Articles

Cheryl Salem: Dari Kaki yang Patah 32 Bagian ke Panggung Miss America 1980

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Cheryl Salem: Dari Kaki yang Patah 32 Bagian ke Panggung Miss America 1980

Dunia mengenalnya sebagai Miss America 1980. Anggun, cerdas, bercahaya. Namun jauh sebelum mahkota itu bertengger di kepalanya, Cheryl sudah lebih dulu dimahkotai surga dengan satu gelar yang jauh lebih mahal: mujizat berjalan.

Usianya baru 11 tahun ketika hidupnya nyaris berakhir. Sebuah kecelakaan mobil yang brutal melemparkannya menembus kaca depan. Mesin mobil menghantam dan menghancurkan kedua kakinya, lalu mendorong tubuhnya kembali keluar. Punggungnya patah. Kaki kirinya hancur di 32 titik. Tidak ada tulang yang tersisa. Hanya kulit yang masih menyambung bagian atas dan bawah.

Dokter-dokter berdiri di sekeliling ranjangnya dan dengan dingin menyatakan vonis,
“Kamu tidak akan pernah bisa berjalan lagi.”

Usia 11 tahun. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Kepalanya ditarik, kakinya ditarik. Satu-satunya yang bisa ia gerakkan hanyalah matanya. Namun justru di situlah rahasianya dimulai.

Cheryl dibesarkan di gereja Methodist kecil.
Ia punya sesuatu yang sering hilang pada orang dewasa: hubungan pribadi yang sederhana, jujur, dan nyata dengan Tuhan.

Di tengah keterbatasan total itu, ia menatap langit-langit kamar rumah sakit ke arah “tempat Tuhan tinggal” menurut imannya yang polos, lalu berkata,

“Tuhan, aku bersyukur. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi aku mengenal Engkau. Dan aku tahu Engkau akan melakukan mujizat bagiku.”

Tidak ada teriakan. Tidak ada drama.
Hanya iman yang dilepaskan.

Malam-malam setelahnya sangat mengerikan. Rasa sakitnya luar biasa. Jadi mereka bernyanyi. Keluarga Cheryl terbiasa bernyanyi bertiga. Di kamar itu hanya ia dan adiknya. Dua saudara laki-lakinya dirawat di kamar sebelah. Menurut medis, semuanya berada di ambang kematian.

Setiap malam, seorang perawat kecil datang. Namanya Bobby. Ia duduk di sana sepanjang malam dan menyanyikan suara ketiga bersama mereka. Lagu demi lagu pujian dinaikkan. Menyembah Tuhan sampai pagi menjelang. Bobby baru pergi saat matahari terbit. Ini terjadi berulang, malam demi malam.

Tiga bulan berlalu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara medis mulai terjadi. Di kaki kirinya terbentuk kepompong kalsium yang membungkus serpihan-serpihan tulang dan menciptakan tulang baru. Dokter menyerah pada logika. Di catatan medisnya hanya tertulis satu kata: MIRACLE.

Kaki kirinya diciptakan ulang. Kaki kanannya justru bertumbuh lebih panjang hampir lima sentimeter. Tidak seimbang, ya. Tapi Cheryl tidak peduli. Ia punya dua kaki. Ia bisa berjalan. Dan ia memuliakan Tuhan.

Selama enam tahun ia hidup dengan kondisi itu. Dijuluki cacat oleh teman. Disebut cacat oleh guru. Tapi Cheryl tahu siapa dirinya. Ia tidak menyebut dirinya korban. Ia menyebut dirinya mujizat.

Masalah belum selesai. Di usia 17 tahun, dokter kembali bicara. Punggung tidak sejajar. Pinggul bermasalah. Rahim rusak.
Kesimpulannya satu:
“Kamu tidak akan bisa punya anak.”

Kali ini Cheryl tidak hanya berdoa. Ia mencari Firman. Enam minggu ia menggali Alkitab, bukan untuk penghiburan, tapi untuk menemukan apa yang menjadi haknya di dalam Kristus.

21 Oktober 1974, di sebuah hotel tua di Jackson, Mississippi, seorang pengkhotbah bernama Kenneth Hagin melayani.

Seorang ibu murid pianonya berkata, “Aku rasa kamu harus pergi. Tuhan akan menyembuhkanmu.”
Dan Cheryl percaya.

Malam itu, saat didoakan, kaki kirinya bertumbuh sama panjang dengan kaki kanan. Punggungnya sembuh. Tukak lambungnya lenyap.

Saat ia berkata, “Tuhan, berikan aku apa pun yang Engkau mau aku miliki,” Roh Kudus memenuhi hidupnya. Bahasa surga mengalir dari mulutnya.

Lima puluh satu tahun kemudian, Cheryl berkata sambil tersenyum, “Aku berbicara bahasa surga lebih lancar daripada bahasa bumi.”

Beberapa tahun lalu, Cheryl dan adiknya mencoba mencari Bobby.

Dokter lama keluarga mereka berkata, “Tahun 1968, aku tidak punya perawat Afrika-Amerika. Dan tidak ada perawat yang boleh duduk sepanjang malam bernyanyi.”
Lalu ia berkata pelan, “Bobby pasti seorang malaikat.”

Dan memang demikian. Mereka sedang menjamu malaikat saat menyembah-Nya.

Cheryl menutup kesaksiannya dengan satu kalimat yang menghantam lembut,
“Allah punya mujizat. Dan mujizat itu membawa namamu.”
Bukan kemarin. Bukan nanti.
Sekarang.

Pertanyaannya tinggal satu:
Sudahkah kita beriman seperti Cheryl?


“Faith does not eliminate questions. But faith knows where to take them.” – Elisabeth Elliot.

“Iman tidak menghilangkan pertanyaan, tetapi iman tahu ke mana pertanyaan itu harus dibawa”- Elisabeth Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Nikmati Hidupmu, Hari Ini!
Jangan Biarkan Luka Orang Lain Merusak Cahayamu..
Small Things Matters