, dan meletakkannya di atas mezbah. Satu-satunya masalah dengan persembahan yang hidup adalah, mereka cenderung merangkak dari altar. Bahkan jika kita membuat komitmen ini dalam hati sekarang, kita harus memperbaharuinya lagi besok, minggu depan, bulan depan, dan tahun depan.
Selama kita masih ada di bumi, kita harus membuat keputusan untuk mengasihi Yesus melebihi dari diri kita sendiri, setiap hari.
[Repost ; “Source of All Grief”. – Andrew Wommack, Penerjemah Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN